Senin, 27 Oktober 2014

Sunnah Membaca Basmallah di Tengah Surat dalam Shalat

Membaca basmalah tetap disunahkan meskipun membaca al-Qur'an bukan pada ayat pertama tetapi di tengah-tengahnya, ini baik dalam di luar shalat maupun di dalam shalat. Dalam Fathul Muin, Zainuddin al-Malibary mengatakan :
تسن التسمية لتلاوة القران و لو من اثناء سورة فى صلاة او خارجها و لغسل و تيمم و ذبح
Disunnahkan membaca basmalah ketika membaca al-Qur'an meskipun berada di tengah-tengah surat baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Sunnah juga ketika mandi, tayamum dan menyembelih”[1]

Dalam Kitabusshalah kitab Fathul Muin juga, Zainuddin al-Malibarry bahkan menegaskan bahwa kesunnahan membaca basmallah ketika mulai membaca di tengah-tengah surat merupakan nash dari Imam Syafi’i. Perkataan al-Malibarry tersebut adalah :
ويسن لمن قرأها من أثناء السورة البسملة نص عليه الشافعي
“Sunnah membaca basmallah bagi orang-orang yang membacanya pada tengah-tengah surat. Ini merupakan nash Imam Syafi’i.”[2]
                                                                                                                               
Fatwa di atas didasarkan kepada sabda Nabi SAW berbunyi : 
كل أمر ذي بال لايبدأ فيه ببسم الله فهو أقطع
Artinya : Sesuatu pekerjaan yang penting yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah adalah buntung, yakni tidak ada hasilnya. (H.R. Abu Daud)

Imam al-Nawawi setelah mengatakan meriwayat hadits ini dalam kitab Sunan Abu Daud, beliau mengatakan bahwa beliau telah meriwayat juga hadits ini dari kitab al-Arba’in karya al-Hafizh Abd al-Qadir al-Rahawy, kemudian al-Nawawi mengatakan, hadits ini kualitasnya hasan.[3]



[1] Zainuddin al-Malibarry, Fathul Muin, (dicetak pada hamisy I’anah al-Thalibin), Thaha Putra, Semarang, Juz. I, Hal. 44
[2] Zainuddin al-Malibarry, Fathul Muin, (dicetak pada hamisy I’anah al-Thalibin), Thaha Putra, Semarang, Juz. I, Hal. 149
[3] Al-Nawawi, al-Azkar, al-Haramain, Singapura, Hal. 103

Minggu, 26 Oktober 2014

Hewan Sembelihan pada Aqiqah

Dalam kitab al-Muhazzab, Syeikh al-Syairazi menjelaskan bahwa aqiqah dengan menyembelih hewan untuk menyambut kelahiran anak, hukumnya adalah sunnah berdasarkan hadits Nabi SAW dari Buraidah berbunyi :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عن الحسن والحسين عليهما السلام
Artinya : Sesungguhnya Nabi SAW telah melakukan aqiqah untuk Hasan a.s. dan Husein a.s. (H.R. al-Nisa-i)

dan perintah aqiqah itu tidak wajib karena bersandarkan kepada riwayat Abdurrahman bin Abi Sa’id dari bapaknya berkata, sesungguhnya Nabi SAW ditanyai mengenai aqiqah, maka beliau bersabda :
ومن ولد له ولد فاحب أن ينسك له فليفعل
Artinya : Barangsiapa yang mempunyai anak, maka ia menyukai melakukan ibadah untuk anaknya, maka lakukanlah. (H.R. Abu Daud dan Baihaqi)

Perintah melakukan melakukan aqiqah dalam hadits di atas disangkutkan kepada menyukai/mencintai, karena itu menunjukkan kepada tidak wajib. Alasan lain yang menunjukkan kepada tidak wajib adalah karena aqiqah merupakan menumpah darah yang bukan karena jinayat dan nazar, maka ia sama halnya dengan hukum qurban.
Adapun yang sunnah disembelih adalah dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan seekor kambing untuk anak perempuan. Sunnah ini berdasarkan hadits Nabi SAW riwayat Ummu Kurz berbunyi :
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عن العقيقة فقال للغلام شاتان مكافئتان وعن الجارية شاة
Artinya : Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang aqiqah, beliau sabda : untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sama keduanya dan untuk anak perempuan seekor kambing.(H.R Abu Daud, Turmidzi, al-Nisa-i dan Ibnu Majah.)

Alasan lain kenapa anak laki-laki lebih banyak adalah karena aqiqah disyari’atkan untuk menunjukkan kegembiraan lahir anak, sedangkan kegembiraan dengan muncul anak laki-laki lebih besar. Karena itu, penyembelihan untuk anak laki-laki lebih patut di lebih banyak. Adapun apabila disembelih untuk anak laki hanya satu ekor kambing, maka itu diperbolehkan juga, karena bersandar kepada hadits Nabi SAW riwayat dari Ibnu Abbas berkata :
عق رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الحسن والحسين عليهما السلام كبشا كبشا
Artinya : Rasulullah SAW pernah melakukan aqiqah untuk Hasan .a.s dan Husein a.s. masing-masing satu ekor kambing.(H.R. Abu Daud)

Demikian penjelasan Syeikh al-Syairazi dalam kitab al-Muhazzab.[1]
Imam al-Nawawi dalam Majmu’ Syarah al-Muhazzab menjelaskan bahwa hadits Buraidah di atas diriwayat oleh al-Nisa-i dengan isnad shahih. Adapun hadits kedua, yaitu hadits riwayat Abdurrahman bin Abi Sa’id dari bapaknya telah diriwayat oleh Abu Daud dan Baihaqi dengan dua jalur sanad. Kedua jalur tersebut dha’if, namun Baihaqi mengatakan hadits ini kuat karena datang dari dua jalur. Adapun hadits Ummu Kurz telah diriwayat oleh Abu Daud, Turmidzi, al-Nisa-i dan Ibnu Majah. Turmidzi mengatakan, hadits ini shahih. Sedangkan hadits Ibnu Abbas di atas telah diriwayat oleh Abu Daud dengan isnad shahih.[2]
Menurut mazhab Syafi’i dibolehkan juga aqiqah dengan unta dan lembu/kerbau sebagaimana halnya aqiqah dengan kambing. Dalam Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Imam al-Nawawi mengatakan :
مَذْهَبُنَا جَوَازُ الْعَقِيقَةِ بِمَا تَجُوزُ بِهِ الْأُضْحِيَّةُ مِنْ الابل والبقر والغنم وبه قال أنس ابن مَالِكٍ وَمَالِكُ بْنُ أَنَسٍ
“Mazhab kita (mazhab Syafi’i) boleh aqiqah dengan hewan-hewan yang dibolehkan pada qurban, yakni unta, lembu dan kambing. Pendapat ini juga merupakan pendapat Anas bin Malik dan Malik bin Anas.”[3]

Dalam mengomentari perkataan pengarang al-Minhaj, Qalyubi mengatakan :
قَوْلُهُ: (بِشَاتَيْنِ) وَأَفْضَلُ مِنْهُمَا ثَلَاثٌ وَمَا زَادَ إلَى سَبْعٍ ثُمَّ بَعِيرٌ ثُمَّ بَقَرَةٌ وَكَالشَّاتَيْنِ سَبُعَانِ مِنْ نَحْوِ بَدَنَةِ فَأَكْثَرَ، وَتَجُوزُ مُشَارَكَةُ جَمَاعَةٍ سَبْعَةٍ فَأَقَلَّ فِي بَدَنَةٍ أَوْ بَقَرَةٍ سَوَاءٌ كَانَ كُلُّهُمْ عَنْ عَقِيقَةٍ أَوْ بَعْضُهُمْ عَنْ أُضْحِيَّةٍ أَوْ لَا، وَلَا كَمَا مَرَّ
“Perkataan pengarang : (dengan dua ekor kambing), yang lebih utama dari itu adalah tiga ekor atau lebih dari itu sampai tujuh ekor, kemudian unta, kemudian lembu. Sama dengan dua ekor kambing sepertujuh dari seumpama seekor unta atau lebih. Dibolehkan berkongsi jama’ah tujuh orang atau kurang pada seekor unta atau lembu, baik semuanya untuk aqiqah atau sebagiannya untuk qurban ataupun tidak  semuanya untuk aqiqah dan tidak sebagiannya untuk qurban sebagaimana yang telah lalu.”[4]
                     
              Berdasarkan dari dhahir nash-nash kitab fiqh Syafi’i di atas, dapat dipahami bahwa kebolehan aqiqah dengan unta dan lembu ini, karena diqiyaskan kepada hewan-hewan yang disembelih pada qurban, karena sebagaimana dimaklumi bahwa hukum aqiqah banyak disamakan dengan dengan qurban pada syara’.



[1] Al-Syairazi, al-Muhazzab, (Dicetak dalam Majmu’ Syarah al-Muhazzab), Maktabah al-Irsyad, Jeddah,  Juz. VIII, Hal. 406
[2] Al-Nawawi, Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah,  Juz. VIII, Hal. 407
[3] Al-Nawawi, Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah,  Juz. VIII, Hal. 431
[4] Qalyubi, Hasyiah Qalyubi wa ‘Amirah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. IV, Hal. 255

Sabtu, 25 Oktober 2014

Kembali untuk membaca takbir setelah membaca Fatihah dalam shalat ‘Aid.

kepseksmpislamalaziziyah@: imam shalat hari raya tidak takbir sebelum fatihah.dan teringat teringat sesudah membaca bismillah fatihah dan ia kembali membaca fatihah.apakakah sah shalatnya.kalau sah tlg referensinya kitab pa tgk
18 Oct 14, 07:20 PM

Jawab :
tidak disunnatkan kembali lagi, namun apabila kembali juga , maka tidak batal shalat, karena ini hanya pada rukun qauli, bukan rukun fi'li.
Dalam I’anah al-Thalibin disebutkan (Juz. I/262 Cet. Thaha Putra-Semarang) :
فإن شرع فيها قبل التكبيرات فإن كانت تلك القراءة التعوذ أو السور قبل الفاتحة لم تفت.وإن كانت الفاتحة فاتت لفوات محلها فلا يسن العود إليها، فإن عاد إليها قبل الركوع عامدا عالما لا تبطل صلاته، أو بعد الركوع بأن ارتفع ليأتي بها بطلت صلاته.

“Seandainya seseorang telah masuk dalam qiraah sebelum takbir, jika qiraah itu membaca ta’awuzz atau surat-surat sebelum membaca fatihah, maka tidak luput takbir itu, tetapi jika qiraah itu adalah fatihah, maka luputlah sunnah membaca takbir karena luput tempat takbir, maka tidak disunnatkan kembali membacanya. Dan jika kembali kepada membaca takbir sebelum ruku’ secara sengaja dan mengetahui, maka tidak batal shalatnya atau sesudah ruku’ dengan cara mengangkatkan kepalanya lagi untuk membaca takbir kembali, maka batallah shalatnya.”

Jumat, 03 Oktober 2014

Qurban dengan Hewan Betina



Qurban merupakan salah satu amalan sunnah dalam Islam. Ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala berbunyi :
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ
Artinya : Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap bahimatul an’am (binatang ternak) yang telah direzkikan Allah kepada mereka” (QS. Al-Hajj : 34).

Adapun  mengenai jenis kelamin binatang ternak yang diqurban itu boleh jantan dan boleh juga betina. Al-Syairazi salah seorang ulama Syafi’iyah terkenal mengatakan :
ويجوز فيها الذكر والانثى لما روت أم كرز عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قال (على الغلام شاتان وعلى الجارية شاة لا يضركم ذكرانا كن أو أناثا) وإذا جاز ذلك في العقيقة بهذا الخبر دل على جوازه في الاضحية ولان لحم الذكر أطيب ولحم الانثى أرطب
“Boleh berqurban dengan yang jantan dan betina karena riwayat Ummu Kurz dari Nabi SAW beliau bersabda : “"Anak laki-laki hendaklah diaqiqah dengan dua ekor kambing, sedangkan anak perempuan dengan seekor kambing. Tidak mengapa bagi kalian memilih yang jantan atau betina dari kambing tersebut." Jika dibolehkan jantan dan betina dalam aqiqah berdasarkan hadits di atas, maka ini menunjukkan boleh juga dalam hal qurban. Dan juga karena daging kambing jantan lebih enak, sedangkan kambing betina lebih basah."[1]

Hadits Ummu Kurz di atas telah diriwayat oleh Abu Daud, al-Turmidzi, al-Nisa-i, Ibnu Majah dan lainnya. Imam al-Nawawi mengatakan, hadits tersebut kualitasnya hasan.[2]
Fatwa ulama yang senada dengan ini dapat kita simak antara lain :
1.        Imam al-Nawawi dalam kitab beliau, Majmu’ Syarah al-Muhazzab :
يَصِحُّ التَّضْحِيَةُ بِالذَّكَرِ وَبِالْأُنْثَى بِالْإِجْمَاعِ
“Sah berqurban dengan jantan dan betina secara ijmak ulama.”[3]

2.        Dalam kitab Mughni al-Muhtaj disebutkan :
ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺫﻛﺮ ﻭﺃﻧﺜﻰ ﺃﻯ ﺍﻟﺘﻀﺤﻴﺔ ﺑﻜﻞ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﺑﺎﻹﺟﻤﺎﻉ
“Boleh berqurban dengan jantan dan betina secara ijmak ulama.”[4]

3.        Imam al-Ramli mengatakan :
ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺫﻛﺮ ﻭﺃﻧﺜﻰ ﻭﺧﻨﺜﻰ ﻟﻜﻦ ﺍﻟﺬﻛﺮ ﻭﻟﻮ ﺑﻠﻮﻥ ﻣﻔﻀﻮﻝ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﻈﻬﺮ ﺃﻓﻀﻞ
“Boleh qurban jantan dan betina, tetapi jantan lebih utama menurut pendapat yang dhahir, meskipun jantan itu bentuknya kurang bagus.”[5]

Berdasarkan keterangan Imam al-Ramli di atas, meskipun yang jenis kelamin betina sah dijadikan qurban, namun yang jantan lebih utama dijadikan sebagai hewan qurban. Hal ini mengingat yang jantan lebih baik dagingnya dan lebih mahal, sedangkan kita disyariatkan agar memilih hewan sebaik mungkin untuk  qurban. Sehingga pahalanya lebih besar. Allah berfirman :
وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
Artinya : Barang siapa yang mengagungkan syiar Allah maka itu menunjukkan ketakwaan hati.” (Q.S. al-Hajj : 32)



[1] Al-Syairazi, al-Muhazzab, (dicetak dalam Majmu’ Syarah al-Muhazzab), Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz. VIII, Hal. 364
[2] Al-Nawawi, Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz. VIII, Hal. 364
[3] Al-Nawawi, Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz. VIII, Hal. 369
[4] Khatib Syarbaini, Mughni al-Muhtaj, Darul Ma’rifah, Beirut, Juz. IV, Hal. 379
[5] Al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. VIII, Hal. 133

Rabu, 24 September 2014

Allah Bukan di Langit (bag.1)



Salah satu keyakinan Islam yang wajib diyakini adalah bahwa Allah Ta’ala itu tidak berada di suatu tempat, tidak di langit dan tidak di bumi. Keyakinan keberadaan Allah di langit ini merupakan sebuah keyakinan sesat dan menyesatkan. Keyakinan Allah bertempat di langit berawal dari keyakinan kelompok yang sering disebut sebagai kelompok mujassimah (kelompok yang menyatakan tuhan bersifat dengan sifat benda. Pada zaman sekarang mereka sering menamakan dirinya sebagai kaum Salafi).
Berikut ini keterangan para ulama besar Ahlussunnah wal Jama’ah yang menjelaskan bahwa Allah tidak bertempat di langit, yakni sebagai berikut :
1.        Abd al-Qahir al-Bagdadi (w. 429 H) dalam kitabnya al-Farq baina al-Firaq mengatakan :
واجمعوا على انه لا تحويه السماء ولا يجري عليه الزمان
“Telah terjadi ijmak ulama bahwa Allah Ta’ala itu tidak diliputi oleh langit dan tidak berlaku zaman atas-Nya.”

Masih dalam kitab dan halaman yang sama untuk menguatkan pernyataan beliau di atas, al-Baghdadi mengutip perkataan Sayyidina Ali r.a. sebagai berikut :
إن الله تعالى خلق العرش إظهارًا لقدرته لا مكانا لذاته
“Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan arasy untuk menampakkan kekuasaan-Nya, bukan untuk tempat zat-Nya.”

dan perkataan Sayyidina Ali r.a yang lain :
قد كان ولا مكان، وهو الان على ما كان
Adalah Allah, tiada tempat bagi-Nya, dan Dia sekarang sebagaimana sebelumnya”[1]

2.        Ibnu al-Jauzi (w. 597 H), salah seorang ulama hadits bermazhab Hanbali menyebut dalam kitabnya, Daf’u Syubah al-Tasybih bi Akaffi al-Tanzih sebagai berikut :
قد ثبت عند العلماء أن الله تعالى لا تحويه السماء والارض ولا تضمه الاقطار ، وإنما عرف بإشارتها تعظيم الخالق عندها .
“Telah tetap di kalangan para ulama bahwa Allah Yang Maha Tinggi tidak diliputi oleh langit dan bumi dan tidak pula dihimpun oleh penjuru. Akan tetapi ditunjuk kearah langit sebagai pengagungan Dzat Maha Pencipta.”[2]

3.        Mulla Ali al-Qarii (w. 1014 H), seorang ulama hadits terkenal dalam kitabnya Syarh Fiqh al-Akbar karya Abu Hanifah, mengatakan bahwa Syeikh al-Imam Ibnu Abdussalam dalam kitabnya Hall al-Rumuz mengatakan :
قال الامام ابو حنيفة رضي الله عنه : من قال لا اعرف الله تعالى في السماء هو ام في الارض فقد كفر لان هذا القول يوهم ان للحق مكانا ومن توهم ان للحق مكانا فهو مشبه
“Imam Abu Hanifah mengatakan, Barangsiapa yang mengatakan saya tidak tahu apakah Allah berada di langit ataukah berada di bumi maka dia telah kafir, karena perkataan ini memberikan persangkaan bahwa Allah bertempat, dan barang siapa yang menyangka bahwa Allah bertempat maka ia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluq-Nya.”

Seterusnya Mulla Ali al-Qarii mengatakan, tidak diragukan bahwa Ibnu Abdussalam adalah seorang ulama besar dan sangat terpercaya, maka wajib berpegang pada kutipannya.[3]

4.        Ibnu Hajar al-Asqalany (w. 852 H), seorang ahli hadits terkenal bermazhab Syafi’i mengatakan dalam kitabnya, Fathul Barri sebagai berikut :
فإن إدراك العقول لاسرار الربوبية قاصر فلا يتوجه على حكمه لم ولا كيف ؟ كما لا يتوجه عليه في وجوده أين. ‍
“Sesungguhnya jangkauan akal terhadap rahasia-rahasia ketuhanan itu terlampau pendek untuk menggapainya, maka tidak boleh dialamatkan untuk menetapkan-Nya, mengapa dan bagaimana begini? Sebagaimana tidak boleh juga mengalamatkan kepada keberadaan Zat-Nya, di mana?.”[4]

     Keyakinan adanya Allah di langit bertentangan dengan penjelasan al-Asqalani di atas yang mengatakan bahwa wujud Allah tidak dapat diisyaratkan dengan kata-kata : “di mana?”. Karena langit merupakan tempat yang dapat menjadi jawaban pertanyaan “di mana”.

5.        Al-Zabidi telah menukil perkataan Imam Syafi’i dalam kitabnya, Ittihaf al-Saadah al- Muttaqin bi Syarh Ihya ‘Ulumuddin sebagai berikut :
إنه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكان لا يجوز عليه التغيير في ذاته ولا التبديل في صفاته.
“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah ada sedangkan tempat belum ada. Lalu Dia menciptakan tempat. Dia tetap atas sifat-Nya sejak azali sebagaimana sebelum Dia menciptakan tempat. Mustahil atas-Nya perubahan dalam Dzat-Nya dan pergantian pada sifat-Nya.” [5]

6.        Imam Ghazali  (w. 505 H) menegaskan dalam kitab beliau yang terkenal, yaitu Ihya ‘Ulumuddin sebagai berikut :
ولا يحل فيه شئ تعالى عن ان يحويه مكان كما تقدس عن ان يحده زمان بل كان قبل ان خلق الزمان والمكان وهو الان على ما عليه كان
“Tidak menempati pada-Nya sesuatupun, Maha Suci Allah dari meliputi oleh tempat sebagaimana Maha Suci Dia dari pembatasan oleh zaman, tetapi Dia telah ada sebelum diciptakan zaman dan tempat, Dia sekarang sebagaimana ada sebelumnya.”[6]

7.        Imam al-Juwaini (w. 478 H), guru dari Imam al-Ghazali mengatakan dalam kitab al-Isyad sebagai berikut :
ومذهب اهل الحق قاطبة ان الله سبحانه وتعالى يتعالى عن التحيز والتخصيص بالجهات
“Mazhab ahlul haq dari ulama quthub sesungguhnya Allah SWT Maha Suci dari mengambil tempat dan dari dibatasi dengan arah.”[7]


8.        Dalam Matan al-Aqidah al-Thahawiyah, Imam al-Thahawi al-Hanafi dalam menjelaskan  akidah Ahlussunnah wal Jama’ah berdasarkan akidah Abu Hanifah, Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim al-Anshary dan Abu Abdullah Muhammad bin Hasan al-Syaibani, beliau mengatakan :
لا تحويه الجهات الست
“Allah itu tidak diliputi oleh jihat (arah) yang enam.[8]

Mengatakan Allah bertempat di langit berarti mengi’tiqadkan Allah berada pada salah satu arah yang enam, yaitu arah atas. Dengan demikian, i’tiqad Allah bertempat di langit bertentangan dengan keterangan yang telah dijelaskan oleh Imam al-Juwaini dan al-Thahawi di atas.
9.        Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh dalam keputusan fatwanya No. 09 Tahun 2014, Tanggal 25 Juni 2014 memutuskan antara lain :
a.       Mengimani bahwa zat Allah hanya di atas langit/arasy adalah sesat dan menyesatkan.
b.      Mengimani bahwa zat Allah terikat dengan waktu, tempat dan arah (berjihat) adalah sesat dan menyesatkan.

Dalil-dalil yang menegaskan keyakinan bahwa Allah tidak bertempat di langit

1.        Firman Allah Ta’ala berbunyi :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya : Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.(Q.S. al-Syuraa : 11)
Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya. Seandainya Allah mempunyai tempat seperti langit dan arah, maka akan serupa dengan-Nya. Karena dengan demikian, berarti ia memiliki dimensi (panjang, lebar dan tinggi), sedangkan panjang, lebar dan tinggi merupakan sifat yang khusus terdapat pada benda yang baharu.

2.        Ijmak para ulama bahwa tidak ada yang azali dan qadim selain Allah ini sesuai dengan firman Allah Q.S al-Hadid : 3, berbunyi :
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ
Artinya : Dia (Allah) yang awal dan yang akhir (Q.S al-Hadid : 3)

Dalam ayat lain Allah berfirman, yakni  Q.S. al-An’am : 101, berbunyi :
وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Artinya : Dia (Allah) menciptakan segala sesuatu dan Dia mengetahui segala sesuatu.( Q.S. al-An’am : 101)

Allah Ta’ala dengan gamblang menjelaskan melalui firman-Nya ini bahwa semua yang ada merupakan ciptaan-Nya, jadi tidak ada sesuatupun selain-Nya yang bukan ciptaan Allah. Sesuatu disebut sebagai ciptaan tentu merupakan sesuatu yang ada sesudah tidak ada. Dengan demikian, tidak ada yang qadim dan azali selain Allah.
Hadits Nabi SAW di bawah ini juga mendukung keyakinan bahwa tidak ada yang qadim selain Allah, yakni sabda Nabi SAW yang berbunyi :
كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ
Artinya : Ada Allah tidak ada sesuatupun selain-Nya (H.R. Bukhari) [9]

Berdasarkan firman Allah dan hadits di atas, maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat (langit) dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baharu (makhluk). Seandainya Allah berada pada suatu tempat (langit), maka Allah tentu menyerupai makhluq, yakni berpindah dari azal kepada langit yang datang kemudian (yang diciptakannya). 

3.        Firman Allah Ta’ala berbunyi :
قُلْ لِمَنْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلْ لِلَّهِ
Artinya : Katakanlah: "Milik siapakah apa yang ada di langit dan di bumi." Katakanlah: "Milik Allah." (Q.S. al-An’am : 12)

Berdasarkan ayat ini, maka semua yang ada di langit dan bumi adalah milik Allah Ta’ala. Karena itu, apabila kita mengatakan Allah bertempat di langit, maka Allah itu menjadi milik Allah juga. Tentu ini mustahil terjadi, karena Allah tidak mungkin memiliki diri-Nya sendiri.

4.        Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda dalam doanya :
اللهم أنت الاول فليس قبلك شئ وأنت الآخر فليس بعدك شئ وأنت الظاهر فليس فوقك شئ وأنت الباطن فليس دونك شئ اقض عنا الدين واغننا من الفقر
Artinya : Ya Allah, Engkaulah Zat Yang Maha Awal, maka tiada sesuatupun sebelum-Mu. Engkaulah Zat Yang Maha Akhir, maka tiada sesuatupun  setelah-Mu. Engkaulah Zat Yang Maha Dzahir maka tiada sesuatupun di atas-Mu dan Engkaulah Zat yang Maha Bathin maka tiada sesuatu di bawah-Mu. Ya Allah lunasilah hutangku dan kayakan aku dari kefakiran. (H.R. Muslim)[10]

Dalam kitab al-Asmaa wa al-Shifat, al-Baihaqi menyebutkan bahwa sebagian ulama telah menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa Allah Ta’ala tidak bertempat. Penjelasannya, apabila di atas Allah tidak ada sesuatupun dan di bawah-Nya juga tidak ada sesuatu, maka Allah tidak berada di tempat manapun.[11]

5.        Hadits riwayat Abu Ya’la dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda :
أذن لي أن أحدث عن ملك قد مرقت رجلاه في الارض السابعة والعرش على منكبه  وهو يقول سبحانك أين كنت وأين تكون
Artinya : Aku telah diizinkan untuk menyampaikan berita bahwa ada seorang malaikat yang kedua kakinya terperosok dalam bumi lapis ketujuh  sedang Arasy berada di pundaknya, ia berkata, “Maha Suci Allah (dari) di mana Engkau? Di mana Engkau nanti?(H.R. Abu Ya’la)[12]

Al-Haitsami mengatakan, rijalnya rijal shahih.[13] Berdasarkan hadits ini, malaikat bertasbih dengan mengucapkan Maha Suci Allah dari pertanyaan di mana Allah?. Seandainya Allah bertempat di langit, maka tasbih malaikat yang tersebut dalam hadits di atas tentu tidaklah tepat. Ini menunjukan bahwa Allah Ta’ala itu tidak bertempat, baik di langit maupun di manapun.

Catatan :
Hadits-hadits shahih yang kami kemukakan di atas meskipun derajatnya ahad (dhanni wurud), tetapi kandungannya adalah qath’i, mengingat kandungan hadits tersebut bersesuaian dengan maksud firman Allah di atas.

Bersambung ke bag.2 (Bantahan terhadap syubhat-syubhat kaum yang berkeyakinan bahwa Allah bertempat di langit)


[1] Abd al-Qahir al-Baghdadi, al-Farq baina al-Firaq, Maktabah Ibnu Sina, Kairo, Hal. 287
[2] Ibnu al-Jauzi, Daf’u Syubah al-Tasybih bi Akaffi al-Tanzih, Dar al-Imam al-Rawas, Beirut, Hal. 189
[3] Mulla Ali al-Qarii, Syarah Fiqh al-Akbar, Hal. 137-138
[4] Ibnu Hajar al-Asqalany, Fathul Barri, al-Maktabah al-Salafiyah, Juz. I, Hal. 221
[5] Al-Zabidi, Ittihaf al-Saadah al- Muttaqin , Muassisah li Tarikh al-Araby, Beirut, Juz. II, Hal. 24
[6] Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Thaha Putra, Semarang, Juz. I, Hal. 89
[7] Al-Juwaini, al-Irsyad, Maktabah al-Khaaniji, Mesir, Hal. 39
[8] al-Thahawi, Matan al-Aqidah al-Thahawiyah, al-Maktab al-Islami, Hal. 7
[9] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 129
[10] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 2084, No. 2713
[11] Al-Baihaqi, al-Asmaa wa al-Shifat, al-Maktabah al-Azhariyah lil Turatsi,  Hal. 373
[12] Abu Ya’la, Musnad Abu Ya’la, Maktabah Syamilah, Juz. XI, Hal. 496, No. 6619
[13] Al-Manawi, Faidh al-Qadir, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 458.