Jumat, 12 September 2014

Mafhum zat dan pengertian wujud antara hal dan ‘ain zat



Assalamu'alaikum
Bagaimanakah pemahaman wujud dalam sifat 20.
Ada yg mengatakan wujud adalah HAL,sesuatu yg tidak dapat di lihat atau di raba,ada juga pendapat wujud adalah a'in zat atau a'in maujud atau wujud benda itu sendiri juga tidak bisa di lihat.
Mohon penjelasannya beserta ilustrasinya
Wassalam

ulama yg yang mengatakan wujud adalah "hal" dalm arti wujud sesuatu yang tidak dpt dikatakan ada (maujud) dan bukan sesuatu yang tidak ada (ma'dum), berarti wujud itu antara maujud dan ma'dum. sesuatu di antara maujud dan ma'dum di sebut "hal".
contoh yang maujud adalah sifat ma'ani seperti ilmu, sama, bashar Allah ta'ala. sifat ma'ani ini disebut maujud karena dapat digambarkan dalam pikiran kita tentang adanya. sehingga kalau Allah membuka hijab, maka sungguh dapat dilihatnya karena ia memang ada (muajud). sifat ma'dum seperti baqa Allah ta'ala dan sifat2 salbiyah lainnya. baqa disebut ma'dum karena makna baqa adalah tidak berkesudahan, jadi baqa menafikan berkesudahan sehingga tepat disebut sifat penafian, jadi bukan sesuatu yang ada (maujud). contoh sifat ma'dum yg lain adalah esa, jadi esa bukanlah sesuatu yang maujud, tetapi esa hanya ingin menjelaskan bahwa allah tidak banyak. tidak banyak itu ma'dum.
contoh hal yang lain adalah sifat ma'nawiyah seperti yang berkuasa. yang berkuasa disebut sebagai hal karena yang berkuasa itu bukan yang maujud dan bukan pula yg ma'dum. yang maujud hanya kuasa dan zat Alllah. sedangkan yang kuasa di antara maujud dan ma'dum. sebagai ilustrasi sdr bisa menggambarkan misalnya "pensil yang panjang" pada pinsil tersebut yang maujud cuma pensil dan panjang, sedangkan "yang panjang" tidak maujud. "yang panjang" tersebut juga tidak bisa disebut ma'dum karena sesungguhnya "yang panjang" masuk dalam konsep pemikiran seseorang, karena itu "yang panjang" di antara maujud dan ma'dum (bukan ada dan bukan pula tidak ada). inilah yang disebut dgn "hal".
kembali kepada masalah wujud. kalau wujud termasuk dalam katagori hal, maka wujud berada antara maujud dan ma'dum, tentu wujud dalam arti ini tidak dapat dilihat dan tidak dapat juga diraba. tetapii kalau wujud bermakna ain zat, maka tentu ain zat dapat dilihat. karena itu zat Allah Ta'ala dapat dilihat di hari akhirat kelak sebagaimana i'tiqad ahlussunnah wal jama'ah. cuma zat Allah Ta'ala tidak dpt di raba dan disentuh karena zat Allah ta'ala bukan benda. adapun ain zat benda tentu dapat dilihat dan di raba sebagaimana rumah, meja dll.

demikian, mudah2an dpt dipahami.
wassalam


kajian di atas adalah kajian ilmu akidah berdasarkan ilmu kalam. karena kajian tersebut membutuhkan pemahaman ilmu kalam yg mendalam, maka bagi orang yang tidak terbiasa dgn kajian ilmu kalam tidak perlu mendalam masalah ini. pendalaman ini kalau tidak didukung perangkat ilmu yang memadao hanya mendatangkan keraguan dalam akidah. kajian ilmu kalam masuk ke kalangan ulama ahlussunnah wal jama'ah hanya untuk menolak syubhat2 mu'tazilah yang berkembang pesat pada zamannya yang sering menggunakan logika 

terima kasih tgk atas penjelasannya
saya masih kurang faham yang dimaksut dengan Ain zat??
ada yang mengatakan ain zat tetap tidak dapat di lihat/di raba.yang bisa di lihat/di raba adalah sifat dari benda itu,contohnya palu yang terlihat adalah gagangnya dari kayu dan ada kepala dari besi serta di gunakan untuk menanamkan paku,begitu pula dengan rumah dan meja yang terlihat dan dapat di raba adalah sifat benda itu sendiri.karna sifat membutuhkan kepada zat
mohon tanggapannya karna saya sedikit bingung dalam memahami ilmu kalam
wassalam

kalau yg di maksud dgn ain zat adalah hakikat sesuatu memang hakikat sesuatu bersifat abstrak (tidak dapat diraba dan dilihat), tetapi hanya dapat masuk dlm akal sebagai sebuah konsep. dengan konsep sesuatu ini kita dpt mengenal afrad-afrad sesuatu. misalnya hakikat insan adalah hewan yg berakal. dengan kita mengetahui hakikat insan, maka kita dpt mengetahui bahwa umar, usman dll (umar, usman adl contoh afrad-afrad insan) adalah seorang insan. jadi hewan berakal yg menjadi hakikat insan tentu hanya ada dlm konsep pikiran kita, dia tidak dpt di raba dan dilihat, sedangkan yg terlihat hanya contoh2 insan seperti umar dan usman (afrad2 insan), sedangkan hewan yg berakal merupakan hakikat insan atau hakikat si umar dan usman. demikian juga dalam contoh palu. yg terlihat dan terraba cuma palu A dan palu B dll, sedangkan hakikat palu (sesuatu yang berbentuk khusus yang dijadikan sebagai penekan paku) tentu hanya ada dalam konsep pikiran seseorang (abstrak)
adapun apabila yg dimaksud dgn ain zat adalah benda tertentu, tentu yang kita raba dan liat adalah benda itu sendiri yang terdiri kayu dan besi tertentu. namun apabila kita raba hanya palu A, tentu palu B tidak kita raba. sedangkan hakikat palu ada pada palu A, B, C dsb. hakikat palu ini abstrak, tidak dapat diraba, hakikat palu hanya ada pada pikiran kita saja. maka tidak dpt di raba dan dilihat.
wassalam mudah2an dpt dipahami

kalau dikatakan yg dpt dilihat dan di raba hanya sifat benda, maka ini jelas salah. karena makna sifat sesuatu yg berdiri pada yg lain seperti hitam, merah , panjang, pendek dll. padahal kenyataannya apabila kita memegang palu A, maka yg terlihat pada kita adalah besi dan kayu yang bersifat panjang (kalau palu itu panjang). jadi pada palu A itu ada kayu dan besi sebagai tmp berdiri sifat panjang (ada sesuatu tmp berdiri sifat dan sifatnya), jadi bukan hanya sifat.

wassalam

Kamis, 11 September 2014

jama', isim jama' dan isim al-jins al-jam’i



Assalamualaikum Guree yg mulia.
Saya ingin bertanya penjelasan/shurah takrif jamak, isim jamak dan isim jenis jam'i yg tersebut dlm kitab kawakib (bagia dlm) halaman 16 (baris akhir) dan hal 17 (baris awal) ?
Jawab :
1.      Jamak adalah kata yang menunjukan (dalalah) kepada sekumpulan (banyak) uhad (afrad) dimana penunjukannya sebagaimana cara ‘athaf  mufrad-mufradnya tersebut.  Misalnya :
جاء رجا ل                                
“Rijaalun” adalah jamak dari “rajulun”. Jadi kata “ rajulun” adalah mufradnya. Maka maknanya sama dengan dikatakan :
جاء رجل و رجل و رجل و رجل و رجل و رجل و رجل...... الخ
2.      Isim jama’ adalah juga menunjukan kepada sekumpulan (banyak) uhad (afrad), tetapi tanpa i’tibar ‘athaf mufrad-mufradnya. Misalnya : Qaumun, kata ini juga menunjukan kepada banyak, namun tidak sebagaimana contoh jama’ di atas dengan cara athaf mufrad-mufradnya namun hanya dengan i’tibar bilanganya (kammiyah), artinya kata-kata yang menjadi isim jama’ ini secara langsung menunjukan kepada banyak. Maka pada contoh qaumun tidak dikatakan maknanya adalah :
جاء قوم وقوم وقوم قوم وقوم قوم وقوم .....الخ

Isim jama’ ini ada dua model ; ada yang mempunyai mufrad seperti :
صحب
jamak dari shaahibun. Dan ada juga yang tidak mempunyai mufrad seperti qaumun.
3.      Isim al-jinsi al-jam’i, yaitu juga menunjukan kepada banyak uhad juga, namun dengan i’tibar ithlaqnya atas zat semata (mafhum maknanya saja/tanpa memandang kepada afrad-afradnya. Karena itu, ia dinamakan dengan isim jenis), tidak i’tibar bilangannya sebagaimana isim jama’ dan juga tidak i’tibar ‘athaf sebagaimana jama’. Misalnya :
نخل
isim al-jins al-jam’i dari :
نخلة




Selasa, 09 September 2014

Tidak menyegerakan penguburan jenazah



Pada dasarnya syari’at kita, menganjurkan menyegerakan pengurusan jenazah, memandikan, mengkafani, menshalati dan menguburkannya. Karena itu, al-Syairazi  dalam kitabnya, al-Muhazzab menjelaskan sebagai berikut :
ويستحب الاسراع بالجنازة لِمَا رَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال اسرعوا بالجنازة فان تكن صالحة فخيرا تقدمونها إليه وإن تكن سوى ذلك فشرا تضعونه عن رقابكم
“Dianjurkan menyegerakan urusan jenazah karena hadits riwayat Abu Hurairah r.a., sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “Segerakanlah pengurusan jenazah. Karena, jika jenazah itu baik, maka sudah sepantasnya kalian mempercepatnya menuju kebaikan. Dan kalau tidak demikian (tidak baik), maka adalah keburukan yang kalian letakkan dari leher-leher kalian.”[1]

Hadits Abu Hurairah yang dikutip al-Syairazi di atas adalah hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim.[2]
            Namun demikian, perintah menyegerakan ini dapat ditoleransikan dalam beberapa kasus sebagaimana keterangan para ulama yang menjelaskan  rincian hukum  menunda pengurusan jenazah berikut ini :
1.        Dalam kitab Mughni al-Muhtaj disebutkan :
(وَلَا تُؤَخَّرُ) الصَّلَاةُ (لِزِيَادَةِ مُصَلِّينَ) لِلْخَبَرِ الصَّحِيحِ «أَسْرِعُوا بِالْجِنَازَةِ» وَلَا بَأْسَ بِانْتِظَارِ الْوَلِيِّ عَنْ قُرْبٍ مَا لَمْ يُخْشَ تَغَيُّرُ الْمَيِّتِ. تَنْبِيهٌ شَمِلَ كَلَامُهُ صُورَتَيْنِ: إحْدَاهُمَا إذَا حَضَرَ جَمْعٌ قَلِيلٌ قَبْلَ الصَّلَاةِ لَا يُنْتَظَرُ غَيْرُهُمْ لِيَكْثُرُوا. نَعَمْ قَالَ الزَّرْكَشِيُّ وَغَيْرُهُ: إذَا كَانُوا دُونَ أَرْبَعِينَ فَيُنْتَظَرُ كَمَالُهُمْ عَنْ قُرْبٍ؛ لِأَنَّ هَذَا الْعَدَدَ مَطْلُوبٌ فِيهَا، وَفِي مُسْلِمٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّهُ يُؤَخِّرُ الصَّلَاةَ لِلْأَرْبَعِينَ. قِيلَ: وَحِكْمَتُهُ أَنَّهُ لَمْ يَجْتَمِعْ أَرْبَعُونَ إلَّا كَانَ لِلَّهِ فِيهِمْ وَلِيٌّ، وَحُكْمُ الْمِائَةِ كَالْأَرْبَعِينَ كَمَا يُؤْخَذُ مِنْ الْحَدِيثِ الْمُتَقَدِّمِ، وَالصُّورَةُ الثَّانِيَةُ إذَا صَلَّى عَلَيْهِ مَنْ يَسْقُطُ بِهِ الْفَرْضُ لَا تُنْتَظَرُ جَمَاعَةٌ أُخْرَى لِيُصَلُّوا عَلَيْهِ صَلَاةً أُخْرَى بَلْ يُصَلُّونَ عَلَى الْقَبْرِ نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ؛ لِأَنَّ الْإِسْرَاعَ بِالدَّفْنِ حَقٌّ لِلْمَيِّتِ؛ وَالصَّلَاةَ لَا تَفُوتُ بِالدَّفْنِ.
“Tidak ditunda shalat karena menunggu bertambah orang shalat berdasarkan hadits shahih berbunyi : “Segeralah pengurusan jenazah” dan tidak mengapa menunggu wali dari tempat yang dekat selama tidak dikuatirkan berubah mayat. Tanbih : mencakup kalam tersebut (Tidak ditunda shalat karena menunggu bertambah orang shalat) dalam dua bentuk, yakni salah satunya apabila hadir jama’ah sedikit sebelum shalat, maka tidak ditunggu selain mereka supaya banyak.  Namun Zarkasyi dan lainnya berpendapat apabila apabila jama’ah itu di bawah empat puluh orang, maka ditunggu orang-orang yang dekat agar sempurna jumlah empat puluh, karena jumlah ini merupakan jumlah dituntut dalam shalat. Dalam hadits Muslim dari Ibnu Abbas : “Sesungguhnya beliau menundakan shalat karena menunggu empat orang”. Dikatakan, hikmahnya bahwa tidak tidak berkumpul empat puluh orang kecuali dalamnya ada seorang waliyullah. Hukum seratus orang sama dengan empat puluh orang sebagaimana dipahami dari hadits terdahulu. Bentuk yang kedua adalah apabila telah dishalati oleh orang-orang yang gugur fardhu dengan sebabnya, maka tidak ditunggu jama’ah yang lain supaya mereka shalat lain atasnya, akan tetapi mereka ini shalat saja atas kuburan. Telah dinash oleh Imam Syafi’i tentang ini, karena menyegerakan penguburan merupakan hak mayat, sedangkan shalat tidak hilang dengan sebab penguburan” [3]

2.        Ibnu Hajar dalam Tuhfah al-Muhtaj menyebutkan :
وَلَا تُؤَخَّرُ) أَيْ لَا يُنْدَبُ التَّأْخِيرُ (لِزِيَادَةِ مُصَلِّينَ) أَيْ كَثْرَتِهِمْ وَإِنْ نَازَعَ فِيهِ السُّبْكِيُّ وَاخْتَارَهُ وَتَبِعَهُ الْأَذْرَعِيُّ وَالزَّرْكَشِيُّ وَغَيْرُهُمَا أَنَّهُ إذَا لَمْ يُخْشَ تَغَيُّرُهُ يَنْبَغِي انْتِظَارُ مِائَةٍ أَوْ أَرْبَعِينَ رُجِيَ حُضُورُهُمْ قَرِيبًا لِلْحَدِيثِ أَوْ لِجَمَاعَةٍ آخَرِينَ لَمْ يَلْحَقُوا وَذَلِكَ لِلْأَمْرِ السَّابِقِ بِالْإِسْرَاعِ بِهَا نَعَمْ تُؤَخَّرُ لِحُضُورِ الْوَلِيِّ إنْ لَمْ يُخْشَ تَغَيُّرٌ وَعَبَّرَ فِي الرَّوْضَةِ بِلَا بَأْسٍ بِذَلِكَ وَقَضِيَّتُهُ أَنَّ التَّأْخِيرَ لَهُ لَيْسَ بِوَاجِبٍ
“Tidak menunda yakni tidak disunatkan menunda shalat untuk menunggu bertambah jumlah orang shalat yakni banyak mereka, meskipun al-Subki telah membantahnya dan telah memilih dan mengikuti pendapat al-Subki ini oleh al-Azra’i, Zarkasyi dan lainnya bahwasanya apabila tidak dikuatirkan berubah mayat, maka seyogyanya menunggu seratus atau empat puluh orang yang diharapkan dekat kehadiran mereka karena ada hadits Nabi atau karena ada jama’ah lain yang tidak sempat berjama’ah bersama mereka. Tidak menunda shalat tersebut adalah karena perintah yang terdahulu untuk menyegerakan pengurusan jenazah.  Namun demikian, ditunda shalat karena menunggu kehadiran wali apabila tidak dikuatirkan berubah mayat. Dalam al-Raudhah, diibaratkan dengan tidak mengapa hal itu, maksudnya menunda tersebut bukanlah wajib.” [4]

3.        Dalam Nihayah al-Muhtaj, Imam al-Ramli mengatakan :
(وَلَا تُؤَخَّرُ) الصَّلَاةُ عَلَيْهِ أَيْ لَا يُنْدَبُ التَّأْخِيرُ (لِزِيَادَةِ الْمُصَلِّينَ) لِخَبَرِ «أَسْرِعُوا بِالْجِنَازَةِ» وَلَا بَأْسَ بِانْتِظَارِ الْوَلِيِّ إذَا رُجِيَ حُضُورُهُ عَنْ قُرْبٍ وَأَمِنَ مِنْ التَّغَيُّرِ، وَشَمِلَ كَلَامُهُ مَا لَوْ رُجِيَ حُضُورُ تَتِمَّةِ أَرْبَعِينَ أَوْ مِائَةٍ وَلَوْ عَنْ قُرْبٍ لِتَمَكُّنِهِمْ مِنْ الصَّلَاةِ عَلَى الْقَبْرِ بَعْدَ حُضُورِهِمْ خِلَافًا لِلزَّرْكَشِيِّ وَمَنْ تَبِعَهُ،
“Tidak ditunda shalat atas mayat, yakni tidak disunnatkan menundanya karena menunggu bertambah orang shalat, berdasarkan hadits Nabi, “Segerakanlah pengurusan jenazah” dan tidak mengapa menunggu wali apabila diharapkan kehadirannya dari tempat yang dekat dan aman dari berubah mayat. Kalam tersebut (tidak ditunda shalat) mencakup apabila diharapkan kehadiran sempurna empat puluh atau seratus orang, meskipun kehadirannya dari tempat yang dekat karena memungkin mereka shalat di atas kuburan setelah mereka hadir. Pendapat ini berbeda dengan pendapat Zarkasyi dan ulama yang mengikutinya.”[5]

            Dalam mengomentari pernyatan Imam al-Ramli di atas, Syibran al-Malasy dalam Hasyiah ‘ala al-Nihayah menjelaskan sebagai berikut :
 (قَوْلُهُ: لِتَمَكُّنِهِمْ مِنْ الصَّلَاةِ إلَخْ) يُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّهُ لَوْ عَلِمَ عَدَمَ صَلَاتِهِمْ عَلَى الْقَبْرِ أَخَّرَ لِزِيَادَةِ الْمُصَلِّينَ حَيْثُ أَمِنَ تَغَيُّرَهُ، وَعَلَى هَذَا يُحْمَلُ مَا تَقَدَّمَ بِالْهَامِشِ عَنْ سم عَلَى مَنْهَجٍ عَنْ م ر (قَوْلُهُ: خِلَافًا لِلزَّرْكَشِيِّ وَمَنْ تَبِعَهُ) حَيْثُ قَالُوا يَنْتَظِرُونَ إلَخْ فِي مُسْلِمٍ «مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ مِائَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُونَ لَهُ إلَّا شُفِّعُوا فِيهِ» وَفِيهِ أَيْضًا مِثْلُ ذَلِكَ فِي الْأَرْبَعِينَ اهـ ابْنُ حَجّ. هَذَا وَجَرَتْ الْعَادَةُ الْآنَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصَلُّونَ عَلَى الْمَيِّتِ بَعْدَ دَفْنِهِ فَلَا يَبْعُدُ أَنْ يُقَالَ: يُسَنُّ انْتِظَارُهُمْ لِمَا فِيهِ مِنْ الْمَصْلَحَةِ لِلْمَيِّتِ حَيْثُ غَلَبَ عَلَى الظَّنِّ أَنَّهُمْ لَا يُصَلُّونَ عَلَى الْقَبْرِ، وَيُمْكِنُ حَمْلُ كَلَامِ الزَّرْكَشِيّ عَلَيْهِ
“Perkataan pengarang : “karena memungkinkan mereka shalat di atas kuburan” dipahami bahwa apabila dimaklumi mereka tidak akan shalat di atas kuburan, maka ditunda shalat untuk menunggu bertambah orang shalat seandainya aman dari berubah mayat. Atas pemahaman ini dipertempatkan perkataan yang sudah dahulu pada hamisy dari Ibnu Qasim atas Manhaj dari Imam al-Ramli. Perkataan pengarang : “berbeda dengan pendapat Zarkasyi dan ulama yang mengikutinya” dimana mereka mengatakan, menunggu dan seterusnya. Dalam Shahih Muslim ada hadits Nabi berbunyi : “Tidak ada seorang muslim yang dishalati atasnya oleh umat muslim yang mencapai jumlahnya seratus orang, semua mereka memberikan syafa’at bagi mayat kecuali diberikan hak syafa’at kepada mereka bagi mayat” dan dalam Shahih Muslim juga terdapat hadits seperti ini, tetapi berjumlah empat puluh orang. Demikian Ibnu Hajj. Perhatikanlah, telah berlaku adat sekarang bahwa manusia tidak akan shalat atas mayat setelah menguburkannya, maka tidak jauh bahwa dikatakan disunnatkan menunggu mereka karena hal itu ada mashlahah bagi mayat seandainya ada dhan yang kuat bahwa mereka tidak akan shalat atas kuburan dan sedangkan kalam Zarkasyi memungkinkan dipertempatkan atasnya.”[6]

4.        Dalam kitab I’anah al-Thalibin disebutkan :
)وقوله إلا لولي ) أي إلا لأجل حضور ولي الميت ليصلي عليه فإنه تؤخر الصلاة له لكونه هو المستحق للإمامة لكن محله إذا رجي حضوره عن قرب وأمن من التغير
“Perkataan pengarang : “kecuali karena menunggu wali” yakni kecuali karena menunggu kehadiran wali mayat supaya walinya itu dapat menshalatinya, maka dapat ditunda shalat karena menunggunya, karena wali lebih berhak menjadi imam tetapi pada posisi apabila diharapkan kehadirannya dari tempat yang dekat dan aman dari berubah mayat.”[7]

Kesimpulan
1.      Pada dasarnya syari’at kita, menganjurkan menyegerakan pengurusan jenazah, memandikan, mengkafani, menshalati dan menguburkannya.
2.      Dalam beberapa kasus dibolehkan menunda shalat atas mayat karena faktor kemaslahatan, antara lain :
a.       Menunggu kerabat mayat yang memungkinkan hadir dari tempat yang dekat  apabila menunggu tersebut tidak mengakibatkan keadaan mayat berubah. Alasan menunggu kerabat ini adalah karena kerabat lebih berhak menjadi imam shalat atas mayat sebagaimana penjelasan kitab I’anah al-Thalibin di atas. Karena itu, menurut hemat kami apabila kerabat tersebut tidak bertindak menjadi imam shalat sebagaimana kebiasaan yang terjadi di sekitar kita selama ini, maka wali mayat tidak perlu ditunggu.
b.      Menunggu kerabat mayat dengan ketentuan di atas bukanlah wajib
c.       Menunggu sempurna empat puluh atau seratus orang jumlah jama’ah. Ini apabila ada dhan yang kuat bahwa mereka ini tidak akan shalat di atas kuburan apabila tidak sempat shalat atas mayat bersama jama’ah pertama. Adapun apabila ada dhan yang kuat mereka akan shalat di atas kuburan kalau tidak sempat shalat atas mayat bersama jama’ah pertama, maka tidak perlu menunggu mereka ini, karena mereka dapat melaksanakan shalat di atas kuburan saja. Syibran al-Malasy sebagaimana terlihat dalam kutipan di atas, mengatakan bahwa pendapat Zarkasyi dan ulama yang sepaham dengannya memungkinkan di pertempatkan dengan pemahaman point (b) ini, sehingga pendapat Zarkasyi tersebut tidak bertentangan dengan pendapat kebanyakan ulama syafi’iyah lainnya.
3.      Apabila mayat sudah dishalati oleh orang-orang yang dapat gugur kewajiban shalat dengan sebabnya, maka tidak perlu menunggu jama’ah lain untuk menshalatinya, karena mereka memungkinkan shalat di atas kuburan saja.




[1] Al-Syairazi, al-Muhazzab, (Dicetak bersama Majmu’ Syarah al-Muhazzab), Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz. V, Hal. 235
[2] Al-Nawawi, Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz. V, Hal. 235
[3] Khatib Syarbaini, Mughni al-Muhtaj, Darul Ma’rifah, Beirut, Juz. I, Hal. 537
[4] Ibnu Hajar al-Haitamy, Tuhfah al-Muhtaj, Mathba’ah Mushtafa Muhammad, Mesir, Juz. III, Hal. 192
[5] Al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. III, Hal. 27-28
[6] Syibran al-Malasy, Hasyiah Syibran al-Malasy ‘ala al-Nihayah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. III, hal. 28
[7] Al-Bakri al-Damyathi, I’anah al-Thalibin, Thaha Putra, Semarang, Juz. II, Hal. 132