Rabu, 26 Agustus 2015

Kekeliruan menyebut nama dalam akad .



teuku: mohon pencerahannya tgk.. bagaimana hukumnya nikah seseorang apabila sang WALI salah menyebutkan nama BINTI (Org Tua Perempuan). apakah Nikahnya SAH? Terima Kasih..

Jawab :
             Kekeliruan penghulu atau orang yang mendapat wakalah menikahkan ataupun calon suami menyebutkan nama wali, seperti Aisyah binti Abdullah, terucapkan Aisyah binti Umar, maka pernikahan itu hukumnya tetap sah apabila pada waktu akad, wali atau penghulu atau calon suami memberi isyarat kepada calon isteri. Ketentuan ini sesuai dengan penjelasan dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin, berbunyi :
)مَسْئَلَة ش) غَيَّرْتَ إِسْمَهَا وَنَسَبَهَا عِنْدَ إِسْتِئْذَانِهِاَ فِى النِّكَاحِ وَزَوَّجَهَا القَاضِى بِذَلِكَ الإِسْمِ ثُمَّ ظَهَرَ أَنَّ إِسْمَهَا وَنَسَبَهَا غَيْرُ مَا ذَكَرْتَهُ فَإِنْ أَشَارَ إِلَيهَا حَالَ العَقْدِ بِأَنْ قَالَ زَوَّجْتُكَ هَذِهِ أَوْ نَوَيَاهَا بِهِ صَحَّ النِّكَاحُ سَوَاءٌ كَانَ تَغْيِيْرُ الإسْمِ عَمْدًا اوسَهْوًا مِنْهُ أَوْمِنْهَا إِذِ المَدَارُ عَلَى قَصْدِ الوَالى وَلَو قَاضِيًا وَالزَّوج كَمَا قَالَ زَوَّجْتُكَ هِنْدًا وَنَوَيَا دَعْدًا عَمَلاً بِنِيَّتِهَما

“(Masalah SY) Seandainya engkau mengganti nama pengantin putri atau nasabnya ketika meminta izin dalam pernikahan dan hakim menikahkannya dengan nama itu. Kemudian ternyata nama dan nasabnya itu bukan nama atau nasab yang engkau sebutkan. Apabila akad itu diisyaratkan kepadanya pada ketika akad, dengan gambarannya :  hakim berkata “Saya nikahkan engkau dengan orang ini, atau meniatkan kepada sang pengantin putri ketika menyatakan nama yang keliru itu, maka pernikahannya tetap sah, baik perubahan nama itu disengaja atau karena lupa dari hakim atau dari pengantin perempuan, karena acuan hukum yang digunakan adalah qashad wali, meskipun wali hakim dan qashad suami, sebagaimana perkataan wali saya nikahkan kamu dengan Hindun dan meniatkan Da’dan. Hal ini karena beramal dengan  niat hakim atau suami”[1]



[1] Abdurrahman Ba ‘Alawi, Bughyah al-Mustarsyidin, Usaha Keluarga, Semarang, Hal. 200

Jumat, 21 Agustus 2015

Hukum air bercampur dengan kaporit



Sebuah pertanyaan yang sering muncul dari teman-teman kepada kami, apakah air dari PAM/ air pet yang dikirim kerumah-rumah dan masjid yang bercampur dengan kaporit dapat menghilangkan sifat menyucikan atau tidak? Apalagi kalau bau kaforitnya kadang-kadang begitu menyengat hidung. Pertanyaan ini sering dihubungkan dengan air yang digunakan unutk berwudhu’ di Masjid kebanggaan masyarakat Aceh, yakni Masjid Baiturrahman Banda Aceh.
Jawab :
Berikut ini keterangan para ulama mengenai ini, yakni sebagai berikut :
1.        Imam Syafi’i mengatakan :
وَإِذَا وَقَعَ فِي الْمَاءِ شَيْءٌ حَلاَلٌ فَغَيَّرَ لَهُ رِيحًا أَوْ طَعْمًا وَلَمْ يَكُنِ الْمَاءُ مُسْتَهْلَكًا فِيهِ فَلاَ بَأْسَ أَنْ يَتَوَضَّأَ بِهِ وَذَلِكَ أَنْ يَقَعَ فِيهِ الْبَانُ أَوْ الْقَطِرَانُ فَيَظْهَرُ رِيحُهُ أَوْ مَا أَشْبَهَهُ وَإِنْ أُخِذَ مَاءٌ فَشِيبَ بِهِ لَبَنٌ أَوْ سَوِيْقٌ أَوْ عَسَلٌ فَصَارَ الْمَاءُ مُسْتَهْلَكًا فِيهِ لَمْ يُتَوَضَّأْ بِهِ ِلانَّ الْمَاءَ مُسْتَهْلَكٌ فِيهِ إنَّمَا يُقَالُ لِهَذَا مَاءُ سَوِيْقٍ وَلَبَنٍ وَعَسَلٍ مَشُوْبٌ
“Apabila jatuh dalam air sesuatu benda yang halal yang dapat merubah air, bau atau rasanya. Sedangkan air itu tidak larut dalam benda tersebut, maka tidak mengapa berwudhu’ dengannya. Yang demikian adalah seperti jatuh dalam air pohon kayu atau pelangkin, maka muncullah baunya atau yang serupa dengan itu. Dan seandainya diambil air dicampur dengan dengan susu, tepung atau madu, maka air itu kemudian larut dalamnya, maka tidak boleh berwudhu’ dengannya. Karena air larut dalamnya, sehingga dikatakan bagi ini  air tepung, air susu atau air madu bercampur.”[1]

2.        Ibnu Qasim al-Ghazi mengatakan :
(والمتغير) أي ومن هذا القسم الماءُ المتغير أحدُ أوصافه (بما) أي بشيء (خالطه من الطاهرات) تغيُّرًا يمنع إطلاق اسم الماء عليه؛ فإنه طاهر غير طهور،
“Dan air yang berubah : maksudnya termasuk dalam pembagian ini adalah air yang berubah salah satu sifatnya dengan sebab sesuatu benda yang suci yang bercampur (larut) dimana berubahnya menghalangi nama air atasnya secara mutlaq. Maka air itu suci tidak menyucikan.”[2]

Dengan demikian, maka jawaban untuk air yang bercampur dengan kaporit dijawab sebagai berikut :
1.      Apabila air yang berubah dengan sebab bercampur dengan kaporit tersebut, berubahnya banyak (dalam arti berubahnya dapat menghalangi nama air secara mutlaq atasnya, sehingga air itu dinamakan air kaporit, tidak disebut lagi sebagai air secara mutlaq), maka air itu dihukum suci tidak menyucikan
2.      Apabila berubahnya sedikit (dalam arti berubahnya tidak dapat menghalangi nama air secara mutlaq atasnya, sehingga air itu tetap dapat disebut sebagai air tanpa dikaidkan dengan kaporit), maka air itu tetap suci menyucikan.




[1] Imam Syafi’i,  al-Umm, Dar al-Wifa’, Juz. II, Hal. 21
[2] Ibnu Qasim al-Ghazi, Fathul Qarib, (dicetak pada hamisy Hasyiah al-Bajuri), Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Juz. I, Hal. 31

Kamis, 20 Agustus 2015

Syarah air berubah dalam fathul fathul qarib (dicetak dalam hamisy Hasyiah Ibrahim al-Bajuri) Juz. I, hal. 32-33



Ustadz, mohon penjelasannya dari kitab Fathul Qorib ini :
واحترز بقوله: «خالطه» عن الطاهر المجاورُ له؛ فإنه باق على طهوريته ولو كان التغير كثيرا؛ وكذا المتغير بمخالط لا يستغني الماء عنه، كطين وطُحْلَب وما في مقرِّه وممره، والمتغير بطول المكث، فإنه طهور.

Jawab :
1.    Terjemahannya lebih kurang sebagai berikut :
“Dikecualikan dengan perkataan pengarang, “bercampur (larut/tidak bisa dipisahkan) dengannya” dari air yang suci yang barcampur (tidak larut/masih bisa dipisahkan) dengan sesuatu benda suci, maka air itu masih kekal atas menyucikan, meskipun berobahnya banyak. Demikian juga (masih menyucikan), air yang berubah dengan benda yang larut (tidak bisa dipisahkan) dimana air tidak dapat terpisah darinya seperti tanah, lumut, benda lain yang ada pada bawah air dan tempat lalunya serta air yang berubah dengan sebab lama tergenang. Maka semua itu adalah menyucikan.”

2.    Syarahnya sbb :
a.       Air yang berubah yang dapat menghilang namanya sebagai air mutlaq, hukumnya adalah suci tidak menyucikan
b.      Dihukum suci tidak menyucikan apabila berubah dengan sebab bercampur dengan sesuatu yang larut/tidak dapat dipisahkan seperti bercampur dengan kopi, teh dll.
c.       Adapun apabila berubah dengan sebab bercampur dengan sesuatu yang masih dapat dipisahkan seperti bercampur dengan plastik, maka air tetap dlm keadaan suci menyucikan meskipun berubahnya banyak.
d.      Dalam hal berubah dengan sebab bercampur dengan sesuatu yang larut/tidak dapat dipisahkan, dikecualikan air yang bercampur dengan sesuatu di mana air tidak mungkin terpisah darinya pada kebiasaan, seperti tanah, lumut, sesuatu yang ada pada bawah air atau pada tempat lalu air. Maka ini semua airnya masih suci menyucikan. Demikian juga dikecualikan air yang berubah dengan sebab lama tergenang, maka hukumnya tetap suci menyucikan.

Demikian , mudah2an bermanfaat

Minggu, 16 Agustus 2015

Minta Bantuan kepada Jin Islam



6 Aug 15, 09:37 PM
Yusuf: Ust, mohon nanti jug ada pembahasan meminta pertolongan atau memanfaatkan bantuan jin islam menurut para ulama

Jawab :
Jin memiliki kesamaan dengan manusia dalam beberapa hal, antara lain :
1.    sama-sama berakal
2.    sama-sama mukallaf atau kewajiban untuk menjalankan hukum Islam
Dalam al-Qur’an, Allah berfirman :
 ومَا خَلَقْتُ الجِنَّ والإنسَ إلاَّ لِيَعْبُدُونِ
Artinya : Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(Q.S. Az-Zariyaat : 56)

dan firman Allah berbunyi :

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي وَيُنذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا ۚ قَالُوا شَهِدْنَا عَلَىٰ أَنفُسِنَا ۖ وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ
Artinya : Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: "Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri", kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.(Q.S. al-An’am : 130)

Sesuai dengan firman Allah di atas, maka jin itu ada yang muslim dan ada yang kafir. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Ta'ala antara lain dalam Surat al-Jin : 1-2, berbunyi :
قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآَنًا عَجَبًا (1) يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآَمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا (2)
Artinya : Katakanlah (hai Muhammad): "telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan al-Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Quran yang menakjubkan. (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan tuhan kami (Q.S. al-Jin : 1-2)

dan Surat Al-Ahqaf : 29, berbunyi :
وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ
Artinya : Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)". ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.(Q.S. al-Ahqaf : 29)

Dan firman Allah Q.S. al-Jin : 11 menghikayahkan perkataan jin bahwa diantara mereka ada yang kafir dan ada juga yang muslim, yaitu :
وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَلِكَ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا
Artinya : Dan Sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.(Q.S. al-Jin : 11)

                Ibnu Hamid mentakhrij dari Mujahid tentang tafsir “tharaiq qidada” pada ayat di atas, beliau berkata : “muslim dan kafir[1] Dalam kitabnya, al-Furu’, Ibnu Muflih al-Hanbali mengatakan :
“Jin mukallaf secara jumlah. Karena itu, yang kafir dari mereka akan masuk neraka dan yang beriman masuk surge, mereka bukan menjadi tanah seperti binatang dan bukan juga pahala mereka terlepas dari api neraka..”[2]

Berdasarkan ini, maka jin merupakan makhluq Allah Ta’ala yang mempunyai kelebihan dan kekurangan, ada yang baik dan ada pula yang jahat sebagaimana halnya makhluq Allah yang lain. Dengan demikian, bergaul dan minta bantuan kepada kelompok jin sama hukumnya dengan bergaul dan minta bantuan kepada makhluq lainnya. Selama bergaul dan minta bantuan itu tidak mengandung syirik, maksiat atau hal-hal negatif lainnya, maka tentu diperbolehkan dalam agama. Sebaliknya kalau mengandung syirik, maksiat atau hal-hal negatif lainnya, maka tentu terlarang dalam agama.
Berikut perincian hukum meminta bantuan kepada jin, yakni :
1.    Meminta bantuan dalam perkara ketaatan kepada Allah Ta’ala. Misalnya apabila seseorang memiliki teman jin yang beriman dan jin tersebut menimba ilmu darinya. kemudian setelah itu menjadikan jin tersebut sebagai pendakwah untuk menyampaikan syariat Islam kepada kaumnya, maka hal ini tidak terlarang, bahkan terkadang menjadi sesuatu yang terpuji dan termasuk dakwah islamiyah. Sebagaimana telah terjadi sekumpulan jin menghadiri majelis Rasulullah SAW dan dibacakan kepada mereka al-Qur`an, selanjutnya, mereka kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan sebagaimana kisah yang disebut dalam dalam Q.S. al-Ahqaf : 29 di atas.
2.    Meminta bantuan kepada mereka dalam perkara yang mubah. Hal ini diperbolehkan, dengan syarat jalan untuk mendapatkan bantuan jin tersebut adalah sesuatu yang boleh dan bukan perkara yang haram. Sayyed Mustafa al-Zahabi al-Syafi’i menjelaskan, orang-orang yang minta bantuan kepada ruh-ruh yang baik dan maksudnya tidak menyalahi syara’ serta kekuatan kharq ‘adat yang muncul pada tangannya tidak memudharatkan atas seseorang, maka itu bukanlah sihir.[3] Ibnu Taimiyyah mengatakan, bahwa meminta bantuan pada jin dalam hal mubah, maka hukumnya mubah. Sebaliknya meminta bantuan jin kepada kufur, maka hukumnya kufur dan apabila meminta bantuan jin kepada maksiat, maka hukumnya maksiat.[4]
3.    Meminta bantuan kepada mereka dalam perkara yang diharamkan seperti mengambil harta orang lain, menakut-nakuti mereka dan lain-lain. Maka hal ini diharamkan di dalam agama. Kemudian bila caranya itu adalah syirik maka meminta tolong kepada mereka adalah syirik dan bila wasilah itu tidak syirik, maka akan menjadi perbuatan maksiat. Diantara yang terlarang minta bantuan kepada jin adalah menanyakan sesuatu yang ghaib, padahal hal itu hanya Allah yang tahu.
Catatan
Meskipun berhubungan dengan jin dibolehkan dengan syarat-syarat yang tersebut di atas, namun perlu diingat bahwa berhubungan dengan jin adalah berhubungan dengan makhluq ghaib yang kemungkinan tertipu sangat mungkin terjadi. Berhubungan dengan sesama manusia yang nyata saja, orang banyak tertipu, apalagi ini dengan makhluq yang tidak diketahui bagaimana wujudnya. Karena itu, menurut hemat kami sebaiknya menjauhi dari berhubungan dan bergaul dengan jin, meskipun menurut pengakuan jin tersebut dia adalah muslim. Ingat syaithan berbuat apa saja demi ambisinya menipu manusia.




[1] As-Suyuthi, Laqth al-Marjan fi Ahkam al-Jan, Maktabah al-Qur’an, Kairo, Hal. 62
[2] As-Suyuthi, Laqth al-Marjan fi Ahkam al-Jan, Maktabah al-Qur’an, Kairo, Hal. 59     
[3] Mustafa al-Zahabi al-Syafi’i, al-Rasail al-Zahabiyah, (dicetak pada hamisy Fathul Wahab), Juz. II, Hal. 151
[4] Ibnu Taimiyyah, Majmu’ah  al-Fatwa, Dar al-Wifa’, Juz. II, Hal. 169