Kamis, 09 November 2023

Carter (sewa) dan mawah kebun dalam pandangan Islam

 

Hukum carter (sewa) kebun untuk memiliki buahnya.

Carter (sewa) kebun untuk memiliki buahnya, hukumnya tidak sah.

Alasannya sebagai berikut :

1.  Dari Abu Hurairah r.a, berbunyi :

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ، وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

Rasulullah SAW melarang jual beli al-hashaah dan gharar. (H.R. Muslim)

 

Berdasarkan hadits ini, sebuah akad dalam tidak boleh mengandung kemungkinan gharar (tipuan). Ketika misalnya, ketika pohon ini disewakan selama dua tahun  dan dalam kondisi normal, kita tidak bisa memastikan hasilnya. Apakah nanti akan berbuah setiap tahun atau sebaliknya, sering gagal panen. Lain halnya ketika ada pohon yang disewakan untuk sesuatu yang manfaat  yang bukan dalam bentuk benda, misalnya untuk hiasan dekorasi walimah pernikahan atau untuk tempat berteduh. Ini jelas manfaatnya jelas dan terukur. Hal yang sama juga berlaku pada kasus menyewa kolam untuk memancing ikan. Karena mengambil ikan yang diqashad dalam akad sewa belum tentu bisa terwujud karena tergantung keadaan, apakah ikan tersebut bisa bisa ditangkap dengan pancing pada ketika itu atau tidak.

2. Dalam kitab Fathul Muin, Zainuddin al-Malibari mengatakan :

ورؤيته أي المعقود عليه إن كان معينا فلا يصح بيع معين لم يره العاقدان أو أحدهما كرهنه وإجارته للغرر المنهي عنه وإن بالغ في وصفه.

Dan melihatnya, yakni melihat barang yang diakadkan seandainya barangnya tertentu. Maka tidak sah jual beli barang yang tertentu selama tidak dilihat oleh dua pihak yang melakukan akad atau salah satunya. Sama juga hukumnya ini akad gadai dan sewa,meskipun disifatinya secara sempurna, karena ada gharar yang terlarang padanya.(Fathul Mu’in, (dicetak pada hamisy I’anah al-Thalibin): III/9-10)

 

2.  Akad sewa diperuntukan mengambil manfaat yang bukan dalam bentuk benda seperti mendiami rumah yang disewa, tidak dalam bentuk benda seperti mengambil buah dari kebun yang disewa. Zainuddin al-Malibari mengatakan :

فلا يصح اكتراء بستان لثمرته لأن الأعيان لا تملك بعقد الإجارة قصدا.ونقل التاج السبكي في توشيحه اختيار والده التقي السبكي في آخر عمره صحة إجارة الأشجار لثمرها وصرحوا بصحة استئجار قناة أو بئر للانتفاع بمائها للحاجة.

Maka tidak sah menyewa kebun untuk buahnya, karena benda tidak dapat dimiliki dengan qashad akad sewa. Namun dalam kitab Tausyihnya, al-Taj al-Subki pernah mengutip pilihan bapaknya, al-Taqy al-Subki pada akhir umurnya sah sewa pohon untuk buahnya dan para ulama telah menjelaskan sah sewa terusan air atau sumur untuk mengambil manfaat airnya karena hajad.(Fathul Mu’in, (dicetak pada hamisy I’anah al-Thalibin): III/114)

 

Namun menurut keterangan pengarang I’anah al-Thalibin, pendapat al-Taqy al-Subki di atas adalah dhaif. (I’anah al-Thalibin: III/114)

3.  Imam al-Nawawi mengatakan :

الخامسة: لا يحوز أن يستأجر بركة ليأخذ منها السمك فلو استأجرها ليحبس فيها الماء حتى يجتمع فيها السمك جاز على الصحيح

Yang kelima : Tidak boleh menyewa kolam supaya mengambil ikan darinya. Karena itu, seandainya seseorang menyewa kolam untuk menahan air dalamnya sehingga terkumpul ikan di dalamnya, maka ini boleh berdasarkan pendapat shahih. (Al-Nawawi, Raudhah al-Thalibin: V/256)

 

4.  Dalam kitab Asnaa al-Mathalib disebut :

(وَتَصِحُّ إجَارَةُ مُصْحَفٍ وَكِتَابٍ) لِمُطَالَعَتِهِمَا وَالْقِرَاءَةِ مِنْهُمَا.(لَا) إجَارَةُ (بِرْكَةٍ لِصَيْدِ سَمَكٍ) مِنْهَا فَلَا تَصِحُّ كَاسْتِئْجَارِ الْأَشْجَارِ لِلثِّمَارِ (وَتَصِحُّ) إجَارَتُهَا (لِحَبْسِ مَا فِيهَا) حَتَّى يَجْتَمِعَ فِيهِ السَّمَكُ ثُمَّ (يَصْطَادَ مِنْهُ) .

Sah sewa mashaf al-Qur’an dan kitab untuk muthala’ah dan membaca keduanya, tidak sah menyewa kolam untuk berburu ikan darinya, maka tidak sah menyewa pohon untuk buahnya, akan tetapi sah menyewa kolam untuk menahan air di dalamnya sehingga berkumpul ikan di dalamnya, kemudian memburunya. (Zakariya al-Anshari, Asnaa al-Mathalib: II/435)

 

Mawah kebun

Mawah adalah aqad perjanjian antara dua orang (pemilik harta dan pengelola harta) untuk mengelola terhadap suatu harta dimana pengelola akan mendapatkan sebagian dari hasil yang didapati dari usaha tersebut yang jumlahnya  berdasarkan perjanjian antara keduanya,

Mawah yang sering berlaku dalam masyarakat Aceh ada beberapa macam ;

1.      Mawah binatang ternak.

2.      Mawah kebun palawija.

3.      Mawah kebun tanaman keras.

4.      Mawah tanah, (memawahkan tanah yang belum sepenuhnya menjadi lahan bercocok tanam, sasarannya untuk menjadi lahan pertanian)

5.      Mawah usaha (mawah yang terjadi pada para nelayan dan usaha lainnya)

6.      Mawah kerja, seperti mawah on meria (daun sagu) untuk dijadikan atap rumah, daun atap rumbia biasanya dibagi dua.

(Mawah dalam Masyarakat Aceh oleh Tgk. Abuyazid Al-Yusufie: 1-2)

 

Dalam tulisan ini, mengkhususkan pembahasan mawah pada tanaman keras dengan harapan menjadi solusi hukum terhadap tradisi carter (sewa) kebun untuk memiliki buahnya.yang dinyatakan tidak sah dalam mazhab Syafi’i. Dalam fiqh ada kajian hukum musaaqaah. Ibnu Hajar al-Haitami mendevinsikan musaaqaah:

)الْمُسَاقَاةِ) هِيَ مُعَامَلَةٌ عَلَى تَعَهُّدِ شَجَرٍ بِجُزْءٍ مِنْ ثَمَرَتِهِ مِنْ السَّقْيِ الَّذِي هُوَ أَهَمُّ أَعْمَالِهَا

Musaaqaah adalah akad muamalah untuk melakukan pengelolaan tumbuh-tumbuhan berupa menyiram yang merupakan yang terpenting dari bentuk pengelolaan lainnya dengan imbalan separuh buahnya (Tuhfah al-Muhtaj VI/106)

 

Dengan kata lain, musaaqaah adalah aqad perjanjian antara dua orang (pemilik kebun dan pengelola kebun) untuk mengelola sebidang kebun dimana pengelola akan mendapatkan sebagian dari hasil yang didapati dari usaha tersebut yang jumlahnya  berdasarkan perjanjian antara keduanya

Kemudian beliau menjelaskan objek musaaqaah menurut qaul jadid:

)وَمَوْرِدُهَا النَّخْلُ وَالْعِنَبُ) لِلنَّصِّ فِي النَّخْلِ وَأُلْحِقَ بِهِ الْعِنَبُ بِجَامِعِ وُجُوبِ الزَّكَاةِ وَإِمْكَانِ الْخَرْصِ

Objek musaaqaah adalah kurma dan anggur karena ada nash dalam hal kurma. Adapun anggur disamakan dengan kurma dengan persamaannya sama-sama wajib zakat memungkinkan perkiraannya.(Tuhfah al-Muhtaj VI/107)

 

Berdasarkan ini, maka musaaqaah ini identik dengan akad mawah kebun tanaman keras yang sudah menjadi tradisi di Aceh sebagaimana dalam penjelasan Tgk. Abuyazid Al-Yusufie di atas.

Dalam qaul qadim musaaqah ini dibolehkan pada semua tumbuh-tumbuhan yang ada pohonnya dan berbuah :

)وَجَوَّزَهَا الْقَدِيمُ فِي سَائِرِ الْأَشْجَارِ الْمُثْمِرَةِ (لِقَوْلِهِ فِي الْخَبَرِ السَّابِقِ مِنْ ثَمَرٍ أَوْ زَرْعٍ وَلِعُمُومِ الْحَاجَةِ وَاخْتِيرَ وَالْجَدِيدُ الْمَنْعُ؛ لِأَنَّهَا رُخْصَةٌ فَتَخْتَصُّ بِمَوْرِدِهَا

Pendapat qadim membolehkan musaaqaah pada semua tumbuh-tumbuhan yang berbuah. Karena hadits sebelumnya, yaitu buah dan zuru’ dan karena umum hajat. Pendapat ini ada yang memilihnya. Pendapat jadid, terlarang, karena musaaqaah rukhsah. Karena itu, hanya berlaku pada yang ada nashnya. (Tuhfah al-Muhtaj VI/107-108)

 

Penjelasan lebih lanjut terkait makna tumbuh-tumbuhan yang berbuah.dapat diperhatikan pada kutipan di bawah ini;

قَوْلُ الْمَتْنِ (فِي سَائِرِ الْأَشْجَارِ الْمُثْمِرَةِ) احْتَرَزَ بِالْأَشْجَارِ عَمَّا لَا سَاقَ لَهُ كَالْبِطِّيخِ وَقَصَبِ السُّكَّرِ وَبِالْمُثْمِرَةِ عَنْ غَيْرِهَا كَالتُّوتِ الذَّكَرِ وَمَا لَا يُقْصَدُ ثَمَرُهُ كَالصَّنَوْبَرِ فَلَا تَجُوزُ الْمُسَاقَاةُ عَلَيْهِمَا عَلَى الْقَوْلَيْنِ اهـ مُغْنِي

Perkataan matan: (pada semua pohon yang berbuah), pada perkataan pohon tidak termasuk di dalamnya tumbuh-tumbuhan yang tidak mempunyai pohonnya seperti semangka dan tebu. Pada perkataan berbuah tidak termasuk di dalamnya yang tidak berbuah seperti murbei jantan dan tumbuhan yang memang tidak diqashad buahnya seperti cemara. Maka tidak boleh musaaqah pada keduanya berdasarkan kedua qaul. Hasyiah Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj: VI/107-108)

 

Pendapat qadim ini sebagai penjelasan Tuhfah al-Muhtaj di atas ada ulama pengikuti Syafi’i yang memilihnya. Diantara ulama yang memilih pendapat qadim ini adalah Imam al-Nawawi. Pendapat qadim ini juga merupakan pendapat Malik dan Ahmad sebagaimana penjelasan di bawah ini.

)وَجَوَّزَهَا الْقَدِيمُ فِي سَائِرِ الْأَشْجَارِ الْمُثْمِرَةِ) كَتِينٍ وَتُفَّاحٍ لِوُرُودِهِ فِي الْخَبَرِ مِنْ ثَمَرٍ أَوْ زَرْعٍ وَلِعُمُومِ الْحَاجَةِ، وَاخْتَارَهُ الْمُصَنِّفُ فِي تَصْحِيحِ التَّنْبِيهِ

Pendapat qadim membolehkan musaaqaah pada semua tumbuh-tumbuhan yang berbuah.seperti tin, apel karena datang pada hadits yaitu buah dan zuru’ dan juga karena umum hajat. Pendapat qadim ini telah dipilih oleh pengarang (Imam al-Nawawi) dalam tashih al-Tanbih (Nihayah al-Muhtaj: V/246)

 

Zainuddin al-Malibari mengatakan,

وجوزها القديم في سائر الاشجار، وبه قال مالك وأحمد، واختاره جمع من أصحابنا

Pendapat qadim membolehkan musaaqaah pada semua tumbuh-tumbuhan. Pendapat ini merupakan pendapat Malik dan Ahmad. Sekelompok pengikut Syafi’I telah memilih pendapat ini. (Hasyiah I’anah al-Thalibin ‘ala Fathul Muin : III/125)

 

Alhasil, menurut hemat kami carteran kebun untuk memiliki buahnya yang sudah kita nyatakan tidak sah menurut mazhab Syafi’i karena mengandung gharar dapat ganti akadnya dengan melakukan akad musaaqaah (dalam tradisi di Aceh biasanya disebut dengan mawah) dengan berpegang pada qaul qadim Imam Syafi’i dengan memperhatikan catatan/pertimbangan berikut ini.

1.  Qaul qadim ini tidak terlalu dhaif. Buktinya qaul qadim ini juga merupakan pendapat Malik dan Ahmad

2.  Qaul qadim ini telah dipilih minhaitsu dalil, tidak minhaitsu mazhab oleh sekelompok ulama Syafi’iyah (di dalamnya termasuk Imam al-Nawawi)

3.  Qaul qadim ini merupaka solusi untuk ummat dalam meningkatkan taraf hidupnya. Ini merupakan hajat yang sifatnya umum

4.  Karena ini merupakan pendapat dhaif dalam mazhab, maka tidak boleh menjadi fatwa. Akan tetapi boleh di amalkan untuk diri sendiri. Kepada orang alim dibolehkan menyampaikan cara pengamalan ini dengan jalan irsyad, tidak dengan jalan fatwa.

Syeikh Ahmad al-Khathib mengatakan,

قال في الفوائد وكذا يجوز الأخذ والعمل لنفسه بالأقوال والطرق والوجوه الضعيفة الا بمقابل الصحيح فان الغالب فيه انه فاسد و يجوزالافتاء به للغير بمعنى الارشاد وبه قال الشيخ ابن حجر في الفتاوي

Pengarang al-Fawaid mengatakan, demikian juga boleh mengambil dan beramal untuk diri sendiri qaul, thuruq-thuruq dan wajh dhaif kecuali lawan dari pendapat shahih, karena ghalibnya fasid dan boleh juga berfatwa dengannya untuk orang lain dengan makna irsyad (memberikan bimbingan). Penjelasan ini juga telah dikemukakan oleh Syeikh Ibnu Hajar dalam al-Fatawa. (Hasyiah al-Nufahaat ‘ala Syarah al-Warqaat: 170)

 

Muhammad bin Sulaiman al-Kurdiy mengatakan dalam al-Fawaid al-Madaniyah sebagai berikut :واما اذا افتاه بالضعيف على طريق التعريف بحاله وانه يجوز للعامي تقليده بالنسبة للعمل به فغير الممتنع كما سنبينه لك ان شاء الله تعالى

Adapun apabila seseorang berfatwa dengan pendapat dha’if atas jalan memberitahukan keadaan dhaifnya, maka itu tidak terlarang sebagaimana akan kami jelaskan kepadamu Insya Allah Ta’ala dan boleh bagi orang awam taqlidnya dinisbahkan untuk beramal. (al-Fawaid al-Madaniyah: 58)

Batas Kewajiban Ketauhidan bagi orang awam

 

Pengertian ilmu tauhid.

Tauhid menurut bahasa adalah :

العلم بأن الشيِء واحدا

Mengetahui sesuatu adalah satu

 

Sedangkan menurut syara’ adalah :

علم يقتدر به على اثبات العقائد الدينية مكتسب من أدلتها اليقينية

Ilmu yang dengan sebabnya mempunyai kemampuan menetapkan ‘aqaid agama, ilmu tersebut diusahakan dari dalil-dalil yang yakin. (Hasyiah al-Bajuriy ‘ala Jauharah al-Tauhid : 38)

 

Dalil yaqiniyah ini mencakup dalil ‘aqli dan dalil naqli.

Maudhu’ (objek) ilmu tauhid

1.  Zat Allah Ta’ala dari aspek sifat yang wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah Ta’ala

2.  Zat rasul-rasul Allah dari aspek sifat yang wajib, mustahil dan jaiz bagi mereka

3.  Alam yang bersifat mumkinat atau baharu dari aspek dapat mengantarkan kepada keyakinan ada penciptanya

4.  Al-sam’iyaat (keyakinan yang hanya dapat dipahami dari keterangan nash syara’) dari aspek kewajiban mengi’tiqadnya. (Hasyiah al-Bajuriy ‘ala Jauharah al-Tauhid : 39)

Tsamarah (manfaat) ilmu tauhid

Mengenal Allah Ta’ala dengan dalil yang qath’i dan mendapat kemenangan mendapatkan kebahagiaan yang abadi (Hasyiah al-Bajuriy ‘ala Jauharah al-Tauhid : 39)

Pencetus  ilmu tauhid

Yang membangun pondasi dan pencetus pertama ilmu tauhid adalah Imam al-Asy’ari dan Imam al-Maturidiy serta pengikut keduanya, dalam arti kedua imam ini dan pengikutnya merupakan orang pertama yang membukukan ilmu tauhid serta menolak argumentasi-argumentasi kaum Muktazilah dan kelompok sesat lainnya. Adapun kandungan keyakinan aqidahnya sudah duluan ada bersumber dari Nabi Muhammad SAW serta nabi-nabi sebelumnya. (Hasyiah al-Bajuriy ‘ala Jauharah al-Tauhid : 40)

Sumber rujukan

Sumber rujukan ilmu tauhid adalah dalil akal dan naqal (Hasyiah al-Bajuriy ‘ala Jauharah al-Tauhid : 40)

 Hukumnya

Hukum mempelajari ilmu tauhid adalah fardhu ‘ain atas setiap mukallaf (Hasyiah al-Bajuriy ‘ala Jauharah al-Tauhid : 40)

Batasan minimal fardhu ‘ain mengetahui ilmu tauhid

Secara garis besar kewajiban iman sesuai dengan pengertian iman yang dikemukakan oleh Ibrahim al-Bajuri berikut ini :

تصديق النبي صلعم في كل ما جاء وعلم من الدين بالضرورة

Membenarkan Nabi SAW pada setiap yang datang dan dimaklumi dari agama secara dharuri. (Hasyiah al-Bajuriy ‘ala Jauharah al-Tauhid : 90-91)

 

Kemudian Ibrahim al-Bajuri menjabarkan sebagai berikut :

ويكفي الإجمال فيما يعتبر التكليف به إجمالا كالإيمان بغالب الأنبياء والملائكة، ولا بد من التفصيل فيما يعتبر التكليف به تفصيلا كالإيمان بجمع من الأنبياء والملائكة، فالجمع الذي يجب معرفتهم تفصيلا من الأنبياء خمسة وعشرون

Memadai secara ijmal dalam perkara-perkara yang dii’tibar taklif secara ijmal seperti mengimani umumnya para nabi dan malaikat dan tidak boleh tidak mengimani secara tafshil dalam perkara-perkara yang dii’tibar taklif secara tafshil seperti mengimani sekelompok para nabi dan malaikat. Karena itu, kelompok para nabi yang wajib mengenalnya secara tafshil adalah 25 orang. (Hasyiah al-Bajuriy ‘ala Jauharah al-Tauhid : 91)

 

Mengimani jumlah para nabi 25 orang secara tafshil ini bukan dalam arti wajib menghafal nama 25 nabi., akan tetapi dengan makna tidak mengingkarinya apabila nama-nama tersebut dikemukakan kepadanya.

ومعنى كون الإيمان واجبا بهم تفصيلا إنه لو عرض عليه واحد منهم لم ينكر نبوته ولا رسالته، فمن أنكر نبوة واحد منهم أو رسالته كفر، لكن العامي لا يحكم عليه بالكفر إلا إن أنكر بعد تعليمه، وليس المراد أنه يجب حفظ أسمائهم خلافا لمن زعم ذلك،

Makna mengimani para nabi secara tafshil adalah apabila dikemukakan salah satu nama para nabi tersebut, tidak diingkar kenabian dan kerasulannya. Maka barangsiapa yang mengingkari kenabian atau kerasulannya, hukumnya adalah kafir. Akan tetapi tidak dihukum kafir orang awam kecuali dia mengingkarinya sesudah mentaklimnya. Ini bukan maksudnya, wajib menghafal nama-nama mereka, ini berbeda dengan pendapat yang mendakwa demikian. (Hasyiah al-Bajuriy ‘ala Jauharah al-Tauhid : 91-92)

 

Alhasil, iman adalah :

فالإيمان شرعا هو التصديق بجميع ما جاء به النبي، مما علم من الدين بالضرورة إجمالا في الإجمالي، وتفصيلا في التفصيلي

Iman menurut syara’ adalah membenarkan semua yang didatang oleh Nabi SAW, yaitu yang dimaklumi dari agama secara dharuriy secara ijmal dalam perkara ijmali dan tafshil dalam perkara tafshili. (Hasyiah al-Bajuriy ‘ala Jauharah al-Tauhid : 92)

 

Apabila kita jabarkan lebih lanjut, maka kewajiban dalam hal aqidah dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1.  Mengetahui dan mengi’tiqad sifat yang wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah Ta’ala dengan dalil akal yang ijmali (al-uluhiyaat)

2.  Mengetahui dan mengi’tiqad sifat yang wajib, mustahil dan jaiz bagi rasul-rasul dengan dalil akal yang ijmali.(al-Nubuwaat)

3.  Mengetahui dan mengi’tiqad berita-berita yang sifatnya qath’i dari nash syara’ (al-sam’iyaat) seperti adanya hari kebangkitan, surga dan neraka, mizan, hisab, azab kubur, kolam nabi SAW, titian sirathal mustaqim, melihat tuhan di surga, adanya malaikat baik secara ijmal maupun tafshil, adanya para nabi dan rasul baik secara ijmal maupun tafshili, adanya jin, syaithan, dan lain-lain.

Adapun batas kewajiban mengenal dalil ketauhidan, Imam al-Sanusi menjelaskan sebagai berikut:  

 ولا نزاع بين المتكلمين في عدم وجوب المعرفة بالدليل التفصيلي على الأعيان وإنما هو كفاية

Tidak ada pertentangan di antara ahli kalam tentang tidak wajibnya mengetahui dalil mendetail (dalil tafshiliy) terhadap masing-masing orang. Itu tidak lain hanyalah fardhu kifayah. (‘Umdat Ahl at-Taufîq :13).

 

Mendalami tauhid dengan metode ilmu kalam

Ilmu kalam merupakan argumentasi-argumentasi rasional untuk mempertahankan aqidah Islam dari rongrongan syubhat-syubhat dan kesesatan baik dari internal umat Islam yang menyimpang maupun dari pihak eksternal. Ibnu Khaldun mengatakan :

Ilmu kalam sebagaimana penjelasan Ibnu Khaldun adalah :

هو علم يتضمن الحجاج عن العقائد الإيمانية بالأدلة العقلية والرد على المبتدعة المنحرفين في الاعتقادات عن مذاهب السلف واهل السنة

Ilmu yang membahas tentang argumentasi tentang aqidah keimanan dengan berlandaskan kepada akal serta membantah golongan ahli bid’ah yang menyimpang dari akidah mazhab salaf dan kaum ahlussunah. (Muqaddimah Ibnu Khaldun : 458)

 

Argumentasi-argumentasi teologis dalam ilmu kalam tergolong rumit bagi kebanyakan orang awam. Tidak semua orang mampu mengenal Tuhan dengan cara dialektis (qiyas ‘aqli), seperti misalnya menyusun argumen: “Alam ini berubah, setiap yang berubah pastilah baharu, setiap yang baharu pasti ada penciptanya, pencipta dari segalanya adalah Tuhan”. Demikian juga seperti teori kemustahilan daur dan tasalsul 

ولا يشترط معرفة النظر على طريق المتكلمين من تحرير الادلة وترتيبها ودفع الشبهة الواردة عليها

Tidak disyaratkan mengenal nadhar (dalil) dengan metode para ahli kalam dalam hal mengonsep dan penyusunan dalil serta menolak syubhat yang muncul atasnya.(Hasyiah al-Dusuqi ‘ala Syarh Umm al-Baraahiin : 67)

 

Bahkan memperkenalkan ilmu tauhid kepada awam dalam bentuk kajian dan argumentasi yang rumit, tidak dapat dicerna dengan akal umum manusia seperti ilmu kalam dan kajian tasauf tingkat tinggi menjadi haram, karena dapat menjerumus orang awam kepada kesesatan.

Ibnu Abbas dari Nabi SAW bersabda :

أمرنا أن نكلم الناس على قدر عقولهم

Kami diperintahkan berbicara dengan manusia menurut qadar akal mereka.(H.R. al-Dailamiy)

Hadits ini meskipun dhaif, akan tetapi didukung oleh hadits yang ditakhrij oleh Imam Muslim dalam muqaddimah Shahihnya dari Ibnu Mas’ud, berkata :

ما أنت بمحدث قومًا حديثًا لا تبلغه عقولهم إلا كان لبعضهم فتنة

Tidaklah kamu berbicara dengan suatu kaum suatu pembicaraan yang tidak sampai akal mereka kecuali hal itu menjadi fitnah bagi sebagian mereka.

(al-Ajwabah al-Mardhiah, karangan al-Shakhawiy : I/294)

 

Sesuai dengan ini, tidak heran sebagian ulama mengharamkan belajar kitab Umm al-Barahiin. Al-Sayyid ‘Alawiy bin Ahmad al-Saqaaf mengatakan,

وقد جزم بعضهم حرمة قرأة أم البرأهين عقيدة السنوسي على بعض العوام

Sebagian ulama menegaskan haram membaca Kitab Umm al-Baraahiin, Aqidah al-Sanusi atas sebagian awam.(Sab’ah al-Kutub al-Mufidah; 38)

 

Dalam ilmu tasauf terkenal ungkapan :

فقد قال العارفون ‌إفشاء ‌سر الربوبية كفر

Para ulama ‘arifiin mengatakan, membuka rahasia ketuhanan adalah kufur (Ihya ulumuddin: I/100)

 

Dalam Fath al-Mu’in, Zainuddin al-Malibariy mengatakan,

نعم، يحرم على من لم يعرف حقيقة اصطلاحهم وطريقتهم مطالعة كتبهم فإنها مزلة قدم له، ومن ثم ضل كثيرون اغتروا بظواهرها.

Namun demikian, haram atas orang yang tidak mengenal hakikat istilah dan metode mereka (ahli shufi) muthala’ah kitab-kitab mereka. Karena yang demikian dapat menggelincirkannya. Karena inilah, banyak orang yang tertipu dengan makna dhahirnya.(Hasyiah I’anah al-Thalibin ‘ala Fath al-Mu’in: 134)

 

 

 

Minggu, 05 November 2023

Jamak shalat dalam pandangan fiqh

 

Islam adalah agama yang memberi kemudahan bagi para pemeluknya. Salah satunya adalah keringanan bagi orang yang sedang melakukan perjalanan jauh dengan menjamak. Jamak adalah mengumpulkan dua pelaksanaan shalat fardhu dalam satu waktu shalat, seperti melaksanakan shalat Dhuhur dan Ashar pada waktu Dhuhur sekaligus. Shalat yang bisa dijamak adalah Dhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya. Jika dilakukan di waktu shalat yang pertama (Dhuhur atau Maghrib) dinamakan jamak taqdim, jika dilakukan di waktu shalat yang kedua (Ashar atau Isya) dinamakan jamak ta’khir. Diantara hadits yang memberi petunjuk kebolehan jamak shalat adalah riwayat Anas bin Maalik r.a, beliau berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ العَصْرِ، ثُمَّ يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا، وَإِذَا زَاغَتْ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ

Nabi SAW jika bepergian sebelum matahari condong ke barat (sebelum masuk waktu Dhuhur), maka beliau mengakhirkan salat Dhuhur di waktu Ashar, kemudian menjamak kedua salat tersebut. Jika beliau bepergian setelah matahari condong ke barat (setelah masuk waktu Dhuhur), beliau salat Dhuhur kemudian berangkat. (H.R. Bukhari dan Muslim)


Syarat jamak shalat karena musafir (perjalanan)

Adapun syarat-syarat jamak shalat antara lain:

1.  Jamak shalat dilakukan dengan melakukan shalat magrib pada waktu ‘Isya (jamak ta’khir) atau sebaliknya (jamak taqdim) dan shalat dhuhur pada waktu ‘Ashar (jamak ta’khir) atau sebaliknya (jamak taqdim)

2.  Dalam keadaan musafir panjang, yaitu jarak tempuhnya dua marhalah (Syarah al-Mahalli: I/299). Adapun ukuran jarak tempuh apabila menggunakan ukuran jarak tempuh zaman sekarang adalah 138,24 km atau lebih. Ini apabila merujuk kepada penghitungan yang dilakukan Tgk H. Muhammad Yusuf A. Wahab dan Tgk Tarmidzi al-Yusufi  (risalah Miqdar al-Syar’i: 11). Namun menurut Dr. Musthafa Al-Khin ukurannya adalah 81 km.atau lebih (al-Fiqh al-Manhajiy ‘ala Mazhab al-Imam al-Syafi’i: I/190). Yang mendekati pendapat yang terakhir ini adalah pendapat yang dikemukakan H. Sulaiman Rasjid, yaitu minimal menempuh jarak perjalanan 80,640 km.(Fiqh Islam: 120).

3.  Tujuan musafir bukan maksiat. Karena jamak shalat merupakan rukhsah (keringanan) dalam agama, sedangkan rukhsah tidak boleh karena faktor maksiat. Qaidah fiqh mengatakan :

الرخصة لا تناط بالمعصية

Rukhsah tidak digantung dengan maksiat.

 

4.  Keringanan kebolehan jamak shalat bisa hilang apabila:

a.  Sudah kembali ke kampung halaman.

b.  Sampai di tempat tujuan dengan niat menetap secara mutlaq di tempat tujuan tersebut (tanpa diqaitkan dengan jumlah hari)

c.  Sampai di tempat tujuan dengan niat menetap di tempat tujuan tersebut selama empat hari penuh atau lebih

d.  Sampai di tempat tujuan serta ada keyakinan atau dugaan dalam hati bahwa keperluannya akan selesai dalam empat hari penuh di tempat tujuan tersebut

Dalam Fath al-Mu’in disebutkan :

وينتهي السفر بعوده إلى وطنه، وإن كان مارا به، أو إلى موضع آخر، ونوى إقامته به مطلقا أو أربعة أيام صحاح، أو علم أن إربه لا ينقضي فيها

Habis masa musafir dengan kembalinya kepada tempat tinggal menetap seseorang, meskipun ia hanya melewatinya saja, atau dengan sebab sampai ketempat lain, dimana dia meniatkan menetap ditempat itu secara mutlaq atau empat hari penuh atau ia memaklumi bahwa ia selesai keperluannya dalam empat hari penuh.(Hasyiah I’anah al-Thalibin ‘ala Fathul Mu’in: II/101-102)

 

Hukum jamak shalat tidak dalam keadaan musafir

Adapun hukum jamak shalat tidak dalam keadaan musafir dapat disimak penjelasan Imam al-Nawawi dalam Majmu’ Syarah al-Muhazzab berikut :

(فَرْعٌ) فِي مَذَاهِبِهِمْ فِي الْجَمْعِ فِي الْحَضَرِ بِلَا خَوْفٍ ولا سفر وَلَا مَرَضٍ: مَذْهَبُنَا وَمَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ وَمَالِكٍ وَأَحْمَدَ وَالْجُمْهُورِ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ وَحَكَى ابْنُ الْمُنْذِرِ عَنْ طَائِفَةٍ جَوَازَهُ بِلَا سَبَبٍ قَالَ وجوزه بن سِيرِينَ لِحَاجَةٍ أَوْ مَا لَمْ يَتَّخِذْهُ عَادَةً

Masalah mazhab ulama tentang jamak shalat pada waktu hazhir (tidak musafir) tanpa faktor ketakutan, musafir dan sakit, yakni mazhab kita (Mazhab Syafi’i), Mazhab Abu Hanifah, Malik, Ahmad dan jumhur ulama berpendapat tidak boleh. Namun Ibnu al-Munzir menceritakan pendapat dari sekelompok ulama yang mengatakan boleh dengan tanpa sebab apapun. Ibnu Siriin membolehkannya karena kebutuhan atau selama tidak menjadikannya sebagai suatu kebiasaan. (Majmu’ Syarah al-Muhazzab IV/264)

 

Juga penjelasan Imam al-Nawawi  dalam Raudhah al-Thalibin :

وَقَدْ حَكَى الْخَطَّابِيُّ عَنِ الْقَفَّالِ الْكَبِيرِ الشَّاشِيِّ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ جَوَازَ الْجَمْعِ فِي الْحَضَرِ لِلْحَاجَةِ مِنْ غَيْرِ اشْتِرَاطِ الْخَوْفِ، وَالْمَطَرِ، وَالْمَرَضِ، وَبِهِ قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ مِنْ أَصْحَابِنَا

Al-Khathabiy sungguh telah menceritakan dari al-Qafal al-Kabiir al-Syaasyii dari Abu Ishaq al-Marwaziy boleh jamak pada waktu hazhir (tidak musafir) karena ada kebutuhan tanpa disyaratkan ada ketakutan, hujan dan sakit. Pendapat ini merupakan pendapat Ibnu al-Munzir dari pengikut Syafi’i. (Raudhah al-Thalibin I/401)

 

Sesuai dengan penjelasan al-Nawawi di atas, bahwa jumhur ulama, termasuk di dalamnya imam mazhab empat berpendapat jamak shalat shalat tanpa faktor musafir, hujan, ketakutan dan sakit tidak dibolehkan. Dengan demikian pendapat yang mengatakan boleh jamak shalat hanya karena hajat (kebutuhan) atau selama tidak menjadi kebiasaan bertentangan dengan mazhab yang empat dan jumhur ulama. Al-Ruyaaniy telah menyebut pendapat ini sebagai pendapat ghalzun (tersalah) (Bahr al-Mazhab II/350). Pendapat ini juga bertentangan dengan hadits Nabi SAW berbunyi :

من جمع بين صلاتين من غير عذر فقد أتى بابا من أبواب الكبائر

Barangsiapa yang melakukan jamak antara dua shalat dengan tanpa ‘uzur, maka dia telah mendatangkan pintu dari pintu-pintu dosa besar. (H.R. al-Turmidzi, al-Baihaqi dan lainnya)

 

Setelah menolak pendapat yang mengatakan boleh jamak shalat hanya karena hajat (kebutuhan) atau selama tidak menjadi kebiasaan dengan mengemukakan dalil-dalilnya, Ismail al-Zain (W. 1382 H), seorang ulama mazhab Syafi’i mutaakhirin, menyimpulkan :

إذا علم هذا فما عليه أئمة المذاهب الأربعة هو المعتمد وهو الذي يدين الله به من يريد الاستبراء للدين وما سوى ذلك لا يعول عليه ولا يجوز اعتماده ولا تقليد قائله

Apabila ini sudah dimaklumi, maka apa yang menjadi pegangan mazhab yang empat adalah mu’tamad (menjadi pegangan) dan dengannya orang-orang yang mau menjagakan diri bagi  agamanya, menundukkan diri kepada Allah. Tidak bersandar kepada selain itu (selain pendapat mazhab empat) dan tidak boleh berpegang dengannya dan juga tidak boleh taqlid kepada yang mengatakan pendapat tersebut. (Qurratul ‘Ain bi Fatawa Isma’il al-Zain :82)

 

Adapun hadits Nabi SAW berbunyi :

أن النبي صلى الله عليه وسلم جمع بالمدينة من غير خوف ولا مطر

Sesungguhnya Nabi SAW melakukan shalat secara jamak di Madinah tanpa ada sebab ketakutan dan hujan (H.R. Muslim)

 

Diantara takwil hadits ini yang dikemukakan jumhur ulama, yang dimaksud jamak dalam hadits ini adalah al-jam’u al-shuuri (seperti bentuk jamak), yakni melaksanakan shalat waktu pertama pada akhir waktunya dan melaksanakan shalat waktu kedua pada awal waktunya, sehingga kedua shalat tersebut berhampiran waktu pelaksanaannya, seolah-olah seperti shalat jamak. (Qurratul ‘Ain bi Fatawa Isma’il al-Zain :82)


Jamak shalat karena hujan

Dalam I’anah al-Thalibin dijelaskan syarat-syarat jamak shalat ketika hujan sebagai berikut :

a.  Boleh jamak shalat jamak taqdim saja

b.  Syarat2nya seperti syarat jamak taqdim dalam musafir (musafir tidak menjadi syarat)

c.  Wujud hujan pada ketika takbiratul ihram shalat pertama, ketika tahallul (sudah melakukan salam) shalat pertama dan sampai melakukan takbiratul ihram shalat kedua.

d.  Orang yang merencanakan melakukan jamak tersebut melakukan shalat secara berjama’ah di mesjid atau tempat lain yang jauh dari rumahnya. Ukuran jauh itu apabila orang tersebut pulang kerumahnya dapat menyebabkan basah bajunya. (I’anah al-Thalibin: II/105)


Jamak shalat karena ketakutan atau sakit

Imam al-Nawawi mengatakan,

المشهور في المذهب ‌والمعروف ‌من ‌نصوص ‌الشافعي وطرق الأصحاب أنه لا يجوز الجمع بالمرص والريح والظلمة ولا الخوف ولا الوحل

Pendapat yang masyhur dalam mazhab dan yang ma'ruf dalam nash-nash Imam Syafi'i serta jalur para ulama pengikut beliau adalah tidak boleh menjama' karena sakit, angin, gelap malam, takut ataupun karena lumpur. (Al-Majmu’ Syarah al-Muhazzab: IV/383)

 

Sebelumnya, beliau mengatakan,

وأما الوحل والظلمة والريح والمرض والخوف فالمشهور من المذهب أنه لا يجوز الجمع بسببها وبه قطع المصنف والجمهور وقال جماعة من أصحابنا بجوازه

Adapun karena takut lumpur, kegelapan malam, angin, sakit dan rasa takut, maka menurut yang masyhur dalam mazhab tidak boleh jamak dengan sebabnya. Pendapat ini telah ditegaskan (qatha’) oleh pengarang al-Muhazzab dan Jumhur ulama. Namun demikian, satu jamaah dari kalangan ulama Syafi’iyah berpendapat boleh jamak. (Al-Majmu’ Syarah al-Muhazzab: IV/381)

 

Sesuai dengan keterangan Imam al-Nawawi di atas, maka pendapat yang menjadi pegangan dalam mazhab Syafi’i adalah tidak boleh melakukan jamak shalat karena alasan ketakutan atau sakit. Namun demikian ada sekelompok ulama Syafi’iyah yang berpendapat boleh jamak shalat tersebut.

Wallahua’lam bisshawab