Jumat, 08 Maret 2013

Masalah-masalah dha’if dalam Matan al-Ghayah wa al-Taqrib (bag. 6 : Kitab Nikah, Hudud, Qudha’ dan Kesaksian )


1.        Dalam kitab Nikah, pada masalah nusyuz disebutkan :
وإذا خاف نشوز المرأة وعظها، فإن أبت إلا النشوز هجرها فإن أقامت عليه هجرها وضربها
 Artinya : Dan apabila dikuatirkan nusyuz isterinya, maka hendaknya menasehatinya, kemudian jika dia enggan kecuali nusyuz, maka memisahkan tempat tidur, kemudian apabila isterinya itu tetap atas nusyuz, maka memisahkan tempat tidur dan memukulinya.[1]

Pernyataan pengarang bahwa memisahkan tempat tidur sekaligus memukuli isteri yang nusyuz disyaratkan dengan berulang-ulang nusyuz adalah dha’if, berdasarkan keterangan ulama di bawah ini :
a.       Ibrahim al-Bajuri dalam mengometari pernyataan pengarang al-Ghayah wa al-Taqrib tersebut dan Ibnu Qasim al-Ghazi, pensyarahnya, mengatakan :
)قوله بتكرره منها  (أي بسبب تكرره منها، وهذا ما قاله الشارح تبعا لظاهر كلام المصنف حيث قال ) فإن قامت عليه ( وهذا ما رجحه جمهور العراقيين وغيرهم، ورجحه الرافعي، والذي صححه النووي جواز الضرب وإن لم يتكرر النشوز لظاهر الآية، وهو المعتمد.
Artinya : Pernyataan pensyarah : “dengan berulang-ulang nusyuz dari si isteri” artinya dengan sebab berulang-ulang nusyuz dari si isteri. Ini merupakan pendapat pensyarah karena mengikuti dhahir kalam pengarang yang mengatakan : “kemudian jika isteri tetap nusyuz”. Ini pendapat yang dikuatkan oleh jumhur ulama Iraq dan lainnya dan juga yang dikuatkan oleh al-Rafi’i. Adapun pendapat yang dishahihkan oleh al-Nawawi boleh memukulinya, meskipun tidak berulang-ulang nusyuz karena zhahir ayat, pendapat ini adalah yang mu’tamad.[2]

b.      Dalam Minhaj al-Thalibin disebutkan :
فان تحقق نشوزا ولم يتكرر وعظ وهجر في المضجع ولا يضرب في الاظهر قلت الاظهر يضرب والله اعلم
Artinya : Apabila pasti nusyuz dan tidak berulang-ulang, maka dinasehati dan dipisahkan tempat tidurnya dan tidak dipukuli menurut pendapat yang lebih zhahir. Aku (al-Nawawi) katakan : Menurut pendapat yang lebih zhahir dipukulinya, wallahua’lam.[3]

2.    Dalam kitab Nikah, pada masalah nafkah kerabat disebutkan :
فأما الوالِدونَ فتجب نفقتهم بشرطين: الفقر والزمانة أو الفقر والجنون
Artinya : Adapun para orangtua wajib memberi nafkah mereka dengan dua syarat, yaitu fakir dan sudah tua renta atau fakir dan gila. [4]


Pernyataan pengarang bahwa disyaratkan adanya tua renta atau gila pada kewajiban memberi nafkah orangtua yang fakir atas anak-anaknya adalah dha’if, berdasarkan keterangan ulama di bawah ini :
a.       Ibrahim al-Bajuri dalam mengometari pernyataan pengarang al-Ghayah wa al-Taqrib tersebut, mengatakan :
والمراد بالشرط مجموع الأمرين: الفقر مع الزمانة أو الفقر مع الجنون على ما قاله المصنف وهوضعيف، والمعتمد أنه لا يشترط انضمام الزمانة أو الجنون إلى الفقر
Artinya : Yang dimaksud dengan syarat adalah kumpulan dua perkara, yaitu fakir serta tua renta atau fakir serta gila berdasarkan pendapat pengarang. Ini adalah dha’if. Sedangkan yang mu’tamad tidak disyaratkan digabungkan tua renta atau gila kepada fakir.[5]

b.      Dalam Minhaj al-Thalibin disebutkan :
وتجب لفقير غير مكتسب ان كان زمنا او صغيرا او مجنونا والا فاقوال احسنها تجب والثالث لاصل لا فرع قلت الثالث الاظهر والله اعلم
Artinya : Wajib nafkah bagi fakir yang tidak ada usaha, apabila dia itu tua renta, masih anak-anak atau gila. Apabila tidak, maka ada beberapa qaul, qaul yang lebih bagus adalah wajib. Qaul ketiga mengatakan, wajib bagi asal, tidak wajib bagi furu’. Saya (al-Nawawi) mengatakan, qaul yang ketiga lebih zhahir, wallahua’lam.[6]


3.    Dalam kitab Hudud disebutkan :
وحكم اللواط وإتيان البهائم كحكم الزنا
Artinya : Hukum liwath dan menyetubuhi binatang adalah seperti hukum zina.[7]

Pernyataan pengarang bahwa hukum menyetubuhi binatang seperti hukum zina adalah dha’if, berdasarkan keterangan ulama di bawah ini :
a.       Ibnu Qasim al-Ghazi dalam kitab Fath al-Qarib al-Mujib dalam mengometari pernyataan pengarang al-Ghayah wa al-Taqrib tersebut, mengatakan :

ومن أتى بهيمة حدّ كما قال المصنف ولكن الراجح أنه يعزر
Artinya : Barangsiapa yang menyetubuhi binatang, maka dihukum hudud sebagaimana telah dikatakan pengarang, tetapi pendapat yang kuat sesungguhnya dia itu dita’zir.[8]

b.      Dalam Syarah al-Mahalli disebutkan :
(ولا) بوطء (بهيمة في الاظهر) لما تقدم لكن يعزر فيهما
Artinya : Dan tidak dihukum hudud dengan sebab menyetubuhi binatang menurut pendapat yang lebih zhahir karena alasan yang terdahulu, tetapi dita’zir pada masalah keduanya (masalah menyetubuhi mayat dan binatang).[9]

4.        Dalam kitab Hudud, pada masalah murtad disebutkan :
ومن ارتد عن الإسلام استتيب ثلاثا فان تاب والا قتل
Artinya : Barangsiapa yang murtad dari Islam, maka dituntut taubat dalam tempo tiga hari. Kemudian apabila taubat dan jika tidak, maka dibunuh.[10]

Pernyataan pengarang bahwa orang murtad sebelum dihukum bunuh harus diminta supaya taubat dulu, kalau tidak mau taubat, baru dihukum bunuh adalah dha’if, berdasarkan keterangan ulama di bawah ini :
a.       Ibnu Qasim al-Ghazi dalam kitab Fath al-Qarib al-Mujib dalam mengometari pernyataan pengarang al-Ghayah wa al-Taqrib tersebut, mengatakan :
استتيب وجوبا في الحال في الأصح فيهما، ومقابل الأصح في الأولى أنه يسن الاستتابة وفي الثانية أنه يمهل ثلاثا  أي إلى ثلاثة أيام
Artinya : Dituntut tobat pada ketika itu juga menurut pendapat yang shahih pada kedua masalah (masalah wajib tuntut taubat dan dilakukan seketika itu juga). Lawan pendapat yang lebih shahih, pada masalah pertama disunnatkan taubat dan pada masalah kedua, ditempo sampai tiga hari.[11]

b.      Al-Nawawi dalam Minhaj al-Thalibin mengatakan :
وتجب استتابة المرتد والمرتدة وفي قول تستحب وهي في الحال وفي قول ثلاثة ايام
Artinya : Wajib menuntut taubat si murtad, baik laki-laki maupun perempuan, pada ketika itu juga. Menurut satu qaul disunnatkan dan menurut qaul lain ditempo tiga hari. [12]

5.        Dalam kitab Qudha’ dan Kesaksian, pada persyaratan qadhi disebutkan :
وأن يكون كاتبا
Artinya : Keadaan qadhi itu pandai menulis.[13]

Pernyataan pengarang pandai menulis menjadi syarat menjadi qadhi adalah dha’if, berdasarkan keterangan ulama di bawah ini :
a.       Ibnu Qasim al-Ghazi dalam kitab Fath al-Qarib al-Mujib dalam mengometari pernyataan pengarang al-Ghayah wa al-Taqrib tersebut, mengatakan :
وما ذكره المصنف من اشتراط كون القاضي كاتبا وجه مرجوح والأصح خلافه
Artinya : Dan apa yang disebut pengarang, yakni mensyaratkan keadaan qadhi pandai menulis adalah pendapat lemah, sedangkan pendapat yang lebih shahih adalah sebaliknya.[14]

b.      Khatib Syarbaini dalam al-Iqna’ mengatakan :
واصحهما كما في الروضة وغيرها عدم اشتراط كونه كاتبا لانه صلعم كان اميا لا يقرء ولا يكتب
Artinya : Menurut pendapat yang lebih shahih sebagaimana dalam al-Raudhah dan lainnya tidak disyaratkan keadaan qadhi pandai menulis, karena Nabi SAW adalah seorang ummi yang tidak dapat membaca dan menulis.[15]

 ===selesai====
Tgk Alizar Usman


[1] Abu Syuja’, al-Ghayah wa al-Taqrib, Maktabah al-Jumhuriyah al-Arabiyah, Mesir, Hal. 32
[2] Ibrahim al-Bajuri, Hasyiah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib, al-Haramian, Singapura, Juz. II, Hal. 135
[3] Imam al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin, dicetak pada hamisy Qalyubi wa Umairah, Dar al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. III, Hal. 305
[4] Abu Syuja’, al-Ghayah wa al-Taqrib, Maktabah al-Jumhuriyah al-Arabiyah, Mesir, Hal. 36
[5] Ibrahim al-Bajuri, Hasyiah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib, al-Haramian, Singapura, Juz. II, Hal. 186
[6] Al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin, dicetak dalam al-Mughni al-Muhtaj, Darul Ma’rifah, Beirut, Juz. III, Hal. 587
[7] Abu Syuja’, al-Ghayah wa al-Taqrib, Maktabah al-Jumhuriyah al-Arabiyah, Mesir, Hal. 39
[8] Ibnu Qasim al-Ghazi, Fath al-Qarib al-Mujib, al-Ma’arif, Bandung, Hal. 56
[9] Jalaluddin al-Mahalli, Syarah al-Mahalli ‘ala al-Minhaj, dicetak pada hamisy Qalyubi wa Umairah, Dar al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. IV, Hal. 180
[10] Abu Syuja’, al-Ghayah wa al-Taqrib, Maktabah al-Jumhuriyah al-Arabiyah, Mesir, Hal. 40
[11] Ibnu Qasim al-Ghazi, Fath al-Qarib al-Mujib, al-Ma’arif, Bandung, Hal. 58
[12] Al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin, dicetak dalam al-Mughni al-Muhtaj, Darul Ma’rifah, Beirut, Juz. IV, Hal. 177
[13] Abu Syuja’, al-Ghayah wa al-Taqrib, Maktabah al-Jumhuriyah al-Arabiyah, Mesir, Hal. 45
[14] Ibnu Qasim al-Ghazi, Fath al-Qarib al-Mujib, al-Ma’arif, Bandung, Hal. 65-66
[15] Khatib Syarbaini, al-Iqna’ ‘ala Halli Alfazh Abi Syuja’, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. V, Hal. 313

2 komentar:

  1. asslm... kiban menurut tgk.. tentang praktek gala tanoh yg terjadi bak masyarakat aceh??
    dan tgk kiban maksud jih seseorang di bolehkan untuk menjamak shalat karna hujan? dan apa2 saja kriteria2nya???
    makasih tgk...

    BalasHapus
  2. alaikum salam wrwb.
    jawaban nya dapat tgk ikuti link berikut :
    http://kitab-kuneng.blogspot.com/2013/03/menjawab-pertanyaan-masalah-gala-gadai.html

    wassalam

    BalasHapus