Kamis, 17 April 2014

Takhrij hadits membaca rabbighfirlii setelah wa laadhdhallin dalam shalat

Komentar di bawah ini merupakan komentar dari Sdr agus hanafiah15 April 2014 23.52
tentang tulisan kami pada : http://kitab-kuneng.blogspot.com/2011/08/membaca-rabbighfirlii-setelah-wa.html. Kepada pembaca supaya nyambung, kami sarankan sebelum membaca tulisan ini agar mengunjungi dan membaca tulisan kami pada link tersebut. Sdr Agus hanafiah berkomentar :
Coba diteliti lagi bukankah riwayat hadist di atas adalah riwayat yang sangat dhoif, karena di dalam sanadnya ada seorang rawi bernama Ahmad bin Abdul jabar al-utharidi, Menurut Muhammad bin Abdullah bin Al Hadrami, “dia itu seorang pendusta (kidzib)”. (kitab Tahdzibul Kamal Fi Asmai Rijal 1 : 380 karya Imam al-Mizzi 654 – 742H ). Karena hadist di atas adalah sangat dhoif, maka amalan membaca Robbighfirli” diujungnya atau diujung Al-Fatihah adalah terlarang dan termasuk amalan bid`ah. ada hadist shohih Dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila imam telah membaca, ‘waladhdhaalliin, maka ucapkanlah amin.” (HR. Muslim). Dalam hadist shohih riwayat muslim di atas, tidak disebutkan membaca Robbighfirli, tetapi langsung Aamiin. Jujur Itu Primadona Bung...!!!!
Jawab :
Hadits membaca rabbighfirlii setelah wa laadhdhallin di atas diriwayat oleh al-Thabrani dalam  Mu’jamnya dengan sanad al-Qasim bin ‘Ubad al-Khuthabi, Ahmad bin Abd al-Jabbar al-Utharidy, bapaknya (bapak dari al-Utharidy) , Abu Bakar al-Nahsyali, Abu Ishaq, Abdullah al-Yahshabi, Wail bin Hujr :
أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَالَ: غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ قَالَ: رَبِّ اغْفِرْ لِي آمِينَ
Artinya : Sesungguhnya Wail bin Hujr mendengar Rasulullah SAW ketika mengatakan ghairil maghdhu bi ‘alaihim wa laaddhallin, mengatakan rabbighfirlii amiin. [1]

Sebagaimana terlihat dalam sanad di atas, memang terdapat salah satu sanadnya bernama Ahmad bin Abd al-Jabbar al-Utharidy. Kami telah membuka kitab Tahzibul Kamal, karangan al-Mizy yang menjadi rujukan saudara, benar terdapat keterangan Muhammad bin Abdullah bin Al-Hadhrami yang mengatakan Ahmad bin Abd al-Jabbar al-Utharidy adalah seorang pendusta.[2] Namun sayangnya saudara hanya mencukupkan keterangan Al-Hadhrami saja, lalu dengan terburu-buru mengklaim hadits di atas sebagai hadits sangat dhaif (apakah ini memang saudara lakukan dengan sengaja atau hanya karena ketidakjelian ataupun karena saudara hanya mengutip keterangan orang lain tanpa merujuk kepada kitab aslinya, wallhua’lam), padahal keterangan Al-Hadhrami tersebut sudah dibantah oleh al-Khatib (seorang ahli hadits dan sejarah terkenal,) yang juga telah dikutip al-Mizzi tidak jauh setelah kutipan dari Al-Hadhrami tersebut. Al-Khatib menjelaskan bahwa Abu Kuraib, salah seorang syeikh besar, jujur dan baik dan Abu ‘Ubaidah al-Sirry bin Yahya seorang syeikh yang tinggi martabatnya, terpercaya dan  hidup satu generasi dengan al-Utharidy, salah satu keduanya telah menetapkan dengan simak dan yang satu lagi menetapkan ‘adalah bagi al-Utharidy. Selanjutnya al-Khatib mengatakan, ini menunjukkan baik keadaan al-Utharidy dan boleh menerima riwayatnya selama tidak ada qaul selain keduanya yang mewajibkan gugur haditsnya dan dicampakkan kabar darinya. Selanjut al-Khatib mengatakan, adapun keterangan Al-Hadhrami perlu penjelasan lebih lanjut, kalau dimaksudkan al-Utharidy sebagai pemalsu hadits, maka ini tidak terjadi pada hadits al-Utharidy dan kalau dimaksudkan beliau meriwayat hadits dari orang-orang yang tidak pernah beliau temui, maka ini bathil, dan seterusnya, (al-Khatib menjelaskan kenapa anggapan tersebut batil).[3]
Masih dalam kitab Tahzibul Kamal, disamping disebutkan ada beberapa keterangan yang menyebut al-Utharidy sebagai dha’if, ada keterangan dari Darulquthni yang mengatakan al-Utharidy “laa baksa bihi”.[4] Dalam Majma’ al-Zawaid, disebutkan Ahmad bin Abd al-Jabbar al-Utharidy telah dianggap terpercaya oleh Darulquthni dan dipuji oleh Abu Kuraib, tetapi telah didhaifkan oleh sekelompok jama’ah. Ibnu ‘Ady mengatakan, tidak pernah aku melihat ada hadits mungkar padanya.[5]
Kemudian perlu dicatat bahwa hadits di atas juga telah didukung (‘azhid) oleh fatwa-fatwa yang diriwayatkan dari para Tabi’in, misalnya :
1.    Rabi’ bin Khaitsam :
عَنْ أَبِي يَعْلَى قَالَ: كَانَ الرَّبِيعُ بْنُ خَيْثَمٍ إِذَا قَالَ الْإِمَامُ: غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، آمِينَ
Artinya : Dari Abu Ya’la, berkata, adalah Rabi’ bin Khaitsam apabila imam mengatakan ghairil maghdhu bi ‘alaihim wa laaddhallin, mengatakan Allahummaghfirlii, amiin (H.R. Ibnu Abi Syaibah)[6]

Dalam riwayat lain dari Bakr bin ‘Amir dari Rabi’ bin Khaitsam mengatakan :
إِذَا قَالَ الْإِمَامُ: غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ فَاسْتَعِنْ مِنَ اللَّهِ بِمَا شِئْتَ
Artinya : Apabila imam mengatakan ghairil maghdhu bi ‘alaihim wa laaddhallin, maka mintalah pertolongan kepada Allah dengan apa yang kamu inginkan.(H.R. Ibnu Abi Syaibah)[7]

2.    Ibrahim al-Nakha’i
عَنْ أَبِي حَمْزَةَ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ: " كَانَ يُسْتَحَبُّ إِذَا قَالَ الْإِمَامُ: غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ، أَنْ يُقَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي آمِينَ
Artinya : Dari Abu Hamzah dari Ibrahim mengatakan, dianjurkan apabila imam mengatakan ghairil maghdhu bi ‘alaihim wa laaddhallin, dikatakan  Allahummaghfirlii, amiin (H.R. Ibnu Abi Syaibah)[8]

3.    Abu Abdullah al-Jadaliy :
عَنِ الْحَكَمِ، قَالَ: صَلَّيْتُ خَلْفَ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْجَدَلِيِّ، فَلَمَّا قَالَ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ قَالَ كَفَى بِاللَّهِ هَادِيًا وَنَصِيرًا
Artinya : Dari al-Hakam, berkata aku shalat di belakang Abu Abdullah al-Jadaliy, maka manakala selesai mengatakan ghairil maghdhu bi ‘alaihim wa laaddhallin, beliau mengatakan, kafaa billah hadiya wa nashiraa. (H.R. Ibnu Abi Syaibah)[9]

4.    Mujahid :
عَنْ يُونُسَ، عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ: إِذَا قَالَ الْإِمَامُ: غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ، فَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ
Artinya : Dari Yunus dari Mujahid, mengatakan, apabila imam mengatakan, ghairil maghdhu bi ‘alaihim wa laaddhallin, maka katakanlah Inni as-aluka al-Jannah wa a’uzubika minannar. (H.R. Ibnu Abi Syaibah)[10]


Berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut :
  1. Tidak benar bahwa hadits perintah membaca rabbighfirlii setelah ghairil maghdhu bi ‘alaihim wa laaddhallin dalam shalat adalah sangat dha’if sebagaimana kesimpulan saudara, sehingga dengan sebab itu saudara berkesimpulan tidak boleh diamalkan. Hal ini mengingat penjelasan Al-Hadhrami sudah dibantah oleh al-Khatib sebagaimana disebut di atas. Lagi pula hadits ini didukung oleh amalan atau fatwa para Tabi’in (‘azhid).
  2. Kalaupun kita mengatakan sanadnya tidak maqbul, itupun bukan predikat sangat dhaif sebagaimana anggapan saudara, tetapi masih dalam katagori dha’if. Namun kalau kita perhatikan hadits ini ada ‘azhidnya, maka predikatnya menjadi naik sebagai hadits hasan lighairihi. Berdasarkan ini, kita bisa memaklumi kenapa Ibnu Hajar al-Haitami menyebut hadits ini dengan kualivikasi hasan. Sedangkan hadits hasan termasuk hadits maqbul dalam amalan.
3.    Sebenarnya, kalaupun membaca rabbighfirlii setelah ghairil maghdhu bi ‘alaihim wa laaddhallin dalam shalat tidak ada hadits maqbul (sekali lagi, kalau tidak ada hadits maqbul), maka bacaan tersebut dapat dibenarkan, karena menambah zikir dalam dalam shalat selama tidak bertentangan dengan zikir yang ma’tsur dapat dibenarkan. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Rifa’ah bin Rafi’ al-Zarqy, beliau berkata :            
كنا يوما نصلي وراء النبي صلى الله عليه وسلم، فلما رفع رأسه من الركعة، قال: سمع الله لمن حمده. قال رجل وراءه: ربنا ولك الحمد، حمدا طيبا مباركا فيه. فلما انصرف، قال: من المتكلم قال: أنا، قال: رأيت بضعة وثلاثين ملكا يبتدرونها، أيهم يكتبها أول.
Artinya :  Dari Rifa’ah bin Raafi’ al-Zarqi, beliau berkata : “Pada suatu hari, kami shalat dibelakang Nabi SAW. Manakala Rasulullah mengangkat kepalanya dari rukuk, beliau berkata : “Sami’allahu liman hamidah, lalu berkata seorang laki-laki di belakang beliau : “Rabbana wa lakalhamdu hamdan thaiban mubarakan fiihi. Tatkala Rasulullah selesai (dari shalatnya) bertanya : “Siapa yang berkata tadi ?. Laki-laki itu menjawab : “Saya”. Rasulullah bersabda : “Aku melihat tiga puluh orang lebih malaikat yang berebutan  pertama kali menulis amalnya”. (H.R. Bukhari) [11]

Berkata Ibnu Hajar al-Asqalany :
Dijadikan dalil dengan hadits tersebut, kebolehan mengihdats (mendatangkan dengan tanpa ada dalil) zikir yang tidak ma’tsur dalam shalat apabila zikir itu tidak bertentangan dengan zikir yang ma’tsur”.[12]

Berdasarkan hadits ini juga, kita dapat memaklumi ada sebagian ulama yang menambah “wa liwalidaiyya” setelah bacaan rabbighfirlii.
  1. Adapun sabda Nabi SAW berbunyi : “Apabila imam telah membaca, ‘waladhdhaalliin, maka ucapkanlah amin.” (HR. Muslim), hadits ini tidak bertentangan dengan amalam bacaan rabbighfirlii tersebut. Karena perintah membaca amiin tersebut boleh jadi setelah membaca rabbighfirlii.









[1] Al-Thabrani, Mu’jam al-Kabir,  Maktabah Syamilah, Juz. XXII, Hal. 42, No. Hadits : 107
[2] Al-Mizzy, Tahzibul Kamal, Muassisah al-Risalah, Juz. I, Hal. 379
[3] Al-Mizzy, Tahzibul Kamal, Muassisah al-Risalah,  Juz. I, Hal. 382
[4] Al-Mizzy, Tahzibul Kamal, Muassisah al-Risalah,  Juz. I, Hal. 381
[5] Al-Haitsamy, Majma’ al-Zawaid, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 113, No. Hadits 2668.
[6] Ibnu Abi Syaibah, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 187, No. Hadits : 7966
[7] Ibnu Abi Syaibah, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 187, No. Hadits : 7967
[8] Ibnu Abi Syaibah, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 187, No. Hadits : 7968
[9] Ibnu Abi Syaibah, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 187, No. Hadits : 7969
[10] Ibnu Abi Syaibah, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 188, No. Hadits : 7970
[11] Bukhari, Shahih Bukhari, Dar Thauq al-Najh, Juz. I, Hal. 159, No. Hadits 799
[12] Ibnu Hajar al-Asqalany, Fathul Barri, Darul Fikri, Beirut, Juz. II, Hal. 287

Selasa, 08 April 2014

Hadits Tentang Pinangan


A.     Hadits melihat perempuan untuk meminang
Dari Jabir r.a, Rasulullah SAW bersabda :
إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ , فَإِنْ اِسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا , فَلْيَفْعَلْ
Artinya : Apabila salah seorang di antara kamu melamar perempuan, jika ia bisa memandang bagian tubuhnya yang menarik untuk dinikahi, hendaknya ia lakukan.(H.R. Ahmad, Abu Daud, Rijalnya terpercaya dan al-Hakim mengatakan : shahih)[1]

Ukuran bagian tubuh yang boleh dilihat hanyalah wajah dan dua telapak tangan. Hal ini berdasarkan firman Allah Q.S. al-Nur : 31, berbunyi :
وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
Artinya : Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya (Q.S. al-Nur : 31)

Kebolehan melihat dalam meminang hanya dikhususkan kepada wajah dan dua telapak tangan, karena dua anggota tubuh ini diharapkan dapat mengisyaratkan kepada bagian tubuh tubuh lainnya. 

B.     Hadits larangan meminang atas pinangan orang lain
Dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda :
وَلاَ يَخْطُبَ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ، حَتَّى يَتْرُكَ الخَاطِبُ قَبْلَهُ أَوْ يَأْذَنَ لَهُ الخَاطِبُ
Artinya : Jangan salah seorang dari kalian meminang pinangan saudaranya sehingga peminang sebelumnya meninggalkannya atau mengizinkannya. (Muttafaqun ‘alaihi).[2]  

Dhahir hadits ini dilarang meminang pinangan orang lain sehingga peminangnya meninggalkannya dengan mencakup keadaan dimana sang perempuan yang dilamar tersebut menolak atau tidak menolaknya. Namun Imam Syafi’i tidak mengamalkan mutlaq dari dhahir hadits tersebut dengan memposisikan larangan pada hadits tersebut apabila perempuan yang dilamar tidak menolaknya. Pemahaman beliau ini didasarkan pada hadits Fatimah binti Qiis berkata :
ان زوجها طَلَّقَهَا فَأَمَرَهَا رسول الله صلعم أَنْ تَعْتَدَّ فِي بَيْتِ ابن أُمِّ مكتوم وقَالَ إِذَا حَلَلْتِ فَآذِنِينِي، قَالَتْ: فَلَمَّا حَلَلْتُ ذَكَرْتُ لَهُ: أَنَّ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ، وَأَبَا جَهْم خَطَبَانِي، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ: أَمَّا أَبُو جَهْمٍ، فَلاَ يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتِقِهِ، وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ، لا مَالَ لَهُ، انْكِحِي أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ، قَالَتْ: فَكَرِهْتُهُ،َ فقَالَ: انْكِحِي أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ، فَنَكَحْتُهُ، فَجَعَلَ اللَّهُ فِيه خَيْرًا، وَاغْتَبَطْتُ بِهِ
Artinya : Sesungguhnya suaminya mentalaqnya, maka Rasulullah SAW menyuruhnya ber’iddah di rumah Ibnu Ummi Maktum. Beliau bersabda : “Kalau sudah halal, beritahu aku.” Ketika aku sudah halal, aku berkata kepada Rasulullah SAW : “Mu’awiyah bin Abu Sufyan dan Abu Jahm telah meminangku.” Lalu Rasulullah SAW bersabda : “Abu Jahm tidak pernah meletak tongkatnya dari pundaknya, sedangkan Mu’awiyah miskin tidak berharta. Karena itu, nikahilah dengan dengan Usamah bin Zaid.” Fatimah binti Qiis mengatakan : “Aku tidak menyukainya.” Kemudian Rasulullah SAW mengulangi lagi : “Nikahilah Usamah bin Zaid.” Akupun menikahi Usamah bin Zaid, Allah memberikan kebaikan kepadanya dan akupun bahagia bersamanya.[3]

Dalam kisah yang tersebut dalam hadits ini, menurut pemahaman Imam Syafi’i, Rasulullah SAW melamar Fatimah binti Qiis untuk Usamah bin Zaid, karena beliau tahu bahwa Fatimah binti Qiis sudah menolak lamaran Mu’awiyah bin Abu Sufyan dan Abu Jahm. Karena itu, Imam Syafi’i memposisikan hadits larangan meminang pinangan orang lain di atas, selama pinangan tersebut tidak ditolak oleh perempuan yang dilamar.[4]


[1] Ibnu Hajar al-Asqalany, Bulugul Maram, (Tahqiq Samiir bin Amin al-Zahiry), Hal. 293-294
[2] Ibnu Hajar al-Asqalany, Bulugul Maram, , (Tahqiq Samiir bin Amin al-Zahiry), Hal. 294-295
[3] Imam Syafi’i, al-Risalah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Hal. 309-310
[4] Imam Syafi’i, al-Risalah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Hal. 310-311