Rabu, 15 November 2017

Khalwat dan Batasan-Batasannya

Hukum khalwat
Khalwat antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya adalah haram berdasarkan :
1.    Firman Allah Q.S. al-Isra' :32.
وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً 
Janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk (Q.S. al-Isra’ : 32)
2.   Sabda Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang berbunyi :
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّوَمَعَهاَ ذُو مَحْرَمٍ
Janganlah seorang laki-laki itu berkhalwat (menyendiri) dengan seorang wanita kecuali ada mahram yang menyertai wanita tersebut. (H.R. Muslim)[1]

Beliau juga bersabda dari jalur ‘Amir bin Rabi’ah:
لَا يخلون رجل بِامْرَأَة فَإِن ثالثهما الشَّيْطَان
Tidaklah seorang laki-laki itu berkhalwat dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan. (H.R. Ahmad, dan al-Hakim)[2]
Batasan Khalwat
Adapun batasan khalwat yang dirumuskan oleh ulama adalah berhimpun pada suatu tempat yang tidak aman gelora syahwat pada adat kebiasaan. Rumusan ini disebutkan dalam kitab karya ulama antara lain di dalam Hasyiah ‘Ali Syibran al-Malasi ‘ala Nihayah al-Muhtaj :
أَنَّ الْمَدَارَ فِي الْخَلْوَةِ عَلَى اجْتِمَاعٍ لَا تُؤْمَنُ مَعَهُ الرِّيبَةُ عَادَةً، بِخِلَافِ مَا لَوْ قُطِعَ بِانْتِفَائِهَا فِي الْعَادَةِ فَلَا يُعَدُّ خَلْوَةً
Sesungguhnya kisaran khalwat adalah berhimpun yang tidak aman gelora syahwat pada adat kebiasaan. Ini berbeda apabila dipastikan ternafi raibah pada adat kebiasaan, maka tidak dihitung khalwat.[3]

Zhabit yang dikemukakan di atas juga dikutip oleh Sulaiman al-Jamal dalam kitab Hasyiah al-Jamal ‘ala al-Manhaj[4] dan al-Syarwani dalam Hasyiah al-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj.[5]
Zhabit disebut di atas sesuai dengan tujuan pengharaman khalwat sebagaimana penjelasan al-Iraqi bahwa makna dari pengharaman khalwat itu sendiri karena khalwat merupakan madhinnah (sesuatu yang didhan) akan terjadi perbuatan keji dengan sebab tipu daya syaithan. Al-Iraqi dalam kitab Tharh al-Tatsrib fi Syarh al-Taqrib mengatakan :
وَالْمَعْنَى فِي تَحْرِيمِ الْخَلْوَةِ بِالْأَجْنَبِيَّةِ أَنَّهُ مَظِنَّةُ الْوُقُوعِ فِي الْفَاحِشَةِ بِتَسْوِيلِ الشَّيْطَانِ
Makna dari pengharaman khalwat dengan orang asing adalah karena khalwat merupakan madhinnah (sesuatu yang didhan) akan terjadi perbuatan keji dengan sebab tipu daya syaithan.[6]

            Setelah menyebut makna dari pengharamaan khalwat di atas, al-Iraqi mengutip hadits marfu’ dari Jabir, berbunyi :
لَا تَلِجُوا عَلَى الْمُغِيبَاتِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنْ أَحَدِكُمْ مَجْرَى الدَّمِ
Jangan kamu menemui perempuan yang ditinggal keluarganya sendirian,  sesungguhnya syaithan mengalir pada salah seorang kamu dengan mengikuti aliran  darah (H.R. Turmidzi).[7]

            Berikut ini batasan-batasan khalwat yang spesifik yang disebut oleh ahli fiqh, yakni antara lain :
1.    Tidak termasuk khalwat apabila di antara dua orang yang tidak ada hubungan mahram ini ada mahram salah satu dari keduanya, baik mahram dari pihak perempuan seperti anak laki-lakinya maupun mahram dari pihak laki-laki seperti anak perempuannya.
2.    Tidak termasuk khalwat apabila di antara dua orang yang tidak ada hubungan mahram ini ada suami siperempuan.
3.    Tidak termasuk khalwat yang diharamkan apabila dalam keadaan darurat, seperti ditemui seorang perempuan di jalan dalam keadaan tersesat atau seumpamanya, maka dibolehkan menemaninya, bahkan menjadi wajib apabila dikuatirkan terjadi sesuatu yang berbahaya atas perempuan tersebut apabila ditinggalkan sendirian.
4.    Termasuk khalwat apabila di antara dua orang yang tidak ada hubungan mahram ini hanya ditemani seseorang yang tidak membuatnya malu karena masih kecil, seperti anak masih usia dua, tiga tahun dan seumpamanya. karena adanya seperti tidak ada
5.    Terjadi khilafiyah, apakah dianggap khalwat yang diharamkan apabila beberapa laki-laki hanya bersama seorang perempuan. Imam al-Nawawi dalam Syarah Muslim mengatakan, halal khalwat satu jama’ah dengan seorang perempuan yang menurut adat kebiasaan dapat memaling mereka dari mufakat melakukan perbuatan keji dengan perempuan tersebut dengan sebab kehadiran mereka. Namun al-Nawawi dalam al-Majmu’ telah menghikayah pendapat ini dalam kelompok pendapat yang dhaif. Sebagian ulama menganggap mu’tamad pendapat pertama (pendapat dalam Syarah Muslim), tapi dengan mengkaidkan apabila dipastikan ternafi gelora syahwat dari pihak laki-laki maupun pihak perempuan.
6.    Berbeda apabila seorang laki-laki bersama beberapa orang perempuan yang tsiqqah (terpercaya), maka ini tidak termasuk khalwat yang diharamkan.
Point 1 s/d 6 sesuai dengan penjelasan Imam al-Nawawi dalam Syarah Muslim berikut ini :
وَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ) يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيدَ مَحْرَمًا لَهَا وَيَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيدَ مَحْرَمًا لَهَا أوله وَهَذَا الِاحْتِمَالُ الثَّانِي هُوَ الْجَارِي عَلَى قَوَاعِدِ الْفُقَهَاءِ فَإِنَّهُ لَا فَرْقَ بَيْنَ أَنْ يَكُونَ مَعَهَا مَحْرَمٌ لَهَا كَابْنِهَا وَأَخِيهَا وَأُمِّهَا وَأُخْتِهَا أَوْ يَكُونَ مَحْرَمًا لَهُ كَأُخْتِهِ وَبِنْتِهِ وَعَمَّتِهِ وَخَالَتِهِ فَيَجُوزُ الْقُعُودُ مَعَهَا فِي هَذِهِ الْأَحْوَالِ ثُمَّ إِنَّ الْحَدِيثَ مَخْصُوصٌ أَيْضًا بِالزَّوْجِ فَإِنَّهُ لَوْ كَانَ مَعَهَا زَوْجُهَا كَانَ كَالْمَحْرَمِ وَأَوْلَى بِالْجَوَازِ وَأَمَّا إِذَا خَلَا الْأَجْنَبِيُّ بِالْأَجْنَبِيَّةِ مِنْ غَيْرِ ثَالِثٍ مَعَهُمَا فَهُوَ حَرَامٌ بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ وَكَذَا لَوْ كَانَ مَعَهُمَا مَنْ لَا يُسْتَحَى مِنْهُ لِصِغَرِهِ كَابْنِ سَنَتَيْنِ وَثَلَاثٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَإِنَّ وُجُودَهُ كَالْعَدَمِ وَكَذَا لَوِ اجْتَمَعَ رِجَالٌ بِامْرَأَةٍ أَجْنَبِيَّةٍ فَهُوَ حَرَامٌ بِخِلَافِ مَا لَوِ اجْتَمَعَ رَجُلٌ بِنِسْوَةٍ أَجَانِبَ فَإِنَّ الصَّحِيحَ جَوَازُهُ
Sabda Nabi SAW “bersamanya ada mahram”, kemungkinan dimaksudkan adalah mahram si perempuan dan kemungkinan juga mahram si perempuan atau mahram si laki-laki. Namun kemungkinan yang kedua ini sesuai dengan qawaid  fuqaha, sesungguhnya tidak ada perbedaan antara bersama perempuan itu ada mahramnya seperti anak, saudara laki-laki, ibu atau saudara perempuannya maupun bersama perempuan itu ada mahram si laki-laki seperti saudara perempuan, anak perempuan, bibi pihak ayah atau bibi pihak ibunya. Maka dibolehkan duduk bersamanya pada keadaan-keadaan ini. Kemudian sesungguhnya hadits ini dikhususkan pula dengan suami, karena seandainya bersamanya ada suaminya, maka suami sama seperti mahram dan lebih patut dibolehkan. Adapun apabila khalwat laki-laki asing dengan perempuan asing tanpa ada pihak ketiga bersama perempuan tersebut, maka diharamkan dengan sepakat ulama. Demikian juga seandainya bersamanya ada orang yang tidak membuat dia malu karena kecil seperti anak berumur dua tahun, tiga tahun dan seumpamanya, maka adanya seperti tidak ada. Demikian juga berkumpul beberapa laki-laki dengan seorang perempuan asing maka ini haram, berbeda seandainya seorang laki-laki dengan beberapa perempuan asing, maka menurut pendapat yang shahih boleh.[8]

Kemudian Imam al-Nawawi mengecualikan keharaman khalwat apabila dalam keadaan darurat. Beliau berkata :
وَيُسْتَثْنَى مِنْ هَذَا كُلِّهِ مَوَاضِعُ الضَّرُورَةِ بِأَنْ يَجِدَ امْرَأَةً أَجْنَبِيَّةً مُنْقَطِعَةً فِي الطَّرِيقِ أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ فَيُبَاحُ لَهُ اسْتِصْحَابُهَا بَلْ يَلْزَمُهُ ذَلِكَ إِذَا خَافَ عَلَيْهَا لَوْ تَرَكَهَا وَهَذَا لَا اخْتِلَافَ فِيهِ وَيَدُلُّ عَلَيْهِ حَدِيثُ عَائِشَةَ فِي قِصَّةِ الْإِفْكِ
Dikecualikan dari ini semua tempat-tempat darurat seperti ditemui seorang perempuan asing tersesat pada jalan atau seumpamanya, maka diboleh menemaninya, bahkan wajib hal itu apabila dikuatirkan atas perempuan tersebut seandainya ditinggal sendirian. Ini tidak khilafiyah padanya dan ditunjuk oleh ‘Aisyah dalam kisah tuduhan palsu (kisah tuduhan palsu atas Aisyah r.a) [9]

Dalam Tuhfah al-Muhtaj disebutkan :
وَلَا تَجُوزُ خَلْوَةُ رَجُلٍ بِغَيْرِ ثِقَاتٍ وَإِنْ كَثُرْنَ،
Tidak boleh khalwat seorang laki-laki dengan beberapa perempuan tidak terpercaya, meskipun banyak.[10]

Juga dalam Tuhfah al-Mutaj disebutkan :
فَإِنْ قُلْت ظَاهِرُ هَذَا أَنَّهُ لَا تَحْرُمُ خَلْوَةُ رِجَالٍ بِامْرَأَةٍ قُلْت مَمْنُوعٌ وَإِنَّمَا قَضِيَّتُهُ أَنَّ الرِّجَالَ إنْ أَحَالَتْ الْعَادَةُ تَوَاطُؤَهُمْ عَلَى وُقُوعِ فَاحِشَةٍ بِهَا بِحَضْرَتِهِمْ كَانَتْ خَلْوَةً جَائِزَةً وَإِلَّا فَلَا، ثُمَّ رَأَيْت فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ التَّصْرِيحَ بِهِ حَيْثُ قَالَ تَحِلُّ خَلْوَةُ جَمَاعَةٍ يَبْعُدُ تَوَاطُؤُهُمْ عَلَى الْفَاحِشَةِ لِنَحْوِ صَلَاحٍ أَوْ مُرُوءَةٍ بِامْرَأَةٍ لَكِنَّهُ حَكَاهُ فِي الْمَجْمُوعِ حِكَايَةَ الْأَوْجُهِ الضَّعِيفَةِ وَرَأَيْت بَعْضَهُمْ اعْتَمَدَ الْأَوَّلَ وَقَيَّدَهُ بِمَا إذَا قُطِعَ بِانْتِفَاءِ الرِّيبَةِ مِنْ جَانِبِهِ وَجَانِبِهَا
Apabila kamu mengatakan, dhahir ini sesungguhnya tidak haram khalwat beberapa orang laki-laki dengan seorang perempuan. Aku katakan : Ini tercegah. Hanyasanya kehendakinya bahwa beberapa laki-laki apabila menurut adat kebiasaan dapat memaling mufakat mereka melakukan perbuatan keji dengan siperempuan dengan sebab kehadiran mereka, maka khalwat itu boleh dan jika tidak, maka tidak. Kemudian, aku pernah melihat dalam Syarah Muslim menerangkannya demikian, dimana dikatakan, halal khalwat satu jama’ah dengan seorang perempuan yang menurut adat kebiasaan dapat memaling mereka dari mufakat melakukan perbuatan keji dengan perempuan tersebut karena seumpama shaleh atau marwah dengan sebab kehadiran mereka. Namun al-Nawawi dalam al-Majmu’ telah menghikayah pendapat ini dalam kelompok pendapat yang dhaif. Dan aku melihat sebagian ulama menganggap mu’tamad pendapat pertama (pendapat dalam Syarah Muslim) dan dikaidkan apabila dipastikan ternafi gelora syahwat dari pihak laki-laki maupun pihak perempuan.[11]

7.    Tidak termasuk khalwat seorang perempuan masuk dalam sebuah aula milik umum dimana hanya ada seorang laki-laki di dalamnya, namun disyaratkan aula tersebut merupakan ruangan yang sering lalu lalang manusia pada adat kebiasaan.
8.    Tidak termasuk khalwat seorang perempuan bersama seorang laki-laki di jalan umum dimana jalan tersebut merupakan jalan yang sering lalu lalang manusia pada adat kebiasaan.
Point 7 dan 8 di atas sesuai dengan penjelasan dalam Tuhfah al-Muhtaj, yakni :
وَفِي التَّوَسُّطِ عَنْ الْقَفَّالِ لَوْ دَخَلَتْ امْرَأَةٌ الْمَسْجِدَ عَلَى رَجُلٍ لَمْ تَكُنْ خَلْوَة لِأَنَّهُ يَدْخُلُهُ كُلُّ أَحَدٍ انْتَهَى وَإِنَّمَا يُتَّجَهُ ذَلِكَ فِي مَسْجِدٍ مَطْرُوقٍ وَلَا يَنْقَطِعُ طَارِقُوهُ عَادَةً وَمِثْلُهُ فِي ذَلِكَ الطَّرِيقُ أَوْ غَيْرُهُالْمَطْرُوقُ كَذَلِكَ بِخِلَافِ مَا لَيْسَ مَطْرُوقًا كَذَلِكَ
Dalam al-Tawassuth dari al-Qafal, seandainya seorang perempuan masuk dalam masjid dimana ada seorang laki-laki di dalamnya, maka bukan khalwat karena masuk di dalamnya setiap orang. Sesungguhnya ini hanya dapat dibenarkan dalam masjid lalu lalang manusia dan tidak terputus orang lalu lalang di dalamnya pada adat kebiasaan. Yang sama dengan masjid pada masalah ini adalah jalan atau lainnya yang lalu lalang manusia seperti itu juga, berbeda dengan yang bukan lalu lalang manusia seperti itu..[12]

9.    Termasuk khalwat seorang perempuan dan laki-laki tinggal dalam satu rumah dalam kamar masing-masing atau satu di atas dan yang lain di bawah ataupun satu di dalam rumah dan yang lain di dalam kamarnya. Sedangkan perabotan rumahnya satu, seperti tempat memasak, toilet, sumur, jalur berjalan, teras atau tangga.
10.    Termasuk khalwat apabila perabotan rumah tersebut di atas tidak satu, akan tetapi pintu antara keduanya tidak terkunci, atau ditutup ataupun dikunci akan tetapi ruang yang menjadi jalan keduanya adalah sama atau pintu tempat tinggal salah satunya dalam tempat tinggal yang lainnya.
Kedua point di atas (Point 9 dan 10) merupakan rangkuman dari penjelasan para ulama sebagaimana yang dikutip oleh Ibnu Hajar al-Haitami berikut ini :
إذَا سَكَنَتْ الْمَرْأَةُ وَالْأَجْنَبِيُّ فِي حُجْرَتَيْنِ أَوْ عُلُوٍّ وَسُفْلٍ أَوْ دَارٍ وَحُجْرَةٍ اُشْتُرِطَ أَنْ لَا يَتَّحِدَا فِي مِرْفَقٍ كَمَطْبَخٍ أَوْ خَلَاءٍ أَوْ بِئْرٍ أَوْ مَمَرٍّ أَوْ سَطْحٍ أَوْ مِصْعَدٍ لَهُ فَإِنْ اتَّحَدَا فِي وَاحِدٍ مِمَّا ذُكِرَ حُرِّمَتْ الْمُسَاكَنَةُ لِأَنَّهَا حِينَئِذٍ مَظِنَّةٌ لِلْخَلْوَةِ الْمُحَرَّمَةِ وَكَذَا إنْ اخْتَلَفَا فِي الْكُلِّ وَلَمْ يُغْلَقْ مَا بَيْنَهُمَا مِنْ بَابٍ أَوْ يُسَدُّ أَوْ غُلِقَ لَكِنَّ مَمَرَّ أَحَدِهِمَا عَلَى الْآخَرِ أَوْ بَابَ مَسْكَنِ أَحَدِهِمَا فِي مَسْكَنِ الْآخَرِ
Apabila seorang perempuan dan laki-laki asing menetap dalam dua kamar atau pada tempat di atas dan bawah ataupun pada sebuah rumah dan kamar, maka disyaratkan tidak satu pada perabotan rumahnya seperti tempat memasak, toilet, sumur, jalan lalu, teras atau tangga. Apabila satu pada perabotan rumah dari contoh-contoh yang disebutkan, maka diharamkan tinggal, karena hal itu madhinnah khalwat yang diharamkan. Demikian juga apabila keduanya berbeda pada semua itu, sedangkan pintu antara keduanya tidak terkunci atau terkunci akan tetapi jalan lalu salah satu keduanya di atas jalan lalu yang lain ataupun pintu tempat tinggal salah satu keduanya dalam tempat tinggal yang lain.[13]

Mahram dan yang bukan mahram
1.    Mahram yang dibolehkan khalwat adalah setiap orang yang diharamkan nikah atas jalan selama-lamanya dengan sebab mubah karena penghormatan. Karena itu, tidak termasuk mahram di sini
a.       Saudara suami/isteri, paman suami/bibi isteri (keluar dari kriteria diharamkan selama-lamanya)
b.      Ibu dan anak dari perempuan yang pernah disetubuhi secara syubhat (keluar dari kriteria diharamkan dengan sebab mubah)
c.       Mantan isteri/suami yang pernah dili’an (keluar dari kriteria diharamkan karena penghormatan)
Imam al-Nawawi mengatakan :
وَاعْلَمْ أَنَّ حَقِيقَةَ الْمَحْرَمِ مِنَ النِّسَاءِ الَّتِي يَجُوزُ النَّظَرُ إِلَيْهَا وَالْخَلْوَةُ بِهَا وَالْمُسَافَرَةُ بِهَا كُلُّ مَنْ حَرُمَ نِكَاحُهَا عَلَى التَّأْبِيدِ بِسَبَبٍ مُبَاحٍ لِحُرْمَتِهَا فَقَوْلُنَا عَلَى التَّأْبِيدِ احْتِرَازٌ مِنْ أُخْتِ الْمَرْأَةِ وَعَمَّتِهَا وَخَالَتِهَا وَنَحْوِهِنَّ وَقَوْلُنَا بِسَبَبٍ مُبَاحٍ احْتِرَازٌ مِنْ أُمِّ الْمَوْطُوءَةِ بِشُبْهَةٍ وَبِنْتِهَا فَإِنَّهُمَا تَحْرُمَانِ عَلَى التَّأْبِيدِ وليستا محرمين لِأَنَّ وَطْءَ الشُّبْهَةِ لَا يُوصَفُ بِالْإِبَاحَةِ لِأَنَّهُ لَيْسَ بِفِعْلِ مُكَلَّفٍ وَقَوْلُنَا لِحُرْمَتِهَا احْتِرَازٌ مِنَ الْمُلَاعَنَةِ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَى التَّأْبِيدِ بِسَبَبٍ مُبَاحٍ وليست محرما لِأَنَّ تَحْرِيمَهَا لَيْسَ لِحُرْمَتِهَا بَلْ عُقُوبَةً وَتَغْلِيظًا
Dan ketahuilah, hakikat mahram dari perempuan yang boleh melihat kepadanya dan khalwat serta musafir dengannya adalah setiap yang haram menikahinya atas jalan selama-lamanya dengan sebab mubah karena menghormatinya. Karena itu, perkataan kami “atas jalan selama-lamanya” mengeluarkan dari mahram saudari isteri, bibi isteri pihak ayah dan pihak ibu dan seumpamanya. perkataan kami “dengan sebab mubah” mengeluarkan dari mahram ibu dan anak dari perempuan yang pernah disetubuhi secara syubhat, karena keduanya diharamkan selama-lamanya akan tetapi keduanya bukan mahram karena persetubuhan syubhat tidak disifatkan dengan mubah, sebab bukan perbuatan mukallaf. Perkataan kami “karena menghormatinya” mengeluarkan dari mahram perempuan yang pernah dili’an. Perempuan yang pernah dili’an diharamkan atas jalan selama-lamanya dengan sebab mubah, akan tetapi dia bukan mahram karena diharamkannya bukan karena menghormatinya, tetapi sebagai ‘uqubah dan membuat jera[14]

2.    Adapun yang termasuk mahram antara lain :
a.       Anak
b.      Saudara
c.       Anak dari saudara laki-laki
d.      Anak dari saudara perempuan
e.       Bibi dari pihak ayah
f.       Bibi dari pihak ibu
g.      Saudara sesusuan
h.      Anak dari saudara sesusuan dan seumpamanya
i.        Ayah/ibu mertua
j.        Anak isteri
Imam al-Nawawi mengatakan :
قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ) فِيهِ دَلَالَةٌ لِمَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَالْجُمْهُورِ أَنَّ جَمِيعَ الْمَحَارِمِ سَوَاءٌ فِي ذَلِكَ فَيَجُوزُ لَهَا الْمُسَافَرَةُ مع محرمها بالنسب كابنها وأخيها وبن أخيها وبن أُخْتِهَا وَخَالِهَا وَعَمِّهَا وَمَعَ مَحْرَمِهَا بِالرَّضَاعِ كَأَخِيهَا من الرضاع وبن أخيها وبن أُخْتِهَا مِنْهُ وَنَحْوِهِمْ وَمَعَ مَحْرَمِهَا مِنَ الْمُصَاهَرَةِ كأبي زوجها وبن زَوْجِهَا وَلَا كَرَاهَةَ فِي شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ وَكَذَا يَجُوزُ لِكُلِّ هَؤُلَاءِ الْخَلْوَةُ بِهَا وَالنَّظَرُ إِلَيْهَا مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ وَلَكِنْ لَا يَحِلُّ النَّظَرُ بِشَهْوَةٍ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ هَذَا مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَالْجُمْهُورِ
Sabda Nabi SAW “Kecuali bersamanya ada mahram” padanya petunjuk bagi mazhab Syafi’i dan jumhur ulama bahwa semua mahram sama hukumnya pada demikian. Maka dibolehkan seorang perempuan melakukan musafir bersama mahram nasabnya seperti anak, saudara, anak saudara laki-laki, anak saudara perempuan, bibi pihak ibu dan bibi pihak ayah dan dibolehkan melakukan musafir bersama mahram dengan sebab sesusuan seperti saudara sesusuan, anak saudara sesusuan laki-laki dan anak saudara sesusuan perempuan dan seumpamanya dan juga boleh melakukan musafir bersama mahramnya karena mushaharah (perkawinan) sseperti ayah suami dan anak suami dan tidak makruh sesuatupun pada demikian. Demikian juga boleh bagi setiap mereka khalwat dengannya dan melihat kepadanya tanpa hajat, akan tetapi tidak halal melihat dengan syahwat bagi salah seorang dari mereka. Ini mazhab Syafi’i dan jumhur ulama.[15]

Batasan khalwat menurut Qanun Jinayat Aceh
Qanun Jinayat No. 6 Tahun 2014 Tentang Hukum Jinayat dalam Bab I Ketentuan Umum, pasal 1,angka 23 disebutkan :
Khalwat adalah perbuatan berada pada tempat tertutup atau tersembunyi antara 2 (dua) orang yang berlainan jenis kelamin yang bukan mahram dan tanpa ikatan perkawinan dengan kerelaan kedua belah pihak yang mengarah perbuatan zina.
 Dalam qanun yang sama dalam Bab III Bagian Kedua, pasal 12, disebutkan :
(1). Setiap orang yang melakukan pekerjaan di tempat kerja dan pada waktu kerja tidak dapat dituduh melakukan jarimah khalwat dengan sesama pekerja
(2). Setiap orang yang menjadi penghuni rumah yang dibuktikan dengan daftar keluarga atau persetujuan pejabat setempat tidak dapat dituduh melakukan jarimah khalwat dengan sesama penghuni rumah tersebut.
Kemudian dalam pasal 13, disebutkan :
Setiap orang yang memberikan pertolongan kepada orang lain yang berbeda jenis kelamin dalam keadaan darurat tidak dapat dituduh melakukan jarimah khalwat atau ikhtilath.



[1] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 978, No. 1341
[2] Ibnu Mulaqqin, Badrul Munir, Maktabah Syamilah, Juz. VIII, Hal. 257
[3] ‘Ali Syibran al-Malasi, Hasyiah ‘Ali Syibran al-Malasi ‘ala Nihayah al-Muhtaj, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. VII, Hal. 163
[4] Sulaiman al-Jamal, Hasyiah al-Jamal ‘ala al-Manhaj, Dar Ihya al-Turatsi al-Arabi, Beirut, Juz. IV, Hal. 125
[5] Al-Syarwani, Hasyiah al-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, Mathba’ah Mushtafa Muhammad, Mesir, Juz. VIII, Hal. 269-270
[6] Al-Iraqi, Tharh al-Tatsrib fi Syarh al-Taqrib, Dar Ihya al-Turatsi al-Arabi, Juz VII, Hal. 41
[7] Al-Iraqi, Tharh al-Tatsrib fi Syarh al-Taqrib, Dar Ihya al-Turatsi al-Arabi, Juz VII, Hal. 41
[8] Al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurthubah, Juz. IX, Hal. 155-156
[9] Al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurthubah, Juz. IX, Hal. 155-156
[10] Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, (dicetak pada hamisy Hasyiah al-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj), Mathba’ah Mushtafa Muhammad, Mesir, Juz. VIII, Hal. 269
[11] Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, (dicetak pada hamisy Hasyiah al-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj), Mathba’ah Mushtafa Muhammad, Mesir, Juz. VIII, Hal. 270
[12] Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, (dicetak pada hamisy Hasyiah al-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj), Mathba’ah Mushtafa Muhammad, Mesir, Juz. VIII, Hal. 269-270
[13] Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyah, Darul Fikri, Juz. IV, Hal. 106-107
[14] Al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurthubah, Juz. IX, Hal. 150
[15] Al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurthubah, Juz. IX, Hal. 149

Senin, 06 November 2017

Menyewa kebun untuk mengambil buahnya dan menyewa kolam untuk memancing ikan

Seseorang menyewa kebun/pohon  untuk diambil buahnya, seperti menyewa pohon jeruk atau pohon sawit dalam jangka dua tahun untuk diambil buahnya. Dalam kasus lain yang serupa dengan ini adalah seseorang menyewa kolam untuk memancing ikan.  Akad seperti ini  hukumnya tidak sah dengan alasan  sebagai berikut :
1.    Sebuah akad dalam tidak boleh mengandung kemungkinan gharar (tipuan). Ketika misalnya, ketika pohon ini disewakan selama dua tahun  dan dalam kondisi normal, kita tidak bisa memastikan hasilnya. Apakah nanti akan berbuah setiap tahun atau sebaliknya, sering gagal panen. Lain halnya ketika ada pohon yang disewakan untuk sesuatu yang manfaat  yang bukan dalam bentuk benda, misalnya untuk hiasan dekorasi walimah pernikahan atau untuk tempat berteduh. Ini jelas manfaatnya jelas dan terukur. Hal yang sama juga berlaku pada kasus menyewa kolam untuk memancing ikan. Karena mengambil ikan yang diqashad dalam akad sewa belum tentu bisa terwujud karena tergantung keadaan, apakah ikan tersebut bisa bisa ditangkap dengan pancing pada ketika itu atau tidak.
2.    Karena akad sewa diperuntukan mengambil manfaat yang bukan dalam bentuk benda seperti mendiami rumah yang disewa, tidak dalam bentuk benda seperti mengambil buah dari kebun yang disewa.
Keterangan yang melarang akad mengandung kemungkinan gharar (tipuan) antara lain :
1.    Berdasarkan hadits Nabi SAW dari Abu Hurairah r.a, berbunyi :
نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ، وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ
Rasulullah SAW melarang jual beli al-hashaah dan gharar. (H.R. Muslim)[1]

Dalam Syarah Muslim, Imam al-Nawawi mengatakan ada tiga ta’wil makna jual beli al-hashah, yakni :
a.       “Aku jual kepadamu dari pakaian-pakaian ini, yakni pakaian yang jatuh batu yang aku lempar atasnya” dan “Aku jual kepadamu dari tanah ini mulai dari sini sampai sejauh batu ini”.
b.      “Aku jual kepadamu dengan ada hak khiyar (pilihan) atasmu sehingga aku lempar batu ini”
c.       Sepakat penjual dan pembeli menjadikan melempar batu sebagai akad, maka berkata : “Apabila aku lempar pakaian ini dengan batu, maka barang jualanmu harganya sekian.”[2]
Kemudian Imam al-Nawawi menerangkan masalah jual beli gharar, beliau mengatakan, masuk dalam jual beli gharar masalah-masalah yang banyak dan tidak terbatas, yakni antara lain jual beli hamba sahaya dalam pelarian, jual beli ma’dum (benda yang belum ada), majhul (tidak diketahui sifat-sifat barangnya), yang tidak mampu diserahkan..dst.[3]
2.    Dari Abdullah bin Umar  r.a beliau mengatakan :
عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ نَهَى عَنْ بَيْعِ حَبَلِ الْحَبَلَةِ
Dari Rasulullah SAW sesungguhnya beliau melarang jual habal habalah (H.R. Muslim).[4]
           
            Al-Nawawi menjelaskan, terjadi khilaf ulama dalam menafsirkan jual beli habal habalah. Sebagian ulama menafsirkan jual beli dengan harga tempo unta melahirkan anaknya dan anaknya melahirkan anaknya pula. Ini merupakan penafsiran Ibnu Umar, Malik, Syafi’i dan pengikut mereka. Sebagian ulama lain menafsirkan jual beli anak unta yang masih dalam kandungan ketika itu. Ini merupakan penafsiran Abi ‘Ubaidah bin al-Musthanna, Abi Abd al-Qasim bin Salam, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih dan lainnya dari ahli lughat. Kemudian al-Nawawi mengatakan, jual beli batal berdasarkan dua penafsiran di atas. Adapun berdasarkan penafsiran pertama, karena jual beli dengan tempo majhul (tidak diketahui batasannya), sedangkan tempo dapat mempengaruhi persentase harga. Adapun berdasarkan penafsiran kedua, karena jual beli ma’dum, majhul, bukan milik sipenjual dan tidak mampu diserahkannya.[5]
            Dua hadits di atas menjelaskan larangan jual beli yang mengandung tipuan. Larangan akad yang mengandung tipuan ini juga berlaku pada akad lainnya seperti akad gadai dan akad sewa. Dalam menjelaskan syarat-syarat barang yang dijual, dalam kitab Fathul Muin, Zainuddin al-Malibari mengatakan :
ورؤيته أي المعقود عليه إن كان معينا فلا يصح بيع معين لم يره العاقدان أو أحدهما: كرهنه وإجارته للغرر المنهي عنه وإن بالغ في وصفه.
Dan melihatnya, yakni melihat barang yang diakadkan seandainya barangnya tertentu. Maka tidak sah jual beli barang yang tertentu selama tidak dilihat oleh dua pihak yang melakukan akad atau salah satunya. Sama juga hukumnya ini akad gadai dan sewa,meskipun berlebihan dalam mensifatinya karena ada gharar yang terlarang padanya.[6]

Adapun keterangan tidak boleh menyewa sesuatu dengan qashad mengambil manfaat dalam bentuk benda sebagai berikut :
1.    Imam al-Nawawi mengatakan :
الخامسة: لا يحوز أن يستأجر بركة ليأخذ منها السمك فلو استأجرها ليحبس فيها الماء حتى يجتمع فيها السمك جاز على الصحيح
Yang kelima : Tidak boleh menyewa kolam supaya mengambil ikan darinya. Karena itu, seandainya seseorang menyewa kolam untuk menahan air dalamnya sehingga terkumpul ikan di dalamnya, maka ini boleh berdasarkan pendapat shahih.[7]

2.    Dalam kitab Asnaa al-Mathalib disebut :
(وَتَصِحُّ إجَارَةُ مُصْحَفٍ وَكِتَابٍ) لِمُطَالَعَتِهِمَا وَالْقِرَاءَةِ مِنْهُمَا.(لَا) إجَارَةُ (بِرْكَةٍ لِصَيْدِ سَمَكٍ) مِنْهَا فَلَا تَصِحُّ كَاسْتِئْجَارِ الْأَشْجَارِ لِلثِّمَارِ (وَتَصِحُّ) إجَارَتُهَا (لِحَبْسِ مَا فِيهَا) حَتَّى يَجْتَمِعَ فِيهِ السَّمَكُ ثُمَّ (يَصْطَادَ مِنْهُ) .
Sah sewa mashaf al-Qur’an dan kitab untuk muthala’ah dan membaca keduanya, tidak sah menyewa kolam untuk berburu ikan darinya, maka tidak sah menyewa pohon untuk buahnya, akan tetapi sah menyewa kolam untuk menahan air di dalamnya sehingga berkumpul ikan di dalamnya, kemudian memburunya.[8]

3.    Zainuddin al-Malibari mengatakan :
فلا يصح اكتراء بستان لثمرته لأن الأعيان لا تملك بعقد الإجارة قصدا.ونقل التاج السبكي في توشيحه اختيار والده التقي السبكي في آخر عمره صحة إجارة الأشجار لثمرها وصرحوا بصحة استئجار قناة أو بئر للانتفاع بمائها للحاجة.
Maka tidak sah menyewa kebun untuk buahnya, karena benda tidak dapat dimiliki dengan qashadnya dengan akad sewa. Namun dalam kitab Tausyihnya, Al-Taj al-Subki pernah mengutip pilihan bapaknya, al-Taqy al-Subki pada akhir umurnya sah sewa pohon untuk buahnya dan para ulama telah menjelaskan sah sewa terusan air atau sumur untuk mengambil manfaat airnya karena hajad.[9]

Namun pendapat al-Taqy al-Subki di atas oleh pengarang I’anah al-Thalibin mengatakannya dhaif.[10]






[1] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. III, Hal. 1153, No. 1513
[2] Al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurthubah, Juz. X, Hal. 220
[3] Al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurthubah Juz. X, Hal. 220
[4] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. III, Hal. 1153, No. 1514
[5] Al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurthubah , Juz. X, Hal. 220
[6] Zainuddin al-Malibari, Fathul Mu’in, (dicetak pada hamisy I’anah al-Thalibin), Thaha Putra, Semarang, Jjuz. III, Hal. 9-10
[7] Al-Nawawi, Raudhah al-Thalibin, al-Maktab al-Islami, Juz. V, Hal. 256
[8] Zakariya al-Anshari, Asnaa al-Mathalib, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 435
[9] Zainuddin al-Malibari, Fathul Mu’in, (dicetak pada hamisy I’anah al-Thalibin), Thaha Putra, Semarang, Jjuz. III, Hal. 114
[10] Abu Bakar al-Syatha,  I’anah al-Thalibin, Thaha Putra, Semarang, Jjuz. III, Hal. 114

Sabtu, 04 November 2017

Membuka telapak tangan ketika salam dalam shalat

Fenomena melakukan salam dalam shalat dengan membuka tangan kadang-kadang muncul pada sebagian orang awam di Aceh dan negeri kita pada umumnya. Sebenarnya perilaku semacam ini pernah dilakukan sebagian sahabat di zaman Nabi SAW, kemudian beliau melarangnya. Ini sebagaimana tergambar dalam hadits dari Jabir bin Samurah r.a, beliau berkata :
خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: مَا لِي أَرَاكُمْ رَافِعِي أَيْدِيكُمْ كَأَنَّهَا أَذْنَابُ خَيْلٍ شُمْسٍ؟ اسْكُنُوا فِي الصَّلَاةِ قَالَ: ثُمَّ خَرَجَ عَلَيْنَا فَرَآنَا حَلَقًا فَقَالَ: مَالِي أَرَاكُمْ عِزِينَ قَالَ: ثُمَّ خَرَجَ عَلَيْنَا فَقَالَ: أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا؟ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا؟ قَالَ: يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْأُوَلَ وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ
Rasulullah SAW keluar menemui kami dan berkata : “Ada apa aku melihat kalian mengangkat-angkat tangan kalian, seakan-akan seperti ekor kuda liar saja. Tenanglah kalian di dalam shalat. “Jâbir berkata kembali  : “Kemudian beliau SAW keluar menemui kami (pada lain waktu) dan melihat kami sedang bergerombol”, lantas beliau bersabda : “Ada apa aku melihat kalian bergerombol” Jâbir melanjutkan : “Kemudian beliau SAW keluar menemui kami sembari mengatakan : “Kenapa kalian tidak berbaris sebagaimana para malaikat berbaris di hadapan tuhan mereka?” Kami berkata : “Wahai Rasulullah, bagaimanakah berbarisnya Malaikat di hadapan tuhan mereka?” Rasulullah SAW menjawab : “Mereka menyempurnakan shaf yang paling awal sembari merapatkan barisannya”(H.R Muslim)[1]

Imam al-Nawawi mengatakan, maksud mengangkat tangan yang dilarang di sini adalah mengangkatkan tangan ketika memberikan salam dengan mengisyaratkan memberikan salam kepada dua sampingnya sebagaimana dijelaskan dalam riwayat yang kedua.[2]  Riwayat kedua dimaksud adalah jalur yang sama juga dengan hadits di atas, namun dengan redaksi yang berbeda, yakni berbunyi :
عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ، قَالَ: كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْنَا: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى الْجَانِبَيْنِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَلَامَ تُومِئُونَ بِأَيْدِيكُمْ كَأَنَّهَا أَذْنَابُ خَيْلٍ شُمْسٍ؟ إِنَّمَا يَكْفِي أَحَدَكُمْ أَنْ يَضَعَ يَدَهُ عَلَى فَخِذِهِ ثُمَّ يُسَلِّمُ عَلَى أَخِيهِ مَنْ عَلَى يَمِينِهِ، وَشِمَالِهِ
Dari Jabir bin Samurah r.a. berkata : “Ketika kami shalat bersama Rasulullah SAW,  kami mengucapkan ”Assalamu alaikum wa rahmatullah – Assalamu alaikum wa rahmatullah” sambil berisyarat dengan kedua tangan ke samping masing-masing. Kemudian Rasulullah SAW mengingatkan, ”Mengapa kalian mengangkat tangan kalian, seperti kuda liar? Kalian cukup letakkan tangan kalian di pahanya kemudian salam menoleh ke saudaranya yang di samping kanan dan kirinya. (H.R. Muslim)[3]

Larangan mengangkat tangan ini, karena tuntunan shalat yang semestinya harus selalu dalam keadaan tetap. Karena itu, Imam Muslim telah menempatkan kedua hadits di atas dalam “Bab perintah tetap dalam shalat, larangan isyarat dengan tangan dan mengangkatnya ketika salam, menempurnakan shaf pertama dan merapatkan barisan serta perintah bersatu.[4]
Adapun makna larangan ini adalah larangan yang bersifat makruh. Berdasarkan ini dalam Irsyad al-Ibad, Zainuddin al-Malibari menyebut banyak perkara-perkara yang dimakruhkan dalam shalat. Perkara  terakhir yang beliau sebutkan adalah : 
وتقليب اليدين عند التسليمتين.
Dan membalikkan dua tangan ketika melakukan dua salam.[5]




[1] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 322, No. 430
[2] Al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurthubah, Juz. IV, Hal. 201
[3] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 322, No. 431
[4] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 322.
[5] Zainuddin al-Malibari, Irsyad al-Ibad, Syirkah al-Ma’arif, Bandung, Hal. 17

Jumat, 03 November 2017

Ghayatul Wushul (Terjemahan dan Penjelasannya), Masalik ‘Illat, al-Munasabah, Hal. 122

(الخامس) من مسالك العلة (المناسبة) . وهي لغة الملايمة واصطلاحا ملاءمة الوصف المعين للحكم أو ما يعلم من تعريف المناسب الآتي، ويسمى هذا المسلك بالإحالة أيضا، كما ذكره الأصل سمي بها ذلك لأن بمناسبته الوصف يخال أي يظن أن الوصف علة ويسمى بالمصلحة وبالاستدلال وبرعاية المقاصد أيضا. (ويسمى استخراجها) أي العلة المناسبة (تخريج المناط) لأنه إبداء ما نيط به الحكم، فالمناط من النوط وهو التعليق أما تنقيح المناط وتحقيقه فسيأتيان. (وهو) أي تخريج المناط (تعيين العلة بإبداء) أي إظهار (مناسبة) بين العلة المعينة والحكم (مع الاقتران بينهما كالاسكار) في خبر مسلم كل مسكر حرام ، فهو لإزالته العقل المطلوب حفظه مناسب للحرمة، وقد اقترن بها وخرج بإبداء المناسبة ترتيب الحكم على الوصف الذي هو من أقسام الإيماء وغير ذلك كالطرد والشبه وبالاقتران إبداء المناسبة في المستبقي في السبر. (ويحقق) بالبناء للمفعول (استقلال الوصف) المناسب في العلية (بعدم غيره) من الأوصاف (بالسبر) لا بقول المستدل بحثت فلم أجد غيره، والأصل عدمه بخلافه في السبر لأنه لا طريق له ثم سواه، ولأن المقصود هنا إثبات استقلال وصف صالح للعلية وثم نفي ما لا يصلح لها.
Yang kelima dari masalik ‘illat adalah al-munaasabah, yakni menurut bahasa adalah kesesuaian, sedangkan menurut istilah kesesuaian washaf yang menentukan hukum atau kesesuaian sesuatu yang dimaklumi nantinya dari devinisi al-munasib. Dinamakan juga masalik ini dengan al-ikhaalah sebagaimana telah disebut oleh asal, dinamakan dengannya karena munasabah hukum bagi washaf dapat menghasilkan sangkaan, yakni dhan bahwa washaf itu adalah ‘illat. Dinamakan juga dengan mashlahah, istidlal dan bar’aayah al-maqashid.
Dan dinamakan upaya mengeluarkan ‘illat munaasabah dengan takhrij al-manaath. Karena mengeluarkan ‘illat adalah mendhahirkan sesuatu yang disangkutkan hukum kepadanya. Maka al-manaath berasal dari al-nauth yang bermakna menyangkutkan. Adapun tanqih al-manaath dan tahqiq al-manaath akan datang pembahasannya. Dia, yakni takhrij al-manaath adalah menentukan ‘illat dengan cara ibda’, yakni mendhahirkan munaasabah antara ‘illat yang menentukan dan hukum serta ada penyertaan antara keduanya. Contohnya memabukkan pada hadits Muslim : “Setiap yang memabukkan haram”. Maka memabukkan, karena menghilangkan akal yang dituntut memeliharanya munaasabah bagi haram dan ada menyertai memabukkan itu dengan haram. Dengan perkataan “ibda’ al-mnaasabah” keluar/tidak termasuk takhrij al-manaath penetapan hukum atas washaf yang termasuk pembagian ‘iimaa’ dan lainnya seperti al-thard dan al-syabbah.(1) Dengan perkataan “iqtiraan” keluar/tidak termasuk takhrij al-manaath mendhahirkan munaasabah pada sisa washaf pada masalah al-sabr. Dan dipastikan (perkataan yuhaqqiqu dibaca dengan mabni ‘ala maf’ul) tersendiri washaf yang munaasabat pada ‘iilat dengan sebab tidak ada selainnya dari washaf-washaf dengan jalan al-sabr, tidak dengan perkataan yang beristidlal : “Sudah aku bahas, akan tetapi tidak aku dapati selainnya, sedangkan asalnya tidak ada”. Ini berbeda pada al-sabr, karena pada al-sabr tidak jalan di sana selainnya dan karena maksud di sini menetapkan tersendiri washaf yang patut untuk ‘illat dan kemudian menafikan yang tidak patut baginya.
Penjelasan
(1). Al-thard dan al-syabbah dibahas nantinya, masing-masing dalam masalik ‘illat yang ke delapan dan ke enam.