Senin, 04 September 2017

Talaq Tiga sekaligus jatuh satu menyalahi ijmak

Pendapat talaq tiga sekaligus jatuh satu menyalahi ijmak ulama. Karena itu apabila hakim menetapkan hukum dengan berpegang kepada pendapat ini, maka penetapannya batal dan tidak berlaku. Berikut keterangan ulama yang menjadi rujukan kesimpulan di atas, yakni :
1.    Ibnu Mulaqqin (723-804 H), salah seorang ulama hadits terkenal bermazhab Syafi’i,  mengatakan :
وَاتَّفَقَ أَئِمَّةُ الْفَتْوَى عَلَى لُزُومِ إِيقَاعِ الطَّلَاقِ الثَّلَاثِ فِي كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ، وَهُوَ قَوْلُ جُمْهُورِ السَّلَفِ، ومن خلف فهو شاذ مخالف لاهل السنة وانما تعلق به اهل بدعة ومن لم يلتفت اليه لشذوذه عن الجماعة التي لا يجوز عليها التواطؤ على تحريف الكتاب و السنة
Telah sepakat imam-imam ahli fatwa atas lazim jatuh talaq tiga dalam kalimat yang satu. Ini merupakan pendapat jumhur salaf. Barangsiapa yang menyalahinya maka dia syaz (ganjil) dan menyalahi Ahlussunnah. Hanya ahli bid’ah yang berpegang kepadanya dan orang-orang yang tidak diperhatikan pendapatnya karena syaznya menyalahi jama’ah yang tidak mungkin mereka sepakat atas meninggalkan al-Kitab dan al-Sunnah.[1]

2.    Pernyataan lebih tegas lagi disampaikan oleh Muhammad Amin al-Kurdy (w. 1332 H) dalam kitab beliau, Tanwir al-Qulub :
ﻭﺍﻟﻘﻮﻝ ﺑﺄﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﺃﺟﻤﻊ ﺍﻟﺜﻼﺙ ﻓﻲ ﻛﻠﻤﺔ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﺍﻭ ﻣﺠﻠﺲ ﻭﺍﺣﺪ ﻳﻘﻊ ﺑﻪ ﻃﻠﻘﺔ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﺭﺟﻌﻴﺔ ﻣﺨﺎﻟﻒ ﻟﻠﻜﺘﺎﺏ ﻭﻟﺼﺮﻳﺢ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﻻﺟﻤﺎﻉ ﺍﻻﻣﺔ ﻭﻟﺬﻟﻚ ﺻﺮﺡ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺍﻻﺭﺑﻌﺔ ﺑﺄﻧﻪ ﻳﻨﻘض ﻓﻴﻪ ﻗﻀﺎﺀ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﻟﻮ ﻗﻀﻰ ﺑﻪ
Pendapat apabila menghimpunkan talaq tiga dalam kalimat yang satu atau majelis yang satu maka jatuh satu talaq raj’i merupakan pendapat yang menyalahi al-Kitab, sharih al-Sunnah dan ijmak ummat. Karena itu, para ulama mazhab empat telah menjelaskan secara sharih gugur penetapan qadhi seandainya menetapkan hukum dengannya..[2]

3.    Abu al-Walid al-Baaji (w. 474 H) dalam al-Muntaqaa Syarah al-Muwatha’, mengatakan :
فَمَنْ أَوْقَعَ الطَّلَاقَ الثَّلَاثَ بِلَفْظَةٍ وَاحِدَةٍ لَزِمَهُ مَا أَوْقَعَهُ مِنْ الثَّلَاثِ
Maka orang yang menjatuhkan talaq tiga dengan satu lafazh wajib atasnya berapa yang dijatuhkannya, yakni talaq tiga

Kemudian beliau mengatakan :
وَالدَّلِيلُ عَلَى مَا نَقُولُهُ إجْمَاعُ الصَّحَابَةِ؛ لِأَنَّ هَذَا مَرْوِيٌّ عَنْ ابْنِ عُمَرَ وَعِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَعَائِشَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ - وَلَا مُخَالِفَ لَهُمْ
Dalil atas apa yang kami katakan tersebut adalah ijmak sahabat, karena pendapat ini telah diriwayat dari Ibnu Umar, ‘Imran bin Hushain, Abdullah bin Mas’ud, Ibnu Abbas, Abu Hurairah dan ‘Aisyah radhiallahu’anhum dan tidak ada yang menyalahi pendapat mereka.[3]

4.    Ibnu al-Himam (w. 861 H) dalam Fathul Qadir mengatakan :
لَا تَبْلُغُ عِدَّةُ الْمُجْتَهِدِينَ الْفُقَهَاءِ مِنْهُمْ أَكْثَرَ مِنْ عِشْرِينَ كَالْخُلَفَاءِ وَالْعَبَادِلَةِ وَزَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ وَأَنَسٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - وَقَلِيلٍ وَالْبَاقُونَ يَرْجِعُونَ إلَيْهِمْ وَيَسْتَفْتُونَ مِنْهُمْ، وَقَدْ أَثْبَتْنَا النَّقْلَ عَنْ أَكْثَرِهِمْ صَرِيحًا بِإِيقَاعِ الثَّلَاثِ وَلَمْ يَظْهَرْ لَهُمْ مُخَالِفٌ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إلَّا الضَّلَالُ. وَعَنْ هَذَا قُلْنَا: لَوْ حَكَمَ حَاكِمٌ بِأَنَّ الثَّلَاثَ بِفَمٍ وَاحِدٍ وَاحِدَةٌ لَمْ يَنْفُذْ حُكْمُهُ؛ لِأَنَّهُ لَا يَسُوغُ الِاجْتِهَادُ فِيهِ فَهُوَ خِلَافٌ لَا اخْتِلَافٌ
Tidak sampai bilangan mujtahid fuqaha dari kalangan sahabat lebih banyak dari dua puluh orang, misalnya para khulafaurrasyidin, al-Abadilah, Zaid bin Tsabit,  Mu’az bin Jabal, Anas, Abu Hurairah r.a dan sedikit selain mereka. Sedangkan sisanya merujuk dan minta fatwa kepada mereka. Telah kami nyatakan shahih naqal dari kebanyakan mereka secara sharih jatuh talaq tiga dan tidak muncul yang menyalahi pendapat mereka. “Maka tidak ada sesudah yang haq itu melainkan  kesesatan”(al-ayat). Berdasarkan ini, seandainya seorang hakim menetapkan jatuh satu talaq pada masalah talaq tiga dengan kalimat yang satu, maka tidak tembus/berlaku penetapannya itu, karena tidak dibolehkan ijtihad tentangnya. Maka itu khilaf, bukan ikhtilaf.[4]

5.    Ibnu Rajab al-Hambali sebagaimana dikutip oleh Abd al-Hadi (w. 909 H) mengatakan :
اعلم أنه لم يثبت عن أحد من الصحابة، ولا من التابعين، ولا من أئمة السلف المعتد بقولهم في الفتاوى في الحلال والحرام شيءٌ صريح في أن الطلاق الثلاث بعد الدخول يحسب واحدة، ما إذا سيق بلفظ واحد.
Ketahuilah, sesungguhnya tidak shahih suatupun yang menjelaskan secara sharih talaq tiga sesudah bersetubuh dihitung satu apabila diucapkan dengan satu lafazh dari seorang sahabat, tabi’in dan imam-imam salaf yang dii’tibar pendapat mereka dalam fatwa halal dan haram.[5]

6.    Ibnu al-Arabi ulama besar dari kalangan mazab Malik dalam mengomentari hadits Ibnu Abbas yang menceritakan talaq tiga dhahirnya jatuh satu pada masa Rasulullah SAW, Abu Bakar r.a. dan awal masa khilafah Umar r.a. mengatakan :
هذا الحديث مختلف في صحته فكيف يقدم على الاجماع
Hadits ini diperselisihkan keshahihannya, maka bagaimana dapat didahulukannya atas ijmak.[6]

7.    Setelah menyebut pendapat para ulama salaf bahwa talaq tiga dalam satu lafazh jatuh tiga, Abu Bakar al-Jashas (w. 370 H), salah seorang ulama mazhab Hanafi mengatakan :
فَالْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ وَإِجْمَاعُ السَّلَفِ تُوجِبُ إيقَاعَ الثَّلَاثِ مَعًا وَإِنْ كَانَتْ مَعْصِيَةً
Maka al-Kitab, al-Sunnah dan ijmak ulama salaf mewajibkan jatuh talaq tiga sekaligus,, meskipun itu maksiat.[7]

8.    Al-Qurthubi, ahli tafsir terkenal mengatakan :
قَالَ عُلَمَاؤُنَا: وَاتَّفَقَ أَئِمَّةُ الْفَتْوَى عَلَى لُزُومِ إِيقَاعِ الطَّلَاقِ الثَّلَاثِ فِي كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ، وَهُوَ قَوْلُ جُمْهُورِ السَّلَفِ، وَشَذَّ طَاوُسٌ وَبَعْضُ أَهْلِ الظَّاهِرِ إِلَى أَنَّ طَلَاقَ الثَّلَاثِ فِي كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ يقع واحدة، ويروى هذا عن محمد ابن إِسْحَاقَ وَالْحَجَّاجِ بْنِ أَرْطَاةَ. وَقِيلَ عَنْهُمَا: لَا يلزم منه شي، وَهُوَ قَوْلُ مُقَاتِلٍ. وَيُحْكَى عَنْ دَاوُدَ أَنَّهُ قَالَ لَا يَقَعُ. وَالْمَشْهُورُ عَنِ الْحَجَّاجِ بْنِ أَرْطَاةَ وَجُمْهُورِ السَّلَفِ وَالْأَئِمَّةِ أَنَّهُ لَازِمٌ وَاقِعٌ ثَلَاثًا. وَلَا فَرْقَ بَيْنَ أَنْ يُوقِعَ ثَلَاثًا مُجْتَمِعَةً فِي كَلِمَةٍ أَوْ مُتَفَرِّقَةً فِي كَلِمَاتٍ،
Ulama kita mengatakan, sepakat imam-imam ahli fatwa atas lazim jatuh talaq tiga pada kalimat yang satu. Ini pendapat jumhur salaf. Pendapat Thawus dan sebagian ahli dhahir bahwa talaq tiga pada kalimat yang satu jatuh satu adalah syaz (ganjil). Pendapat Thawus ini diriwayat dari Muhammad ibn Ishaq dan Hajjaj bin Arthah. Ada yang mengatakan, keduanya ini berpendapat tidak jatuh apapun. Ini juga pendapat Muqatil. Dihikayah dari Daud, beliau mengatakan tidak jatuh talaq. Yang masyhur dari Hajjaj bin Arthah, jumhur salaf dan para imam lazim jatuh talaq tiga dan tidak ada perbedaan antara dijatuhkan talaq tiga itu secara berhimpun pada kalimat yang satu atau terpisah-pisah dalam beberapa kalimat. [8]

9.    Ibnu Hajar al-Haitami ketika menyebut contoh-contoh dimana Ibnu Taimiyah kerap menyalahi  ijmak ulama, menyebut contoh yang keenam, yakni :
وَأَن الطَّلَاق الثَّلَاث يُردُّ إِلَى وَاحِدَة،
Dan sesungguhnya talaq tiga dikembalikan kepada satu.[9]
10.    Dalam Bughyatulmustarsyidin disebutkan :
طلقها ثلاثاً في مجلس واحد وأراد تقليد القائل وهو ابن تيمية بأنها تحسب واحدة لم يجز له ذلك ، وقد غلطه العلماء وأجمعوا على عدم جوازه وهو من تجري جهلة العوام اهـ
Apabila seseorang mentalaq tiga isterinya dalam satu majelis dan menginginkan taqlid kepada yang berpendapat dihitung jatuh satu, yakni Ibnu Taimiyah, maka itu tidak boleh. Para ulama telah menyatakan salah pendapat tersebut dan telah terjadi ijmak ulama tidak boleh taqlidnya. Ibnu Taimiyah termasuk orang yang memperlakukan dirinya sebagai ‘awam yang bodoh.[10]

11.    Muhammad ‘Ali al-Shabuny dalam tafsirnya mengatakan :
أقول كل ما استدل به الفريق الثاني لا يقوى على رد أدلة الجمهور وعلى إجماع الصحابة ، وكفى بهذا الإجماع حجة وبرهانا وهذا ما ندين الله عز وجل به . ونعتقد أنه الصواب ، لأن مخالفة إجماع الصحابة وإجماع الفقهاء ليس بأمر اليسير
Aku katakan, setiap dalil yang dikemukakan oleh golongan kedua (yang berpendapat talaq tiga dalam satu kalimat jatuh satu) tidak kuat untuk menolak dalil-dalil jumhur dan ijmak sahabat. Dengan ijmak ini memadai sebagai hujjah dan dalil. Dengan pendapat ini, kami beragama kepada Allah dan kami mengi’tiqad inilah yang benar, karena menyalahi ijmak sahabat dan ijmak para fuqaha bukanlah urusan sepele.[11]

12.    Zarkasyi dalam al-Mantsur fi al-Qawa’id menjelaskan :
مدار نقض الحكم على تبين الخطأ والخطأ إما في إجتهاد الحاكم في الحكم الشرعي حيث تبين النص أو الإجماع أو القايس الجلي بخلافه
Pusaran gugur hukum adalah nyata salah. Tersalah itu adakalanya pada ijtihad hakim pada hukum syar’i karena nyata ada nash, ijmak atau qiyas jaliy yang menyalahinya.[12]






[1] Ibnu Mulaqqin, al-Tauzhih li Syarh Jami’i al-Shahih, Wazarah al-Auqaf wa Syu-un al-Islamiyah, Qathar, Juz. XXV, Hal. 216
[2] Muhammad Amin al-Kurdy, Tanwirul Qulub, Thaha Putra, Semarang, Hal. 361
[3] Abu al-Walid al-Baaji, al-Muntaqaa Syarah al-Muwatha’, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 3
[4] Ibnu al-Himam, Fathul Qadir, Maktabah Syamilah, Juz. III, Hal. 470
[5] Abd al-Hadi, Sair al-Hattsi ila ‘Ilm al-Thalaq al-Tsalats, Dar al-Basyair al-Islamiyah, Beirut, Hal. 31
[6] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Barri, al-Maktabah al-Salafiyah, Juz. IX, Hal.363
[7] Abu Bakar al-Jashas, Ahkam al-Qur’an, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 85
[8] Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, Maktabah Syamilah, Juz. III, Hal. 129
[9] Ibnu Hajar al-Haitamy, al-Fatawa al-Haditsiyah, Maktabah Syamilah, Hal. 85
[10] Sayyed  Abd al-Rahman Ba’alawi, Bughyatulmustarsyidin, Usaha Keluarga, Semarang, Hal. 226
[11] Muhammad ‘Ali al-Shabuni, Rawai’ al-Bayan, Maktabah al-Ghazali, Damsyiq, Juz. I, Hal. 335
[12] Imam Zarkasyi, Al-Mansur fi al-Qawaid, Wazarah al-Auqaf wa al-Syu-un al-Islamiyah bi Kuwait, Juz. II, Hal. 69

Tidak ada komentar:

Posting Komentar