Sabtu, 08 Juni 2019

Melihat Nabi SAW dalam Keadaan Jaga Sesudah Beliau Wafat


Dalam sejarah sufi sering terdengar bahwa sufi pulan pernah bertemu dengan Nabi SAW dalam keadaan jaga alias tidak melalui mimpi. Banyak muncul pertanyaan dikalangan umat Islam, apakah mungkin seseorang itu karena karamahnya, memungkinkan dia bertemu dengan Nabi SAW dalam keadaan jaga, padahal Nabi SAW sendiri sudah lama wafat meninggalkan dunia yang fana ini. Kontroversial masalah ini sebenarnya sudah lama terjadi dalam dunia Islam. Imam al-Suyuthi, salah seorang ulama Ahlussunnah wal Jama’ah pernah menjawab secara khusus masalah ini dengan mengarang sebuah bab khusus mengenai ini dengan judul “Tanwir al-Halak fi Imkan Ru’yah al-Nabi wal Malak”. Bab ini terdapat dalam kitab beliau bernama “al-Hawi lil Fatawa”. Pembahasan mengenai kemungkinan melihat Nabi SAW dalam keadaan jaga, juga dibahas oleh ahli fiqh Mazhab Syafi’i, Ibnu Hajar al-Haitamy dalam kitab beliau, Fatawa al-Haditsah. Adapun kesimpulan jawaban kedua ulama ini adalah dimungkinkan seseorang melihat Nabi SAW dalam keadaan jaga sesudah beliau wafat.
Imam al-Suyuthi dalam mempertahankan pendapat beliau tersebut berargumentasi dengan dalil-dalil sebagai berikut :
1.        Dari Abu Hurairah, Rasululllah SAW bersabda :
من رآني في المنام فسيراني في اليقظة ولا يتمثل الشيطان بي
Artinya : Barangsiapa melihat aku dalam mimpi, maka dia akan melihatku dalam keadaan jaga dan syaithan tidak dapat menyerupaiku (H.R. Bukhari, Muslim dan Abu Daud)[1]

Hadits serupa telah dikeluarkan oleh al-Thabrani dari hadits Malik bin Abdullah al-Khats’amy dan dari hadits Abi Bakrah dan juga oleh Al-Darimi dari hadits Abi Qatadah.[2]
Selanjutnya, beliau menjelaskan bahwa telah terjadi perbedaan pendapat para ulama mengenai penafsiran hadits di atas sebagai berikut :
a.         Sebagian mereka mengatakan, orang yang bermimpi melihat Nabi SAW akan melihat beliau pada hari qiamat. Penafsiran ini dibantah oleh al-Suyuthi dengan mengatakan tidak ada faedah mengkhususkan melihat Nabi SAW pada hari kiamat pada orang-orang yang melihat beliau dalam mimpinya dalam hadits tersebut, karena semua orang nantinya akan melihat beliau di hari kiamat, baik dia itu melihat Nabi SAW dalam mimpinya atau tidak.
b.        Sebagian yang lain mengatakan, orang-orang yang beriman dengan Nabi SAW pada ketika hidup beliau, sedangkan dia tidak sempat melihat beliau karena berjauhan tempat tinggalnya, maka sebagai khabar gembira, tidak boleh tidak bagi dia ini akan melihat Nabi SAW dalam keadaan jaga sebelum wafat beliau.
c.         Sekelompok ulama menafsirkan secara dhahir hadits, yakni barangsiapa yang melihat Nabi SAW dalam mimpinya, maka dia akan melihat beliau dalam keadaan jaga dengan mata kepalanya. Ada yang mengatakan dengan mata hatinya. Kedua pendapat terakhir ini telah dihikayah oleh Qadhi Abu Bakar Ibnu al-Arabi.
Setelah mengutip beberapa penafsiran hadits di atas, al-Suyuthi mengutip komentar Al-Imam Abu Muhammad bin Abi Jamrah dalam ta’liqnya atas hadits-hadits yang dirangkum dari al-Bukhari, beliau mengatakan hadits ini menunjukan siapa saja yang melihat Nabi SAW dalam mimpinya, maka dia akan melihatnya dalam keadaan jaga. Apakah ini mencakup pada masa hidup dan sesudah wafat beliau SAW atau khusus sesudah wafat ? dan ini mencakup untuk semua orang yang pernah melihat dalam mimpinya atau khusus untuk orang-orang tertentu dan pengikut sunnah ‘alaihisalam.? Kemudian Abu Muhammad bin Abi Jamarah menjawab, lafazh berlaku umum. Siapa saja yang mendakwa khusus tanpa ada mukhasshis (yang mengkhususkannya) dari Nabi SAW maka dia itu terlalu memaksa yang tidak perlu.[3]
Keterangan Al-Imam Abu Muhammad bin Abi Jamrah ini juga telah dikutip oleh Ibnu Hajar al-Haitami dalam al-Fatawa al-Haditsiyah. Dalam kitab ini, Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan konsekwensi orang yang mengingkari hal tersebut berarti dia mengingkari perkataan orang-orang terpercaya dan dia jahil dengan qudrah al-Qaadir serta mengingkari karamah para auliya, padahal itu ada ketetapan dari dalil sunnah yang terang benderang. Kemudian al-Haitami menjelaskan kepada kita bahwa yang dimaksud dengan umum (lafazh hadits berlaku umum sebagaimana komentar Abu Muhammad bin Abi Jamrah di atas) adalah dapat terlihat dalam keadaan jaga sebagaimana dijanjikan dalam hadits bagi orang-orang yang melihatnya dalam mimpi, meskipun cuma satu kali untuk memastikan janjinya yang tidak pernah salah.[4]



[1] Al-Suyuthi, al-Hawii lil Fatawa, Dar al-Kutub al-Ilmyah, Beirut, Juz. II, Hal. 255
[2] Al-Suyuthi, al-Hawii lil Fatawa, Dar al-Kutub al-Ilmyah, Beirut , Juz. II, Hal. 255
[3] Al-Suyuthi, al-Hawii lil Fatawa, Dar al-Kutub al-Ilmyah, Beirut , Juz. II, Hal. 255-256
[4] Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Haditsiyah, Maktabah Syamilah, Hal. 212

Jumat, 07 Juni 2019

Ramadhan bulan rahmat, pengampunan dosa dan terlepas dari neraka


Judul di atas merupakan terjemahan dari hadits di bawah ini. Hadits ini sangat populer ditengah masyarakat kita, apalagi saat umat Islam sedang dalam suasana melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan para dai-dai kita sering mengutip hadits ini untuk memaparkan fadhilah bulan Ramadhan. Adapun matan haditsnya adalah sebagai berikut :
أول شهر رمضان رحمة وأوسطه مغفرة وآخره عتق من النار
Awal bulan Ramadhan adalah rahmah, pertengahannya adalah keampunan dan ujungnya adalah terlepas dari neraka
Hadits ini telah diriwayat oleh Ibn Abi a-Dun-ya dalam kitab Fadhail Ramadhan, al-Khathib al-Baghdady dan Ibn ‘Asaakir dari jalur Abu Hurairah. Darinya juga diriwayat oleh al-Dailamy dan lainnya.[1] Mulla al-Qary mengatakan : Al-Munziry menjelaskan bahwa pada sanadnya terdapat ‘Ali bin Zaid bin Jud’aan. Hadits ini juga diriwayat oleh Ibnu Khuzaimah dan al-Baihaqi dari hadits Abu Hurairah, namun pada sanadnya terdapat Katsir bin Zaid.[2]
Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan ‘Ali bin Zaid bin Jud’aan mengambil hadits dari Anas bin Malik, Sa’id bin Musayyab, Abi Utsman al-Nahdy dan lain-lain. Selanjutnya dijelaskan bahwa Abu Hatim mengatakan ‘Ali bin Zaid bin Jud’aan tidak kuat, haditsnya ditulis, namun tidak dapat jadi hujjah. Al-Nisa-i mengatakan beliau dhaif dan Ibnu Khuzaimah mengatakan tidak menjadi hujjah karena buruk hafalannya.[3]
Adapun Katsir bin Zaid terjadi khilaf ahli hadits dalam menilai beliau ini.  ‘Ammar bin al-Mushily mengatakan terpercaya, namun al-Nisa’i mengatakan beliau ini dhaif. Abu Ja’far al-Thabari mengatakan, beliau termasuk orang yang tidak dapat dijadikan hujjah.[4]



[1] Al-Munawy, Faizh al-Qadir,Maktabah Syamilah, Juz. III, Hal. 86, No. 2815
[2] Mulla al-Qary, Marqaah al-Mafatih Syarh Masykah al-Mashabih, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. IV, Hal. 398
[3] Ibnu Hajar al-Asqalani, Tahzib al-Tahzib, Muassisah al-Risalah, Juz. III, Hal. 162-163
[4] Ibnu Hajar al-Asqalani, Tahzib al-Tahzib, Muassisah al-Risalah, Juz. III, Hal. 459


Kamis, 07 Maret 2019

Hadits dhaif yang diterima umat dalam pengamalannya

Sering kita dapati hari ini, sebagian umat Islam terburu-terburu memvonis sebuah amalan umat sebagai amalan tanpa dukungan hadits shahih dan bahkan kadang menuduh sebagai bid’ah pelaku amalan tersebut. Lucunya tuduhan ini hanya dengan berargumentasi sebatas pernyataan ahli hadits bahwa hadits sebagai dalil amalan tersebut adalah dhaif sanadnya. Padahal sebagaimana dimaklumi, tidak semua hadits dhaif sanadnya akan berakibat dhaif matannya. Salah satu alasan hadits dhaif sanadnya dapat menjadi maqbul matannya adalah maksud hadits tersebut diamalkan oleh banyak ulama dan ahli ilmu. Berikut ini keterangan para ahli hadits terkait dengan penjelasan di atas :
1.    Al-Shakhawi mengatakan :
وكذا إذا تلقت الأمة الضعيف بالقبول يُعمل به على الصحيح. ولهذا قال الشافعي - رحمه الله - في حديث لا وصية لوارث إنه لا يثبته أهل الحديث ولكن العامة تلقته بالقبول وعملوا به حتى جعلوه ناسخاً لآية الوصية. أ.ه
Demikian juga hadits dhaif apabila umat menyikapi dengan menerimanya, maka hadits tersebut termasuk katagori diamalkan berdasarkan pendapat yang shahih. Karena ini,  al-Syafi’i Rhm mengatakan terkait hadits “Laa washiata liwarits” bahwa hadits tersebut tidak dinyatakan shahih oleh ahli hadits, akan tetapi umat Islam didapati menerimanya dan mereka mengamalkannya, karena itu mereka menjadikannya sebagai nasikh bagi ayat washiat.[1]
2.    Ibnu Abd al-Barr mengatakan :
لما حكى عن الترمذي أن البخاري صحح حديث البحر: هو الطهور ماؤه و أهل الحديث لا يصححون مثل اسناده لكن الحديث عندي صحيح لأن العلماء تلقوه بالقبول
Manakala dihikayah dari al-Turmidzi sesungguhnya al-Bukhari mentashhih hadits “Laut suci airnya”, sedangkan ahli hadits tidak mentashih yang seperti isnad ini, akan tetapi hadits ini shahih menurutku, karena para ulama menyikapi hadits ini dengan maqbul.[2]
3.    Al-Zarkasyi mengatakan :
 الحديث الضعيف إذا تلقته الأمة بالقبول عمل به على الصحيح حتى إنه ينزل منزلة المتواتر في أنه ينسخ المقطوع ولهذا قال الشافعي في حديث( لا وصية لوارث) إنه لا يثبته أهل الحديث ولكن العامة تلقته بالقبول وعملوا به حتى جعلوه ناسخاً لآية الوصية للوارث
Hadits dhaif apabila umat menyikapi dengan menerimanya, maka hadits tersebut termasuk katagori diamalkan berdasarkan pendapat yang shahih, sehingga diposisikan sebagai posisi mutawatir dalam hal dapat menasakhkan yang qath’i. Karena ini,  al-Syafi’i Rhm mengatakan terkait hadits “Laa washiata liwarits” bahwa hadits tersebut tidak dinyatakan shahih oleh ahli hadits, akan tetapi umat Islam didapati menerimanya dan mereka mengamalkannya, karena itu mereka menjadikannya sebagai nasikh bagi ayat : “al-washiat lil warits”.[3]
4.   Dalam Shahih al-Bukhari, Imam al-Bukhari menyebut hadits :
أن النبي عليه الصلاة والسلام قضى بالدين قبل الوصية

Mengomentari hadits ini, Ibnu Hajar al-Asqalani mengatakan :
إسناده ضعيف لكن قال الترمذي إن العمل عليه عند أهل العلم، وكأن البخاري اعتمد عليه لاعتضاده بالاتفاق على مقتضاه وإلا فلم تجر عادته أن يورد الضعيف في مقام الإحتجاج به.
hadits ini isnadnya dha’if, akan tetapi al-Turmidzi pernah mengatakan para ahli imu mengamalkan hadits ini dan al-Bukhari sepertinya memegang hadits ini karena ada sokongan (‘azhid) dengan adanya kesepakatan mengamalkan maksud hadits. Jika tidak demikian, sesungguhnya al-Bukhari bukanlah kebiasaan beiau mendatangkan hadits dha’if pada posisi sedang berhujjah.[4]







[1] Al-Shakhawi, Fathul Mughits, Darul Minhaj, Juz. II, Hal. 153-154
[2] Al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi fi Syarh Taqrib al-Nawawi, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. I, Hal. 29
[3] Al-Zarkasyi, al-Nukt ‘ala Mmuqaddimah Ibn al-Shalah, Maktabah Azwa-u al-Salaf, Riyadh, Juz.. I, Hal. 390.
[4] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Barri, al-Maktabah al-Salafiyah, Juz. V, Hal. 377

Selasa, 13 Maret 2018

Ketika tuhan kaum Wahabi duduk bersila di atas ‘arasy


Ketika tuhan kaum Wahabi duduk di atas ‘arasy, maka yang terjadi adalah :
1.    Adakalanya tuhan bersentuhan dengan arasy dan adakalanya terpisah. Seandainya tersentuh, maka tidak ada yang tersentuh dengan suatu benda (karena ‘arasy adalah benda) kecuali benda juga. Maka tuhan kaum Wahabi adalah benda.
Seandainya terpisah dari ‘arasy, maka antara ‘arasy dan tuhan ada jarak pemisah. Jarak pemisah ini bisa jadi suatu yang maujud (ada) dan bisa jadi suatu yang ma’dum (tidak ada). Seandainya jarak pemisah ini suatu yang maujud, maka yang maujud ini bisa jadi qadim dan bisa jadi baharu. Seandainya yang maujud itu qadim, maka sungguh ada dua qadim, yakni tuhan dan yang maujud tersebut. Maujud yang qadim ini ada dua kemungkinan, bisa jadi dia tuhan dan bisa jadi bukan tuhan. Seandainya maujud yang qadim ini tuhan, maka sungguh sudah ada dua tuhan dan seandainya bukan tuhan, maka sungguh ada yang qadim selain tuhan yang tidak termasuk ciptaan tuhan. Saingan tuhan kalee......? hehe.
Seandainya jarak pemisah yang maujud ini bersifat baharu, maka tuhan akan bersentuhan dengan yang baharu ini. Padahal tidak ada bersentuhan kecuali antara dua benda. Maka tuhan adalah benda.
Seandainya jarak pemisah ini suatu yang ma’dum, maka tidak ada sesuatu antara tuhan dan ‘arasy. Seandainya tidak ada sesuatupun, maka tuhan dan ‘arasy bersentuhan juga dong. Maka kembali sebagaimana dalam kelompok pertama di atas (tuhan dan ‘arasy bersentuhan).
2.    Ada tiga kemungkinan, yakni zat tuhan lebih besar ukurannya dari ‘arasy atau sama ukurannya dengan ‘’arasy atau kemungkinan lain adalah lebih kecil. Seandainya zat tuhan lebih besar ukurannya dari ‘arasy, tentu ada bagian dari zat tuhan yang tidak tertampung di atas ’arasy. Kalau ini terjadi, maka zat tuhan tersusun dari bagian-bagian, yakni sebagiannya tertampung di atas ‘arasy dan sebagiannya tidak tertampung. Sesuai dengan penjelasan ini, maka tuhan kaum Wahabi adalah benda. Karena hanya benda yang tersusun dari bagian-bagian. Dan juga seandainya zat tuhan tersusun dari bagian-bagian, maka ternafilah wahdaniat pada zat Allah Ta’ala. Karena makna wahdaniyat pada zat adalah tidak ada zat yang lain yang sama dengan zat Allah (nafi kam munfashil pada zat) dan zat Allah itu tidak tersusun dari bagian-bagian (nafi kam muttashil pada zat).
Seandainya zat tuhan sama ukurannya dengan ‘arasy, maka konsekwensi logisnya zat tuhan juga tersusun sebagaimana tersusun ‘arasy dari bagian-bagiannya. Dan yang lucunya lagi, kelas tuhan sama dengan kelas ‘arasy, sama-sama besar ya....?  Seandainya zat tuhan lebih kecil dari ‘arasy, masa seh tuhan kalah besar dengan ‘arasy..? Dan lagi, seandainya zat tuhan sama dengan ukuran ‘arasy, maka zat tuhan mempunyai batas sama halnya dengan batas ‘arasy. Ini sama dengan mengatakan tuhan adalah benda, karena hanya benda yang mempunyai batas.
3.    Zat tuhan terukur dengan ukuran lebih besar, atau sama atau lebih kecil dari ‘arasy. Sedangkan terukur hanyalah sifat benda. Berdasarkan ini, maka tuhan kaum Wahabi adalah benda.
4.    Seandainya suatu ketika ‘arasy tidak ada (karena setiap selain Allah pasti sirna), maka tuhan tidak dapat duduk bersila lagi di atas ‘arasy. Dengan demikian, maka tuhan membutuhkan ‘arasy untuk dapat tetap duduk di atas ‘arasy. Emang ada yang mau tuhannya jadi tukang butuh ?
5.    Tuhan dan Luuh Mahfuzh sama-sama berada di atas ‘arasy. Tuhan dan Luuh Mahfuzh bersaing dong. Soalnya tuhan dan Luuh Mahfuzh sudah satu level.
Rasulullah SAW bersabda:

إنّ اللهَ لمَا قَضَى الْخَلقَ كَتَب في كِتَابٍ فَهُوَ مَوْضُوعٌ عِنْدَهُ فَوْقَ العَرْشِ إنّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي
Sesungguhnya setelah Allah menciptakan segala makhluk-Nya Dia menuliskan dalam satu kitab, yang kitab tersebut kemudian ditempatkan di atas arsy, tulisan tersebut ialah “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku.(H.R. al-Bukhari)[1]

Wassalam



[1] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Dar Thauq al-Najah, Juz.IV, Hal. 106, No. 3194

Senin, 12 Maret 2018

Mengapa ‘aqaid ketuhanan wajib disandarkan kepada dalil ‘aqli


Aqidah Islam ditetapkan oleh Allah SWT dan kita sebagai manusia wajib mempercayainya sehingga kita layak disebut sebagai orang yang beriman atau mukmin. Namun bukan berarti keimanan itu ditanamkan ke dalam diri seseorang secara dogmatis, sebab proses keimanan haruslah disertai dalil-dalil qath’i yang dapat menghasilkan keyakinan yang qath’i. Dalil ini adakalanya bersifat aqli atau naqli, tergantung perkara apa yang diimani. Jika sesuatu itu masih dalam jangkauan akal maka dalilnya adalah aqli, tetapi jika sesuatu itu di luar jangkauan akal, wajib disandarkan pada dalil naqli. Dengan demikian dalil aqidah ada dua:
1.   Dalil ‘Aqli : dalil yang digunakan untuk membuktikan perkara-perkara yang dapat menggunakan akal untuk mencapai kebenaran yang pasti dari keimanan. Yang meliputi di dalamnya adalah beriman kepada keberadaan Allah, pembuktian kebenaran Al-Qur’an, dan pembuktian seseorang sebagai utusan Allah.
2.   Dalil Naqli: berita (khabar) pasti (qath’i) yang diberitakan kepada manusia berkaitan dengan perkara-perkara yang tidak dapat secara langsung dijangkau oleh akal manusia, yaitu mengenai beriman kepada Malaikat, Hari Akhir, surga dan neraka, rasul-rasul, kitab-kitab terdahulu dan lain-lain. Khabar yang qath’i  ini haruslah bersumber pada sesuatu yang pasti yaitu Al-Qur’an dan hadits mutawatir (hadits qath’i) dimana dalalah keduanya juga harus qath’i.
Karena ‘aqaid ketuhanan yang merujuk kepada keberadaan Allah dengan sifat-sifat-Nya masih dalam jangkauan akal, maka dalilnya adalah dalil ‘aqli sebagaimana dijelaskan di atas. Kewajiban mengetahui yang berkenaan dengan keyakinan keberadaan Allah (ilahiyat) dengan menggunakan dalil ‘aqli dapat dipahami dari hampir semua kitab-kitab akidah karya ulama Ahlussunnah wal Jama’ah dimana sebelum membahas rincian sifat-sifat Allah Ta’ala dijelaskan lebih dahulu  pembagian hukum akal dalam tiga pembagian, yakni wajib, mustahil dan jaiz.
Sekarang pertanyaannya, mengapa ‘aqaid ketuhanan wajib disandarkan kepada dalil ‘aqli?. Jawabannya adalah sebagai berikut :
1.    Kepercayaan kepada dalil naqli berupa al-Kitab dan al-Sunnah muncul setelah ada kepercayaan dan keimanan wujud Allah dan Rasul-Nya. Artinya, dalil naqli ini dipercayakan sebagai dalil tergantung kepada kepercayaan wujud Allah dan Rasul-Nya. Lalu sekarang kita menggantungkan kepercayaan wujud Allah dan Rasul-Nya kepada dalil naqli dengan melakukan pendalilian dengannya. Pendalilian seperti ini mengakibatkan daur. Dalam ilmu kalam, daur adalah suatu pendalilian yang yang berujung kepada ketergantungan kepada dalil lainnya, sedangkan dalil lain ini juga tergantung kepada dalil pertama. Pendalilian seperti ini disepakati mustahil dan tidak menghasilkan pengetahuan yang bersifat keyakinan.
Sebagai ilustrasi sederhana dapat digambarkan ada seseorang yang mengaku dirinya sebagai utusan seorang raja. Tentu pengakuan ini dapat diyakini apabila kita mempunyai dalil bahwa dia benar-benar seorang utusan raja tersebut dan dalil tersebut tidak boleh berdasarkan pengakuannya saja. Karena pengakuannya tersebut tergantung kepada kepercayaan kita kepadanya. Lalu sekarang, bagaimana mungkin kepercayaan kita kepadanya ditetapkan berdasarkan pengakuannya, sedangkan pengakuannya itu tergantung kepada kepercayaan kita kepadanya. Alhasil kepercayaan kita kepadanya harus berdasarkan dalil lain, bukan hanya sekedar pengakuan.
2.    Diantara dalil ‘aqli yang menunjukkan kepada wujud Allah adalah dari sisi alam ini merupakan suatu yang mungkin wujud. Suatu yang mungkin wujud pasti membutuhkan kepada zat yang menjadikannya. Sedangkan yang wajib wujud tidak membutuhkan selainnya untuk mewujudkannya. Pendalilian seperti ini diisyaratkan oleh firman Allah berbunyi :
وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ
Dan Allah Yang Maha Kaya dan kalianlah orang-orang yang membutuhkan-Nya. (Q.S. Muhammad : 38)

3.    Pendalilian dengan dalil ‘aqli dengan melihat sisi baharu alam diisyaratkan dengan perkataan Ibrahim a.s. yang dikisahkan dalam firman Allah berbunyi :
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ
Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam".(Q.S al-An’am : 76)

Rumusan pendalilian ini adalah : Bintang adalah berubah, sedangkan suatu yang berubah adalah baharu dan yang baharu pasti membutuhkan yang membuatnya  baharu. Dengan demikian, maka bintang bukanlah tuhan. Karena itu, ada zat lain yang qadim yang membuat baharu bintang itu. Pendalilian dengan dalil ‘aqli dengan melihat sisi baharu alam juga diisyaratkan dalam firman Allah berbunyi :
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, sehingga nyata bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah haq.(Q.S. al-Fusshilat : 53)

4.    Pendalilian dengan dalil ‘aqli adalah cara pendalilian para anbiya. Ini dapat dilihat dalam kisah sebagai berikut :
a.       Nabi Nuh a.s :
قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَآتَانِي رَحْمَةً مِنْ عِنْدِهِ فَعُمِّيَتْ عَلَيْكُمْ أَنُلْزِمُكُمُوهَا وَأَنْتُمْ لَهَا كَارِهُونَ
Berkata Nuh: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu, jika aku ada mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan diberinya aku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagimu. Apa akan kami paksakankah kamu menerimanya, padahal kamu tiada menyukainya?" (Q.S. Huud : 28)

Kemudian Allah memberitahukan keadaan kaum Nuh dengan firman-Nya :
قَالُوا يَا نُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ
Mereka berkata "Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar".(Q.S. Huud : 32)

Adu argumentasi Nabi Nuh dengan kaumnya jelas bukan masalah furu’, akan tetapi dalam masalah ‘aqidah. Karena kaum Nuh sebagaimana dimaklumi kaum yang ingkar kepada kenabian Nuh dan tuhannya.
b.      Nabi Ibrahim a.s.
Nabi Ibrahim mencari tahu  keberadaan tuhannya dengan menggunakan dalil ‘aqli dapat dilihat dalam beberapa kasus, yakni :
1). Kasus pertama dikisahkan dalam firman Allah berbunyi :
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ
Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam".(Q.S al-An’am : 76)

وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ
Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. (Q.S al-An’am : 83)

2). Kisah Ibrahim a.s bersama ayahnya yang dikisahkan dalam firman Allah berbunyi :
إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا
Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?(Q.S. Maryam : 42)

3). Kisah Ibrahim dengan kaumnya yang dikisahkan dalam firman Allah berbunyi :
فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ
Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.(Q.S. al-Anbiya : 58)

4). Kisah Ibrahim dengan raja Namruz yang dikisahkan dalam firman Allah berbunyi :
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan".Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.(Q.S. al-Baqarah : 258)

c.       Nabi Musa a.s.
قَالَ فَمَنْ رَبُّكُمَا يَا مُوسَى (49) قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى (50)
Berkata Fir’aun : “Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa?”. Musa Menjawab : “Tuhan kami adalah yang telah memberikan kepada setiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberikan petunjuk. (Q.S. Thaha : 49-50)

d.      Nabi kita Muhammad SAW.
Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW berdakwah kepada kaum kafir dalam firman-Nya :
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.(Q.S. al-Nahl : 125)

Jadal adalah hujjah ‘aqli yang qath’i yang dapat menumbuhkan keyakinan dan keimanan kepada kaum kafir dan menolak keyakinan kekufuran mereka.
Dalam ayat lain disebutkan :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (Q.S. Ali ‘Imran : 190)

Ini merupakan dalil ‘aqli dengan melihat sisi baharu alam.