(الرابع) من مسالك العلة (السبر) وهو لغة الاختبار (والتقسيم) وهو إظهار الشيء الواحد على
وجوه مختلفة. (وهو) أي ما ذكر من السبر والتقسيم اصطلاحا (حصر أوصاف الأصل) المقيس
عليه (وإبطال ما لا يصلح) منها للعلية (فيتعين الباقي) لها كأن يحصر أوصاف البرّ
في قياس الذرة عليه في الطعم وغيره ويبطل ما عدا الطعم بطريقه فيتعين الطعم للعلية
(ويكفي) في دفع منع المعترض حصر الأوصاف التي ذكرها المستدل. (قول المستدل) في
المناظرة في حصرها (بحثت فلم أجد) غيرها لعدالته مع أهلية النظر. (والأصل عدم غيرها)
فيندفع عنه بذلك منع الحصر وتعبيري بأو كما في مختصر ابن الحاجب وبعض نسخ الأصل
أولى من تعبيره في أكثرها بالواو.
Yang keempat dari masalik ‘illat adalah
al-sabr wal-taqsim. Al-sabr menurut bahasa adalah menguji, sedangkan al-taqsim
adalah mendhahirkan sesuatu atas aspek yang berbeda-beda. Al-sabr wal-taqsim
menurut istilah adalah membatasi washaf-washaf asal yang menjadi maqis ‘alaihi dan
membatalkan washaf yang tidak layak bagi ‘illat. Maka terkhususlah sisanya
menjadi ‘illat. Contohnya seperti membatasi washaf-washaf gandum pada makanan
dan lainnya(1) dalam mengqiyas jagung kepadanya dan membatalkan selain makanan
dengan menggunakan jalannya.(2) Maka terkhususlah makanan menjadi ‘illat. Memadai
dalam menolak penolakan si pengkritik atas pembatasan washaf-washaf yang
disebut oleh orang yang beristidlal dengan perkataan orang yang beristidlal dalam
diskusi pembatasannya : “Sudah aku bahas, akan tetapi aku tidak mendapati
selainnya”, karena adil orang yang beristidlal serta ahlinya dalam analisis. Sedangkan
asalnya tidak ada selain washaf itu. Maka tertolaklah penolakan pembatasan
tersebut darinya. Adapun ‘ibaratku dengan huruf “au” sebagaimana dalam
Mukhtashar Ibnu al-Haajib dan sebagian naskhah asal lebih baik dari ibaratnya dengan
huruf “waw” pada kebanyakan naskhah.
والناظر) لنفسه (يرجع) في حصر الأوصاف (إلى ظنه) ، فيأخذ به ولا
يكابر نفسه. (فإن كان الحصر والإبطال) أي كل منهما (قطعيا فـ) ـهذا المسلك (قطعي
وإلا) بأن كان كل منهما ظنيا أو أحدهما قطعيا والآخر ظنيا. (فظني وهو) أي الظني
(حجة) للناظر لنفسه والمناظر غيره (في الأصحّ) لوجوب العمل بالظن، وقيل ليس بحجة
مطلقا لجواز بطلان الباقي، وقيل حجة لهما إن أجمع على تعليل ذلك الحكم في الأصل
حذرا من أداء بطلان الباقي إلى خطأ المجمعين، وقيل حجة للناظر دون المناظر لأن ظنه
لا يقوم حجة على خصمه،
Yang menganalisis untuk dirinya sendiri, kembali dalam
pembatasan washaf-washaf kepada dhannya sendiri. Maka dia mengambilnya dan
tidak menyombong dirinya. Kemudian, seandainya keadaan pembatasan dan
pembatalan itu, yakni keadaan setiap keduanya adalah qath’i, maka masalik ini
adalah qath’i dan seandainya tidak, yakni setiap keduanya dhanni atau salah
satunya qath’i, sedangkan yang lain dhanni, maka masalik ini adalah dhanni. Masalik
dhanni ini menjadi hujjah bagi yang menganalisis untuk dirinya sendiri dan
untuk lawan diskusi selainnya menurut pendapat yang lebih shahih, karena wajib
beramal dengan dhan. Ada yang mengatakan, tidak menjadi hujjah secara mutlaq,
karena bisa jadi batal sisa washafnya. Ada yang mengatakan, menjadi hujjah bagi
yang menganalisis dan untuk lawan diskusi selainnya apabila terjadi ijmak atas
ta’lil hukum tersebut(3) pada asal,(4) supaya terjauhkan dari mengarahkan pembatalan
sisa washaf kepada tersalah orang yang ijmak.(5) Ada juga yang mengatakan,
menjadi hujjah bagi yang menganalisis, tidak bagi lawan diskusinya, karena
dhannya tidak menjadi hujjah atas lawan diskusinya.
Penjelasannya
(1). Washaf lainnya adalah mengenyangkan dan yang di
takar dengan sukatan.[1]
(2). Dengan jalan-jalan pembatalannya. Akan ada pembahasan
nantinya mengenai jalan-jalan pembatalan washaf-washaf.[2]
(3). Terjadi ijmak bahwa hukum tersebut ada ‘illatnya,
bukan ta’abbudi.[3]
(4). Maqis ‘alaihi
(5). Artinya ini kadang-kadang bisa terjadi. Karena pada
kejadian sebenarnya, barangkali tidak ada washaf selain washaf yang sudah dibatasi
oleh orang yang beristidlal. Karenanya, apabila batal sisa washaf, sedangkan
selain sisa washaf sudah dibatalkan terlebih dahulu, maka ini mengarahkan
kepada penetapan tersalah atas orang yang ijmak.[4]
Argumentasi ini dibantah oleh al-Banany. Beliau mengatakan, tertolak keadaannya
mengarahkan kepada demikian. Karena tidak lazim dari ijmak mereka atas ta’lil
hukum adanya ijmak bahwa hukum tersebut di’illatkan dengan sebuah ‘illat tertentu.[5]
[1]
Abdurrahman al-Syarbaini, Taqrir
al-Syarbaini ‘ala Hasyiah ‘ala Syarah Jam’u al-Jawami’, (dicetak pada
hamisy Hasyiah ‘ala Syarah Jam’u al-Jawami’) Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah,
Indonesia, Juz. II, Hal. 270
[2] Al-Banany, Hasyiah
‘ala Syarah Jam’u al-Jawami’, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia,
Juz. II, Hal. 270
[3] Al-Banany, Hasyiah
‘ala Syarah Jam’u al-Jawami’, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia,
Juz. II, Hal. 270
[4]
Abdurrahman al-Syarbaini, Taqrir
al-Syarbaini ‘ala Hasyiah ‘ala Syarah Jam’u al-Jawami’, (dicetak pada
hamisy Hasyiah ‘ala Syarah Jam’u al-Jawami’) Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah,
Indonesia, Juz. II, Hal. 271
[5]
Al-Banany, Hasyiah
‘ala Syarah Jam’u al-Jawami’, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia,
Juz. II, Hal. 270
Tidak ada komentar:
Posting Komentar