Rabu, 23 April 2014

Wajibkah Suami Memberikan Nafkah Batin Istrinya ?


Pada prinsipnya, suami wajib hukumnya bergaul dengan isterinya dengan baik dan makruf. Ini sesuai dengan firman Allah berbunyi :
وإذا طلقتم النساء فبلغن أجلهن فأمسكوهن بمعروف أو سرحوهن بمعروف ولا تمسكوهن ضرارا لتعتدوا وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ
Artinya: Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir masa iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang makruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang makruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudaratan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. (Q.S. al-Baqarah : 231)

Dalam ayat lain disebutkan :
واللاتي تخافون نشوزهن فعظوهن واهجروهن في المضاجع واضربوهن فإن أطعنكم فلا تبغوا عليهن سبيلا إن الله كان عليا كبيرا
Artinya: Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka (pisah ranjang), dan pukullah mereka, kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya, sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar (Q.S. al-Nisa’ : 34)

Berdasarkan dua ayat ini, menurut hemat kami, dapat disimpulkan bahwa tidak memberi nafkah batin kepada isteri dengan qashad untuk menganiaya isteri merupakan suatu tindakan yang diharamkan. Adapun bila tanpa qashad menganiaya, tetapi karena faktor lagi tidak berselera, lagi tidak dalam keadaan fit, ataupun faktor lainnya yang tidak termasuk maksiat, maka para ulama berbeda pendapat tentang ini.
Berikut pendapat para ulama mengenai kewajiban memberikan nafkah batin kepada isteri,  antara lain :
1.    Ibnu Hajar al-Asqalany dalam Fathul Barri mengatakan :
واختلف العلماء فيمن كف عن جماع زوجته فقال مالك إن كان بغير ضرورة ألزم به أو يفرق بينهما ونحوه عن أحمد والمشهور عند الشافعية أنه لا يجب عليه وقيل يجب مرة وعن بعض السلف في كل أربع ليلة وعن بعضهم في كل طهر مرة
“Ulama berbeda pendapat tentang orang-orang yang menahan diri dari menyetubuhi isterinya, Malik mengatakan wajib jika tidak dalam keadaan mudharat atau dipisahkan  saja keduanya. Ini juga pendapat Ahmad. Pendapat yang masyhur dari kalangan Syafi’iyah tidak wajib, tetapi ada yang mengatakan wajib. Pendapat sebagian ulama salaf, pada setiap empat malam wajib minimal sekali. Sebagian salaf lain, wajib minimal sekali pada setiap kali suci.[1]

2.    Ibnu al-Mulaqqan dalam al-Tauzhih li Syarh Jami’ al-Shahih, mengatakan
Para ulama berbeda pendapat mengenai seorang suami yang menyibuk dirinya dengan ibadah yang dapat melalaikan hak-hak keluarganya. Malik mengatakan, apabila seorang suami menahan dirinya dari menyetubuhi isterinya tanpa dalam keadaan dharurat, maka tidak dibiarkannya sehingga suami tersebut menyetubuhinya atau dipisahkan keduanya, baik itu disukai atau dibencinya, karena hal itu memudharatkan isteri. Pendapat yang sama dengannya adalah penapat Ahmad. Abu Hanifah dan pengikutnya mengatakan, hendaknya diperintah suami bermalam di sisi  isterinya dan memandang isterinya. Syafi’i mengatakan, tidak difardhukan atas suami menyetubuhi isterinya, yang wajib hanya nafkah, pakaian, tempat tinggal dan tinggal serumah bersama isterinya. Al-Tsuri mengatakan, apabila seorang isteri mengadukan suaminya tidak mendatanginya, maka bagi suaminya itu tiga hari dan isterinya itu satu hari. Ini juga merupakan pendapat Abu Tsur”.[2]

3.    Imam al-Nawawi mengatakan :
إِذَا اعْتَرَفَتْ بِقُدْرَتِهِ عَلَى الْوَطْءِ وَقَالَتْ: إِنَّهُ يَمْتَنِعُ مِنْهُ، فَلَا خِيَارَ لَهَا، وَهَلْ لَهَا مُطَالَبَتُهُ بِوَطْأَةٍ وَاحِدَةٍ؟ وَهَلْ يُجْبَرُ هُوَ عَلَيْهَا؟ وَجْهَانِ. أَصَحُّهُمَا: لَا ; لِأَنَّهُ حَقُّهُ، فَلَا يُجْبَرُ عَلَيْهِ كَسَائِرِ الْوَطَآتِ
“Apabila seseorang isteri mengakui kemampuan suaminya menyetubuhinya dan ia berkata : sesungguhnya sisuami menahan diri dari menyetubuhinya, maka tidak ada hak khiyar bagi isteri tersebut. Apakah ada hak bagi isteri untuk meminta suami menyetubuhinya sekali ?. Adakah dapat dipaksa suami untuk menyetubuhinya ? Ini dua pendapat, pendapat yang lebih shahih tidak dapat dipaksa, karena menyetubuhinya merupakan hak suami, karena itu tidak dapat dipaksa atas suami seperti halnya persetubuhan-persetubuhan dalam kasus lainnya”.[3]

4.        Ibnu Hajar al-Haitamy mengatakan :
وَلَا يَجِبُ عَلَيْهِ وَطْؤُهَا؛ لِأَنَّهُ حَقُّهُ وَقِيلَ عَلَيْهِ مَرَّةٌ لِتَقْضِيَ شَهْوَتَهَا وَيَتَقَرَّرُ مَهْرُهَا.
“Tidak wajib atas suami menyetubuhi isterinya, karena itu adalah haknya. Ada yang mengatakan wajib satu kali, supaya isteri dapat menunaikan syahwatnya dan tetap maharnya”.[4]

5.    Dalam mengomentari keterangan Ibnu Hajar al-Haitamy di atas, al-Syarwani mengatakan :
وَقَوْلُهُ وَطْؤُهَا أَيْ، وَإِنْ كَانَتْ بِكْرًا فَلَوْ عَلِمَ زِنَاهَا لَوْ لَمْ يَطَأْ فَالْقِيَاسُ وُجُوبُ الْوَطْءِ دَفْعًا لِهَذِهِ الْمَفْسَدَةِ لَا لِكَوْنِهِ حَقًّا لَهَا اهـ ع ش
“(Perkataan pengarang : menyetubuhinya), maksudnya meskipun isterinya adalah gadis. Karena itu, seandainya dimaklumi isterinya bisa berzina apabila tidak disetubuhi, maka menurut qiyas wajib menyetubuhinya, karena menghindari ini mafsadah, bukan karena menyetubuhinya merupakan hak isteri.”[5]

Kesimpulan
1.      Menurut Imam Syafi’i dan kebanyakan pengikutnya tidak wajib suami memberikan nafkah batin (menyetubuhi) isterinya, karena menyetubuhi isteri merupakan hak suami. Ada satu pendapat dari kalangan Syafi’iyah yang mengatakan wajib, minimal sekali.
2.      Imam Malik dan Ahmad berpendapat wajib suami menyetubuhi isterinya. Suami dipaksa memilih antara menyetubuhinya atau dipisahkan.
3.      Abu Hanifah dan pengikutnya berpendapat hendaknya diperintah suami bermalam di sisi  isterinya dan memandang isterinya.
4.      Sufyan Al-Tsuri dan Abu Tsur mengatakan, wajib sekali dalam setiap empat malam.
5.      Pendapat lain mengatakan, wajib minimal sekali dalam setiap sekali suci.
6.      Seandainya dimaklumi isterinya bisa berzina apabila tidak disetubuhi, maka wajib menyetubuhinya.

Secara garis besar pendapat-pendapat di atas dapat digolongkan dalam dua golongan, yaitu yang tidak mewajibkannya, yaitu Syafi’i dan pengikutnya, sementara sebagian kecil pengikut Syafi’i dan ulama lain mewajibkannya.  Para ulama yang mewajibkannya karena beramal dengan dhahir mutlaq dua ayat yang telah kami sebutkan di atas serta hadits Abdullah bin Amr bin ‘Ash, beliau berkata :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا عَبْدَ اللَّهِ، أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَصُومُ النَّهَارَ وَتَقُومُ اللَّيْلَ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: فَلاَ تَفْعَلْ، صُمْ وَأَفْطِرْ، وَقُمْ وَنَمْ، فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
Artinya : Rasulullah SAW bersabda : “Hai Abdullah, apakah tidak aku khabari sesungguhnya kamu berpuasa pada siang hari dan beribadah pada waktu malam ?” Aku menjawab : “Benar Ya Rasulullah”. Rasulullah berkata : “Jangan kamu lakukan itu, berpuasalah dan berbuka, beribadahlah dan tidur, sesungguhnya bagi tubuhmu ada hak atasmu, bagi dua matamu ada hak atasmu dan bagi isterimu ada hak atasmu.”(H.R. Bukhari)[6]

Ulama yang tidak mewajibkannya kemungkinan menempatkan kemutlakan ayat-ayat dan hadits di atas dalam hal yang bukan nafkah batin. Hal ini karena bersetubuh merupakan hak suami. Ini ditandai dengan kewajiban mahar, nafkah pakaian, makanan dan tempat tinggal atas suami, bukan atas isteri.


[1] Ibnu Hajar al-Asqalany, Fathul Barri, Maktabah Salafiyah, Juz. IX, Hal. 299
[2] Ibnu al-Mulaqqan, al-Tauzhih li Syarh Jami’ al-Shahih, Wazarutul  Auqaf  wal-Syu-uniyah al-Islamiyah Daulah Qathar, Juz. XXV, Hal. 29
[3] Al-Nawawi, Raudhah al-Thalibin, al-Maktabah al-Islamy, Juz. VII, Hal. 196
[4] Ibnu Hajar al-Asqalany, Tuhfah al-Muhtaj, (Dicetak pada hamisy al-Hawasyi Syarwani,), Mathba’ah Musthafa Muhammad, Mesir, Juz. VII, Hal. 183
[5] Al-Syarwani, Hawasyi al-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, Mathba’ah Musthafa Muhammad, Mesir, Juz. VII, Hal. 183
[6] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. VII, Hal. 31, No. hadits 5199

Kamis, 17 April 2014

Takhrij hadits membaca rabbighfirlii setelah wa laadhdhallin dalam shalat

Komentar di bawah ini merupakan komentar dari Sdr agus hanafiah15 April 2014 23.52
tentang tulisan kami pada : http://kitab-kuneng.blogspot.com/2011/08/membaca-rabbighfirlii-setelah-wa.html. Kepada pembaca supaya nyambung, kami sarankan sebelum membaca tulisan ini agar mengunjungi dan membaca tulisan kami pada link tersebut. Sdr Agus hanafiah berkomentar :
Coba diteliti lagi bukankah riwayat hadist di atas adalah riwayat yang sangat dhoif, karena di dalam sanadnya ada seorang rawi bernama Ahmad bin Abdul jabar al-utharidi, Menurut Muhammad bin Abdullah bin Al Hadrami, “dia itu seorang pendusta (kidzib)”. (kitab Tahdzibul Kamal Fi Asmai Rijal 1 : 380 karya Imam al-Mizzi 654 – 742H ). Karena hadist di atas adalah sangat dhoif, maka amalan membaca Robbighfirli” diujungnya atau diujung Al-Fatihah adalah terlarang dan termasuk amalan bid`ah. ada hadist shohih Dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila imam telah membaca, ‘waladhdhaalliin, maka ucapkanlah amin.” (HR. Muslim). Dalam hadist shohih riwayat muslim di atas, tidak disebutkan membaca Robbighfirli, tetapi langsung Aamiin. Jujur Itu Primadona Bung...!!!!
Jawab :
Hadits membaca rabbighfirlii setelah wa laadhdhallin di atas diriwayat oleh al-Thabrani dalam  Mu’jamnya dengan sanad al-Qasim bin ‘Ubad al-Khuthabi, Ahmad bin Abd al-Jabbar al-Utharidy, bapaknya (bapak dari al-Utharidy) , Abu Bakar al-Nahsyali, Abu Ishaq, Abdullah al-Yahshabi, Wail bin Hujr :
أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَالَ: غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ قَالَ: رَبِّ اغْفِرْ لِي آمِينَ
Artinya : Sesungguhnya Wail bin Hujr mendengar Rasulullah SAW ketika mengatakan ghairil maghdhu bi ‘alaihim wa laaddhallin, mengatakan rabbighfirlii amiin. [1]

Sebagaimana terlihat dalam sanad di atas, memang terdapat salah satu sanadnya bernama Ahmad bin Abd al-Jabbar al-Utharidy. Kami telah membuka kitab Tahzibul Kamal, karangan al-Mizy yang menjadi rujukan saudara, benar terdapat keterangan Muhammad bin Abdullah bin Al-Hadhrami yang mengatakan Ahmad bin Abd al-Jabbar al-Utharidy adalah seorang pendusta.[2] Namun sayangnya saudara hanya mencukupkan keterangan Al-Hadhrami saja, lalu dengan terburu-buru mengklaim hadits di atas sebagai hadits sangat dhaif (apakah ini memang saudara lakukan dengan sengaja atau hanya karena ketidakjelian ataupun karena saudara hanya mengutip keterangan orang lain tanpa merujuk kepada kitab aslinya, wallhua’lam), padahal keterangan Al-Hadhrami tersebut sudah dibantah oleh al-Khatib (seorang ahli hadits dan sejarah terkenal,) yang juga telah dikutip al-Mizzi tidak jauh setelah kutipan dari Al-Hadhrami tersebut. Al-Khatib menjelaskan bahwa Abu Kuraib, salah seorang syeikh besar, jujur dan baik dan Abu ‘Ubaidah al-Sirry bin Yahya seorang syeikh yang tinggi martabatnya, terpercaya dan  hidup satu generasi dengan al-Utharidy, salah satu keduanya telah menetapkan dengan simak dan yang satu lagi menetapkan ‘adalah bagi al-Utharidy. Selanjutnya al-Khatib mengatakan, ini menunjukkan baik keadaan al-Utharidy dan boleh menerima riwayatnya selama tidak ada qaul selain keduanya yang mewajibkan gugur haditsnya dan dicampakkan kabar darinya. Selanjut al-Khatib mengatakan, adapun keterangan Al-Hadhrami perlu penjelasan lebih lanjut, kalau dimaksudkan al-Utharidy sebagai pemalsu hadits, maka ini tidak terjadi pada hadits al-Utharidy dan kalau dimaksudkan beliau meriwayat hadits dari orang-orang yang tidak pernah beliau temui, maka ini bathil, dan seterusnya, (al-Khatib menjelaskan kenapa anggapan tersebut batil).[3]
Masih dalam kitab Tahzibul Kamal, disamping disebutkan ada beberapa keterangan yang menyebut al-Utharidy sebagai dha’if, ada keterangan dari Darulquthni yang mengatakan al-Utharidy “laa baksa bihi”.[4] Dalam Majma’ al-Zawaid, disebutkan Ahmad bin Abd al-Jabbar al-Utharidy telah dianggap terpercaya oleh Darulquthni dan dipuji oleh Abu Kuraib, tetapi telah didhaifkan oleh sekelompok jama’ah. Ibnu ‘Ady mengatakan, tidak pernah aku melihat ada hadits mungkar padanya.[5]
Kemudian perlu dicatat bahwa hadits di atas juga telah didukung (‘azhid) oleh fatwa-fatwa yang diriwayatkan dari para Tabi’in, misalnya :
1.    Rabi’ bin Khaitsam :
عَنْ أَبِي يَعْلَى قَالَ: كَانَ الرَّبِيعُ بْنُ خَيْثَمٍ إِذَا قَالَ الْإِمَامُ: غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، آمِينَ
Artinya : Dari Abu Ya’la, berkata, adalah Rabi’ bin Khaitsam apabila imam mengatakan ghairil maghdhu bi ‘alaihim wa laaddhallin, mengatakan Allahummaghfirlii, amiin (H.R. Ibnu Abi Syaibah)[6]

Dalam riwayat lain dari Bakr bin ‘Amir dari Rabi’ bin Khaitsam mengatakan :
إِذَا قَالَ الْإِمَامُ: غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ فَاسْتَعِنْ مِنَ اللَّهِ بِمَا شِئْتَ
Artinya : Apabila imam mengatakan ghairil maghdhu bi ‘alaihim wa laaddhallin, maka mintalah pertolongan kepada Allah dengan apa yang kamu inginkan.(H.R. Ibnu Abi Syaibah)[7]

2.    Ibrahim al-Nakha’i
عَنْ أَبِي حَمْزَةَ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ: " كَانَ يُسْتَحَبُّ إِذَا قَالَ الْإِمَامُ: غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ، أَنْ يُقَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي آمِينَ
Artinya : Dari Abu Hamzah dari Ibrahim mengatakan, dianjurkan apabila imam mengatakan ghairil maghdhu bi ‘alaihim wa laaddhallin, dikatakan  Allahummaghfirlii, amiin (H.R. Ibnu Abi Syaibah)[8]

3.    Abu Abdullah al-Jadaliy :
عَنِ الْحَكَمِ، قَالَ: صَلَّيْتُ خَلْفَ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْجَدَلِيِّ، فَلَمَّا قَالَ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ قَالَ كَفَى بِاللَّهِ هَادِيًا وَنَصِيرًا
Artinya : Dari al-Hakam, berkata aku shalat di belakang Abu Abdullah al-Jadaliy, maka manakala selesai mengatakan ghairil maghdhu bi ‘alaihim wa laaddhallin, beliau mengatakan, kafaa billah hadiya wa nashiraa. (H.R. Ibnu Abi Syaibah)[9]

4.    Mujahid :
عَنْ يُونُسَ، عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ: إِذَا قَالَ الْإِمَامُ: غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ، فَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ
Artinya : Dari Yunus dari Mujahid, mengatakan, apabila imam mengatakan, ghairil maghdhu bi ‘alaihim wa laaddhallin, maka katakanlah Inni as-aluka al-Jannah wa a’uzubika minannar. (H.R. Ibnu Abi Syaibah)[10]


Berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut :
  1. Tidak benar bahwa hadits perintah membaca rabbighfirlii setelah ghairil maghdhu bi ‘alaihim wa laaddhallin dalam shalat adalah sangat dha’if sebagaimana kesimpulan saudara, sehingga dengan sebab itu saudara berkesimpulan tidak boleh diamalkan. Hal ini mengingat penjelasan Al-Hadhrami sudah dibantah oleh al-Khatib sebagaimana disebut di atas. Lagi pula hadits ini didukung oleh amalan atau fatwa para Tabi’in (‘azhid).
  2. Kalaupun kita mengatakan sanadnya tidak maqbul, itupun bukan predikat sangat dhaif sebagaimana anggapan saudara, tetapi masih dalam katagori dha’if. Namun kalau kita perhatikan hadits ini ada ‘azhidnya, maka predikatnya menjadi naik sebagai hadits hasan lighairihi. Berdasarkan ini, kita bisa memaklumi kenapa Ibnu Hajar al-Haitami menyebut hadits ini dengan kualivikasi hasan. Sedangkan hadits hasan termasuk hadits maqbul dalam amalan.
3.    Sebenarnya, kalaupun membaca rabbighfirlii setelah ghairil maghdhu bi ‘alaihim wa laaddhallin dalam shalat tidak ada hadits maqbul (sekali lagi, kalau tidak ada hadits maqbul), maka bacaan tersebut dapat dibenarkan, karena menambah zikir dalam dalam shalat selama tidak bertentangan dengan zikir yang ma’tsur dapat dibenarkan. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Rifa’ah bin Rafi’ al-Zarqy, beliau berkata :            
كنا يوما نصلي وراء النبي صلى الله عليه وسلم، فلما رفع رأسه من الركعة، قال: سمع الله لمن حمده. قال رجل وراءه: ربنا ولك الحمد، حمدا طيبا مباركا فيه. فلما انصرف، قال: من المتكلم قال: أنا، قال: رأيت بضعة وثلاثين ملكا يبتدرونها، أيهم يكتبها أول.
Artinya :  Dari Rifa’ah bin Raafi’ al-Zarqi, beliau berkata : “Pada suatu hari, kami shalat dibelakang Nabi SAW. Manakala Rasulullah mengangkat kepalanya dari rukuk, beliau berkata : “Sami’allahu liman hamidah, lalu berkata seorang laki-laki di belakang beliau : “Rabbana wa lakalhamdu hamdan thaiban mubarakan fiihi. Tatkala Rasulullah selesai (dari shalatnya) bertanya : “Siapa yang berkata tadi ?. Laki-laki itu menjawab : “Saya”. Rasulullah bersabda : “Aku melihat tiga puluh orang lebih malaikat yang berebutan  pertama kali menulis amalnya”. (H.R. Bukhari) [11]

Berkata Ibnu Hajar al-Asqalany :
Dijadikan dalil dengan hadits tersebut, kebolehan mengihdats (mendatangkan dengan tanpa ada dalil) zikir yang tidak ma’tsur dalam shalat apabila zikir itu tidak bertentangan dengan zikir yang ma’tsur”.[12]

Berdasarkan hadits ini juga, kita dapat memaklumi ada sebagian ulama yang menambah “wa liwalidaiyya” setelah bacaan rabbighfirlii.
  1. Adapun sabda Nabi SAW berbunyi : “Apabila imam telah membaca, ‘waladhdhaalliin, maka ucapkanlah amin.” (HR. Muslim), hadits ini tidak bertentangan dengan amalam bacaan rabbighfirlii tersebut. Karena perintah membaca amiin tersebut boleh jadi setelah membaca rabbighfirlii.









[1] Al-Thabrani, Mu’jam al-Kabir,  Maktabah Syamilah, Juz. XXII, Hal. 42, No. Hadits : 107
[2] Al-Mizzy, Tahzibul Kamal, Muassisah al-Risalah, Juz. I, Hal. 379
[3] Al-Mizzy, Tahzibul Kamal, Muassisah al-Risalah,  Juz. I, Hal. 382
[4] Al-Mizzy, Tahzibul Kamal, Muassisah al-Risalah,  Juz. I, Hal. 381
[5] Al-Haitsamy, Majma’ al-Zawaid, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 113, No. Hadits 2668.
[6] Ibnu Abi Syaibah, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 187, No. Hadits : 7966
[7] Ibnu Abi Syaibah, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 187, No. Hadits : 7967
[8] Ibnu Abi Syaibah, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 187, No. Hadits : 7968
[9] Ibnu Abi Syaibah, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 187, No. Hadits : 7969
[10] Ibnu Abi Syaibah, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 188, No. Hadits : 7970
[11] Bukhari, Shahih Bukhari, Dar Thauq al-Najh, Juz. I, Hal. 159, No. Hadits 799
[12] Ibnu Hajar al-Asqalany, Fathul Barri, Darul Fikri, Beirut, Juz. II, Hal. 287