Kamis, 20 Juli 2017

Hukum menangguh orang masuk Islam

Menangguh atau menunda mentalqin dan mengajarkan kalimat syahadat kepada orang yang ingin masuk Islam dapat menyebabkan menjadi kafir. Karena hal ini termasuk ridha dengan kufur yang masih melekat pada orang kafir tersebut. Sedangkan ridha dengan kufur adalah kufur. Berikut keterangan dari ulama mengenai ini, antara lain :
1.    Ibnu Hajar al-Haitamy mengatakan :
ومن المكفرات أيضاً أن يرضى بالكفر ولو ضمناً كأن يسأله كافر يريد الإسلام أن يلقنه كلمة الإسلام فلا يفعل, أو يقول له: اصبر حتى أفرغ من شغلي أو خطبتي لو كان خطيباً, أو كأن يشير عليه بأن لا يسلم وإن لم يكن طالباً للإسلام فيما يظهر,
Termasuk yang dapat menyebab kafir juga adalah ridha dengan kufur, meskipun ridha itu secara tidak langsung. Contohnya seorang kafir yang ingin masuk Islam meminta mengajarinya kalimat tauhid, maka tidak dipenuhi permintaan tersebut atau dia berkata : “Bersabarlah, sehingga aku selesaikan kesibukanku atau khutbahku.”  seandainya dia seorang khathib ataupun mengisyaratkan tidak masuk Islam, meskipun si kafir tersebut tidak meminta masuk Islam berdasarkan pendapat yang dhahir.[1]

2.    Imam al-Nawawi dalam kitabnya, Raudhah al-Thalibin mengutip perkataan al-Mutawalli sebagai berikut :
قَالَ: وَالرِّضَى بِالْكُفْرِ كُفْرٌ، حَتَّى لَوْ سَأَلَهُ كَافِرٌ يُرِيدُ الْإِسْلَامَ أَنْ يُلَقِّنَهُ كَلِمَةَ التَّوْحِيدِ، فَلَمْ يَفْعَلْ، أَوْ أَشَارَ عَلَيْهِ بِأَنْ لَا يُسْلِمَ، أَوْ عَلَى مُسْلِمٍ بِأَنْ يَرْتَدَّ، فَهُوَ كَافِرٌ
Al-Mutawalli mengatakan, ridha dengan kufur adalah kufur, sehingga apabila seorang kafir yang ingin masuk Islam meminta kepada seseorang mengajarkannya kalimat tauhid, lalu tidak melakukannya atau mengisyaratkan supaya tidak masuk Islam ataupun mengisyaratkan atas seorang muslim supaya murtad, maka orang tersebut adalah kafir.[2]

3.    Zainuddin al-Malibari mengatakan :  
 كالرضا بالكفر كان قال لمن طلب منه تلقين الاسلام : اصبر ساعة
Contoh yang menyebabkan kafir juga adalah ridha dengan kufur, seperti seseorang menjawab permintaan orang yang meminta mengajarkan kalimat syahadat yang memasukkan Islam seseorang dengan jawaban : “Sabarlah sesa’at”.[3]



[1] Ibnu Hajar al-Haitamy, al-I’lam bil Qawathi’ al-Islam, Hal. 18
[2] Al-Nawawi, Raudhah al-Thalibin, al-Maktab al-Islami, Beirut, Juz. X, Hal. 65
[3] Zainuddin al-Malibari , Fathul Mu’in  (dicetak pada hamis I’anah al-Thalibin), Thaha Putra, Semarang, Juz. IV, Hal. 137

Minggu, 02 Juli 2017

Hukum berbisik-bisik dalam majelis

Rasulullah SAW bersabda :
وَعَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إذَا كَانُوا ثَلَاثَةً فَلَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ وَاحِدٍ
Hadits yang ketujuh, Dari Naafi’ dari Ibnu Umar, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “Apabila kalian tiga orang, maka jangan berbisik-bisik dua orang tanpa ikut serta seorang.

Hadits ini sepakat dua Syeikh (al-Bukhari dan Muslim) meriwayatnya dari jalur Malik. Imam Muslim telah mentakrij dari jalur ‘Ubaidillah bin Umar, al-Laits bin Sa’ad, Ayyub al-Sakhtiyani dan ayyub bin Musa, semua mereka dari Naafi’ dari Ibn Umar. Abu Daud telah mentakhrij dari jalur Abi Shalih dari Ibn Umar.[1]
Dalam riwayat lain dari Imam Muslim disebutkan :
إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فَلَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الْآخَرِ، حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ مِنْ أَجْلِ أَنْ يُحْزِنَهُ
Apabila kalian bertiga, maka jangan berbisik-bisik dua orang tanpa ikut serta seorang sehingga kalian berbaur dengan manusia, karena hal itu menyebabkan perasaan gelisah orang itu.(H.R. Muslim)[2]

            Imam Muslim telah menempatkan dua hadits di atas dalam bab haram berbisik-bisik dua orang tanpa pihak ketiga dengan tanpa ridhanya.[3]
Dalam mengomentari dua hadits di atas, al-Nawawi menjelaskan, larangan dalam dua hadits tersebut bermakna haram. Dengan demikian, haram berbisik-bisik dua orang dengan kehadiran orang ketiga dalam satu majelis, demikian juga berbisik-bisik tiga orang atau lebih dengan kehadiran orang lain. Kemudian beliau menyimpulkan haram atas jama’ah berbisik-bisik tanpa satu orang kecuali dengan ridha satu orang tersebut. Selanjutnya al-Nawawi menjelaskan mazhab Ibnu Umar r.a., Malik, Ashhabinaa (pengikut-pengikut Mazhab Syafi’i) dan jumhur ulama berpendapat larangan tersebut berlaku pada setiap zaman, pada ketika bermukim dan musafir. Sebagian ulama berpendapat larangan tersebut hanya berlaku pada waktu musafir, tidak pada waktu bermukim, karena pada waktu musafir ada madhinnah al-khauf (diduga ada kekuatiran yang ditakuti). Sebagian ulama lain mendakwa hadits ini sudah mansukh dan hukumnya berlaku pada awal Islam. Orang-orang munafiq melakukannya untuk membuat orang Islam merasa gelisah. Maka manakala Islam sudah banyak tersebar dan orang-orang Islam merasa aman, maka gugurlah larangan tersebut.[4] 
            Di atas, al-Nawawi sudah menjelaskan bahwa berbisik-bisik dalam majelis dibolehkan apabila ridha pihak ketiga. Demikian juga Imam Muslim sebagaimana judul bab hadits dalam Shahih Muslim. Ridha ini menurut al-Iraqi bisa dimaklum dengan qarinah (keadaan), meskipun tidak ada izin yang sharih.[5]
Hukum berbisik bisik, sedangkan yang tidak ikut dua orang atau lebih
Al-Iraqi menjelaskan kepada kita bahwa mafhum qaid “dua orang tanpa ikut serta seorang” seandainya mereka berempat, maka tidak terlarang berbisik-bisik dua orang dari mereka itu. Hal ini karena dua orang yang tidak ikut berbisik masih bisa teguh hatinya dari pengaruh berbisik-bisik tersebut. Tidak terlarang ini menjadi ijma’ ulama berdasarkan hikayah al-Nawawi.[6] Kesimpulan ini juga sesuai dengan pemahaman Ibnu Umar dalam riwayat dari Abdullah bin Dinar, beliau berkata :
كُنْتُ أَنَا وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ عِنْدَ دَارِ خَالِدِ بْنِ عُقْبَةَ الَّتِي بِالسُّوقِ، فَجَاءَ رَجُلٌ يُرِيدُ أَنْ يُنَاجِيَهُ، وَلَيْسَ مَعَ عَبْدُ اللَّهِ بن عمر أَحَدٌ غَيْرِي وَغَيْرُ الرَّجُلِ الَّذِي يُرِيدُ أَنْ يُنَاجِيَهُ، فَدَعَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَجُلًا حَتَّى كُنَّا أَرْبَعَةً، فَقَالَ لِي وَلِلرَّجُلِ الَّذِي دَعَا: اسْتَأْخِرَا، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلى الله عَلَيه وَسَلم يَقُولُ: لا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ وَاحِدٍ.
Aku dan Abdullah bin Umar  berada di sisi rumah Khalid bin ‘Uqbah yang ada di pasar (pasar kota Madinah), tiba-tiba datang seorang laki-laki yang ingin membisik sesuatu kepada Abdullah bin Umar. Tidak ada bersama Abdullah bin Umar selain aku dan laki-laki yang ingin membisik kepadanya. Kemudian Abdullah bin Umar memanggil seorang laki-laki lain sehingga kami jadi berempat. Beliau mengatakan kepadaku dan laki-laki yang dipanggilnya itu : “Mundurlah kalian berdua, sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Tidak berbisik-bisik dua orang tanpa satu orang (pihak ketiga).” (H.R. Malik).[7]

Beberapa penjelasan lain yang dikemukakan oleh al-Hafizh al-Iraqi
1.    Berdasarkan hadits kedua dari riwayat Muslim di atas, ‘illat haram berbisik-berbisik ini adalah menyebabkan datang kegelisahan kepada pihak ketiga. Kegelisahan ini menurut al-Khuthabi karena salah satu dua makna, yakni mendatangkan waham bahwa bisikan dua orang tersebut sedang menetapkan suatu pendapat atau menetapkan tipu daya jahat bagi pihak ketiga. Menetapkan suatu pendapat menjadi kegelisahan bagi pihak ketiga karena mewahamkan ada pengkhususan kemuliaan bagi kawan yang dibisiknya, tidak pihak ketiga. Al-Qurthubi menerangkan makna ihzan (mendatangkan gelisah) adalah terjadi dalam jiwanya yang menjadikannya gelisah, yakni muncul dalam pikirannya bahwa pembicaraan tersebut adalah tentang hal-hal yang dibencinya atau yang berbisik-bisik itu tidak menganggapnya sebagai orang yang ahli dalam tema pembicaraan dan bisikan-bisikan syaithan lainnya.
2.    Al-Mawardi menjelaskan haram juga berbisik-bisik sekumpulan orang tanpa ikut serta satu orang, karena wujud juga ‘illat haramnya. Dibolehkan apabila satu orang tersebut ditemani oleh yang lain.
3.    Kedudukan haram berbisik-bisik apabila pihak ketiga sudah berada dalam majelis pada permulaan berbisik. Adapun apabila dua orang sedang berbisik-bisik, kemudian datang pihak ketiga ketika sedang ada bisik-bisik itu, maka tidak wajib atas orang berbisik-bisik memutuskan bisikannya. Bahkan telah datang hadits Nabi SAW yang melarang masuk dalam majelis tersebut sehingga dia minta izin terlebih dahulu.






[1] al-Hafizh al-Iraqi, Tharh al-Tatsrib, Dar Ihya al-Turatsi al-Arabi, Beirut, Juz. VIII, Hal. 141
[2] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 1718, No. 2184
[3] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 1717.
[4] Al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurthubah, Juz. XIV, Hal. 240
[5] al-Hafizh al-Iraqi, Tharh al-Tatsrib, Dar Ihya al-Turatsi al-Arabi, Beirut, Juz. VIII, Hal. 142
[6] al-Hafizh al-Iraqi, Tharh al-Tatsrib, Dar Ihya al-Turatsi al-Arabi, Beirut, Juz. VIII, Hal. 142
[7] Imam Malik, al-Muwatha’, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 167, No. 2081

Kamis, 29 Juni 2017

Hadits majelis orang berilmu lebih utama dari shalat seribu rakaat.

Hadits ini ditemui antara lain dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin karya Imam al-Gazali, berbunyi :
وفي حديث أبي ذر رضي الله عنه حضور مجلس عالم أفضل من صلاة ألف ركعة وعيادة ألف مريض وشهود ألف جنازة فقيل يا رسول الله ومن قراءة القرآن فقال صلى الله عليه وسلم وهل ينفع القرآن إلا بالعلم
Dalam hadits Abi Dzar r.a. , menghadiri majelis orang berilmu lebih utama dari salat seribu rakaat, mengunjungi seribu orang sakit atau menyaksikan seribu jenazah. Ditanyakan, “Ya Rasulullah, bagaimana dari membaca al-Qur’an ?,”  Rasulullah SAW menjawab : “Apakah al-Qur’an bermanfaat kecuali dengan ilmu ?” [1]

Zainuddin al-Iraqi dalam mentakrij hadits ini mengatakan, hadits ini telah disebut oleh Ibnu al-Jauzi dalam kitab al-Mauzhu’at dari hadits Umar dan aku belum menemukannya dari thariq Abu Dzar.[2] Penjelasan al-Iraqi ini telah dikutip oleh al-‘Ajluni dalam kitab beliau Kasyf al-Khufaa.[3]
Apabila kita perhatikan keterangan di atas, yang jelaskan Ibnu al-Jauzi di atas adalah hadits ini dengan sanad yang berujung kepada Umar. Adapun hadits ini dengan sanad yang berujung kepada Abu Dzar, keterangan al-Iraqi hanyalah beliau belum menemukan sanadnya.






[1] Al-Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 9
[2] Al-Iraqi, Takrij Ahadits al-Ihya, (dicetak di bawah kitab Ihya ‘Ulumuddin), Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 9
[3] Al-‘Ajluni, Kasyf al-Khufaa, Maktabah al-Qudsi, Hal. 362

Senin, 26 Juni 2017

Asshalata jami’ah untuk shalat janazah

Sebagaimana dimaklumi tidak disyariatkan azan dan iqamah untuk salat janazah. Namun terjadi khilaf ulama Syafi’iyah dalam hal mengatakan Asshalata jami’ah untuk shalat janazah sebagai pengganti iqamah. Dalam Majmu’ Syarah al-Muhazzab disebutkan :
وَلَا يُسْتَحَبُّ ذَلِكَ فِي صَلَاةِ الْجِنَازَةِ عَلَى أَصَحِّ الْوَجْهَيْنِ وَبِهِ قَطَعَ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ وَالْبَنْدَنِيجِيّ وَالْمَحَامِلِيُّ وَصَاحِبُ الْعُدَّةِ وَالْبَغَوِيُّ وَآخَرُونَ وَقَطَعَ الْغَزَالِيُّ بِأَنَّهُ يُسْتَحَبُّ فِيهَا وَالْمَذْهَبُ الْأَوَّلُ وَهُوَ الْمَنْصُوصُ قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي أَوَّلِ كِتَابِ الْأَذَانِ مِنْ الْأُمِّ لَا أَذَانَ وَلَا إقَامَةَ لِغَيْرِ الْمَكْتُوبَةِ فَأَمَّا الْأَعْيَادُ وَالْكُسُوفُ وَقِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ فَأُحِبُّ أَنْ يُقَالَ فِيهِ الصَّلَاةُ جَامِعَةٌ قَالَ وَالصَّلَاةُ عَلَى الْجِنَازَةِ وَكُلُّ نَافِلَةٍ غَيْرِ الْعِيدِ وَالْخُسُوفِ فَلَا أَذَانَ فِيهَا وَلَا قَوْلَ الصَّلَاةَ جَامِعَةً هَذَا نَصُّهُ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ
Tidak disunatkan mengatakan Asshalatal jami’ah berdasarkan pendapat yang lebih shahih dari dua pendapat ashhab. Pendapat ini merupakan pendapat yang telah diqatha’ oleh Syekh Abu Hamid, al-Bandanijiy, al-Mahaamili, pengarang al-‘Uddah, al-Baghwi dan lainnya. Namun al-Ghazali mengqatha’ bahwa itu disunnatkan pada shalat janazah. adapun yang menjadi mazhab adalah pendapat pertama. Pendapat pertama ini adalah sesuai dengan nash Imam Syafi’i (al-Manshus). Imam Syafi’i rhm berkata pada awal kitab azan kitab al-Um : “Tidak ada azan dan tidak ada juga iqamah untuk selain shalat maktubah. Adapun shalat hari raya, gerhana dan qiyam Ramadhan, maka aku lebih menyukai dikatakan, Asshalata jami’ah.” Selanjutnya beliau mengatakan, shalat janazah dan setiap shalat sunnat yang bukan shalat hari raya dan gerhana tidak ada azan padanya dan tidak ada juga perkataan Asshalatal jami’ah. Ini nash Imam Syafi’i. Wallahua’lam.[1]

Dalil sunnah mengatakan “Asshalata jami’ah” pada shalat gerhana adalah hadits berbunyi :
عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ الشَّمْسَ خَسَفَتْ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَعَثَ مُنَادِيًا: الصَّلَاةُ جَامِعَةٌ
Dari Aisyah sesungguhnya matahari pernah gerhana pada masa Rasulullah SAW, maka beliau memerintah penyeru mengatakan,“Asshalata jami’ah” (H.R. Muslim).[2]

Diqiyaskan kepada shalat gerhana semua shalat yang disunnatkan berjamaah padanya seperti shalat hari raya, istisqa’ dan shalat tarawih.[3]
Selain ucapan asshalata jami’ah juga dapat dikatakan, hallimu ilasshalah, asshalata rahimakumullah atau hayya ‘alasshalah, sebagaimana dijelaskan Imam al-Ramli mengatakan dalam Nihayah al-Muhtaj :
وَكَالصَّلَاةِ جَامِعَةً هَلُمُّوا إلَى الصَّلَاةِ أَوْ الصَّلَاةُ رَحِمَكُمْ اللَّهُ أَوْ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ كَمَا فِي الْعُبَابِ خِلَافًا لِبَعْضِهِمْ،
Sama seperti Asshalatal jami’ah, Hallimu ilasshalah, asshalata rahimakumullah atau hayya ‘alasshalah sebagaimana dalam kitab al-‘Ubab. Ini khilaf dengan pendapat sebagian ulama. [4]

Adapun shalat janazah sebagaimana penjelasan Imam al-Nawawi diatas dan penjelasan Imam al-Ramli sesudah ini, maka menurut pendapat mu’tamad dalam mazhab Syafi’i tidak disunnahkan mengatakan, Asshalata jami’ah. Hal ini berdasarkan alasan para pengunjung memang sudah hadir untuk shalat janazah, sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Ramli di bawah ini :
وَخَرَجَ بِقَوْلِهِ فِي الْعِيدِ وَنَحْوِهِ النَّافِلَةُ الَّتِي لَا تُسَنُّ الْجَمَاعَةُ فِيهَا وَاَلَّتِي تُسَنُّ فِيهَا إذَا صُلِّيَتْ فُرَادَى وَالْمَنْذُورَةُ وَصَلَاةُ الْجِنَازَةِ لِأَنَّ الْمُشَيِّعِينَ لَهَا حَاضِرُونَ فَلَا حَاجَةَ لِإِعْلَامِهِمْ
Dengan perkataan pengarang, shalat hari raya dan sejenisnya dikeluarkan shalat-shalat sunnat yang tidak disunnatkan berjama’ah dan juga shalat yang disunnatkan berjama’ah apabila dilakukan secara sendiri-sendiri, shalat nazar dan shalat janazah, karena para pengunjungnya sudah hadir. Karena itu tidak butuh untuk memberitahukannya lagi. [5]

Namun demikian, ‘Ali Syibran al-Malasi berpendapat apabila pengunjungnya banyak dan mereka tidak mengetahui kapan imam beranjak maju kedepan janazah untuk shalat,, maka mengucapkan Asshalata jami’ah ini disunnatkan. Dalam mengomentari penjelasan al-Ramli di atas, beliau mengatakan :

(قَوْلُهُ: فَلَا حَاجَةَ لِإِعْلَامِهِمْ) يُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّ الْمُشَيَّعِينَ لَوْ كَثُرُوا وَلَمْ يَعْلَمُوا وَقْتَ تَقَدُّمِ الْإِمَامِ لِلصَّلَاةِ سُنَّ ذَلِكَ لَهُمْ وَلَا بُعْدَ فِيهِ
Perkataan pengarang (tidak butuh untuk memberitahukan mereka), dipahami dari itu sesungguhnya seandainya pengunjung banyak dan mereka tidak mengetahui waktu  imam beranjak maju untuk shalat, maka disunnatkannya bagi mereka dan itu tidak jauh. [6]

Dalam Hasyiah Tuhfah al-Muhtaj, Al-Syarwani mengatakan :
يُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّهُ لَوْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ أَحَدٌ، أَوْ زَادَ بِالنِّدَاءِ سُنَّ النِّدَاءُ حِينَئِذٍ لِمَصْلَحَةِ الْمَيِّتِ اهـ كُرْدِيٌّ عَنْ الْإِيعَابِ عِبَارَةُ ع ش يُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّ الْمُشَيِّعِينَ لَوْ كَثُرُوا وَلَمْ يَعْلَمُوا وَقْتَ تَقَدُّمِ الْإِمَامِ لِلصَّلَاةِ سُنَّ ذَلِكَ لَهُمْ وَلَا بُعْدَ فِيهِ اهـ وَعِبَارَةُ شَيْخِنَا بِخِلَافِ صَلَاةِ الْجِنَازَةِ فَلَا يُنَادَى لَهَا إلَّا إنْ اُحْتِيجَ إلَيْهِ
Dipahami dari itu, seandainya tidak ada bersamanya seorangpun atau dapat menambah orang dengan sebab seruan, maka disunnatkan menyeru ketika itu karena kemaslahatan mayat, demikian Kurdi dari al-I’ab. Ibarat Ali Syibran al-Malasi, dipahami dari itu sesungguhnya seandainya pengunjung banyak dan mereka tidak mengetahui waktu  imam beranjak maju untuk shalat, maka disunnatkannya bagi mereka dan itu tidak jauh. Ibarat Syaikhuna, berbeda dengan shalat janazah, maka tidak diseru untuknya kecuali butuh seruan.[7]

Kesimpulan
1.      Shalat yang disunnatkan berjamaah padanya seperti shalat gerhana, shalat hari raya, istisqa’ dan shalat tarawih sunnat dikatakan padanya Asshalatal jami’ah.
2.      Sebagai ganti Asshalata jami’ah juga dapat dikatakan, hallimu ilasshalah, asshalata rahimakumullah atau hayya ‘alasshalah.
3.      Menurut pendapat mu’tamad dalam mazab Syafi’i, pada shalat janazah tidak disunnatkan mengatakan,  Asshalata jami’ah kecuali ada kemaslahatan yang kembali kepada janazah seperti bisa bertambah jama’ah atau pengunjung tidak tahu kapan imam beranjak maju ke depan janazah untuk shalat.





[1] Al-Nawawi, Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz. III, Hal. 83
[2] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz .II, Hal. 620, No.901
[3] Al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, Dicetak bersama Hasyiah ‘Ali Syibran al-Malasi ‘ala Nihayah al-Muhtaj, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut,  Juz. I, Hal. 403.
[4] Al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, Dicetak bersama Hasyiah ‘Ali Syibran al-Malasi ‘ala Nihayah al-Muhtaj, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut,  Juz. I, Hal. 403-404
[5] Al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, Dicetak bersama Hasyiah ‘Ali Syibran al-Malasi ‘ala Nihayah al-Muhtaj, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut,  Juz. I, Hal. 404
[6]  ‘Ali Syibran al-Malasi, Hasyiah ‘Ali Syibran al-Malasi ‘ala Nihayah al-Muhtaj,  Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut , Juz. I, Hal. 404
[7] Al-Syarwani, Hasyiah al-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, Mathba’ah Mushthafa Muhammad, Mesir, Juz. I, Hal. 462

Selasa, 13 Juni 2017

Mampu dengan jalan yakin, apakah boleh berijtihad?

Al-Imam al-Suyuthi dalam kitab al-Asybah wan Nadhair mengatakan : Qaidah Fiqh yang ke sembilan belas adalah :
القادرعلى اليقين هل له الاجتهاد والاخذ بالظن فيه خلاف والترجيح مختلف في الفروع
Orang yang mampu beramal dengan yakin, apakah boleh baginya melakukan ijtihad dan berpegang kepada dhan?. Ini ada khilaf, sedangkan tarjihnya berdasarkan khilaf pada furu’nya.
Furu’-furu’nya adalah sebagai berikut :
1.    Seseorang mempunyai dua bejana air, salah satunya bernajis (ragu mana yang suci). Sedangkan dia mampu menggunakan air  suci dengan cara yakin, sebab dia berada dalam laut atau bersamanya ada bejana yang ketiga yang diyakini suci atau menggunakan air suci secara yakin dengan cara mencampurkan kedua bejana air tersebut sehingga kumpulan air mencapai dua qulah dan yakin suci. Maka menurut pendapat yang lebih shahih boleh baginya ijtihad dalam memilih mana satu antara dua bejana tersebut yang suci tanpa beralih ke air lain yang dipastikan suci.
2.    Seseorang mempunyai dua pakaian, salah satunya bernajis (ragu mana yang suci). Sedangkan dia mampu mencari pakaian lain yang yakin suci. Maka menurut pendapat yang lebih shahih boleh baginya ijtihad.
3.    Seseorang ragu masuk waktu shalat, sedangkan dia mampu menetapkan waktu shalat dengan yakin atau keluar dari tempat gelap untuk melihat matahari. Maka menurut pendapat yang lebih shahih boleh baginya ijtihad.
4.    Menurut pendapat yang lebih shahih tidak sah shalat menghadap hijr Ismail, yakni ukuran yang datang riwayat yang mengatakan ukuran tersebut termasuk baitullah (ka’bah). Sebabnya berbeda-beda riwayat tentang ukuran yang termasuk baitullah,  ada riwayat tujuh hasta, ada riwayat enam hasta dan riwayat lain lima hasta. Semua riwayat tersebut ada dalam Shahih Muslim. Karena itu, kita harus berpaling kepada yakin, yakni menghadap ka’bah.
5.    Termasuk furu’ qaidah ini juga, ijtihad pada waktu kehadiran Nabi SAW atau pada zaman beliau. Maka menurut pendapat yang lebih shahih boleh ijtihad.
6.    Dipastikan tidak boleh berijtihad seorang mujtahid apabila menemukan nash syara’ pada suatu masalah.
7.    Dipastikan penduduk Makah tidak boleh berijtihad tentang kiblat. Perbedaan masalah kiblat dengan masalah bejana ; berpaling dari ijtihad dalam masalah bejana menyia-nyiakan harta, sedangkan pada kiblat hanya mempunyai satu jihat. Maka mencari cara lain-sedangkan dia mampu atas jihat itu- adalah bermain-main. Adapun pada masalah bejana banyak jihat.
8.    Dipastikan boleh berijtihad, seseorang tasyabbuh antara bata suci dan bata bernajis. Sedangkan bersamanya ada bata lain yang diyakini suci dan tidak ada kemudharatan padanya. Maka boleh baginya berijtihad tanpa khilaf berdasarkan kutipan dari Syarah al-Muhazzab.


(Sumber : Al-Imam al-Suyuthi, al-Asybah wan Nadhair, al-Haramain, Singapura, Hal. 123)

Senin, 12 Juni 2017

Talak dalam keadaan marah

Dalam risalah Ibnu al-Qayyim disebutkan, keadaan orang marah terdiri tiga pembagian, yaitu :
1.      Ada padanya mabadi marah (permulaan marah), dalam marahnya tidak menyebabkan berubah akalnya dan dia mengetahui dan mengqashad apa yang dia katakan. Ini tidak ada musykil (jatuh talaq).
2.      Marah yang sampai pada puncaknya, sehingga tidak diketahui apa yang dikatakan dan juga perkataannya itu tidak diqashadnya lagi. Ini tidak diragukan tidak berlaku apapun dari perkataannya.
3.      Pertengahan antara dua kelompok marah di atas. Orang marah kelompok ini tidak seperti orang gila. Dalil-dalil menunjukkan tidak berlaku juga perkataannya.[1]

Sebagaimana penjelasan diatas, para ulama sepakat jatuh talaq dalam kasus marah biasa, yakni marah katagori pertama dalam pengelompokan di atas dan tidak jatuh talaq pada katagori kedua, yakni marah yang sudah sampai puncaknya yang dapat menghilangkan akalnya, sehingga tidak diketahui lagi apa yang dikatakan serta perkataannya itu tidak diqashadnya lagi. Terjadi perbedaan pendapat hanya pada marah katagori ketiga, yakni marah pertengahan antara dua katagori di atas. Ibnu  Abidin setelah mengutip pengelompokan marah yang disebut oleh Ibnu al-Qayyim di atas, beliau  mengatakan :
لَكِنْ أَشَارَ فِي الْغَايَةِ إلَى مُخَالَفَتِهِ فِي الثَّالِثِ حَيْثُ قَالَ: وَيَقَعُ الطَّلَاقُ مِنْ غَضَبٍ خِلَافًا لِابْنِ الْقَيِّمِ
Akan tetapi pengarang al-Ghayah (ulama pengikut mazhab Hambali) mengisyaratkan berbeda dengan pendapat Ibnu al-Qayyim. Pengarang al-Ghayah mengatakan, jatuh talaq dari orang marah, berbeda dengan pendapat Ibnu al-Qayyim.[2]

Abdurrahman al-Jaziri menggambarkan katagori ketiga ini dengan perkataan beliau sebagai berikut :
الثالث: أن يكون الغضب وسطاً بين الحالتين، بأن يشتد ويخرج عن عادته ولكنه لا يكون كالمجنون الذي لا يقصد ما يقول ولا يعلمه،
Katagori ketiga adalah keadaan marah di antara dua hal di atas, yakni sangat marah, sehingga keluar seseorang dari prilaku kebiasaannya, namun tidak menjadikannya seperti orang gila yang tidak mengqashad dan tidak mengetahui apa yang dikatakannya.[3]

Kemudian al-Jaziri mengatakan, bahwa pendapat Ibnu al-Qayyim yang mengatakan tidak jatuh talaq marah katagori ketiga ini tidak diakui sebagai mazhab Hambali.[4]  Dengan demikian yang menjadi pendapat mu’tamad dalam mazhab Hambali adalah jatuh talaq yang terjadi pada orang marah katagori ketiga. Ini juga sesuai dengan penjelasan Abu al-Naja al-Hajawi al-Maqdisi dalam kitab al-Iqna’ fi Fiqh al-Imam Ahmad bin Hambal berikut :
والغضبان مكلف في حال غضبه بما يصدر منه من كفر وقتل نفس وأخذ مال بغير حق وطلاق وغير ذلك قال ابن رجب في شرح النواوية ما يقع من الغضبان من طلاق وعتاق أو يمين فإنه يؤاخذ بذلك كله بغير خلاف واستدل لذلك بأدلة صحيحة وأنكر على من يقول بخلاف ذلك
Orang marah adalah mukallaf pada ketika marahnya dengan apa yang terjadi darinya, baik kufur, bunuh diri, ambil harta orang lain tanpa haq, talaq dan yang lainnya. Dalam Syarah al-Nawawiyah, Ibnu Rajab mengatakan hal-hal yang terjadi karena marah, baik talaq, memerdekakan atau sumpah, maka diperhitungkan semua itu tanpa khilaf dan beliau juga mengemukakan dalil-dalil yang shahih serta mengingkari orang yang berpendapat sebaliknya.[5]

Mazhab Maliki juga berpendapat jatuh talaq yang terjadi pada orang marah katagori ketiga ini. Hal ini tergambar dari penjelasan ulama mazhab Maliki, al-Dusuqi sebagai berikut :
يَلْزَمُ طَلَاقُ الْغَضْبَانِ وَلَوْ اشْتَدَّ غَضَبُهُ خِلَافًا لِبَعْضِهِمْ كَذَا ذَكَرَ السَّيِّدُ الْبُلَيْدِيُّ فِي حَاشِيَتِهِ
Mengakibatkan jatuh talaq orang sedang marah, meskipun marahnya kuat. Pendapat ini berbeda dengan sebagian ulama. Seperti ini al-Bulaidy menyebutnya dalam Hasyiahnya.[6]

Termasuk yang berpendapat jatuh talaq yang terjadi pada orang marah adalah mazhab Syafi’i. Kesimpulan ini terlihat dalam nash-nash ulama-ulama Syafi’iyah berikut ini :
1.        Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan :
.مع الخبر الصحيح أيضا لا طلاق في إغلاق وفسره كثيرون بالإكراه كأنه أغلق عليه الباب أو انغلق عليه رأيه ومنعوا تفسيره بالغضب للاتفاق على وقوع طلاق الغضبان قال البيهقي، وأفتى به جمع من الصحابة ولا مخالف لهم منهم
Serta ada hadits shahih pula, “Tidak ada thalaq dalam keadaan ighlaq”. Kebanyakan ulama menafsirkannya dengan paksaan, seolah-olah dikunci pintu atasnya atau terkunci pikirannya. Mereka mencegah menafsirkannya dengan marah, karena ada kesepakatan jatuh talaq sedang marah. Al-Baihaqi mengatakan, satu jama’ah sahabat telah mengifta’ jatuh talaq sedang marah dan tidak ada yang menyelisihnya.[7]

Seterusnya menjelaskan maksud perkataan al-Tuhfah di atas, al-Syarwani mengatakan :
(قوله: وأفتى به) أي بوقوع طلاق الغضبان وقوله: ولا مخالف إلخ أي فكان إجماعا سكوتيا
Perkataan pengarang : telah mengifta’nya, artinya ifta’ jatuh talaq sedang marah. Dan perkataan pengarang : tidak ada yang menyelisihnya dan seterusnya.., maka ini adalah ijma’ sukuti.[8]

2.        Zainuddin al-Malibari mengatakan :
واتفقوا على وقوع طلاق الغضبان وإن ادعى زوال شعوره بالغضب
Para ulama sepakat atas jatuh thalaq sedang marah, meskipun didakwa hilang kesadarannya dengan sebab marah.[9]
Dalam mengomentari pernyataan di atas, Abu Bakar al-Syatha mengatakan :
(قوله واتفقوا على وقوع طلاق الغضبان ) في ترغيب المشتاق سئل الشمس الرملي عن الحلف بالطلاق حال الغضب الشديد المخرج عن الاشعار هل يقع الطلاق أم لا وهل يفرق بين التعليق والتنجيز أم لا وهل يصدق الحالف في دعواه شدة الغضب وعدم الإشعار فأجاب بأنه لا اعتبار بالغضب فيها نعم إن كان زائل العقل عذر اهـ
Perkataan pengarang : Para ulama sepakat atas jatuh thalaq sedang marah. Dalam kitab Targhib al-Musytaq, Imam al-Ramli ditanya tentang sumpah thalaq sedang sangat marah yang mengeluarkannya dari kesadaran, apakah jatuh talaq atau tidak? Apakah dibedakan antara ta’liq dan tanjiz atau tidak? Apakah dibenarkan dakwa orang bersumpah bahwa dia sedang sangat marah dan tidak ada kesadaran? Imam al-Ramli menjawab bahwa tidak ada i’tibar marah padanya , namun demikian, seandainya dia hilang akal, maka dihukum ‘uzur.[10]

Pendapat yang berbeda dengan di atas dikemukakan oleh golongan ulama Hanafiyah. Golongan ini berpendapat talaq dalam keadaan marah tidak jatuh talaqnya. Ini sebagaimana disebut dalam kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazhab al-Arba’ah, yakni :
والتحقيق عند الحنفية أن الغضبان الذي يخرجه غضبه عن طبيعته وعادته بحيث يغلب الهذيان على أقواله وأفعاله فإن طلاقه لا يقع، وإن كان يعلم ما يقول ويقصده لأنه يكون في حالة يتغير فيها إدراكه، فلا يكون قصده مبنياً على إدراك صحيح، فيكون كالمجنون،
Yang tahqiq di sisi Hanafiyah orang marah yang marahnya mengeluarkan seseorang dari tabiat dan kebiasaannya, dalam arti kekacauan pikiran menguasai perkataan dan perbuatannya, maka talaqnya tidak jatuh, meskipun dia mengetahui dan mengqashad apa yang dikatakannya. Karena orang marah berada dalam keadaan berubah-ubah pemikirannya. Karena itu, keadaan qashadnya tidak dibangun atas pemikiran yang shahih, maka ketika itu seperti orang gila.[11]

Pendapat golongan Hanafiyah ini merupakan pendapat yang menyalahi dengan jumhur ulama.[12]
Dali-dalil jumhur ulama yang berpendapat jatuh talaq yang terjadi dalam keadaan marah

1.    Dikisahkan dalam kitab Shahih Ibnu Hibban seorang perempuan bernama Khuwailah binti Tha’labah isteri Aus bin al-Shamit. Khuwailah ini menceritakan bahwa suaminya itu seorang yang sudah tua dan prilakunya buruk. Suatu ketika Khuwailah meminta sesuatu kepada suaminya, lalu suaminya marah, kemudian dengan serta melakukan zhihar kepadanya. Kemudian Khuwailah mengadu kepada Rasulullah SAW. Maka ketika itu Rasulullah SAW mengatakan kepada Khuwailah :
مُرِيهِ فَلْيُعْتِقْ رَقَبَةً قَالَتْ: وَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا عِنْدَهُ مَا يَعْتِقُ، قَالَ: فَلْيَصُمْ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ شَيْخٌ كَبِيرٌ، مَا بِهِ مِنْ صِيَامٍ، قَالَ: فَلْيُطْعِمْ سِتِّينَ مِسْكِينًا وَسْقًا مِنْ تَمْرٍ
“Perintahlah suamimu memerdekakan hamba sahaya !”. “Ya Rasulullah tidak ada di sisinya sesuatupun untuk dimerdekakannya, Jawab Khuwailah. Kemudian Rasulullah mengatakan : “Kalau begitu, berpuasalah dua bulan berturut-turut”. Khuwailahpun menjawab : “Ya Rasulullah sesungguhnya suamiku seorang yang sudah tua, dia tidak sanggup lagi berpuasa.” Lalu Rasulullah SAW berkata : “Berikan makanlah satu ausuq kurma untuk enam puluh orang miskin.”(H.R. Ibnu Hibban [13] dan al-Baihaqi[14])

            Hadits ini juga telah diriwayat oleh Abu Daud. Beliau mengatakan :
هَذَا أَصَحُّ الْحَدِيثين[15]

Jalan pendalilian dengan hadits ini adalah apabila berdasarkan hadits ini tindakan zhihar sah dalam keadaan marah berdasarkan kandungan hadits ini, maka thalaq sah juga karena qiyas kepada zhihar.
2.    Ijmak sukuti dari sahabat Nabi sebagaimana dikemukakan al-Syarwani di atas.
3.    Seorang yang sedang marah masih dianggap mukallaf. Buktinya dia masih mengetahui dan mengqashad apa yang dikatakannya dan ini juga sesuai dengan hadits Nabi SAW berbunyi :
عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَوْصِنِي. قَالَ لَا تَغْضَبْ
Dari seorang sahabat Nabi SAW berkata : “Seorang mengatakan , “Ya Rasulullah !, wasiatkan untukku.” Rasulullah bersabda : “ Jangan marah”.(H.R. Ahmad. Rijalnya rijal shahih)[16]

Larangan marah tersebut dalam hadits di atas menunjukan bahwa seseorang yang sedang marah berarti dia sedang dalam keadaan melanggar perintah syara’. Dengan demikian dia sedang dalam keadaan bersifat mukallaf. Seandainya seseorang yang sedang marah bukan mukallaf, maka tentu tidak ada makna melarang seseorang marah, karena saat itu dia tidak dalam keadaan mukallaf.
4.    Riwayat mujahid dari Ibnu Abbas menceritakan :
أنَّ رجلاً قال له: إني طلقت امرأتي ثلاثاً وأنا غضبان، فقال: إنَّ ابنَ عباس لا يستطيع أنْ يُحِلَّ لك ما حرَّم الله عليك، عصيتَ ربَّك وحرمت عليك امرأتك
Sesungguuhnya seorang laki-laki berkata kepada Ibnu Abbas : “Sungguh aku telah mentalaq tiga isteriku dalam keadaan marah.” Lantas Ibnu Abbas mengatakan, “Sesunggunya Ibnu Abbas tidak mampu menghalal bagimu apa yang telah diharamkan oleh Allah atasmu, kamu maksiat tuhanmu dan kamu haramkan isterimu atasmu.(hadits telah dikeluarkan oleh al-Jauzujani, al-Darulquthni, Abu Daud, dan al-Thabrani dengan isnad syarat Muslim)[17]

Laki-laki dalam kasus di atas yang mentalaq isterinya dalam keadaan marah, diputuskan oleh Ibnu Abbas telah haram atasnya isterinya tersebut. Artinya telah jatuh talaq.
5.    Qaidah Fiqh berbunyi :
أن الأصل في الأبضاع التحريم
Sesungguhnya asal pada masalah kemaluan perempuan adalah haram.[18]


Menfatwakan kepada suatu hukum yang mengakibatkan haram kemaluan perempuan lebih diutamakan, karena untuk lebih hati-hati (ihtiyath) terhadap yang berkenaan dengan kemaluan perempuan. Sedangakan fatwa jatuh talaq mengakibatkan haram kemaluan perempuan atas suaminya.
Adapun dalil-dalil yang dikemukakan kelompok yang berpendapat tidak jatuh talaq dalam keadaan marah adalah sebagai berikut :
1.    Hadits dari Aisyah r.a berbunyi :
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لا طلاق ولا عتاق في إغلاق

Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “Tidak ada talaq dan memerdekakan hamba sahaya dalam keadaan marah.(H.R. Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad dan al-Hakim)[19]
Abu Daud salah seorang perawi hadits ini mengatakan, aku menduga makna ghilaq adalah marah.[20]
Jawaban Jumhur
Makna asal dari ighlaq adalah mengunci. Kemudian maknanya dalam hadits ini dapat bermakna marah sebagaimana dikemukakan oleh Abu Daud, karena bila seseorang sedang marah, maka akalnya seolah-olah terkunci dengan kemarahannya tersebut, sehingga akalnya tidak berfungsi secara normal. Namun ighlaq dengan makna asalnya mengunci ini juga bisa bermakna dipaksa dalam hadits ini. Karena orang yang dipaksa melakukan suatu perbuatan, akalnya seolah-olah terkunci karena tidak ada pilihan baginya dalam bertindak. Memaknai ighlaq dalam hadits ini dengan makna marah bertentangan dengan ijmak ulama sebagaimana dikemukan oleh al-Syarwani di atas. Dengan demikian, maknanya yang lebih tepat di sini adalah dipaksa. Berdasarkan ini, maka hadits ini tidak tepat menjadi dalil jatuh talaq dalam keadaan marah.
2.    Firman Allah Ta’ala berbunyi :
لا يؤاخذكم الله باللغو في أيمانكم
Allah tidak menghukummu dengan sebab lagha dalam sumpahmu (Q.S. al-Baqarah : 225)
Ibnu Abbas mengatakan : “Lagha sumpah adalah kamu bersumpah, sedangkan kamu dalam keadaan marah.[21]
          Berdasakan tafsir dari Ibnu Abbas ini, maka sumpah dalam keadaan marah tidak ada akibat hukumnya. Dengan mengqiyaskan talaq kepada sumpah, maka talaq dalam keadaan marah juga tidak ada akibat hukumnya, alias tidak jatuh talaq.
Jawaban Jumhur
Ibnu Hajar al-Asqalani menolak riwayat ini. Dalam mengomentari riwayat ini beliau mengatakan :
وَهَذَا يُعَارضهُ الْخَبَر الثَّابِت عَن ابن عَبَّاسٍ كَمَا تَقَدَّمَ فِي مَوْضِعِهِ أَنَّهُ تَجِبُ فِيهِ كَفَّارَةُ يَمِينٍ
Riwayat ini bertentangan dengan hadits yang shahih dari Ibnu Abbas sebagaimana disebut sebelumnya, sesungguhnya sumpah orang marah wajib atasnya kifarat

Selanjutnya beliau menegaskan juga :
وَمَنْ قَالَ إِنَّهَا يَمِينُ الْغَضَبِ يَرُدُّهُ مَا ثَبَتَ فِي الْأَحَادِيثِ يَعْنِي مِمَّا ذُكِرَ فِي الْبَابِ وَغَيْرِهَا
Barangsiapa yang berpendapat bahwa lagha tersebut bermakna sumpah dalam keadaan marah, maka ini ditolak oleh hadit-hadits shahih yang telah disebut dalam babnya dan lainnya.[22]

Ibnu Rajab mengatakan :
وقد صحَّ عن غير  واحد من الصحابة أنَّهم أفْتَوا أنَّ يمينَ الغضبان منعقدة وفيها الكفارةُ ، وما روي عن ابن عباسٍ مما يُخالِفُ ذلك فلا يصحُّ إسنادُه
Telah shahih dari bukan seorang sahabat Nabi saja mereka berfatwa sumpah orang dalam keadaan marah terakad dan wajib kifarat. Adapun riwayat dari Ibnu Abbas yang menyalahinya, maka tidak shahih isnadnya.[23]

Dengan riwayat ini dhaif, tidak dapat menjadi hujjah.

3.    Sabda Nabi SAW berbunyi :
لاَ يَقْضِيَنَّ حَكَمٌ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَهُوَ غَضْبَانُ
Tidak memutuskan hukum seorang hakim di antara dua orang ang berselisih, sedangkan dia dalam keadaan marah.(H.R. Bukhari).[24]
Berdasarkan hadits ini, tidak dalam keadaan marah merupakan salah satu syarat seorang hakim dalam memutuskan perkara, karena marah menyebabkan seseorang tidak bisa berpikir normal dalam menentukan suatu tindakan. Maka dengan demikian, seorang yang mentalaq isterinya dalam keadaan marah juga akan berlaku hal yang sama.
Jawaban Jumhur
            Kandungan hadits ini kurang tepat diberlakukan pada kasus seorang suami yang mentalaq isterinya. Karena disyaratkan tidak marah pada hakim, sebabnya ada tuntutan kehati-hatian dalam memutus perkara yang berhubungan dengan sengketa anggota masyarakat. Buktinya ada persyaratan khusus untuk hakim yang tidak berlaku pada individu lain, seperti hakim tidak dalam keadaan sangat lapar, hakim harus bersifat adil, hakim tidak boleh seorang perempuan menurut jumhur ulama dan lain-lain. Dengan demikian, maka mengqiyaskan kasus seorang suami mentalaq isteri kepada syarat seoorang hakim adalah tidak tepat.
            Dari sisi lain, hadits ini justeru mendukung pendapat jumhur yang berpendapat orang sedang marah adalah mukallaf, sehingga talaqnya dihukum sah. Hal ini karena  Nabi SAW melarang memutuskan suatu perkara dalam keadaan marah. Ini menunjukan orang sedang marah juga adalah mukallaf, seandainya tidak mukallaf maka tidak ada makna larangan tersebut. Karena orang yang tidak mukallaf tidak dibebankan suatu hukum.
4.    Qiyas kepada orang mabuk dengan sebab mubah. Orang mabuk dengan sebab mubah tidak jatuh talaqnya.
Jawaban Jumhur
            Qiyas ini juga tidak tepat, karena yang menjadi khilafiyah di sini adalah masalah marah yang tidak sampai tidak diketahui dan tidak diqashad apa yang diucapkannya. Adapun mabuk dapat menyebabkan seseorang tidak mengetahui dan tidak memngqashadkan apa yang diucapkannya. Buktinya firman Allah Ta’ala berbunyi :
يا ايها الذين آمنوا لا تقربوا الصلاة وأنتم سكارى حتى تعلموا ما تقولون
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mendekati shalat, sedangkan kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu ketahui apa yang kamu katakan.(Q.S. al-Nisa’ : 43)
==========Selesai====



[1] Ibnu ‘Abidin, Radd al-Mukhtar ala Dar al-Mukhtar, Maktabah Syamilah, Juz.. III, Hal. 244
[2] Ibnu ‘Abidin, Radd al-Mukhtar ala Dar al-Mukhtar, Maktabah Syamilah, Juz.. III, Hal. 244
[3] Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala al-Mazhab al-Arba’ah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. IV, Hal. 262.
[4] [4] Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala al-Mazhab al-Arba’ah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. IV, Hal. 262.
[5] Abu al-Naja al-Hajawi al-Maqdisi, al-Iqna’ fi Fiqh al-Imam Ahmad bin Hambal, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal.4
[6] Al-Dusuqi, Hasyiah al-Dusuqi ‘ala Syarah al-Kabir, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 366
[7] Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, (dicetak pada hamisy Hasyiah al-Syarwani ‘ala al-Tuhfah), Mathba’ah Mushthafa Muhammad, Mesir, Juz. VIII, Hal. 32
[8] Al-Syarwani, Hasyiah al-Syarwani ‘ala al-Tuhfah, Mathba’ah Mushthafa Muhammad, Mesir, Juz. VIII, Hal. 32
[9] Zainuddin al-Malibari, Fathul Muin, (dicetak pada hamisy I’anah al-Thalibin), Thaha Putra, Semarang, Juz. IV, Hal. 5
[10]Abu Bakar al-Syatha,  I’anah al-Thalibi, Thaha Putra, Semarang, Juz. IV, Hal. 5
[11] Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala al-Mazhab al-Arba’ah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. IV, Hal. 262.
[12] Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala al-Mazhab al-Arba’ah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. IV, Hal. 262.
[13] Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, Maktabah Syamilah, Juz. X, Hal. 107, No. 4279
[14]. Al-Baihaqi, Sunan al-Baihaqi, Maktabah Syamilah, Juz. VII, Hal. 639, No. 15274
[15] Ibnu al-Mullaqqin, Badrul Munir, Maktabah Syamilah, Juz. VIII, Hal. 148
[16] Al-Haitsami, Majma’ al-Zawaid, Maktabah Syamilah, Juz. VIII, Hal. 69, No 12987
[17] Ibnu Rajab, Jami’ul Ulum wal Hakam, Dar Ibn Katsir, Beirut, Hal. 358
[18] Al-Suyuuthi, al-Asybah wan Nadhair, al-Haramain, Singapura, Hal. 44
[19] Mulla ‘Ali al-Qary, Mirqah al-Mafatih, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut,  Juz VI, Hal. 391-392
[20] Mulla ‘Ali al-Qary, Mirqah al-Mafatih, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut,  Juz VI, Hal. 392
[21] Al-Thabari, Tafsir al-Thabari, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 438
[22] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Barry, Maktabah Syamilah, Juz. XI, Hal. 548
[23] Ibnu Rajab, Jami’ul Ulum wal Hakam, Dar Ibn Katsir, Beirut, Hal. 358
[24] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. IX, Hal. 65, No. 7158