Sabtu, 02 September 2023

Belajar dari Kasus Hoax yang Menimpa Sayyidah Aisyah

 

Jelang tahun politik 2024, sebaran informasi hoax diperkirakan meningkat. Bagi kita ummat Islam, kisah Ummul Mukminin Aisyah r.a. yang pernah diterpa hoax, sepulang dari perjalanan sebuah peperangan mendekati kota Madinah pada tahun ke-5 Hijriyah patut menjadi pembelajaran yang baik dalam menghadapi berita-berita yang tidak jelas kebenarannya. Ummul Mukminin Aisyah r.a. dituduh berselingkuh dengan seorang sahabat Nabi, Shafwan bin Mu’aththal. Hoax ini diproduksi oleh pemimpin kaum munafik, Abdullah bin Ubay, kemudian disebarkan oleh beberapa orang, di antaranya Hamnah binti Jahys., Misthah bin Atsatsah dan Hassan bin Tsabit. Fitnah tersebut dengan cepat beredar ke seluruh penjuru di Madinah sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum Muslim. Merespon isu perselingkuhan ini, masyarakat pada masa Nabi SAW terbelah ke dalam pro dan kontra, sehingga nyaris terjadi pertumpahan darah sesama mereka seandainya Nabi SAW tidak segera turun tangan melerainya.

Pada awalnya, Nabi SAW hanya mendiamkan kabar itu. Namun karena wahyu tidak kunjung turun dan keadaan semakin riuh, maka beliau kemudian meminta pendapat dari beberapa sahabat seperti Usamah bin Zaid, Ali bin Abi Thalib, dan Burairah. Di sisi lain, Sayyidah Aisyah sangat terpukul usai mengetahui isu dirinya berselingkuh tersebar di seluruh Kota Madinah, beliau jatuh sakit. Sejak saat ini, Aisyah kemudian tinggal di rumah orang tuanya setelah mendapatkan izin dari Nabi SAW. Nabi tidak menyalahkan dan juga tidak membenarkan kabar itu, Nabi masih menunggu wahyu dari Allah.

Suatu ketika Rasulullah SAW mengatakan kepada Aisyah, “Sesungguhnya telah sampai berita kepadaku, bahwa kamu telah melakukan demikian dan demikian. Seandainya kamu memang tidak bersalah, niscaya Allah akan membersihkanmu. Bilamana kamu telah melakukan suatu dosa, mohonlah keampunanan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Sesungguhnya seorang hamba itu apabila mengakui perbuatan dosanya, kemudian bertaubat, maka Allah pasti akan mengampuninya.” Mendengar pernyataan Rasulullah SAW ini, Aisyah berkata, “Sesungguhnya demi Allah aku telah mengetahui bahwa engkau mendengar berita tersebut sehingga engkau terpengaruh olehnya atau mau mempercayainya. Seandainya aku katakan kepadamu bahwa aku tidak bersalah, niscaya engkau tidak mempercayainya. Seandainya aku mengakui kepadamu bahwa aku telah melakukan suatu perkara, sedangkan Allah mengetahui bahwa aku tidak bersalah, niscaya engkau percaya. Demi Allah aku tidak menemukan suatu perumpamaan yang aku katakan kepadamu kecuali sebagaimana Ayah Nabi Yusuf ketika mengatakan,

Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.(Q.S. Yusuf : 18)

 

Setelah berselang waktu, Nabi Muhammad menerima wahyu tentang pembebasan Aisyah dari tuduhan keji itu, yaitu Surat Al-Nur ayat 11 dan beberapa ayat setelahnya : 

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.(Q.S. al-Nur : 11)

(Al-Huzhariy Bek dalam Nurul al-Yaqin : 155-158)

 

Berita hoax ini adalah kasus yang sangat menyakitkan, khususnya bagi Aisyah dan Nabi dan umumnya bagi umat Islam. Namun demikian, ada enam pelajaran yang bisa diambil dari kasus ini berkenaan dengan merespon berita-berita yang belum jelas kebenarannya :

Pertama, Tawaqquf adalah suatu sikap atau perbuatan menahan diri untuk tidak langsung mempercayai atau menolak suatu berita sebagaimana sikap Nabi SAW menghadapi isu tersebut. Nabi tidak langsung mempercayai rumor tersebut, tidak memarahi Aisyah, dan tidak langsung menceraikannya. Sambil menunggu wahyu, beliau meminta pendapat dari beberapa orang. Allah Berfirman :

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak miliki pengetahuan tentangnya.Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban. (Q.S. al-Isra’ : 36)

Kedua, tidak terburu-buru dan emosi merespon gossip yang tidak benar apabila menimpa diri kita, akan tetapi bersikap tenang dan bijak seraya berusaha membuktikan kita tidak bersalah sebagaimana sikap Aisyah yang tidak marah dan hanya menyampaikan keluhannya, sambil menunggu pembelaan dari Allah. 

Ketiga, tabayyun. Pentingnya tabayyun merupakan sebuah proses apakah semua informasi yang kita terima benar atau hoax. Jika ada berita atau informasi yang simpang-siur, apalagi menghina, memfitnah, melakukan ujaran kebencian terhadap seseorang atau lembaga, maka bertabayunlah kepada orang/lembaga tersebut untuk mencari dan meneliti akan kebenaran informasi yang beredar. Allah Ta’ala berfirman :

Wahai orang-orang yang beriman, jika orang fasik datang kepada kalian membawa suatu berita, maka periksalah supaya kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadannya, sehingga jadilah kalian menyesal atas apa yang telah kalian lakukan itu.(Q.S. al-Hujuraat : 6)

Keempat, Jangan asal sebar ke group ke berbagai media sosial tanpa melakukan tabayyun dahulu kebenaran informasi yang diterima. Ayat-ayat yang turun berkaitan dengan hadits al-ifki mengajarkan bagaimana kita menghadapi rumor, yaitu tidak menyebarluaskannya.

Kelima, tajannub al-dhann adalah sikap menjauhi asumsi atau prasangka. Kita berkewajiban memelihara nama baik sesama dan keharusan menyanggah isu-isu negatif terhadap siapapun. Allah SWT berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.(Q.S. Al-Hujurat  : 12)

 

keenam, melawan hoax. Allah memerintahkan untuk memerangi dan melawan hoax. Dampak hoax sudah meresahkan masyarakat, apalagi dalam kontenstasi politik, berita hoax‘digoreng di jagat media sosial. Sehingga antar umat saling tuduh, saling fitnah, saling menghina dan sebagainya. Allah SWT berfirman :

Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.(Q.S. al-Anfal : 39)

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar