Jumat, 29 Juni 2012

Do’a ketika berbuka puasa


Dari Mu’az bin Zahrah mengatakan bahwa Nabi SAW apabila berbuka puasa mengatakan :

اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت
(H.R. Abu Daud)

          Imam al-Nawawi dalam kitab beliau al-Azkar[1] dan al-Majmu’ Syarah al-Muhazzab[2] mengatakan hadits yang diriwayat oleh Abu Daud melalui Mu’az bin Zahrah ini mursal (hadits yang nisbah kepada Rasulullah, tetapi hanya disebut oleh Tabi’in, tidak bersambung kepada sahabat Nabi). Bukhari telah menyebut Mu’az bin Zahrah sebagai Tabi’in, bukan sahabat Nabi.[3] Dalam kitab Misykah karya Ibnu Hajar, beliau mengatakan :

“Darulquthni dan Thabrany telah meriwayat hadits serupa dengan sanad muttashil (bersambung) namun sanadnya dhaif dan hadits ini menjadi hujjah dalam masalah seperti ini.”[4]


Dalam Syarah al-Muhazzab, disebut hadits yang diriwayat dari Abu Hurairah dengan lafazh hadits di atas, namun Imam al-Nawawi mengatakan, hadits tersebut gharib dan tidak dikenal.[5]

Bardasarkan keterangan di atas, maka status hadits di atas adalah dhaif (bukan maudhu’)  Namun demikian  menurut keterangan Ibnu Hajar di atas, hadits ini, meskipun dhaif dapat diamalkan, karena ini hanya merupakan do’a. Tentunya kita boleh berdoa sesuai dengan keinginan kita kapan dan dimana saja asalkan tidak bertentangan dengan maksud sesuatu amalan itu dan selama tidak ada nash yang melarangnya, apalagi hadits tersebut juga datang dalam bebarapa riwayat lain. Karena itu, Imam al-Nawawi dalam al-Azkar setelah menyebut beberapa hadits mengenai doa ketika berbuka puasa yang berbeda doanya satu sama lain menyebut hadits Nabi SAW di bawah ini :
إن للصائم عند فطره دعوة ما ترد
Artinya : Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa ketika berbukanya, boleh berdo’a menurut yang dikehendakinya. (H.R. Ibnu Majah dan Ibnu al-Sunni)[6]


Ibnu Allan mengatakan :
“Setelah mentakhrij hadits ini, al-Hafizh mengatakan, hadits ini hasan, telah dikeluarkan oleh Abu Ya’la dengan sempurna dalam Musnadnya al-Kabir dan telah dikeluarkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak dari jalur lain yaitu dari Hakam bin Musa.”[7]


Berdasarkan hadits ini, maka do’a ketika berbuka puasa boleh dibaca menurut keinginan masing-masing. Namun tentunya, doa yang datang dari Nabi lebih afdhal.
Doa lain yang dapat dibaca ketika berbuka puasa adalah sebagaimana disebut dalam hadits dimana Rasulullah SAW apabila berbuka puasa, beliau mengatakan :
ذهب الظمأ وابتلت الْعُرُوق ، وَثَبت الْأجر إِن شَاءَ الله  تَعَالَى
(H.R. Abu Daud, al-Nisa’i, Thabrany, al-Hakim dan Darulquthni).[8]

Darulquthni mengatakan, isnadnya hasan. Al-Hakim mengatakan, shahih atas syarat Syaikhaini.[9]



[1] Imam al-Nawawi, Al-Azkar, al-Haramain, Singapura, Hal. 172
[2] Imam al-Nawawi, Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Maktabah Syamilah, VI, Hal. 362
[3] Ibnu Allan, Futuhaturrabbaniyah, Dar Ihya al-Turatsi al-Arabi, Beirut, Juz. IV, Hal. 340
[4] Ibnu Allan, Futuhaturrabbaniyah, Dar Ihya al-Turatsi al-Arabi, Beirut, Juz. IV, Hal. 341
[5] Imam al-Nawawi, Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Maktabah Syamilah, VI, Hal. 362
[6] Imam al-Nawawi, Al-Azkar, al-Haramain, Singapura, Hal. 172
[7] Ibnu Allan, Futuhaturrabbaniyah, Dar Ihya al-Turatsi al-Arabi, Beirut, Juz. IV, Hal. 342
[8] Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir, Maktabah Syamilah, Juz. V, Hal. 710
[9] Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir, Maktabah Syamilah, Juz. V, Hal. 710

Kamis, 28 Juni 2012

Hukum Shalat Dhuha


Jumhur ulama Salaf dan khalaf berpendapat bahwa shalat dhuha merupakan shalat sunat sebagaimana halnya shalat sunat lainnya. Sebagian kecil dari mereka ada yang mengingkari keberadaan shalat ini dan menganggapnya sebagai amalan bid’ah.[1] Kelompok kedua ini berhujjah dengan dalil-dalil antara lain :
1.    Riwayat Bukhari dalam Shahihnya dari Muarriq, berkata :  
قُلْتُ لاِبْنِ عُمَرَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَتُصَلِّي الضُّحَى قَالَ : لاََ قُلْتُ فَعُمَرُ قَالَ : لاََ قُلْتُ فَأَبُو بَكْرٍ قَالَ : لاََ قُلْتُ فَالنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : لاََ إِخَالُهُ.
Artinya : Aku bertanya kepada Ibnu'Umar r.a.: "Apakah anda melaksanakan shalat Dhuha?" Beliau menjawab: "Tidak!". Aku tanyakan lagi: "Bagaimana dengan 'Umar?" Beliau menjawab: Tidak!"."Bagaimana dengan Abu Bakar?" Beliau menjawab: Tidak!". "Bagaimana dengan Nabi SAW ? " Beliau menjawab: "Juga tidak, menurut dugaanku!".(H.R. Bukhari) [2]

2.    Riwayat dari Mujahid, beliau mengatakan :
دَخَلْتُ أَنَا وَعُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ الْمَسْجِدَ فَإِذَا عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا جَالِسٌ إِلَى حُجْرَةِ عَائِشَةَ ، وَإِذَا نَاسٌ يُصَلُّونَ فِي الْمَسْجِدِ صَلاَةَ الضُّحَى قَالَ فَسَأَلْنَاهُ عَنْ صَلاَتِهِمْ فَقَالَ بِدْعَةٌ
Artinya : Aku dan Urwah bin al-Zubair memasuki masjid, pada ketika itu Abdullah bin Umar r.a. duduk bersandar pada bilik ‘Aisyah, sedangkan manusia sedang shalat dhuha dalam masjid. Mujahid (perawi) mengatakan : “Kami bertanya kepada Ibnu Umar mengenai shalat mereka, Beliau menjawab : “itu bid’ah.” (H.R. Bukhari).[3]

3.    Hadits ‘Aisyah r.a , beliau berkata :
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم سَبَّحَ سُبْحَةَ الضُّحَى وَإِنِّي لأُسَبِّحُهَا.
Artinya : Aku belum pernah melihat Rasulullah SAW melaksanakan shalat sunnat Dhuha. Adapun aku mengerjakannya (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Daud dan al-Nisa’i).[4]

4.    Dalam Mushannaf Ibnu Syaibah disebutkan :
a.       Riwayat dari Ibnu Umar, beliau berkata :
مَا صَلَّيْتُ الضُّحَى مُذْ أَسْلَمْتُ إِلاَّ أَنْ أَطُوفَ بِالْبَيْتِ
Artinya : Aku tidak pernah  shalat dhuha selama masuk Islam kecuali thawaf di baitullah. (H.R. Ibnu Syaibah)[5]

b.         Riwayat dari Ibnu ‘Ulyah dari al-Jurairy dari al-Hakam bin al-A’raj, berkata :
سَأَلْتُ ابْن عُمَرَ ، عَنْ صَلاَةِ الضُّحَى وَهُوَ مُسْتَنِدٌ ظَهْرَهُ إلَى حُجْرَةِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ، فَقَالَ : بِدْعَةٌ وَنِعْمَتِ الْبِدْعَةُ.
Artinya : Aku pernah bertanya kepada Ibnu Umar tentang shalat dhuha, sedangkan punggung beliau bersandar pada bilik Nabi SAW. Beliau menjawab : “itu bid’ah dan sebaik-baik bid’ah”. (H.R. Ibnu Syaibah).[6]

c.       Riwayat dari Abi ‘Ubaidah, berkata :
لَمْ يُخْبِرْنِي أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ أَنَّهُ رَأَى ابْنَ مَسْعُودٍ يُصَلِّي الضُّحَى
Artinya : Tidak ada seorangpun manusia yang memberitahukan kepadaku bahwa dia pernah melihat Ibnu Mas’ud melakukan shalat dhuha. (H.R. Ibnu Syaibah)[7]

d.      Riwayat dari Waki’ dari Hajib bin Umar dari al-Hakam bin al-A’raj, berkata :
سَأَلْتُ ابْنَ عُمَرَ عَنْ صَلاَةِ الضُّحَى ؟ فَقَالَ : بِدْعَةٌ.
Artinya : Aku pernah bertanya kepada Ibnu Umar tentang shalat dhuha, beliau menjawab : “Itu bid’ah”. (H.R. Ibnu Syaibah).[8]

e.       Riwayat dari al-Tamimy, berkata :
سَأَلْتُ ابْنَ عُمَرَ عَنْ صَلاَةِ الضُّحَى فَقَالَ : وَلِلضُّحَى صَلاَة؟.
Artinya : Aku pernah bertanya kepada Ibnu Umar tentang shalat shalat dhuha, beliau menjawab : “Apakah bagi dhuha ada shalat ?”. (H.R. Ibnu Syaibah).[9]

Adapun kelompok pertama berhujjah antara lain :
1.        Hadits riwayat Ibnu Abi Laila, beliau berkata :
مَا أَنْبَأَ أَحَدٌ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم صَلَّى الضُّحَى غَيْرُ أُمِّ هَانِئٍ ذَكَرَتْ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ اغْتَسَلَ فِي بَيْتِهَا فَصَلَّى ثَمَانِ رَكَعَاتٍ فَمَا رَأَيْتُهُ صَلَّى صَلاَةً أَخَفَّ مِنْهَا غَيْرَ أَنَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ.
Artinya : Tidak mengabarkan kepada kami seseorangpun bahwasanya dia melihat Nabi SAW mengerjakan shalat dhuha, selain Ummu Hani'  yang menceritakan bahwa Nabi SAW saat hari penaklukan Makkah, Beliau mandi di rumahnya kemudian shalat delapan raka'at. (Katanya): "Aku belum pernah sekalipun melihat beliau melaksanakan shalat yang lebih ringan dari pada saat itu, namun beliau tetap menyempurnakan ruku' dan sujudnya" (H.R. Bukhari).[10]

2.        Hadits dari Abu Hurairah, beliau berkata :

أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلاَةِ الضُّحَى وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ.
Artinya : Kekasihku (Rasulullah SAW) telah berwasiat kepadaku dengan tiga perkara yang tidak akan pernah aku tinggalkan hingga aku meninggal dunia, yaitu shaum tiga hari pada setiap bulan, shalat Dhuha dan tidur dengan shalat witir terlebih dahulu".  (H.R. Bukhari).[11]

3.        Dari Aisyah, beliau berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى الضُّحَى أَرْبَعًا وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ.
Artinya : Rasulullah SAW melaksanakan shalat dhuha empat raka’at dan beliau melebihinya menurut yang dikehendakinya. (H.R. Muslim).[12]

4.        Dan beberapa hadits shahih lainnya yang telah disebut oleh Imam al-Nawawi dalam Majmu’ Syarah al-Muhazzab.[13]

Ketiga hadits shahih di atas secara terang benderang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah melaksanakan shalat Dhuha. Keterangan Aisyah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah shalat Dhuha empat raka’at lebih, tidaklah bertentangan dengan keterangan yang menjelaskan bahwa beliau tidak pernah melihat Rasulullah SAW melaksanakan shalat Dhuha. Hal ini, karena tidak pernah melihat Rasulullah SAW melaksanakan shalat Dhuha tidak menafikan beliau mengetahui Rasulullah shalat Dhuha dengan diberitahukan oleh orang lain atau diberitahukan sendiri oleh Rasulullah SAW. Aisyah r.a. tidak pernah melihat Rasulullah melaksanakannya disebabkan Rasulullah SAW tidak terlalu sering melaksanakan ibadah ini, karena kekuatiran beliau dengan sebab sering dilakukannya dapat menyebabkan difardhukan ibadah shalat Dhuha ini, sebagaimana halnya kasus shalat Tarawih, sebagaimana tergambar dalam hadits Aisyah di bawah ini, beliau berkata :
إِنْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَيَدَعُ الْعَمَلَ وَهْوَ يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ خَشْيَةَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ النَّاسُ فَيُفْرَضَ عَلَيْهِمْ وَمَا سَبَّحَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم سُبْحَةَ الضُّحَى قَطُّ وَإِنِّي لأُسَبِّحُهَ
Artinya : Jika Rasulullah SAW meninggalkan suatu amal padahal beliau mencintai amal tersebut, hal itu adalah karena beliau khawatir nanti orang-orang akan ikut mengamalkannya sehingga diwajibkan buat mereka. Dan tidaklah beliau melaksanakan shalat Dhuha sama sekali, tetapi aku melaksanakannya. (H.R. Bukhari).[14]

Hal lain yang menyebabkan Aisyah tidak melihat Rasulullah SAW melaksanakan shalat Dhuha adalah karena shalat ini dilakukan pada siang hari, dimana Rasulullah sebagaimana kaum laki-laki lainnya lebih banyak berada diluar rumah, musafir ataupun  dimasjid bersama ummat. Kalaupun beliau dirumah, sudah tentu tidak selamanya berada dirumah Aisyah, karena beliau mempunyai isteri sembilan orang.
Adapun pendapat Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud bahwa ibadah Dhuha termasuk dalam amalan bid’ah, menurut Imam al-Nawawi kemungkinan besar terjadi karena salah satu faktor berikut :
  1. Riwayat-riwayat yang menjelaskan Rasulullah SAW pernah shalat Duha tidak  sampai kepada beliau.
  2. Yang menjadi bid’ah menurut beliau adalah melakukannya secara terus menerus, sedangkan Rasulullah SAW tidak melaksanakannya seperti itu.
  3. Yang menjadi bid’ah adalah melakukannya secara terang-terangan di masjid (sebagaimana tergambar dalam hadits riwayat Bukhari dari Mujahid di atas) karena shalat Dhuha termasuk shalat sunat di rumah masing-masing.[15]



[1] Al-Zabidy, Ittihaf  Sadd ah al-Muttaqin, Juisah Tarikh al-‘Arabi, Beirut, Juz. III, Hal. 366
[2] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 73, No Hadits : 1175
[3] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. III, Hal. 3, No Hadits : 1175
[4] Al-Zabidy, Ittihaf  Sadd ah al-Muttaqin, Juisah Tarikh al-‘Arabi, Beirut, Juz. III, Hal. 366
[5] Ibnu Syaibah, Mushannaf Ibnu Syaibah, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 405, No. Hadits : 7858
[6] Ibnu Syaibah, Mushannaf Ibnu Syaibah, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 405, No. Hadits : 7859
[7] Ibnu Syaibah, Mushannaf Ibnu Syaibah, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 405, No. Hadits : 7860
[8] Ibnu Syaibah, Mushannaf Ibnu Syaibah, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 406, No. Hadits : 7866
[9] Ibnu Syaibah, Mushannaf Ibnu Syaibah, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 406, No. Hadits : 7862
[10] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 57, No Hadits : 1103
[11] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 73, No Hadits : 1178
[12] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 157, No. Hadits : 1698
[13] Lihat Majmu’ Syarah al-Muhazzab, karya al-Nawawi, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz. III, Hal. 530-531
[14] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 62, No Hadits : 1128
[15] Al-Nawawi, Majmu’ Syarah al-Muhazzab, karya al-Nawawi, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz. III, Hal. 531-532

Rabu, 27 Juni 2012

Takhrij Hadits dalam Syarah al-Mahalli ‘ala Minhaj al-Thalibin, Juz. I, Hal. 51


1. Hadits riwayat Syaikhaini, berbunyi :
إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ.
Artinya : Rasulullah SAW apabila bangun dari malamnya, maka beliau menggosok mulutnya dengan siwak. (Syarah al-Mahalli, Juz. I, Hal. 51)

Ibnu Mulaqqan mengatakan, haditss ini telah diriwayat oleh Bukhari dan Muslim.[1]

2. Hadits riwayat al-Nisa-i dan lainnya, berbunyi :

السِّوَاكُ مَطُهَرِةٌ لِلْفَمِ
Artinya : Siwak dapat menyucikan mulut. (Syarah al-Mahalli, Juz. I, Hal. 51)

Imam al-Nawawi mengatakan, hadits ini merupakan hadits shahih, telah diriwayat oleh Abu Bakar Muhammad bin Ishaq ibn Khuzaimah imam dari imam-imam dalam Shahihnya, al-Nisa-i dan Baihaqi dalam sunannya serta lainnya dengan sanad yang shahih. Bukhari telah menyebutnya dalam kitab Shahihnya dalam Kitab al-Shiyam secara mu’allaq.[2]

3. Hadits riwayat Syaikahini, berbunyi :
لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
Artinya : Bau mulut orang berpuasa lebih di sisi Allah daripada bau kasturi. (Syarah al-Mahalli, Juz. I, Hal. 51)

Ibnu Mulaqqan mengatakan, hadits ini merupakan hadits muttaqun ‘alaihi.[3]

4. Hadits riwayat al-Hasan bin Sufyan dan Abu Bakar al-Sam’any, berbunyi :
أعطيت أمتي في شهر رمضان خمسا قال واما الثانية فانهم يمسون وخلوف أفواههم أطيب عند الله من ريح المسك
Artinya : Diberikan kepada umatku lima perkara dalam bulan Ramadhan. Seterusnya beliau bersabda : Adapun yang kedua, mereka berada pada saat setelah tergelincir matahari, sedangkan bau mulut mereka di sisi Allah lebih harum dari bau kasturi. (Syarah al-Mahalli, Juz. I, Hal. 51)

Imam al-Nawawi mengatakan, hadits ini telah diriwayat oleh Imam al-Hafidh Abu Bakar al-Sam’any dalam kitab Amali karyanya, beliau mengatakan, hadits tersebut hasan.[4]


[1] Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir, Darul Hijrah, Juz. I, Hal. 705
[2] Imam al-Nawawi, Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Maktabah Syamilah, Juz. I, hal. 267
[3] Ibnu Mulaqqan, Tuhfah al-Muhtaj ila Adallah al-Minhaj, Dar al-Hira, Juz. I, Hal. 180
[4] Imam al-Nawawi, Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Maktabah Syamilah, Juz. I, hal. 278

Jumat, 22 Juni 2012

Tahkim dalam pernikahan


Pertanyaan dari TGK H JAFAR SIDDIQ ST HT
Tgk ada yg minta fatwa , nikah lari ( karena tidak di setuju i oleh wali ) maka mereka lari jauh lebih dari dua marhalah . dam mentahkim kan diri di negri rantau pada wali hakim ( khadi ) atau KUA atau Iman di tempat tersebut ... apakah sah nikah nya ?

sementara syarat sah nikah ada 5
- waniat
- pria
- Wali
- maskawin
- saksi yg adil

tapi mereka di atas cuman wali nya di tahkim sendiri .
sahkah ?

tapi bila di lihat dari pendapat ke 4 mashab ada yg memboleh kan . bila umaur lebih dari 21 tahun bagi wanit untuk menkahkan diri nya

tapi bila umur di bawah 21 tahun maka wali sangat berhaq menikahkan putri nya .
makasih wasalam
Jawab
Adanya wali merupakan salah satu rukun sebuah akad pernikahan, sehingga tidak sah sebuah pernikahan tanpa wali, sebagaimana hadits di bawah ini :
ﻨﻜﺎﺡ ﺇﻻ ﺒﻭﻠﻲ
Artinya : Tidak sah pernikahan kecuali dengan wali (H.R. at-Turmidzi) [1]
 
Dan hadits dari Aisyah berbunyi :
لَا نِكَاح إِلَّا بولِي وشاهدي عدل
Artinya : Tidak sah pernikahan kecuali dengan wali dan dua orang saksi yang adil.(H.R. Ibnu Hibban)[2]

Ibnu Mulaqqan mengatakan, yang lebih shahih hadits ini adalah dari jalur Abu Hatim ibn Hibban dalam Shahihnya.[3]

Dalam kitab Minhaj al-Thalibin dan Syarahnya, al-Mahally, kitab fiqh yang lazim digunakan sebagai rujukan dalam Mazhab Syafi’i, disebutkan urutan wali nikah adalah sebagai berikut:
1.      Ayah kandung
2.      Kakek, atau ayah dari ayah
3.      Ayah kakek, meskipun ke atas
4.      Saudara se-ayah dan se-ibu
5.    Saudara se-ayah saja
6.    Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah dan se-ibu, meskipun ke bawah
7.    Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah saja, meskipun ke bawah
8.    Paman (saudara laki-laki ayah)
9.    Anak laki-laki dari paman, meskipun kebawah
10.  Orang yang memerdekakannya apabila perempuan tersebut pernah menjadi hamba sahaya
11.  Ashabah orang yang memerdekakannya
12.  Sulthan atau penggantinya (qadhi).[4]

Daftar urutan wali di atas tidak boleh dilangkahi atau diacak-acak. Sehingga bila ayah kandung masih hidup, maka tidak boleh hak kewaliannya itu diambil alih oleh wali pada nomor urut berikutnya kecuali persyaratan wali padanya tidak terpenuhi

Lalu bagaimana posisi wali tahkim dalam sebuah pernikahan ?
Pada dasarnya apabila seorang perempuan tidak mempunyai wali nasab maupun wali al-mu’tiq (yang memerdekakannya apabila dia pernah menjadi hamba sahaya) adalah sulthan atau qadhi sebagaimana hadits Turmidzi berikut :
أن رسول الله صلعم قال أيما امرأة نكحت بغير إذن وليها فنكاحها باطل  فنكاحها باطل فإن دخل بها فله المهر بما إستحل من فرجها فإن اشتجروا فالسلطان ولي من لا ولي له
Artinya : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “Wanita mana saja yang dinikahkan 
tanpa izin  walinya, maka nikah itu bathil. Nikah itu bathil. Jika seseorang menggaulinya, 
maka wanita berhak mendapatkan mahar, sehingga ia dihalalkan terhadap kemaluannya.
 jika mereka terlunta lunta (tidak mempunyai wali) maka sulthan adalah wali  bagi siapa
 yang tidak mempunyai wali.(H.R. At-Turmidzi) [5] 
               
Hadits ini telah diriwayat oleh Turmidzi serta menshahihkannya, Ibnu Hibban dan al-Hakim dimana keduanya juga menyatakan shahih.[6] Lebih lanjut mari kita simak keterangan para ulama mengenai persoalan tahkim berikut ini :
1.        Al-Nawawi dalam al-Minhaj menyebutkan :
Sulthan menikahkan seorang perempuan apabila keberadaan wali yang karib jauh dua marhalah.”[7]

2.        Qalyubi dalam Hasyiah Qalyubi :
“Sesungguhnya dimaklumi dari apa yang telah disebutkan bahwa seorang perempuan tidak dapat mewakilkan pada perkawinannya secara mutlaq sebagaimana yang telah lalu, namun demikian, dibolehkan bagi perempuan mentahkim bersama suaminya kepada orang yang akan menikahkannya dengan syarat orang tersebut adalah mujtahid mutlaq atau bukan mujtahid mutlaq tetapi tidak ada qadhi, meskipun qadhi itu qadhi dharurat atau tawaquf melapor kepada qadhi tersebut kepada pemberian harta kepadanya (tidak ada proses perkara kalau tidak memberi sejumlah harta).”[8]

3.        Sayyed Abdurrahman Ba’alawi dalam Bughyatulmustarsyidin :
“Ibnu Hajar dan Ibnu Ziyad mensyaratkan pada tahkim tidak ada wali khas, karena itu, itu tidak boleh tahkim dimana wali dalam keadaan jauh. Al-Azra’i dan al-Radad membolehkannya dan menunjukan (iqtidha’) kepadanya oleh kalam Ibnu Hajar dalam al-Fatawa dan Ibnu Siraj. Abu Makhramah mengatakan, hal itu merupakan iqtidha’  kalam Syaikhaini (al-Nawawi dan al-Rafi’i).”[9]

4.        Zainuddin al-Malibary dalam Fathul Mu’in :
Kemudian apabila tidak didapati wali yaitu dari orang-orang yang telah lalu, maka perempuan itu dinikahkan oleh orang yang ditahkim yang adil dan merdeka dimana perempuan tersebut bersama laki-laki peminangnya menyerahkan urusannya kepadanya supaya menikahkan keduanya, meskipun yang ditahkim itu bukan seorang mujtahid dengan syarat tidak ada qadhi, meskipun qadhi itu bukan ahli. Jika ada qadhi, maka disyaratkan yang ditahkim tersebut seorang mujtahid. Syaikunaa (Ibnu Hajar al-Haitamy) mengatakan, namun demikian, jika hakim tidak mau menikahnya kecuali dengan beberapa dirham sebagaimana terjadi pada zaman sekarang, maka dikuatkan boleh bagi perempuan tersebut menyerahkan urusannya kepada seorang yang adil meskipun ada hakim”.[10]

5.        Zainuddin al-Malibary dalam Fathul Mu’in pada juzu’ lain :
Tidak boleh tahkim dalam keadaan jauh wali, meskipun kepada musafah qashar jika ada qadhi, berbeda dengan pendapat Ibnu ‘Imaad, karena qadhi adalah naib (ganti) dari wali yang jauh berbeda halnya dengan orang yang ditahkim.”[11]

Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :
a.       Apabila wali nasab dan wali mu’tiq tidak ada, maka yang menjadi wali bagi  perempuan dalam pernikahannya adalah sulthan/qadhi
b.      Sulthan/qadhi boleh menikahkan seorang perempuan apabila keberadaan wali yang karib jauh dalam musafah qashar
c.       Seorang perempuan boleh bertahkim meskipun ada qadhi apabila orang yang ditahkim tersebut seorang mujtahid mutlaq
d.      Boleh bertahkim kepada bukan mujtahid mutlaq apabila tidak ada qadhi pada wilayah tinggalnya atau qadhi tersebut tidak memproses perkaranya apabila tidak diberikan sejumlah harta.
e.       Kedudukan kebolehan tahkim hanya apabila tidak ada wali khas (wali nasab dan al-mu’tiq). Karena itu, tidak boleh tahkim dalam keadaan jauh wali, meskipun kepada musafah qashar, jika ada qadhi.
f.       Boleh bertahkim apabila keberadan wali jauh yaitu dalam musafah qashar dengan syarat qadhi tidak ada dalam wilayah tersebut atau ada, tetapi qadhi tersebut tidak memproses perkaranya apabila tidak diberikan sejumlah harta (Kami memahami dari  keumuman atau kemutlakan keterangan-keterangan Qalyubi dan Zainuddin al-Malibary dalam Fathul Mu’in point ketiga di atas). Pemahaman ini juga didukung oleh fatwa Syaikh Muda Wali, seorang ulama terkenal dari Aceh dalam kitab Fatawa beliau, halaman 88-89
 
        Berdasarkan penjelasan di atas, pertanyaan tgk dapat kami jawab sebagai berikut :
1). Dalam kasus di atas, apabila dia menikah pada qadhi/KUA setempat, maka tidak perlu dengan tahkim, karena qadhi /KUA memang merupakan pengganti wali apabila wali jauh dalam musafah qashar
2).Apabila qadhi/KUA setempat tidak mau menikahkannya kalau tidak diberikan sejumlah harta/uang, maka boleh perempuan tersebut bertahkim kepada seorang yang adil menurut agama. Tetapi kalau qadhi/KUA tidak meminta uang/harta, maka hanya boleh nikah pada qadhi/KUA, tidak boleh dengan cara tahkim.
3). Mazhab Hanafi membolehkan perempuan menikahkan dirinya sendiri tanpa wali apabila sudah baligh. Ukuran baligh apabila sudah berhaid bagi yang berhaid.
4). Sepengetahuan kami, berusia 21 tahun baru dianggap dewasa tidak dikenal dalam fiqh Islam. Itu cuma dewasa menurut Undang Perkawinan tahun 1974

wassalam









[1] At-Turmidzi, Sunan At-Turmidzi, Thaha Putra, Semarang, Juz. II, Hal. 280, No.  Hadits : 1107
[2] Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, Maktabah Syamilah, Juz. IX, Hal. 386, No. Hadits : 4075
[3] Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir, Maktabah Syamilah, Juz. VII, Hal. 474
[4] Al-Nawawi dan Jalaluddin al-Mahally, Minhaj al-Thalibin dan Syarahnya, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiya, Indonesia, Juz. III, Hal. 224-225
                [5] At-Turmidzi, Sunan At-Turmidzi, Thaha Putra, Semarang, Juz. II, Hal. 281, No.  Hadits :  11080
[6] Zakariya al-Anshary, Asnaa al-Mathalib, Maktabah Syamilah, Juz. III, Hal. 125
[7] Al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin, dicetak pada hamisy Hasyiah Qalyubi wal-Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiya, Indonesia, Juz. III, Hal. 228
[8] Qalyubi, Hasyiah Qalyubi wal-Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiya, Indonesia, Juz. III, Hal. 225
[9] Sayyed Abdurrahman Ba’alawi, Bughyatulmustarsyidin, Usaha Keluarga, Semarang, Hal. 207
[10] Zainuddin al-Malibari, Fathul Mu’in, dicetak pada hamisy I’anah al-Thalibin, Thaha Putra Semarang, Juz. III, Hal. 319
[11] Zainuddin al-Malibari, Fathul Mu’in, dicetak pada hamisy I’anah al-Thalibin Thaha Putra Semarang, Juz. VI, Hal. 221