Minggu, 06 Maret 2011

Jama'ah Tabligh (Agama Mimpi) (Bab II) (4, habis) : oleh Tgk_Alizar_usman

Masalah 2
Dr. Abdul khaliq Firzada dalam bukunya, Maulana Muhammad Ilyas diantara pengikut dan penentangnya, menyebut segi-segi penting yang diutamakan oleh Syekh Muhammad Ilyas, point c adalah segi ibadah. Seterusnya disebutkan :
“ Sesungguhnya, akidah itu tidak bermanfaat apapun tanpa disertai ibadah”1
Berdasar pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa menurut Maulana Muhammad Ilyas bahwa dosa besar dengan sebab meninggalkan ibadah dapat mengakibatkan seseorang hilang imannya. Karena akidah yang dapat dipahami sebagai iman itu tidak bermanfaat kecuali disertai dengan ibadah. Kalau seseorang yang berakidah tanpa beribadah, imannya masih ada, tentu akidahnya tersebut bermanfaat adanya.
Analisis
Dalam memahami status hukum seseorang akibat sebuah dosa besar, kaum muslimin terpecah dalam beberapa golongan. Kaum Khawarij yang sudah dianggap keluar dari garis-garis Islam, menetapkan bahwa setiap perbuatan dosa merupakan syirik kepada Allah. Karena itu orang berbuat dosa besar dapat dianggap sebagai kafir dan kekal dalam api neraka.2 . Khawarij dalam mendefinisikan Iman, memahami bahwa amalan jawarih (amalan dzahir anggota tubuh) itu sendiri adalah merupakan iman. Sehingga kalau seseorang meninggalkan amalan dzahir, maka dia dapat digolongkan kepada kafir. Golongan Muktazilah berprinsip, bahwa amalan dzahir merupakan bagian dari iman, sehingga dosa besar itu dapat mengeluarkan seseorang dari keimanan, namun menurut Muktazilah, keluar dari keimanan tidak dapat menyebabkan seseorang menjadi kafir, tetapi statusnya diantara muslim dan kafir. Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah golongan yang diredhai Allah berprinsip bahwa seorang muslim yang berbuat dosa besar tetap dalam keimanannya dan dia tetap dapat dianggap sebagai mukmin meskipun mukmin ‘ashii, (orang beriman yang berbuat maksiat yang dijanjikan Allah kena ‘azab dalam neraka kelak kalau dia meninggal dunia tidak sempat bertaubat). Pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah ini atas dasar bahwa amalan dzahir tidak termasuk dalam bagian iman.3
Prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah ini berdasarkan
1. firman Allah SWT,
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain syirik itu, bagi siapa yang dikehendakinya. (An-Nisa’ : 48)

2. Sesungguhnya dalam hukum-hukum qishas, Allah telah menyebut bahwa sipembunuh adalah saudara bagi siterbunuh. Firman Allah SWT :
فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ
Artinya : Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah mengikuti dengan cara yang baik. (Al-Baqarah : 178)

Seandainya pembunuh yang terbuat telah berbuat dosa besar itu digolongkan kepada kafir, tentu Allah tidak menyebutnya sebagai saudara bagi orang mukmin, karena ukhuwah dan kasih sayang tidak akan terjadi melainkan bagi orang mukmin.
Pertanyaan selanjut adalah paham manakah yang diikuti oleh Muhammad Ilyas ini ? mengikuti paham Muktazilah atau termasuk Khawarijkah ? wallahu a’lam bishshawab. Yang jelas pemahaman tersebut bertentangan dengan paham Golongan Ahlussunnah wal Jama’ah.
Masalah 3
Maulana Muhammad Ilyas menanamkan faham anti politik dan kekuasaan kepada pengikutnya. Bahkan beliau mengungkapkan bahwa memegang kekuasaan yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW hendaknya tidak menjadi cita-cita umat Islam. Hal ini dapat kita pahami dari pernyataan Maulana Muhammad Ilyas :
“Jika kita dapat memegang kekuasaan dengan mengikuti ajaran Nabi SAW , memang kita tidak menolaknya, akan tetapi hal itu hendaknya tidak menjadi cita-cita kita.”4

Dr. Abdul Khaliq Pirzada menyebutkan empat hal yang tidak boleh disentuh oleh Jam’ah Tabligh, salah satunya adalah masalah politik .5
Analisis
Telah terjadi ijma’ ulama bahwa mengangkat imam (pemimpin negara) adalah wajib hukumnya.6 Ijma’ ini didasarkan kepada firman Allah SWT sebagai berikut :
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya : Allah SWT telah menjanjikan kepada orang-orang mukmin dan orang-orang yang beramal shaleh diantara kami bahwa mereka akan menjadi khalifah di muka bumi sebagaimana orang-orang dahulu telah menjadi khalifah. Dan Allah akan menetapkan agama mereka (Islam) yang diredhai-Nya bagi mereka. Dan Allah akan mengganti ketakutan mereka dengan perasaan aman. (Q.S. An-Nur : 55)

Bahkan sebagaimana riwayat yang sangat masyhur dan tidak ada yang membantahnya, bahwa para Sahabat Nabi SAW lebih mendahulukan permusyawaratan masalah khilafah (kepemimpinan) dari pada urusan jenazah Rasulullah SAW.7 Ini menunjukkan bahwa masalah kepemimpinan adalah masalah yang sangat penting dan urgen dalam agama Islam, karena tidak mungkin dapat menyempurnakan kewajiban seperti pembelaan agama, menjaga keamanan umat Islam dan sebagainya selain dengan adanya khilafah (pemerintahan) dan inilah yang menjadi doktrin Ahlussunnah wal Jama’ah, paham mayoritas masyarakat Aceh dan Indonesia pada umumnya. Upaya meraih kekuasan untuk memperoleh kedudukan imam tersebut menjadi fardhu kifayah atas umat Islam.8 Berkata Qalyubi :
“Hukum mendirikan Imamah adalah fardhu kifayah “9 .
Berdasarkan uraian di atas nyatalah bahwa pernyataan Maulana Muhammad Ilyas, pendiri Jama’ah Tabligh bahwa memegang kekuasaan negara bukan cita-cita umat Islam, adalah bertentangan Ijma’ Ulama dan keluar dari paham Ahlussunnah wal jama’ah.
Jika ditelusuri sejarah pemikiran Islam tentang politik dan kekuasaan di India, kita diingatkan oleh sejarah, bahwa di India pernah muncul seorang yang mengaku sebagai pembaharu yang mati-matian membela Pemerintah Kolonialis Inggris pada penghujung Abad 19, yaitu Sir Sayyed Ahmad Khan (1817-1898 M) yang berpendapat bahwa susunan agama Islam itu bersifat a-politik, karena itu ia menentang setiap pergerakan politik, walaupun politik berdasarkan Islam.10 . Disamping itu kita diingatkan oleh ajaran Mirza Ghulam Ahmad, Nabinya orang Ahmadiyah Qadian, yang menghilangkan ajaran jihad demi pesan sponsornya, Pemerintah kolonial Inggris. Penulis menduga mungkin pemikiran Maulana Muhammad Ilyas ini terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran Sir Sayyed Ahmad Khan dan Mirza Ghulam Ahmad yang hidup senegara dengannya, setidaknya mengenai politik dan pemerintahan dalam Islam.
Masalah 4
. Berkata Maulana Ilyas :
“Para anbiya a.s. adalah ma’shum dan mahfuzh. Mereka menerima ilmu dan hidayah langsung dari Allah. Tetapi ketika mereka bercampur gaul dengan masyarakat awam menta’limkan dan mentablighkan usaha hidayah kepada mereka, maka hati mereka yang mubarok (penuh berkah) dan munawar (penuh cahaya) terpengaruh juga oleh kotoran masyarakat awam. Akhirnya mereka akan membersihkan kotoran-kotoran tersebut dengan menyibukkan diri dalam dzikir dan ibadah”11

Jika kita perhatikan perkataan Maulana Ilyas tersebut di atas, dapat dipahami bahwa Maulana Ilyas menuduh para Nabi a.s. bahwa hati mereka tidak terpelihara dari dosa-dosa. Artinya para Nabi a.s. dapat saja melakukan dosa-dosa hati karena pengaruh kesalahan-kesalahan masyarakat awam, sehingga perlu dibersihkan dengan berzikir dan beribadah. Kita tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ma’shum menurut Maulana Ilyas, sehingga meskipun pada awalnya beliau menyebut para anbiya a.s. adalah ma’shum, tetapi kemudian menyatakan bahwa para anbiya tersebut dapat saja melakukan dosa-dosa.
Analisis
Tidak diragukan lagi, kita sebagai umat Islam yang beri’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah berkeyakinan bahwa para Anbiya a.s. adalah ma’shum dalam arti bahwa para anbiya a.s. tidak mungkin jatuh dalam perbuatan dosa. Berkata Zakaria al-Anshary as-Syafi’i seorang ulama besar beri’tiqad Ahlussunnah wal jama’ah bermazhab Syafi’i :
“Para Anbiya a.s. ma’shum (terpelihara) dari perbuatan dosa termasuk didalamnya dosa kecil yang dilakukan karena lupa. Oleh karena itu, tidak terjadi perbuatan dosa pada mereka, baik dosa besar maupun kecil, baik sengaja maupun dengan sebab lupa”.12

Berkata Muhammad bin Manshur al-Hud-hudy :
“ Perbuatan para Anbiya a.s. berkisar antara wajib, sunat dan mubah. Hukum mubah ini bila ditinjau zat perbuatannya. Adapun bila ditinjau dari ‘awarizhnya (aspek lain), maka perbuatan para Anbiya itu tidak terlepas dari wajib dan sunat, karena perbuatan mubah tidak terjadi pada para Anbiya a.s. kecuali untuk qashad qurbah (ibadah), minimal untuk qashat tasyri’ (pensyari’atan) kepada orang lain (umat)”13

Menurut perkataan dua orang ulama besar Ahlussunnah wal jama’ah tersebut di atas, perbuatan mubah saja tidak terjadi pada para Nabi a.s., lalu bagaimana dengan perbuatan dosa sebagaimana tuduhan Maulana Muhammad ilyas, nauzubillahi min zalik



Masalah 5
Ungkapan perasaan rasa syukur kepada Allah boleh dengan sikap berpura-pura. Maulana Muhammad Ilyas pernah mengirim surat kepada rekannya saat anaknya baru lahir :
“ Sungguh itu kenikmatan yang besar dari Allah dan engkau mesti menerimanya dengan suka cita. Mesti tidak boleh berlebihan, namun engkau mesti melahir perasaan suka cita meski berpura-pura sebagai tanda syukur kepada Allah”.14

Analisis
Sikap berpura-pura dalam etika Islam atau ilmu akhlak sering disebut sebagai sikap munafiq. Sikap munafiq merupakan suatu sifat yang sangat tercela dalam Islam. Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an :
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (67) وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا
Artinya : Sesungguhnya orang-orang munafiq itu hanyalah orang berbuat fasiq, Allah telah menjanjikan bagi orang-orang munafiq , baik laki-laki maupun perempuan dan orang-orang kafir itu kekal dalam neraka jahannam.(Q.S. At-Taubah : 67-68)

Masalah 6
Jama’ah Tabligh melarang jama’ahnya dalam berdakwah menghilangkan dan membersihkan kemungkaran. Sementara itu dalam kelompok Jama’ah Tabligh ada berbagai aliran sesuai dengan asal paham anggotanya termasuk didalamnya aliran-aliran yang keluar dari Ahlussunnah wal Jama’ah. Bahkan Sa’ad bin Ibrahim Syilbi, salah seorang penyebar ajaran Jama’ah Tabligh dalam bukunya Dalil-Dalil Da’wah dan Tabligh setelah mengakui ada segelintir anggota Jama’ah yang tidak ada pendalaman cukup terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah yang membenci dan memusuhi kaum salaf dan dua tokohnya, Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab, berkata :
"Ini demi Allah batil (tidak benar), kezhaliman dan kebohongan besar yang tidak halal dilakukan oleh seorang muslim’, selanjutnya Sa’ad bin Ibrahim Syilbi mengatakan ‘Kami hanya ingin mengatakan bahwa Jama’ah Tabligh tidak termasuk dalam kelompok orang yang membenci kaum salaf".15

.Padahal sebagaimana kita maklumi bahwa kedua tokoh salaf, Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab sudah difatwa oleh ulama-ulama Ahlusunnnah wal Jama’ah sebagai orang yang sudah keluar dari golongan yang benar dan sudah menyimpang dari jalan yang lurus
Berkata Dr. Abdul Khaliq Firzada :
“ Beliau (Muhammad Ilyas, pen.) mengajak setiap orang tanpa membedakan tingkat keilmuan, kelas sosial, maupun mazhab, baik orang alim maupun bodoh, kaya, miskin, pengikut Maliki, Syafi’i, Hambali atau Hanafi, bahkan Mazhab Salafi atau mazhab-mazhab kecil lainnya dikalangan umat Islam. 16

Dalam hal larangan Jama’ah Tabligh menghilangkan kemungkaran dapat disimak dari pengakuan Sa’ad bin Ibrahim Syilbi dalam bukunya,
“Bahwa tidak termasuk dalam metode Jama’ah Tabligh pengingkaran terhadap pemilik atau pelaku kemungkaran.17

Berdasarkan sumber-sumber di atas, dapat dipahami bahwa Jama’ah Tabligh tidak membolehkan anggotanya menghilangkan kemungkaran termasuk didalamnya bid’ah dan bahkan Jama,ah Tabligh melarang anggotanya memusuhi tokoh seperti Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab.
Termasuk kemungkaran yang tidak boleh dihilangkan dalam Jama’ah Tabligh sebagaimama disebut oleh Hamud bin Abdullah bin Hamud al-Tawijiry adalah pernah satu jama’ah dari Jama’ah Tabligh dari negeri Hindia berzikir disuatu tempat di kota Makkah dengan mengulang-ulang kalimat La ilaha sekitar enam ratus kali, kemudian baru mengucapkan kalimat illallah sekitar dua ratus kali. Zikir model ini dilakukan dalam waktu yang lama dan dihadiri oleh masyaikh mereka. Kita tidak tahu ajaran berzikir dari mana ini, dengan menafikan Tuhan sebanyak enam ratus kali kemudian mengisbatkan-Nya dua ratus kali.18
Analisis
Dalam menjawab masalah di atas, mari kita simak dalil-dalil yang mengharuskan untuk menghilangkan kemungkaran dibumi ini, antara lain :
1. Firman Allah Q.S. al-Taubah : 71
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(Q.S. al-Taubah : 71)

2. Firman Allah Q.S. al-Hajj : 41
الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
Artinya : (yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.(Q.S. al-Hajj : 41)

3. Hadits Nabi SAW :
من رأى منكم منكرا فليغيره بيده. فإن لم يستطع فبلسانه. ومن لم يستطع فبقلبه. وذلك أضعف الإيمان
Artinya : Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman(HR. Muslim)19

Berdasarkan dalil di atas, dapat dipahami dengan mudah dan gamblang bahwa kedudukan upaya menghilangkan kemungkaran mendapat kedudukan yang sangat penting dalam agama. Artinya menghilangkan kemungkaran mempunyai kedudukan yang sama dengan amar ma’ruf. Jadi kita tidak dapat menyepelekan salah satunya, apalagi menganggap menghilangkan kemungkaran bukanlah sebuah kewajiban. Dalam sejarah anak manusia, sebenarnya jama’ah yang meninggalkan menghilangkan kemungkaran banyak bermunculan. Diantaranya, Allah SWT telah mencela pendeta agama Nashrani yang meninggalkan upaya menghilangkan kemungkaran dalam firman-Nya :
لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ
Artinya : Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.(Q.S. al-Maidah : 63)

Imam al-Ghazali mengatakan bahwa pendeta-pendeta itu berdosa karena meninggalkan menghilangkan kemungkaran.20 Masih banyak dalil-dalil lain, baik dari al-Qur’an maupun dari hadits Rasulullah SAW yang menerangkan kewajiban menghilangkan kemungkaran, namun penulis tidak menyebut semuanya karena menurut hemat penulis dalil-dalil di atas sudah memadai sebagai pedoman, kalau memang kita termasuk dalam orang-orang mencari kebenaran agama. Al-Bakry al-Damyathi berkata :
"Banyak sekali dan tidak terhingga ayat-ayat dan hadits mengenai amar ma’ruf dan menghilangkan kemungkaran".21

Berikut pendapat ulama mengenai kewajiban menghilangkan kemungkaran, antara lain :
1. Imam al-Ghazali berkata :
"Sesungguhnya amar ma’ruf dan melarang kemungkaran adalah al-quthub al-a’dham (pusat yang terpenting) dalam agama".22

2. Zainuddin al-Malibary mengatakan :
"Memerintah hal-hal yang wajib pada syara’ dan melarang dari yang haram adalah wajib kifayah atas setiap mukallaf , baik dia merdeka ataupun hamba sahaya, laki-laki, perempuan ataupun khuntsa " .23

Lalu siapa kaum salaf dan kedua tokohnya, Ibnu Taimiyah dan Muhammad Bin Abdul Wahab itu? Penjelasan ini menjadi penting karena Jama’ah Tabligh, sebagaimana penjelasan di atas, begitu marah kalau ada pengikutnya yang membenci kedua tokoh tersebut. Untuk menjawab ini, penulis cukupi saja pernyataan dua ulama terpengaruh dikalangan Ahlussunnah wal Jama’ah, yaitu :
1. Mufti Syafi’i Syekh Zaini Dahlan berkata :
“Walhasil yang tahqiq menurut kami, bahwa sebagian perkataan dan perbuatannya (Muhammad bin Abdul Wahab) mewajibkan keluarnya dari qawa’id Islam,karena penghalalannya terhadap harta yang ijmak atas tahrimnya, yang maklum dari agama dengan dharurah dengan tanpa ta’wil yang dibolehkan, serta penempatannya derajat para anbiya, rasul, auliya dan orang-orang shaleh pada derajat yang kurang. Padahal penempatan mereka tersebut pada derajat yang kurang dengan sengaja adalah kufur dengan ijmak imam yang empat”.24

2. Syekh Yusuf bin Isma’il an-Nabhani berkata :
“ Kita mengatakan sesungguhnya mereka ( Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab dan pengikutnya) adalah sesat dan ahli bid’ah” 25

= Selesai =






DAFTAR PUSTAKA
1 Dr. Abdul khaliq Firzada, Maulana Muhammad Ilyas diantara pengikut dan penentangnya, (terjemahan oleh Masrokhan Ahmad) Ash-Shaff, Yoqyakarta, Hal. 116
2.Al-Baidhawy, Tafsir Anwarul Tanzil wa Asrarul Ta’wil, Muassasah Sya’ban, Beirut, Juz II, Hal 92
3.Al-Baidhawy, Tafsir Anwarul Tanzil wa Asrarul Ta’wil, Muassasah Sya’ban, Beirut, Juz I, Hal. 54, dan Ibrahim Bajury, Tahqiqul Maqam ‘ala Kifayatul ‘Awam fii ‘Ilmil Kalam, Maktabah Ahmad bin Sa’ad bin Nabhan wa Auladuhu, Surabaya, Hal 77
4.Abul Hasan Ali Nadwy, Riwayat Hidup dan Usaha Dakwah Maulana Muhammad Ilyas, (terjemahan oleh Masrokhan Ahmad) Ash-Shaff, Yogyakarta, Hal 106
5.Dr. Abdul khaliq Firzada, Maulana Muhammad Ilyas diantara pengikut dan penentangnya, (terjemahan oleh Masrokhan Ahmad) Ash-Shaff, Yoqyakarta Hal.31, lihat juga Sa,ad bin Ibrahim Syibli, Dalil-Dalil Dakwah dan Tabligh , (terjemahan oleh Drs Musthafa Sayani) Pustaka Ramadhan, Bandung, Hal. 9
6.Al-Mawardy, Ahkamul Sulthaniyah, Darul Fikri, Beirut, Hal. 5. Dapat dilihat juga dalam al-Khuzhary Bek, Itmam al-Wafa’, Bangkul Indah, Surabaya, Hal. 6
7.Ibnu Hajar al-Haitamy, Shawa-i’ al-Muhriqah fi Radd Ahli al-Bid’i wal-Zindiqah, Hal. 6. lihat jiga H. Sulaiman Rasyid, Fiqh Islam, Sinar Baru, Bandung, Hal. 455
8.Al-Mawardy, Ahkamul Sulthaniyah, Darul Fikri, Beirut, Hal.5.
9.Qalyubi, Hasyiah Qalyubi wa ‘Umairah, Darul Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Juz IV, Hal. 173
10.Sirajuddin Abbas, 40 Masalah Agama, Pustaka Tarbiyah, Jakarta, Juzu’ II, Hal 232
11.Maulana Manzhur Nu’mani, Mutiara Hikmah Ulama Ahli dakwah, (terjemahan oleh A. Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny) Pustaka Nabawi, Hal. 48-49
12.Zakariya al-Anshary, Ghayatul Wusul, Usaha Keluarga, Semarang, Hal. 91
13.Muhammad bin Manshur al-Hud-hudy, Syarah Hud-hudy, dicetak pada Hamisy Hasyiah al-Syarqawy, Syirkah al-Ma’rif, Bandung, Hal. 116
14.Abul Hasan Ali Nadwy, Riwayat Hidup dan Usaha Dakwah Maulana Muhammad Ilyas, (terjemahan oleh Masrokhan Ahmad) Ash-Shaff, Yogyakarta, Hal 170
15.Sa’ad bin Ibrahim Syilbi, Dalil-Dalil Da’wah dan Tabligh, (terjemahan oleh Ust. Musthafa Sayani), Pustaka Ramadhan, Bandung, Hal 153-154
16.Dr. Abdul Khaliq Firzada, Maulana Muhammad Ilyas diantara pengikut dan penentangnya, (Terjemahan oleh Ust. Masrokhan Ahmad), Ash-Shaff, Yoqyakarta, Hal 118
17.Sa’ad bin Ibrahim Syilbi, Dalil-Dalil Da’wah dan Tabligh, (terjemahan oleh Ust. Musthafa Sayani), Pustaka Ramadhan, Bandung, Hal. 155
18.Hamud bin Abdullah bin Hamud al-Tawijiry, Qaul al-Baligh fi al-Tahziri min Jama’ah al-Tabligh, Dar al-Shami’i, Saudi Arabiya, Hal. 9
19.Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. I, Hal. 69, No. Hadits : 49
20.Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Thaha Putra, Semarang, Juz. II, Hal. 303
21.Al-Bakry al-Damyathi, I’anah al-Thalibin, Thaha Putra, Semarang, Juz. IV, Hal. 182
22.Al-Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin, Thaha Putra, Semarang, Juz. II, Hal. 302
23.Zainuddin al-Malibary, Irsyadul Ibad, Syirkah al-Ma’arif, Bandung, Hal. 72
24.Syekh Zaini Dahlan, Durarussaniah fi Raddi ‘ala al-Wahabiyah, Hal. 53
25.Yusuf bin Isma’il an-Nabhani, Syawahidul Haq, Darul Fikri, Beirut, Hal. 51

48 komentar:

  1. kelompok pengikut ibnu taimiyah & wahabiyah menuduh kelompok lainnya sebagai ahli bid'ah dan sesat... sementara kelompok lainnya juga tidak mau kalah.. mereka menuduh pengikut ibnu taimiyah & wahabiyah sebagai ahli bid'ah & sesat.. Allahu akbar.. jadi yang mana yang bener ya ustadz..? Inilah kelemahan umat islam akhir jaman.. hobbinya mencari kesalahan2 saudaranya..

    BalasHapus
  2. Kemunduran umat Islam bukanlah karena membicarakan masalah perbedaan pendapat, tetapi lebih karena mengikuti hawa nafsu dan syahwat dalam berprilaku dan bersikap. Tokoh Islam sekaliber Ahmad bin Hanbal dan al-asy'ari juga melakukan serangan2 terhadap aliran2 sesat seperti mu'tazilah, tetapi tdk ada orang yg menuduh keduanya telah melemahkan umat Islam. jadi jgn takut mengatakan yg bener kalau itu memang benar dan mengatakan salah suatu yg salah. karena nabi SAW memang datang utk mengatakan bener yg benar dan mengatakan salah suatu yg salah, meskipun terasa pahit. beliau tetap mengatakan yg benar meskipun sudah diajak kompromi oleh kafir quraisy dan meskipun diusir dari kampung halamannya.
    Umat Islam zaman dahulu sering membicarakan perbedaan pendapat, namun toh mereka disebut dalam sejarah sebagai umat yang gemilang di zamannya.

    BalasHapus
  3. YTH Bpk Anonim, Kalau ingin tahu mana yg benar dan mana yg salah, silahkan anda baca dan pahami uraian di atas dengan teliti, bukan hanya membaca judulnya saja..

    BalasHapus
  4. Tulisan semacam tidak dimaksudkan utk menuduh atau mencari-cari kesalahan, krn yg tersebut di atas sudah menjadi rahsia umum... jadi tulisan semacam ini lebih ditujukan sebgai upaya untuk memberantas 'syubhat' (permasalahan yg membingungkan ummat).. karena kalau di diamkan, maka permasalahan akan terus membesar seperti gulingan bola salju...

    saya bukan berusaha membela penulis, melainkan untuk mengkritisi permasalahan secara objektif

    BalasHapus
  5. erihal mimpi ini dibahas dengan baik dalam Syariat Islam. Kami mengajak kaum muslim untuk memperhatikan beberapa hadits di bawah ini bersama. Agar jangan sampai kita terjebak dalam penyampaian berbagai pandangan atau pernyataan yang dapat mengelirukan kaum muslimin sendiri, dikarenakan ketidaktahuan kita sendiri atau dikarenakan kesombongan kita sendiri.

    Anas RA menceritakan bahwa Rasulullah SAW berkata “Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah berakhir, maka tiada lagi rasul dan tiada lagi nabi sesudahku”. Selanjutnya Anas RA melanjutkan kisahnya “Maka hal itu dirasakan berat oleh orang-orang, lalu Nabi SAW bersabda “Tetapi hanya ada hal-hal yang membawa berita gembira”. Mereka (para Shahabat) bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah hal-hal yang membawa berita gembira itu?”. Rasulullah SAW bersabda: “Mimpi baik yang dilihat oleh seorang muslim, hal ini merupakan satu bagian dari bagian-bagian Kenabian” (HR Tirmidzi dan Bukhari)

    Maulana Ilyas menyampaikan kembali mimpi beliau itu, maka sebenarnya beliau sudah mengikuti dari sunnah yang dijelaskan di atas. Mimpi beliau itu merupakan sesuatu yang beliau senangi, karena proses kerja da’wah yang telah dilakukannya telah mendapatkan sebuah proses kegembiraan yang dapat mendorong untuk lebih giat dan sungguh-sungguh. Dan itulah yang dicatat seorang Ulama, Maulana Manzoor Numani.
    Abu Hurairah RA menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:” Barangsiapa yang melihatku dalam tidurnya, sesungguhnya ia telah melihatku, karena sesungguhnya seta tidak dapat menyerupai diriku” (HR Syaikhain dan Tirmidzi)

    Abu Hurairah RA menceritakan bahwa Nabi SAM bersabda: “Apabila zaman berdekatan, maka mimpi orang muslim hampir-hampir tiada yang dusta, dan mimpi yang paling benar dari kalian adalah yang dialami oleh orang yang paling benar dalam pembicaraannya di antara kalian. Mimpi yang dialami oleh seorang muslim merupakan satu bagian dari empat puluh lima bagian kenabian.” (HR Muslim)

    Apakah mimpi Maulana Ilyas itu benar atau tidak? Pertama kali silahkan pelajari silsilah keluarga besar ini. Itulah yang pernah diajarkan oleh Nabi kita sendiri untuk mengetahui silsilah dari yang mengajarkan agama kepada kita sendiri. Dan selanjutnya perhatikan saja kerja-kerja da’wah yang dilakukan oleh beliau, dan juga murid-muridnya sampaikan sekarang ini. Apakah lebih memberikan manfaat atau kerugian bagi kaum muslimin sendiri. Sehingga kita dapat mengambil kesimpulan terhadap arti sebuah mimpi.

    7. Sebuah kesalahan besar dan cukup fatal bahwa usaha da’wah ini dianggap membuat Syariat baru, dikarenakan melaksanakan kerja da’wahnya melalui pendekatan khuruj dan nushrah yang lebih bersifat fisikal dengan harta dan jiwa mereka sendiri. Atau dikarenakan dibuatkan pola pengelolaan, seperti 3 hari, 2 kali jaulah, 40 hari dsb. Hal itu sepertinya dianggap sebagai Syariat baru dalam Ummat Islam. Pandangan seperti ini merupakan pandangan kerdil dan membingungkan. Karena sepertinya kaum muslimin ini tidak perlu mengelola hidupnya dengan baik dan sistematik. Oleh karena itu, kami perlu tegaskan bahwa pengelolaan itu bukan merupakan Syariat dalam Islam, dan merupakan hal yang wajar dalam hidup ini. Dan kami anjurkan untuk membaca Kitab 3 Jilid “Hayatush Shahabah” untuk lebih mempunyai wacana yang tidak kerdil dan membingungkan.
    Bagi kaum muslimin yang telah ikut serta dalam usaha da’wah ini, jangan terlalu berkecil hati dengan banyaknya pandangan dan pernyataan yang membingungkan, meskipun hal itu keluar dari tulisan-tulisan dan juga ucapan-ucapan sebagian Ulama dan juga murid-muridnya. Tetapi juga jangan berbangga hati karena telah ikut serta dalam kerja da’wah ini, dan juga jangan menghilangkan rasa hormat kita kepada para Ulama yang bersangkutan dan juga murid-muridnya. Perjalanan kerja Da’wah kita masih panjang, karena kesuksesan kita adalah sejauh mana kita mengikuti perintah Allah swt dan juga sunnah Rasulullah SAW.

    Terimakasih atas perhatiannya.

    Wassalamu ‘alaikum

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang menjadi masalah ketika mimpi dijadikan hujjah dalam agama seperti dalam menafsir al-Qur'an.

      Hapus
    2. Maulana Ilyas tidak menjadikan mimpinya sebagai hujjah dalam agama termasuk dalam menafsirkan Al-Quran (al imron 110). Begitu juga JT tidak pernah menjadikan mimpi Maulana Illyas sbg hujjah dan dalil atas program2 dakwah yang mereka lakukan. Menurut sy sah2 saja klo Maulana Ilyas mimpi tentang tafsir al-imron 110 kemudian beliau menyampaikan mimpinya krn menurut beliau ini merupakan mimpi yang baik sebagai kabar gembira. Semestinya kita lebih melihat amalan2 dan program dakwah yang dilakukan oleh orang2 JT apakah sesuai dgn syariat atau menyimpang

      Sungguh merupakan pemikiran yang sempit bila ada seorang prof ahli fisika menemukan suatu formula khusus pada saat beliau salah menempatkan kancing bajunya kemudian kita hanya fokus pada kancing bajunya dan menyimpulkan formula ini didapat dari kancing baju yang salah dalam penempatannya tp bukan berdasarkan teori2 fisika yang ada.

      Hapus
  6. Maulana Ilyas tidak menjadikan mimpinya sebagai hujjah dalam agama terutama dalam menafsirkan al-Quran. Pernyataan beliau hanya bertuk kegembiraan ketika mendapat mimpi yang baik (berdasarkan keterangan hadits di atas) Begitu juga JT tidak pernah menjadikan mimpi Maulana Ilyas sebagai hujjah dalam program amalan dakwah mereka. Mengapa kita hanya fokus kepada mimpi Maulana Ilyas tanpa meneliti apakan amal2 yang dilakukan JT ada yang menyimpang atau tidak

    BalasHapus
  7. sepertinya sdr tidak membaca habis tulisan ini. coba baca bagian 2 tulisan ini atau langsung ke : http://kitab-kuneng.blogspot.com/2011/03/jamaah-tabligh-agama-mimpi-bab-ii-2.html.
    wasssalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya sdr memahami isi kandungan kitab Malfudhat menurut pemikiran sendiri. Kitab Malfudhat merupakan kumpulan kisah dan kata2 hikmah Maulana Ilyas yang kedudukannya lebih rendah dari hadits dan tidak bisa dijadikan hujjah. Memang Maulana Ilyas menemukan jalan bertabligh melalui mimpi dan dalam mimpinya beliau juga medapatkan tafsir dari QS al-imron 110. Tetapi setiap program dakwah JT dan setiap amalan2 dakwah JT memiliki hujjah yang kuat baik dari Al-quran maupun hadits bukan dari mimpi. Sy keberatan klo JT dikatakan agama mimpi soalnya setiap amal2 dakwah JT berdasarkan Al-quran & Hadits.

      Hapus
    2. 1. sdr katakan : "Memang Maulana Ilyas menemukan jalan bertabligh melalui mimpi dan dalam mimpinya beliau juga medapatkan tafsir dari QS al-imron 110. " berarti saya dan sdr sepakat dalam memahami Kitab Malfudhat, jadi apa maksudnya perkataan : "Sepertinya sdr memahami isi kandungan kitab Malfudhat menurut pemikiran sendiri" pertanyaan selanjutnya, memangnya boleh menanfsirkan al-Qur'an berdasarkan mimpi ?

      2. JT didirikan /dicetus oertama kali oleh Maulana Ilyas, dan beliau ini merupakan tokoh sentral daan dijadikan pemikirannya sebagai rujukan dalam usaha dakwah JT, karena itu dalam menilai gerakan JT, maka tidak terlepas dari pemikiran2 nya.

      2. masalah2 yang tidak sesuai dengan al-Qur'an dan hadits dalam dakwah JT dapat sdr baca kembali dalam tulisan kami di atas.
      wassalam

      Hapus
  8. ,assalamualaikum teungku alizar usman. saya mohon izin untuk ber do,a di blog ini buat JT. Ya Allah jika Jamaah Tablig adalah sesat dan menyesatkan maka hancurkanlah ia sehancur hancurnya,dan hinakanlah ia sehina hinanya, tapi jika jamaah tablig itu haq dan engkau rhidoi masukkanlah ia kedalam hati sanubari yang paling dalam saudaraku Tgk Alizar Usman..agar kami bisa bersama Tgk mendakwahkan agama ini ke seluruh alam. amin ya rabbal alamin, jazakallah

    BalasHapus
  9. Masalah 4
    . Berkata Maulana Ilyas :
    “Para anbiya a.s. adalah ma’shum dan mahfuzh. Mereka menerima ilmu dan hidayah langsung dari Allah. Tetapi ketika mereka bercampur gaul dengan masyarakat awam menta’limkan dan mentablighkan usaha hidayah kepada mereka, maka hati mereka yang mubarok (penuh berkah) dan munawar (penuh cahaya) terpengaruh juga oleh kotoran masyarakat awam. Akhirnya mereka akan membersihkan kotoran-kotoran tersebut dengan menyibukkan diri dalam dzikir dan ibadah”11

    Jika kita perhatikan perkataan Maulana Ilyas tersebut di atas, dapat dipahami bahwa Maulana Ilyas menuduh para Nabi a.s. bahwa hati mereka tidak terpelihara dari dosa-dosa. Artinya para Nabi a.s. dapat saja melakukan dosa-dosa hati karena pengaruh kesalahan-kesalahan masyarakat awam, sehingga perlu dibersihkan dengan berzikir dan beribadah. Kita tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ma’shum menurut Maulana Ilyas, sehingga meskipun pada awalnya beliau menyebut para anbiya a.s. adalah ma’shum, tetapi kemudian menyatakan bahwa para anbiya tersebut dapat saja melakukan dosa-dosa.Masalah 4
    . Berkata Maulana Ilyas :
    “Para anbiya a.s. adalah ma’shum dan mahfuzh. Mereka menerima ilmu dan hidayah langsung dari Allah. Tetapi ketika mereka bercampur gaul dengan masyarakat awam menta’limkan dan mentablighkan usaha hidayah kepada mereka, maka hati mereka yang mubarok (penuh berkah) dan munawar (penuh cahaya) terpengaruh juga oleh kotoran masyarakat awam. Akhirnya mereka akan membersihkan kotoran-kotoran tersebut dengan menyibukkan diri dalam dzikir dan ibadah”11

    Jika kita perhatikan perkataan Maulana Ilyas tersebut di atas, dapat dipahami bahwa Maulana Ilyas menuduh para Nabi a.s. bahwa hati mereka tidak terpelihara dari dosa-dosa. Artinya para Nabi a.s. dapat saja melakukan dosa-dosa hati karena pengaruh kesalahan-kesalahan masyarakat awam, sehingga perlu dibersihkan dengan berzikir dan beribadah. Kita tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ma’shum menurut Maulana Ilyas, sehingga meskipun pada awalnya beliau menyebut para anbiya a.s. adalah ma’shum, tetapi kemudian menyatakan bahwa para anbiya tersebut dapat saja melakukan dosa-dosa. Assalamu alaikum Tgk. sebelomnya saya mohon ampun kepada Allah dan Rasulnya apabila pengutaraan saya ini salah, saya pernah membaca kisah nabiyullah Yunus As, Singkat kisahnya nabiyullah Yunus As dilemparkan ketengah laut dan ditelan ikan Nun,sebelumnya nabi Yunus As diperintah oleh Allah SWT untuk berdakwah kepada umatnya,tapi umat nabi Yunus As tidak mengindahkannya malah semakin menjadi jadi maksiatnya kepada Allah dan Rasulya...... nabi Yunus As tidak Tahan dan kurang sabar dan putus asa menghadapi umatnya, selanjutnya beliau As pergi hijrah meniggalkan umatnya tanpa menuggu perintah dari Allah SWT.Padahal beliau seorang Utusan Allah yang tidak patut mengambil tindakan tanpa perintah yang mengutus. apakah beliau melakukan dosa ? wallahua'lam. tetapi Nabi Yunus As ketika berada dalam perut ikan Nun Allah SWT mengajarkan kepada beliau As doa Istighfar yaitu "Laa ilaa hailla anta subhanaka inni kuntu minadzaalimiin". disini saya melihat kata "terpengaruh" Tengku artikan terlibat dan melakukan.padahal kita tahu tengku hanya membaca terjemahan bahasa indonesia dan tidak menngerti teks asli bahasa urdu.jadi bisa saja penterjemah kesulitan menggantikan kata "terpengaruh" yg tengku permasalahkan.wassalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. nabi yunus adalah seorang Nabi yang makshum, karena itu kalau ada perkataan beliau yang mewahamkan makna yang tidak layak bagi beliau, maka harus ditakwil sesuai dengan kelayakan beliau sebagai Nabi yg makshum, karena tidak mungkin beliau mengucapkan suatu perkataan yang salah. ini tentu berbeda dengan dengan maulana Muhammad Ilyas, yang mungkin melakukan kesalahan atau dosa, maka dalam menilainya tentu kita harus berpegang dgn dhahirnya kecuali ada dalil yang memaling dari makna dhahir. jadi, secara dhahir kita dapat menetapkan suatu kesalahan kepada maulana Ilyas selama ada teks yang menunjukkan secara dhahir atasnya, karena muhammad Ilyas seorang manusia biasa yang mungkin salah atau benar.

      2. adapun anggapan boleh jadi salah penerjemahannya, : kita jawab : itu bisa saja salah penerjemahannya, namun selama sdr tidak dapat membuktikan ada kesalahan dalam menerjemahnya, maka tentu kita harus berpegang terjemahan yang telah dilakukan orang lain, karena qaidah mengatakan : al-mutsbit muqaddam 'ala al-munfi (yang mengatakan ada didahulukan dari pada orang yg mengatakan tidak ada). kita tentu tidak bisa berargumentasi dengan kata2 "boleh jadi, bisa jadi " atau bisa saja-bisa saja"

      wassalam

      Hapus
  10. Penulis menduga mungkin pemikiran Maulana Muhammad Ilyas ini terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran Sir Sayyed Ahmad Khan dan Mirza Ghulam Ahmad yang hidup senegara dengannya, setidaknya mengenai politik dan pemerintahan dalam Islam.


    Assalamualaikum WW Tengku . Baru saja tengku mengatakan kita tidak bisa berargumentasi dengan kata kata " boleh jadi, bisa jadi ,atau bisa saja-bisa saja.lalu apa bedanya dengan kata menduga ,menduga-duga, kemungkinan,kemungkinan-kemungkinan dll yang serupa dengan itu.apakah kata kata itu hanya boleh dipakai untuk tengku seorang ??? oke kembali kepada masalah kenapa tengku mengubah kata "terpengaruh" menjadi menjadi kata "melakukan" apakah sama kedua kata tersebut ? maulana Ilyas seorang manusia biasa yg bisa salah dan benar tentu berlaku juga bagi tengku dan manusia biasa lainnya. yang ingin saya tanyakan kepada tengku mengapa Allah SWT mengirim ikan NUN dan menelan Yunus AS serta mengajarkan Doa istighfar kepada Nabiyullah Yunus AS. ???

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. perkataan kami yang sdr kutip tersebut bukan dalam kerangka berargumentasi, karena itu kami tidak meyalahkan muhammad ilyas karena dugaan tersebut. karena itu kami tidak ngotot kalau dugaan kami tersebut dinyatakan orang lain salah

      2. istighfar merupakan ibadah yang diperintah Allah. karena itu meskipun seseorang seperti nabi yg makshum, maka tidak ternafi dianjur seseorang nabi utk istighfar. jadi istighfar itu tidak selamanya menunjukkan seseorang itu berdosa. karena itu, ijmak ulama dan menjadi akidah ahlussunnah bahwa nabi adalah makshum (tidak berdosa), meskipun nabi juga sering mengucapkan istighfar. kecuali kalau sdr beri'tiqad bahwa istighfar nabi karena dosa yang dilakukannya sebagaimana pernyataan muhammad Ilyas di atas

      wassalam

      Hapus
    2. “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, “Bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”–Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiyaa’: 87-88)

      assalamualaikum ww.
      dari terjemahan ayat di atas jelas jelas Allah SWT. menyatakan nabi Yunus As membuat kesalahan dan Allah SWT mengampuninya.
      kemudian Tengku pasti juga sudah mengtahui kisah nabi Musa As bersama nabi Khaidir As [QS.Al kahfi ayat 60-82]dimana diceritakan Nabi Musa As berbuat kesalahan 3 kali selama bersama nabi Khaidir AS. yang ingin saya tanyakan apakah dengan mengimani ayat ini saya telah keluar dari i'ttikad ahlussunah waljamaah ?
      dan bagaimana hukumnya kalau saya mengimani hadist di bawah ini
      "Rasulullah SAW bersabda,,setiap anak adam pasti pernah berbuat dosa dan sebaik baik orng yang berbuat dosa adalah orng yang bertaubat [HR.Tirmidzi dan ibnu Majah dari anas] .
      saya mau tanya apakh pengethuan tengku tentang makshsum hanya sebatas yang tengku tulis saja.? atau ada yang tengku sembunyikan ? mohon maaf kalau ada kata yang tidak berkenan .
      wassalam.

      Hapus
    3. Jawab :
      1.Dalam Hasyiah al-bajuri ‘ala Jauharah al-tauhid, Hal. 200-201, Cet. Darussalam, Kairo, disebutkan : Salah satu sifat yang wajib pada rasul yang wajib kita imani adalah amanah. Makna amanah di sini adalah terpelihara zhahir dan batin mereka dari tindakan yang terlarang, meskipun larangan itu dalam bentuk karahah atau khilaf aula. Dalil mereka wajib amanah adalah seandainya mereka berkhianat dengan melakukan perbuatan haram, makruh dan khilaf aula, maka sungguh kita diperintah melakukan hal2 tersebut, karena Allah memerintah kita mengikuti mereka dalam perkataan, perbuatan dan keadaan mereka tanpa ada rincian (secara mutlaq), padahal Allah tidak memerintah dengan yg haram, makruh dan khilaf aula.

      Berdasarkan ini, maka kami beri’tiqad bahwa seorang Nabi seperti Nabi Muhammad SAW, Nabi Yunus dan Musa adalah makshum dalam arti tidak pernah dan tidak mungkin berbuat dosa.
      Adapun kisah Yunus di atas, secara terang dapat kita pahami itu bukanlah perbuatan dosa, karena tindakan beliau tersebut masih dalam ranah ijtihad. Ijtihad bisa salah dan bisa benar, kalau benar dapat pahala dua dan kalau salah dapat pahala satu, namun tetap tidak berdosa. Beliau ketika itu berijtihad bahwa sudah selayaknya untuk pergi meninggalkan manusia yg ingkar kepada Allah, ternyata ijtihad beliau adalah salah, sehingga Allah menegurnya. Namun yunus tidak dibebani dosa dengan sebab kesalahan ijtihadnya itu. Ini dapat kita pahami dari dugaan/sangkaan yunus “ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya)”. Ingat, Nabi Yunus tidak mungkin melakukan suatu perbuatan yang dia yakini dilarang Allah.

      2.Adapun pengakuan yunus “sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” Ini termasuk dalam katagori “min babi hasanah al-abrar saiyiaat al-muqarrabin” (kebaikan orang yang baik termasuk dalam katagori kejahatan orang 2 yang qarib dengan Allah). Artinya Yunus merasa berdosa , meskipun beliau tidak berdosa pada sisi Allah. Merasa berdosa Yunus ini karena beliau termasuk orang2 muqaribiin dengan Allah) (lihat Hasyiah al-bajuri ‘ala Jauharah al-tauhid, Hal. 201)

      3.Adapun hadits riwayat turmidzi yg saudara sebutkan itu adalah ‘am makhshus, berdasarkan dalil2 yang telah kami kemukakan di atas. Jadi hanya berlaku untuk manusia selain Rasul Allah.

      4.Jawaban ini juga berlaku pada kasus kisah Musa a.s. dan Adam dan lainnya daripada rasul2 Allah.

      5.Mudah2an anda selanjutnya tidak memahami ayat Allah hanya sebatas membaca terjemahannya saja.
      wassalam







      Hapus
    4. assalamualaikum WW

      pertama saya ucapkan banyak terima kasih kepada tengku yng telah menampilkan pendapat ulama wara Dalam Hasyiah al-bajuri ‘ala Jauharah al-tauhid, Hal. 200-201, Cet. Darussalam, Kairo,saya kagumi dan hormati karya beliau dan saya tidak menyelisihi pendapat beliau. tapi ketika tengku mengomentari pendapat beliau yg wara' terjadi lagi kontradiksi pemahaman makhsum. apalagi tentang hadist yang saya sodorkan tambah kacau lagi kontradiksinya pemahaman tengku tentang mahsum.
      sebenar saya ingin cepat cepat pindah mengomentari masalah masalah lain yng tengku tuduhkan pada jt dn pendirinya. tapi ada baiknya kita fokuskan saja pada satu masalah dulu' sampai tuntas.

      menurut ijma' ulama tentang ma'sum nya seluruh paranabi yang telah saya pelajari.
      beliau mengatakan bahwa ma'sum mengandung pengertian terpelihara dari segala bentuk kesalahan maupun dosa. tapi bukan berarti para nabi tidak pernah melakukan kesalahan. para nabi pernah melakukan kesalahan,dan nabi dapat teguran langsung dari Allah melalui malaikatnya,kemudian nabi mohon ampun pada Allah dan Allah menghukumi selama masa yg ditentukan. kemudian Allah wahyukan ampunannya atas segala kesalahan nabi.dan Allah kembalikan lagi kesuciannya dari kesalahan dan dosa.

      pernyataan ini hampir tidak ada kontradiksi dengan ayat Alquran yang menceritakan kisah nabi nabi yang berbuat kesalahan.
      contoh; QS. Al Anbiyaa’: 87-88
      ciri2 ayat yang mengisahkan kisah nabi yng melakukan kesalahn ini selalu diiringi teguran ,doa/istighfar,hukuman dan pengampunan dari Allah SWT. sehingga hilang dan musnah seluruh kesalahan dan dosa dosa nabi tersebut dan nabi menjadi suci kembali karena nabi mengemban tugas suci dari Allah.

      dan pernyataaan inni tidak tidak menyelisihi hadis hadiis baginda nabi SAW.
      Jadi bedakan kalimat " terpelihara dari kesalahan" dngan kalimat "tidak pernah melakukan kesalahan"

      saya memaklumi pernyataan2 tengku yang tidak rela orang lain mengotori sifat sifat para nabi yang suci dan mulia dengan sifat sifat manusia biasa. saya pun beggitu juga. tapi saaya tetep yakin seyakinya para nabi Allah tetap suci ,terpelihara dari segala kesalahan & dosa. dan karena Allah berkehendak menjadikan kisah kisah nabi sebagai pelajaran dan tauladan pada masa itu sampai masa akhir zaman.
      wallahua'lam.
      wassalam

      Hapus
    5. 1. komentar sdr kok gak mengena dgn uraian kami, mestinya kalau sdr mau bantah, bantah aja dimana uraian kami yang gak betul, jgn hanya menyampai kesimpulan sdr aja. demikian juga dgn maksud hadits yang telah kami jelaskan di atas, atau jgn 2 sdr ini gak ngerti apa yang menjadi pembahasan kami

      Hapus
    6. kayaknya sdr yg jelas2 kontradiksi, misalnya sdr katakan :" beliau mengatakan bahwa ma'sum mengandung pengertian terpelihara dari segala bentuk kesalahan maupun dosa." di bawahnya sdr katakan : "nabi dapat teguran langsung dari Allah melalui malaikatnya,kemudian nabi mohon ampun pada Allah dan Allah menghukumi selama masa yg ditentukan. kemudian Allah wahyukan ampunannya atas segala kesalahan nabi.dan Allah kembalikan lagi kesuciannya dari kesalahan dan dosa."
      kalau disebut kembali lagi kesuciannya dari kesalahan dan dosa, maka nabi pernah berdosa dong, jadi mana letak terpelihara dari segala bentuk kesalahan maupun dosa. ahh aneh banget ni

      Hapus
    7. 1. sdr mengatakan : Jadi bedakan kalimat " terpelihara dari kesalahan" dngan kalimat "tidak pernah melakukan kesalahan"
      kalau pernah melakukan kesalahan, maka dimana letaknya " terpelihara dari kesalahan. terpelihara dari kesalahan merupakan terjemahan dari 'ishmah 'an kath-in dengan menggunakan 'an bimakna bu'ud atau mujawazah, sehingga mengandung arti kesalahan itu menjauh atau tidak mengenanya. dengan memahami ini, maka kedua kata tersebut bermakna sama dalam konteks ini

      2. adapun masalah menyelisih al-qur'an dan hadits , ini tergantung bagaimana kita memahami keduanya itu, kalau saudara memahami sesuai dengan selera saudara, ya tentu menurut anggapan saudara itu.

      Hapus
    8. ass.ww

      tgk bertanya
      "kalau disebut kembali lagi kesuciannya dari kesalahan dan dosa, maka nabi pernah berdosa dong, jadi mana letak terpelihara dari segala bentuk kesalahan maupun dosa. ahh aneh banget ni"
      jawab:
      wahyu teguran wahyu ampunan bagi nabi itulah letak terpeliharanya nabi dari kesalahan dan dosa.sehingga nabi dianggap tidak mempunyai kesalahan dan dosa lagi.
      Berbeda dengan tngku,M ilyas.dan manusia biasa lainnya kalau berbuat kesalahan dan dosa biarpun sholatnya sampai mati,istighfarnya sampai mati tidak akan ada kabar ataupun wahyu yang turun memberitahukan ampunan selama kita masih hidup.kita hanya berharap rahmat dan ampunan Allah SWT tanpa berputus asa.'lihat (QS.az-zumar[39] :ayat 53)
      apanya yg aneh ?
      kayaknya sdr tngk perlu contoh riil.ada baiknya saya kasih contoh ;
      " seorng ustadz mengatakan pada masyarakt bahwa santri santri yang belajar agama di pondok yang disuhnya terpelihara dari penyakit artinya terjaga kesehatannya ini bukan berarti santri2 nya nggak pernah sakit, pernah doong sakit cuma lagsung diobati,mau panggil dokter kek, tabib kek ,terserah sang ustadz.terus sang ustadz bilang ke santri selama penyembuhan ,kamu tidak usah ikut pelajaran takutnya pemahan kamu ngaco.tapi sholat tetap wajib dikerjakan, nanti kalau sdh sembuh boleh ikut belajar dan berdakwah sama ustadz'"

      tengku mengatakan
      2. adapun masalah menyelisih al-qur'an dan hadits , ini tergantung bagaimana kita memahami keduanya itu, kalau saudara memahami sesuai dengan selera saudara, ya tentu menurut anggapan saudara itu.
      jawab ; ngak terbalik tuh !

      wassalam

      Hapus
    9. 1. untuk lebih jernih makna makshum para anbiya saya kira lebih baik merujuk kebahasa aslinya (jgn ngotot terus pada perkataaan "terpelihara". apalagi dgn merujuk dgn contoh2 yang gak ada rujukannya ) 1. Dalam kamus Taj al-‘Urus, karya al-zabidi disebutkan
      (والعِصْمَةُ: بالكَسْر: المَنْع) ، هَذَا أَصلُ مَعْنَى اللُّغَة، وَيُقَال: أصلُ العِصْمَةِ الرَّبْطُ، ثمَّ صَارَت بِمَعْنَى المَنْع.وعِصْمَةُ اللهِ عَبْدَه: أَن يَعْصِمَه مِمَّا يوبِقُه.
      Ini sesuai dgn maksud ayat berikut :
      قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ
      Anaknya (anak Nuh) menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.". (Q.S. Hud : 43)
      Anak Nabi Nuh tidak mau menyahuti permintaan ayahnya, karena dia berpikir gunung tersebut dapat mencegah dari tenggelam oleh air, (bukan maknanya meskipun sudah tenggelam kumudian baru diselamatkan), demikian juga makna “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”, Nuh adalah orang yang dilindung Allah dari tenggelam dalam air, bukan berarti Nuh sudah tenggelam lebih dahulu, kemudian baru diselamatkan.
      2. Kalau nabi bisa aja berdosa, meskipun ditegur tuhan setelah itu, tentu tidak disebut tertegah dari dosa. Karena ishmah maknanya tertegah (al-man-’u), karena itu seandainya pun ishmah ini diterjemahkan ke dlm bahasa Indonesia dgn terpelihara, maka maknanya tidak bisa dgn makna yang sdr sebutkan tersebut, karena makna sdr itu masih tidak sesuai dgn makna ishmah yg merupakan asal nya.

      Hapus
    10. ass .ww .
      contooh ini walaupun ada rujukannya ngak bisa disamakan dengan maksumnya nabi. tgk mengatakan :
      "Anak Nabi Nuh tidak mau menyahuti permintaan ayahnya, karena dia berpikir gunung tersebut dapat mencegah dari tenggelam oleh air, (bukan maknanya meskipun sudah tenggelam kumudian baru diselamatkan), demikian juga makna “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”, Nuh adalah orang yang dilindung Allah dari tenggelam dalam air, bukan berarti Nuh sudah tenggelam lebih dahulu, kemudian baru diselamatkan"

      tengku harus tahu ayat kisah dalam kalimat tersebut hanya tersendiri kerena tidak ada ayat2 lain yang mengatakan nabi nuh pernah "tenggelam" beda dong dengan maksumnya nabi. kerana ada beberapa ayat yang menerangkan bahwa nabi pernah melakukan kesalahan yang langsung dikoreksi ALLAH dengan tegurannya.
      atau tgk ada contoh yang lain yang lebih pas dengan makna maksumnya nabi ?
      saya memberi contoh makna maksum tsb diatas hanya sebagai ilustrasi saja memang tidak pakai rujukan, karena setahu saya predikat maksum yang dilekatkan pada nabi nabi .itu bukanlah firman ALLAH dalam Alquran ataupun hadist baginda SAW . karena kata2 maksum dikenal/populer setelah zaman nabi dan kata maksumnya nabi ini merupakan ijtihad ulama ataupun doktrin wallahua'lam. namun bila ia termasuk ijtihad tentu sifatnya membenarkan dan menjelaskan ayat alquran dan hadis' bukan mengkoreksi ayat ayat ALLAH.

      tapi tengku kok aneh .secara sadar atau tidak sadar tgk mengatakan:

      "2. Kalau nabi bisa aja berdosa, meskipun ditegur tuhan setelah itu, tentu tidak disebut tertegah dari dosa. Karena ishmah maknanya tertegah (al-man-’u)"

      inikan artinya tengku mengkoreksi ayat ayat Alquran dengan kata maksum. apakah tengku menganggap ijma' lebih tinggi derajatnya dari Alquran ?

      dan orang orang yang suka mengkoreksi ayat Alquran tentu tengku lebih tau. wallahua'lam.

      wassalam.

      Hapus
    11. 1. kisah nuh dan anaknya yang tersebut dalam al-qur'
      an di atas bukan dalam rangka berargumentasi apakah nabi pernah salah atau tidak. tapi kami hanya ingin menjelaskan apakah yang dimaksud dgn "makshum" dalam bahasa arab dgn merujuk kepada nash syara'. karena anda mengatakan makna makshum masih mungkin bersalah, tetapi kemudian ditegur Allah. dengan demikian pemahaman makshum seperti saudara jelaskan bertentangan dgn makshum yg dipahami dalam bahasa arab.

      2. anda mengatakan "inikan artinya tengku mengkoreksi ayat ayat Alquran dengan kata maksum. apakah tengku menganggap ijma' lebih tinggi derajatnya dari Alquran ?"ijmak ulama tidak mungkin salah. karena hadits nabi "tidak berhimpun ummatku atas kesesatan" berdasarkan hadits ini pula ulama menjadikan ijmak menjadi hujjah. karena itu dalam ushul fiqh, dijelaskan apabila bertentangan dhahir dua dalil, maka solusinya yg pertama adalah dikompromikan (jamak wa taufiq), kalau anda memahami ayat itu secara dhahir tentu bertentangan maksudnya dgn ijmak ulama, kalau seperti baru berlaku perkataan anda "inikan artinya tengku mengkoreksi ayat ayat Alquran dengan kata maksum. apakah tengku menganggap ijma' lebih tinggi derajatnya dari Alquran ?" tetapi kalau anda mau mengkompromikan dua dalil tersebut tentu tidak ada istilah mengoreksi al-qur'an dgn ijmak seperti tuduhan anda. cara penafsiran al-qur,an tanpa bertentangan dgn ijmak tersebut sudah saya jelaskan di atas, tetapi kayaknya anda tidak memperhatikannya atau mungkin belum ngerti atau tidak mau mengerti. maka nya saran kami kalau anda tidak setuju dgn pemahaman kami, sebaiknya anda tolak dulu penafsiran kami yang telah kami jelaskan di atas, jgn terburu2 bilang ijmak itu bertentangan dgn al-qur'an. ingat menafsirkan al-qur'an ada metode tersendiri, tidak bisa menafsirkan semau gue, kalau gak ada ilmu, sebaiknya rujuk saja ke tafsir2 ulama mu'tabar, supaya kita tidak termasuk golongan yang menafsirkan al-qur'an sesuai dgn hawa nafsu sendiri.

      wassalam

      Hapus
  11. Maaf Ustadz mohon di koreksi klo salah,
    1. Klo saya berkesimpulan gerak jt adalah ijtihad maulana ilyas, klo benar dapat 2 dan klo salah tetap dpt 1. Klo sy amati gerak jt sangat bagus soalnya banyak teman2 mantan preman tobat dan bisa jaga sholat sebab ajakan mereka.
    2. Klo merujuk kepada Al-quran dan Hadits serta pendapat imam yang 4 apakah JT termasuk aliran sesat?
    3. Apakah mereka agama islam atau bukan beragama islam melainkan beragama mimpi seperti judul tulisan di atas?

    Wassalam,

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. kalau memang gerakan dakwah JT banyak berhasil membawa banyak teman2 mantan preman tobat dan bisa jaga sholat sebab ajakan mereka, maka itu bukan berarti dalam JT tidak ada bermasalah.

      2. saya tidak pernah menggunakan istilah sesat utk JT

      3. agama mimpi dalam judul tulisan di atas, bukanlah nisbah "agama" kepada nama, tetapi mensifati wasaf mimpi kepada "agama" dengan i'tibar cara pemahaman muhammad ilyas (pendiri JT) terhadap mimpi

      wassalam

      Hapus
  12. yang Mulia TGk. Alizar Usman terima kasih atas Tulisnya semoga Allah memberikan hidayah dan nikmatnya kepada kita semua.... Ammmiiinnn

    BalasHapus
  13. bicara agama dan sunnah panjang lebar,
    namun di wajah jelas telah memotong yang sunnah dan memelihara yang tidak disunnah kan oleh baginda Rasulullah S.A.W..

    ilmu harus disertai dengan zikir...

    BalasHapus
  14. isap rokok sampoerna pulak..

    istighfar banyak2 tgk

    BalasHapus
  15. Assalamu'alaikum..

    Tgk. Alizar Usman artikelnya bagus dan pertahankan terus..
    ibadah tanpa ilmu sia-sia...

    BalasHapus
  16. Aturan nya ulama ikut ambil bagian dalam usaha dakwah(dakwah yang dicontohkan rasullulah SAW)karna segala sesuatu apabila tidak mencontoh rasullulah tak ada nilai nya disisi allah SWT ...bagikan ilmu nya kepada saya ini orang awam/yang bnyak dosa..bukan malah bikin propaganda yg bisa memecah belahkan umat..bagaimana umat/saya bisa paham akan ilmu apabila ulama nya gak mau bagikan ilmu yang dia punya malah sibuk mencari kesalahan orang lain.
    Astagfirullah

    BalasHapus
    Balasan
    1. mengatakan ini yg haq dan itu yg bAtil sebAgian dari membagi ilmu. nAbi sAw bersabda : katakanlAh yg haq meskipun pahit. tinggAl kitA mau gAk kita saLing menasehAti dAn sAling berbagi ilmu. tApi kAlAu sudAh merAsA pasti benar , mAka pasti Akan sulit menerimA kebenArAn dAri orAng lAin.
      wAssAlAm

      Hapus
  17. Sepertinya dialog panjang Tengku dengan anonim akan melelahkan jika diteruskan. Keterangan-keterangannya sering ta'arudl, pertanda bicaranya tidak memenuhi kaidah yang benar. Mungkin sayair sahib al-Mulhatu al-I'rab ini cukup untuk menyudahinya :
    ولا تمار جاهلا فتتعبا * وما عليك عتبه فتعتبا

    Mohon izin copy beserta sumbernya untuk bahan kajian ilmiah kami di Aswaja Center dan LBM. Jazakallahu Ahsanal Jaza'.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas kunjungannya. kami persilakan memamfaatkan artikel2 di sini. semoga dakwah aswaja selalu berkibar dgn hidayah Allah , aminnn

      Hapus
  18. Sepertinya dialog panjang Tengku dengan anonim akan melelahkan jika diteruskan. Keterangan-keterangannya sering ta'arudl pertanda bicaranya tidak memenuhi kaidah yang benar. Mungkin sayair sahib al-Mulhatu al-I'rab ini cukup untuk menyudahinya :
    ولا تمار جاهلا فتتعبا * وما عليك عتبه فتعتبا

    Mohon izin copy beserta sumbernya untuk bahan kajian ilmiah kami di Aswaja Center dan LBM. Jazakallahu Ahsanal Jaza'.

    BalasHapus
  19. Tengku Anda belum bisa menolong agama ALLAH kalau hanya bicara saja.kalau memang anda berilmu coba amalkan apa yang dilakukan Para sahabat RA dan para Tabiin mensyiarkan agama ALLAH dengan mengajak para Muslim disekitar rumah anda dari pintu kepintu mengajak shalat berjamaah di Masjid APA ANDA PUNYA NYALI!!!

    BalasHapus
  20. Tgk.... persepsi andaterlalu anda paksakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau meemang bener , dibantah saja dgn argumen sdr ku

      Hapus
  21. Tgk...
    Maaf saya mau nanya tgk..
    Semua kitab jemaah tabligh yg tgk uraikan diblog 1-4 ada sama tgk.??

    BalasHapus
  22. Tgk...
    Maaf saya mau nanya tgk..
    Semua kitab jemaah tabligh yg tgk uraikan diblog 1-4 ada sama tgk.??

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya tentu ada. gimana mengutipnya kalau gak ada?

      Hapus