Jumat, 18 Juli 2014

Tata cara berwudhu’ orang yang tidak dapat menahan angin (sals al-riih)



Pertanyaan dari mabruri (17 Jul 2014)
Assalamu'alaikum, Tgk yang saya hormati. Bagaimana hukum sholat orang yg terus-menerus keluar angin? Terima kasih

Jawab :
Orang yang tidak dapat menahan angin (kentut) atau dalam fiqh sering disebut dengan nama sals al-riih tetap wajib melaksanakan shalat sebagaimana orang normal lainnya, bedanya hanya sedikit ketentuan-ketentuannya yang agak berbeda dengan orang normal dalam hal berwudhu’nya. Dalam kitab Fathul Mu’in (dicetak pada hamisy I’anah al-Thalibin Juz. I, Hal. 35-36, dijelaskan sebagai berikut :
1.      Wudhu’nya wajib dilakukan apabila sudah masuk waktu shalat.
2.      Disyaratkan dalam berwudhu’ dhan masuk waktu shalat
3.      Karena itu, tidak boleh berwudhu’ bagi ibadah fardhu atau sunat yg mempunyai waktu kecuali sesudah masuk waktunya
4.      Tidak berwudhu’ bagi shalat jenazah kecuali sesudah memandikan jenazah
5.      Tidak berwudhu’ bagi shalat tahiyat masjid kecuali sesudah masuk masjid
6.      Tidak berwudhu’ bagi rawatib sesudah shalat fardhu kecuali sesudah melakukan shalat fardhu
7.      Bagi khatib wajib dua wudhu’, satu saat mau melaksanakan khutbah dan satunya lagi waktu mau shalat
8.      Untuk setiap fardhu wajib satu wudhu’
9.      Wajib melaksanakan shalat secara segera
10.  Namun apabila tidak segera karena kemaslahatan shalat seperti menunggu jama’ah, jum’at, dan seperti pergi ke masjid, maka tidak mengapa.

Kamis, 12 Juni 2014

hadits shallu 'alaiya walau birriyaa, ikhtiyar wajibun dan al-kizbu laa ummati


Pertanyaan dari : masykur:
guree,,,, sejauhmana pengertian dari alkizbu laa ummati,,, dan ikhtiaru wajibun,,,, dan bagaimana status hadis sallu alayya walau birriyya
Jawab :
1.       Kami belum pernah menemukan ucapan2 tersebut di atas disebut sebagai hadist nabi dalam kitab2 hadits dan fiqh mu’tabar
2.       Namun maknanya adalah shahih, namun tentu harus dipahami secara benar., yaitu :
a.       alkidzbu laa ummati, artinya dhahirnya : “dusta bukan umatku.” kalau diterjemah secara dhahir seperti ini, tentu ucapan ini rancu, karena makna al-kizbu adalah dusta, yakni suatu sifat manusia. Tidak mungkin disifat “bukan umatku “ kepada dusta, tetapi “bukan umat ku“ hanya dapat disifatkan kepada pendusta (orang). Seterusnya “bukan umatku” bukan dalam arti pendusta menjadi kafir karena bukan umat Muhammad, karena ijmak ulama tidak menjadi kafir karena suatu perbuatan dosa besar, tetapi maksudnya bukan sempurna umat, jadi pendusta tetap umat Muhammad, namun tidak sempurna. Atau dapat diartikan juga pendusta yang dimaksud di sini adalah munafiq (dalam hatinya kufur)
b.      ikhtiyar wajibun , maknanya berusaha adalah wajib dalam arti tidak hanya berpangku tangan menunggu taqdir. Ini sesuai dengan firman Allah  Q.S. al-baqarah : 286 , terjemahannya :
“Bagi manusia imbalan menurut usahanya dan mendapat hukuman apa yang diusahakannya.”
c.       Shallu ‘alaiya walau birriya’ , terjemahannya “bersalawatlah kepadaku meski dengan riya.”. ucapan ini sering dijadikan sebagai dalil bersalawat boleh dilakukan meski dengan suara keras didengar orang ditempat-tempat ramai. Menurut hemat kami, maksud riya di sini bukanlah riya secara hakikat, karena kalau memang beramal dengan niat bukan karena Allah, tetapi sekedar menampakkan kepada orang lain, maka amalnya seperti ini disepakati ulama akan sia-sia, termasuk dalam hal ini bersalawat.  Karena itu, maksud riya di sini adalah bentuk riya (shurah). Artinya boleh bersalawat dengan sengaja menampakkan kepada orang lain sebagai syiar Islam, tetapi dalam hati tetap karena Allah. Kami menyebut shurah riya, karena secara dhahirnya nampak riya, akan tetapi yg menjadi penilaiannya adalah apa yang menjadi niat seseorang itu dalam menghidupkan syiar tersebut.

Selasa, 03 Juni 2014

Penggunaan ‘azimat dalam pandangan Islam


Sebagaiman dimaklumi bahwa azimat (tamimah) merupakan benda yang dijadikan sebagai penangkal dari suatu penyakit, mara bahaya ataupun sesuatu yang ditakutkan. Dalam Kamus Mukhtar al-Shihah, disebutkan tamimah adalah pelindung yang digantung pada manusia.[1] Al-Manawi menyebutkan, tamimah ini asalnya adalah tenunan yang digantung oleh orang Arab pada kepala anak-anak untuk melindunginya dari penyakit ‘ain, kemudian istilah ini digunakan untuk setiap benda yang dijadikan sebagai penangkal.[2] Berikut hadits-hadits Nabi SAW yang menggunakan perkataan “tamimah” serta penjelasan hukum menggunakannya, antara lain :
1.        Dari Abdullah, beliau  berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda :
إنَّ الرُّقًى وَالتَّمَائِمَ وَالتَّوَالَةَ شِرْكٌ
Artinya : Sesungguhnya ruqyah, azimat dan pelet, adalah perbuatan syirik.(H.R. Ahmad)[3]

2.        Dari ‘Uqbah bin ‘Amir bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda :
مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلاَ أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَة فَلاَ وَدَعَ اللَّهُ لَهُ
Artinya : Barangsiapa yang menggantungkan (hati) pada tamimah (jimat), maka Allah tidak akan menyelesaikan urusannya. Barangsiapa yang menggantungkan dirinya pada kerang, maka Allah tidak akan memberikan kepadanya jaminan(H.R. Ahmad)[4]
3.        Dalam riwayat lain disebutkan,
مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ
Artinya : Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat), maka ia telah berbuat syirik(H.R. Ahmad)[5]

Ketiga hadits di atas, menjelaskan kepada kita bahwa menggunakan azimat merupakan perbuatan tercela, bahkan merupakan perbuatan syirik berdasarkan hadits pertama dan kedua. Yang dimaksud dengan syirik adalah menyekutukan Allah Ta’ala atau mengi’tikad sesuatu selain Allah mempunyai kekuatan yang sama dengan-Nya. Lalu timbul pertanyaan, bagaimana kalau seseorang menggunakan azimat tanpa ada i’tiqad azimat tersebut dapat memberi pengaruh melindungi dirinya secara mandiri (ta’tsir), tetapi ‘azimat itu hanya sekedar sebagai sebab adanya perlindungan, dimana pada hakikatnya hanya Allahlah yang melindunginya? Bukankah ini sama halnya dengan kita menggunakan obat dari seorang dokter, kalau kita mengi’tiqad obat tersebut yang menyembuhnya secara mandiri, tentu ini tanpa diragukan dapat disebut sebagai perbuatan syirik, sebaliknya kalau dii’tiqad hanya sebagai sebagai sebab, dimana pada hakikatnya hanya Allahlah yang mengobatinya, maka tentu tidak sesorangpun dapat mengatakan ini sebagai syirik, bahkan termasuk dalam katagori usaha yang merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya.
            Nah, apabila telah kita pastikan apabila menggunakan azimat tanpa ada i’tiqad azimat tersebut dapat memberi pengaruh melindungi dirinya secara mandiri (ta’tsir) bukanlah syirik yang diharamkan,  lalu kenapa Rasulullah SAW mengatakan penggunaan azimat merupakan perbuatan syirik sebagaimana dua hadits di atas ? Menjawab pertanyaan ini marilah kita simak keterangan-keterangan para beberapa ulama mu’tabar mengenai ini, sebagai berikut :
a.         Qadhi ‘Iyadh mengatakan :
“Rasulullah SAW menamakannya sebagai syirik, karena yang ma’ruf pada zaman beliau adalah ruqyah, azimat dan pelet yang dikenali pada zaman Jahiliyah, yakni yang mengandung unsur-unsur syirik, atau mengambilnya sebagai penangkal menunjukkan adanya  i’tiqad memberi bekas (ta’tsir) yang menyebabkan kepada syirik.”[6]

b.        Imam al-Thaiby mengatakan :
“Karena orang Arab mengi’tiqad memberi bekas dan mengqashad dengan ruqyah, azimat dan pelet untuk menolak taqdir yang telah ditentukan untuknya, maka mereka meminta terlindungi dari mara bahaya dari selain Allah Ta’ala, seperti inilah i’tiqad orang-orang Jahiliyah. Karena itu, tidak masuk yang demikian itu yang disebut dengan nama-nama Allah dan kalam-Nya dan tidak termasuk juga orang-orang menggantungkannya dengan zikir karena mencari berkah serta meyakini bahwa tidak ada yang dapat membuka semuanya kecuali Allah, maka ini tidak mengapa.”[7]

c.         Ibnu Mulaqqan dalam mengomentari hadits pertama di atas mengatakan :
“Maksudnya itu adalah ruqyah Jahiliyah dan sihir yang sama dengannya berupa ruqyah yang tercela.”[8]

Selanjutnya Ibnu Mulaqqan mengutip sebuah riwayat yang diriwayat oleh Ibnu Wahab dari Yunus bin Yazid dari Ibnu Syihab dari seorang ahli ilmu, berbunyi :
أَنَّهُمْ كَانُوا يَقُولُونَ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنِ الرُّقَى حِتى قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَكَانَتِ الرُّقَى فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ فِيهَا كَثِيرٌ مِنْ كَلَامِ الشِّرْكِ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ لُدِغَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ كَانَ آلُ حَزْمٍ يَرْقُونَ مِنَ الْحُمَةِ فَلَمَّا نَهَيْتَ عَنِ الرُّقَى تَرَكُوهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ادْعُوا لِي عُمَارَةَ وَكَانَ قَدْ شَهِدَ فَقَالَ اعْرِضْ عَلَيَّ رُقْيَتَكَ فَعَرَضَهَا عَلَيْهِ فَلَمْ يَرَ بِهَا بَأْسًا وَأَذِنَ لَهُمْ بِهَا
Artinya : Sesungguhnya mereka mengatakan, bahwa Rasulullah SAW telah melarang ruqyah sehingga tiba di Madinah, pada ketika itu, ruqyah banyak terdiri dari kalam syirik.  Tatkala salah seorang sahabat Nabi disengat binaang berbisa, mereka mengatakan kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, orang-orang Hazam terbiasa melakukan ruqyah karena sakit panas, tetapi manakala engkau melarangnya, merekapun meninggalkannya. Rasulullah SAW berkata, “Panggillah ‘Umarah kepadaku.”(Umarah ini pernah ikut perang Badar), kemudian Rasulullah berkata kepada Umarah, “Nampakkanlah ruqyahmu kepadaku!”, Kemudian Umarahpun memperlihatkannya, lalu Rasulullah SAW tidak melihat ada masalah dengan ruqyah tersebut, maka beliau mengizinkan mereka menggunakan ruqyah tersebut.(H.R. Ibnu Wahab)[9]

Riwayat ini selengkapnya juga disebut dalam kitab al-Tamhid karangan Ibnu Abd al-Bar.[10]
Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, dapat dipahami bahwa ruqyah dan azimat yang dihukum tercela dan syirik penggunaannya dalam hadits-hadits di atas dan yang tersebut dalam hadits-hadits lain yang tidak kami sebut di sini adalah ruqyah dan azimat yang mengandung unsur-unsur syirik di dalamnya atau ada i’tiqad ta’tsir (memberi bekas) pada selain Allah Ta’ala sebagaimana yang lazim terjadi pada zaman awal kemunculan Islam (zaman Jahiliyah). Sehingga dengan keterangan ini pula dapat dipahami kalau Rasulullah dalam banyak riwayat pernah melakukan ruqyah dan menganjurkannya sebagaimana hadits-hadits yang akan kami kemukakan sesudah ini.
Hadits-hadits yang membolehkan menggunakan ruqyah selama tidak ada unsur syirik
1.        Dari Aisyah r.a, beliau mengatakan :
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اشْتَكَى الْإِنْسَانُ الشَّيْءَ مِنْهُ، أَوْ كَانَتْ بِهِ قَرْحَةٌ أَوْ جُرْحٌ، قَالَ: النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِإِصْبَعِهِ هَكَذَا، وَوَضَعَ سُفْيَانُ سَبَّابَتَهُ بِالْأَرْضِ، ثُمَّ رَفَعَهَا بِاسْمِ اللهِ، تُرْبَةُ أَرْضِنَا، بِرِيقَةِ بَعْضِنَا، لِيُشْفَى بِهِ سَقِيمُنَا، بِإِذْنِ رَبِّنَا
Artinya : Apabila ada orang-orang mengadu hal kepada Rasulullah SAW atau beliau mengalami penyakit kudis atau luka, maka beliau menjampinya dengan ucapan :
بِاسْمِ اللهِ، تُرْبَةُ أَرْضِنَا، بِرِيقَةِ بَعْضِنَا، لِيُشْفَى بِهِ سَقِيمُنَا، بِإِذْنِ رَبِّنَا
sambil menggunakan telunjuk beliau seperti ini. Sufyan (perawi hadits ini) meletakkan telunjuknya di atas tanah, kemudian mengangkatnya. (H.R. Muslim)[11]

2.        Hadits Utsman bin Abi al-‘Ash al-Tsaqafi berbunyi :
عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ الثَّقَفِيِّ، أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعًا يَجِدُهُ فِي جَسَدِهِ مُنْذُ أَسْلَمَ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ، وَقُلْ بِاسْمِ اللهِ ثَلَاثًا، وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ
Artinya : Dari Ustman bin Abi al-‘Ash al-Tsaqafi, sesungguhnya beliau mengadukan kepada Rasulullah SAW tentang penyakitnya yang didapati pada tubuhnya selama masuk Islam, lalu Rasulullah Saw mengatakan kepadanya, “Letakkan tanganmu atas penyakit yang kamu derita di atas badanmu dan katakanlah : “Bismillah tiga kali dan tujuh kali ucapan :
أَعُوذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ
(H.R. Muslim)[12]

3.        Dari ‘Auf bin Malik al-Aysja’i, beliau berkata :
كُنَّا نَرْقِيْ فِيْ الجَاهِلِيَّةِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ؟ فَقَالَ: اعْرِضُوْا عَلَيّ رُقَاكُمْ، لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ
Artinya : Pada zaman Jahiliyah, kita selalu melakukan ruqyah. Lalu kami bertanya kepada Rasulullah, bagaimana pendapatmu ya Rasulullah tentang hal itu. Rasulullah menjawab: “Coba tunjukkan azimatmu itu padaku. Membuat azimat tidak apa-apa selama di dalamnya tidak terkandung kesyirikan. (H.R. Muslim)[13]

            Dalam tiga hadist di atas dapat disimpulkan bahwa ruqyah yang dibolehkan itu ada yang menggunakan benda sebagai simbolik (tafa-ul), pada hadits pertama dengan menggunakan tanah, sedangkan hadits kedua menggunakan tangan. Ruqyah ada juga tanpa menggunakan simbol apa-apa, tetapi hanya dengan membaca ayat-ayat al-Qur’an tertentu seperti riwayat Abu Said Al-Khudri r.a berbunyi :
أن ناسا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم كانوا في سفر فمروا بحي من أحياء العرب فاستضافوهم فلم يضيفوهم فقالوا لهم هل فيكم راق ؟ فإن سيد الحي لديغ أو مصاب فقال رجل منهم نعم فأتاه فرقاه بفاتحة الكتاب فبرأ الرجل فأعطي قطيعا من غنم فأبى أن يقبلها وقال حتى أذكر ذلك للنبي صلى الله عليه و سلم فأتى النبي صلى الله عليه و سلم فذكر ذلك له فقال يا رسول الله والله ما رقيت إلا بفاتحة الكتاب فتبسم وقال وما أدراك أنها رقية ؟ ثم قال خذوا منهم واضربوا لي بسهم معكم
Artinya : Bahwa beberapa orang di antara sahabat Rasulullah SAW sedang berada dalam perjalanan melewati salah satu dari perkampungan Arab. Mereka berharap dapat menjadi tamu penduduk kampung tersebut. Namun ternyata penduduk kampung itu tidak mau menerima mereka. Tetapi ada yang menanyakan: Apakah di antara kalian ada yang dapat menjampi? Karena kepala kampung terkena sengatan atau terluka. Seorang dari para sahabat itu menjawab: Ya, ada. Orang itu lalu mendatangi kepala kampung dan menjampinya dengan surat Al-Fatihah. Ternyata kepala kampung itu sembuh dan diberikanlah kepadanya beberapa ekor kambing. Sahabat itu menolak untuk menerimanya dan berkata: Aku akan menanyakannya dahulu kepada kepada Nabi SAW. Dia pun pulang menemui Nabi SAW dan menuturkan peristiwa tersebut. Dia berkata: Ya Rasulullah! Demi Allah, aku hanya menjampi dengan surat Al-Fatihah. Mendengar penuturan itu: Rasulullah SAW tersenyum dan bersabda: Tahukah engkau bahwa Al-Fatihah itu merupakan jampi? Kemudian beliau melanjutkan: Ambillah imbalan dari mereka dan sisihkan bagianku bersama kalian. (H.R. Muslim) [14]

Imam Nawawi mengatakan hadits ini menerangkan bahwa al-Fatihah dapat menjadi ruqyah. Oleh karena itu mustahab (dianjurkan) dibaca atas orang yang kena sengatan binatang dan orang sakit.[15]
Azimat merupakan ruqyah dengan menggunakan simbol-simbol (tafa-ul)
Azimat dengan membaca dan menulis ayat-ayat al-Qur’an tertentu atau zikir-zikir tertentu pada suatu benda, lalu digantung pada tubuh seseorang dengan harapan menjadi berkah dan terlindungi dari penyakit dengan izin Allah Ta’ala merupakan ruqyah yang dibenarkan dalam agama. Hal itu, karena ia merupakan ruqyah dengan menggunakan simbol-simbol (tafa-ul). Sebaliknya, apabila yg ditulis mengandung unsur-unsur syirik, maka itu adalah azimat yang diharamkan agama.
Berikut ini keterangan syara’ yang membolehkan menggunakan suatu benda untuk mengambil berkah  (tabarruk),  antara lain :
1.        Nabi SAW memberkati dengan air yang telah disentuhnya. Imam Bukhari meriwayatkan hadits sebagai berikut :
َقَالَ أَبُو مُوسَى دَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَدَحٍ فِيهِ مَاءٌ فَغَسَلَ يَدَيْهِ وَوَجْهَهُ فِيهِ وَمَجَّ فِيهِ ثُمَّ قَالَ لَهُمَا اشْرَبَا مِنْهُ وَأَفْرِغَا عَلَى وُجُوهِكُمَا وَنُحُورِكُمَا
Artinya :  Berkata Abu Musa : “Nabi Muhammad SAW meminta semangkok air, lalu beliau mencuci kedua tangannya dan membasuh wajahnya di dalamnya, dan mengeluarkan air dari mulutnya, kemudian bersabda kepada mereka berdua (dua orang sahabat yang ada di sisi beliau, “Minumlah dari air itu dan semburlah pada wajah dan lehermu”.(H.R. Bukahri) [16]

2.        Tabarruk Nabi Ya’kub a.s. dengan baju qamis anaknya, Nabi Yusuf untuk kesembuhan matanya, sebagaimana diceritakan Allah dalam firman-Nya, Q.S. Yusuf : 93
اذْهَبُوا بِقَمِيصِي هَذَا فَأَلْقُوهُ عَلَى وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا وَأْتُونِي بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِينَ

Artinya :  Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku (Q.S. Yusuf : 93)

Mata Nabi Ya’kub sembuh seketika pada saat wajah beliau menyentuh qamis Nabi Yusuf , sebagaimana kisah selanjutnya dalam firman Allah :
فَلَمَّا أَنْ جَاءَ الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَى وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيرًا قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ.
Artinya : Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya'qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkata Ya'qub: "Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui tentang Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya. (Q.S. Yusuf : 96)

3.        Mengharap barakah dengan keringat Rasululah SAW, sebagaimana kisah dalam hadits di bawah ini :
عن أنس بن مالك قال كان النبي صلى الله عليه و سلم يدخل بيت أم سليم فينام على فراشها وليست فيه قال فجاء ذات يوم فنام على فراشها فأتيت فقيل لها هذا النبي صلى الله عليه و سلم نام في بيتك على فراشك قال فجاءت وقد عرق واستنقع عرقه على قطعة أديم على الفراش ففتحت عتيدتها فجعلت تنشف ذلك العرق فتعصره في قواريرها ففزع النبي صلى الله عليه و سلم فقال ما تصنعين ؟ يا أم سليم فقالت يا رسول الله نرجو بركته لصبياننا قال أصبت
 Artinya : Dari Anas bin Malik, Nabi SAW biasa memasuki rumah Ummu Sulaim dan tidur di atas kasurnya sedangkan Ummu Sulaim sedang pergi. Anas berkata: “Pada suatu hari Rasulullah SAW datang dan tidur di atas kasur Ummu Sulaim, kemudian Ummu Sulaim dipanggil dan dikatakan padanya: Ini adalah Nabi SAW tidur di rumahmu dan di atas kasurmu. Anas berkata : Ummu Sulaim datang dan Nabi sedang berkeringat, lalu keringatnya tersebut dikumpulkan di atas sepotong kulit yang ada di atas tikar. Kemudian Ummu Sulaim membuka talinya dan mulai meyerap keringat tersebut lalu memerasnya ke dalam botol, maka Nabi kaget dan berkata: Apa yang kamu lakukan Ummu Sulaim ? Ummu Sulaim berkata: Wahai Rasulullah kami mengharapkan berkahnya bagi anak-anak kami” Beliau berkata: Engkau benar (H.R. Muslim) [17]

4.        Tabarruk Asmaa binti Abu Bakar dengan jubah (baju) yang pernah digunakan oleh Rasulullah SAW dengan harapan kesembuhan dari penyakit, sebagaimana disebutkan riwayatnya dalam Shahih Muslim, yakni :
فَقَالَتْ هَذِهِ كَانَتْ عِنْدَ عَائِشَةَ حَتَّى قُبِضَتْ فَلَمَّا قُبِضَتْ قَبَضْتُهَا وَكَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يَلْبَسُهَا فَنَحْنُ نَغْسِلُهَا لِلْمَرْضَى يُسْتَشْفَى بِهَا
Artinya : Berkata Asma binti Abu Bakar r.a jubah itu disimpan di tempat 'Aisyah r.a  hingga beliau wafat, lalu aku mengambilnya. Nabi SAW biasa mengenakannya dan kami mencucinya untuk mengobati orang sakit.(H.R. Muslim) .[18]
5.        Tabarruk Nabi SAW dengan benda yang bersentuhan dengan tangan orang muslimin. Thabrany meriwayatkan dari Ibnu Umar, beliau berkata :
قلت يا رسول الله الوضوء من جر جديد مخمر أحب إليك أم من المطاهر ؟ قال لا بل من المطاهر إن دين الله يسر الحنيفية السمحة قال وكان رسول الله صلى الله عليه و سلم يبعث إلى المطاهر فيؤتى بالماء فيشربه يرجو بركة أيدي المسلمين.
  Artinya : Aku mengatakan, Ya Rasulullah, Apakah berwudhu’ dengan bejana baru yang tertutup ataukah tempat bersuci ? Rasulullah menjawab : “tidak”, tetapi dengan tempat bersuci saja, karena agama Allah itu mudah, lembut dan toleran. Ibnu Umar berkata : “Rasulullah bangkit menuju tempat bersuci mendatangi air dan beliau meminumnya mengharapkan berkah tangan-tangan kaum muslimin.(Hadits ini diriwayat oleh Thabrany dalam al-Ausath dengan  perawinya terpercaya)[19]
                    
Orang muslimin di sini, tentunya secara mudah dapat dipahami bahwa mereka adalah orang-orang yang shaleh. Hadits yang menerangkan ada keberkahan pada orang shaleh juga dapat dipahami dari riwayat Ibnu Abbas, beliau berkata :
أن النبي صلى الله عليه وسلم قال البركة مع أكابركم
Artinya : Sesungguhnya Nabi SAW bersabda : “Keberkahan itu ada pada orang yang mempunyai kelebihan diantara kamu”(H.R. Ibnu Hibban)[20]

6.        Tabarruk Bani Israil dengan benda yang bersentuhan dengan kitab suci, yaitu tabut yang menjadi tempat menyimpan kitab Taurat, sebagaimana disebut dalam firman Allah Q.S. al-Baqarah : 248,
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Artinya : Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.(Q.S. al-Baqarah : 248)

            Al-Baidhawy berkata :
   Apabila berperang, Musa a.s. membawa tabut, maka jiwa orang Bani Israil menjadi tenteram dan tidak akan lari dari peperangan”.[21]
           
Imam Syafi’i pernah bertabarruk dengan baju yang pernah dipakai oleh Ahmad bin Hanbal, sebagaimana kisah riwayat al-Baihaqi yang disebut dalam kitab al-Bidayah wal-Nihayah karya Ibnu Katsir, yakni :
وروى البيهقي عن الربيع قال بعثني الشافعي بكتاب من مصر إلى أحمد بن حنبل، فأتيته وقد انتفل من صلاة الفجر فدفعت إليه الكتاب فقال أقرأته ؟ فقلت : لا ! فأخذه فقرأه فدمعت عيناه، فقلت: يا أبا عبد الله وما فيه ؟ فقال: يذكر أنه رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم في المنام فقال: اكتب إلى أبي عبد الله أحمد بن حنبل وأقرأ عليه مني السلام وقل له: إنك ستمتحن وتدعى إلى القول بخلق القرآن فلا تجبهم، يرفع الله لك علما إلى يوم القيامة. قال الربيع: فقلت حلاوة البشارة، فخلع قميصه الذي يلي جلده فأعطانيه، فلما رجعت إلى الشافعي أخبرته قال: إني لست أفجعك فيه، ولكن بله بالماء وأعطينيه حتى أتبرك به.
“Diriwayat oleh al-Baihaqi dari al-Rabi’, beliau  berkata : Imam Syafii memerintahkanku agar membawakan surat dari Mesir menemui Imam Ahmad ibn Hanbal. Setelah beliau selesai menunaikan shalat sunat fajar, aku menemuinya dan  menyerahkan surat tersebut, beliau berkata : “Apakah kamu sudah membacanya ?”. Tidak ! jawabku.  Ahmad bin Hanbal mengambil dan membacanya, lalu beliau meneteskan air mata. Aku bertanya : Ya Abu Abdullah, ada apa di dalamnya? Ahmad menjawab Syafi’i menyebut bahwa beliau melihat Nabi dalam mimpi dan berkata kepadanya, Tulislah surat kepada Abu Abdillah Ahmad ibn Hanbal dan sampaikan salamku kepadanya! Dan katakan, Engkau akan diuji dan dipaksa mengatakan bahwa Alquran itu makhluq, maka jangan engka turuti permintaan mereka, Allah akan meninggikan derajatmu sebagai panutan di setiap masa hingga hari kiamat. Al-Rabi berkata, Aku berkata, Ini kabar gembira. Lalu Ahmad melepas baju dalamnya yang menyentuh badannya dan menyerahkannya kepadaku. Setelah sampai kembali kepada Syafi’i, aku beritakanlah semuanya  kepada beliau. Syafii berkata kepadaku,” Aku tidak ingin menyakitimu perihal itu (merampasnya darimu), tapi basahilah dia dan serahkan kepadaku sisa air cuciannya agar aku mendapat berkah dengannya.”(Riwayat al-Baihaqi)[22]

Haram azimat dengan tulisan-tulisan yang tidak diketahui maknanya karena dikuatirkan ada unsur syirik

Hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW, antara lain :
1.        Hadits berbunyi :  
أَنَّهُمْ كَانُوا يَقُولُونَ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنِ الرُّقَى حِتى قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَكَانَتِ الرُّقَى فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ فِيهَا كَثِيرٌ مِنْ كَلَامِ الشِّرْكِ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ لُدِغَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ كَانَ آلُ حَزْمٍ يَرْقُونَ مِنَ الْحُمَةِ فَلَمَّا نَهَيْتَ عَنِ الرُّقَى تَرَكُوهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ادْعُوا لِي عُمَارَةَ وَكَانَ قَدْ شَهِدَ فَقَالَ اعْرِضْ عَلَيَّ رُقْيَتَكَ فَعَرَضَهَا عَلَيْهِ فَلَمْ يَرَ بِهَا بَأْسًا وَأَذِنَ لَهُمْ بِهَا
Artinya : Sesungguhnya mereka mengatakan, bahwa Rasulullah SAW telah melarang ruqyah sehingga tiba di Madinah, pada ketika itu, ruqyah banyak terdiri dari kalam syirik.  Tatkala salah seorang sahabat Nabi disengat binaang berbisa, mereka mengatakan kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, orang-orang Hazam terbiasa melakukan ruqyah karena sakit panas, tetapi manakala engkau melarangnya, merekapun meninggalkannya. Rasulullah SAW berkata, “Panggillah ‘Umarah kepadaku.”(Umarah ini pernah ikut perang Badar), kemudian Rasulullah berkata kepada Umarah, “Nampakkanlah ruqyahmu kepadaku!”, Kemudian Umarahpun memperlihatkannya, lalu Rasulullah SAW tidak melihat ada masalah dengan ruqyah tersebut, maka beliau mengizinkan mereka menggunakan ruqyah tersebut.(H.R. Ibnu Wahab)[23]

Riwayat ini selengkapnya juga disebut dalam kitab al-Tamhid karangan Ibnu Abd al-Bar.[24]
2.        Dari ‘Auf bin Malik al-Aysja’i, beliau berkata :
كُنَّا نَرْقِيْ فِيْ الجَاهِلِيَّةِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ؟ فَقَالَ: اعْرِضُوْا عَلَيّ رُقَاكُمْ، لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ
Artinya : Pada zaman Jahiliyah, kita selalu melakukan ruqyah. Lalu kami bertanya kepada Rasulullah, bagaimana pendapatmu ya Rasulullah tentang hal itu. Rasulullah menjawab: “Coba tunjukkan azimatmu itu padaku. Membuat azimat tidak apa-apa selama di dalamnya tidak terkandung kesyirikan. (H.R. Muslim)[25]







[1] Al-Razy, Mukhtar al-Shihah, Darul Fikri, Beirut, Hal. 87
[2] Al-Manawy, Faidul Qadir, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 341
[3] Ahmad bin Hambal, Musnad Ahmad, Maktabah Syamilah, Juz. VI, Hal. 110, No. hadits : 3615
[4] Ahmad bin Hambal, Musnad Ahmad, Maktabah Syamilah, Juz. ْْXXVIII, Hal. 623, No. hadits : 17404
[5] Ahmad bin Hambal, Musnad Ahmad, Maktabah Syamilah, Juz. ْْXXVIII, Hal. 637, No. hadits : 17422
[6] Al-Manawy, Faidul Qadir, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 341
[7] Al-Manawy, Faidul Qadir, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 341
[8] Ibnu Mulaqqan, al-Tauzhih li Syarh al-Jami’ al-Shahih, Wazarah al-Auqaf al-Syu-un al-Islamiyah, Qathar, Juz. XXVII, Hal. 492
[9] Ibnu Mulaqqan, al-Tauzhih li Syarh al-Jami’ al-Shahih, Wazarah al-Auqaf al-Syu-un al-Islamiyah, Qathar, Juz. XXVII, Hal. 492
[10] Ibnu Abd al-Bar, al-Tamhid, Maktabah Syamilah, XXIII, Hal. 155
[11] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 1724, No. Hadits : 2194
[12] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 1728, No. Hadits : 2202
[13] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 1727, No. Hadits : 2200
[14] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihya at-Turatsi al-Araby, Beirut, Juz. IV, Hal. 1727, No. Hadits : 2201
[15] An-Nawawi, Syarah Muslim, Dar Ihya at-Turatsi al-Araby, Beirut, Juz. XIV, Hal. 188
[16] Bukhari, Shahih Bukhari, Dar Thauq an-Najh, Juz. I, Hal. 49, No. Hadits : 188
[17] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. IV, Hal.1815-1816,  No. Hadits : 2331
[18] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. VI, Hal. 139, No. Hadits 5530
[19] Al-Haitsamy, Mujma’ al-Zawaid, Darul Fikri, Beirut, Juz. I, Hal. 502, No. Hadits : 1071
[20] Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban ma’a Hawasyi al-Arnauth Kamila, Maktabah Syamilah, Juz. XII, Hal. 139
[21] Al-Baidhawy, Tafsir al-Baidhawy, Muassasah Sya’ban, Beirut, Juz. I, Hal. 253
[22] Ibnu Katsir, al-Bidayah wal Nihayah, Maktabah Syamilah, Juz. X, Hal. 365
[23] Ibnu Mulaqqan, al-Tauzhih li Syarh al-Jami’ al-Shahih, Wazarah al-Auqaf al-Syu-un al-Islamiyah, Qathar, Juz. XXVII, Hal. 492
[24] Ibnu Abd al-Bar, al-Tamhid, Maktabah Syamilah, XXIII, Hal. 155
[25] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 1727, No. Hadits : 2200