Senin, 25 September 2017

Sepuluh kelompok ilmu dalam ilmu fiqh Syafi’i yang penting diketahui (Kajian bersama Syeikh Yasin al-Fadaniy)

1.    Pengetahuan hukum, baik berupa nash imam mazhabnya atau hasil istimbath ulama pengikutnya yang didasarkan kepada nash, qawaid dan zabith dari imam mazhab. Secara garis besar, nash Imam Syafi’i terbagi kepada qaul qadim dan jadid. Qaul qadim adalah fatwa Imam Syafi’i ketika beliau berada di Baghdad, sedangkan qaul jadid adalah fatwa beliau ketika berada di Mesir.
Adapun fatwa beliau ketika berada di antara Baghdad dan Mesir, yang duluan disebut qadim dan yang datang sesudahnya disebut jadid. Kitab Imam Syafi’i yang termasuk qaul jadid antara lain al-Mukhtashar, al-Buwaithi dan al-Um. Perawi-perawi qaul qadim yang populer antara lain, Ahmad bin Hanbal, Hasan bin Muhammad al-Shibaah al-Za’farany, Abu ‘Aliy al-Karaabisiy dan Abu Tsur al-Kalabiy. Adapun Perawi-perawi qaul jadid yang populer antara lain, al-Buwaithiy, al-Muzaniy, al-Ra’bi’ bin Sulaiman al-Muradiy, Harmalah, Yunus bin Abd al-A’laa, Abdullah bin al-Zubair al-Makkiy dan Muhammad bin Abdullah bin Abd al-Hakim.
2.    Pengetahuan al-jam’u dan al-farq. Yakni pengetahuan mengenai suatu perkara yang sama hukumnya dari satu sisi dan berbeda dari sisi lain dengan perkara lain. Termasuk dalam kelompok ini ilmu yang dinamakan dengan ilmu al-Furuq, yakni pengetahuan hal-hal yang membedakan antara dua perkara yang menyerupai,  dimana keduanya tidak sama dalam hukum. Diantara kitab yang bagus tentang ilmu al-furuq ini adalah kitab Mathali’ al-Daqaiq fi al-Jawami’ wa Fawariq, karya Jamaluddin al-Asnawi.
Contoh dua perkara yang menyerupai, tapi tidak sama hukumnya : datang baligh seorang anak setelah melakukan shalat beberapa saat sebelum baligh, apakah shalat tersebut memadai untuk shalat yang diwajibkan atasnya setelah baligh? Jawabnya memadai, tidak memadai dalam perkara haji dan umrah.  Perbedaannya, shalat diperintahkannya atas anak-anak dan dipukulinya apabila tidak mau melakukannya, tidak pada perkara haji dan umrah. Dan juga haji dan umrah karena kewajibannya sekali seumur hidup, maka disyaratkan terjadi haji dan umrah dalam keadaan sempurna, tidak dalam hal shalat.
Contoh perkara-perkara yang menyerupai dan sama hukumnya : lupa shalat, puasa, haji, zakat, kifarat dan nazar. Semua perkara ini wajib qadha tanpa khilaf.
3.    Bina al-Masail, maksudya membangun hukum suatu masalah dengan mendasarkan kepada masalah lain. Ini ada enam pembagian, yakni :
a.       Bina qaulaini ‘ala qaulani (membangun dua qaul Syafi’i atas dua qaul Syafi’i yang lain).
b.      Bina qaulaini ‘ala wajhaini (membangun dua qaul atas dua wajh, wajh adalah  pendapat pengikut Syafi’i hasil istimbath dari nash dan qawaid Syafi’i )
c.       Bina wajhaini ‘ala wajhaini (membangun dua wajh atas dua wajh)
d.      Bina wajhaini ‘ala qaulaini (membangun dua wajh atas dua qaul)
e.       Bina wajhaini ‘ala qaulin wa wajhin (membangun dua wajh atas qaul dan wajh)
f.       Bina wajhin wa qaulin ‘ala wajhin  wa qaulin (membangun wajh dan qaul atas  wajh dan qaul)
Contoh bina qaulaini ‘ala qaulani adalah : bersentuhan kulit mahram dengan sebab nasab, rizha’ dan mushaharah tidak menggugurkan wudhu’ menurut pendapat azhhar (azhhar : qaul Imam Syafi’i yang dianggap lebih rajih). Alasannya, karena bersentuhan kulit mahram bukan mazhinnah syahwat dengan nisbah kepada mahram, sama halnya seperti laki-laki. Pendapat kedua runtuh wudhu’ karena beramal dengan umum ayat. Dua qaul ini dibangun dengan mendasarkan kepada dua qaul, apakah boleh mengistimbath dari nash syara’ sebuah makna yang mengkhususkan umum nash atau tidak?. Menurut pendapat yang lebih shahih, boleh. Kalau kita mentarjih boleh, maka bersentuhan kulit mahram dengan sebab nasab, rizha’ dan mushaharah tidak menggugurkan wudhu’, karena umum ayat dikhususkan kepada bersentuhan  kulit yang ada mazhinnah syahwat, yakni selain mahram.
Contoh bina wajhaini ‘ala qaulaini adalah : kulit bangkai apabila sudah disamak, apakah sah shalat apabila menggunakannya dalam shalat?, apakah sah menjualnya dan apakah boleh menggunakannya pada sesuatu yang basah?. Terjadi khilaf pengikut Syafi’i karena mendasarkan kepada khilaf qaulaini ; pendapat pertama tidak sah, karena mendasarkan kepada qaul alat sama’ tidak masuk dalam batin kulit. Pendapat kedua sama halnya dengan pakaian bernajis, karena qaul yang masyhur bathin sesuatu suci dengan sebab suci dhahirnya, sedangkan alat sama’ sampai kepada batin dengan perantaraan air dan basah-basah kulit.
Contoh bina wajhaini ‘ala wajhaini adalah : menetes air atas kepala atau menjulurkan kepala kepada hujan, apakah memadai sebagai menyapu kepala dalam bab wudhu’?. Pendapat yang lebih shahih : memadai dengan didasarkan kepada boleh membasuh. Karena membasuh adalah menyapu dengan ada tambahannya. Karena itu, memadai membasuh dengan jalan lebih aula. Pendapat kedua ; tidak memadai, karena mendasarkan kepada pendapat membasuh tidak dinamakan menyapu.
4.    Al-Mutharahaat. Al-Muthaarahaat adalah masalah-masalah yang rumit dan musykil, dimana tujuan ilmu ini adalah untuk penetapan dzihin. ‘Al-Alamah al-Hamawiy al-Hanafi mengatakan, ilmu al-Muthaarahaat ini adalah mengemukakan salah seorang yang alim kepada lainnya sebuah masalah, sehingga keduanya terjadi diskusi saling berhadapan. Diantara kitab yang membahas ilmu ini adalah kitab al-Muthaarahaat karya al-‘Alamat Abu Abdullah al-Husain bin Muhammad bin Muhammad al-Qathan. Termasuk dalam kelompok al-Muthaarahaat ini al-Munadhaarat, al-Muraasalaat dan al-Gharbiyah. Pengarang kitab al-Asybah wa al-Nadhair fi al-Furu’, Ibnu Najim al-Hanafi telah menutup karangannya tersebut dengan pembahasan al-Muthaarahaat ini.
Contoh al-Muthaarahaat yang dikutip oleh al-Taj al-Subki dari kitab al-Muthaarahaat adalah seseorang merampas hamba sahaya perempuan dari pemiliknya kemudian menjualnya. Setelah itu hamba sahaya tersebut hamil karena dihamili oleh pembelinya. Setelah hamil, hamba sahaya tersebut kembali kepada pemiliknya dan mati ketika melahirkan. Jawaban masalah ini ; seandainya pembeli mengetahui bahwa hamba sahaya itu merupakan hasil rampasan sipenjual, maka sipembeli tidak wajib membayar hamba sahaya yang mati karena melahirkan tersebut, karena anak yang dilahirkan itu tidak dihubungkan kepadanya dan tidak sah dikatakan, hamba sahaya tersebut mati karena melahirkan anak darinya. Namun seandainya sipembeli tidak mengatahui bahwa hamba sahaya itu merupakan hasil rampasan sipenjual, maka harga hamba sahaya tersebut dibebankan pada harta sipembeli. Karena apabila sipembeli tidak mengetahuinya, maka anak yang dilahirkan itu dihubungkan kepadanya. Maka sahlah dikatakan, hamba sahaya tersebut mati karena melahirkan anak darinya.
Contoh lain yang dikutip oleh al-Taj al-Subki dari kitab al-Muthaarahaat adalah : seseorang pada tangannya ada baju gamis, kemudian dia mengatakan : “Gamis ini telah telah dijahit oleh si pulan untukku”. Si pulan itu membantahnya, dengan mengatakan, “Tidak benar itu, akan tetapi ini adalah gamisku”. Maka yang terima adalah perkataan orang dimana gamis itu berada di tangannya, kecuali orang dimana gamis itu berada di tangannya tersebut mengatakan, “Pada ketika itu, aku ambil gamis ini dari penjahit ini”. Perbedaan keduanya : pada masalah pertama ada kemungkinan penjahit menjahit gamis tersebut dalam kekuasaan atau dalam rumah orang dimana gamis itu berada di tangannya. Dengan demikian, sipenjahit dalam posisi orang yang mendakwa. Karena itu, perkataan yang diterima adalah perkataan orang dimana sesuatu yang didakwa oleh orang lain berada di tangannya. Ini berbeda, apabila orang dimana gamis itu berada di tangannya mengatakan, “Aku ambil gamis ini dari penjahit ini”. Ini secara tidak lansung mengakui bahwa posisi sipenjahit sebagai orang pemegang kekuasaan atas gamis.
5.    Al-Mughaalathaat. Al-Mughaalathaat dalam ilmu al-Mizan adalah qiyas yang tersusun dari muqaddimah wahamiyah dan dusta atau yang menyerupai benar, padahal tidak benar. Adapun di sisi fuqaha adalah masalah-masalah fiqhiyah yang dilempar oleh seorang alim kepada seseorang atau sebuah jama’ah dengan tujuan menguji dan jatuh dalam salah pada waktu menjawab. Yakni sebenarnya, hukum tersebut harus dijawab secara tafshil, namun dijawab tanpa tafshil. Juga sebaliknya, sebenarnya, hukum tersebut harus dijawab tanpa tafshil, namun dijawab dengan tafshil. Termasuk dalam al-Mughaalathaat ini pengujian yang dilakukan oleh Qadhi Husain kepada Abi ‘Aliy al-Mani’iy al-Haaji supaya para fuqaha Marw menganggap salah Abi ‘Aliy al-Mani’iy al-Haaji ketika mengunjungi mereka. Masalahnya adalah seseorang merampas gandum pada zaman mahal harga barang, begitu sampai zaman murah, pemiliknya menuntut kembali. Maka apakah yang dituntut itu misal barang atau harganya?. Maka siapa yang mengatakan, yang dituntut itu misal barang saja, maka itu salah dan siapa yang mengatakan, yang dituntut itu harga saja, maka itu juga salah. Karena jawaban yang benar ada  tafshilnya, yaitu apabila gandum itu hilang pada tangan siperampas sebagaimana adanya sebelum dijadikan tepung seperti terbakar, maka wajib bayar misal barang. Adapun apabila sudah dijadikan tepung, diaduk dengan air, dijadikan roti dan dimakan, maka wajib membayar harga, karena menjadikan tepung, mengaduk dengan air, menjadikan roti termasuk yang dihargakan.
6.    Al-Duuriyaat, yakni masalah-masalah yang memutarkan tashhih sebuah pendapat kepada memfasidkannya dan memutarkan itsbat kepada menafikannya. Karya ulama mengenai ini antara lain, Ghayah al-Ghuur fi Masalah al-Duur karangan Imam al-Ghazali, al-Ghuur fi al-Duur dan Qathf al-Ghuur fi Masail al-Duur, keduanya ini karangan al-Taj al-Subki.
Al-Duuriyaat ini terbagi dua, yakni hukmiyah dan lafzhiyah. Hukmiyah adalah tempat terjadi duur pada hukum syara’, sedangkan lafzhiyah tempat terjadi duur pada lafazh yang dikemukakan oleh seseorang. Ini, kebanyakannya terjadi pada masalah-masalah wasiat, memerdekakan hamba sahaya dan talaq.
Contoh hukmiyah : Seorang majikan memberikan izin kepada hamba sahayanya untuk menikah dengan mahar seribu dan majikannya itu menanggung maharnya itu. Kemudian sebelum terjadi persetubuhan, sang majikan menjual hamba sahayanya itu kepada si isteri hamba sahayanya dengan harga seribu yang menjadi mahar tanggungan si majikan. Maka jual beli ini tidak sah. Karena kalau kita nyatakan sah jual beli, maka sihamba sahaya menjadi milik isterinya. Seandainya jadi milik isterinya, maka batallah nikah. Seandainya batal nikah dari pihak isteri, maka gugurlah mahar. Seandainya gugur mahar, maka batallah harga. Seandainya batal harga yang disebut pada waktu akad, maka batallah jual beli. Dalam kasus ini, ditaqdirkan pembolehan jual beli yang memutarkan (al-duuriyaat) kepada memfasidkan jual beli.
Contoh lafzhiyah : Seseorang mengatakan kepada isterinya : “Jika aku talaq kamu, maka kamu tertalaq sebelumnya tiga.” Kemudian suaminya mentalaqnya. Ini terdapat tiga pendapat. Pendapat pertama tidak jatuh talaq sama sekali, karena beramal dengan duur dan tashhih bagi duur. Karena seandainya jatuh talaq munjiz, maka sungguh jatuh talaq tiga sebelumnya. Pada ketika itu, tidak jatuh talaq munjiz, karena isteri sudah jatuh talaq ba-in sebelumnya. Karena itu, tidak jatuh juga talaq tiga, karena tidak wujud syaratnya, yakni adanya talaq. Pendapat kedua jatuh talaq munjiz saja. Pendapat ketiga jatuh talaq tiga, yakni yakni talaq munjiz dan dua talaq yang menjadi mu’allaq seandainya si isteri sudah pernah disetubuhinya.
7.    Ilghaz  (teka-teki), yakni kalam yang digelapkan dan tersebunyi. Dinamakan juga al-ahjiyah, karena al-hijaa bermakna akal, sedangkan ilghaz ini menguatkan akal atas ujian. Para ilmuan ilmu faraidh menamakannya ma’aayaah. Diantara kitab karya ulama mengenai ilmu ini antara lain, al-Injaz fi al-Ilghaz karya Abd al-Karim al-Rafi’i dan Tharaz al-Mahaaqil fi Ilghaz al-Masail karya al-Jamal Abd al-Rahim al-Asnawi.
Contohnya : Siapakah yang wajib qadha shalat beberapa tahun dengan sebab mati orang lain?. Jawabannya : Ummul walad yang mati majikannya di negeri lain dan dia tidak mengetahuinya kecuali setelah berlalu masa beberapa tahun, padahal selama ini dia shalat dalam keadaan terbuka kepala. Maka shalat ini batal apabila kepalanya tidak ditutupi dengan segera dan tanpa perbuatan yang banyak.
(Catatan : (1). ummul walad merdeka dengan sebab mati majikannya. (2). Ummul walad tidak wajib menutup kepala dalam shalat selama dia masih berstatus hamba sahaya)
Contoh lain : Apa yang dibinasakan oleh seorang yang melakukan ihram, atasnya wajib membayar dua harga?. Jawabannya : Seorang yang ihram yang meminjam binatang buruan, kemudian membinasakannya. Maka atasnya wajib membayar harganya kepada si pemiliknya dan fidyah hewan ternak untuk hak Allah.
8.    Al-Hilah, yakni celah hukum. Menurut Al-‘Alamah al-Hamawi dalam ilmu fiqh, hilah adalah hal-hal yang dapat melepaskan dari jeratan hukum syara’ bagi orang-orang yang diuji dengan perkara agama. Karena upaya melepaskan itu tidak dicapai kecuali dengan kecerdasan dan ketajaman analisa, maka upaya tersebut dinamakan dengan hilah. Menurut mazhab Syafi’i, hilah ini apabila qashadnya semata-mata zatnya, bukan qashad meraih yang haram, maka hukumnya boleh tanpa makruh. Adapun apabila qashad meraih yang haram, hukumnya makruh. Dikecualikan jalan hilah yang haram, maka ini, hukumnya haram seperti perbuatan Yahudi yang mengambil ikan pada Hari Sabtu. Qashad Yahudi dalam kasus ini adalah menguasai ikan dan masuk dalam tempat ikan yang disediakan untuk mereka sebelum Hari Sabtu. Diantara kitab yang membahas mengenai hilah ini adalah al-Hail al-Daafi’ah karya Abu Hatim Majhud bin al-Husain al-Anshary al-Quzwainiy.
Contoh hilah : melakukan jual beli ribawi yang sejenis, sedangkan ukurannya berbeda. Hilahnya dengan menjual emas kepada yang mempunyai emas juga dengan dirham, kemudian sipenjual ini membeli emas yang ada pada pembeli pertama dengan dirham yang sudah ada ditangannya sesudah terjadi qabath iqbath. Maka ini dibolehkan meskipun sudah menjadi adat kebiasaan, belum terpisah dari majelis akad dan tidak ada hak khiyar. Hal ini karena akad jual beli kedua mengandung ijazah (izin) kepada akad pertama, berbeda seandainya akad kedua dilakukan dengan orang lain, karena menggugurkan hak khiyar orang lain.
Contoh hilah lain : Seseorang yang sudah mempunyai nisab zakat ternak, merencanakan menghindari dari kewajiban zakat. Maka hilahnya menjualnya atau menukar dengan ternak lain pada pertengahan tahun. Dengan sebab itu haulnya terpotong, karena ternak itu kepemilikannya masih baru, maka harus dengan haul baru. Namun hilah ini makruh, karena ada unsur menghindari dari qurbah.
9.    Ma’rifah al-Afrad, yakni mengenal semua pendapat yang dikemukakan oleh pengikut-pengikut imam mazhab yang mengikuti mazhab imamnya. Diantara kitab yang menjadi rujukannya adalah kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhazzab dan Raudhah al-Thalibin, keduanya karya Imam al-Nawawi.
10.    Ma’rifah al-Zhawabith wa al-Qawaid, yakni mengenal zhabith-zhabit fiqh yang mengumpulkan semua furu’ dari sebuah bab dan mengenal qawaid-qawaid yang dikembalikan ushul dan furu’ kepadanya. Makna dikembalikan ushul kepadanya adalah mencakup semua qaidah atas qaidah di bawahnya. Makna dikembalikan furu’ kepadanya adalah mengeluarkan furu’ darinya.

(Tulisan di atas merupakan hasil rangkuman dari kitab Fawaid al-Janiyah Hasyiah al-Mawahib al-Saniyah Syarh al-Faraid al-Bahiyah fi Nadhm al-Qawaid al-Fiqhiyah karya Abu al-Faizh Muhammad Yaasin bin ‘Isa al-Fadaniy al-Makkiy, Juz. I, Hal. 97-105, Terbitan : Dar al-Basyair al-Islamiyah, Beirut)



Jumat, 22 September 2017

Ghayatul Wushul (Terjemahan dan Penjelasannya), Masalik ‘Illat, Iimaa', Hal. 120

(وتفريقه بين حكمين بصفة) إما (مع ذكرهما) كخبر الصحيحين أنه صلى الله عليه وسلّم جعل للفرس سهمين وللرجل. أي صاحبه سهما ، فتفريقه بين هذين الحكمين بهاتين الصفتين لو لم يكن لعلية كل منهما لكان بعيدا (أو) مع (ذكر أحدهما) فقط كخبر الترمذي القاتل لا يرث أي بخلاف غيره المعلوم إرثه فالتفريق بين عدم الإرث المذكور والإرث المعلوم بصفة القتل في الأول لو لم يكن لعليته له لكان بعيدا
Dan juga iimaa’ itu seperti membedakan oleh empunya syara’ di antara dua hukum dengan sifat, adakalanya disertai dengan menyebut kedua hukum. Contohnya hadits Shahihaini, sesunggguhnya Nabi SAW menjadikan bagi kuda dua pembahagian dan bagi laki-laki, yakni yang punya kuda satu bagian. Maka membedakan antara dua hukum ini dengan dua sifat tersebut, seandainya pembedaan itu bukan menunjukkan ‘illat setiap kedua hukum,  maka itu sungguh jauh.(1) Dan adakalanya disertai dengan menyebut salah satu hukum saja. Contohnya hadits Turmidzi : “Pembunuh tidak dapat mewarisi”, maksudnya berbeda dengan orang selainnya yang dimaklumi dapat warisan. Maka membedakan di antara tidak mendapat warisan orang tersebut dan mendapat warisan orang yang dimaklumi (2) dengan sifat membunuh pada masalah pertama, seandainya pembedaan tersebut bukan menunjukan pembunuhan merupakan ‘illat bagi tidak mendapat warisan, maka sungguh itu jauh.
(أو) تفريقه بين حكمين، إما (بشرط) كخبر مسلم الذهب بالذهب والفضة بالفضة والبرّ بابرّ والشعير بالشعير والتمر بالتمر والملح بالملح مثلاً بمثل سواء بسواء يدا بيد، فإذا اختلفت هذه الأجناس فبيعوا كيف شئتم إذا كان يدا بيد فالتفريق بين منع البيع في هذه الأشياء متفاضلاً وجوازه عند اختلاف الجنس لو لم يكن لعلية الاختلاف للجوازلكان بعيدا
Atau seperti membedakan oleh empunya syara’ di antara dua hukum adakalanya dengan syarat. Contohnya hadits Muslim : “Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma dan garam dengan garam, dengan sejenis, sama ukuran dan qabath-iqbath. Dan apabila berbeda jenis, maka jual belilah bagaimana kamu suka dengan syarat qabath-iqbath. Maka membedakan antara larangan jual beli pada beberapa perkara ini secara tidak sama ukurannya dan kebolehan jual beli secara tidak sama ukurannya pada ketika berbeda jenisnya, seandainya pembedaan tersebut bukan menunjukkan berbeda jenis ini merupakan ‘illat kebolehannya, maka sungguh itu jauh.
(أوغاية) كقوله تعالى ولا تقربوهنّ حتّى يطهرن أي فإذا تطهرن فلا منع من قربانهنّ كما صرّح به عقبه بقوله فإذا تطهرن فأتوهن فتفريقه بين المنع من قربانهنّ في الحيض وجوازه في الطهر لو لم يكن لعلية الطهر للجواز لكان بعيدا (أواستثناء) كقوله تعالى فنصف ما فرضتم إلا أن يعفون أي الزوجات عن النصف فلا شيء لهن فتفريقه بين ثبوت النصف لهنّ وانتفائه عند عفوهنّ عنه لو لم يكن لعلية العفو للانتفاء لكان بعيدا. (أواستدراك) كقوله تعالى لا يؤاخذكم الله باللغو في أيمانكم إلى آخره فتفريقه بين عدم المؤاخذة بالإيمان والمؤاخذة بها عند تعقيدها لو لم يكن لعلية التعقيد للمؤاخذة لكان بعيدا.
Adakalanya membedakan dua hukum dengan ghayah. Contohnya firman Allah : “Jangan kalian mendekati mereka sehingga mereka suci” (Q.S. al-Baqarah : 222). Maksudnya apabila mereka suci, maka tidak ada larangan mendekati mereka sebagaimana diterangkan setelahnya dengan firman-Nya : “maka apabila mereka suci, datangilah mereka”. Dengan demikian, membedakan di antara larangan mendekati isteri pada waktu haid dan boleh mendekatinya pada waktu suci, seandainya pembedaan itu bukan untuk menunjukkan ‘suci merupakan ‘illat kebolehan, maka sungguh itu jauh. Dan adakalanya dengan ististnaa. Contoh firman Allah : “Maka seperdua dari apa yang telah kamu tentukan maharnya kecuali isteri-isteri kamu memaafkannya”. Maksudnya isteri-isteri kamu memaafkan dari seperdua tersebut, maka tidak ada apapun bagi mereka. Karena itu, membedakan antara berhak seperdua bagi isteri dan ternafi hak seperdua ketika para isteri memaafkannya, seandainya pembedaan tersebut bukan menunjukkan kema’afan merupakan ‘illat bagi ternafi hak isteri, maka sungguh itu jauh. Dan adakalanya dengan istidrak. Contohnya firman Allah Ta’ala : “Allah tidak menghukummu dengan sebab sumpahmu yang tidak sengaja”...hingga akhir ayat. Maka membedakan di antara tidak menghukum dengan sumpah dan menghukum dengan sumpah ketika sengaja, seandainya pembedaan tersebut bukan menunjukkan sengaja merupakan ‘illat bagi menghukumnya, maka sungguh itu jauh.
Penjelasannya :
(1). Keadaan sesuatu adalah kuda (farsiyah) menjadi ‘illat khusus mendapat dua bagian harta ghanimah dalam peperangan dan keadaan seseorang adalah seorang manusia (rajuliyah) menjadi ‘illat khusus mendapat satu bagian. Disebut ‘illat khusus, karena ‘illat mendapat bagian harta ghanimah secara umum adalah berperang atau hadir dengan niat berperang, meskipun belum berperang.[1]
(2). Orang tersebut, maksudnya pembunuh orang yang diwarisinya yang tersebut dalam hadits. Adapun orang yang dimaklumi, maksudnya orang yang dimaklumi mendapat warisan, yakni ahli waris yang tidak membunuh orang yang diwarisinya.
(3). Ayat ini, lengkapnya berbunyi :
وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ إِلَّا أَنْ يَعْفُونَ
Jika kalian menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesugguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan kecuali isteri-isterimu memaafkan. (Q.S. al-Baqarah : 237)

(4). Ayat ini, lengkapnya berbunyi :
لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ
Allah tidak menghukummu dengan sebab sumpahmu yang tidak sengaja, akan tetapi Allah menghukummu dengan sebab sumpahmu yang kamu sengaja.(Q.S. al-Maidah : 89)



[1] Abdurrahman al-Syarbaini, Taqrir al-Syarbaini ‘ala Hasyiah ‘ala Syarah Jam’u al-Jawami’, (dicetak pada hamisy Hasyiah ‘ala Syarah Jam’u al-Jawami’) Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. II, Hal. 267

Kamis, 21 September 2017

Orang Gila Juga Menikah

Orang gila yang sudah dewasa apabila memang membutuh kepada menikah, maka pernikahannya dapat dilakukan oleh wali mujbir, yakni ayah dan kakek atas nama orang gila tersebut. Seandainya tidak ada keduanya, maka dapat dilakukan oleh sulthan, tidak boleh oleh kerabat dekat lainnya. Pengertian gila di sini adalah gila yang bersifat tetap. Adapun apabila sifatnya tidak tetap, maka hanya boleh dinikahkan ketika sembuh dan ada izin darinya. Sama hukumnya dengan orang gila orang yang cedera akalnya dan pingsan yang tidak ada harapan sembuh lagi. Berikut ini keterangan para ulama yang menjadi dasar kesimpulan ini, yakni :
1.    Dalam al-Mahalli ‘ala Minhaj al-Thalibin disebutkan :
لَا يُزَوَّجُ مَجْنُونٌ صَغِيرٌ لِأَنَّهُ لَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ فِي الْحَالِ وَبَعْدَ الْبُلُوغِ لَا يَدْرِي كَيْفَ يَكُونُ الْأَمْرُ بِخِلَافِ الصَّغِيرِ الْعَاقِلِ، فَإِنَّ الظَّاهِرَ حَاجَتُهُ إلَيْهِ بَعْدَ الْبُلُوغِ، (وَكَذَا) أَيْ لَا يُزَوَّجُ مَجْنُونٌ (كَبِيرٌ إلَّا لِحَاجَةٍ) كَأَنْ تَظْهَرَ رَغْبَتُهُ فِي النِّسَاءِ بِدَوَرَانِهِ حَوْلَهُنَّ وَتَعَلُّقِهِ بِهِنَّ وَنَحْوِ ذَلِكَ أَوْ يُتَوَقَّعُ الشِّفَاءُ بِهِ بِقَوْلِ عَدْلَيْنِ مِنْ الْأَطِبَّاءِ، (فَوَاحِدَةٌ) لِانْدِفَاعِ الْحَاجَةِ بِهَا، وَيُزَوِّجُهُ الْأَبُ ثُمَّ الْجَدُّ ثُمَّ السُّلْطَانُ دُونَ سَائِرِ الْعَصَبَاتِ كَوِلَايَةِ الْمَالِ، وَقَدْ تَقَدَّمَ أَنَّهُ يَلْزَمُ الْمُجْبِرَ تَزْوِيجُ مَجْنُونٍ ظَهَرَتْ حَاجَتُهُ
Tidak dinikahkan orang gila yang kecil, karena tidak membutuh kepada nikah pada ketika itu, sedangkan setelah baligh nanti tidak diketahui bagaimana keadaannya. Ini berbeda dengan anak kecil yang berakal, maka dhahir kebutuhan kepada nikah setelah balighnya. Demikian juga tidak dinikahkan orang gila yang sudah dewasa kecuali ada kebutuhan, seperti dhahir menyukai perempuan dengan berputar-putar di sekitar mereka, berhubungan dengan mereka dan lainnya. Atau diharapkan sembuh dengan sebab nikah berdasarkan pendapat dua orang dokter yang adil. Seandainya ada kebutuhan kepada nikah, maka dibolehkan satu saja, karena sudah terpenuhi kebutuhan dengan satu orang isteri. Orang gila ini dinikahkan oleh bapak, kemudian kakek, kemudian sulthan, tidak oleh ‘ashabah lainnya sama halnya dengan kewenangan masalah harta. Sudah ada penjelasan sebelumnya bahwa wajib atas wali mujbir menikahkan orang gila yang dhahirnya  membutuhkan nikah.[1]

Dalam mengomentari matan al-Mahalli di atas, Qalyubi mengatakan :
وَالْمُرَادُ بِالْمَجْنُونِ، الْمُطْبِقِ جُنُونُهُ وَإِلَّا فَلَا يُزَوَّجُ إلَّا فِي حَالِ إفَاقَتِهِ وَإِذْنِهِ وَكَالْمَجْنُونِ مُخْتَلُّ الْعَقْلِ وَمُغْمًى عَلَيْهِ أَيِسَ مِنْ إفَاقَتِهِ
Yang dimaksud dengan orang gila adalah yang tetap keadaan gilanya. Seandainya tidak tetap, maka tidak dinikahkan kecuali pada waktu sembuhnya dan izinnya. Sama seperti orang gila orang yang cedera akalnya dan orang pingsan yang tidak ada harapan sembuh lagi.[2]

2.    Dalam Hasyiah al-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj disebutkan :
عِبَارَةُ النِّهَايَةِ وَالْمُغْنِي إلَّا لِحَاجَةٍ لِلنِّكَاحِ حَاصِلَةٍ حَالًا كَأَنْ تَظْهَرَ رَغْبَتُهُ فِي النِّسَاءِ بِدَوَرَانِهِ حَوْلَهُنَّ وَتَعَلُّقِهِ بِهِنَّ أَوْ مَآلًا كَتَوَقُّعِ شِفَائِهِ بِاسْتِفْرَاغِ مَائِهِ بِشَهَادَةِ عَدْلَيْنِ مِنْ الْأَطِبَّاءِ بِذَلِكَ أَوْ بِأَنْ يَحْتَاجَ إلَى مَنْ يَخْدُمُهُ وَيَتَعَهَّدُهُ وَلَا يَجِدُ فِي مَحَارِمِهِ مَنْ يَحْصُلُ بِهِ ذَلِكَ وَتَكُونُ مُؤْنَةُ النِّكَاحِ أَخَفَّ مِنْ ثَمَنِ أَمَةٍ وَتَقَدَّمَ أَنَّهُ يَلْزَمُ الْمُجْبِرَ تَزْوِيجُ مَجْنُونٍ ظَهَرَتْ حَاجَتُهُ مِنْ مَزِيدِ إيضَاحٍ اهـ
‘Ibarat al-Nihayah dan al-Muhni lebih jelas, yakni : “Kecuali karena kebutuhan yang wujud pada ketika itu, seperti dhahir menyukai orang gila tersebut kepada perempuan dengan berputar-putar sekitar perempuan dan berhubungannya dengan perempuan atau  diharapkan sembuh dengan mengosongkan spermanya berdasarkan kesaksian dua orang dokter yang adil ataupun orang gila tersebut membutuhkan perempuan yang melayaninya dan menjaganya, sedangkan dari kalangan mahramnya tidak didapati orang yang mampu melakukannya serta pula belanja nikah lebih ringan dari harga seorang hamba sahaya. Sudah ada penjelasan sebelumnya bahwa wajib atas wali mujbir menikahkan orang gila yang dhahirnya membutuhkan nikah.[3]
.




[1] Jaluluddin al-Mahalli, al-Mahalli ‘ala Minhaj al-Thalibin, (dicetak pada hamisy Qalyubi wa ‘Amirah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. III, Hal. 237
[2] Qalyubi, Hasyiah Qalyubi wa ‘Amirah ‘ala al-Mahalli, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. III, Hal. 237
[3] Al-Syarwani, Hasyiah al-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, Mathba’ah Mushtafa Muhammad, Mesir, Juz. VII, Hal.285

Rabu, 20 September 2017

Ghayatul Wushul (Terjemahan dan Penjelasannya), Masalik ‘Illat, Iimaa', Hal. 120

(الثالث) من مسالك العلة (الإيماء وهو) لغة الإشارة الخفية واصطلاحا (اقتران وصف ملفوظ بحكم ولو) كان الحكم (مستنبطا) كما يكون ملفوظا (لو لم يكن للتعليل هو) أي الوصف (أو نظيره) لنظير الحكم حيث يشار بالوصف والحكم إلى نظيرهما أي لو لم يكن ذلك من حيث اقترانه بالحكم لتعليل الحكم به (كان) ذلك الاقتران (بعيدا) من الشارع لا يليق بفصاحته وإتيانه بالألفاظ في محالها
Yang ketiga dari masalik ‘illat adalah iimaa’, yaitu menurut bahasa adalah isyarah tersembunyi. Sedangkan menurut istilah menyertakan washaf(1) yang dilafazhkan (2) dengan satu hukum - meskipun hukum itu hasil istimbath sebagaimana hal hukum dilafazhkan – dimana seandainya washaf tersebut bukan untuk ta’lil atau bandingan washaf bukan ta’lil untuk bandingan hukum dalam hal diisyaratkan dengan washaf dan hukum kepada bandingan keduanya.  Maksudnya, seandainya itu yakni menyertai washaf dengan hukum bukan untuk ta’lil hukum dengannya, maka sunggguh penyertaan tersebut jauh dari empunya syara’ dan tidak patut dengan kefasihan empunya syara’ dan mendatangkannya dengan lafazh pada tempat yang sebenarnya.
والإيماء(كحكمه) أي الشارع (بعد سماع وصف) كما في خبر الأعرابيّ واقعت أهلي في نهار رمضان، فقال النبي صلى الله عليه وسلّم أعتق رقبة . إلى آخره. رواه ابن ماجة بمعناه، وأصله في الصحيحين فأمره بالإعتاق عند ذكر الوقاع يدل على أنه علة له، وإلا لخلا السؤال عن الجواب وذلك بعيد فيقدر السؤال في الجواب فكأنه قال واقعت فأعتق. (وذكره في حكم وصفا لو لم يكن علة) له (لم يفد) ذكره كقوله صلى الله عليه وسلّم لا يحكم أحد بين اثنين وهو غضبان فتقييده المنع من الحكم بحالة الغضب المشوش للفكر يدل على أنه علة له، وإلا لخلا ذكره عن الفائدة وذلك بعيد.
Iimaa’ itu seperti penetapan hukum oleh empunya syara’ setelah mendengar washaf. Contohnya sebagaimana dalam hadits Badui Arab : “Aku telah menyetubuhi isteriku  pada siang Ramadhan. Maka Nabi SAW bersabda : “Merdekakanlah hamba sahaya...sampai akhir hadits”. Hadits riwayat Ibnu Majah dengan maknanya dan asalnya ada dalam Shahihaini. Maka perintah empunya syara’ memerdekakan budak ketika menyebut bersetubuh menunjukkan bahwa bersetubuh itu sebagai ‘illat bagi perintah memerdekakannya. Seandainya bukan, maka sungguh  pertanyaan itu tidak mempunyai jawaban.(3) Yang demikian adalah jauh. Karena itu, ditaqdirkan pertanyaan pada jawaban, maka seolah-olah empunya syara’ mengatakan “Kamu telah bersetubuh, maka merdekakanlah”. Dan contoh iimaa’ lagi :  menyebut empunya syara’ sebuah washaf pada hukum , dimana seandainya washaf itu bukan ‘illat bagi hukum, maka tidak berfaedah penyebutannya. Misalnya sabda Nabi SAW : “Tidak menetapkan hukum seseorang di antara dua orang yang berperkara, sedangkan dia dalam keadaan marah”. Maka mengkaidkan larangan menetapkan hukum dengan keadaan marah yang dapat mengacaukan pikiran menunjukkan bahwa marah itu sebagai ‘illat bagi larangan tersebut. Seandainya bukan, sungguh penyebutan washaf tidak ada faedah, sedangkan yang demikian itu jauh.
Penjelasan
(1). Maksud washaf di sini mencakup juga syarat, ghayah, istidrak dan ististnaa.[1]
(2). Dilafazhkan itu adakalanya secara hakikat dan adakalanya secara hukum, yakni yang ditaqdirkan.[2]
(3). Pertanyaan tersebut, yakni “Aku bersetubuh dengan isteriku” tanpa ada jawaban. Karena itu, maka ditadirkan pertanyaan pada jawaban empunya syara’ untuk menegaskan bahwa jawaban tersebut merupakan jawaban untuk pertanyaan “Aku bersetubuh dengan isteriku” sebagaimana dijelaskan oleh pengarang di atas.





[1] Al-Banany, Hasyiah ‘ala Syarah Jam’u al-Jawami’, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. II, Hal. 266
[2] Al-Banany, Hasyiah ‘ala Syarah Jam’u al-Jawami’, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. II, Hal. 266

Senin, 18 September 2017

Ghayatul Wushul (Terjemahan dan Penjelasannya), Masalik 'Illat, Hal. 119-120

(و) النص (الظاهر) بأن يحتمل غير العلية احتمالاً مرجوحا (كاللام ظاهرة) نحو كتاب أنزلناه إليك لتخرج الناس من الظلمات إلى النور (فمقدرة) نحو؛ ولا تطع كل حلاف إلى قوله أن كان ذا مال وبنين أي لأن (فالباء) نحو فبما رحمة من الله أي لأجلها لنت لهم. (فالفاء في كلام الشارع) وتكون فيه في الحكم كقوله تعالى والسارق والسارقة فاقطعوا أيديهما وفي الوصف كخبر الصحيحين في المحرم الذي وقصته ناقته لا تمسوه طيبا ولا تخمروا رأسه فإنه يبعث يوم القيامة ملبيا
Dan nash dhahir, yakni ada kemungkinan bukan ‘illat, tetapi kemungkinan itu lemah, seperti  huruf “lam” yang disebut secara dhahir, contohnya firman Allah : “Kitab yang Kami turunkannya kepadamu supaya kamu keluarkan manusia dari kegelapan kepada bercahaya” (Q.S. Ibrahim : 1) dan huruf “lam” yang ditaqdirkan, contohnya firman Allah : “Jangan kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina”, sampai dengan firman Allah : “Keadaan dia banyak mempunyai harta dan anak” (Q.S. al-Qalam : 10-14),  maksudnya karena keadaan. Kemudian huruf “ba”, contohnya firman Allah : “Maka dengan rahmat Allahlah, maka berlaku lemah lembut terhadap mereka” (Q.S. Ali Imran : 159), maksudnya karena rahmat Allah. Kemudian huruf “fa” pada kalam empunya syara’. (1) Ini adakalanya pada hukum, contohnya firman Allah : “Pencuri baik laki-laki maupun perempuan maka potonglah kedua tangannya”(2) dan adakalanya pada washaf, contoh hadits Shahihaini pada peristiwa orang ihram yang dijatuhkan oleh untanya, “Jangan kalian berikan wangi-wangian dan jangan juga menutup kepalanya, karena dia dibangkit hari kiamat dalam keadaan bertalbiah”(3).

 (فـ) ـفي كلام (الراوي الفقيه فـ) ـفي كلام الراوي (غيره) أي غير الفقيه، وتكون فيهما في الحكم فقط، وقال بعض المحققين في الوصف فقط، لأن الراوي يحكي ما في الوجود، وذلك كقول عمران بن حصين سها رسول الله صلى الله عليه وسلّم فسجد . رواه أبو داود وغيره وكل من القولين صحيح، وإن كان الأوّل أظهر معنى، والثاني أدق كما بينته في الحاشية. (فإن) المكسورة المشددة كقوله تعالى رب لا تذر على الأرض من الكافرين الآية. وتعبيري بالفاء في الأخيرة من زيادتي. (وإذ) نحو ضربت العبد إذ أساء أي لإساءته. (وما مرّ في) مبحث (الحروف) ، مما يرد للتعليل غير المذكور هنا وهو بيد وحتى وعلى وفي ومن فلتراجع، وإنما لم تكن المذكورات من الصريح لمجيئها لغير التعليل كالعاقبة في اللام والتعدية في الباء، ومجرد العطف في الفاء ومجرد التأكيد في إنّ والبدل في إذ كما مرّ في مبحث الحروف.
Kemudian pada kalam siperawi yang faqih, kemudian pada kalam perawi selainnya, maksudnya tidak faqih. Ini adakalanya hanya pada hukum saja. Sebagian ulama muhaqqiqin mengatakan, ini pada hanya pada washaf saja, karena siperawi menghikayahkan apa yang ada terjadi pada kenyataan.(4) Ini seperti perkataan ‘Imran bin Hushain : “Rasulullah SAW lupa, maka beliau sujud” (H.R. Abu Daud dan lainnya). Setiap dua pendapat ini shahih, meskipun yang pertama lebih dhahir makna. Adapun yang kedua lebih halus rinciannya sebagaimana pernah kami jelaskan dalam al-Hasyiah. Kemudian inna yang dikasrah dan bertasydid, contoh firman Allah : “Ya tuhanku, jangan Engkau biarkan seorangpun orang-orang kafir di atas bumi” al-ayat.(5) Ta’birku dengan huruf “fa” pada yang terakhir  termasuk tambahanku. Dan seperti huruf “iz”, contohnya “Aku memukul hamba sahaya ketika buruk perangainya”, maksudnya karena buruk perangainya. Dan juga huruf-huruf yang sudah berlalu dalam pembahasan huruf  termasuk yang didatangkan untuk ta’lil selain yang disebutkan di sini, yakni “baida, hatta, ‘alaa, fii, dan man”, maka hendaknya rujuklah kesana. Hanyasanya huruf-huruf tersebut tidak termasuk sharih ta’lil, karena juga datang bermakna bukan ta’lil, seperti ‘aqibat pada huruf lam dan ta’diyah pada huruf “ba” dan seperti semata-mata ‘athaf pada huruf “fa” dan semata-mata taukid pada huruf “inna” dan seperti badal pada huruf “iz” sebagaimana telah lalu dalam pembahasan huruf.
Penjelasan :
(1)  Kalam Allah dan Rasul-Nya
(2)  wajib potong tangan yang diistimbath dari perkataan "faqtha'uu aidiihimaa" adalah hukum, sedangkan ‘illatnya mencuri.
(3)  Dibangkit hari kiamat dalam keadaan bertalbiah merupakan washaf.
(4)  Adapun yang terjadi pada kenyataan adalah mahkum bihi, yakni washaf, bukan hukum. Adapun hukum seperti sunat sujud sebagaimana di sini tidak wujud pada kenyataan. Maksud mahkum bihi di sini adalah yang berhubungan dengan hukum, maka mencakup mahkum bihi dan mahkum alaihi.[1]
(5)  Lengkapnya berbunyi :
وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا (26) إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوا إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا (27)
Ya tuhanku, jangan Engkau biarkan seorangpun orang-orang kafir di atas bumi, karena sesungguhnya apabila Engkau biarkan mereka, maka mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu dan mereka tidak akan melahirkan kecuali anak yang berbuat maksiat dan sangat kafir (Q.S. Nuh : 71-72)





[1] Al-Banany, Hasyiah ‘ala Syarah Jam’u al-Jawami’, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. II, Hal. 265

Selasa, 12 September 2017

Fidyah shalat dalam ikhtilaf ulama

Para ulama sepakat bahwa seseorang yang sudah meninggal dunia masih dapat bermanfaat untuknya  amalan orang yang masih hidup seperti doa, sadaqah, haji.  Namun ada beberapa amalan yang diperselisihkan seperti fidyah shalat.  Imam al-Nawawi mengatakan dalam Syarah Muslim :
وَأَمَّا مَا حَكَاهُ أَقْضَى الْقُضَاةِ أَبُو الْحَسَنِ الْمَاوَرْدِيُّ البصرى الفقيه الشَّافِعِيُّ فِي كِتَابِهِ الْحَاوِي عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ الْكَلَامِ مِنْ أَنَّ الْمَيِّتَ لَا يَلْحَقُهُ بَعْدَ مَوْتِهِ ثَوَابٌ فَهُوَ مَذْهَبٌ بَاطِلٌ قَطْعًا وَخَطَأٌ بَيِّنٌ مُخَالِفٌ لِنُصُوصِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَإِجْمَاعِ الْأُمَّةِ فَلَا الْتِفَاتَ إِلَيْهِ وَلَا تَعْرِيجَ عَلَيْهِ
Adapun yang dihikayah oleh Aqzha al-Quzha Abu al-Hasan al-Mawardi al-Bashri al-Faqih al-Syafi’i dalam kitabnya al-Hawi dari sebagian ashhab kalam, bahwa simati tidak dihubungkan pahala apapun setelah kematiannya merupakan mazhab bathil secara pasti dan tersalah serta menyalahi nash-nash al-Kitab, al-Sunnah dan ijmak ummat. Karena itu, tidak boleh memperhatikannya dan memperdulikannya.[1]

Kebolehan memberikan fidyah shalat orang yang sudah meningggal dunia lebih  masyhur dikenal dalam mazhab Hanafi. Bahkan Ibnu ‘Abidin salah seorang ulama mutakhirin Hanafiyah mengatakan memberi fidyah shalat ini hanya ada dalam mazhab Hanafi. Dalam Majmu’ah Rasailnya, beliau mengatakan :
اعلم ان فدية الصلاة مما انفرد بها مذهب ابي حينفة رحمه الله تعالى الذي قاسه مشائخ مذهبه على الصوم واستحسنوه وامروا به
Ketahuilah sesungguhnya fidyah shalat termasuk yang menyendiri mazhab Abu Hanifah rhm, dimana para masyaikh mazhab Abu Hanifah mengqiyasnya kepada puasa dan mereka mengistihsan dan memerintahkannya.[2]

Dengan demikian, sejauh pernyataan Ibnu Abidin ini, maka mazhab Maliki, Hanbali dan Syafi’i (pendapat mu’tamad dalam Mazhab Syafi’i sebagaimana penjelasan setelah ini) tidak mengenal pemberian fidyah shalat.
Dalam literatur mazhab Hanafi lainnya, kebolehan memberikan fidyah shalat ini dapat dilihat antara lain :
1.    Al-Sarkhasi tokoh mazhab Hanafi mengatakan :
وَعَلَى هَذَا إذَا مَاتَ، وَعَلَيْهِ صَلَوَاتٌ يُطْعِمُ عَنْهُ لِكُلِّ صَلَاةٍ نِصْفَ صَاعٍ مِنْ حِنْطَةٍ وَكَانَ مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ يَقُولُ أَوَّلًا: يُطْعِمُ عَنْهُ لِصَلَوَاتِ كُلِّ يَوْمٍ نِصْفَ صَاعٍ عَلَى قِيَاسِ الصَّوْمِ ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ: كُلُّ صَلَاةٍ فَرْضٌ عَلَى حِدَةٍ بِمَنْزِلَةِ صَوْمِ يَوْمٍ، وَهُوَ الصَّحِيحُ
Berdasarkan ini, apabila seeorang mati dan diatasnya ada kewajiban shalat, maka diberikan untuk setiap shalat yang ditinggalkannya setengah sha’ hinthah. Muhammad bin Muqatil mengatakan, pertama : diberikan makanan untuk simati karena semua shalat setiap satu hari setengah sha’ dengan jalan qiyas kepada puasa, kemudian beliau ruju’ dari pendapat tersebut dan mengatakan, setiap shalat fardhu atas hitungan sama dengan puasa satu hari. Ini pedapat shahih. [3]

2.    Ibnu Abidin tokoh mazhab Hanafi mengatakan :
قَالَ فِي الْفَتْحِ وَالصَّلَاةُ كَالصَّوْمِ بِاسْتِحْسَانِ الْمَشَايِخِ. وَجْهُهُ أَنَّ الْمُمَاثَلَةَ قَدْ ثَبَتَتْ شَرْعًا بَيْنَ الصَّوْمِ وَالْإِطْعَامِ وَالْمُمَاثَلَةُ بَيْنَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمِ ثَابِتَةٌ وَمِثْلُ مِثْلِ الشَّيْءِ جَازَ أَنْ يَكُونَ مِثْلًا لِذَلِكَ الشَّيْءِ وَعَلَى تَقْدِيرِ ذَلِكَ يَجِبُ الْإِطْعَامُ وَعَلَى تَقْدِيرِ عَدَمِهَا لَا يَجِبُ فَالِاحْتِيَاطُ فِي الْإِيجَابِ
Pengarang al-Fath mengatakan, shalat seperti puasa dengan jalan istihsan para masyaikh. Jalan istihsannya sesungguhnya kesamaaan antara puasa dan memberikan makanan telah shahih ada pada syara’, sedangkan kesamaan antara shalat dan puasa juga shahih ada pada syara’. Adapun yang sama dengan yang sama dengan sesuatu boleh sama dengan sesuatu tersebut. Berdasarkan ini, maka wajib memberikan makanan dan berdasarkan tidak sama, maka tidak wajib. Namun ihtiyathnya wajib.[4]

Pendapat mu’tamad mazhab Syafi’i
            Menurut pendapat yang mu’tamad dalam mazhab Syafi’i, orang yang sudah meninggal tidak diberikan fidyah. Namun demikian ada ulama dari kalangan Syafi’iyah seperti al-Baghwi dan lainnya yang berpendapat berbeda dengan mazhabnya. Ini dapat dilihat dalam kutipan di bawah ini :
1.    Imam al-Nawawi tokoh mazhab Syafi’i dalam Majmu’ Syarah al-Muhazzab mengatakan :
لَوْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صَلَاةٌ أَوْ اعْتِكَافٌ لَمْ يَفْعَلْهُمَا عَنْهُ وَلِيُّهُ وَلَا يَسْقُطُ عَنْهُ بِالْفِدْيَةِ صَلَاةٌ وَلَا اعْتِكَافٌ هَذَا هُوَ الْمَشْهُورُ فِي الْمَذْهَبِ وَالْمَعْرُوفُ مِنْ نُصُوصِ الشَّافِعِيِّ فِي الام وغيره ونقل الْبُوَيْطِيُّ عَنْ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ قَالَ فِي الِاعْتِكَافِ يعتكف عنه وليه وفى وراية يُطْعِمُ عَنْهُ قَالَ الْبَغَوِيّ وَلَا يَبْعُدُ تَخْرِيجُ هَذَا فِي الصَّلَاةِ فَيُطْعَمُ عَنْ كُلِّ صَلَاةٍ مُدٌّ
Jika seseorang mati dan atasnya ada kewajiban shalat atau i’tikaf, maka tidak dilakukan untuknya oleh walinya dan tidak gugur shalat dan i’tikaf dengan sebab fidyah. Ini yan masyhur dalam mazhab dan ma’ruf dari nash-nash Syafi’i dalam al-Um dan lainnya . Namun al-Buwaithi pernah menaqal dari Syafi’i bahwa beliau mengatakan dalam masalah i’tikaf, mengi’tikaf oleh walinya untuk simati. Dalam satu riwayat,diberikan makanan. Al-Baghwi mengatakan, Tidak jauh untuk ditakhrij (dihubungkan hukumnya) ini kepada shalat, maka diberikan satu mud untuk setiap shalat.[5]

2.    Imam al-Nawawi mengatakan dalam Syarah Muslim :
وَقَالَ الْإِمَامُ أَبُو مُحَمَّدٍ الْبَغَوِيُّ مِنْ أَصْحَابِنَا فِي كِتَابِهِ التَّهْذِيبُ لَا يَبْعُدُ أَنْ يُطْعَمَ عَنْ كُلِّ صَلَاةٍ مُدٌّ مِنْ طَعَامٍ وَكُلُّ هَذِهِ الْمَذَاهِبِ ضَعِيفَةٌ وَدَلِيلُهُمُ الْقِيَاسُ عَلَى الدُّعَاءِ وَالصَّدَقَةِ وَالْحَجِّ فَإِنَّهَا تَصِلُ بِالْإِجْمَاعِ وَدَلِيلُ الشَّافِعِيِّ وَمُوَافِقِيهِ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مات بن آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Imam Abu Muhammad al-Baghwi dari kalangan Syafi’yah mengatakan dalam kitabnya al-Tahzib, tidak jauh bahwa diberikan makanan untuk setiap shalat satu mud makanan. Semua pendapat ini dhaif. Dalil mereka adalah qiyas kepada doa, shadaqah dan haji, karena semuanya itu sampai pahalanya dengan ijmak. Dalilnya Imam Syafi’i dan yang setuju dengannya firman Allah : “Tidak ada bagi manusia kecuali apa yang diusahakannya dan hadits Nabi SAW : “Apabila mati anak Adam, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara, yakni sadaqah jariah, ilmu yan bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakannya.[6]   

3.    Al-Nawawi mengatakan :
(وَلَوْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صَلَاةٌ أَوْ اعْتِكَافٌ لَمْ يَفْعَلْ) ذَلِكَ. (عَنْهُ) وَلِيُّهُ (وَلَا فِدْيَةَ) لَهُ.
Kalau seseorang meninggal dunia, atasnya ada hutang shalat atau i’tiqaf yang ditinggalkannya,maka walinya tidak boleh melakukan shalat sebagai penggantinya dan tidak juga fidyah sebagai pengganti shalat.
Qalyubi dalam mengomentari pernyataan Nawawi di atas, berkata :
وَفِيهَا وَجْهٌ أَنَّهُ يُطْعِمُ عَنْهُ لِكُلِّ صَلَاةٍ مُدٌّ قَالَ بَعْضُ مَشَايِخِنَا وَهَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّخْصِ لِنَفْسِهِ فَيَجُوزُ تَقْلِيدُهُ لِأَنَّهُ مِنْ مُقَابِلِ الْأَصَحِّ
Dalam hal shalat ada satu pendapat (wajh), wali memberikan untuk setiap shalat satu mud makanan. Sebagian masyaikh  kita mengatakan bahwa ini termasuk amalan untuk diri sendiri, maka boleh mengtaqlidnya, karena itu adalah muqabil ashah.[7]

4.    ‘Ali Syibran al-Malasi mengatakan :
وَوَجَّهَ عَلَيْهِ كَثِيرُونَ مِنْ أَصْحَابِنَا أَنَّهُ يُطْعِمُ عَنْ كُلِّ صَلَاةٍ مُدًّا
Dikuatkan atasnya oleh kebanyakan pengikut Syafi’i bahwa diberikan makanan untuk setiap shalat satu mud.[8]

Diantara dalil yang kemukakan ulama-ulama yang berpendapat boleh memberikan fidyah shalat, antara lain :
1.    Hadits Ibnu Abbas :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: لَا يُصَلِّي أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ، وَلَا يَصُومُ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ وَلَكِنْ يُطْعِمُ عَنْهُ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مُدًّا مِنْ حِنْطَةٍ
Dari Ibnu Abbas, mengatakan tidak shalat seseorang untuk orang lain dan tidak berpuasa seseorang untuk orang lain, akan tetapi memberikan makanan untuknya untuk setiap hari satu mud hinthah.(H.R. al-Nisa-i)[9]

2.        Hadits Ibnu Umar berbunyi :
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ، وَلَا يَصُومَنَّ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ وَلَكِنْ إِنْ كُنْتَ فَاعِلًا تَصَدَّقْتَ عَنْهُ أَوْ أَهْدَيْتَ
Dari Ibnu Umar mengatakan, tidak shalat seseorang untuk orang lain dan tidak berpuasa seseorang untuk orang lain, akan tetapi seandainya kamu melakukannya, maka bersedekahlah atau memberikan hadiah.(H.R. Abdurrazaq)[10]

3.    Qiyas kepada doa, shadaqah dan haji, dimana ketiga amalan ini ijmak ulama sampai pahalanya kepada simati.

Diantara dalil yang kemukakan ulama-ulama yang berpendapat tidak boleh memberikan fidyah shalat, antara lain :
1.    Firman Allah Q.S. al-Najm : 39, berbunyi :
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى                    
Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (Q.S. an-Najm : 39)

2.    Hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah, yang berbunyi :
إذا مات الإنسان انقطع عنه عمله إلا من ثلاثة إلا من صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له
Apabila meninggal seorang manusia, maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga perkara, yaitu sadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang mau berdo’a untuknya. (H.R. Muslim)[11]

Catatan :
1.      Tulisan ini bertujuan untuk mendudukkan persoalan fidyah shalat yang sering dilakukan ditengah masyarakat kita, khususnya di Aceh dalam posisi yang benar
2.      Berdasarkan penjelasan di atas, diketahui bahwa masalah fidyah shalat merupakan masalah khilafiyah di antara ulama mazhab. Karena itu, kebiasaan tersebut bukanlah suatu kemungkaran bagi sebagian umat Islam yang tidak menyetujuinya. Sebab masalah ini termasuk ranah ijtihad ulama. Para ulama sepakat yang menjadi perbuatan mungkar adalah yang menyelisih ijmak ulama. Adapun perkara yang diperselisih ulama seperti fidyah shalat ini bukanlah perbuatan mungkar, meskipun  mungkin sebagian kita tidak menyetujuinya.




[1] Al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurthubah, Juz. I, Hal. 133
[2] Ibnu Abidin, Majmu’ ah Rasail Ibnu Abidin, Juz. I, Hal. 223
[3] Al-Sarkhasi, al-Mabsuth, Maktabah Syamilah, Juz. III, Hal. 90
[4]  Ibnu Abidin, Rad al-Mukhtar ala Dar al-Mukhtar, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 245
[5] Al-Nawawi, al-Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz. VI, Hal. 420
[6] Al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurthubah,Juz. I,  Hal. 133-134
[7] An-Nawawi dan Qalyubi, Minhaj at-Thalibin dan Hasyiahnya, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. II, Hal. 67
[8] ‘Ali Syibran al-Malasi, Hasyiah ‘Ali Syibran al-Malasi ‘ala Nihayah al-Muhtaj, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut,  Juz. III, Hal. 193
[9] Al-Nisa-i, Sunan al-Nisa-i, Maktabah Syamilah, Juz. III, Hal. 257, No. 2930
[10] Abdurrazaq, Mushannaf Abdurrazaq, Maktabah Syamilah, Juz. IX, Hal. 61, No. 16346
[11] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. III, Hal. 1255, No. Hadits : 1631