Tampilkan postingan dengan label sadaqah dan lainnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sadaqah dan lainnya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Januari 2026

Bolehkah Pengumpulan Donasi di Tengah Jalan?

 

Kegiatan pengumpulan donasi atau sumbangan merupakan bentuk nyata dari amar ma’ruf atau mengajak pada kebaikan dan tolong-menolong dalam taqwa. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai peristiwa, yang menunjukkan betapa pentingnya peran umat dalam membantu sesama. Salah satu momentum paling jelas ditunjukkan hadits riwayat Jarir bin Abdillah ra, ketika datang sekelompok kaum dari Mudhar dalam keadaan miskin, telanjang kaki, berbaju kasar, dan bersenjata, sehingga wajah Rasulullah SAW tampak berubah karena melihat penderitaan mereka. Lalu beliau masuk rumah, keluar kembali, dan memerintahkan Sahabat Bilal untuk azan dan iqamah. Setelah shalat, beliau berkhutbah dengan membaca ayat-ayat tentang ketaqwaan, lalu berseru: 

 تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ، مِنْ دِرْهَمِهِ، مِنْ ثَوْبِهِ، مِنْ صَاعِ بُرِّهِ، مِنْ صَاعِ تَمْرِهِ، حَتَّى قَالَ: وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ  

Hendaklah seseorang bersedekah dari dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, satu sha’ gandumnya, satu sha’ kurmanya, bahkan meskipun hanya dengan setengah butir kurma.(H.R Muslim).

 

Berdasarkan hadits tersebut, aktivitas mengumpulkan donasi pada dasarnya merupakan perbuatan yang baik dan bernilai ibadah. Namun disaat kegiatan pengumpulan dana ini dilakukan dengan memanfaatkan badan jalan atau bahkan dilakukan di tengah jalan umum yang berpotensi bahaya bagi pengguna mobil, motor atau lainnya, maka ini perlu kajian hukum fiqh yang konverehensif dengan mempertimbangkan dari berbagai aspek. Untuk menjawab persoalan hukum ini, kita mulai dengan hadits Nabi SAW berbunyi:

إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ، فَقَالُوا: مَا لَنَا بُدٌّ، إِنَّمَا هِيَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا. قَالَ: فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجَالِسَ، فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا، قَالُوا: وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ؟ قَالَ: غَضُّ الْبَصَرِ، وَكَفُّ الْأَذَى، وَرَدُّ السَّلَامِ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ   ِ

“Jauhilah duduk di jalan-jalan.” Para sahabat berkata: “Kami tidak bisa menghindarinya, karena itu tempat kami berbincang-bincang.” Beliau bersabda, “Jika kalian memang harus duduk di jalan, maka berikan hak jalan.” Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam, memerintahkan kebaikan, dan mencegah kemungkaran. (Muttafaqun ‘alaihi).

 

Dalam mengomentari hadits ini, Imam al-Nawawi mengatakan,

وَيَنْبَغِي أَنْ يُجْتَنَبَ الْجُلُوسَ فِي الطُّرُقَاتِ لِهَذَا الْحَدِيثِ وَيَدْخُلُ فِي كَفِّ الْأَذَى اجْتِنَابُ الْغِيبَةِ وَظَنِّ السُّوءِ وَإِحْقَارِ بَعْضِ الْمَارِّينَ وَتَضْيِيقِ الطَّرِيقِ وَكَذَا إِذَا كَانَ الْقَاعِدُونَ مِمَّنْ يَهَابُهُمُ الْمَارُّونَ أَوْ يَخَافُونَ مِنْهُمْ وَيَمْتَنِعُونَ مِنَ الْمُرُورِ فِي أَشْغَالِهِمْ بِسَبَبِ ذَلِكَ لكونهم لا يجدون طريقا إلا ذلك الْمَوْضِعِ

Berdasarkan hadits ini, seharusnya untuk tidak duduk di jalan-jalan. Termasuk dalam katagori tidak mengganggu menjauhi ghibah, menjauhi berburuk sangka, menjauhi mengejek sebagian orang yang lewat dan membuat sempit jalan. Demikian juga apabila yang duduk di jalan tersebut orang yang ditakuti atau ada sesuatu yang dikuatirkan pada mereka dan dengan sebab itu dapat menghalangi berjalan (lalulintas) dalam pekerjaannya. Karena tidak mendapatkan jalan lain kecuali jalan tersebut. (Syarah Muslim: XIV/102)

 

Dalam syarah al-Mahalli ‘ala Minhaj disebutkan:

مَنْفَعَةُ الشَّارِعِ) الْأَصْلِيَّةُ (الْمُرُورُ) فِيهِ ويجوزالجلوس به لاستراحة ومعاملة ونحوهما اذا لم يضيق على المارة

Manfaat utama dari jalan umum adalah untuk dilewati (lalu lintas)  dan dibolehkan duduk di jalan umum untuk istirahat, mu’amalah dan seumpamanya apabila tidak menjadi sempit bagi yang melewatinya. (Qalyubi ‘ala Syarah al-Mahalli: III/94)

 

Dalam bab shuluh syarah al-Mahalli, disebutkan:

الطريق النافذ بالمعجمة ويعبر عنه بالشارع)  لا يتصرف فيه( بالبناء للمفعول )بما يضر المارة( في مرورهم فيه لانه حق لهم

Jalan tembus/jalan umum (ditulis dengan titik satu) dan disebut juga dengan syari’ tidak boleh menggunakannya dengan sesuatu yang memudharatkan orang yang melewatinya dalam lalu lintas mereka, karena jalan tersebut merupakan hak mereka. (Qalyubi ‘ala Syarah al-Mahalli: II/388)


Sesuai dengan keterangan ini, pada dasarnya pemanfaatan utama jalan umum diperuntukkan untuk lalu lintas masyarakat. Karena itu, hanya dibolehkan pemanfaatan untuk hal lain selama tidak mengganggu lalu lintas. Hal ini karena mengamalkan hadits Nabi SAW berbunyi:

لا ضرر ولا ضرار

Tidak boleh memudharatkan diri sendiri dan tidak boleh memudharatkan orang lain (Hadits hasan riwayat Ibnu Majah, Daraulquthniy dan lainnya).

 

Kesimpulan

1.  Kegiatan pengumpulan donasi atau sumbangan merupakan bentuk nyata dari amar ma’ruf atau mengajak pada kebaikan dan tolong-menolong dalam taqwa.

2.  Kegiatan pengumpulan donasi atau sumbangan yang mengganggu lalu lintas seperti meletakkan drum kaleng (kaleng besar bekas tempat oli) atau berdiri di badan jalan yang sangat berpotensi membahayakan pengguna jalan, hukumnya  adalah haram

 

Jumat, 31 Oktober 2025

Bayar zakat fitrah kemudian mudik ke kampung kelahiran

 

Telah menjadi tradisi bahwa menjelang lebaran hari raya ‘Idul Fitri, kebanyakan orang yang merantau pulang kampung kelahirannya. Sebagiannya kembali menjelang hari raya. Kadang-kadang di tempat tinggalnya, ia telah menunaikan zakat fitrah. Namun sebelum malam lebaran tiba, ia telah berangkat menuju kampung kelahirannya sehingga saat berbuka puasa hari terakhir ia tidak lagi berada di tempat domisili ia membayar zakat fitrah. Yang menjadi pertanyaan, apakah fitrahnya tersebut sah dan tidak perlu mengulangi lagi dikampung kelahirannya?, Sementara pada saat wajib zakat fitrah (mendapati dua ujung bulan, yaitu akhir bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal) ia tidak berada lagi di tempat pembayaran zakat fitrah tersebut, akan tetapi sudah berada di perjalanan pulang kampung atau sudah sampai dikampung kelahirannya, alias zakat tersebut dibayar sebelum tiba waktu kewajibannya.

Jawaban

Untuk menjawab persoalan di atas, kita simak nash kitab ulama berikut ini:

1.  Pengarang I’anah al-Thalibin mengatakan:

وفي إجزاء المعجل عند غيبة المال أو الآخذ عن بلد الوجوب وقته خلاف فقال حجر لا يجزئه لعدم الأهلية وقت الوجوب وقال م ر يجزئه

Dalam hal memadai zakat yang disegerakan ketika jauh harta atau pengambilnya dari balad wajib pada waktu wajib ada terjadi khilafiyah. Ibnu Hajar mengatakan, tidak memadai karena bukan ahlinya pada waktu wajib. Al-Ramli mengatakan memadai. (I’anah al-Thalibin:II/210)

 

2.    Dalam Hasyiah ‘Ali Syiban al-Malasi dijelaskan:

)قوله : كما اعتمده الوالد ) وهل يجري ذلك في البدن في الفطرة حتى لو عجل الفطرة ثم كان عند الوجوب في بلد آخر أجزأ أو لا ولا بد من الإخراج ثانيا إذا كان عند الوجوب ببلد آخر فيه نظر ا هـ سم على حج .والأقرب الأول للعلة المذكورة في كلام الشارح فإن قضيتها أنه لا فرق بين زكاة المال والبدن

(Perkataan pengarang: sebagaimana yang dimuktamadkan oleh al-Waliid), apakah berlaku demikian pada badan pada zakat fitrah, sehingga kalau seseorang menyegerakan fitrah kemudian pada saat wajib dia berada di balad lain, apakah memadai atau tidak dan diharuskan mengeluarkan lagi pada kali kedua apabila dia berada di balad lain pada waktu wajib. Dalam hal ini ada tinjauan. Demikian Ibnu al-Qasim‘ala Ibnu Hajar. Yang mendekati adalah yang pertama, karena illah yang telah disebutkan dalam kalam Syarih. Dan mafhumnya tidak beda antara zakat harta dan zakat badan. (Hasyiah ‘Ali Syibran al-Malasi ‘ala NIhayah al-Muhtaj: III/143)

3.    Dalam kitab Ismadul `Ainaini fi Ba`dh Ikhtilaf asy-Syaikhaini Ibn Hajar al-Haitamy wa Syamsuddin al-Ramli dijelaskan:

)مسألة(.لو غاب المالك او الآخذ عن بلد الوجوب لم يجز المعجل عند حج خلافا لمر. قال الشرقاوى قرر الحفني ان غيبة الدافع لاتضر فى زكاة الفطر ولو مات المدفوع له مثلا لزم المالك الدفع ثانيا ولا يجزئ دفع المعجل لغير مستحق وقت القبض وان استحقه وقت الوجوب اهــ

(Masalah); kalau jauh pemilik atau pengambil zakat dari balad wajib, maka tidak memadai zakat yang disegerakan menurut Ibnu Hajar al-Haitamiy. Ini khilaf dari pendapat al-Ramli. Al-Syarqawiy mengatakan al-Hufniy menetapkan bahwa jauh si pemberi zakat tidak mudharat pada zakat fitrah. Jikalau mati orang yg sudah diberikan (misalnya), maka wajib si pemilik memberikan lagi pada kali kedua. Dan tidak memadai pemberian yang disegerakan bagi bukan yang berhak pada waktu qabazh, meskipun berhak pada wajib. (Ismadul `Ainaini fi Ba`dh Ikhtilaf asy-Syaikhaini Ibn Hajar al-Haitamy wa Syams Ramli (Hasmisy bersama Bughyah al-Mustarsyidin): 51)

Berdasarkan rujukan kitab di atas, maka dapat simpulkan bahwa terjadi khilafiyah di antara ulama mutaakhirin mazhab Syafi’i. Ibnu Hajar al-Haitamiy berpendapat zakat tersebut tidak sah. Karena itu wajib diulangi kembali ketika orang tersebut berada dikampung kelahirannya. Adapun Imam al-Ramli berpendapat sebaliknya, yaitu zakat fitrah yang sudah pernah diberikan kepada mustahiqnya ditempat tinggalnya sudah memadai sebagai zakat fitrahnya.

Wallahua’lam bisshawab

Kamis, 30 Oktober 2025

Naqal zakat dari tempat domisilinya ke tempat lain

 

Membayar zakat merupakan kewajiban setiap muslim yang harus dilaksanakan apabila mempunyai sejumlah harta yang sudah ditentukan syara’. Ini berdasarkan firman Allah berbunyi:

خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Ambillah zakat dari harta mereka (guna) menyucikan dan membersihkan mereka, dan doakanlah mereka karena sesungguhnya doamu adalah ketenteraman bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(Q.S. al-Taubah: 103)

 

Terjadi khilafiyah para ulama dalam hal naqal zakat atau memberikan zakat tidak di tempat domisili pemberi zakat dan tempat domisili harta. Pendapat yang muktamad dalam Mazhab Syafi'i tidak boleh pemilik harta memindah zakatnya dari satu balad zakat (daerah wajib zakat) ke  balad lainnya.

Sabda Nabi SAW:

فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ

Maka beritahukanlah bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shadaqah (zakat) dari harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang faqir mereka.(Muttaqun a’alahi)

 

Dalam hadits ini dijelaskan bahwa zakat diambil dari orang-orang kaya suatu tempat, kemudian dikembalikan kepada fakir miskin mereka. Ini artinya, zakat tidak boleh dipindahkan dari domisilinya.

Imam al-Nawawi mengatakan,

(أما) الأحكام فحاصل المذهب أنه ينبغي أن يفرق الزكاة في بلد المال فلو نقلها إلى بلد آخر مع وجود المستحقين فللشافعي رضي الله عنه في المسألة قولان وللأصحاب فيها ثلاث طرف (أصحها) عندهم أن القولين في الإجزاء وعدمه (أصحهما) لا يجزئه )والثاني( يجزئه ولا خلاف في تحريم النقل (والطريق الثاني) أنهما في التحريم وعدمه (أصحهما) يحرم )والثاني( لا يحرم ولا خلاف انه يجزىء وهذان الطريقان في الكتاب (والثالث) حكاه صاحب الشامل أنهما في الجواز والإجزاء معا (أصحهما) لا يجوز ولا يجزئه (والثاني) يجوز ويجزئه وتعليل الجميع في الكتاب والأصح عند الأصحاب الطريق الأول (والأصح) من القولين أنه لا يجزئه وهو محكي عن عمر بن عبد العزيز وطاوس وسعيد بن جبير ومجاهد والنخعي والثوري ومالك وأحمد وبالإجزاء قال أبو حنيفة

Adapun hukumnya, maka Kesimpulan mazhab Syafi’i seharusnya dibagikan zakat dalam balad harta. Karena itu, kalau dinaqal zakat kepada balad lain sedangkan dalam balad tersebut ada mustahiqnya, maka dalam hal ini, Imam Syafi’i ada dua qaul. Merespon dua qaul Imam Syafi’i ini, pengikutnya terbagi dalam tiga pendapat. Pendapat yang lebih shahih di sisi mereka, dua qaul tersebut terkait memadai dan tidak memadai sebagai zakat. Yang lebih shahih dari keduanya adalah tidak memadai. Qaul kedua ; memadai. Dan tidak terjadi khilaf dalam hal keharaman naqal. Thariq kedua; kedua qaul tersebut terkait haram dan tidak haram. Pendapat yang lebih shahih adalah haram. Qaul kedua ; tidak haram. Tidak ada khilaf bahwa naqal zakat itu memadai. Dua thariq ini terdapat dalam kitab. Thariq ketiga telah dihikayah oleh pengarang al-Syaamil, sesungguhnya dua qaul tersebut adalah terkait kebolehan dan sekaligus memadai. Yang lebih shahih adalah tidak tidak boleh dan tidak memadai. Qaul kedua ; boleh dan memadai. ‘illah semuanya ada dalam kitab. Yang lebih shahih di sisi pengikut Syafi’i adalah thariq pertama serta yang lebih shahih dari dua qaul tersebut adalah tidak memadai. Pendapat ini telah dihikayah pula dari Umar bin Abdul Aziz, Thaus, Sa’id bin Jubair, Mujahid, al-Nakh’i, al-Tsuriy, Malik, Ahmad. Adapun pendapat memadai datang dari Abu Hanifah. (Al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab: VI/221-222)

 

Berdasarkan penjelasan Imam al-Nawawi di atas, ketidakbolehnaqal zakat merupakan pendapat mayoritas ulama Islam dan juga merupakan pendapat muktamad mazhab Syafi’i (pendapat yang dianggap sebagai mazhab Syafi’i)

Syekh Zainuddin al-Malibary menyatakan,

ولا يَجوزُ لِمالِكٍ نقْلُ الزّكاةِ عنْ بلدِ الْمال ولوْ إلى مسافةٍ قريبةٍ، ولا تُجزِئ

Tidak diperbolehkan bagi pemilik harta zakat memindahkan zakat dari daerah harta itu, sekalipun ke daerah yang berdekatan, dan zakat tersebut tidak sah.(Kitab Fathul Mu'in (edisi bersama I’anatut Thalibin), Hal. 198)

 

Pengarang I’anah Thalibin berkomentar:

وخرج بالمالك، الإمام، فيجوز له نقلها إلى محل عمله، لا خارجه، لأن ولايته عامة، وله أن يأذن للمالك فيه.

Dengan perkataan “malik”, maka tidak termasuk imam (pemimpin), boleh baginya naqal zakat kepada wilayah kerjanya, tidak boleh diluarnya. Karena wilayahnya umum dan boleh baginya mengizinkan pemilik harta naqal di dalam wilayahnya. (I’anah al-Thalibin: II/198)

 

Pengarang I’anah al-Thalibin menjelaskan kepada kita bahwa ketidakbolehan naqal zakat hanya berlaku atas pemilik harta. Adapun penguasa atau badan yang berwenang pengelolaan zakat seperti Baital Mal di Aceh dibolehkan naqal zakat selama masih di wilayah wewenangnya.

Dalam komentar selanjutnya:

(قوله: عن بلد المال) أي عن محل المال الذي وجبت فيه الزكاة، وهو الذي كان فيه عند وجوبها.

Perkataan pengarang: dari balad harta, artinya dari tempat harta yang wajib zakat padanya, yaitu tempat keberadaan harta ketika wajib zakat

 

Kemudian selanjutnya beliau mengatakan,

وهذا في زكاة المال. أما زكاة الفطرة: فالعبرة فيها ببلد المؤدى عنه.

Ini pada zakat harta. Adapun zakat fitrah, maka yang menjadi patokannya adalah balad orang yang ditunai zakat untuknya. (I’anah al-Thalibin: II/198)

 

Nash kitab di atas, menjelaskan bahwa yang menjadi patokan naqal zakat adalah apabila naqal zakat zakat tersebut dari domisili harta pada ketika zakat di wajibkan atasnya. Ini zakat harta. Adapun zakat fitrah patokannya adalah tempat domisi seseorang yang diberikan zakat atas namanya, meskipun diberikan oleh orang lain.

Dalam kitab Syarh al-Mahally dijelas:

( وَالْأَظْهَرُ مَنْعُ نَقْلِ الزَّكَاةِ ) مِنْ بَلَدِ الْوُجُوبِ مَعَ وُجُودِ الْمُسْتَحِقِّينَ فِيهِ إلَى بَلَدٍ آخَرَ فِيهِ الْمُسْتَحِقُّونَ ، بِأَنْ تُصْرَفَ إلَيْهِمْ أَيْ يَحْرُمُ ، وَلَا يُجْزِئُ لِمَا فِي حَدِيثِ الشَّيْخَيْنِ { صَدَقَةٌ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ ، فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ } ، وَالثَّانِي : يَجُوزُ النَّقْلُ وَيُجْزِئُ لِلْإِطْلَاقِ فِي الْآيَةِ ، ( وَلَوْ عُدِمَ الْأَصْنَافُ فِي الْبَلَدِ وَوَجَبَ النَّقْلُ ) إلَى أَقْرَبِ الْبِلَادِ إلَيْهِ

Menurut qaul adzhar tidak boleh memindah zakat dari tempat diwajibkannya mengeluarkan zakat -sedangkan orang-orang yang berhak menerima zakat tersebut ada-  dipindah ke daerah lain yang juga ada orang-orang yang berhak menerimanya, yaitu zakat tersebut diberikan kepada mereka (mustahiq zakat yang berada didaerah lain), maka hukumnya diharamkan dan tidak memadai, karena berdasarkan hadits Bukhari dan Muslim. "Shadaqah (zakat) itu diambilkan dari orang-orang yang kaya, kemudian dikembalikan (diberikan) kepada orang-orang faqir dari golongan mereka". Sedangkan menurut pendapat yang kedua "Boleh memindah zakat dan sudah dianggap memadai, karena berdasarkan kemutlakan firman Allah". Dan apabila disebuah daerah tidak ditemukan ashnâf yang menerima zakat, maka zakat wajib pindah kedaerah yang paling terdekat. (Al-Mahalli beserta hasyiah Qalyubi wa ‘Amirah: III/202-203)

 

Kemudian Qalyubi berkomentar:

 (قوله وَالثَّانِي يَجُوزُ النَّقْلُ وَتُجْزِئُ ) وَاخْتَارَهُ جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ كَابْنِ الصَّلَاحِ وَابْنِ الْفِرْكَاحِ وَغَيْرِهِمْ ، قَالَ شَيْخُنَا تَبَعًا لِشَيْخِنَا الرَّمْلِيِّ : وَيَجُوزُ لِلشَّخْصِ الْعَمَلُ بِهِ فِي حَقِّ نَفْسِهِ ، وَكَذَا يَجُوزُ الْعَمَلُ فِي جَمِيعِ الْأَحْكَامِ بِقَوْلِ مَنْ يَثِقُ بِهِ مِنْ الْأَئِمَّةِ ، كَالْأَذْرَعِيِّ وَالسُّبْكِيِّ وَالْإِسْنَوِيِّ عَلَى الْمُعْتَمَدِ

Perkataan pengarang: pendapat kedua boleh naqal dan memadai, artinya pendapat yang ke-dua ini telah dipilih oleh segolongan ulama' dari ashâb imam Syafi'I, seperti Ibnu Shalah, Ibnu Al-Farkâh dan ulama' yang lainnya. Syaikhunâ berkata dengan mengikuti terhadap pendapat guru kami imam Ar-Ramlî, diperbolehkan bagi seseorang mengamalkan pendapat tersebut untuk dirinya sendiri, begitu pula mengamalkan semua hukum-hukum dengan berpijak terhadap pendapat ulama' yang dapat dipercaya dari beberapa ulama'. Seperti imam Al-Adza’iI, Al-Subukî dan imam Al-Isnâwî menurut qaul mu'tamad ".(Hasyiah Qalyubi wa ‘Amirah: III/203)

 

Dalam Bughyatul Mustarsyidin disebutkan:

اَلرَّاجِحُ فِى الْمَذْهَبِ عَدَمُ جَوَازِ نَقْلِ الزَّكاَتِ وَاخْتَارَ جَمْعُ الْجَوَازَ كَابْنِ عُجَيْلٍ وَابْنِ الصَّلاَحِ وَغَيْرِ هِمَا قَالَ أَبُو مَخْرَمَةَ وَهُوَ الْمُخْتاَرُ إِذاَ كاَنَ لِنَحْوِ قَرِيْبٍ وَاخْتَارَهُ الرَّوْياَنِى وَنَقَلَهُ الْخَطَّابِى عَنْ أَكْثَرِ الْعُلَماَءِ وَبِهِ قَالَ ابْنُ عَتِيْق فَيَجُوْزُ تَقْلِيْدُ هَؤُلاَءِ (مَسْأَلَةٌ ي ك) لاَيَجُوْزُ نَقْلُ الزَّكاَتِ وَالْفِطْرَةِ عَلىَ اْلأَظْهَرِ مِنْ أَقْوَالِ الشَّافِعِى نَعَمْ أُسْتُثْنِيَ فِى التُّحْفَةِ وَالنِّهَاَيَةِ مَا يَقْرُبُ مِنَ الْمَوْضِعِ وَيُعَدُّ مَعَهُ وَاحِدًا وَإِنْ خَرَجَ عَنِ السُّوْرِ

Pendapat rajih dalam madzhab tidak memperbolehkan pemindahan zakat ke (daerah lain). Sekelompok ulama memilih di perbolehkan pemindahan zakat, seperti pendapat Ibnu ‘Ujail dan Ibnu Shalah dan selain keduanya. Ibnu Makhramah mengatakan kebolehan memindah zakat merupakan pendapat terpilih apabila diberikan kepada kerabat. Pendapat ini juga dipilih oleh Imam Al-Rauyani, Al-khathabi dan Ibnu ‘Atiq telah mengutip dari sebagian besar ulama, maka boleh mengikuti mereka itu.

(Masalah Ya ka) Menurut qaul azhhar Imam Syafi’i tidak diperkenankan memindahkan zakat (maal) dan (fitrah). Dalam karya Tuhfah dan Nihayah terdapat pengecualian untuk tempat yang berdekatan dan masih dianggap satu walaupun berada di luar perbatasan.(Bughyatul Mustarsyidin: 105)

 

Berdasarkan penjelasan Qalyubi dan kitab Bughyatul Mustarsyidin di atas, naqal zakat ini meskipun dianggap pendapat yang lemah dari sisi pandangan mazhab Syafi’i, namun boleh diamalkan binafsihi (amalan untuk diri sendiri, bukan untuk fatwa). Karena amalan ini merupakan juga pendapat pilihan beberapa ulama besar Syafi’yah seperti al-Ruyaniy, al-Khathabi dan lain-lain

Ulama mazhab Syafi’i menyatakan kewajiban seseorang untuk mengeluarkan zakat fitrah di negeri mereka tinggal sebagaimana keterangan Imam Abu Ishaq al-Syairazi dari Mazhab Syafi’i dalam al-Muhazzab berikut ini:

وان وجبت عليه زكاة الفطر وهو في بلد وماله فيه وجب اخراجها إلى الاصناف في البلد لان مصرفها مصرف سائر الزكوات

Jika datang waktu wajib pembayaran zakat fitrah pada seseorang, sementara ia dan hartanya ada di suatu negeri, maka ia wajib mengeluarkan zakatnya kepada golongan penerima zakat yang ada di negeri tersebut karena tempat tasaruf zakat fitrah sama saja dengan tempat tasaruf zakat jenis lainnya (al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab: VI/225)

 

Imam al-Nawawi mengatakan.

قال أصحابنا إذا كان في وقت وجوب زكاة الفطر في بلد وماله فيه وجب صرفها فيه فإن نقلها عنه كان كنقل باقي الزكوات ففيه الخلاف والتفصيل السابق وان كان في بلد وماله في آخر فأيهما يعتبر فيه وجهان (أحدهما)بلد المال كزكاة المال (وأصحهما) بلد رب المال ممن صححه المصنف في التنبيه والجرجاني في التحرير والغزالي والبغوي والرافعي وآخرون

Ashabunaa (Ulama Syafi’iyah) berpendapat apabila seseorang pada ketika wajib zakat fitrah berada dalam satu baladdan hartanya juga dalam balad tersebut, maka wajib menyerahkan zakat fitrah dalam balad tersebut. Jika di naqal, maka hukumnya sama dengan naqal zakat  lain. Padanya ada khilaf dan rincian sebelumnya. Dan jika seseorang berada dalam satu balad, sedangkan hartanya di balad lain, maka mana yg menjadi i’tibar?. Ini ada dua pendapat, salah satunya adalah balad harta sama seperti zakat harta. Namun pendapat yang lebih shahih adalah balad yang punya harta. Pendapat ini termasuk yang telah ditashihkan oleh pengarang dalam al-Tanbiih, Jarjaniy dalam al-Tahrir, al-Ghazali, al-Baghwiy, al-Rafi’I dan lainnya. (al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab:VI/225-226)

 Wallahua'lam bisshawab

Kamis, 13 Juni 2024

Hukum menyalurkan daging qurban di luar domisili yang berqurban

 

Pensyariatan qurban pada saat Hari Raya ‘Idul Adha merupakan salah satu syiar dalam agama Islam. Allah Ta’ala berfirman :

 إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ 

Sungguh, Kami telah memberimu telaga kautsar, maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah. (QS Al-Kautsar: 1-2). 

 

Pelaksanaan qurban ini, substansinya adalah dalam rangka ihraqah al-dam (mengalirkan darah) sebagaimana firman Allah Ta’ala berbunyi :

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ اْلأَنْعَامِ

Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang telah dirizkikan oleh Allah kepada mereka. (Al-Hajj : 34)

Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat di atas, mengatakan, Allah Ta’ala mengabarkan, senantiasa penyembelihan qurban dan ihraqah al-dam (mengalirkan darah) atas nama Allah menjadi syari’at pada semua agama Allah (Tafsir Ibnu Katsir : V/424). Bertolak dari ayat di atas dengan penafsiran Ibnu Katsir tersebut, dapat dipahami bahwa qurban adalah ibadah yang aspeknya adalah iraqah al-dam (penyembelihan) yang berarti tidak boleh digantikan dengan benda lain termasuk dalam bentuk uang. Kesimpulan ini lebih tegas lagi apabila kita memperhatikan hadits di bawah ini :

ما عمل ادمي من عمل يوم النهر أحب الى الله من إهراق الدم إنه ليأتي يوم القيامهة بقرونها وأشعارها و أظلافها

Tidak ada sebuah amalan pada hari raya dari pada amalan anak Adam yang terlebih cinta kepada Allah melebihi menumpah darah (saat sembelihan), karena sesungguhnya sembelihan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu dan kukunya. (H.R. at-Turmidzi)

Karena itu, qurban haruslah terdiri dari hewan ternak dengan melakukan penyembelihan, tidak boleh diganti dalam bentuk lain seperti dihargakan dalam bentuk uang. Berdasarkan ayat di atas juga, Syeikh Zakaria al-Anshary mensyaratkan qurban dengan binatang ternak, yaitu unta, kerbau/lembu dan kambing/biri-biri, baik betina, khuntsa atau jantan, meskipun yang sudah dikebiri (Fathul Wahab : II/231).

Adapun daging qurban apabila qurban tersebut qurban sunnah, sebagiannya (dalam ukuran  terbenar disebut daging) wajib disadaqahkan kepada minimal satu orang fakir miskin dalam bentuk daging segar dan tidak dimasak. Selebihnya boleh di makan oleh yang berqurban sendiri dan untuk orang yang tidak termasuk katagori fakir miskin (Al-Mahalli IV/255). Penjelasan ini berdasarkan qiyas kepada hadyu tathawu’ dalam bab haji yang warid dalam firman Allah Ta’ala berbunyi :

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

Maka makanlah darinya dan beri makan orang yang sangat fakir (al-Hajj : 28)

 

Dan firman Allah yang berbunyi :

فَكُلُواْ مِنۡهَا وَأَطۡعِمُواْ ٱلۡقَانِعَ وَٱلۡمُعۡتَرَّۚ

Maka makanlah darinya dan beri makan peminta-minta dan yang tidak meminta-minta. (al-Hajj : 36)

 

Sedangkan qurban wajib dengan sebab nazar, yang berqurban sama sekali tidak boleh memakannya. (I’anah al-Thalibin II/378)


Menyalurkan daging qurban di luar domisili yang berqurban

Apakah dimungkinkan dalam fiqh menyalurkan sebagian daging qurban ke luar domisili seseorang ?. Untuk itu, dapat kami jawab sebagai berikut :

1.  Dalam mazhab Syfi’i yang mayoritas dianut di Aceh dan Indonesia, berpendapat memindahkan qurban keluar dari domisili yang berqurban tidak dibenarkan, sama halnya dengan hukum memindahkan zakat. Imam al-Ramli salah seorang ulama besar Syafi’iyah mengatakan :

وَيُمْتَنَعُ نَقْلُهَا عَنْ بَلَدِ الْأُضْحِيَّةِ كَالزَّكَاةِ

Terlarang memindahkan qurban dari domisili qurban sama halnya dengan zakat.(Nihayah al-Muhtaj : VIII/142)

 

Namun larangan pemindahan ini dimaksudkan adalah daging qurban wajib dengan sebab nazar atau sebab lainnya, atau daging qurban yang wajib disadaqahkan kepada fakir miskin setempat dalam hal qurban sunnah, yakni ukuran yang terbenar disebut daging, misalnya satu suap makan.

2.  Karena itu, apabila berqurban dengan cara mengirim sejumlah uang kepada seseorang yang berada di luar domisilinya agar membeli ternak, kemudian melakukan penyembelihan atas nama qurban pemilik uang, maka ini tidak termasuk yang terlarang. Demikian juga tidak terlarang menyalurkan daging qurban sunnah keluar domisili yang berqurban selain daging yang wajib disadaqahkan kepada fakir miskin. Dan demikian juga tidak terlarang  seseorang yang berqurban mengirim dalam bentuk ternak yang belum disembelih kepada seseorang yang berada di luar domisilinya agar kemudian melakukan penyembelihan atas nama qurban pemilik ternak.

Kesimpulan point no 1 dan 2 di atas berdasarkan nash-nash ulama besar dari kalangan Syafi’iyah berikut ini :

a.  Abubakar Syatha dalam I’anah al-Thalibin mengatakan :

ثم إنه علم مما تقرر أن الممنوع نقله هو ما عين للأضحية بنذر أو جعل، أو القدر الذي يجب التصدق به من اللحم في الأضحية المندوبة.وأما نقل دراهم من بلد إلى بلد أخرى ليشتري بها أضحية فيها فهو جائز.

Kemudian sesungguhnya dari apa yang sudah ada ketetapannya dimaklumi bahwa yang terlarang memindahnya adalah hewan qurban yang telah ditentukan untuk qurban (qurban wajib) dengan sebab nazar atau ja’al ataupun daging qurban kadar yang wajib disadaqahkan pada qurban sunnah. Adapun memindah dirham (mata uang) dari satu balad ke balad lain agar dibeli ternak qurban di balad tersebut, maka ini boleh.(I’anah al-Thalibin : II/380)

b.  Dalam Hasiyah al-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj disebutkan :

 وَلَا يَجُوزُ نَقْلُ الْأُضْحِيَّةَ عَنْ بَلَدِهَا كَمَا فِي نَقْلِ الزَّكَاةِ مُغْنِي وَنِهَايَةٌ أَيْ مُطْلَقًا سَوَاءٌ الْمَنْدُوبَةُ، وَالْوَاجِبَةُ، وَالْمُرَادُ مِنْ الْحُرْمَةِ فِي الْمَنْدُوبَةِ حُرْمَةُ نَقْلِ مَا يَجِبُ التَّصَدُّقُ بِهِ عَلَى الْفُقَرَاءِ

Tidak boleh memindahkan qurban dari baladnya sebagaimana dalam hal pemindahan zakat. Demikian dalam muqhni dan nihayah. Yakni secara mutlaq baik qurban sunnah maupun wajib. Adapun maksud haram pada qurban sunnah adalah haram memindah daging yang wajib disadaqahkan kepada fakir miskin.(Hasyiah al-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj : IX/365)

 

c.   ‘Ali Syibran al-Malasiy mengatakan,

(قَوْلُهُ: وَيُمْتَنَعُ نَقْلُهَا) أَيْ نَقْلُ الْأُضْحِيَّةِ مُطْلَقًا سَوَاءٌ الْمَنْدُوبَةُ وَالْوَاجِبَةُ وَالْمُرَادُ مِنْ الْمَنْدُوبَةِ حُرْمَةُ نَقْلِ مَا يَجِبُ التَّصَدُّقُ بِهِ مِنْهَا

(Perkataan pengarang terlarang memindahnya) maksudnya memindah qurban secara mutlaq, baik qurban sunnah maupun qurban wajib. Adapun maksud terlarang pada qurban sunnah adalah haram memindah daging qurban yang wajib disadaqahkannya.(Hasyiah ‘Ali Syibran al-Malasiy ‘ala Nihayah al-Muhtaj : VIII/142)

 

d.  Sulaiman al-Jamal mengatakan,

‌يَمْتَنِعُ ‌نَقْلُ الْأُضْحِيَّةِ فَهَلْ الْمُرَادُ أَنَّهُ يَجِبُ ذَبْحُهَا فِي الْمَكَانِ الَّذِي يَكُونُ بِهِ وَقْتَ الْوُجُوبِ أَوْ لَا يَجِبُ ذَلِكَ بَلْ فِي أَيِّ مَكَان أَرَادَ ذَبْحَهَا فِيهِ امْتَنَعَ نَقْلُهَا عَنْهُ بِخِلَافِ الْفِطْرَةِ حَيْثُ يَجِبُ إخْرَاجُهَا فِي مَكَانِ الْوُجُوبِ وَهُوَ الْمَكَانُ الَّذِي غَرُبَتْ فِيهِ الشَّمْسُ قَالَ م ر بِالثَّانِي بَحْثًا وَفَرَّقَ بِأَنَّهُ بِمُجَرَّدِ الْغُرُوبِ تَثْبُتُ الْفِطْرَةُ فِي الذِّمَّةِ وَبِمُجَرَّدِ مُضِيِّ الرَّكْعَتَيْنِ وَالْخُطْبَتَيْنِ مِنْ يَوْمِ النَّحْرِ لَا تَثْبُتُ الْأُضْحِيَّةُ فِي الذِّمَّةِ وَلَا يَتَعَلَّقُ بِهَا حَقُّ الْفُقَرَاءِ إلَّا بَعْدَ الذَّبْحِ بِالْفِعْلِ لِأَنَّهَا غَيْرُ وَاجِبَةٍ وَيَجُوزُ تَرْكُهَا

Terlarang memindahkan qurban, namun apakah maksudnya wajib disembelihnya pada tempat dimana waktu wajibnya pada tempat tersebut atau tidak wajib akan tetapi maksudnya adalah terlarang memindahnya dari tempat yang direncanakan sembelihnya. Ini berbeda dengan zakat fitrah yang wajib disalurkan pada tempat wajib zakatnya, yakni tempat dimana seseorang berada pada waktu terbenam matahari (malam satu syawal). Al-Ramli dalam pembahasannya berpendapat dengan pendapat kedua. Perbedaannya adalah dengan semata-mata terbenam matahari, zakat fitrah tsubut dalam zimmah. Adapun qurban, dengan semata-mata berlalu dua rakaat shalat ‘id serta dua khutbah pada Hari Raya ‘Id Adha tidak tsubut qurban dalam zimmah dan tidak tersangkut hak fakir miskin kecuali setelah terjadi penyembelihan secara nyata, karena qurban tidak wajib dan boleh meninggalkannya.. (Hasyiah al-Jamal ‘ala Syarah al-Manhaj : V/256)

Kesimpulan

Dalam rangka menyahuti kebutuhan saudara-saudara kita seiman dan seakidah di Aceh Tenggara sebagaimana diceritakan sdr Firmando Selian dalam pertanyaan di atas dan  berdasarkan uraian di atas, maka kaum muslimin yang berada di luar kawasan tersebut dapat melakukan sebagai berikut :

1.    Mengirim sejumlah uang kepada seseorang yang berada di kawasan muslim minoritas tersebut agar membeli ternak, kemudian melakukan penyembelihan atas nama qurban pemilik uang.

2.    Atau mengirim dalam bentuk ternak yang belum disembelih kepada seseorang yang berada di kawasan muslim minoritas tersebut agar kemudian melakukan penyembelihan atas nama qurban pemilik ternak.

3.    Ataupun menyalurkan daging qurban sunnah selain daging yang wajib disadaqahkan kepada fakir miskin tempat domisilinya ke kawasan muslim minoritas tersebut