Minggu, 06 Maret 2011

Jama'ah Tabligh (Agama Mimpi) (Bab II) (3) : oleh Tgk_Alizar_usman

2. Jawaban pertanyaan kedua
Berikut penafsiran sahabat Nabi dan ulama-ulama tafsir mu’tabar dikalangan Ahlusunnah wal Jama’ah dan sering menjadi rujukan umat Islam, antara lain :
1. Nashiruddin Al-Baidhawy menafsirkan perkataan ﺃﺧﺮﺟﺕ ayat 110, Q.S. Ali Imran dengan ﻠﻬﻡ ﺃﻈﻬﺮﺖ maksudnya dimunculkan bagi manusia.1 Penafisiran yang sama juga dapat kita lihat dalam Tafsir Jalalain karangan Jalaluddin Sayuthi dan Jalaluddin Al-Mahalli.2
2. Berkata Kazin dalam Tafsirnya :
“Makna ﺃﺧﺮﺟﺕadalah dilahirkan bagi manusia sehingga dapat dikenalinya.3

3. Dalam menafsir Q.S. Ali Imran : 110, Ibnu Katsir mengatakan :
“Maknanya : sesungguhnya mereka adalah sebaik-baik umat dan yang sangat bermanfa’at bagi manusia”. 4
4. Berkata Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, ‘Atha’, Rabi’ bin Anas dan ‘Athiyah al-Aufy:
“Makna كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِadalah sebaik-baik manusia untuk manusia.5

5. Abu Hurairah dalam menafsirkan makna Q.S. Ali Imran : 110 mengatakan:
“Sebaik-baik manusia yang datang untuk manusia dengan merantai leher manusia itu sehingga mereka masuk Islam”.(H.R. Bukhari)6

Berdasarkan beberapa buah tafsir yang muktabar di kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah di atas, dapat dipahami makna ayat tersebut lengkapnya adalah :
“Kamu hai umat Muhammad adalah sebaik-baik umat yang dimunculkan bagi manusia untuk melaksanakan amar ma’ruf dan nahi mungkar dan beriman kepada Allah”.

Tidak dapat dipahami dari ayat tersebut adanya perintah keluar meninggalkan tempat tinggal dalam rangka dakwah, amar ma’ruf dan nahi mungkar sebagaimana ala khuruj Jama’ah Tabligh yang tafsirnya berdasarkan mimpi Muhammad Ilyas.
Adapun firman Allah SWT :
لست عليهم بمصيطر
Dan firman Allah SWT :
وماأنت عليهم بوكيل
yang dijadikan dalil oleh Muhammad Ilyas untuk mendukung penafsiran yang didapati dari mimpi tentang Q.S. Ali-Imran : 110 di atas, penjelasannya adalah sebagi berikut :
1. Lengkapnya ayat pertama berbunyi :
فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ (21) لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ (22)
Artinya : Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. (Q.S. al-Ghasyiah : 21-22)

Dengan memperhatikan rangkaian ayatnya, kita dengan mudah dapat tahu bahwa ayat ini memerintah kepada kepada Nabi Muhammad untuk memberi peringatan, tetapi Nabi Muhammad bukanlah orang yang berkuasa memberikan hidayah kepada mereka. Karena urusan memberi hidayah hanyalah urusan Allah SWT. Jadi, bukan maksudnya, Nabi Muhammad tidak perlu mengurus atau peduli urusan agama orang Arab. Apalagi kalau perkataan “kamu” dalam ayat tersebut dimaksudkan sebagai Muhammad Ilyas sendiri, maka jelas penafsiran ini sangat aneh dan sangat jauh dari maksud ayat tersebut, kecuali Muhammad Ilyas berdasarkan mimpinya itu sudah mengangkat dirinya sebagai rasul, na’uzubillah min dzalik. Penjelasan penafsiran ayat ini sebagaimana penulis sebut di atas sesuai dengan keterangan Ibnu Katsir, beliau dalam menafsirkan ayat tersebut mengatakan :
“Hai Muhammad (Rasulullah SAW, bukan Muhammad Ilyas, pen) berikan peringatan kepada manusia dengan apa yang telah diutuskan engkau kepada mereka. Kamu hanya berkewajiban menyampaikan. Kami (Allah) ada hisabnya (perhitungan). Dengan sebab demikian Allah berfirman : “Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka”.

Sesuai dengan ini adalah penafsiran Ibnu Abbas dan al-Mujahid dan lainnya, beliau mengatakan, tafsirnya adalah :
“Kamu tidak dapat memaksa mereka”.
Ibnu Zaid mengatakan :
“Kamu tidak dapat memaksa mereka untuk beriman”.7
Dan lagi pula ayat ini menurut keterangan Tafsir Jalalain sudah mansukh, jadi tidak dapat dijadikan hujjah dalam berargumentasi. Ayat ini hanya berlaku pada awal Islam. Disebut dalam Tafsir Jalalain :
“Ini sebelum adanya perintah jihad”.
Maksudnya, ayat ini dinyatakan mansukh dengan turunnya ayat perintah perang sebagaimana penjelasan Ahmad Shawy.8
2. Menurut kitab indeks al-Qur’an, Fath al-Rahman,9 ayat kedua tersebut di atas, terdapat pada Q.S. al-An’am : 104-107, Q.S. al-Zumar : 41 dan Al-Syuraa : 6. Q.S. al-An’am : 104-107 berbunyi :
قَدْ جَاءَكُمْ بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ (104) وَكَذَلِكَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ وَلِيَقُولُوا دَرَسْتَ وَلِنُبَيِّنَهُ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (105) اتَّبِعْ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ (106) وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكُوا وَمَا جَعَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ (107
Artinya : Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang, maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu). Demikianlah Kami mengulang-ulangi ayat-ayat Kami supaya (orang-orang yang beriman mendapat petunjuk) dan supaya orang-orang musyrik mengatakan: "Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari ahli Kitab)", dan supaya Kami menjelaskan Al Quran itu kepada orang-orang yang mengetahui. Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu, tidak ada Tuhan selain Dia dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mempersekutukan(Nya). dan kami tidak menjadikan kamu pemelihara bagi mereka dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka.(Q.S. al-An’am : 104-107)

Tidak dapat dipahami dari firman Allah “Dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka”, bahwa urusan orang Arab bukan lagi tugas dakwah Nabi SAW. Justru ayat tersebut memerintah kepada Rasulullah SAW untuk menyampaikan ayat-ayat Tuhan kepada mereka, tetapi pada akhirnya hanya Allahlah yang memberikan keimanan dan hidayah kepada setiap manusia. Oleh karena itu, Rasulullah SAW tidak perlu memaksa mereka untuk beriman. Ayat ini juga menurut Tafsir Jalalain sudah mansukh dengan turun ayat perintah perang terhadap orang musyrik.10 Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat tersebut mengatakan :
“Kamu bukan yang bertanggungjawab terhadap rezeki dan urusan mereka. Tidak ada kewajiban atasmu kecuali menyampaikan dakwah”.11

Q.S. al-Zumar : 41, berbunyi :
إِنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ لِلنَّاسِ بِالْحَقِّ فَمَنِ اهْتَدَى فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ
Artinya : Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk, maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.(Q.S. al-Zumar : 41)

Disebut dalam Tafsir al-Jalalain :
“Dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka, sehingga kamu memaksa mereka menerima hidayah”. 12
Berkata al-Baidhawy :
“Tidak dibebankan tanggungjawab kepadamu sehingga kamu perlu memaksa mereka untuk menerima hidayah. Kamu hanya diperintahkan untuk menyampaikan, sedangkan kamu sudah menyampaikan.”13

Dari penjelasan ini dapat dipahami bahwa ayat di atas hanya menjelaskan bahwa Rasulullah tidak dapat memaksa mereka untuk beriman, tetapi yang dapat membuat mereka beriman hanya Allah SWT. Ini bukan berarti Rasulullah SAW tidak perlu melakukan dakwah terhadap mereka.
dan Q.S. Al-Syuraa : 6, berbunyi :
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ اللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيْهِمْ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ
Artinya : Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, Allah mengawasi (perbuatan) mereka dan kamu (Ya Muhammad) bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka. (Al-Syuraa : 6)

Al-Jalalain mengatakan :
“Kamu bukanlah orang yang menghasilkan sesuatu yang diharapkan dari mereka. Tidak ada kewajiban atasmu kecuali menyampaikan saja.”14

Ayat ini berdasarkan Qurthuby juga telah dimansukhkan dengan ayat perang. 15
3. Jawaban pertanyaan yang ketiga
Hadits yang di maksud pada pertanyaan ketiga ini, lafazhnya adalah sebagaimana berikut :
رُؤْيَا الْمُؤْمِنِ جزء من ستة وأربعين جزءا من النبوة.
Artinya : Mimpi orang mukmin adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian (H.R. Bukhari16 dan Muslim 17 )

Hadits yang senada dengan di atas, antara lain :
1. Hadits Muslim :
الرؤيا الصالحة جزء من ستة وأربعين جزءا من النبوة
Artinya : Mimpi yang baik adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian(H.R. Muslim)18

2. Hadits Muslim :
رؤيا الرجل الصالحة جزء من ستة وأربعين جزءا من النبوة
ِArtinya : Mimpi laki-laki yang shaleh satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian (H.R. Muslim)19

Untuk memahami hadits di atas secara benar, mari kita perhatikan penafsiran para ulama mu’tabar di kalangan ahlusunnah, antara lain :
1. Menurut Zarkasyi empat puluh enam yang tersebut pada hadits di atas, semuanya merupakan jalan untuk menghasilkan ilmu bagi para anbiya. Manusia lain tidak sampai kepada ilmu tersebut kecuali melalui khabar (berita). Diantara contoh jalan ilmu para anbiya itu adalah kalam binatang, kalam benda mati, wahyu dan lain-lain. Mimpi yang benar termasuk dalam empat puluh enam tadi.20 Jadi menurut Zarkasyi, hadits ini membicarakan mimpi para Nabi, bukan mimpi manusia selain Nabi. Oleh karena itu, mimpi para Nabi dapat dijadikan hujjah dalam penetapan hukum, karena termasuk salah satu jalan kenabian, sedangkan mimpi manusia biasa tidak dapat menjadi hujjah. Yang senada dengan pendapat ini adalah pendapat al-Khuthaby, beliau berkata :
“Hadits ini menguatkan urusan mimpi dan mentahqiqkan kedudukannya. Mimpi itu satu bagian dari bagian-bagian kenabian adalah pada haq para anbiya, bukan selain mereka. Karena para anbiya disampaikan wahyu kepada mereka pada waktu bermimpi sebagaimana halnya pada waktu jaga.”21

2. Penafsiran lain dari hadits di atas dan yang senada dengannya, muncul dalam konteks pemahaman perkataan “al-busyraa” pada Q.S. Yunus : 63-64, berbunyi :
الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (64)
Artinya : Orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka ada berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.(Q.S. Yunus : 63-64)

Ini dapat dilihat penjelasannya dalam Tafsir Ibnu Katsir,22 Tafsir Qurthuby23 , Tafsir Thabary24 dan Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jafsy al-Kidiry dalam kitabnya, Siraj al-Thalibin25. Berdasarkan pemahaman ini, maka yang dimaksud dengan mimpi dalam hadits tersebut adalah mimpi dalam kerangka al-busyra (kabar gembira), seperti isyarat akan mendapatkan keturunan, jabatan yang baik, harta yang halal, menjadi ulama dan lain-lain. Jadi bukan dalam kerangka sebagai dalil menafsirkan al-Qur’an, apalagi penetapan hukum berdasarkan mimpi.
Penafsiran ini berdasarkan hadits-hadits berikut :
1. Hadits riwayat Turmidzi dari Ubadah bin Shamid, beliau berkata :
“Aku pernah menanyakan kepada Rasulullah SAW tentang firman Allah yang berbunyi :
لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
Rasulullah SAW bersabda :
هي الرؤيا الصالحة يراها المؤمن أو ترى له
Artinya : Ia adalah mimpi yang baik yang lihat oleh orang mukmin atau yang perlihatkan kepadanya.(H.R. Turmidzi)26

2. Hadits riwayat Bukhari :
لَمْ يَبْقَ مِنْ النُّبُوَّةِ إِلَّا الْمُبَشِّرَاتُ قَالُوا وَمَا الْمُبَشِّرَاتُ قَالَ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ
Artinya : Tidak tersisa dari kenabian kecuali mubsyiraat. Para sahabat bertanya apa itu mubsyiraat?. Rasulullah mejawab: “mimpi yang baik”. (H.R. Bukhari)27

3. Hadits riwayat Muslim dan Turmidzi :
الرؤيا ثلاثة فرؤيا الصالحة بشرى من الله ورؤيا تحزين من الشيطان ورؤيا مما يحدث المرء نفسه
Artinya : Mimpi itu ada tiga katagori, yaitu : ru’ya shalihah, yaitu kabar gembira dari Allah, mimpi yang menyedihkan yang datang dari syaithan dan mimpi karena obsesi seseorang.(H.R. Muslim28 dan Turmidzi 29 )

Hadits ini juga menjelaskan bahwa mimpi yang dialami oleh seseorang ada tiga katagori, yaitu :
1. mimpi yang benar sebagai kabar gembira yang datang Allah
2. mimpi duka cita yang datang dari setan
3. mimpi karena obsesi seseorang. Artinya mimpi tersebut terjadi karena bawaan pikiran pada waktu dia jaga.
Sesuai dengan pernyataan Muhammad Ilyas tentang mimpinya di bawah ini, kita dapat menduga bahwa mimpi Muhammad Ilyas mengenai tafsir al-Qur’an Surat : Ali Imran : 110 adalah termasuk dalam katagori mimpi karena bawaan pikiran. Jadi bukan mimpi yang benar yang datang dari Allah SWT. Pernyataan Muhammad Ilyas dimaksud adalah :
“Kini, dalam mimpi saya, ilmu yang betul dicampakkan (liqa) kepada saya. Oleh itu cubalah supaya tidur saya bertambah”. (maksud, pada masa itu kerana penyakit, tidur beliau telah berkurangan ; maka menurut mesyuarat dengan hekim sahib dan doktor sahib saya telah memberi minyak di kepalanya yang mana tidurnya telah bertambah) .

Muhammad Ilyas berkata :
“Cara tabligh ini telah dikasyafkan kepada saya dalam mimpi….. dst”.
Ini merupakan kutipan dari Kitab Malfudhat karangan Mansur Nu’mani yang diterjemahkan dalam Bahasa Melayu (Malaysia).30 Untuk memudahkan memahami kutipan di atas, berikut ini redaksi pernyataan Muhammad Ilyas tersebut yang dikutip dari Kitab Malfudhat oleh pengarang Kasyful Syubhah yang diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia oleh Syaikh H. Hasanoel Bashry HG, yakni :
“Karena ini wahai para pengikutku yang setia usahakanlah tidur pemimpinmu ini nyenyak dan nyaman. Apabila aku kurang tidur karena panas panggil dokter dan orang pintar, pakailah minyak wangi pada kepalaku bila petunjuknya demikian supaya lebih banyak tidurku. Ketahuilah ! aku menemukan jalan bertabligh ini melalui mimpi dan Allah juga mengajariku dalam mimpi penafsiran ayat…..dst. 31

Dari rangkaian pernyataan Muhammad Ilyas di atas, nampak jelas pada kita bahwa Muhammad Ilyas sedang sangat terbebani oleh pikiran mencari inspirasi yang dapat menjawab persoalan dakwah, bahkan Muhammad Ilyas sampai-sampai berucap :
“Apabila aku kurang tidur karena panas panggil dokter dan orang pintar, pakailah minyak wangi pada kepalaku bila petunjuknya demikian supaya lebih banyak tidurku. Ketahuilah ! aku menemukan jalan bertabligh ini melalui mimpi dst…”.

Berdasarkan uraian di atas, sekali lagi dapat disimpulkan bahwa mimpi Muhammad Ilyas mengenai tafsir al-Qur’an Surat Ali Imran : 110 termasuk dalam katagori mimpi karena obsesi pikiran semata, bukan mimpi yang datang dari Allah. Namun dalam rangka membela pendiri Jama’ah Tabligh (Muhammad Ilyas), Mulwi Ahmad Harun Al-Rosyid menyebutkan bahwa mimpi Muhammad Ilyas yang terjadi karena bawaan pikiran sama halnya dengan keadaan mimpi Abdullah bin Zaid mengenai azan, dimana menurut Mulwi Ahmad Harun Al-Rosyid mimpi Abdullah bin Zaid juga muncul karena konsentrasinya bagaimana cara mengumpulkan orang untuk shalat.32 Kita tidak menemukan riwayat yang menceritakan Abdullah bin Zaid terbebani pikiran mencari cara bagaimana mengumpulkan orang shalat. Penulis sengaja pada halaman sebelum ini, mengutip hadits yang menceritakan mimpi Abdullah bin Zaid dengan lengkap, baik riwayat Abu Daud maupun Turmidzi, namun dalam kedua riwayat tersebut tidak terdapat cerita sebagai dakwaan Mulwi Ahmad Harun Al-Rosyid. Menurut hemat kami dakwaan Mulwi Ahmad Harun Al-Rosyid tersebut merupakan kebohongan yang sengaja dilakukan karena kepanatikan membabi buta terhadap pemimpinnya saja.
4. Dalam Kitab Siraj al-Thalibin, tersebut beberapa pendapat lain mengenai penafsiran hadits mimpi di atas, yakni bahwa dalam mimpi itu ada pemberitahuan tentang yang gaib. Pemberitahuan tentang yang gaib termasuk salah satu martabat kenabian, tapi bukan berarti orang yang bermimpi itu menjadi nabi. Pendapat lain lagi mengatakan bahwa mimpi itu muwafaqat dengan jalan kenabian, bukan mimpi adalah sebagian dari kenabian.33 Dua pendapat terakhir ini juga harus dipahami sebagai mubsyiraat (kabar gembira), karena dalil-dalil tersebut di atas.






DAFTAR PUSTAKA
1.Al-Baidhawy, Tafsir Anwarul Tanzil wa Asrarul Ta’wil, Muassasah Sya’ban, Beirut, Juzu’II, Hal 36
2.Ahmad Shawy, Tafsir al-Shawy, Darul Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juzu’ I dengan Hamisynya, Tafsir Jalalain, Hal. 172 dan Imam Abdullah An-Nasafy, Hamisy Tafsir Kazin, Juz I, Hal. 265
3.Al-Kazin, Tafsir al-Kazin, Juz I, Hal. 265
4.Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Dar al-Thaibah, Juz. II, Hal. 93
5.Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Dar al-Thaibah, Juz. II, Hal. 93
6.Bukhari, Shahih Bukhari, Dar Thauq al-Najh, Juz. VI, Hal. 37, No. Hadits : 4557
7.Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Darul Thaibah, Juz VIII, Hal. 388
8.Ahmad Shawy, Tafsir Shawy dan Tafsir al-Jalalain, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. IV, Hal. 313
9.Fath al-Rahman li Thalib ayat al-Qur’an, Maktabah Dahlan, Indonesia, Hal. 478
10.Jalalain, Tafsir al-Jalalain, dalam Tafsir al-Shawy, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. II, Hal. 37-38
11.Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Darul Thaibah, Juz. III, Hal. 314
12.Jalalain, Tafsir al-Jalalain, dalam Tafsir al-Shawy, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. III, Hal. 374
13.Baidhawy, Tafsir al-Baidhawy, Muassasah Sya’ban, Beirut, Juz. V, Hal. 29. lihat juga Thabary, Tafsir al-Thabary, Muassasah Risalah, Juz. XXI, Hal. 297
14.Jalalain, Tafsir al-Jalalain, Dalam Tafsir al-Shawy, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. IV, Hal. 32
15.Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, Dar ‘Ali al-Kutub, Riyadh, Juz. XVI, Hal. 6
16.Bukhari, Shahih al-Bukhari, Dar Thauq an-Najh, Juz. IX, Hal 30, No. Hadits : 6988
17.Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. IV, Hal. 1774, No. Hadits : 2263
18.Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. IV, Hal. 1774, No. Hadits : 2263
19.Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. IV, Hal. 1774, No. Hadits : 2263
20.Zarkasyi, Bahrul Muhizh, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. I, Hal. 48
21.Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jafsy al-Kidiry, Siraj al-Thalibin, al-Haramain, Surabaya, Juz. I, Hal. 333
22.Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Dar al-Thaibah, Juz. IV, Hal. 280
23.Al-Qurthuby, Tafsir al-Qurthuby, Dar ‘Alim al-Kutub, Saudi Arabiya, Juz. VIII, Hal. 358
24.Thabary, Tafsir al-Thabary, Muassasah Risalah, Juz. XV, Hal. 124-140
25.Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jafsy al-Kidiry, Siraj al-Thalibin, al-Haramain, Surabaya, Juz. I, Hal. 332
26.Sunan al-Turmidzi, Thaha Putra, Semarang, Juz. III, Hal. 365, No. 2377
27.Bukhari, Shahih Bukhari, Dar Thauq al-Najh, Juz. IX, Hal. 31, No. Hadits : 6990
28.Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. IV, Hal. 1773, No. Hadits : 2263
29.Turmidzi, Sunan al-Turmidzi, Thaha Putra, Semarang, Juz. III, Hal. 363, No. 2372
30.Mansur Nu’mani, Malfudhat, (Terjemahan kedalam Bahasa Melayu oleh Humayun Chowdhury), Pustaka Timur, Trengganu, Malaysia, Hal. 40
31.Syaikh Ahmad Syihabuddin, Kasyful Syubhah,(terjemahan oleh Syaikh Hasanul Basry HG), Hal.4.
32.Mulwi Ahmad Harun Al-Rosyid, Meluruskan Kesalahpahaman Terhadap Jaulah (Jama’ah Tabligh), Pustaka Haromain, Hal.48
33.Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jafsy al-Kidiry, Siraj al-Thalibin, al-Haramain, Surabaya, Juz. I, Hal. 333

4 komentar:

  1. H. Murtala Annadwi23 Desember 2011 16.25

    tgk baca lagi, jangan mudah terprofokasi. bukankah kita dilarang taqlid 'ama
    buka website http://takaza.blogspot.com/2009/12/kabar-dusta-dan-fitnah-ahli-usaha.html

    BalasHapus
  2. terima kasih atas sarannya

    wassalam

    BalasHapus
  3. kami sudah membuka website yang anda rekomendasikan di atas. namun perlu anda baca kembali tulisan kami diatas, kami tidak pernah membahas masalah kuburan sebagaimana cerita di website tersebut . kalau kami menyatakan ada kekeliruan di Jama'ah tabligh, itu bukanlah karena masalah kuburan tersebut. apabila anda membaca secara komverehensif tulisan kami di atas, di situ akan nampak bahwa kekeliruan Jama'ah tabligh adalah berdasarkan tulisan2 yang ditulis oleh kalangan Jama'ah tablig sendiri, seperti Ali Nadwi, mansur al-nu'mani dan lain2

    sebagai catatan, menerima berita dari orang terpercaya bukan lah taqlid. taqlid adalah menerima pendapat orang. ini mudah dipahami kalau seseorang pernah belajar, meskipun sedikit ilmu ushul fiqh dan ilmu hadits


    wassalam

    BalasHapus
  4. terima kasih informasinya..

    BalasHapus