Sabtu, 05 Maret 2011

Jama'ah Tabligh (Agama Mimpi) (Bab II) (2) : oleh Tgk_Alizar_usman

B AB II
KEKELIRUAN-KEKELIRUAN JAMA’AH TABLIGH
Masalah 1
Maulana Muhammad Ilyas dalam menetapkan metode gerakan Jama’ah Tabligh menggunakan dalil al-Qur’an dengan penafsirannya berdasarkan mimpi. Hal ini dikeahui sebagaimana pernyataannya dalam kitabnya, Malfudhat :
“ Ketahuilah ! Aku menemukan jalan bertabligh ini melalui mimpi dan Allah SWT juga mengajariku dalam mimpi penafsiran ayat :
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
Artinya : “Kamu sekalian merupakan sebaik-baik ummat yang diutuskan untuk manusia. Engkau menyuruh kepada kebaikan dan melarang segala kemungkaran dan beriman kepada Allah”(Q.S. Ali Imran :110)

Menurut Maulana Muhammad Ilyas firman Allah SWT lafadh ukhrijat menunjukkan bahwa dakwah ini tidak akan terlaksana dan sempurna apabila cara penyampaiannya hanya menetap pada suatu tempat saja, tetapi harus dilaksanakan keluar dari daerah sendiri. Kemudian Muhammad Ilyas menambahkan, bahwa yang dimaksud dengan sebaik-baik umat pada ayat tersebut adalah bangsa Arab, yaitu dia sendiri dan yang dimaksud dengan manusia yang menjadi sasaran dakwah adalah bangsa bukan Arab. Karena mengenai bangsa Arab sudah ada ayat
ليس علبهم بمصيطر
dan ayat
وماأنت عليهم بوكيل
yang maksudnya adalah mengenai hidayah orang Arab sudah ada kejelasannya dan tidak perlu menjadi beban pikiran bagimu. Sedangkan lafazh تؤمنون بالله menunjukan kepada bahwa keimanan itu akan terus bertambah dengan melaksanakan amar ma’ruf dan nahi mungkar.1
Berdasarkan pernyataan Muhammad Ilyas di atas, dapat dinyatakan di sini bahwa penafsiran ayat di atas menurut pendiri Jama’ah Tabligh ini, kurang lebih sebagai berikut
“ Kalian orang-orang Arab (termasuk Muhammad Ilyas sendiri, karena beliau ini menurut catatan adalah keturunan Abubakar Siddiq) adalah sebaik-baik umat yang melaksanakan amar ma’ruf dan nahi mungkar kepada bangsa bukan Arab. Dengan melaksanakan amar ma’ruf dan nahi mungkar tersebut kamu akan mendapatkan kemajuan keimananmu.”.

Selanjutnya Muhammad Ilyas dalam mimpinya mendapat bisikan bahwa dakwah untuk Bangsa Arab tidak perlu dihiraukan berdasar dalil Q.S. Al-Ghasyiah : 22 dan .Al-An’am : 107 di atas. Keterangan bahwa Muhammad Ilyas mendapatkan penafsiran al-Qur’an melalui mimpi juga dapat diketahui dari pengakuan salah seorang pembela Jama’ah Tabligh, Mulwi Ahmad Harun Al-Rasyid, yaitu :
“Rasulullah SAW sendiri menjelaskan tentang pembagian mimpi yang hanya tiga. Maka, tidak mungkin mimpi Maulana Muhammad Ilyas yang berisi penjelasan tentang ayat al-Qur’an dan metode dakwah ini hanya sekedar bawaan dari apa yang beliau pikirkan, apalagi berasal dari setan”.2

Lebih lanjut pengertian dakwah ala Jama’ah Tabligh dapat disimak dari pernyataan Maulana Muhammad Ilyas pada kali yang lain sebagaimana kutipan Abul Hasan Ali Nadwy salah seorang yang sangat dekat dan pengikut setia Maulana Muhammad Ilyas,
“ Sesungguhnya masyarakat Mewat (kelompok masyarakat yang pertama sekali masuk dalam Jama’ah Tabligh, pen.) tidak mungkin dapat merasakan nikmatnya agama dan lezatnya iman, kecuali apabila mereka sanggup mengabdikan sepenuh hati dalam usaha menggalakkan manusia agar meninggalkan kampungnya selama empat bulan, bergerak dari satu negeri kenegeri lainnya untuk menyampaikan agama dan bahkan menjadikan usaha dakwah ini sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka”.3

Dalam upaya membenarkan penafsirannya terhadap ayat Q.S. Ali Imran : 110 dengan berdasarkan mimpi sebagaimana tersebut di atas, Muhammad Ilyas mengutip hadits Nabi SAW yang berbunyi :
“ Mimpi adalah satu perempat puluh enam dari pada nubuwah (kenabian)”4
Timbul pertanyaan :
1. Bolehkah berhujjah dengan menggunakan dalil mimpi dalam menafsirkan Al-qur’an dan penetapan hukum?
2. bagaimanakah tafsir Q.S. Ali Imran : 110 menurut ahli tafsir yang muktabar di kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah ?
3. Bagaimanakah penafsiran hadits Nabi “mimpi adalah satu perempat puluh enam dari pada nubuwah (kenabian)” menurut tafsir yang muktabar ?
Analisis
1. Jawaban pertanyaan pertama
Dalam khazanah sejarah penggalian hukum Islam tidak pernah dikenal penetapan suatu hukum atau penafsiran ayat Al-Qur’an berdasarkan mimpi, mulai dari sahabat Nabi sampai dengan sejarah imam-imam mujtahid. Manusia selain Nabi adalah tidak ma’shum. Tidak ada jaminan mimpi seorang manusia selain Nabi tidak dipengaruhi bisikan-bisikan syaithan. Hanya mimpi para Nabi merupakan kebenaran sebagaimana mimpi Nabi Ibrahim diperintah Allah SWT menyembelih anaknya, Ismail.5
Allah berfirman dalam Al-Qur’an :
لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ 
Artinya : Sesungguhnya Allah telah membenarkan Rasul-Nya mengenai mimpi yang haq.(Q.S. Al-Fath : 27)

Ahmad Shawy dalam menafsirkan ayat di atas, mengatakan bahwa Allah menjadikan mimpi Rasul-Nya sebagai suatu yang benar dan pasti, yang tidak dapat diganggu oleh Syaithan. Karena Rasul Allah itu ma’shum termasuk di dalamnya Rasulullah SAW dan para Anbiya.6 Berdasarkan keterangan Tafsir Shawy ini dapat dipahami mimpi selain Rasul Allah tidak dapat dijadikan pegangan apa lagi dalam berhujjah, karena selain Rasul Allah tidak ma’shum dan tidak ada jaminan mimpi tersebut benar-benar datang dari Allah SWT dan bukan dari bisikan Syaithan.
Keterangan ulama muktabar lainnya mengenai kedudukan mimpi dalam penetapan hukum antara lain :
1. Ibnu Shalah dalam kitab Fatawanya :
“Masalah : Seorang laki-laki mendakwa dirinya bermimpi bertemu Nabi SAW dalam tidurnya. Nabi SAW mengatakan suatu perkataan yang mengandung hukum syar’i, maka apakah boleh mengamalkannya ?. Beliau (Ibnu Shalah) menjawab : “Tidak boleh memegang hal itu berdasarkan apa yang dilihat dan didengar dari Rasulullah SAW dalam mimpinya. Hal ini bukanlah karena tidak percaya bahwa orang yang melihat Rasulullah SAW dalam mimpi, maka ia melihat kebenaran. Itu dapat dipercaya, tetapi karena tidak dapat dipercaya zhabith orang yang bermimpi tersebut.”7

2. Ketidakhujjahan mimpi dalam penetapan hukum juga dapat kita simak dari pernyataan Zarkasyi dalam Bahrul Muhizh bahwa hukum tidak dapat ditetapkan berdasarkan mimpi kecuali pada diri anbiya atau pengakuan mereka.8
3. Al-Ustaz Abu Ishaq Syairazi berkata :
“Tidak boleh menetapkan sesuatu berdasarkan mimpi. Oleh karena itu, kalau seseorang bermimpi melihat Nabi SAW memerintahnya menetapkan sesuatu hukum, maka tidak lazim mengikutinya”.9

4. Ketidakhujjahan mimpi juga dapat dipahami dari uraian Ibrahim Bajuri dalam Hasyiah al-Bajury dalam menjawab isykal masalah penetapan azan dengan mimpi Zaid bin Abdullah yang tersebut dalam riwayat Abu Daud dan Turmidzi.
Riwayat Abu Daud berbunyi :
عبد الله بن زيد قال لما أمر رسول الله صلى الله عليه و سلم بالناقوس يعمل ليضرب به للناس لجمع الصلاة طاف بي وأنا نائم رجل يحمل ناقوسا في يده فقلت يا عبد الله أتبيع الناقوس ؟ قال وما تصنع به ؟ فقلت ندعو به إلى الصلاة قال أفلا أدلك على ما هو خير من ذلك ؟ فقلت له بلى قال تقول الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر أشهد أن لا إله إلا الله أشهد أن لا إله إلا الله أشهد أن محمدا رسول الله أشهد أن محمدا رسول الله حي على الصلاة حي على الصلاة حي على الفلاح حي على الفلاح الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله قال ثم استأخر عني غير بعيد ثم قال ثم تقول إذا أقمت الصلاة الله أكبر الله أكبر أشهد أن لا إله إلا الله أشهد أن محمدا رسول الله حي على الصلاة حي على الفلاح قد قامت الصلاة قد قامت الصلاة الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله . فلما أصبحت أتيت رسول الله صلى الله عليه و سلم فأخبرته بما رأيت فقال " إنها لرؤيا حق إن شاء الله فقم مع بلال فألق عليه ما رأيت فليؤذن به فإنه أندى صوتا منك " فقمت مع بلال فجعلت ألقيه عليه ويؤذن به قال فسمع ذلك عمر بن الخطاب رضي الله عنه وهو في بيته فخرج يجر رداءه ويقول والذي بعثك بالحق يا رسول الله لقد رأيت مثل ما رأى . فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم " فلله الحمد "حسن صحيح"

Artinya :Abdullah bin Zaid berkata : Ketika Rasulullah SAW memerintah memukul lonceng untuk mengumpulkan manusia untuk shalat, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya : Hai hamba Allah apakah kamu hendak menjual lonceng itu. Orang tersebut malah bertanya," Untuk apa? Aku menjawabnya, "Bahwa dengan membunyikan lonceng itu, kami dapat memanggil kaum muslim untuk menunaikan shalat." Orang itu berkata lagi, "Maukah kau kuajari cara yang lebih baik?" Dan aku menjawab "Ya!" Lalu dia berkata : Engkau katakan : Allahu Akbar Allahu Akbar, Asyhadu alla ilaha illallah Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, Hayya 'alash shalah Hayya 'alash shalah, Hayya 'alal falah Hayya 'alal falah, Allahu Akbar Allahu Akbar La ilaha illallah. Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Muhammad SAW menceritakan perihal mimpi itu kepadanya, kemudian Muhammad berkata, "Itu mimpi yang haq insya Allah. Berdirilah disamping Bilal dan ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu. Dia harus mengumandangkan azan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat lantang." Lalu akupun melakukan hal itu bersama Bilal. Umar bin Khatab r.a. yang lagi berada di rumahnya mendengar azan itu, maka Umarpun keluar dengan menjulurkan rida’nya, kemudian berkata : Demi Tuhan yang mengutus engkau hai Muhammad dengan kebenaran, sesungguhnya aku telah bermimpi sebagaimana yang telah dia mimpikan. Maka Rasulullah bersabda : bagi Allah segala pujian. Berkata Abu Daud : Hadits ini hasan shahih (H.R. Abu Daud)10

dan Riwayat Turmidzi, berbunyi :

لما أصبحنا أتينا رسول الله صلى الله عليه وسلم، فأخبرته بالرؤيا، فقال: إن هذه لرؤيا حق، فقم مع بلال، فإنه أندى وأمد صوتا منك، فألق عليه ما قيل لك، وليناد بذلك، قال فلما سمع عمر بن الخطاب نداء بلال بالصلاة خرج إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، وهو يجر إزاره، وهو يقول: يا رسول الله، والذي بعثك بالحق، لقد رأيت مثل الذي قال، قال: فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: فلله الحمد، فذلك أثبت".
Artinya : Ketika pagi tiba, aku ( Abdullah bin Zaid) mendatangi Rasulullah SAW dan menceritakan mimpiku. Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya ini adalah mimpi yang haq. Maka lakukanlah bersama bilal, karena suara Bilal lebih lantang dan nyaring darimu. Ajarilah dia apa yang dikatakan kepadamu dan hendaklah Bilal melakukan azan dengannya. Manakala mendengar azan Bilal untuk shalat, Umar bin Khatab keluar dengan menjulurkan rida’nya, menemui Rasulullah SAW dan berkata : Ya Rasulullah, demi Tuhan yang mengutuskan engkau dengan kebenaran, sesungguhnya aku telah melihat dalam mimpiku sama seperti yang dikatakannya. Bersabda Rasulullah SAW : Bagi Allah pujian. Karena itu, aku tetapkan demikian. (H.R. Turmidzi)11

Ibrahim al-Bajuri berkata :
“Diisykalkan yang demikian itu, dengan sebab bahwa sesungguhnya hukum tidak dapat ditetapkan dengan mimpi. Dijawab, bahwa mimpi tersebut bersesuaian dengan turun wahyu. Maka hukum (penetapan azan) ditetapkan dengan wahyu bukan dengan mimpi”.12

Hal senada juga dapat dilihat dalam Kitab I’anatuthalibin.13 Pernyataan yang lebih tegas lagi dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam mengomentari hadits di atas, yakni :
“Hal tersebut bukanlah pengamalan dengan semata-mata mimpi. Ini termasuk sesuatu yang tidak diragukan dengan tanpa khilaf”.14

5. Imam al-Nawawi mengatakan :
“Kalau pada malam tiga puluh Sya’ban manusia tidak melihat hilal, tiba-tiba datang seseorang mengaku melihat Nabi SAW dalam mimpinya dan beliau bersabda kepadanya : “Malam ini adalah awal Ramadhan, maka tidak sah puasa dengan mimpi ini, tidak sah atas yang bermimpi dan tidak sah juga atas orang lain. Keterangan ini telah disebut oleh Qadhi Husain dalam al-Fatawa dan lainnya dari Ashhab kita. Qadhi ‘Iyadh telah mengutipnya sebagai ijmak. Saya (al-Nawawi) telah menetapkannya dengan dalil-dalilnya pada awal Syarah Shahih Muslim. Ringkasannya adalah bahwa syarat perawi, yang meyampaikan berita dan saksi adalah dalam keadaan jaga pada ketika tahammul. Ini mujma’ ‘alaihi, karena sebagaimana di maklumi bahwa bahwa tidur tidak dalam keadaan jaga dan tidak ada dhabith. Oleh karena itu, meninggalkan mengamalkan mimpi ini karena cedera dhabith perawi, bukan karena meragukan mengenai mimpi.15
Imam an-Nawawi di atas, memfatwakan bahwa menentukan awal Ramadhan tidak boleh dengan berpedoman kepada mimpi. Ketidakbolehan ini bukan karena meragukan kebenaran mimpi, apalagi mimpi itu adalah mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW, tetapi karena orang yang bermimpi itu bukan ahli tahammul berita, karena dia dalam keadaan tidur. Oleh karena itu, ketidakbolehan mengamalkan mimpi dalam penetapan hukum bukan hanya berlaku untuk masalah puasa saja, tetapi juga untuk masalah-masalah yang lain, seperti masalah khuruj ala Jama’ah Tabligh. Keterangan yang dikemukakan oleh an-Nawawi di atas, juga dikemukan oleh Ibnu Hajar al-Haitamy dan Bujairumi sebagaimana di bawah ini.
6. Ibnu Hajar al-Haitamy mengatakan :
“Tidak berpuasa dengan sebab bermimpi berjumpa Rasulullah SAW dalam tidur yang mengatakan bahwa besok bulan Ramadhan, karena jauh dhabith orang bermimpi, bukan diragukan mimpinya”

Syarwani dalam mengomentari pernyataan Ibnu Hajar di atas mengatakan haram berpuasa dan lainnya dengan menyandarkan kepada mimpi tersebut. Alasan beliau adalah karena hukum Allah tidak didapati kecuali dari lafazh dan istinbath. Sedangkan berpuasa dengan mimpi tidak termasuk dalam keduanya.16
7. Bujairumi dalam pembahasan penentuan awal Ramadhan, mengatakan :

“Tidak diiktibar pula perkataan orang yang mengatakan : “Nabi SAW telah mengabari dalam tidurku bahwa malam ini adalah awal Ramadhan.” Maka tidak sah puasa dengannya dengan ijmak, karena tidak ada dhabith orang yang bermimpi, bukan karena diragukan yang dilihat dalam mimpinya.”17

Berdasarkan pernyataan para ulama di atas, dapat dipahami bahwa para ulama besar tersebut sepakat bahwa mimpi tidak dapat dijadikan hujjah dalam penetapan hukum. Oleh karena itu, dalam kalangan Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah, kita hanya mengenal sumber – sumber hukum, yaitu : Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, Qiyas, Qaulul Shahaby, Ishtishhab, Maslahah Murshalah, Istihsan, Saddul Zara-i’, Kebiasaan Penduduk Madinah. Mimpi atau ilham tidak termasuk di dalamnya. Mengenai ilham, telah berkata Syekh Zakaria Al-Anshary :
“Ilham yang terjadi pada manusia yang tidak ma’shum tidak dapat dijadikan sebagai hujjah, karena tidak aman dari tipu daya syaithan”18

Khusus mengenai penafsiran Al-Qur’an, berikut keterangan para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah mengenai sumber-sumber tafsir yang dapat menjadi pedoman dalam melakukan penafsiran Al-Qur’an, antara lain :
1. Ibnu Katsir dalam menjelaskan metode tafsirnya mengatakan :
“ Pada ketika itu, apabila kita tidak mendapatinya dalam Al-Qur’an dan juga tidak pada sunnah, maka kita kembali kepada pendapat sahabat, karena mereka lebih tahu tentang itu”.

Terjadi perbedaan pendapat ulama mengenai qaul tabi’in. Menurut pendapat yang shahih tidak menjadi hujjah.19
2. Berkata Ahmad`Shawy :
“Sumber tafsir adalah al-Kitab, al-Sunnah, atsar dan ahli fashahah dari orang-orang Arab asli.”20

3. Zarkasyi menjelaskan kepada kita bahwa ada empat sumber tafsir, yaitu naqal (kutipan) dari Rasulullah SAW, perkataan sahabat, muthlaq lughat dan muqtazhaa makna kalam dan muqtazhaa kekuatan syara’. Penggunaan perkataan sahabat adalah karena perkataan sahabat ditempatkan pada posisi marfu’. Sedangkan perkataan tabi’in terjadi perbedaan ulama dalam menjadikannya sebagai sumber tafsir.21
Memperhatikan keterangan ulama di atas, kita bertanya-tanya, pedoman apa yang dipergunakan oleh Maulana Muhammad Ilyas, pendiri Jama’ah Tabligh ini sehingga berani mentafsirkan suatu firman Allah berdasarkan mimpinya ?.
Sebagian pengikut Jama’ah Tabligh (Mulwi Ahmad Harun Al-Rasyid)22 dalam membenarkan penafsiran al-Qur’an dengan mempedomani mimpi ini ada yang mengutip pendapat Ibnu Daqiq al-‘Id yang dikutip oleh Zarkasyi dalam Kitab Bahrul Muhizh, yaitu
“Apabila perintahnya dengan sebuah perintah yang penetapannya pada waktu jaga adalah sebaliknya, seperti perintah meninggalkan wajib atau perintah meninggalkan sunat, maka tidak boleh mengamalkannya dan apabila perintah dengan sesuatu yang tidak ada penetapan sebaliknya pada waktu jaga, maka dianjurkan mengamalkannya”.23

Argumentasi Mulwi Ahmad Harun Al-Rasyid ini kita bantah dengan beberapa penjelasan, yaitu :
1. Pendapat Ibnu Daqiq al-‘Id ini adalah pendapat dha’if (wajh dha’if). Jadi tidak dapat dijadikan hujjah dalam penetapan suatu hukum, apalagi sebagai pedoman dalam menafsirkan al-Qur’an. Ini sesuai dengan keterangan pengarang Bahrul Muhith sebelumnya pada halaman yang sama, yaitu :
“ Pendapat yang kuat adalah yang pertama, karena hukum tidak dapat ditetapkan berdasarkan mimpi kecuali pada haq anbiya atau pengakuan mereka.”

2. Kalaupun kita berpedoman kepada pendapat Ibnu Daqiq al-‘Id di atas, maka mimpi yang boleh diamalkan menurut beliau adalah mimpi yang tidak bertentangan dengan ketetapan hukum yang wujud pada waktu jaga. Berdasarkan uraian pada jawaban yang kedua setelah ini, jelas nampak bahwa tafsir Q.S. Ali Imran :110 ala Muhammad Ilyas adalah bertentangan dengan tafsir yang bersumber dari sahabat Nabi dan ketetapan hukum yang ditetapkan para ulama muktabar di kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah. Oleh karena itu, kalaupun kita membenarkan pendapat Ibnu Daqiq al-‘Id di atas, toh tetap tidak dapat membenarkan tafsir mimpi ala Muhammad Ilyas tersebut.





DAFTAR PUSTAKA
1. Mansur Nu’mani, Malfudhat, (Terjemahan kedalam Bahasa Melayu oleh Humayun Chowdhury), Pustaka Timur, Trengganu, Malaysia, Hal. 40-42, dan lihat Syaikh Ahmad Syihabuddin, Kasyf al- Syubhah,(terjemahan oleh Syaikh Hasanul Basry HG), Hal.4.
2. Mulwi Ahmad Harun Al-Rasyid, Meluruskan kesalahpahaman Terhadap Jaulah (Jama’ah Tabligh), (Terjemahan oleh Mulwi Muhammad Makmun), Pustaka Haromain, Hal. 48
3. Abul Hasan Ali Nadwy, Riwayat Hidup dan Usaha Dakwah Maulana Muhammad Ilyas, (terjemahan oleh Masrokhan Ahmad) Ash-Shaff, Yogyakarta Hal 54
4. Mansur Nu,mani, Malfudhat, (Terjemahan oleh Humayun Chowdhury), Pustaka Timur, Trengganu, Malaysia, Hal. 40
5. Al-Baidhawy, Tafsir Anwarul Tanzil wa Asrarul Takwil, Muassasah Sya’ban, Beirut, Juzu’ V, Hal 9 dan Ahmad Shawy, Tafsir Shawy, Darul Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juzu’ III, Hal. 342
6. Ahmad Shawy, Tafsir Shawy, Darul Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia Juz. IV, Hal 105
7. Ibnu Shalah, Fatawa Ibnu Shalah, Darul Hadits, Kairo, Hal. 135
8. Zarkasyi, Bahrul Muhizh, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. I, Hal. 49
9. Zarkasyi, Bahrul Muhizh, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. I, Hal. 49
10.Abu Daud, Sunan Abu Daud, Darul Fikri, Beirut, Juz. I, Hal. 189, No. Hadits : 499
11.Turmidzi, Sunan al-Turmidzi, Thaha Putra, Semarang, Juz. I, Hal. 122, No. Hadits : 189
12.Ibrahim al-Bajury, Hasyiah al-Bajury, al-Haramain, Singapura, Juz I, Hal. 160
13.Al-Bakri al-Damyathi, I’anah al-Thalibin, Thaha Putra, Semarang, Juzu’ I, Hal. 229.
14. An- Nawawi, Syarah Muslim, Darul Ihya al-Turatsi al-Arabi, Beirut, Juz. IV, Hal. 76
15.An-Nawawi, Majmu’ Syarah Muhazzab, Maktabah Irsyad, Jeddah, Juz. VI, Hal. 292
16.Ibnu Hajar al-Haitamy dan Syarwani, Tuhfah al-Muhtaj dan Hasyiahnya, Mathtba’ah Mustafa Muhammad, Mesir, Juz. III, Hal. 373-374
17. Bujairumy, Hasyiah al-Bujairumy ‘ala al-Khatib, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. III, Hal. 102
18. Zakariya al-Anshary, Ghayatul Wushul Syarah Labbul Ushul, Usaha Keluarga, Semarang, Hal 140 dan Al-Banany, Hasyiah Albanany ‘ala Syarah Jam’ul Jawami’, Darul Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Juzu’ II, Hal. 356
19.Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Dar al-Thaibah, Juz. I, Hal. 7 dan 10
20.Ahmad Shawy, Tafsir al-Shawy, Darul Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juzu’ I, Hal. 2
21.Zarkasyi, al_Burhan fi Ulum al-Qur’an, Darul Ma’rifah, Beirut, Juz. II, Hal. 156-161
22.Mulwi Ahmad Harun Al-Rasyid, Meluruskan Kesalapahaman Terhadap Jaulah (Jama’ah Tabligh), Pustaka Haramain, Hal. 47
23. Zarkasyi, Bahrul Muhizh, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. I, Hal. 49

42 komentar:

  1. saghshsehhdggrbdddkdkmcdc

    BalasHapus
  2. djfkdldlfxncldxdln ccnlldl

    BalasHapus
  3. Sok kali kau..!! Macam Mushonif saja kau..!! Baca dulu sejarah atau kitab, barulah kau berikan pandangan terhadad Harokah ni..! Aku tau kau itu org SAWAH (Sxxxfy-Wxxxbi)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebaiknya, anda baca semua tulisan ini, sehingga anda melihat kebenaran. nampak kali anda cuma panatisme dan lebih sok dari orang yan sok. dan apabila melihat kebenaran, justru berpaling darinya. mudah2an anda tidak termasuk dalam golongan yang disebut al-Qur'an al-baqarah : 89, berbunyi :
      فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ
      artinya : maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la'nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.
      kalau memang ada isi tulisan ini tidak berdasarkan dalil, maka sebut saja dan jelaskan dengan argumentasi dan tentunya tidak perlu marah2 kayak orang bodoh
      mudah2an anda mendapatkan hidayah dari-Nya

      wassalam

      Hapus
    2. @Anonim and @willy candra, kalian berdua begok, buta amat, coba gunakan pikiranmu, dan perdlamkan ilmu agama mu berdsarkan Quran, hdits, ijmah, Qias,.kau2 ini mau bantah org laen tp km sdri tanpa ddasari alasn dan dalil,.Jamaah tabliq emg sok Fatwa hkm, tp begok gk mau liat kiri kanan.
      @Tgk.Anizar Usman..postingan anda Bagus and bermaafat..pertahankn iktqad Ahlussnnah sampai akhir hdp kt,,.syukran..

      Tertanda
      SAIFULLAH ACEH TIMUR

      Hapus
    3. @Anonim and @willy candra, kalian berdua begok, buta amat, coba gunakan pikiranmu, dan perdlamkan ilmu agama mu berdsarkan Quran, hdits, ijmah, Qias,.kau2 ini mau bantah org laen tp km sdri tanpa ddasari alasn dan dalil,.Jamaah tabliq emg sok Fatwa hkm, tp begok gk mau liat kiri kanan.
      @Tgk.Anizar Usman..postingan anda Bagus and bermaafat..pertahankn iktqad Ahlussnnah sampai akhir hdp kt,,.syukran..

      Tertanda
      SAIFULLAH ACEH TIMUR

      Hapus
  4. @Anonim and @willy candra, kalian berdua begok, buta amat, coba gunakan pikiranmu, dan perdlamkan ilmu agama mu berdsarkan Quran, hdits, ijmah, Qias,.kau2 ini mau bantah org laen tp km sdri tanpa ddasari alasn dan dalil,.Jamaah tabliq emg sok Fatwa hkm, tp begok gk mau liat kiri kanan.
    @Tgk.Alizar Usman..postingan anda Bagus and bermaafat..pertahankn iktqad Ahlussnnah sampai akhir hdp kt,,.syukran..

    Tertanda
    SAIFULLAH ACEH TIMUR

    BalasHapus
  5. @Anonim and @willy candra, kalian berdua begok, buta amat, coba gunakan pikiranmu, dan perdlamkan ilmu agama mu berdsarkan Quran, hdits, ijmah, Qias,.kau2 ini mau bantah org laen tp km sdri tanpa ddasari alasn dan dalil,.Jamaah tabliq emg sok Fatwa hkm, tp begok gk mau liat kiri kanan.
    @Tgk.Anizar Usman..postingan anda Bagus and bermaafat..pertahankn iktqad Ahlussnnah sampai akhir hdp kt,,.syukran..

    Tertanda
    SAIFULLAH ACEH TIMUR

    BalasHapus
  6. @Anonim and @willy candra, kalian berdua begok, buta amat, coba gunakan pikiranmu, dan perdlamkan ilmu agama mu berdsarkan Quran, hdits, ijmah, Qias,.kau2 ini mau bantah org laen tp km sdri tanpa ddasari alasn dan dalil,.Jamaah tabliq emg sok Fatwa hkm, tp begok gk mau liat kiri kanan.
    @Tgk.Anizar Usman..postingan anda Bagus and bermaafat..pertahankn iktqad Ahlussnnah sampai akhir hdp kt,,.syukran..

    Tertanda
    SAIFULLAH ACEH TIMUR

    BalasHapus
  7. @Anonim and @willy candra, kalian berdua begok, buta amat, coba gunakan pikiranmu, dan perdlamkan ilmu agama mu berdsarkan Quran, hdits, ijmah, Qias,.kau2 ini mau bantah org laen tp km sdri tanpa ddasari alasn dan dalil,.Jamaah tabliq emg sok Fatwa hkm, tp begok gk mau liat kiri kanan.
    @Tgk.Anizar Usman..postingan anda Bagus and bermaafat..pertahankn iktqad Ahlussnnah sampai akhir hdp kt,,.syukran..

    Tertanda
    SAIFULLAH ACEH TIMUR

    BalasHapus
    Balasan
    1. pantasan aceh ditimpakan musibah.. banyak orang berilmu tp sukanya mencari celah untuk dijadikan kekurangan.. kurang membahas kelebihannya atau sesuatu hal yang perlu diambil...
      dari Ary

      Hapus
    2. sebaiknya anda istiqgfar, jgn sok2 tahu ttg ilmu Allah. allah lebih tahu apa yang menjadi sebab musibah di aceh.

      Hapus
  8. astagfirullah.. buktinya umat-umat terdahulu ditimpakan bencana, tidak begitu saja Allah timpakan musibah, minimal muhasabahlah bagi ulama seperti anda, bapak kurang lebih wahabi versi lain, tengoklah pepatah dulu maling teriak maling, anda banyak mengkritisi orang lain tapi tidak melihat diri sendiri dari fotonya saja bapak model orang-orang Majusi yang memanjangkan berkumis (KRITIK JUGA KLW BGT YAH @_@).. klw anda mmengomentari JT agama pemimpi,klw bapak beragama paham pencari kesalahan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. habis bahan orgumentasi ya, kok marah2 gitu ya, ilmiyah dong

      Hapus
  9. jgn marah2 pak kyai, nnti aceh kena musibah lg..

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayaknya anda begitu senang aceh kena musibah ya. akidah apa yang anda gunakan sehingga cara berpikir anda seperti itu. anda harus ingat , karena tsunami, aceh terlepas dari komplik perang yang berkepanjangan, karena tsunami, aceh memberlakukan syari'at Islam. musibah yang menimpa kepada suatu kaum belum tentu merupakan kemurkaan tuhan, tetapi bisa suatu peringatan untuk selalu mendekatkan diri kpd Allah, maka bersyukurlah kalau Allah memberi peringatannya,
      lalu bagaimana kampung saudara yang mungkin tidak ada musibah, ya, bisa jadi Allah membiarkan saudara dalam kesesatan, sehingga anda lalai tanpa peringatan dan terus dalam maksiat.
      saya tidak tahu anda yang tidak punya nama orang mana, supaya anda camkan, bahwa islam orang indonesia datang dari dakwah2 orang aceh, mestinya anda berterima kasih pada orang aceh yang telah memperkenalkan akidah islam ke indonesia ini.
      wssalam

      Hapus
  10. ada beberapa komentar oleh anonim (tanpa nama) tidak kami muat, karena isinya terlalu menghina sebuah etnis/suku, tidak proporsional lagi. mungkin propoganda sang tanpa nama itu gak disahuti oleh etnis tersebut. harap maklum

    wssalam

    BalasHapus
  11. dan janganlah kebencianmu kepada sebuah kaum membuat kamu tidak berlaku adil. berlaku adillah, karena adil itu dekat dengan ketaqwaan (Quran... adillah dalam pemberitaan pak ustad..

    BalasHapus
    Balasan
    1. kita berdo'a kepada Allah mudah2an Allah memberi kekuatan kepada anda, kami dan kita semua, supaya mampu berlaku adil di dunia ini. amin....!

      Hapus
    2. alhamdulillah kalau bapak sudah menyadari, mudah2n lebih mengerti dan bijak

      Hapus
    3. kami pikir, ini berlaku bagi kita semua, bukan hanya untuk orang lain sedangkan diri kita merasa tidak perlu di nasehati. jadikanlah kritikan orang lain menjadi masukan untuk melihat kekurangan diri sendiri.
      wassalam

      Hapus
    4. Alhamdulillah bapak sudah dapat mengetahui kekurangan bapak..

      Hapus
    5. wah ternyata bapak tidak mengerti

      Hapus
    6. hahahaha....... ini semua tipu daya setan kepada kita semua, karena setan ga mau kalo kita berstu dalam membangun agama yg kokoh. jadinya setan mencari akal untuk mengelabui dan memperpecah umat muslim dngn berbagai cara yg licik. tahukah kalian sedikit percikan api yg kecil bisa menjadi besar, hehehe itulah setan. dia memercikkan api yg kecil itu kedalam hati untuk melalap habis / mengosongkan, menghitamkan hati kita. kesalahan kita adalah kebanyakan kejelekan dan kesalahan orang lain, namun pernahkah kita melihat kebaikan orang itu. tidak......... sekali lagi saya ingatkan pada saudara2 sekalian, kita ini muslim harusnya saling berkasih sayang walaupun berbeda pendapat,,, tidakkah kita melihat imam syafi'i rah.a dan imam maliki rah.a.,, beliau2 menyampaikan pendapat2 yg berbeda2 mengenai 1 hadits.,... tapi hal itu tidak menyebabkan perselisihan diantara murid dan guru ini,. malah beliau2 ini saling memuji 1 sama lain bukan menjelekkan 1 sama lain. harusnya kita sadar, kita sudah dewasa sudah dpt berfikir dan membedakan mana yg baik & mana yg buruk,... kaliannnn tau orang2 nonmuslim mereka bersuka cita/ bergembira dngn apa yg kita lakukan ini menjelekkan 1 sama lain. kita pantasnya bukan jadi apa2, melainkan k pantasnya menjadi hamba dan ummat yg taat saja. kalian jangan mengaku ahlussunnah wal jama'ah deh... kalo ga tau maksud,arti,dan maknanya..." ahlussunnah adalah orang2 yg mengikuti sunnah nabi dan jama'ahnya adalah 1 kesatuan ummat muslim/bersatunya ummat muslim/ dan jama'ah ini mempunyai tali silaturohim/ tali persaudaraan yg kuat yg dapat menghancurkan dosa2 dan kemaksiatan yg ada dibumi ini.., sekali lagi saya harap kita jangan lagi bertengkar apalagi bertengkarnya di internet ... hmmm malu lah pada allah.., apa nnti pas kita menghadap kpda allah,.. iya kalo pas dpt pahala dari allah. ini ga dpt apa2 juga ko. apabila ada masalah jangan begini caranya nyelesaikan masalah, mendingan kita musyawaroh kn dngn baik2 dengan mengikuti cara nabi dan para sahabat malahan dapat pahala...... daripada kyk gini kyk anak balita berebuta mainan aja. wassalam

      Hapus
  12. Bapak Tgk.

    Methode ini dakwah dan tabligh, Mengajak dan menyampaikan... hanya orang pemberanilah yang mampu mengajak orang islam untuk sholat dan mencintai masjid.

    Insyaallah umat secara umum dan bapak khususnya terbantu untuk memperbaiki umat. karena ada orang yang berdakwah maka masih ada orang sholat dimasjid, haji, zakat, tauhidnya benar; puasa dan menjadi Santri insayaallah.

    BalasHapus
  13. Alizar_usman seorang ulama' itu hrs bijak, sbg perekat ummat bkn saling menjelekkan. kalau org berda'wah penuh pengorbanan dibilang mimpi? waduh gawat ulama ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebaiknya anda baca dengan lengkap tulisan kami di atas, baru kemudian komentarnya. jgn asbun aja

      Hapus
    2. BAPAK (ALIZAR USMAN) YG HARUSNYA LEBIH MENELITI LG, JGN TERLALU MUDAH MENETAPKAN SESUATU, REFERENSI UTAMANYA FAKTA REALITA HARUS ANDA DALAMI LAGI, KALAU SY SEORANG PENGUJI BAIKNYA BAPAK MENGAMBIL SAMPEL LEBIH BANYAK LAGI, ATAU TERJU LANGSUNG MENELITI,, ATAUKAH MISALNYA JIKA BAPAK SEORANG PENELITI JAWABAN BAPAK BELUM MENCAKUPI KONDISI REAL, ATAUKAH BERTEMU LANGSUNG DENGAN OBJEK YG AKAN DI TELITI..

      Hapus
    3. hahahaha....... ini semua tipu daya setan kepada kita semua, karena setan ga mau kalo kita berstu dalam membangun agama yg kokoh. jadinya setan mencari akal untuk mengelabui dan memperpecah umat muslim dngn berbagai cara yg licik. tahukah kalian sedikit percikan api yg kecil bisa menjadi besar, hehehe itulah setan. dia memercikkan api yg kecil itu kedalam hati untuk melalap habis / mengosongkan, menghitamkan hati kita. kesalahan kita adalah kebanyakan kejelekan dan kesalahan orang lain, namun pernahkah kita melihat kebaikan orang itu. tidak......... sekali lagi saya ingatkan pada saudara2 sekalian, kita ini muslim harusnya saling berkasih sayang walaupun berbeda pendapat,,, tidakkah kita melihat imam syafi'i rah.a dan imam maliki rah.a.,, beliau2 menyampaikan pendapat2 yg berbeda2 mengenai 1 hadits.,... tapi hal itu tidak menyebabkan perselisihan diantara murid dan guru ini,. malah beliau2 ini saling memuji 1 sama lain bukan menjelekkan 1 sama lain. harusnya kita sadar, kita sudah dewasa sudah dpt berfikir dan membedakan mana yg baik & mana yg buruk,... kaliannnn tau orang2 nonmuslim mereka bersuka cita/ bergembira dngn apa yg kita lakukan ini menjelekkan 1 sama lain. kita pantasnya bukan jadi apa2, melainkan k pantasnya menjadi hamba dan ummat yg taat saja. kalian jangan mengaku ahlussunnah wal jama'ah deh... kalo ga tau maksud,arti,dan maknanya..." ahlussunnah adalah orang2 yg mengikuti sunnah nabi dan jama'ahnya adalah 1 kesatuan ummat muslim/bersatunya ummat muslim/ dan jama'ah ini mempunyai tali silaturohim/ tali persaudaraan yg kuat yg dapat menghancurkan dosa2 dan kemaksiatan yg ada dibumi ini.., sekali lagi saya harap kita jangan lagi bertengkar apalagi bertengkarnya di internet ... hmmm malu lah pada allah.., apa nnti pas kita menghadap kpda allah,.. iya kalo pas dpt pahala dari allah. ini ga dpt apa2 juga ko. apabila ada masalah jangan begini caranya nyelesaikan masalah, mendingan kita musyawaroh kn dngn baik2 dengan mengikuti cara nabi dan para sahabat malahan dapat pahala...... daripada kyk gini kyk anak balita berebuta mainan aja. wassalam

      Hapus
  14. get that Pembahasannyoe..Teurimong Geunaseh Gure.

    Jama'ah Tabliq perte awak ploh unta nabi dum.. hahaha

    BalasHapus
  15. AKHIR ZAMAN BANYAK ISLAM YANG ANEH-ANEH, SEMOGA SAUDARAKU SEMUA TIDAK GAMPANG TERTIPU DENGAN ULAH YAHUDI DAN NASRANI.

    BalasHapus
  16. sungguh sangat menyedih kan....!!!
    seorang yg ngakunya alim,tapi tdak terlihat pada akhlak dan tutur katanya, mesti nya seorang ulama itu tawadhu'kata2 nya penuh hikmah,jgn kan mendengar kata katanya,melihat wajah nya saja kita sudah mendapat hidayah,tapi yg terjadi di sini malah kebalikannya,jangan kan dapat hidayah dari kata2 nya yg penuh hikmah,melihat wajah nya saja mau muntah...????

    maaf tengku...
    coba anda fikir kan mulai sekarang dgn hati nurani anda
    apa pantas seorang yg mengaku alim ulama seperti anda mengkritik dan mengkoreksi ulama sebesar Muhammad Ilyas Rah.a, coba mari kita bandingkan dgn anda
    1.Silsilah keturunan ulama besar Muhammad Ilyas Rah.a yg dari kakek moyang nya saja sudah ulama2 besar yg bukan saja terkenal dgn ilmu agamanya tapi akhlaknya juga terjaga dari perkara2 dosa
    2.Ibunda Muhammad Ilyas adalah seorang hafidhzah yg sgt wara' akhlaknya
    3.Muhammad Ilyas dari kecil sudah terlihat kecintaan nya kpd ilmu agama sehingga umur 13 tahun dia sudah hafal Al-quran belajar dari ayah nya Muhammad ismail
    4.setelah usia 18 tahun selalu istiqomah dgn sholat2 sunat termasuk tahujud 20 rekaat di tambah witir 3 rekaat
    5.selalu istiqomah hatam Al-quran
    6.umur 25 tahun setelah lulus dari pada menuntut ilmu krn kefaqihan thdp ilmu nya sehinnga dia di boleh kan mengajar mnjadi guru di
    7.setelah terlibat dlam usaha tabligh mengorbankan seluruh waktu,harta,dan tenaga dalam menjalan kan tugas dakwah
    sehingga 1 kampung orng2 mewat yg tadinya dlm kemaksiatan menjadi cinta kpd agama islam yg sesungguhnya,yg alhamdulillah sampai sekerang tersebar ke banyak negara muslim dan kafir,
    nah tengku sekarang coba tanya dalam diri tengku sendiri,pantas kah ulama sekelas saya melontarkan kritikan dan koreksi kpd ulama sebesar Muhammad Ilyas dgn ilmu dan kepahaman yg tengku meliki tanpa mau tahu dan menerima kebaikan2 yg telah dibuat Muhammad Ilyas??
    apa yg telah tengku buat utk kemajuan agama ini?? adakah dgn usaha tengku dlam blog ini yg cuman koarr koaarr mengkritik seorang ulama besar dgn kepehaman dan ilmu yg tengku miliki mampu buat 1 kampung tengku jadi taat sama Allah?atau bisa buat 1 RT tengku,ATau 1 lingkungan tengku jadi taat sama Allah??Atau buat 1 keluarga tengku apakah paman tengku bibi tengku kakek tengku,keponakan tengku,ipar tengku bisa jadi taat sama Allah??

    tengku,....
    tujuan orang menuntut ilmu adalah agar seseorang dpt mengislah atau memperbaiki dirinya sendiri,sehingga dia tahu kekurangan dan kelemahan dirinya sendiri ,kemudian memahami kewajiban atas dirinya daan berusaha memperbaikinya sehingga dgn ilmu itu kita semakin dekat dan taat kepada ALLAH SWT
    namun apabila ilmu yg ada pd kita di gunakan utk mengkritik orang,berdebat dgn orang bodoh,mencari kelemahan dan kesalahan orang maka ilmu itu akan menjadi asbab takabur dan sombong yg akan membinasakan pemilik ilmu itu sendiri sehingga menyeretnya pada dosa besar
    jadi tengku....
    walaupun sehebat apapun tengku punya ilmu agama,.. S1 kah, S2,S3 profesor sekalipun, tapi kalau tidak ALLAH beri hidayah,dia tdak bisa amal kan agama secara sempurna,...
    kerja dakwah yg di buat Muhammad Ilyas bertujuan utk menarik hidayah dari allah swt sehingga oranag bodoh,preman ahli maksiat,dan segala macam jenis manusia bisa amalkan agama islam dgn sempurnya karn allah telah beri hidayah dan kekuatan iman kepd org itu,dan hasil nya...TERBUKTIII...!!!
    jadi apa lagi yg perlu di koreksi???
    coba lihat tengku sendiri yg mengaku org alim...
    kok lebih suka piara kumis ketimbang jenggot??
    maaf tengku
    assalammualaikum ww

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang takabbur dan sombong itu adalah orang yang tidak mau dikritik . masalah jenggot, sebaiknya ditimbang dgn ilmu, bukan dgn sok2 mendapat hidayah. makanya belajar mencari ilmu, jgn ngekor aja. biar tahu mana yg hidayah , mana yg bukan. oke ...!

      Hapus
  17. Ass.. Teungku..
    Artikel yg sangat menarik, terimakasih atas pemaparannya.
    Saya ingin menanyakan tentang dalil hukum Teungku terkait memelihara kumis dan mecukur jengggot ? Saya sdh baca di artikel Tengku tentang Jenggot, namun saya dapatkan bahwa jumhur ulama Syafii berpendapat bahwa makruh mencukur jenggot.
    Apakah menurut tengku, Makruh itu biasa-biasa aja dilakukan untuk tengku Alim seperti Anda? Saya sangat mengagumi Ilmu Anda dan saya ingin belajar kepada Anda. Tapi saya ingin sekali dpt penjelasan detail tentang 'kebiasaan melakukauh makhruh bagi org alim"
    Terimakasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi saya sedih juga pada org yg kmnt pedas pada pak kyai ,komentar nya asal jplk aja.kalw memang jt ini mncnth dawah nya rosul .... ko gini yach! rosul aja kalw di cela gak blk mencela apalagi artikelnya pak kiyai ini bukan sipatnya mencela jt.shrnya mnrt saya balas donk dgn argumen yg ada dasarnya (jngn emosi)

      Hapus
  18. Astaghfirullah.....marikah kita sama2 tafajur diri. Luruskan nuat kita dlm daqwah. Untuk islah diri bkn meng-islahkan org lain apalagi samapai merasa diri paling benar dan yg lain salah. Jangan Hujan ayat Gerimis Hadist tetapi Kemarau amal. InsyaAllah keluar 4 bulan..?!!

    BalasHapus