Sabtu, 17 Januari 2026

Menyambut Bulan Sya’ban

 

Bulan Sya’ban sudah di depan mata. Umat Islam kini mulai menyambut bulan kedelapan kalender Hijriah itu dengan suka cita. Sebab, bulan Sya’ban menandai semakin dekatnya bulan suci Ramadhan. Rasulullah SAW sering memperbanyak ibadah di bulan Sya’ban dan menjadikan bulan tersebut sebagai waktu yang penuh berkah untuk meningkatkan keimanan. Sya’ban adalah bulan di mana amal manusia diangkat ke langit. Nabi SAW bersabda:

وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Sya’ban adalah bulan laporan amal kepada Tuhan sekalian alam. Maka saya senang amal saya dilaporkan, sementara saya dalam keadaan berpuasa. (H.R.  al-Nisa’i dan Abu Daud).

 

Ibnu Khuzaimah menyatakan hadits ini shahih dari Usamah bin Zaid.(Fathulbarri: IV/215). Menurut Ibnu Hajar, laporan amal pada bulan Sya’ban tersebut terjadi pada malam nisfu Sya’ban. Dalam al-Bujairumi ‘ala Fathul Wahab disebut:

وَقَالَ ابْنُ حَجَرٍ: أَعْمَالُ الْأُسْبُوعِ إجْمَالًا يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ وَأَعْمَالُ الْعَامِ إجْمَالًا لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَلَيْلَةَ الْقَدْرِ وَأَمَّا عَرْضُهَا تَفْصِيلًا فَبِرَفْعِ الْمَلَائِكَةِ لَهَا بِاللَّيْلِ مَرَّةً وَبِالنَّهَارِ مَرَّةً

Ibnu Hajar mengatakan, amalan mingguan secara garis besar diangkat pada hari Senin dan Kamis, amalan satu tahun secara garis besar diangkat pada malam nisfu Sya’ban dan malam qadar. Adapun memunculkannya secara rinci, malaikat mengangkatnya pada malam sekali dan pada siang sekali. (al-Bujairumi ‘ala Fathul Wahab: II/89)

 

Sesuai dengan hadits di atas, sangat dianjurkan berpuasa pada bulan ini. Anjuran puasa pada Bulan Sya’ban juga dapat dilihat berdasarkan hadits ‘Aisyah r.a berbunyi:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يُفْطِرُ؛ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يَصُومُ. وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ.

Rasulullah SAW sering berpuasa sehingga kami katakan: ‘Beliau tidak berbuka’; beliau juga sering tidak berpuasa sehingga kami katakan: ‘Beliau tidak berpuasa’; aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan; dan aku tidak pernah melihat beliau dalam sebulan (selain Ramadhan) berpuasa yang lebih banyak daripada puasa beliau di bulan Sya’ban. (Muttafaqun ‘alaihi)

 

Namun demikian ada hadits yang melarang berpuasa pada pertengahan kedua Bulan Sya’ban. Nabi SAW bersabda:

اذا انتصف شعبان فلا صوم حتى رمضان

Apabila Bulan Sya’ban sudah separuhnya, maka tidak ada puasa sehingga datang Ramadhan. (H.R. Ahmad, al-Darimiy, dan Sunan yang empat)

 

Hadits ini telah dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban dan Abu ‘Uwaanah. (al-Maqashid al-Hasanah, karya al-Shakhawiy: I/81). Dhahir hadits ini tidak boleh lagi ada puasa (haram) pada pertengahan kedua Bulan Ramadhan. Namun para ulama mempertempatkan keharamannya ini apabila puasanya itu tidak bersambung dengan puasa hari sebelumnya atau puasanya itu bukan puasa pada hari di mana seseorang memang sudah terbiasa (ber’adat) berpuasa pada hari tersebut ataupun puasa tersebut bukan merupakan puasa nazar atau qadha. Zainuddin al-Mallibari mengatakan,

وكذ بعد نصف شعبان، ما لم يصله بما قبله، أو لم يوافق عادته، أو لم يكن عن نذر أو قضاء، ولو عن نفل.

Demikian juga diharamkan puasa setelah pertengahan Sya’ban selama tidak bersambung dengan hari puasa sebelumnya atau tidak bersesuaian dengan kebiasaan puasanya ataupun puasanya itu bukanlah puasa nazar atau qadha, meskipun qadha dari puasa sunnah.(I’anah al-Thalibin ‘ala Fathul Mu’in: II/309)

 

Menghidupkan malam nisfu Sya’ban

Malam nisfu Sya’ban malam rahmat dan keampunan. Malam nisfu Sya’ban adalah malam ke-15 Bulan Sya’ban. Pada malam ini, Allah akan mengampuni dosa-dosa makhluknya kecuali orang-orang musyrik dan yang suka menyebar kebencian sesama. Nabi SAW bersabda:

يطلع الله الى جميع خلقه فِي ‌لَيْلَة ‌النّصْف ‌من شعْبَان فَيغْفر لجَمِيع خلقه إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَو مُشَاحِن

Allah memperhatikan semua makhluk-Nya (dengan penuh rahmat) pada malam nisfu Sya’ban. Kemudian Dia mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang-musyrik dan yang suka menyebarkan kebencian. (H.R. al-Thabraniy dalam al-Kabir dan al-Aushath, rijalnya terpercaya)

Hadits serupa ini juga telah diriwayat oleh al-Bazar dan Ahmad. (al-Majma’ al-Zawaid: VIII/65). Sesuai dengan hadits ini tidak heran kalau Imam Syafi’i sebagaimana dinukil oleh al-Baihaqi berpendapat nisfu Sya’ban termasuk malam mustajabah do’a. Dalam kitab hadits al-Sunan al-Kubra, al-Baihaqi mengatakan,

قال الشّافِعِىُّ وبَلَغَنا أنَّه كان يُقالُ: إنَّ الدُّعاءَ يُستَجابُ في خَمسِ لَيالٍ؛ في لَيلَةِ الجُمُعَةِ، ولَيلَةِ الأضحَى، ولَيلَةِ الفِطرِ، وأَوَّلِ لَيلَةِ مِن رَجَبٍ، ولَيلَةِ ‌النِّصفِ ‌مِن ‌شَعبانَ.

Imam Syafi’i mengatakan, telah sampai kepada kami bahwa dikatakan, sesungguhnya doa mustajabah pada lima malam, yaitu pada malam Jum’at, malam Hari Raya Adha, malam Hari Raya Fitri, awal malam Rajab dan malam nisfu Sya’ban. (al-Sunan al-Kubraa: VI/627)

 

Karena itu dianjurkan menghidupkan malam nisfu Sya’ban dengan memperbanyak ibadah, zikir dan doa. Dalam Hasyiah Qalyubi disebut:

‌يُنْدَبُ ‌إحْيَاءُ لَيْلَتَيْ الْعِيدَيْنِ بِذِكْرٍ أَوْ صَلَاةٍ وَأَوْلَاهَا صَلَاةُ التَّسْبِيحِ. وَيَكْفِي مُعْظَمُهَا وَأَقَلُّهُ صَلَاةُ الْعِشَاءِ فِي جَمَاعَةٍ، وَالْعَزْمُ عَلَى صَلَاةِ الصُّبْحِ كَذَلِكَ. وَمِثْلُهُمَا لَيْلَةُ نِصْفِ شَعْبَانَ، وَأَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةُ الْجُمُعَةِ لِأَنَّهَا مَحَالُّ إجَابَةِ الدُّعَاءِ.

Dianjurkan menghidupkan malam dua hari raya (hari raya ‘Idil Fitri dan ‘Idil Adha) dengan berzikir atau shalat. Yang lebih utama adalah shalat tasbih, memadai mu’dhamnya. Sekurang-kurangnya shalat ‘Isya berjamaah dan merencanakan melakukan shalat Subuh seperti itu juga. Sama dengannya malam nisfu Sya’ban, awal malam Bulan Rajab dan malam Jumat. Karena itu merupakan tempat ijabah do’a. (Hasyiah Qayubi: I/359)

 

Berdasarkan keterangan di atas, memperbanyak ibadah seperti shalat sunnah mutlaq , shalat tasbih, zikir dan lain-lain pada malam nisfu Sya’ban tanpa qashad sebagai ibadah khusus disyariatkan pada malam nisfu Sya’ban, akan tetapi juga diqashadkan sebagai amalan sunnah pada malam lainnya sebagaimana halnya pada malam nisfu Sya’ban, namun lebih diperhatikan pada malam nisfu Sya’ban karena malam ijabah doa, maka ini termasuk amalan yang diridhai syariat.

Adapun melakukan ibadah tertentu dengan kaifiat tertentu dengan qashad disyariatkan secara khusus pada malam nisfu Sya’ban termasuk amalan bid’ah tercela. Karena tidak datang nash syara’ secara khusus disunnahkan amalan tertentu pada malam nisfu Sya’ban. Karena itu, Imam al-Subkiy mengatakan,

أن ما لم يرد فيه الا مطلق طلب الصلاة وأنها خير موضوع فلا يطلب منه شيء بخصوصه فمتى خص شيأ منه بزمان او مكان او نحو ذالك دخل في قسم البدعة وانما المطلوب منه عمومه فيفعل لما من العموم لا لكونه مطلوبا بالخصوص

Sesungguhnya selama tidak datang kecuali mutlaq tuntuntan shalat dan sesungguhnya itu sebaik-baik pensyariatan, maka tidak dituntut darinya sesuatu secara khusus. Karena itu, kapan saja mengkhususnya dengan zaman, tempat atau lainnya, maka itu termasuk dalam katagori bid’ah. Sesungguhnya yang dituntut darinya adalah keumumannya, maka dilakukannya karena keumumannya, bukan karena keadaannya tuntutan secara khusus (al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra, karya Ibnu Hajar al-Haitamiy: II/80)

 

Berdasarkan ini, melakukan shalat malam nisfu Sya’ban termasuk bid’ah tercela karena tidak didukung hadits shahih atau hasan. Adapun hadits-hadits yang didakwa sebagai dalilnya adalah hadits maudhu’ (palsu). Dalam Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Imam al-Nawawi mengatakan,

الصلاة المعروفة بصلاة الرغائب وهي ثنتى عشرة ركعة تصلى بين المغرب والعشاء ليلة أول جمعة في رجب وصلاة ليلة ‌نصف ‌شعبان مائة ركعة وهاتان الصلاتان بدعتان ومنكران قبيحتان ولا يغتر بذكرهما في كتاب قوت القلوب وإحياء علوم الدين ولا بالحديث المذكور فيهما فإن كل ذلك باطل ولا يغتر ببعض من اشتبه عليه حكمهما من الأئمة فصنف ورقات في استحبابهما فإنه غالط في ذلك وقد صنف الشيخ الإمام أبو محمد عبد الرحمن بن اسمعيل المقدسي كتابا نفيسا في إبطالهما فأحسن فيه وأجاد رحمه الله

Shalat yang dikenal dengan shalat Raghaib, yaitu dua belas rakat yang dilakukan antara Magrib dan ‘Isya pada malam Jum’at pada Bulan Rajab dan shalat nisfu Sya’ban serratus rakaat, kedua shalat ini adalah bid’ah munkarah yang keji. Jangan tertipu dengan sebab disebut keduanya dalam kitab Quut al-Quluub dan dalam Ihya ‘Ulumuddin dan dengan sebab disebut hadits di dalamnya. Sesungguhnya semua itu adalah bathil. Dan jangan tertipu pula dengan sebab sebagaian orang yang membuat syubhat bahwa hukum keduanya berasal dari imam-imam, maka dikarang risalah unutk menganjurkannya. Sesungguhnya itu suatu kesalahan dalam hal demikian. Sesungguhnya Syeikh Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin Ismail al-Maqdisi telah mengarang sebuah kitab yang berharga dalam membatalkannya, beliau telah banyak menulis yang baik dan bagus di dalamnya. Semoga Allah memberikan rahmat kepada beliau. (Majmu’ Syarah al-Muhazzab: IV/56)

Penjelasan Imam al-Nawawi di atas dipertegaskan kembali oleh Ibnu Hajar al-Haitamiy, seorang ulama yang cukup disegani di kalangan Syafi’iyah yang hidup sesudah al-Nawawi. Dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj beliau mengatakan,

وَالصَّلَاةُ الْمَعْرُوفَةُ لَيْلَةَ الرَّغَائِبِ ‌وَنِصْفِ ‌شَعْبَانَ بِدْعَةٌ قَبِيحَةٌ وَحَدِيثُهَا مَوْضُوعٌ وَبَيْنَ ابْنِ عَبْدِ السَّلَامِ وَابْنِ الصَّلَاحِ مُكَاتَبَاتٌ وَإِفْتَاءَاتٌ مُتَنَاقِضَةٌ فِيهَا بَيَّنْتُهَا مَعَ مَا يَتَعَلَّقُ بِهَا فِي كِتَابٍ مُسْتَقِلٍّ سَمَّيْتُهُ الْإِيضَاحَ وَالْبَيَانُ لِمَا جَاءَ فِي لَيْلَتَيْ الرَّغَائِبِ وَالنِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ.

Shalat yang dikenal dengan malam Raghaib dan nisfu Sya’ban adalah bid’ah yang keji. Haditsnya  maudhu’ (palsu). Antara Ibnu ‘Abdissalam dan Ibnu al-Shalah pernah terjadi saling surat menyurat dan menyampaikan fatwa yang saling menyanggah di dalamnya. Sudah pernah aku jelaskannya  dan yang terkait dengannya dalam kitab tersendiri yang aku namakan al-Idhah wa al-Bayan limaa Ja-a fi Lailatai al-Raghaib wa Nisfu min Sya’ban.(Hasyiah Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj: II/239)

 

Puasa nisfu Sya’ban

 

Tidak ada hadits shahih atau hasan yang dapat dijadikan hujjah dalam menetapkan hukum, yang secara khusus menganjurkan puasa pada siang nisfu Sya’ban. Adapun hadits riwayat Ibnu Majah yang menganjurkan puasa pada siang nisfu Sya’ban adalah dhaif. Redaksi hadits tersebut adalah  Nabi SAW bersabda:

اذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها وصوموا نهارها

Apabila malam nisfu Sya’ban, maka dirikanlah malamnya dan berpuasalah pada siangnya. (H.R. Ibnu Majah)

 

Ibnu Hajar al-Haitamiy mengatakan, hadits ini dha’if. Karena itu, beliau berpendapat berpuasa secara khusus sebagai puasa nisfu Sya’ban tidak boleh, karena tidak didukung oleh hadits yang maqbul.  Akan tetapi dibolehkan dengan qashad sebagai puasa hari putih (hari 13,14 dan 15 pada setiap bulan). Jadi berpuasa dengan niat puasa hari putih yang kebetulan bersamaan dengan nisfu Sya’ban. Penjelasan ini sama dengan melakukan shalat sunnat mutlaq pada malamnya tanpa qashat sebagai shalat khusus pada malam nisfu Sya’ban. Dalam al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubraa, Ibnu Hajar al-Haitamiy mengatakan,

وَأَمَّا ‌صَوْمُ ‌يَوْمِهَا فَهُوَ سُنَّةٌ مِنْ حَيْثُ كَوْنُهُ مِنْ جُمْلَةِ الْأَيَّامِ الْبِيضِ لَا مِنْ حَيْثُ خُصُوصُهُ وَالْحَدِيثُ الْمَذْكُورُ عَنْ ابْنِ مَاجَهْ ضَعِيفٌ

Adapun puasa pada siangnya (siang nisfu Sya’ban) maka adalah sunnah dari sudut pandang puasanya termasuk dalam jumlah puasa hari putih, bukan puasa secara khusus. Sedangkan hadits tersebut (puasa secara khusus nisfu Sya’ban) dari Ibnu Majah adalah dha’if. (al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra, karya Ibnu Hajar al-Haitamiy: II/80)

 

Pendapat yang sama dikemukakan oleh al-Munawiy. Beliau mengatakan makruh puasa nisfu Sya’ban karena tidak ada dalilnya. (Faidh al-Qadir: II/316)

Khusus mengenai puasa di siang nisfu Sya’ban, Imam al-Ramli berbeda pendapat dengan Ibnu Hajar al-Haitamiy. Imam al-Ramli berpendapat boleh berpuasa khusus nisfu Sya’ban, karena boleh mengamalkan hadits dhaif dalam fadhailul amal. Dalam Fatawa al-Ramli, beliau mengatakan,

يُسَنُّ صَوْمُ ‌نِصْفِ ‌شَعْبَانَ بَلْ يُسَنُّ صَوْمُ ثَالِثَ عَشَرِهِ وَرَابِعَ عَشَرِهِ وَخَامِسَ عَشَرِهِ وَالْحَدِيثُ الْمَذْكُورُ يُحْتَجُّ بِهِ

Disunnahkan puasa nisfu Sya’ban, bahkan disunnahkan puasa tiga belas, empat belas dan lima belas nisfu Sya’ban. Hadits tersebut dapat dijadikan hujjah. (Fatawa al-Ramli: (II/79)

Wallahua’lam bisshawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar