Jumat, 25 November 2016

Wa ana minal muslimin atau wa ana awwalul muslimin (diskusi dalam kolom komentar blok ini yang kami posting kembali)

Slm tgk..
Pada akhir do'a iftitah trdpt kata "Wa ana minal muslimin.. Ada jg wa ana awwalul muslimin.. Mn yg benar?
Dalam majmu' syarah al-Muhazzab, Imam al-Nawawi mengatakan : Do'a iftitah sebagiannya berdasarkan sebagian riwayat baihaqi adalah dengan "wa ana awwalul muslimin" dan sebagian riwayat lain dengan "Wa ana minal muslimin"
al-Syairazi dalam al-Muhazzab mengatakan, sesungguhnya nabi Muhammad SAW merupakan orang pertama dari kaum muslimin.karena itu, selain Nabi Muhammad tidakBOLEHhttp://cdncache-a.akamaihd.net/items/it/img/arrow-10x10.pngmengatakan "wa ana awwalul muslimin" (lihat majmu' Syarh al-Muhazzab, Juz. III, Hal. 271-272 (cet. Maktabah al-Irsyad, Jeddah)

berdasarkan keterangan di atas, maka kata2 "wa ana awwalul muslimin" hanya khusus untuk Nabi Muhammad SAW, kita tidak boleh mengatakannya, sedangkan pada kita diucapkan : "Wa ana minal muslimin"

wassalamhttp://img1.blogblog.com/img/blank.gif
wa ana minal muslimin....
boleh di baca wa ana awwalul muslimin tapi dengan syarat tidak diqasad pd waktu mmbaca kalimat trsbut yg bahwa kita lah awal2 orang islam.... wa illa, fala yajuz wa kafara
hal ini berdasarkan teks albajuri juz 1 hal.166...
او يقول وانااول المسلمين نظرا للفظا لاية ولايقصد بذلك انه اول المسلمين حقيقة والا كفر......

dan juga nas dalam hasyiah qulyubi juz 1 hal.147...
ويجوزالاتيان بنظم الاية وانا اول المسلمين علي ارادة معني ما قبله او مطلقا.........

dan juga nas dalam kitab i'anatutthalibin juz 1 hal170......


kiban kon nyoe meunan guree....?
terima kasih atas infonya, dengan demikian penjelasan al-Syairazi tentang larangan tersebut di atas apabila diqashadkan maknanya. kaid ini sesuai dengan 'illah larangan yang dibawa al-Syairazy, yaitu "sesungguhnya nabi Muhammad SAW merupakan orang pertama dari kaum muslimin"

wassalama
QS Al-An'aam (6) ayat 162 dan 163 mengindikasikan petunjuk dari Allah agar kita senantiasa menjadi muslim yg paling awal diri yg selamat dan menyelamatkan orang sekelilingnya. Mohon membuka Al-Qur'an.
Saya kurang setuju dengan terjemahan Al-Qur'an versi yg banyak keluar di pasaran : "saya adalah muslim yg pertama menyerahkan diri".
Saya pun kurang setuju dengan kitab2 buatan manusia karena pernyataan yg mana khusus mengenai hal yg kita bicarakan ini adalah berkebalikan dengan kalam Al-Qur'an.

Al-Qur'an menyuruh utk menjadi awalun / orang yg paling awal / pelopor yg menyelamatkan (awwalul muslimiin), mengingat kondisi kita sekarang pun Islam sedang lemah dan kebathilan di atas Islam pada hari ini.
Untuk itu, pemuda Islam tidakBOLEHhttp://cdncache-a.akamaihd.net/items/it/img/arrow-10x10.png
 di dalam jiwanya hanya untuk menjadi pengikut (minal muslimiin), tetapi harus tampil mempelopori keselamatan dan kesejahteraan seluruh ummat.

Bacaan do'a iftitah Anda kembalikan saja kepada "Wa ana Awwalul muslimiin" sesuai dengan QS 6 : 162-163 supaya Do'a Iftitah Anda dengan anda memahami Do'a tersebut isinya Anda sedang berjanji kepada Allah untuk me-......................... juga untuk menjadi seorang muslim2 yang paling awal menyelamatkan baik diri maupun lingkungannya. Karena hal lain utk mempertegas juga, minal muslimin tidak ada di dalam Al-Qur'an.
1. kami tidak tahu apa sdr juga gak percaya kepada hadits nabi mengingat nabi juga manusia, sedangkan sdr mengatakan : "Saya pun kurang setuju dengan kitab2 buatan manusia........"

2. dalam shahih muslim I/534 (versi maktabah syamilah) disebutkan :
عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: «وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا، وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي، وَنُسُكِي، وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

3. apa yang disebut dlm QS 6 : 162-163, tidak bertentangan dgn apa dlm hadits ini, karena dalam al-qur'an tidak disebut kata2 tersebut diperintah baca dlm shalat, cuma merupakan perintah baca kepada Nabi Muhammad secara mutlaq.
 

4. namun kalaupun mau dibaca dgn "wa ana awwalul muslimin" boleh2 saja karena ada hadits riwayat lain dgn menggunakan "wa ana awwalul muslimin" namun dgn pemaknaan yang tidak bertentangan dgn akidah kita bahwa nabi Muhammad merupakan orang pertama yang muslim.

wassalam


Kamis, 27 Oktober 2016

Hadits al-Qur’an penolong orang yang gemar membacanya di dalam alam kubur

assalamu'alaikum WW mhn pencerehan Ustadz tentang beredarnya didunia maya masalah keshohehan hadits yg menjelaskan tentang pertolongan Al-Qur'an di Alam Qubur terima ksih Wassalam...

Jawab  :
Ibnu al-Jauzi dalam kitabnya al-Mauzhu’at (hadits-hadits palsu) menyebut hadits ini dalam bab Pahala Pembaca al-Qur’an dengan sanad Ali Abddullah bin Nashr-Abu Ja’far Muhammad bin Ahmad bin al-Maslamah – Isma’il bin Sa’id bin Suwaid – Abu Bakar Muhammad bin al-Qasim al-Anbari – al-Kudaimi – Yunus bin Ubaidillah al-Umairi – Daud bin Bahr al-Karmani – Muslim bin Syadad – Ubaid bin Umair- Ubadah bin al-Shamid dengan redaksi sebagai berikut :
قَالَ رَسُول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ فَلْيَجْهَرْ بِقِرَاءَتِهِ فَإِنَّهُ يَطْرُدُ بِقِرَاءَتِهِ مَرَدَةَ الشَّيَاطِينِ وَفُسَّاقَ الْجِنِّ، وَإِنَّ الْمَلائِكَةَ الَّذِينَ فِي الْهَوَاءِ وَسُكَّانَ الدَّارِ يُصَلُّونَ بِصَلاتِهِ وَيَسْمَعُونَ لِقِرَاءَتِهِ، فَإِذَا مَضَتْ هَذِهِ اللَّيْلَةُ أَوْصَتِ اللَّيْلَةَ الْمُسْتَأْنَفَةَ فَقَالَتْ تَحَفَّظِي لِسَاعَاتِهِ وَكُونِي عَلَيْهِ خَفِيفَةً، فَإِذَا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ جَاءَ الْقُرْآنُ فَوَقَفَ عِنْدَ رَأْسِهِ وَهُمْ يُغَسِّلُونَهُ، فَإِذَا غَسَّلُوهُ وَكَفَّنُوهُ جَاءَ الْقُرْآنُ فَدَخَل حَتَّى صَارَ بَيْنَ صَدْرِهِ وَكَفَنِهِ، فَإِذَا دُفِنَ وَجَاءَ مُنْكَرٌ وَنَكِيرٌ خَرَجَ حَتَّى صَارَ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمَا فَيَقُولانِ إِلَيْكَ عَنَّا فَإِنَّا نُرِيدُ أَنْ نَسْأَلَهُ، فَيَقُولُ: وَاللَّهِ مَا أَنَا بِمُفَارِقِهِ أَبَدًا حَتَّى أُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، فَإِنْ كُنْتُمَا أمرتما فِيهِ بشئ فَشَأْنُكُمَا. قَالَ: ثُمَّ يَنْظُرُ إِلَيْهِ فَيَقُولُ هَلْ تَعْرِفُنِي؟ فَيَقُولُ: مَا أَعْرِفُكَ فَيَقُولُ: أَنَا الْقُرْآنُ الَّذِي كنت أسهر ليلك وأظمى نَهَارَكَ وَأَمْنَعُكَ شَهْوَتَكَ وَسَمْعَكَ وَبَصَرَكَ فأبشر فَمَا عَلَيْك بعد مَسْأَلَة مُنْكَرٍ وَنَكِيرٍ مِنْ هَمٍّ وَلا حَزَنٍ
Rasulullah SAW bersabda apabila salah seorang kamu mendirikan malam, lalu menjihar qiraahnya, maka dengan sebab qiraahnya dapat menjauhkan keinginan syaithan dan jin fasiq dan sesungguhnya malaikat yang berada di udara dan penduduk-penduduk negeri shalat mengikuti shalatnya serta mendengar qiraahnya. Ketika berlalu malam itu, maka malam tersebut berwasiat kepada malam berikutnya, “Jagalah untuk waktu-waktunya dan jadikanlah kemudahan atasnya.” Apabila seseorang dijemput maut, maka al-Qur’an (yang menyerupai makhluq yang pandai bicara) datang menemuinya, berdiri tepat di kepalanya, sedangkan saudara-saudaranya sedang sibuk dengan memandikannya. Setelah memandikan dan mengkafaninya, al-Qur’an mendekati berdiri di antara dada dan kain kafan simati. Setelah pengebumian, dua malaikat Mungkar dan Nakir, datang, keluarlah al-Qur’an dan berdiri antara simati dan kedua  malaikat tersebut, maka kedua malaikat berkata : “Jauhkan dirimu dari kami, karena kami ingin menyoal lelaki yang telah meninggal itu.”  Akan tetapi al-Qur’an ini menjawab : “Demi Allah aku tidak akan meninggalkannya selama-lama sehingga dia masuk surga. Seandainya kalian diperintah dengan itu, maka itu urusan kalian. Selanjutnya Rasulullah SAW bersabda, kemudian al-Qur’an seraya melihat kepada simati  bertanya : “Apakah kamu mengenal aku?”.  “Aku tidak mengenalmu.” Jawab simati. “Aku adalah al-Qur’an yang kamu berjaga malam karenanya, menggelapkan siang harimu, mencegah syahwat, pendengaran dan penglihatanmu. Maka bergembiralah, kamu tidak akan ada duka dan kegundahan setelah soal dari Mungkar dan Nakir. (ini sebagian dari penggalan redaksi haditsnya)

            Ibnu al-Jauzi menjelaskan, hadits ini juga telah diriwayat oleh al-‘uqaili dari Ibrahim bin Muhammad dari ‘Amr bin Marzuq dari Daud dengan redaksi lebih panjang dari redaksi di atas. Kemudian Ibnu al-Jauzi mengatakan, hadits ini tidak sah dari Rasulullah SAW, karena Daud dituhmah. Yahya bin Ma’in mengatakan, Daud al-Thafawi telah diriwayat hadits-hadits darinya tentang al-Qur’an yang tidak dianggap. Al-‘Uqaili mengatakan, hadits Daud bathil, tidak ada asal. Kemudian Ibnu al-Jauzi mengatakan, dalam sanadnya ada al-Kudaimi pemalsu hadits.[1] Al-Zahabi mengatakan, hadits ini mauzhu’. Dalam sanadnya ada al-Kudaimi, beliau ini dituhmah. Sedangkan Daud orang yang celaka.[2]
Menurut Imam al-Suyuthi, al-Kudaimi terlepas dari hadits ini. Karena dalam jalur-jalur lain, al-Kudaimi yang dituduh sebagai pemalsu hadits tidak terdapat dalam sanadnya. Jalur-jalur itu antara lain, al-Harits dalam Musnadnya, Ibnu Abi al-Dun-ya dalam kitab al-Tahajjud, Ibnu al-Zhurais dalam Fadhail al-Qur’an, Muhammad Nasr dalam Kitab al-Shalat dan jalur riwayat al-‘Uqaili. Kemudian al-Suyuthi menjelaskan bahwa hadits ini ada pendukungnya, yakni hadits dengan makna serupa dari riwayat Khalid bin Ma’daan dari Mu’az bin Jabal secara marfu’ yang telah disebut oleh al-Bazar dalam Musnadnya. Namun al-Bazar mengatakan, Khalid tidak mendengar hadits dari Mu’az bin Jabal.[3]
Disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa ketika seorang mukmin meninggal dunia untuk menuju negeri akhirat, dikatakan kepadanya :
فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ. قَالَ: فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا، وَطِيبِهَا، وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ  قَالَ: وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ، حَسَنُ الثِّيَابِ، طَيِّبُ الرِّيحِ، فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ، فَيَقُولُ لَهُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ  بِالْخَيْرِ، فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ، فَيَقُولُ: رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ  حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي، وَمَالِي
Hamparkanlah untuknya (permadani) dari surga, pakaikanlah untuknya (pakaian) dari surga, dan bukakanlah baginya pintu yang menuju surga. Maka sampailah kepadanya aroma dan keindahan surga itu, dan kubur pun dilapangkan baginya sejauh mata memandang. Kemudian datang kepadanya seorang lelaki yang berwajah tampan, pakaiannya bagus dan aromanya wangi sembari berkata, 'Bergembiralah dengan sesuatu yang telah menyenangkanmu, ini adalah hari yang dahulu kamu dijanjikan.' Ia (orang mukmin) pun bertanya, 'Siapakah kamu, wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan?' Ia menjawab, 'Aku adalah amal shalihmu.' Akhirnya ia (orang mukmin) berkata, 'Wahai Tuhanku, tegakkanlah kiamat agar aku bisa kembali kepada keluargaku dan hartaku. (H.R. Ahmad)[4]

Berdasarkan keterangan di atas, dengan memperhatikan penjelasan al-Suyuthi, maka menurut pemahaman kami, hadits tersebut di atas tidak tepat dikatakan sebagai hadits mauzhu’ (palsu). Minimal hadits tersebut adalah dhaif (bukan mauzhu’), mengingat hadits tersebut diriwayat dari banyak jalur, tanpa ada al-Kudaimi yang dituduh sebagai pemalsu hadits dalam sanadnya. Bahkan bisa saja hadits ini menjadi hasan lighairihi mengingat ada pendukungnya (‘azhid) dari hadits al-Bazaar dan menurut kami secara umum juga didukung oleh hadits riwayat Ahmad di atas.  Alhasil meskipun hadits ini dinilai sebagai hadits dhaif, maka boleh saja hadits ini dikemukakan sebagai nasehat dalam bab fazhailul amal sebagaimana dimaklumi dalam ilmu hadits.




[1] Ibnu al-Jauzi, al-Mauzhu’aat, Maktabah al-Salafiyah, Madinah, Hal. 251-252
[2] Al-Zahabi, Talkhis al-Mauzhu’aat, Maktabah al-Rusyd, Riyadh, Hal. 71
[3] Al-Suyuthi, al-Lala-i  al-Masnu’ah fi al-Ahadits al-Mauzhu’ah, Darul Ma’riffah, Beirut,  Hal. 241-242.
[4] Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, Maktabah Syamilah, Juz. XXX, Hal. 501,, No. 18534

Kamis, 20 Oktober 2016

Merebus ayam sebelum dikeluarkan kotorannya

Sebagian sahabat kita pernah bertanya bagaimana hukum merebus ayam atau bebek sebelum mengeluarkan kotorannya sebagaimana sering dilakukan di pasar-pasar ayam/bebek.
Jawabannya : tentu dapat menyebabkan najis daging ayam tersebut, karena air panas dapat meresapkan najis pada bagian-bagian dalam daging. Namun demikian, daging ayam tersebut dapat suci kembali dengan hanya menyiram bagian luarnya saja. Berikut nash para ulama kita menyangkut hal tesebut di atas, yakni :
1.    Disebut dalam Fathul Mu’in sebagai berikut :
وإن كان حبا أو لحما طبخ بنجس، أو ثوبا صبغ بنجس، فيطهر باطنها بصب الماء على ظاهرها
Seandai biji-bijian atau daging dimasak dengan najis atau pakaian dicelup dengan najis, maka bathinnya itu suci dengan sebab dituang air atas bagian luarnya.[1]

2.    Disebut dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin sebagai berikut :

لحم عليه دم غير معفوّ عنه ذر عليه ملح فتشربها طهر بإزالة الدم وإن بقي طعم الملح كحب أو لحم طبخ ببول فيكفي غسل ظاهره وإن بقي طعم البول بباطنه إذ تشرب ما ذكر كتشرب المسام كما في التحفة
Daging diatasnya ada darah yang tidak dimaafkan serta ditaburi garam yang meresap dalam daging, maka ini suci dengan sebab menghilangkan darah, meskipun tersisa rasa garam, sama halnya daging yang dimasak dengan kencing, maka memadai dengan membasuh bagian luarnya saja, meskipun masih tersisa rasa kencing pada bagian dalamnya. Karena peresapan tersebut sama dengan peresapan yang terjadi pada lobang pori-pori kulit sebagaimana tersebut dalam al-Tuhfah.[2]

3.    Dalam Syarah Bahjah Wardiyah disebutkan :
)قوله : لا يشترط العصر ) سواء في ذلك ما له خمل أي : وبر كالبساط وما لا خمل له فما في الروضة والمجموع من أنه لو طبخ لحم بماء نجس نجس ظاهره وباطنه و يكفي غسله ويعصر كالبساط محمول على الندب أو الضعيف وتوجيه القمولي بأن النجاسة تدخل في باطن اللحم فيحتاج لإخراجها بالعصر فغير مستقيم لأن القول بعدم اشتراط العصر وهو الأصح مبني على الأصح وهو طهارة الغسالة
(Perkataan pengarang : “tidak disyaratkan memerasnya), itu baik yang berbulu seperti permadani maupun yang tidak berbulu. Karena itu, yang tersebut dalam al-Raudhah dan al-Majmu’ bahwa seandainya daging dimasak dengan air najis, maka najislah dhahir dan bagian dalamnya, akan tetapi memadai dengan membasuh dan memerasnya seperti permadani, ini dipertempatkan pada hukum sunnat atau pendapat dha’if. Adapun alasan al-Qamuli bahwa najis masuk dalam bagian dalam daging, maka perlu dikeluarkannya dengan memeras, ini tidak benar, karena pendapat yang mengatakan tidak disyaratkan peras – pendapat ini adalah lebih shahih – dibangun atas pendapat yang lebih shahih, yakni pendapat suci air bekas basuhan.[3]
4.    Dalam Hasyiah al-Bujairumi ‘ala al-Manhaj disebutkan :
لو ابتل حب بماء نجس أو بول صار رطبا وغسل بماء طاهر حال الرطوبة طهر ظاهرا وباطنا كذا اللحم إذا طبخ بهما وغسل يطهر ظاهرا وباطنا ز ي
Jika basah biji-bijian dengan air najis atau kencing yang menyebabkan lembab, kemudian dibasuh dengan air yang suci pada ketika lembab tersebut, maka suci dhahir dan bagian dalamnya. demikian juga daging apabila dimasak dengan keduanya, kemudian dibasuh, maka suci dhahir dan bagian dalamnya. Demikian al-Ziyadi.[4]




[1] Zainuddin al-Malibari, Fathul Mu’in, (dicetak pada hamisy I’anah al-Thalibin), Thaha Putra, Semarang, Juz. I, Hal. 95
[2] Sayyed Abdurrahman Ba’Alawi, Bughyatul Mustarsyidin, Usaha Keluarga, Semarang, Hal. 17
[3] Zakariya al-Anshari, Syarah bahjah Wardiyah,Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, juz.1, Hal 167-168
[4] Al-Bujairumi, Hasyiah Bujairimy `ala al-Manhaj, Darul Fikri, Beirut, juz.1, Hal 101

Jumat, 07 Oktober 2016

Panitia qurban menerima jatah daging qurban ?

Panitia Qurban adalah sekelompok orang-orang tertentu yang pada umumnya
dipersiapkan oleh suatu organisasi seperti ta’mir masjid, mushalla dan lain-lain guna menerima kepercayaan (amanat) dari pihak yang berqurban (mudlahhi) agar melaksanakan penyembelihan hewan qurban dan membagikan dagingnya. Apabila pengertian ini yang digunakan dalam paktek qurban , maka dalam pandangan fiqh panitia adalah wakil dari pihak mudlahhi.
Dalam kitab Fathul Qarib disebutkan devinisi wakalah (mewakilkan) sebagai berikut :
و في الشرع تفويض شخص شيأ له فعله مما يقبل النيابة الى غيره ليفعله حال حياته
Wakalah menurut syara’ adalah penyerahan oleh seseorang sesuatu yang boleh ia kerjakan sendiri dari urusan-urusan yang bisa digantikan kepada pihak lain agar dikerjakannya diwaktu pihak pertama masih hidup.[1]

          Seterusnya dalam Hasyiah al-Jamal ‘ala Syarh al-Manhaj dijelaskan :
 
والوكيل امين  لانه نائب عن الموكل في اليد والتصرف فكانت يده كيده
Wakil adalah pengemban amanah, karena ia sebagai pengganti muwakkil (yang mewakilkan) dalam kekuasaan dan tasharruf, jadi kekuasannya seperti kekuasaan pihak muwakkil.[2]

Dengan demikian, maka posisi wakil dalam qurban adalah pemegang amanah dari muwakkil dimana wewenangnya sama dengan muwakkil. Karena itu, si wakil tidak boleh menerima hak dari daging qurban kecuali sedikit daging yang merupakan hak si muwakkil (kalau qurban sunnat, bukan nazar). Adapun untuk pribadi si wakil, menurut Ibrahim al-Bajuri boleh menerimanya apabila si muwakkil ada menentukan dalam jumlah tertentu yang diperuntukan untuk si wakil. Sebaliknya, apabila tidak ditentukan oleh si muwakkil, maka si wakil tidak boleh mengambilnya.
ولا يجوز له أخذ شيئ الأ ان عين له الموكل قدرا منها

Tidak boleh bagi wakil mengambil sedikitpun kecuali pihak muwakkil sudah menentukan sekadar dari padanya untuk pihak wakil.[3]




[1].Ibnu Qasim al-Ghazi, Fathul Qarib, (dicetak pada hamisy al-Bajuri), al-Haramain, Singapura, Juz. I, Hal. 386
[2] Sulaiman al-Jamal, Hasyiah al-Jamal ‘ala Syarh al-Manhaj, Dar Ihya al-Turatis al-Arabi, Juz. III, Hal. 416
[3] Ibrahim al-Bajury, Hasyiah al-Bajuri ‘ala Fathul Qarib, al-Haramain, Singapura, Juz. I, Hal. 387

Kamis, 08 September 2016

Penggabungan niat qurban dan aqiqah pada satu ekor hewan

Terjadi khilaf pendapat dikalangan ulama Syafi’iyah tentang kebolehan penggabungan niat qurban dan aqiqah pada satu ekor hewan. Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan tidak memadai tindakan tersebut untuk satupun dari keduanya. Adapun Imam al-Ramli berpendapat sebaliknya, beliau mengatakan niat qurban dan aqiqah pada satu ekor hewan memadai untuk keduanya. Berikut kutipan dari kedua ulama tersebut, yakni :
1.Dalam Tuhfah al-Muhtaj, al-Haitami mengatakan :
وَظَاهِرُ كَلَامِ الْمَتْنِ وَالْأَصْحَابِ أَنَّهُ لَوْ نَوَى بِشَاةٍ الْأُضْحِيَّةَ وَالْعَقِيقَةَ لَمْ تَحْصُلْ وَاحِدَةٌ مِنْهُمَا وَهُوَ ظَاهِرٌ؛ لِأَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا سُنَّةٌ مَقْصُودَةٌ وَلِأَنَّ الْقَصْدَ بِالْأُضْحِيَّةِ الضِّيَافَةُ الْعَامَّةُ وَمِنْ الْعَقِيقَةِ الضِّيَافَةُ الْخَاصَّةُ وَلِأَنَّهُمَا يَخْتَلِفَانِ فِي مَسَائِلَ كَمَا يَأْتِي وَبِهَذَا يَتَّضِحُ الرَّدُّ عَلَى مَنْ زَعَمَ حُصُولَهُمَا وَقَاسَهُ عَلَى غُسْلِ الْجُمُعَةِ وَالْجَنَابَةِ عَلَى أَنَّهُمْ صَرَّحُوا بِأَنَّ مَبْنَى الطَّهَارَاتِ عَلَى التَّدَاخُلِ فَلَا يُقَاسُ بِهَا غَيْرُهَا
Dhahir kalam matan dan para pengikut Syafi’i sesungguhnya seandai seseorang meniat (penggabungan) qurban dan aqiqah pada satu ekor kambing, maka tidak memadai untuk salah satu dari keduanya. Ini dhahir, karena setiap keduanya sunnah maqshudah dan karena tujuan qurban penjamuan bersifat umum, sedangkan tujuan aqiqah penjamuan bersifat khusus dan juga karena keduanya berbeda dalam beberapa masalah yang akan datang. Dengan ini, jelaslah tertolak pendapat yang mendakwakan memadai untuk keduanya dengan melakukan qiyas kepada mandi Jum’at dan janabah, sedangkan mereka menerangkan bahwa bab thaharah diasaskan kepada asas tadakhul (saling masuk). Karena itu, tidak dapat diqiyaskan kepada thaharah selain thaharah. [1]

2. Dalam Nihayah al-Muhtaj, Imam al-Ramli mengatakan :
وَلَوْ نَوَى بِالشَّاةِ الْمَذْبُوحَةِ الْأُضْحِيَّةَ وَالْعَقِيقَةَ حَصَلَا خِلَافًا لِمَنْ زَعَمَ خِلَافَهُ
Seandainya seseorang niat (penggabungan) qurban dan aqiqah pada satu ekor kambing sembelihan, maka memadai untuk keduanya, khilaf dengan yang mendakwa sebaliknya.[2]



[1] Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj (dicetak pada hamisy Hasyiah Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj), Mathba’ah Mushtafa Muhammad, Mesir, Juz. IX, Hal. 369-370
[2] Al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, (ddicetak bersama hasyiah ‘Ali Syibran al-Malasi), Dar al-Kutub al-ilmiyah, Beirut, Juz. VIII, Hal. 145-146

Selasa, 06 September 2016

Hukum memelihara burung dalam sangkar

Hukum memelihara hewan termasuk burung dengan cara di batasi kebebasannya, baik dengan cara dikurung atau diikat dibolehkan dengan syarat dipenuhi kebutuhan makannya, tidak diperlakukan secara zalim dan bukan hewan yang diharamkan untuk dipelihara. Berikut ini nash dari ulama mengenai masalah ini, yakni antara lain:
1.    Qalyubi berkata :
لَهُ حَبْسُ حَيَوَانٍ وَلَوْ لِسَمَاعِ صَوْتِهِ، أَوْ التَّفَرُّجِ عَلَيْهِ، أَوْ نَحْوَ كَلْبٍ لِلْحَاجَةِ إلَيْهِ مَعَ إطْعَامِهِ.
Boleh seseorang menahan (memelihara) hewan walau untuk sekedar mendengar suaranya atau melihatnya, atau menahan seumpama anjing untuk kebutuhan, dengan syarat hewan-hewan itu diberi makan.[1]

2.    Dalam kitab Syarah al-Iqna’ karya al-Khatib al-Syarbaini disebutkan :
 سئل القفال عن حبس الطيور في اقتناص لسماع أصواتها أو غير ذلك فأجاب بالجواز إذا تعهدها مالكها بما يحتاج إليه لأنها كالبهيمة تربط.
.Imam Qaffal ditanya tentang hukumnya meletakkan burung dalam sangkar untuk didengarkan suaranya atau yang lain, beliau menjawab bahwa hal itu diperbolehkan jika pemiliknya memperhatikan sesuatu yang dibutuhkan burung tersebut, karena hal itu sama engan hewan yang diikat.[2]

Fatwa ini didasarkan keepada dalil, antara lain hadits riwayat Anas r.a, beliau berkata :
 كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا، وَكَانَ لِي أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو عُمَيْرٍ - قَالَ: أَحْسِبُهُ - فَطِيمًا، وَكَانَ إِذَا جَاءَ قَالَ: يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ نُغَرٌ كَانَ يَلْعَبُ بِهِ
Nabi SAW adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan aku memiliki seorang saudara yang biasa dipanggil dengan sebutan Abu Umair. Dia (perawi) berkata : perkiraanku, dia anak yang baru disapih. Beliau SAW datang, lalu memanggil : “Wahai Abu Umair, apa yang sedang dilakukan oleh si Nughair (nama seekor burung). Sementara anak itu sedang bermain dengannya. (H.R. Bukhari).[3]

Dalam hadis di atas Nabi SAW membiarkan anak tersebut memelihara dan bermain dengan burung yang dia pelihara. Nabi pun tidak memerintahkan keluarganya agar melepas burung tersebut. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menerangkan bahwa hadits ini menunjukkan kebolehannya memelihara burung di dalam sangkar.[4]



[1] Qalyubi, Hasyiah Qalyubi wa ‘Amirah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiah, Indonesia,  Juz. IV, Hal. 94
[2]Al- Khatib al-Syarbaini, Syarah al-Iqna’ (dicetak dalam Hasyiah al-Bujairumi ‘ala al-Khatib), Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. V, Hal. 90
[3] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. VIII, Hal. 45, No. 6203
[4] Ibnu Hajar al-Asqalani,  Fathulbarri, al-Maktabah al-Salafiyah, Juz. X, Hal. 584