Kamis, 15 Maret 2012

TATA LAKSANA SHALAT JUM’AT


A. Pendahuluan
Ibadah Jumat terdiri dari :
1. Dua khutbah Jum’at
2. Dua raka’at shalat Jum’at

B. Hukum Shalat Jum’at
Shalat Jum’at hukumnya wajib ‘ain dengan ijmak ulama dan berdasarkan firman Allah, berbunyi :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya : Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(Q.S. al-Jum’at : 9)

C. Syarat-Syarat Wajib Jum’at
1. Islam
2. Baligh
3. Berakal
4. Laki-laki
5. Merdeka (bukan hamba sahaya)
6. Bermuqim (tidak dalam keadaan musafir)
7. Tidak dalam keadaan ‘uzur (‘uzur Jum’at adalah ‘uzur dalam jama’ah)[1]
CatatanOrang yang tidak wajib melaksanakan shalat Jumat, harus melaksanakan shalat dhuhur sebagai gantinya, kecuali orang gila. Namun, apabila mereka ikut shalat Jum’at, shalatnya sah sebagai ganti dhuhur
D. Syarat –Syarat Sah Jum’at
1. Dalam waktu dhuhur
2. Dilakukan dalam kawasan yang ada perumahan yang sifatnya tidak sementara
3. Tidak didahulu Jum’at lain dalam kawasan tersebut, karena tidak boleh ada dua Jum’at atau lebih dalam satu kawasan kecuali karena kesukaran
4. Berjama’ah
5. Jum’at itu didirikan oleh empat puluh laki-laki baligh berakal, merdeka dan menetap di suatu kawasan tidak ada cita-cita untuk berpindah ketempat dalam keadaan apapun kecuali karena dharurat.
Kunjungi : Http: kitab.kuneng.blogspot.com
6. Dua khutbah sebelum shalat.[2]

E. Rukun-Rukun Khutbah Jum’at

Salat Jum’at diawali dengan khutbah Jum’at yang dapat dilakukan oleh imam salat atau oleh orang lain. Khutbah terbagi dua ; khutbah pertama dan khutbah kedua yang dipisah dengan duduk sebentar. Dalam kitab Minhaj al-Thalibin[3] karangan al-Nawawi disebutkan isi khutbah harus mengandung lima egara rukun berikut:
1. Memuji Allah, sekurang-kurangnya :
الْحَمْد ِللهِ
2. Membaca shalawat kepada Nabi SAW, sekurang-kurangnya :
والصلاة عَلى رسول الله
3. Berwasiat atau berpesan pada jamaah agar bertakwa, sekurang-kurangnya :
اطيعوا الله
4. Membaca ayat Al Quran pada salah satu dari dua khutbah.
5. Berdo’a untuk orang yang beriman dengan segala hal yang bersifat ukhrawi (keakhiratan), namun boleh dicampur dengan urusan duniawi pada waktu khutbah kedua. Memadai doa tersebut dengan misalnya :
رحمكم الله
Contoh Lafazh Khutbah Jum’at pertama secara sempurna
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا و مِنْ َسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
اما بعد, يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
بسم الله الرحمن الرحيم.
ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Contoh Lafazh Khutbah Jum’at kedua secara sempurna
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَلِيُّ الصَّالِحِينَ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَمُ الأَنْْْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ., أَمَّا بعد ياايها الناس اوصيكم واياي بتقوى الله وطاعته لعلكم تتقون
بسم الله الرحمن الرحيم.
وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين

F. Sunnat-Sunnat Jum’at
1. Mandi, waktunya mulai terbit fajar. Yang utama dekat dengan waktu pergi Jum’at
2. Pergi ke Jum’at lebih awal
3. Berjalan kaki ke Jum’at
4. Banyak berzikir dan qiraah pada waktu pergi dan sesudah berada di mesjid sebelum khutbah
5. Tidak melangkahi bahu orang dalam mencapai shaf
6. Menggunakan baju yang bagus, sebaiknya warna putih
7. Memotong kuku
8. Menghilangkan bau tidak sedap
9. Memperbanyak membaca Surat al-Kahfi, malam dan siangnya
10. Memperbanyakan do’a dan shalawat.[4]

G. Yang Haram dengan Sebab Jum’at
Jual beli atau akad lainnya sesudah azan saat khatib di atas mimbar. Adapun sebelum itu makruh

H. Syarat-Syarat Khutbah
1. Rukun-rukun khutbah tersebut dalam Bahasa Arab
2. Dalam waktu Dhuhur
3. Berdiri jika mampu
4. Duduk antara dua khutbah, kalau khutbah sambil duduk, maka wajib diselang dua khutbah itu dengan diam sebentar
5. Memperdengarkan kepada ahli Jum’at
6. Muwalaat (berturut-turut)
7. Suci dari hadats dan najis
8. Menutup aurat[5]
I. Sunnat-Sunnat Khutbah
1. Menyimak khutbah (tidak berbicara), berdasarkan firman Allah berbunyi :
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya : Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat (Q.S. al-A’raf : 204)

Perintah dalam ayat ini bermakna sunnat, bukan wajib karena berpedoman dengan hadits riwayat Baihaqi dengan isnad shahih dari Anas berbunyi :
ان رجلا دخل والنبي صلى الله عليه و سلم يخطب يوم الجمعة فقال متى الساعة فأومأ الناس إليه بالسكوت فلم يقبل واعاد الكلام فقال النبي صلى الله عليه و سلم في الثالثة ماذا أعددت لها قال حب الله ورسوله قال انك مع من احببت
Artinya : Seorang laki-laki masuk masjid, sedangkan Nabi SAW sedang berkhutbah pada hari Jum’at. Laki-laki itu bertanya : “Kapan terjadi kiamat ? ”. Manusia mengisyaratkan padanya untuk diam, tetapi dia tidak mau menerimanya, bahkan mengulangi lagi pertanyaannya, maka Nabi Saw bersabda : “Apakah kamu sudah bersiap-siap untuknya ? “.laki-laki itu menjawab : “Mincintai Allah dan Rasul-Nya.” Nabi SAW melanjutkan, “Sesungguhnya kamu bersama orang-orang yang kamu cintai.” (H.R. Baihaqi)

2. Khutbah di atas mimbar atau tempat yang tinggi
3. Memberi salam ketika sudah di atas mimbar
4. Duduk sesudah egara salam
5. Muazzin melakukan adzan sesudah khatib egara salam
6. Isi khutbah pendek mudah dipahami
7. Khatib tidak berpaling kiri atau kanan
8. Memegang tongkat, pedang atau yang semisalnya
9. Ukuran duduk antara dua khutbah sekitar ukuran Surat al-Ikhlash.[6]
J. Niat Shalat Jum’at
Selesai khutbah, tiba waktunya salat Jum’at. Lafazh niatnya sebagai berikut:
1. Niat shalat Jum’at bagi makmum:
أُصَلِّي فَرْضَ الُجْمَعةِ رَكْعَتَيْن أَدَاءً مُسْتَقْبِلَ الِقبْلَةِ مَأمُومًا ِللهِ تَعاليَ

b.
Niat shalat Jum’at bagi Imam:

أُصَلِّي فَرْضَ الُجْمَعةِ رَكْعَتَيْن أَدَاءً مُسْتَقْبِلَ الِقبْلَةِ إمَامًا ِللهِ تَعاليَ

K. Hukum Makmum Yang Masbuq
1. Bagi makmum yang ketinggalan satu rakaat shalat Jum’at (makmum masbuq), maka dia cukup menambah satu rak’at yang ketinggalan setelah imam mengucapkan salam.
2. Bagi yang ketinggalan dua raka’at dan Cuma kebagian sujud atau duduk tahiyat bersama imam, maka harus menyempurnakan empat raka’at seperti layaknya shalat dhuhur.
3. Bagi yang ketinggalan shalat Jum’at sama sekali, maka harus mengganti dengan shalat dhuhur
Dasarnya adalah atsar Sahabat Nabi :
قالوا من أدرك ركعة من الجمعة صلى إليها أخرى ومن أدركهم جلوسا صلى أربعا وبه يقول سفيان الثوري وابن المبارك والشافعي وأحمد وإسحق
Artinya : Mereka mengatakan barangsiapa yang mendapati satu raka’at dari Jum’at, maka hendak menambah yang lain kepadanya dan barangsiapa yang mendapatinya dalam keadaan duduk, maka hendak shalat empat raka’at. Ini termasuk pendapat Sufyan al-Tsury, Ibnu al-Mubarak, Syafi’I, Ahmad dan Ishaq (R. Turmidzi)[7]

L. Masalah-Masalah yang Sering diperselisihkan hukumnya di Sekitar Shalat Jum’at
1). Masalah Bilangan Jum’at
Telah terjadi perbedaan pendapat para ulama mengenai jumlah ahli jum’at yang menjadi persyaratan sahnya shalat jum’at. Menurut pengarang Kitab I’anah al-Thalibin,[8] terdapat empat belas pendapat mengenai jumlah ahli jum’at yang menjadi persyaratan shalat jum’at, yaitu :
1. Empat puluh orang termasuk imam, menurut pendapat yang muktamad dalam mazhab Syafi’i. Pendapat ini juga merupakan pendapat Umar bin Abdul Aziz, riwayat lain dari Ahmad bin Hanbal dan Ishaq.[9]
2. Satu orang, menurut hikayah Ibnu Hazmi
3. Dua orang, sama halnya dengan persyaratan jama’ah. Pendapat ini dikemukakan oleh al-Nakh’i dan ahlu Zhahir
4. Tiga orang selain imam, menurut Abu Hanifah dan Sufyan al-Tsury
5. Dua orang selain imam, menurut Abu Yusuf, Muhammad dan al-Laits
6. Tujuh orang, menurut Ikramah
7. Sembilan orang, menurut Rabi’ah
8. Dua belas orang, menurut satu riwayat dari Rabi’ah dan menurut Malik
9. Dua belas orang selain iman, menurut Ishaq
10. Dua puluh orang, menurut riwayat Ibnu Habib dari Malik
11. Tiga puluh orang, juga menurut riwayat Ibnu Habib dari Malik
12. Lima puluh orang, menurut satu riwayat dari Ahmad dan Umar bin Abdul Aziz
13. Delapan puluh orang, menurut al-Maziry
14. Jama’ah yang banyak tanpa batasan tertentu
Dalam Umairah disebutkan, Abu Hanifah dan qaul qadim Syafi’i membolehkan shalat jum’at dengan satu imam dan dua makmum.[10] Al-Bakri al-Damyathi dalam Taqrir I’anah al-Thalibin menjelaskan bahwa dalam qaul qadim Syafi’i ada qaul yang menyatakan sekurang-kurang ahli Jum’at adalah empat orang. Qaul ini dihikayah oleh pengarang Talkhis dan pengarang Syarah al-Muhazzab serta telah dipilih oleh al-Muzni dan ditarjih oleh Abu Bakar ibn Munzir. Al-Suyuthi juga memilih qaul ini, karena menurut beliau, qaul ini merupakan qaul Syafi’i yang didukung oleh dalil. Disamping itu, termasuk dalam qaul qadim adalah pendapat yang menyatakan ahli Ju’mat adalah dua belas orang.[11]
Adapun dalil-dalil penetapan ahli Jum’at, sekurang-kurangnya empat puluh orang, antara lain hadits riwayat Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik dari bapaknya Ka’ab bin Malik,
أنه كان إذا سمع النداء يوم الجمعة ترحم على أسعد بن زرارة فقلت له إذا سمعت النداء ترحمت لأسعد قال لأنه أول من جمّع بنا في هزم النَبيتِ من حَرّة بني بَياضةَ في نَقيع يقال له نقيع الخَضِمات قلت له كم كنتم يومئذ قال أربعون
Artinya : Sesungguhnya Ka’ab bin Malik apabila mendengar azan pada hari Jum’at, mendo’akan rahmat untuk As’ad bin Zararah. Karena itu, aku bertanya kepadanya : “Apabila mendengar azan, mengapa engkau mendo’akan rahmat untuk As’ad ? Ka’ab bin Zararah menjawab : “As’ad adalah orang pertama yang mengumpulkan kami shalat Jum’at di sebuah perkebunan di Desa Hurah Bani Bayadhah pada sebuah lembah yang disebut dengan Naqi’ al-Khashimaat. Aku bertanya padanya : “Kalian berapa orang pada saat itu ?” Beliau menjawab : “Empat puluh orang.” (H.R. Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim. Berkata Baihaqi : hadits hasan dengan isnad sahih)[12]

Berkata Hakim : “Hadits ini shahih atas syarat Muslim.”[13]

Jalan pendalilian dengan hadits ini dikatakan, Ijmak ulama keabsahan shalat Jum’at harus dengan memenuhi persyaratan bilangannya. Maka tidak sah shalat Jum’at kecuali dengan bilangan yang ditetapkan syara’(tauqif). Berdasarkan hadits di atas, Jum’at boleh dilakukan dengan bilangan empat puluh orang. Maka tidak boleh mendirikan Jum’at dengan bilangan yang kurang dari itu kecuali ada dalil yang menjelaskannya. Sedangkan hadits Rasulullah SAW menerangkan :
صلوا كما رأيتموني أصلي
Artinya : Shalatlah sebagaimana kamu melihat aku shalat.(H.R. Bukhari dan Baihaqi)[14]
Pendalilian seperti ini telah disebut oleh Ibnu Mulaqqan dalam Badrul Munir.[15] Keterangan bahwa pada jum’at tidak boleh tidak dari bilangan jum’at, juga dikemukakan oleh al-Suyuthi.[16] Jalan pendalilian lain disebut oleh al-Khithabi al-Busty, yaitu : Jum’at yang terjadi pada kisah hadits di atas merupakan Jum’at kali pertama dalam sejarah Islam. Oleh karena itu, semua keadaannya menjadi wajib pada Jum’at, karena hal itu merupakan penjelasan (bayan) atas mujmal yang wajib. Sedangkan bayan mujmal yang wajib adalah wajib.[17]
Hadits-hadits lain yang mendukung antara lain :
2. Hadits dari Jabir, beliau berkata :
مضت السنة أن في كل أربعين فصاعدا جمعة
Artinya : Sudah berlaku sunnah bahwa pada setiap empat puluh orang dan selebihnya boleh dilaksanakan shalat Jum’at.(H.R. al-Darulquthni)[18]

Hadits ini juga diriwayat oleh Baihaqi.[19]

3. Hadits dari Abu al-Darda’, beliau berkata :
ان رسول الله صلعم قال إذا اجتمع أربعون رجلا فعليهم الجمعة
Artinya : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “Apabila berkumpul empat puluh orang laki-laki, maka wajib atasnya shalat Jum’at.”[20]

4. Hadits dari Abu Umamah, beliau berkata :
أن النبي صلعم قال لا جمعة الا باربعين
Artinya : Sesungguhnya Nabi SAW bersabda : “Tidak ada Jum’at kecuali dengan empat puluh orang.”[21]

5. Hadits Ibnu Mas’ud, beliau berkata :
جمعنا رسول الله صلعم نحن أربعون رجلا
Artinya : Kami shalat Jum’at bersama Rasulullah SAW, kami waktu itu empat puluh orang (H.R. Baihaqi)[22]

6. Al-Raqi mengatakan :
أتانا كتاب عمر بن عبد العزيز إذا بلغ أهل القرية أربعين رجلا فليجمعوا
Artinya : Datang kepada kami surat dari Umar bin Abd al-Aziz, “Apabila penduduk suatu egara sampai empat puluh orang laki-laki, maka hendaklah melakukan jum’at.” (H.R. Baihaqi)[23]

Berikut ini beberapa hadits mengenai bilangan Jum’at yang digunakan untuk menolak pendapat bahwa bilangan Jum’at haruslah empat puluh orang dengan disertai penjelasan kualitas hadits tersebut, antara lain :
7. Hadits Nabi SAW :
على خمسين جمعة ليس فيما دون ذلك
Artinya : Kewajiban Jum’at atas lima puluh orang, tidak dibawah itu.(H.R. Baihaqi dan Darulquthni)[24]

Berkata al-Baihaqi : “Hadits ini tidak sah isnadnya.”[25]

2. Hadits riwayat Ummul Abdullah al-Dausiyah, berkata :
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم الجمعة واجبة على كل قرية وإن لم يكن فيها إلا أربعة
Artinya : Rasulllah SAW bersabda ; “Jum’at wajib atas setiap egara, meskipun tidak ada pada perkampungan itu kecuali empat orang.”(H.R. Darulquthni)

Hadits ini diriwayat oleh Mu’awiyah bin Sa’id al-Tajibi dari al-Zahry dari Ummul Abdullah al-Dausiyah. Darulquthni mengatakan : “Tidak sah ini dari al-Zahri.”[26]

Dalam mensyarah hadits di atas, Abady Abu al-Thaib mengatakan :
“Hadits ini dikeluarkan oleh Darulquthni dalam tiga jalur, (maksudnya, ini yang pertama dan setelah ini adalah dua dan tiga) semuanya dha’if,”[27]

8. Dalam riwayat lain, Ummul Abdullah al-Dausiyah mengatakan :
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم الجمعة واجبة على كل قرية فيها إمام وإن لم يكونوا إلا أربعة
Artinya : Berrsabda Rasulullah SAW : “Jum’at wajib atas setiap perkampungan yang ada imam, meskipun tidak ada pada perkampungan itu kecuali empat orang.” (H.R. Darulquthni)

Hadits ini diriwayat oleh Walid bin Muhammad dari al-Zahri dari Ummul Abdullah al-Dausiyah. Darulquthni mengatakan :
Walid bin Muhammad al-Muqiri matruk (ditinggalkan). Tidak sah ini dari al-Zahri dan setiap orang yang meriwayat darinya adalah matruk (ditinggalkan).”[28]

9. Dalam riwayat lain lagi, Ummul Abdullah al-Dausiyah mengatakan :
سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول الجمعة واجبة على أهل كل قرية وإن لم يكونوا إلا ثلاثة رابعهم إمامهم
Artinya : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Jum’at wajib atas penduduk setiap perkampungan, meskipun tidak ada mereka kecuali tiga orang, dimana yang keempat dari mereka adalah imam.”(H.R. Darulquthni)

Hadits ini diriwayat al-Hukm bin Abdullah bin Sa’ad dari al-Zahri dari Ummul Abdullah al-Dausiyah. Setelah meriwayat hadits ini, Darulquthni mengatakan :
Al-Zuhri tidak sah mendengar dari al-Dausiyah.”[29]

2). Masalah Adzan sebelum Shalat Jum’at
Adzan Jum’at pada masa Rasulullah adalah 1 kali, adapun pelaksanaan adzan dua kali pada shalat jum’at ini di temukan riwayatnya pada zaman Khalifah Ustman bin Affan Ra, karena pengaruh lingkungan seperti makin ramainya jumlah penduduk dan segala aktifitas penduduk semakin padat dan sibuk, yakni seperti perdagangan yang tumbuh dan berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan zaman. Dengan demikian azan dua kali diperbolehkan apabila keadaan memang membutuhkannya.
3). Membaca Innallaha wa malaikatahu yushaalluna ‘alannabi sebelum khutbah Jum’at
Imam Ar-Ramli ditanyai tentang seorang yang maju keluar didepan khatib, berkata ayat; Innallah wa malaikatahu yushaalluna ‘alannabi, apakah itu asal pada sunnah dan ada diperbuat dihadapan Nabi SAW sebagaimana dilakukan sekarang atau ada diperbuat oleh salah seorang Sahabat Nabi atau Tabi’in semoga ridha Allah untuk mereka, dengan sifat-sifat tersebut ? Imam Ar-Ramli menjawab :
Bahwa yang demikian itu tidak asal pada sunnah dan tidak diperbuat dihadapan Nabi SAW bahkan Rasulullah tidak terburu-buru ke mesjid pada hari Jum’at sehingga berkumpul manusia. Maka apabila manusia telah berkumpul, Beliau keluar sendiri tanpa orang yang egar bersuara keras dihadapannya. Apabila masuk mesjid, beliau egara salam kemudian apabila naik mimbar, beliau menghadap manusia dengan wajahnya seraya egara salam, kemudian duduk dan Bilalpun melakukan azan. Apabila sudah selesai dari azan, Beliau berdiri berkhutbah tanpa pemisahan antara azan dan khutbah, tidak dengan atsar dan tidak dengan khabar dan juga tidak dengan lainnya. Demikian juga keadaan para khalifah yang tiga sesudahnya. Oleh karena itu, dapat dimaklumi bahwa sesungguhnya ini adalah bid’ah tetapi bid’ah hasanah. Maka pembacaan ayat yang mulia merupakan pemberitahuan dan menggemarkan mendatangkan shalawat kepada Nabi SAW pada ini hari (jum’at) hari yang mulia yang dituntut memperbanyak shalawat. Membaca khabar sesudah azan dan sebelum khutbah dapat mengingatkan mukallaf untuk menjauhi kalam yang haram atau makruh pada ini waktu berdasarkan ikhtilaf ulama tentang ini. Sesungguh Rasulullah SAW mengatakan khabar ini atas mimbar pada saat khutbahnya”[30]

4). Menggunakan Tongkat dalam Khutbah
Sunnah hukumnya memegang tongkat dengan tangan kirinya pada saat membaca khutbah. Dalilnya sebagai berikut :
الحكم بن حزن رضي الله عنه قال " وفدت الي النبي صلي الله عليه وسلم فشهدنا معه الجمعة فقام متوكئا علي قوس أو عصي فحمد الله وأثنى عليه كلمات خفيفات طيبات مباركات
Artinya : Al-Hakm bin Hazn r.a. berkata, Aku tiba kepada Nabi SAW, kami bersama beliau melakukan ibadah Jum’at, beliau berdiri bertongkat atas busur atau tongkat, maka beliau memuji Allah dan menyanjungi-Nya dengan kalimat-kalimat yang ringan, baik dan penuh berkat. (H.R. Abu Daud dan lainnya dengan sanad hasan)[31]

5). Shalat Jum’at bertepatan dengan shalat hari raya
Para ulama berbeda pendapat mengenai egar shalat Jum’at yang bertepatan dengan Shalat Raya. Syafi’I dan pengikutnya berpendapat jatuh hari raya pada hari Jum’at tidak menghilangkan kewajiban Shalat Jum’at pada hari tersebut atas penduduk yang ada sekitar mesjid (penduduk balad). Pendapat ini juga merupakan pendapat Usman bin Affan, Umar bin Abdul Aziz dan jumhur ulama. Itha’ bin Abi Ribaah berpendapat atas penduduk balad maupun penduduk dusun tidak wajib shalat Jum’at, shalat Dhuhur dan lainnya kecuali shalat ‘Ashar pada hari tersebut. Menurut Ibnu Munzir pendapat ini juga merupakan pendapat Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Zubair. Ahmad mengatakan gugur shalat Jum’at atas penduduk balad maupun penduduk dusun, tetapi wajib atas mereka shalat Dhuhur. Abu Hanifah berpendapat Jum’at tidak gugur sama sekali, baik atas penduduk balad maupun penduduk dusun.[32]1 Pendapat Abu Hanifah ini juga merupakan pendapat sebagian ulama dari kalangan Syafi’I yang masuk dalam katagori dha’if.[33]
Sebagimana disebut di atas, menurut Mazhab Syafi’I bertepatan hari raya pada hari Jum’at tidak menghilangkan kewajiban Shalat Jum’at pada hari tersebut atas penduduk yang ada sekitar mesjid (penduduk balad). Adapun penduduk yang dusun (ahlu qura) yang jauh dari mesjid diberikan keringan tidak melakukan shalat Jum’at pada hari itu.[34] Tidak menggugurkan jum’at yang bertepatan dengan hari raya karena dhahir firman Allah Q.S. al-Jum’at : 9 berlaku kapan saja dan dengan keadaan bagaimana saja. Ayat tersebut berbunyi :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya : Hai orang-orang beriman, apabila egara untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya.(Q.S. al-Jum’ah : 9)

Dua hadits di bawah ini dijadikan dalil oleh sebagian ulama yang berpendapat bahwa shalat hari raya menggugurkan kewajiban shalat Jum’at apabila hari raya bertepatan dengan hari Jum’at, yaitu antara lain :
10. Hadits Nabi SAW
عن إياس بن أبي رملة الشامي قال شهدت معاوية بن أبي سفيان وهو يسأل زيد بن أرقم قال
أشهدت مع رسول الله صلى الله عليه و سلم عيدين اجتمعا في يوم ؟ قال نعم قال فكيف صنع ؟ قال صلى العيد ثم رخص في الجمعة فقال " من شاء أن يصلي فليصل
Artinya : Dari Iyaas bin Abi Ramalah al-Syami, beliau berkata aku telah menyaksikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan bertanya kepada Zaid bin Arqam, Mu’awiyah berkata : “Apakah engkau ada menyaksikan pada masa Rasulullah SAW berhimpun dua hari raya pada satu hari ? Zaid bin Arqam menjawab : “ya”. Kemudian Mu’awiyah bertanya lagi : “Bagaimana yang dilakukan Rasulullah ? “Rasulullah melakukan shalat hari raya dan membolehkan tinggal shalat Jum’at” jawab Zaid bin Arqam. Maka berkata Mu’awiyah : “Barangsiapa yang menginginkan shalat, maka hendaknya dia shalat”. (H.R. Abu Daud)[35]

11. Hadits Nabi SAW
قد اجتمع في يومكم هذا عيدان فمن شاء أجزأه من الجمعة وإنا مجمعون
Artinya : Sesungguhnya pada hari ini telah berhimpun dua hari raya. Barang siapa yang menginginkan, maka memadai untuk Jum’at. Tetapi sesungguhnya kami melaksanakan Jum’at. (H.R. Abu Daud) [36]

Untuk menjawab pendalilian ini, kita jelaskan dulu bagaimana keadaan masjid pada zaman Rasulullah. Pada zaman beliau masjid jami` (masjid besar yang digunakan untuk shalat jum`at) hanya ada di pusat kota Makkah atau Madinah, sedangkan yang di desa-desa/pedalaman hanya ada masjid-masjid kecil, atau sering disebut mushalla, yang tidak mampu menampung jumlah besar jamaah yang egara untuk shalat jum`at atau shalat Ied. Oleh karena itu, masyarakat yang tinggal di desa/pedalaman bila ingin melaksanakan shalat Jum`at atau Ied, mereka pergi ke masjid besar, atau yang sering disebut masjid jami’. Mereka memerlukan perjalanan yang cukup meletihkan untuk pergi ke masjid jami` tersebut. Suatu ketika hari raya bertepatan jatuh pada hari jum`at. Ini yang menyebabkan orang-orang yang tinggal di desa merasa kerepotan, karena harus pergi ke masjid jami’ dua kali dalam sehari, padahal perjalanan yang ditempuh terkadang cukup jauh. Bila mereka harus menunggu di masjid sampai waktu jum`at, tentu itu terlalu lama bagi mereka. Meskipun begitu sebagian sahabat yang dari pedalaman, ada yang berusaha menunggu di masjid jami’ sampai datangnya waktu jum`at. Sebagian lain ada yang kembali ke desa dan kembali lagi waktu shalat Jum’at. Melihat keadaan yang seperti ini, Rasulullah memberikan keringanan kepada penduduk yang tinggal di desa untuk pulang ke desa tanpa perlu balik lagi ke mesjid jami’ untuk melaksanakan shalat Jum’at pada hari raya. Dengan demikian dua hadits di atas tidak dapat menjadi dalil menggugurkan kewajiban shalat Jum’at apabila bertepatan dengan shalat hari raya.
6). Masalah I’adah Dhuhur
I’adah Dhuhur adalah melakukan shalat dhuhur sesudah selesai shalat Jum’at karena shalat Jum’at ternyata tidak sah atau dikuatirkan tidak sah. I’adah shalat Dhuhur ini yang biasanya dilakukan oleh kalangan pengikut Mazhab Syafi’I kalau dirincikan dilakukan dengan beberapa sebab, antara lain :
  1. Jumlah jama’ah Jumat kurang dari 40 orang
Karena itu, kalau jama’ah tetap berpegang kepada pendapat yang rajih dari Syafi’I bahwa ahli Jum’at harus 40 orang, maka apabila kurang, wajib i’adah Dhuhur dan kalau berpegang kepada qaul qadim Syafi’I (pendapat dhaif dalam Mazhab Syafi’i) memadai 4 orang, maka i’adah Dhuhur sunnat hukumnya, untuk ihtiyath (hati-hati)
  1. Jumlah masjid yang menyelenggarakan shalat Jum’at di desa tersebut lebih dari satu masjid dengan tanpa egara dharurat. Pada saat itu, Jum’at yang sah hanya Jum’at yang lebih duluan takbiratul ihramnya
Karena itu, apabila dipastikan, diduga (dhan) atau diragukan lebih duluan takbiratul ihram Jum’at lain, maka wajib i’adah Dhuhur [37]

7). Menyelangi Wasiat dengan Bahasa Non Arab
Ahli fiqh selain Mazhab Hanafi sepakat mensyaratkan rukun khutbah dibaca dalam bahasa Arab.[38] Ini tidak menjadi persoalan di saat khutbah Jum’at tersebut diucapkan untuk ahli Jum’at yang mengerti Bahasa Arab. Namun akan menjadi persoalan disaat khutbah tersebut diperuntukkan kepada ahli Jum’at yang tidak mengerti Bahasa Arab seperti di Indonesia dan egara-negara Islam non Arab lainnya. Padahal diharapkan dari khutbah trsebut menjadi wadah mengajak umat Islam untuk meningkatkan pengamalan agamanya. Untuk menjawab persoalan tersebut, umat Islam dunia dewasa ini dalam prakteknya memberikan solusi dengan memberikan ceramah agama dalam Bahasa non Arab (bahasa setempat) yang mudah dimengerti oleh ahli Jum’at setempat dengan tiga model, yakni :
1. Melakukan ceramah dalam Bahasa non Arab (bahasa setempat) sebelum masuk dua khutbah yang berbahasa Arab (ini biasa dilakukan oleh kalangan mazhab Syafi’I di Indonesia)
2. Melakukan khutbah dalam Bahasa Arab secara sempurna, kemudian baru melakukan ceramah dalam bahasa non Arab (bahasa setempat)
3. Melakukan ceramah dalam Bahasa non Arab (bahasa setempat) di antara rukun –rukun khutbah, yaitu setelah rukun wasiat. (Ini biasa dilakukan oleh kalangan modernis di Indonesia)
Model kedua dan ketiga ditolak dilakukannya oleh kebanyakan kalangan mazhab Syafi’I di Aceh dan Indonesia pada umunya, karena dengan beralasan khutbah seperti itu menjadi batal menurut fatwa ulama-ulama mu’tabar dalam mazhab Syafi’I, dimana berdasarkan fatwa ulama Mazhab Syafi’I, ada kewajiban muwalaat (berturut-turut) antara rukun-rukun khutbah dan antara khutbah dan shalat Jum’at. Ukuran muwalaat ini dikembalikan kepada ‘uruf. Menurut Imam ar-Rafi’i (salah seorang ulama terpengaruh dalam mazhab Syafi’i dan pendapatnya dianggap sebagai pendapat mu’tamad), ukuranya adalah sama dengan ukuran muwalaat shalat jamak[39] (yaitu ukuran dua raka’at sederhana). Adapun masalah menyelangi dengan nasehat agama dalam bahasa non Arab antara rukun-rukun khutbah apabila dalam ukuran yang lama, maka itu dapat menghilangkan muwalaat menurut Imam Ramli karena sama dengan diam yang lama. Sedangkan menurut ‘Ali Syibran al-Malusi berpendapat muwalaat tidak hilang meskipun dalam ukuran lama, karena nasehat agama dalam bahasa non Arab meskipun dalam ukuran lama, secara umum masih dalam katagori wasiat.[40] Pendapat Imam Ramli dianggap lebih rajih


[1] Al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin, dicetak pada hamisy Qalyubi wa Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 268
[2] Al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin, dicetak pada hamisy Qalyubi wa Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 271-277
[3] Al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin, dicetak pada hamisy Qalyubi wa Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 277-278
[4] Al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin, dicetak pada hamisy Qalyubi wa Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 283-289
[5] Al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin, dicetak pada hamisy Qalyubi wa Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 278-281
[6] Al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin, dicetak pada hamisy Qalyubi wa Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 280-283
[7] Turmidzi, Sunan al-Turmidzi, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 402
[8] Al-Bakri al-Damyathi, I’anah al-Thalibin, Thaha Putra, SEmarang, Juz. II, Hal. 57. Lihat juga al-Suyuthi, al-Hawi lil-Fatawi , Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. I, Hal. 66
[9] Al-Khithabi al-Busty, al-Ma’alim al-Sunan, al-Mathba’ah al-Ilmiyah, Juz. I, Hal. 245
[10] Umairah, Hasyiah Qalyubi wa ‘Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 274
[11] Al-Bakri al-Damyathi, Taqrir I’anah al-Thalibin, dicetak pada hamiys I’anah al-Thalibin, Thaha Putra, Semarang, Juz. II, Hal. 58-59
[12] Ibnu Mulaqqan, Tuhfah al-Muhtaj ila adallah al-Minhaj, Juz. I, Hal. 494. Lihat juga Baihaqi, Sunan al-Baihaqi, Maktabah Dar al-Baz, Makkah, Juz. III, Hal. 177, No. Hadits : 5396
[13] Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir, Darul Hijrah, Juz. IV, Hal. 600
[14] Baihaqi, Sunan Baihaqi, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 345, No. Hadits : 3672
[15] Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir, Darul Hijrah, Juz. IV, Hal. 600
[16] Al-Suyurhi, al-Hawi lil-Fatawi, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. I, Hal. 66
[17] Al-Khithabi al-Busty, al-Ma’alim al-Sunan, al-Mathba’ah al-Ilmiyah, Juz. I, Hal. 245
[18] Ibnu Hajar al-Asqalany, Bulughul Maram, Mathba’ah al-Salafiah, Mesir, Hal. 106
[19] Baihaqi, Sunan al-Baihaqi, Maktabah Dar al-Baz, Makkah, Juz. III, Hal. 177, No. Hadits : 5397
[20] Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir, Darul Hijrah, Juz. IV, Hal. 595-596
[21] Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir, Darul Hijrah, Juz. IV, Hal. 596
[22] Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir, Darul Hijrah, Juz. IV, Hal. 598
[23] Baihaqi, Sunan al-Baihaqi, Maktabah Dar al-Baz, Makkah, Juz. III, Hal. 178
[24] Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir, Darul Hijrah, Juz. IV, Hal. 596
[25] Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir, Darul Hijrah, Juz. IV, Hal. 596
[26] Darulquthni, Sunan Darulquthni, Darul Makrifah, Beirut, Juz. II, Hal. 7
[27] Abady Abu al-Thaib, ‘Aun al-Ma’bud, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 995
[28] Darulquthni, Sunan Darulquthni, Darul Makrifah, Beirut, Juz. II, Hal. 8
[29] Darulquthni, Sunan Darulquthni, Darul Makrifah, Beirut, Juz. II, Hal. 9
[30] Imam Ar-Ramli, Fatawa ar-Ramli, dicetak pada hamisy al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiah, Darul Fikri, Beirut, Juz. I, Hal. 276-277
[31] Al-Nawawi, Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 526
[32] Al-Nawawi, Majmu’ Syarah Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Yeddah, Juz. IV, Hal. 359
[33] Al-Nawawi, Majmu’ Syarah Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Yeddah, Juz. IV, Hal. 358
[34] Al-Nawawi, Majmu’ Syarah Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Yeddah, Juz. IV, Hal. 358
[35] . Abu Daud, Sunan Abu Daud, Darul Fikri, Beirut, Juz. I, Hal. 348, No. Hadits 1070
[36] Abu Daud, Sunan Abu Daud, Darul Fikri, Beirut, Juz. I, Hal. 349, No. Hadits 1073
[37] Lihat Amin al-Kurdy, Tanwirul Anwar, Thaha Putra, Semarang, Hal. 177-178 dan I’anah al-Thalibin, Juz. II, Bab Jum’at
[38] Abdurrahman al-Jaziry, Al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-Arba’ah, Hakikat Kitabevi, Istambul, Juz. II, Hal. 71
[39] Qalyubi, Hasyiah Qalyubi wa Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 281
[40] Syarwani, Hasyiah ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, Mathba’ah Mushtafa Muhammad, Mesir, Juz. II, Hal. 450

63 komentar:

  1. Terima Kasih atas penjelasan Tengku..
    saya mau tanya sedikit..
    kalau kita ragu sah atau tidaknya shalat jum'at karena tidak yakin bahwa ahli jum'at di mesjid tempat kita shalat jum'at tsb mencapai 40 orang atau tidak, dan mesjid tersebut tidak ada org yg shalat i'adah dhuhur scr berjamaah, maka apa yg harus kita lakukan ??
    apakah kita shalat dhuhur saja tanpa meniatkannya sebagai i'adah???

    BalasHapus
  2. kepada Enjell San

    terima kasih atas kunjungannya.
    i'adah shalat dhuhuhr artinya melakukan lagi shalat dhuhur sebagai ganti shalat Jum'at, karena shalat dhuhur diragukan keshahihannya atau untuk kehati2an. karena itu i'adah tersebut dapat dilakukan secara berjama'ah atau shalat sendiri2. jadi diniat atau tidak niat i'adahnya dalam takbiratul ihram, itu tidak berpengaruh terhadap keabsahannya.

    wassalam

    BalasHapus
  3. Terima Kasih Tengku...

    saya tadi berfikir bahwa shalat i'adah itu wajib berjamaah, karena tadinya saya membaca tulisan di sebuah blog, yg menyatakan bahwa shalat i'adah termasuk shalat yg wajib berjamaah seperti shalat jum'at.....

    namun setelah membaca jawaban Tengku dan uraian dlm Kitab Kasifah As-Sajaa (syarah kitab Matan Safinatunnaja)hal.81,, Ahlhamdulillah,, sepertinya sekarang saya memahaminya...

    yg lazim itu adalah niat imamah bagi imam ketika Takbiratul ihram..(ma'muman bagi ma'mun), artinya, jika imam dan ma'mum tidak meniatkannya, maka tidak dihitung sebagai shalat jama'ah.. namun shalat tersebut tetap sah (munfaridan)...

    mohon dikoreksi jika salah !!

    syukran katsiraa...

    BalasHapus
  4. Terima Kasih Tengku...

    saya tadi berfikir bahwa shalat i'adah itu wajib berjamaah, karena tadinya saya membaca tulisan di sebuah blog, yg menyatakan bahwa shalat i'adah termasuk shalat yg wajib berjamaah seperti shalat jum'at.....

    namun setelah membaca jawaban Tengku dan uraian dlm Kitab Kasifah As-Sajaa (syarah kitab Matan Safinatunnaja)hal.81,, Ahlhamdulillah,, sepertinya sekarang saya memahaminya...

    yg lazim itu adalah niat imamah bagi imam ketika Takbiratul ihram..(ma'muman bagi ma'mun), artinya, jika imam dan ma'mum tidak meniatkannya, maka tidak dihitung sebagai shalat jama'ah.. namun shalat tersebut tetap sah (munfaridan)...

    mohon dikoreksi jika salah !!

    syukran katsiraa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. masalah niat:
      Ma'muman/ jama'atan atau memiliki makna yg sama. Waktu niat harus d barengkan/bersamaan dg takbiratul ihram (takbir awal shalat) bila ingin berma'mum. Bila tdk bersamaan dg takbir niat menjadi ma'mumnya pd shalat jum'ah, maka shalat jum'ahnya tdk sah. Begitu pula pd shalat yg d qoshor (memendekkan shalat) niat qoshor dan berma'mumnya harus pd takbir juga atau tdk jadi/sah.
      Bila pd shalat yg d jama' (menggandeng shalat) boleh niat jama' trsbut tdk bareng dg takbirnya, selama shalat yg pertama belum selesai. Untuk shalat lain yg niat ma'mumnya tdk bersamaan dg takbir, maka shalatnya sah, namun berjama'ahnya tdk (tdk mndapat fadhilah).
      Bila ada orang shalat yg mengikuti gerak-geriknya pada yg berjama'ah namun ia tdk mau niat berjama'ah (pura-pura) ikut maka shalatnya tdk sah.
      Imam niatnya sunnah saja, kecuali shalat jum'ah, ia wajib menyertai niatnya mnjadi imam pd awal shalatnya (bersama takbir). Selain shalat jum'ah, imam dpt berniat d mana saja, tdk mesti dari awal.
      Seseorang boleh niat mnjadi imam dari awal shalat bareng dg takbir walau tdk ada ma'mumnya. Asal ada keyakinan bhwa d pertengahan shalatnya akan ada ma'mum.

      Hapus
  5. seorang imam apabila tidak ada niat menjadi imam, maka shalatnya menjadi mumfarid, tetapi sebaliknya pada makmum, apabila tidak meniatkan berjama'ah, maka shalatnya tidak sah, karena mengikuti orang lain dalam shalat dengan mengikuti apa yang dikerjakannya tanpa niat mengikuti (berjama'ah) termasuk main2 dgn ibadah (tala'ub bil ibadah) dan itu tidak boleh.
    saudara boleh membaca kembali pembahasan ini dalam kitab fiqh ttg shalat jama'ah

    wassaalam

    BalasHapus
  6. saya pernah mengikuti seorang imam yg bathin ashabi' kakikya tidak menyentuh lantai ketika sujud, dan bacaan fatihahnya tidak fasih,lalu saya memfaraq imam tsb, tapi saya tidak pernah mendahului gerakan imam tersebut krn bacaan saya lebih lambat, seakan-akan saya masih mengikuti imam tsb.... apakah cara tersebut termasuk ta'alub Tengku ??
    selain itu, bagaimana kalau ada makmum lain yg memfaraq imam tsb dan dia sengaja melambatkan bacaannya supaya gerakan rukun fi'linya tidak mendahului imam tsb agar tidak terlihat aneh dgn jamaah lainnya, apakah cara tsb juga termasuk ta'alub ??

    terima kasih atas kesedian Tengku menjawab pertanyaan saya..
    mengenai penjelasan ta'alub bil ibadah dlm shalat jamaah, kira2 saya bisa menemukannya dalam kitab apa Tengku ???

    BalasHapus
  7. Minta Izin donwload Teungku

    BalasHapus
  8. Teungku !!!
    Ini Email saya (enjellsan@gmail.com)

    atas bantuan Teungku saya ucapkan terima kasih..

    BalasHapus
  9. Enjell San yth
    kalau kebetulan perbuatan makmum dengan imam mutaba'ah (sepakat)tanpa niat jama'ah, ya gak apa apa seperti kasus saudara. tetapi kalau sengaja diperlambat untuk sepakat dengan imam, padahal tidak ada niat jama'ah, maka tidak sah.
    penjelasannya dapat dilihat kasyaf al-saja Hal. 104 mulai baris ke 15 "I'lam dst...

    wassalam

    BalasHapus
  10. maksud saya kitab kasyifah al-saja

    BalasHapus
  11. baik Teungku, utk persoalan di atas, saya hanya mengutip..

    "yg lazim adalah niat imamah bagi imam ketika Takbiratul ihram"

    selebihnya itu merupakan tambahan dari saya karena mengingat pengalaman terdahulu tsb, saya merasa terbantu dengan penjelasan dan rujukan yg Teungku sebutkan tsb, Terima kasih

    BalasHapus
  12. maaf Teungku, Mungkin krn penerbit nya td, sama. saya kesulitan menemukan pembahasan tsb.. penjelasan tsb terdapat pada poin ke berapa ??

    BalasHapus
  13. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  14. yth tgk Enjell San,
    kutipan saudara "yg lazim adalah niat imamah bagi imam ketika Takbiratul ihram" hal ini sebagaimana penjelasan selanjutnya hanya berlaku bagi empat shalat, yaitu : shalat jum'at, shalat yang diulang (i'adah)dalam rangka ingin berjama'ah pada shalat yg kedua kalinya, shalat yang di nazar secara berjama'ah dan shalat jamak taqdim karena hujan. ini karena ke 4 shalat ini disyaratkan dilakukan berjama'ah.
    adapun i'adah dhuhur ketika jum'at tidak termasuk i'adah dalam istilah di atas, (shalat yang diulang (i'adah), karena maksud dari i'adah mengulangi shalat yg sama, sedang dhuhur berbeda dengan shalat jum'at. jadi penamaan shalat dhuhur setelah jum'at sebagai i'adah hanya i'tibar dhuhur sebagai ganti shalat jum'at, bukan i'adah pada hakikatnya. jadi karena itu, pada i'adah shalat dhuhur setelah shalat jum'at tidak wajib niat jama'ah bagi imam pada takbiratul ihram karena tidak masuk dalam katagori di atas

    adapun kutipan yg kami sebutkan di atas, lihat beberap baris sebelum "fashl fi syuruthi al-mu'tabarah fil-qudwah" dan tidak jauh setelah kutipan saudara (setelah pembahasan shalat ke empat yakni shalat jamak taqdim karena hujan

    wassalam, semoga bermanfaat

    BalasHapus
  15. InsyaAllah, sekarang sy bisa membedakkannya..
    Amiiiin !!!
    Wassalam...

    BalasHapus
  16. Berarti kalau tidak niat ataupun ragu sudah niat imamah atau belum pd shalat yg empat tsb, spt shalat i'adah dll, maka shalatnya yg tidak sah, bukan hanya fadhilah jamaahnya saja...
    apa benar demikian Teungku???

    apakah ragu di sini di kategorikan tidak ada karena meninjau atau mengembalikannya kepada ashal (استصحاب الاصل وطرح الشك)???

    maaf terlalu banyak banyak, Teungku ada mengadakan pengajian di Banda Aceh ??

    BalasHapus
  17. 1. ya, tidak sah, dan kalau ragu, maka dikembali pada asal, yakni tidak ada.

    2. malu bertanya sesat dijalan, kata orang. hehe

    3. insya Allah bulan puasa ini gak ada bikin pengajian di Banda Aceh, tapi pada bulan lain, biasanya ada pengajian sebulan sekali di dayah Huda, Bayu, pimpinan Tgk Hasbi al-bayuni

    4, wassalam terima kasih

    BalasHapus
  18. Wassalam, Terima kasih banyak atas penjelasan Teungku :)

    BalasHapus
  19. Assalamu'alaikum, Teungku

    saya ingin bertanya,
    bagaimana standar atau defini 'kemukiman' di aceh dlm kaitannya dgn persoalan shalat jum'at?

    wassalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1.Di dalam I’anah al-Thalibin dikatakan :
      (وقوله: بمحل معدود من البلد) المراد بالبلد: أبنية أوطان المجمعين، سواء كانت بلدا أو قرية أو مصرا، وهو ما فيه حاكم شرعي، وحاكم شرطي، وأسواق للمعاملة.والبلد: ما فيه بعض ذلك.والقرية ما خلت عن ذلك كله.
      Artinya : (perkataan pengarang : “pada tempat yang dihitung sebagai balad), yang dimaksud dengan balad adalah kawasan bangunan-bangunan yang dihuni secara tetap oleh sekumpulan orang, baik ia disebut sebagai balad, qaryah atau mishr. Mishr adalah yang ada hakim syar’i dan hakim syarthi serta ada pasar tempat mu’amalah. Balad adalah yang ada sebagiannya, sedangkan qaryah yang tidak ada hal-hal tersebut sama sekali.

      (Al-Bakri ad-Damyathi, I’anah at-Thalibin, Thaha Putra, Semarang, Juz. II, Hal. 59.)


      2.Dalam Fath al-Mu’in disebutkan :

      قال ابن عجيل: ولو تعددت مواضع متقاربة وتميز كل باسم، فلكل حكمه.قال شيخنا: إنما يتجه ذلك إن عد كل مع ذلك قرية مستقلة عرفا
      Artinya : Ibnu ‘Ajil mengatakan : seandainya ta’adud beberapa tempat yang berdekatan, dan masing-masing berbeda dengan namanya, maka bagi masing-masing adalah hukumnya sendiri. Guru saya (al-Haitamy) mengatakan : diterima pendapat tersebut apabila masing-masing tempat tersebut dihitung sebagai qaryah yang tersendiri pada ‘uruf.

      (Zainuddin al-Malibary, Fathul Muin, dicetak pada hamisy I’anah at-Thalibin, Thaha Putra, Semarang, Juz. II, Hal. 60)


      Berdasarkan keterangan di atas, dapat dijelaskan sebagai berikut :
      1.Tempat pelaksanaan Jum’at adalah suatu kawasan yang ada perumahan masyarakat dan nama kawasan tersebut bisa jadi sebuah desa, kota, atau nama lainnya seperti kemukiman (di Aceh) asalkan kawasan tersebut dihuni oleh 40 orang laki-laki ahli Jum’at

      2.Sebuah desa yang terpisah pada ‘uruf seperti dipisah oleh persawahan, sungai dan lain-lain dari satu kawasan perumahan lainnya, sedangkan desa tersebut ada 40 laki-laki ahli Jum’at, maka bagi desa tersebut wajib mendirikan jum’at sendiri.

      wassalam

      Hapus
  20. جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا كَثِيْرًا يا شيخي وَجَزَاكَ اللهُ اَحْسَنَ الْجَزَاء

    BalasHapus
  21. sebatas apa ilmu pengetahuan yg harus di miliki oleh ahli jumat, Teungku?
    apakah memadai dengan ilmu ttg syarat sah jum'at dan Rukun-rukun Khutbah saja, atau ada hal-hal lain yang harus ia kuasai?

    wassalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut hemat kami, yang penting ahli Jum’at itu sah menjadi imam bagi yang lain dan sah shalatnya sampai sempurna dua raka’at. Dalam Hasyiah Qalyubi, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 274 disebutkan :
      وَشَرْطُهُمْ صِحَّةُ إمَامَةِ كُلٍّ مِنْهُمْ لِلْبَاقِينَ وَدَوَامُهُمْ إلَى تَمَامِ الرَّكْعَتَيْنِ بِأَنْ لَا تَبْطُلَ صَلَاةٌ وَاحِدَةٌ مِنْهُمْ
      Artinya : Syarat ahli Jum’at adalah sah menjadi imam masing-masing mereka untuk yang lain dan kekal mereka itu sampai sempurna dua rak’at, yakni tidak batal shalat salah seorang dari mereka.

      Hapus
  22. جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا كَثِيْرًا يا شيخي وَجَزَاكَ اللهُ اَحْسَنَ الْجَزَاء

    BalasHapus
  23. Balasan
    1. silahkan dan terima kasih atas kunjunganya

      Hapus
  24. ass...
    tgk, saya pernah shalat jum'at di satu mesjid yang model khutbahnya : khutbah pertama di baca scr sempurna dan stlh itu nasehat... dan habis nasehat baru di baca khutbah yg ke dua... dan saya melihat di tempat trsbut banyak orang2 yg mengerti tentang agama.. tapi tak ada satupun yg menegurnya?? dan bagaimana cara kita menanggapinya...?
    dan bgmn komentar tgk mengenai nas dalam kitab i'anatutthalibin hal 70:
    فلا يقطع الموالاةالوعظ وان طال وكذاقراءة وان طالت حيث تضمنت وعظا

    BalasHapus
    Balasan
    1. model khutbah seperti yang tgk ishak hadi katakan tersebut dibolehkan dengan berpegang kepada pendapat Ali Syibran al-Malusi sebagaimana telah kami jelaskan dalam tulisan kami di atas. menurut Ali Syibran al-Malusi, khutbah boleh diselang dengan nasehat dalam bentuk bahasa non Arab, beliau berargumentasi bahwa nasehat dalam bentuk bahasa non Arab tidak menghilangkan muwalat, karena masih dalam katagori wasiat pada jumlah. namun menurut al-Ramli ini tetap dianggap menghilangkan muwalat.
      kutipan teks Ia'anah tersebut bermakna nasehat dalam bahasa Arab, meskipun panjang demikian jga bacaan ayat al-qur'an,meskipun panjang , itu tidak menghilangkan muwalat. adapun nasehat dalam bahasa non Arab, maka terjadi khilaf sebagaimana sudah dijelaskan.
      wassalam

      Hapus
  25. ass.... pendapat ali syibran al malusi yg mengatakan bahwa muwalat tidak putus trsbut dimana disebutkan? pada kitab apa? dan mohon juga disebutkan nas ibarat kitabnya dalam bhs arab?
    dan apakah boleh beramal dgn pendapat trsbut?
    trims...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kitab I’anah al-Thalibin II, hal. 69
      وكتب سم ما نصه: قوله دون ما عداها: يفيد أن كون ما عدا الأركان من توابعها بغير العربية لا يكون مانعا من الموالاة.اه. قال ع ش: ويفرق بينه وبين السكوت بأن في السكوت إعراضا عن الخطبة بالكلية، بخلاف غير العربي، فإن فيه وعظا في الجملة، فلا يخرج بذلك عن كونه في الخطبة.

      Syekh Sulaiman Jamal dalam kitab beliau Hasyiah al-Jamal ‘ala Syarh al-Manhaj (Juz. II, Hal. 27) lebih cenderung kepada pendapat Ali Syibran al-Malusi ini

      menurut hemat kami, boleh saja diamalkan oleh pengikut mazhab syafi'i karena kedua beliau di atas merupakan ulama mu'tabar dari kalangan mutaakhirin syafi'iyah

      wallhua'lam

      Hapus
  26. كتب سم...
    sin mim nyan soe tgk...? pu sulaiman jamali? atau sibran malasi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. سم singkatan dari Ibnu qasim. sedangkan utk sibran al-malasi adalah ع ش

      Hapus
  27. assalam.....
    bila kita tinggal di satu daerah, dalam hal ini kita wajib jum'at di daerah trsebut... tapi sesekali atau beberapa kali kita ingin pergi jum'at ke daerah lain,, apakah sah bagi kita melakukan jum'at di daerah lain, sedangkan kita wajib jum'at didaerah kita masing2...?
    dan apa hukumnya?
    trims.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bepergian pada hari jum’at hukumnya boleh (ja’iz) apabila perjalanannya dimulai sebelum terbit fajar (sebelum masuk waktu shubuh). Sedangkan bepergian setelah terbit fajar hukumnya haram, kecuali ia memperkirakan dapat melaksanakan shalat jum’at baik di perjalanan maupun di tempat tujuan.
      Dalam Fathul Mu’in, Juz. II, Hal. 96 (dicetak pada hamisy I’anah al-Thalibin) disebutkan :

      ( و ) حرم على من تلزمه الجمعة وإن لم تنعقد به ( سفر ) تفوت به الجمعة، كأن ظن أنه لا يدركها في طريقه أو مقصده ولو كان السفر طاعة مندوبا أو واجبا ( بعد فجرها ) أي فجر يوم الجمعة إلا إن خشي من عدم سفره ضررا كانقطاعه عن الرفقة فلا يحرم إن كان غير سفر معصية ولو بعد الزوال

      Hapus
    2. demikian juga haram seseorang bepergian hari jum'at apabila hal itu menyebabkan kosong shalat jum'at dikampungnya karena tidak cukup bilangan Jum'at dgn sebab dia tidak berjum'at dikampungnya.
      (Dalam Fathul Mu’in, Juz. II, Hal. 59-60 (dicetak pada hamisy I’anah al-Thalibin)

      Hapus
  28. berarti sama dengan tgk,, kalo bilangan ahli jum'atnya cukup, boleh salat jum'atnya di daerah lain ya tgk...?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo bilangan ahli jum'atnya cukup, boleh salat jum'atnya di daerah lain

      Hapus
  29. Assalamualaikum tengku,, ditempat kami sekarang kebanyakan khatib dan imam jumat dipimpin oleh orang2 berjenggot, pertanyaannya saya 1. sahkah sholat kita mengikuti mereka 2. bolehkah kami mengadakan sholat jumat sendiri, di mushalla yang rencananya akan kami jadikan masjid syafi'iyah meski kurang 40 orang..? 'trima kasih tengku atas penjelasannya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. kami tidak mengerti siapa yang tgk maksudkan dgn orang2 berjenggot, soalnya ulama syafi'yah juga menganjurkan supaya berjenggot.
      2. salah satu syarat mendirikan jum'at ada bilangannya 40 orang menurut mazhab syafi'i. namun ada qaul dha'if dalam mazhab syafi'i yg berpendapat boleh empat orang.
      3. tidak boleh ta'adud jum'at dalam sebuah desa, kecuali karena faktor darurat seperti dikuatirkan terjadi pertumpahan darah, dll

      wassalam

      Hapus
    2. 1. trima kasih Tgk, jarak tempat kami dari masjid terdekat lebih dari 1 km, hari jumat 10/1 kemaren telah kami coba melaksanakan shalat jumat di masjid baru kami tsb dan alhamdulillah dg label as syafi'iyah mampu menarik warga dan dihadiri oleh lebih dari 80 org wajib jumat,.
      2. yang saya maksud diatas adalah org2 salafi-wahabi..
      3. satu lagi yg ingin saya tanyakan Tgk, tentang azan pertama apakah harus menuggu waktu masuk atau bolehkah didahului 10 atau 15 menit sebelumnya..trima kasih

      Hapus
    3. dalam I'anah al-thalibin juz I, Hal. 229 disebutkan bahwa Imam Syafi'i mempunyai dua qaul tentang tujuan disyari'atkan azan. pertama, untuk memberitahukan waktu shalat, qaul kedua, disyariatkan azan untuk shalat. berdasarkan dua qaul tersebut, maka azan tetap dilakukan dalam waktu shalat. karena kalau untuk memberitahukan waktu shalat, tentu dilakukan harus dalam waktunya dan kalau azan untuk shalat itu sendiri, maka juga harus dlm waktu, karena shalat mesti dilakukan dlm waktunya. berdasarkan tujuan azan itu sendiri, maka menurut hemat kami, maka azan mesti dilakukan dalam waktu shalat, meskipun azan itu merupakan azan pertama pd shalat Jum'at

      wassalam

      Hapus
  30. Assalamualaikum tengku, Subhanallah............. membaca penjabaran yang tengku sampaikan saya sangat terkesan, menggambarkan keilmuan tengku yang luas, Nafa'anallahu bi'ulumikum, lana wali jami'il muslimin, Amiin
    selanjutnya, tengku saya baca jawaban tengku mengenai 'Adad jumu'ah yg ditanyakan sdr Muhammad edison "namun ada qaul dha'if dalam mazhab syafi'i yg berpendapat boleh empat orang." (poin 2) itu juga yang ada di kitab 'Umairoh dan di catatan kaki I'anatuttolibin,
    yang saya tanyakan kevalidan, keabsahan pendapat tersebut,apakah memang benar itu pendapatnya Imamuna As-Syafi'i?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebagaimana telah kami jelaskan dalam posting di atas, bahwa qaul tersebut sudah dihikayah (diriwayat) oleh pengarang talkhis. pengarang talkhis ini bernama Abu Abbas Ahmad bin Ahmad Ibnu al-qash al-Thabari, seorang mutaqaddimin ulama syafi'iyah. kitab beliau ini dipuji oleh Imam al-Nawawi. (lihat catatan kaki kitab al-Khazain al-Sunniyah, karya abdul qadir bin abdul muthallib al-mandily, hal 38.). juga telah dihikayah oleh imam al-Nawawi sendiri dalam Syarah al-muhazzab. Imam al-Nawawi merupakan ulama Syafi'iyah yang disepakati sebagai ulama syafi'iyah yg dianggap paling mengerti tentang mazhab syafi'i. al-Muzni murid langsung imam Syafi'i dan ibnu Munzir yang dekat zamannya dengan syafi'i mendukung qaul qadim ini.
      dengan memperhatikan keterangan2 di atas, kita dapat memantapkan dugaan kita bahwa dakwaan qaul tersebut sebagai qaul qadim imam syafi'i merupakan dakwaan yang valid dan shahih. namun demikian, qaul yang dianggap sebagai mazhab syafi'i adalah qaul 40 orang ahli jum'at. karena qaul 40 orang merupakan qaul jadid (mazhab syafi'i adalah qaul jadid, kecuali beberapa qaul qadim yang ditarjih karena ada dalil yg lebih kuat dibandingkan qaul jadid).

      wassalam

      Hapus
  31. assalamualaikum tengku......... mhon pencerahan mengenai tidak sahnya jumatan di kampung A karena khotibnya berasal dari kampung B atau dari kampung yg lain. trma kasih tengku. ditunggu pencerahannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. kami belum menemukan dalil atau keterangan ulama, ulama syafi'iyah khususnya yang mensyaratkan khatib berasal dari muqim/mustauthin balad jum'at sendiri

      2. kalau diluar mazhab syafi'i, dalam qalyubi I/174 disebutkan imam Malik mengatakan ahli jum'at memadai 12 orang dan beliau mensyaratkan khatib termasuk orang mustauthin (bertanah air ditempat jumat tersebut)


      wassalam

      Hapus
  32. Assalamu'alaikum..
    Saya ingin tanya, apa hukumnya apabila ada sebuah kantor mengadakan sholat jum'at sendiri di lingkungan kantor, padahal di samping kantor tersebut ada masjid yg memang diapakai untuk sholat jum'at..mohon penjelasan beserta dasar hukum dan pengambilan dr kitab apa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. dalam minhaj al-Thalibin, karya Imam al-Nawawi (dicetak pada pinggir qalyubi wa amirah, penerbit : darul ihya al-kutub al-arabiyah, indonesia) juz. I, hal. 274 disebutkan :
      وَأَنْ تُقَامَ بِأَرْبَعِينَ مُكَلَّفًا حُرًّا ذَكَرًا مُسْتَوْطِنًا لَا يَظْعَنُ شِتَاءً وَلَا صَيْفًا إلَّا لِحَاجَةٍ
      syarat jum'at didirikan dengan 40 orang mukallaf, merdeka dan laki-laki serta bertanah air, yang tidak merencanakan pindah pada musim dingin atau musim kemarau kecuali ada hajad.

      beradasarkan keterangan di atas, maka disimpulkan syarat jum'at antara lain :
      1. Adanya ahli Jum’at empat puluh orang
      2. Empat puluh orang itu mukallaf, merdeka dan laki-laki
      3. Empat puluh orang tersebut bersifat mustauthin (menetap ditempat desa jum'at tanpa ada cita-cita untuk berpindah, baik musim panas maupun musim dingin kecuali karena hajad) . (orang kantor biasanya terdiri dari orang2 luar desa.)

      berdasarkan ini, maka seandainya yang membuat jum'at di kantor tersebut (yaitu 40 orang) bukan penduduk desa setempat, maka jum'at nya tidak sah.

      2. pada halaman sebelum nya yaitu 272, al-Nawawi mengatakan ;
      الثَّالِثُ أَنْ لَا يَسْبِقَهَا وَلَا يُقَارِنَهَا جُمْعَةٌ فِي بَلْدَتِهَا إلَّا إذَا كَبِرَتْ وَعَسُرَ اجْتِمَاعُهُمْ فِي مَكَانٍ
      syarat ketiga adalah tidak didahulukan dan baringi oleh jum'at lain dlm negeri tersebut kecuali negeri itu besar dan sukar berkumpul penduduknya dalam satu tmp.

      berdasarkan ini, apabla jum'at di kantor itu sah,(sekali lagi kalau sah), maka yang sah jum'at di antara dua jum'at itu adalah mana yang lebih awal takbiratul ihramnya. yang terlambat, tidak sah dan wajib mengulangi dengan melakukan shalat dhuhur. hal ini karena dalam satu desa tidak boleh ada dua jum'at.

      wassalam

      Hapus
    2. maksud kami : "apabla jum'at di kantor itu sah" yaitu apabila yang mendirikan jum'at di kantor tersebut merupakan penduduk desa lokasi kantor tersebut.

      Hapus
  33. Aslm wr wb tgk.alizar utsman, sebuah pencerahan yang luar biasa. Semoga allah memberikan pahala yang luar biasa bagi tgk, melalui ilmu dan dakwah ini.
    tgk saya ingin bertanya tgk. Apakah rukun rukun dua alkhutbab tersebut dalam pelaksanaan shalat jum'at wajib tertib urutannya tgk?

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. dalam kitab al- mahalli I/281 disebutkan tertib rukun bukan syarat khutbah jum'at.
      2. dalam kitab i'anah al-thalibin II/66 dijelaskan bahwa tertib rukun khutbah jum'at, hukumnya sunnah saja.

      dlm 2 kitab tsb dijelaskan tidak wajib karena maksud khutbah tercapai meski tanpa tertib

      wassalam

      Hapus
  34. mau tanya pak tengku..
    ada beberapa kalangan masyarakat mengatakan, kalau tidak mengerjakan shalat jum'at 3x berturut-turut maka dia di anggap kafir..
    apaka betul itu pak tengku ??
    mohon penjelasan nya pak tengku dan adakah hadist nya ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. tdk benar, karena berdasarkan i'tiqag ahlussunnah, dosa besar tdk menjadikan seseorang menjadi kafir.

      Hapus
  35. Assalamu 'alaikum, Tengku Alizar. Salam perkenalan.

    BalasHapus
  36. terima kasih banyak atas penjelasannyan tgk, saya mau tanya tgk,metode ijtihad apa yang dipakai oleh oleh imam Ramli dan oleh Ali syibran malasi, tentang masalah mesti pakai bahasa Arab dan tidak, dalam khutbah jum`at

    BalasHapus
    Balasan
    1. imam ramli mengqiyaskan wasiat yg panjang dlm bhs non arab disela2 rukun khutbah kpd diam yg panjang yg disepakati ulama syafi'yah dpt memutuskan muwalat. namun Ali syibran malasi, berpandangan lain. beliau menolak qiyas itu, karena wasiat yg panjang dlm bhs non arab tdk dpt disamakan dgn diam yg panjang. karena wasiat yg panjang dlm bhs non arab secara umum masih dalam katagori wasiat.

      Hapus
  37. Assalamu'alaikum Ustaz.

    desa kami berjarak kurang lebih 1 km dari jalan raya. Oleh karena arus pembangunan banyak penduduk di daerah kami membangun pemukiman baru di sekitar jalan raya dan sampai saat ini lebih dari setengah pindah ke lokasi baru tersebut. kerena kebutuhan akhirnya didirikanlah sebuah musholla/surau awalnya untuk sholat lima waktu saja. untuk sholat jumat masih dilaksanakan di masjid kampung lama. Beberapa bulan terakhi ini, karena kesepakatan para pengurus agama, mengingat akses jalan menuju masjid kampung lama agak sulit teruama katika cuaca hujan, dan banyak jamaah yang sudah uzur maka dilaksanakanlah sholat jumat di kampung baru kemudian musholla dijadikan. namun, masalah tidak sampai di situ jamaah di masjid lama tidak mencukpi 40 orang. sedangkan di masjid baru jamaah lebih dari 40 orang.
    Bagaiman menurut pendapat Ustazd tentang permasalahan ini.

    terima kasih.

    ABDUL RAHMAN

    BalasHapus
    Balasan
    1. apabila tidak ada alasan 'uzur syar'i utk berbilang2 jum'at dalam 1 kampung, maka jum'at yg sah adl jum'at yg duluan takbiratul ihram.itu apabila kedua jum'at memenuhi syarat2 jum'at. berdasarkan mazhab syafi'i, mka jum'at yg sah adl jum'at yg dihadiri 40 orang ahli jum'at.
      tetapi dalam kasus yg sdr sampaikan, berdasarkan mazhab syafi'i, mka jum'at yg sah adl jum'at yg dihadiri 40 orang ahli jum'at.
      wassalam

      Hapus
  38. Assalamualaikum wrwb
    bagai mana hukum bila muazin lupa , melakukan azan sebelum khatib naik ke atas mimbar .
    bolehkan dihentikan azan oleh seseorang ( menegur nya ) atau lanjukan saja azan nya jgn dihentikan , dan hanya saja diisyarahkan ke pada khatib untuk naik mimbar selagi azan berlangsung .

    dan apa hukum bila azan dilanjutkan ..
    dan apa hukum bila azan dihentikan ..lalu kahtib naik mimbar baru azan di ulang ..
    lalu bagai mana sang muazin merasa malu kalo ditegur

    Mohon pencerahan trimakasih

    BalasHapus
  39. Assalamualaikum tgk,keneuk tanyong peubetoi khutbahnyan gelanto 2 rakaat semayang,dan kiban cara ta teugur khatib yang tuwo rukun khutbah,peu mesti bahasa arab.terimong geunaseh ateuh jawaban teungku....

    BalasHapus