Senin, 18 Maret 2013

Pengertian ta'alluq shuluhi qadim, tanjizi qadim dan tanjizi hadits


Asslm...
Di dalam tauhid ada istilah yang di sebut dengan ta'luq shuluhi qadim, tanjizi qadim dan tanjizi hadis... Apa arti tiap2 istilah tersebut dan apa perbedaannya tgk

Jawaban dengan merujuk kepada kitab-kitab akidah seperti kifayatul awam, karya  Syaikh Muhammad al-Fazhaali :

Istilah-istilah ini merupakan istilah-istilah yang digunakan dalam kajian sifat dua puluh yang wajib bagi Allah Ta’ala. Adapun pengertiannya adalah sebagi berikut :
1.      Ta’alluq secara bahasa berarti hubungan, kalau dikatakan Allah menciptakan alam dari tiada kepada ada, maka itu artinya antara qudrah Allah dan alam ada ta’alluq (hubungan), yaitu hubungan penciptaan : Allah dengan sifat qudrahnya sebagai pencipta dan alam sebagai ciptaan.
2.      Sedangkan shuluhi qadim (shuluhi secara bahasa bermakna patut) berarti Allah patut pada azali mengadakan atau meniadakan  sesuatu, meskipun belum wujud sesuatu yang diadakan atau ditiadakan pada kenyataannya. Contohnya si umar sebelum dijadikan Allah pada alam kenyataan, maka si Umar itu pada azali patut dijadikan atau tidak dijadikan Allah. Ta’alluq ini sifatnya qadim, karena masih pada azali belum wujud pada kenyataan yang bersifat dengan waktu dan tempat (baharu). Ini shuluhi qadim pada sifat qudrah Allah Ta’ala. Adapun shuluhi qadim pada sifat iradah Allah Ta’ala berarti Allah Ta’ala pada azali patut menentukan sesuatu dengan mengadakan atau meniadakannya, memendekkan atau memanjangkan atau keadaan lain-lainnya.
3.      Tanjizi qadim bermakna terjadi pada kenyataannya dan keadaannya adalah qadim, seperti Allah menentukan sesuatu dengan mengadakan atau meniadakan atau menentukan sesuatu dengan keadaan pendek atau panjang dan lain-lain. Disebut dengan tanjizi karena ta’alluqnya berlaku pada kenyataan (tidak bersifat patut lagi) dan disebut qadim, karena penentuan sesuatu ada, tidak ada atau panjang dan lain-lain adalah sudah ada pada azali yang sifatnya qadim. Tanjizi qadim ini tidak ada pada qudrah Allah Ta’ala.
4.      Tanjizi hadits pada qudrah bermakna Allah Ta’ala menciptakan sesuatu atau meniadakannya dengan qudrahnya pada waktu dan tempat tertentu. Penciptaan atau meniadakan sesuatu itu adalah baharu, karena bersifat dengan waktu atau tempat, misalnya Allah menciptakan si Umar pada hari senin yang lahir di Indonesia. Tanjizi hadits ini didahului oleh shuluhi qadim pada qudrah Allah Ta’ala. Berdasarkan ini, maka sifat menciptakan, mematikan (sifat-sifat af’al) adalah baharu, tidak qadim, karena itu sifat menciptakan atau mematikan (sebagai contoh) adalah sifat baharu bagi Allah Ta’ala dan karenanya tidak berdiri pada zat Allah yang qadim. Yang qadim yang berdiri pada zat Allah Ta’ala adalah sifat qudrah.
5.      Wassalam, mudah2an bermanfaat



27 komentar:

  1. Azali itu artinya apa tgk?
    Di dlm tauhid, sering di sebut kata Dur dan tasalsul.. Apa arti ke-2nya tgk..?
    Trims.

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. azali adalah tidak awal atau keadaan dimana belum ada sesuatupun, belum ada zaman dan ruang kecuali Allah
      semata-mata.

      2. dur adalah kergantungan sesuatu kepada yang lain, sedang yang lain itu tergantung kepada yang lain lagi dst nya, kemudian kembali ketergantungan itu kepada yang pertama. misalnya kalau kita katakan Allah (tuhan pertama) membutuhkan kepada yang menjadikannya (tuhan kedua), maka tentu yang menjadikan Allah tersebut juga membutuhkan yang menjadikannya (tuhan ketiga), demikian juga seterusnya, akhirnya yang menjadikan yang terakhir dijadikan oleh tuhan pertama. dur ini hukumnya mustahil pada akal

      3. tasalsul adalah kergantungan sesuatu kepada kedua dan seterusnya sampai tidak habis-habis. misalnya kalau kita katakan Allah membutuhkan kepada yang menjadikannya, maka tentu yang menjadikan Allah tersebut juga membutuhkan kepada yang menjadikannya, dstnya sampai tidak habis2. tasalsul ini hukumnya mustahil pada akal

      Hapus
  2. Tgk.. I'rab bismillah pada lafaz arrahimi, ada yg bilang arrahimi di sifat pada arrahmani.. Ada jg yg bilang arrahimi di sifat pada allahi...
    Mana yg benar tgk? Atau dua2nya benar?
    Trims.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang benar arrahim disifat kepada Allah (sifat kedua) dan arrahmani sifat juga kepada Allah (sifat pertama). karena arrahmani merupakan sifat, maka gak mungkin disifatkan sifat kepada sifat.

      wassalam

      Hapus
  3. assalamu'alaikum Tgk
    Bagaimanakah pemahaman Qadim dan Qidam.
    Wassalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Tgk Alizar Usman15 September 2013 07.42

      qidam bermakna tidak ada awal bagi zat Allah. artinya zat Allah ta'ala tidak didahului oleh tidak ada. sedangkan qadim adalah nama bagi zat yang bersifat qidam.

      wassalam

      Hapus
  4. assalamu'alaikum...Tgk
    Sebelumnya saya minta maaf...
    Apakah makna Qadim bisa di perjelas lagi,agar saya mudah memahaminya.
    Wassalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. qidam termasuk sifat yang menafikan hal2 yang tidak layak bagi Allah Ta'ala (sifat salbiyah). di sini qidam bermakna suatu sifat menafikan bersifat dengan baharu (wujud sesudah tidak ada)bagi Allah. kalau makhluq wujudnya sesudah tidak ada (baharu). hanya sebatas itu yg dapat kami kemukakan di sini, selebihnya tgk dapat bertanya kepada ulama2 yang ada disekitar tgk,

      wassalam

      Hapus
  5. asslkm.
    Tgk..sy ingin menanyakan tetang irab mubtada,. Apakah isim bilangan yg nakirah bs diirab kemubtada'k sperti contoh didlm ktb fathul qarib Jz I pasal shalat mayit :"wa itsnaini la yuphsalaani ...ilakh" semetara dia tdk ma'rifah dn tdk melengkapi syarat lain, mhn bntuan tgk.

    Prtanyaan ke2: dalam ktb kawakib duriyah tanda2 isim banyak tp yg disebutkn contoh cuma yg 5 saja, tgk mhn uraiannya tanda2 isem yg lain berserta sumber@,.trm ksh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. lihat pada :
      http://kitab-kuneng.blogspot.com/2013/10/tanda-isim-dan-mubtada-isim-nakirah.html

      Hapus
  6. bolehkah saya bertanya. Usia kapankah nabi muhammad S.A.W. mulai mengenal Allaah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. Nabi muhammad sudah mengimani adanya Allah sebagaimana dijarkan dalam agama moyangnya, nabi Ibrahim sebelum muhammad diangkat menjadi Rasul.

      2. muhammad tidak pernah menyembah berhala (musyrik) sebelum beliau diangkat menjadi rasul.

      3 dengan demikian, dapat dipastikan bahwa nabi muhammad saw sudah mengenal Allah selama dalam hidupnya

      wassalam

      Hapus
  7. assalamu'alaikum...
    Tlng penjelasan sedikit tentang dalil secara tafsili sifat hayyah(hidup)
    Ada yang kasih soal...bisa saja allah tidak ada lagi,semua kejadian di alam ini sampai hal yg paling kecil,sampai hari kiamat dan seterusnya sudah di atur atau di rancang sesuai qadha dan qadar lalu allah tdk ada lagi.
    Tolong penjelasan sesuai dengan hukum aqli.
    wassalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau saja Allah boleh tidak hidup sesudah hidup , maka hidup Allah itu tidak wajib, seandainya hidup Allah tidak wajib, maka wujud Allah itu sendiri tidak wajib, seandainya wujud Allah tidak wajib, maka Allah boleh ada dan boleh tidak ada, kalau Allah boleh ada dan boleh tidak ada, maka ada Allah itu pasti harus ada orang lain yang mengadakannya, ini jelas mustahil, karena itu Allah wajib wujud tanpa disudahi oleh tidak ada.
      wassalam

      Hapus
  8. assalamu'alaikum ustadz....
    saya baru pertama ini buka posting ustadz dan bagi sya smuanya sangat bermanfaat bagi saya....
    ada masalah yang mengganjal fikiran saya... Apakah ikhtiari kita itu sudah di sudah di taqdirkan Allah swt.... terima Kasih sebelumnya
    wassalamu'alaikum wr.wb

    BalasHapus
    Balasan
    1. semuanya ada dalam taqdir Allah. termasuk ikhtiyar kita.
      suatu perbuatan di sebut iktiyar adalah hanya karena kita merasakan ada keinginan utk melakukan perbuatan itu, tetapi perbuatan itu pada hakikatnya diciptakan dan diiradahkan oleh Allah semata. sebaliknya perbuatan yg tidak disertai keinginan maka bukanlah usaha, seperti jatuh dari pohon.

      Hapus
  9. Assalamu'alaikum
    Bagaimanakah pemahaman wujud dalam sifat 20.
    Ada yg mengatakan wujud adalah HAL,sesuatu yg tidak dapat di lihat atau di raba,ada juga pendapat wujud adalah a'in zat atau a'in maujud atau wujud benda itu sendiri juga tidak bisa di lihat.
    Mohon penjelasannya beserta ilustrasinya
    Wassalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. ulama yg yang mengatakan wujud adalah "hal" dalm arti wujud sesuatu yang tidak dpt dikatakan ada (maujud) dan bukan sesuatu yang tidak ada (ma'dum), berarti wujud itu antara maujud dan ma'dum. sesuatu di antara maujud dan ma'dum di sebut "hal".
      contoh yang maujud adalah sifat ma'ani seperti ilmu, sama, bashar Allah ta'ala. sifat ma'ani ini disebut maujud karena dapat digambarkan dalam pikiran kita tentang adanya. sehingga kalau Allah membuka hijab, maka sungguh dapat dilihatnya karena ia memang ada (muajud). sifat ma'dum seperti baqa Allah ta'ala dan sifat2 salbiyah lainnya. baqa disebut ma'dum karena makna baqa adalah tidak berkesudahan, jadi baqa menafikan berkesudahan sehingga tepat disebut sifat penafian, jadi bukan sesuatu yang ada (maujud). contoh sifat ma'dum yg lain adalah esa, jadi esa bukanlah sesuatu yang maujud, tetapi esa hanya ingin menjelaskan bahwa allah tidak banyak. tidak banyak itu ma'dum.
      contoh hal yang lain adalah sifat ma'nawiyah seperti yang berkuasa. yang berkuasa disebut sebagai hal karena yang berkuasa itu bukan yang maujud dan bukan pula yg ma'dum. yang maujud hanya kuasa dan zat Alllah. sedangkan yang kuasa di antara maujud dan ma'dum. sebagai ilustrasi sdr bisa menggambarkan misalnya "pensil yang panjang" pada pinsil tersebut yang maujud cuma pensil dan panjang, sedangkan "yang panjang" tidak maujud. "yang panjang" tersebut juga tidak bisa disebut ma'dum karena sesungguhnya "yang panjang" masuk dalam konsep pemikiran seseorang, karena itu "yang panjang" di antara maujud dan ma'dum (bukan ada dan bukan pula tidak ada). inilah yang disebut dgn "hal".
      kembali kepada masalah wujud. kalau wujud termasuk dalam katagori hal, maka wujud berada antara maujud dan ma'dum, tentu wujud dalam arti ini tidak dapat dilihat dan tidak dapat juga diraba. tetapii kalau wujud bermakna ain zat, maka tentu ain zat dapat dilihat. karena itu zat Allah Ta'ala dapat dilihat di hari akhirat kelak sebagaimana i'tiqad ahlussunnah wal jama'ah. cuma zat Allah Ta'ala tidak dpt di raba dan disentuh karena zat Allah ta'ala bukan benda. adapun ain zat benda tentu dapat dilihat dan di raba sebagaimana rumah, meja dll.

      demikian, mudah2an dpt dipahami.
      wassalam

      Hapus
    2. kajian di atas adalah kajian ilmu akidah berdasarkan ilmu kalam. karena kajian tersebut membutuhkan pemahaman ilmu kalam yg mendalam, maka bagi orang yang tidak terbiasa dgn kajian ilmu kalam tidak perlu mendalam masalah ini. pendalaman ini kalau tidak didukung perangkat ilmu yang memadao hanya mendatangkan keraguan dalam akidah. kajian ilmu kalam masuk ke kalangan ulama ahlussunnah wal jama'ah hanya untuk menolak syubhat2 mu'tazilah yang berkembang pesat pada zamannya yang sering menggunakan logika dalam mengenal ilmu akidah.

      Hapus
    3. terima kasih tgk atas penjelasannya
      saya masih kurang faham yang dimaksut dengan Ain zat??
      ada yang mengatakan ain zat tetap tidak dapat di lihat/di raba.yang bisa di lihat/di raba adalah sifat dari benda itu,contohnya palu yang terlihat adalah gagangnya dari kayu dan ada kepala dari besi serta di gunakan untuk menanamkan paku,begitu pula dengan rumah dan meja yang terlihat dan dapat di raba adalah sifat benda itu sendiri.karna sifat membutuhkan kepada zat
      mohon tanggapannya karna saya sedikit bingung dalam memahami ilmu kalam
      wassalam

      Hapus
    4. kalau yg di maksud dgn ain zat adalah hakikat sesuatu memang hakikat sesuatu bersifat abstrak (tidak dapat diraba dan dilihat), tetapi hanya dapat masuk dlm akal sebagai sebuah konsep. dengan konsep sesuatu ini kita dpt mengenal afrad-afrad sesuatu. misalnya hakikat insan adalah hewan yg berakal. dengan kita mengetahui hakikat insan, maka kita dpt mengetahui bahwa umar, usman dll (umar, usman adl contoh afrad-afrad insan) adalah seorang insan. jadi hewan berakal yg menjadi hakikat insan tentu hanya ada dlm konsep pikiran kita, dia tidak dpt di raba dan dilihat, sedangkan yg terlihat hanya contoh2 insan seperti umar dan usman (afrad2 insan), sedangkan hewan yg berakal merupakan hakikat insan atau hakikat si umar dan usman. demikian juga dalam contoh palu. yg terlihat dan terraba cuma palu A dan palu B dll, sedangkan hakikat palu (sesuatu yang berbentuk khusus yang dijadikan sebagai penekan paku) tentu hanya ada dalam konsep pikiran seseorang (abstrak)
      adapun apabila yg dimaksud dgn ain zat adalah benda tertentu, tentu yang kita raba dan liat adalah benda itu sendiri yang terdiri kayu dan besi tertentu. namun apabila kita raba hanya palu A, tentu palu B tidak kita raba. sedangkan hakikat palu ada pada palu A, B, C dsb. hakikat palu ini abstrak, tidak dapat diraba, hakikat palu hanya ada pada pikiran kita saja. maka tidak dpt di raba dan dilihat.
      wassalam mudah2an dpt dipahami

      Hapus
    5. kalau dikatakan yg dpt dilihat dan di raba hanya sifat benda, maka ini jelas salah. karena makna sifat sesuatu yg berdiri pada yg lain seperti hitam, merah , panjang, pendek dll. padahal kenyataannya apabila kita memegang palu A, maka yg terlihat pada kita adalah besi dan kayu yang bersifat panjang (kalau palu itu panjang). jadi pada palu A itu ada kayu dan besi sebagai tmp berdiri sifat panjang (ada sesuatu tmp berdiri sifat dan sifatnya), jadi bukan hanya sifat.

      wassalam

      Hapus
  10. Terima kasih banyak Tgk atas semua penjelasannya,sedikit2 sudah saya pahami meskipun sedikit rumit
    Awal agama mengenal allah.ada pendapat mengatakan tidak sempurna ibadah kita apa bila tidak mengenal yang kita sembah.
    Bagaimanakah rasullullah mengajarkan TAUHID kepada sahabat2nya??
    apakah seperti metode i'tikad 50 seperti yang kita pelajari selama ini.
    Ada mengatakan metode i'tikad 50 pertama kali muncul pada masa Hasan asy'ari dan maturidi tidak ada pada masa rasul dan sahabat,karna mengenal allah dan rasul tidak mesti dengan metode i'tikad 50,banyak sekali yang penting tidak boleh bertentangan dengan al qur'an dan hadist
    mohon tanggapannya
    wassalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. assalamu'alaikum
      maaf Tgk mungkin ada yang salah dengan pertanyaan saya di atas..mohon maaf..

      Hapus
    2. 1. tidak ada yg salah dgn pertanyaan sdr. Kami terlambat menjawab karena kesehatan kami beberapa hari ini kurang baik. ini pun kami tidak boleh lama2 di depan komputer.
      2. mengenal Allah dgn metode kajian 50 merupakan ijtihad Imam Asy'ary dan Maturridy. kajian versi asyary dan Maturidy ini muncul karena banyak datang syubhat2 yang menyerang akidah ahlussunnah pada masanya., namun demikian rumusan akidah 50 tidak terlepas dari al-qur'an dan hadits serta ajaran2 para salaf (sahabat dan tabi'in). sehingga siapa yng mengingkari salah satu sifat dari sifat 50 itu maka ia menjadi kafir.
      3. yang tidak ada pada masa sahabat hanya sistimatika pembahasan i'tiqad 50 serta penggunaaan dalil 2 akal layaknya dalil dalam ilmu kalam (manthiq). adapun point2 dalam akidah 50 adl merupakan akidah para sahabat nabi. alhasil substansi akidah 50 merupakan warisan dari Nabi dan sahabatnya. bedanya hanya sistimatika pembahasannya saja.
      4. boleh saaja dalam mengenal Allah tidak mengikuti sistimatika i'tiqad 50 , tetapi mencukupi saja dgn al-qur'an dan hadits sebagaimana halnya kebanyakan ahli hadits. tetapi tetap tidak boleh mengingkari salah satu sifat yang ada dlm kajian i;tiqad 50.

      wassalam

      Hapus
    3. ass...stad an boleh minta nmr hpnya...soalnya ana disini juga ada kajian tauhid masi dasar2...jadi ana mau kalau ustad bersedia mau ser dgn kami pa ustad...

      Hapus