Minggu, 03 Maret 2013

Masalah-masalah dha’if dalam Matan al-Ghayah wa al-Taqrib (bag.4 : Kitab Haji)


1.        Dalam kitab Haji disebutkan :
وواجبات الحج غير الأركان ثلاثة أشياء :الإحرام من الميقات، ورمي الجمار الثلاث، والحلق
Artinya : Wajib haji selain rukun ada tiga perkara, yaitu ihram di miqat, melempar jamarah yang tiga dan mencukur.[1]

Pernyataan pengarang, bahwa mencukur termasuk salah satu wajib haji adalah dha’if, karena pendapat yang mu’tamad mencukur rambut termasuk rukun haji sebagaimana keterangan ulama di bawah ini :
a.    Ibrahim al-Bajuri mengatakan :
وقد علمتَ غير ما مرة أن عد الحلق أو التقصير من الواجبات ضعيف، والمعتمد أنه من الأركان
Artinya : Sesungguhnya telah dimaklumi bukan satu kali bahwa menghitung mencukur atau menggunting rambut termasuk wajib haji adalah dha’if, sedangkan pendapat yang mu’tamad mencukur atau menggunting rambut termasuk rukun.[2]

b.    Dalam Syarah al-Mahalli ‘ala al-Minhaj disebutkan :
(والحلق) اي ازالة الشعر في الحج او العمرة في وقته (نسك على المشهور) فيثاب عليه وهو ركن
Artinya : Mencukur yaitu menghilangkan rambut pada haji atau umrah pada waktunya adalah ibadah haji berdasarkan pendapat masyhur, karena itu diberikan pahala untuknya dan mencukur itu adalah rukun.[3]

2.      Dalam kitab Haji, pada masalah sunat-sunnat haji disebutkan :
والمبيت بمزدلفة
Artinya : dan bermalam di Muzdalifah.[4]

Pernyataan pengarang, bahwa bermalam di Muzdalifah termasuk sunnat haji adalah dha’if, karena berdasarkan pendapat yang mu’tamad, bermalam di Muzdalifah termasuk wajib haji berdasarkan keterangan ulama di bawah ini :
a.    Ibnu Qasim al-Ghazi dalam kitab Fath al-Qarib al-Mujibi dalam mengometari pernyataan pengarang al-Ghayah wa al-Taqrib tersebut, mengatakan :
وعده من السنن هو ما يقتضيه كلام الرافعي، لكن الذي في زيادة الروضة وشرح المهذَّب أن المبيت بمزدلفة واجب
Artinya : Menghitung bermalam di Muzdalifah sebagai sunnat-sunnat haji merupakan kehendaki kalam al-Rafi’i, tetapi yang terdapat dalam ziayadah (tambahan) Raudhah dan Syarah al-Muhazzab, bermalam di Muzdalifah, hukumnya wajib. [5]

b.    Dalam kitab al-Iqna’ disebutkan :
والرابعة المبيت بمزدلفة على وجه ضعيف والاصح انه واجب
Artinya : Yang ke-empat (sunnat-sunnat haji) adalah bermalam di Muzdalifah berdasarkan pendapat dha’if, sedangkan menurut pendapat yang lebih shahih adalah wajib.[6]

3.      Dalam kitab Haji, pada masalah sunnat-sunnat haji disebutkan :
والمبيت بمنى
Artinya : dan bermalam di Mina.[7]

Pernyataan pengarang, bahwa bermalam di Mina termasuk sunnat haji adalah dha’if, karena berdasarkan pendapat yang mu’tamad, bermalam di Mina termasuk wajib haji. Pernyataan pengarang di atas dianggap dha’if apabila bermalam di Mina dimaknai dengan bermalam pada hari tasyriq yang tiga. Adapun apabila dimaknai dengan bermalam di Mina pada malam ‘Arafah, maka pernyataan penagarang tersebut adalah mu’tamad. Khatib Syarbaini dalam al-Iqna’ telah menempatkan pernyataan pengarang di atas sebagai bermalam di Mina pada malam ‘Arafah, beliau mengatakan :
)و(السادسة )المبيت بمنى( ليلة عرفة لانه لاستراحة لا للنسك وخرج بقيد عرفة المبيت بها ليالي التشريق فانه واجب كما مر بيانه
Artinya : Yang ke-enam (sunnat-sunnat haji) adalah bermalam di Mina pada malam ‘Arafah, karena ia untuk istirahat, bukan untuk ibadah haji. Dengan qaid “’Arafah”, maka keluarlah bermalam di Mina pada malam-malam tasyriq, itu adalah wajib sebagaimana telah lalu penjelasannya.[8]

Keterangan yang menjelaskan bahwa sunnat bermalam di Mina pada hari tasyriq yang tiga adalah dha’if antara lain, Ibnu Qasim al-Ghazi.  Dalam kitab Fath al-Qarib al-Mujibi dalam mengometari pernyataan pengarang al-Ghayah wa al-Taqrib tersebut, beliau mengatakan :
هذا ماصححه الرافعي ولكن صحح  النووي في زيادة الروضة الوجوب
Artinya : Ini (bermalam di Mina termasuk sunnat haji) adalah berdasarkan yang ditashhih oleh al-Rafi’i, tetapi al-Nawawi telah mentashhih wajib dalam ziyadah (tambahan) al-Raudhah.[9]

Kitab Hasyiah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib selanjutnya menjelaskan :
)قوله  ولكن صحح النووي في زيادة الروضة الوجوب (أي وجوب المبيت بمنى ليالي أيام التشريق الثلاث..... الخ
Artinya : Perkataan pensyarah : tetapi al-Nawawi telah mentashhih wajib dalam ziyadah (tambahan) al-Raudhah, artinya wajib bermalam di Mina pada malam hari tasyriq yang tiga……….dst[10]

4.      Dalam kitab Haji, pada masalah sunnat-sunnat haji disebutkan
وطواف الوداع
Artinya : dan Thawaf  Wida’[11]

Pernyataan pengarang, bahwa thawaf Wida’ termasuk sunnat haji adalah dha’if, karena berdasarkan pendapat yang mu’tamad, thawaf Wida’ , hukumnya adalah wajib berdasarkan keterangan ulama berikut ini :
a.       Ibnu Qasim al-Ghazi dalam kitab Fath al-Qarib al-Mujibi dalam mengometari pernyataan pengarang al-Ghayah wa al-Taqrib tersebut, mengatakan :
وما ذكره المصنف من سنيته قول مرجوح لكن الأظهر وجوبه
Artinya : Apa yang disebutkan oleh pengarang termasuk sunat haji adalah dha’if, tetapi pendapat yang lebih dhahir adalah wajib thawaf Wida’.[12]

b.      Dalam al-Iqna’ disebutkan :
(و) السابعة (طواف الوداع) على قول مرجوح والاظهر انه واجب كما مر بيانه
Artinya : Yang ketujuh (sunnat haji) adalah thawaf wida’ berdasarkan pendapat yang lemah, sedangkan menurut pendapat yang lebih dhahir itu adalah wajib sebagaimana telah lalu penjelasannya.[13]

5.      Dalam kitab Haji, pada masalah yang haram dilakukan oleh orang yang ihram  disebutkan :
وترجيل الشعر
Artinya : dan menyisir rambut.[14]

Pernyataan pengarang, menyisir rambut haram dilakukan oleh orang yang ihram adalah dha’if, berdasarkan keterangan Ibnu Qasim al-Ghazi dalam kitab Fath al-Qarib al-Mujibi. Dalam mengometari pernyataan pengarang al-Ghayah wa al-Taqrib tersebut,  beliau mengatakan :
كذا عده المصنف من المحرمات لكن الذي في شرح المهذب أنه مكروه
Artinya : Seperti ini telah dihitungnya oleh pengarang termasuk yang diharamkan, tetapi dalam Syarah al-Muhazzab sesungguhnya menyisir rambut bagi orang yang ihram adalah makruh.[15]

Pendapat pengarang di atas dianggap dha’if, apabila “tarjiil” dimaknai dengan menyisir (tasriih) tanpa menggunakan minyak. Adapun apabila “tarjiil” dimaknai dengan menyisir dengan menggunakan minyak, maka pernyataan pengarang tersebut tidak dha’if.[16]


(Bersambung............)
Tgk Alizar Usman
[1] Abu Syuja’, al-Ghayah wa al-Taqrib, Maktabah al-Jumhuriyah al-Arabiyah, Mesir, Hal. 20
[2] Ibrahim al-Bajuri, Hasyiah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib, al-Haramian, Singapura, Juz. I, Hal. 319
[3] Jalaluddin al-Mahalli, Syarah al-Mahalli ‘ala al-Minhaj, dicetak pada hamisy Qalyubi wa Umairah, Dar al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. II, Hal. 118
[4] Abu Syuja’, al-Ghayah wa al-Taqrib, Maktabah al-Jumhuriyah al-Arabiyah, Mesir, Hal. 20
[5] Ibnu Qasim al-Ghazi, Fath al-Qarib al-Mujib, al-Ma’arif, Bandung, Hal. 28
[6] Khatib Syarbaini, al-Iqna’ ‘ala Halli Alfazh Abi Syuja’, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. III, Hal. 222
[7] Abu Syuja’, al-Ghayah wa al-Taqrib, Maktabah al-Jumhuriyah al-Arabiyah, Mesir, Hal. 20
[8] Khatib Syarbaini, al-Iqna’ ‘ala Halli Alfazh Abi Syuja’, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. III, Hal. 223
[9] Ibnu Qasim al-Ghazi, Fath al-Qarib al-Mujib, al-Ma’arif, Bandung, Hal. 28
[10] Ibrahim al-Bajuri, Hasyiah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib, al-Haramian, Singapura, Juz. I, Hal. 322
[11] Abu Syuja’, al-Ghayah wa al-Taqrib, Maktabah al-Jumhuriyah al-Arabiyah, Mesir, Hal. 20
[12] Ibnu Qasim al-Ghazi, Fath al-Qarib al-Mujib, al-Ma’arif, Bandung, Hal. 28
[13] Khatib Syarbaini, al-Iqna’ ‘ala Halli Alfazh Abi Syuja’, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. III, Hal. 223
[14] Abu Syuja’, al-Ghayah wa al-Taqrib, Maktabah al-Jumhuriyah al-Arabiyah, Mesir, Hal. 20
[15] Ibnu Qasim al-Ghazi, Fath al-Qarib al-Mujib, al-Ma’arif, Bandung, Hal. 28
[16] Lihat Ibrahim al-Bajuri, Hasyiah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib, al-Haramian, Singapura, Juz. I, Hal. 325

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar