Kamis, 18 Januari 2024

Membaca ta’awudz dan basmalah sebelum ayat al-Qur’an Ketika berhujjah

 

Sebelum mulai membaca ayat-ayat suci dalam al-Qur'an, umat Islam biasanya mengawali dengan ucapan ta'awudz dan basmalah, meskipun pembacaan ayat al-Qur’an tersebut dimulai di pertengahan surat. Pengertian ta’awudz di sini adalah ucapan, “a’uu dzubillahi minassyaithanirrajiim” dan pengertian basmalah adalah ucapan “bismillahirrahmanirrahiim”.

Anjuran membaca ta’awudz dapat dipahami antara lain dalam firman Allah Ta’ala:

فَإِذَا قَرَأْتَ ٱلْقُرْءَانَ فَٱسْتَعِذْ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ

Apabila kamu membaca Al-Qur'an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (Q.S. An-Nahl ayat: 98)

Adapun dalil anjuran membaca basmalah berdasarkan keumuman hadits Nabi SAW berbunyi:

كل أمر ذي بال لايبدأ فيه ببسم الله فهو أقطع

Sesuatu pekerjaan yang penting yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah adalah buntung, yakni tidak ada hasilnya. (H.R. Abu Daud)

 

Imam al-Nawawi mengatakan, hadits ini kualitasnya hasan.(al-Azkar/103). Sesuai dengan maksud hadits ini, Zainuddin al-Malibary mengatakan dalam kitabnya:

تسن التسمية لتلاوة القران و لو من اثناء سورة فى صلاة او خارجها و لغسل و تيمم و ذبح

Disunnahkan membaca basmalah ketika membaca al-Qur'an meskipun berada di tengah-tengah surat baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Sunnah juga ketika mandi, tayamum dan menyembelih. (Fathul Muin, (dicetak pada hamisy I’anah al-Thalibin): I/44)

 

Dalam Kitabusshalah kitab Fathul Muin juga, Zainuddin al-Malibarry bahkan menegaskan bahwa kesunnahan membaca basmallah ketika mulai membaca di tengah-tengah surat merupakan nash dari Imam Syafi’i. Perkataan al-Malibarry tersebut adalah :

ويسن لمن قرأها من أثناء السورة البسملة نص عليه الشافعي

Sunnah membaca basmallah bagi orang-orang yang membacanya pada tengah-tengah surat. Ini merupakan nash Imam Syafi’i. (Fathul Muin, (dicetak pada hamisy I’anah al-Thalibin): I/49)      

                                     

Sebagian umat Islam anjuran membaca ta’awudz dan basmalah ini dipahami sampai melebar kepada ketika membaca ayat al-Qur’an dalam rangka berhujjah dan mengemukan dalil dalam diskusi maupun ceramah agama lainnya. Ucapan dalam berhujjah biasanya dengan mengucapkan, “Qaalallahu Ta’ala fiil qur’anilkarim” atau dalam Bahasa Indonesia “Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an yang mulia” atau yang semakna dengannya, kemudian membaca ta’awudz, kemudian membaca basmalah. Ada juga membaca ta’awudz saja atau basmalah saja. Sesudah itu baru membaca ayat al-Qur’an yang ingin dibacakan. Untuk lebih memahami rangkain kalam ini, perhatikan contoh berikut ini:

“Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an, Surat al-Baqarah, ayat 2: A’uu dzubillahi minassyaithanirrajiim, Bismillahirrahmanirrahiim,

ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

Rangkaian kalam seperti ini, tentunya akan mengakibatkan kerancuan maknanya serta dapat mengakibatkan kesalahpahaman pendengar dalam menentukan mana yang menjadi firman Allah Ta;ala. Karena penempatan ta’awudz dan basmalah sesudah ucapan ““Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an” telah menempatkan ta’awudz dan basmalah termasuk dalam rangkaian firman Allah. Ini tentu menyalahi dengan yang sebenarnya. Karena itu, Imam al-Suyuthi dalam kitab al-Hawi lil Fatawi, beliau mengatakan, 

وإن قال أعوذ بالله من الشيطان الرجيم وذكر الآية ففيه من الفساد جعل الاستعاذة مقولا الله وليست من قوله

Jika seseorang mengatakan, “Auu’dzu billahi minassyaithanirrajiim, kemudian menyebut ayat, maka di sini muncul kerancuan sebab menjadikan ta’awudz bagian dari firman Allah, sedangkan ia bukan firman Allah.(al-Hawi lil Fatawi; I/353)

 

Hal yang sama tentunya juga berlaku apabila seseorang membaca basmalah sebelum pengucapan ayat al-Qur’an dalam berhujjah sebagaimana pengucapan ta’awudz sebelum pengucapan ayat al-Qur’an. Karena akan menempatkan basmalah menjadi bagian dari ayat al-Qur’an yang dibaca.

Pada halaman sebelumnya, Imam al-Suyuthi mengatakan,        

فأقول الذي ظهر لي من حيث النقل والاستدلال أن الصواب أن يقول قال الله تعالى ويذكر الآية ولا يذكر الاستعاذة فهذا هو الثابت في الأحاديث والآثار من فعل النبي صلى الله عليه وسلم والصحابة والتابعين فمن بعدهم

Aku mengatakan, pendapat yang dhahir menurutku setelah memperhatikan dalil naqli dan pendaliliannya, maka yang benar adalah seseorang mengatakan, “Allah Ta’ala berfirman”, kemudian menyebut ayat al-Qur’an, tanpa menyebut ta’awudz. Inilah yang shahih dalam hadits-hadits dan atsar berupa perbuatan Nabi SAW, para Sahabat dan Tabi’in serta ulama-ulama sesudahnya.(al-Hawi lil Fatawi; I/352)

 

Imam al-Suyuthi menyebut beberapa hadits yang dapat dijadikan contoh pengucapan ayat al-Qur’an tanpa ucapan ta’awudz sebelumnya dalam mengemukakan dalil dalam bentuk ucapan “Allah Ta’ala berfirman” atau sejenisnya sebelum pengucapan ayat al-Qur’an, antara lain:

عن أنس قال: قال: أبو طلحة يا رسول الله إن الله يقول لن تنالوا البر حتى تنفقوا مما تحبون وإن أحب أموالي إلي بيرحاء

Dari Anas, beliau berkata, Abu Thalhah berkata, Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah berfirman, “Kalian tidak akan mendapat kebaikan sehingga kalian infaqkan dari apa yang kalian cintai.” dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha' itu (H.R. Ahmad, Bukhari, Muslim dan al-Nisa’i)

 

عن علي قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من ملك زادا وراحلة ولم يحج بيت الله فلا يضره مات يهوديا أو نصرانيا وذلك بأن الله تعالى يقول ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا ومن كفر فإن الله غني عن العالمين

Dari Ali berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang memiliki bekal dan kendaraan yang cukup untuk dijadikan bekal ke Baitullah, namun dia tidak pergi haji, aku tidak peduli jika dia mati dalam keadaan Yahudi atau Nasrani. Karena Allah berfirman: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah dan siapa saja yang mengingkarinya, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari sekalian alam” (H.R. Turmidzi)

عن سماك بن الوليد أنه سأل ابن عباس ما تقول في سلطان علينا يظلمونا ويعتدون علينا في صدقاتنا أفلا نمنعهم قال لا الجماعة الجماعة إنما هلكت الأمم الخالية بتفرقها أما سمعت قول الله واعتصموا بجبل الله جميعا ولا تفرقوا

Dari Samaak bin al-Waliid sesungguh beliau menanyakan kepada Ibnu Abbas,”Apa pendapatmu tentang sulthan yang berbuat aniaya dan melampaui batas terhadap sadaqah kita, apakah engkau tidak mencegahnya?” Ibnu Abbas menjawab: “Tidak, jama’ah adalah jama’ah, sesungguhnya umat sebelumnya celaka dengan sebab mereka bercerai berai. Apakah engkau tidak mendengar firman Allah: “Berpeganglah kalian semua kepada tali Allah dan jangan bercerai berai”.(H.R. Ibnu Abi Hatim)

 

Kemudian pada halaman berikutnya, Imam al-Suyuthi menegaskan,

فالصواب الاقتصار على إيراد الآية من غير استعاذة اتباعا للوارد في ذلك فإن الباب باب اتباع، والاستعاذة المأمور بها في قوله تعالى (فإذا قرأت القرآن فاستعذ) إنما هي عند قراءة القرآن للتلاوة أما إيراد آية منه للاحتجاج والاستدلال على حكم فلا

Maka yang benar adalah mencukupi mendatangkan ayat tanpa ada ta’awudz karena ittiba’ (mengikuti) hadits yang datang tentang itu. Sesungguhnya bab ini adalah bab ittiba’. Adapun pengucapan ta’awudz yang diperintahkan berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Apabila kamu membaca al-Qur’an, maka mintalah perlindungan (membaca ta’awudz)”, ayat ini hanya diposisikan ketika membaca al-Qur’an secara tilawah. Adapun ketika mendatangkan ayat al-Qur’an dalam rangka berhujjah dan mengemukakan dalil atas suatu hukum, maka tidak dianjurkannya. (al-Hawi lil Fatawi; I/353)

Kesimpulan

1.   Membaca basmalah dan ta’awudz sebelum pembacaan ayat al-Qur’an dalam berhujjah dan mengemukakan dalil seperti mengucapkan, “Qaalallahu Ta’ala fiil qur’anilkarim” atau dalam Bahasa Indonesia “Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an yang mulia” atau yang semakna dengannya, kemudian membaca ta’awudz, kemudian membaca basmalah, kemudian baru membaca ayat al-Qur’an telah menempatkan ta’awudz dan basmalah termasuk dalam rangkaian firman Allah yang dibacakan. Ini tentu menyalahi dengan yang sebenarnya.

2.   Tidak ada contoh dari perbuatan Nabi SAW, atsar para sahabat dan ulama sesudahnya membaca basmalah dan ta’awudz sebelum pembacaan ayat al-Qur’an dalam berhujjah dan mengemukakan dalil, bahkan sebagaimana yang dipahami dari penjelasan Imam al_Suyuthi di atas, yang benar adalah pengucapan ayat al-Qur’an tanpa basmalah dan ta’awudz sebelumnya.

3.   Adapun ayat yang memerintah membaca ta’awudz sebelum membaca ayat al-Qur’an  hanya diposisikan ketika membaca al-Qur’an secara tilawah tidak dalam berhujjah atau mengemukakan dalil hukum.

Wallahua’lam bisshawab

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar