Sabtu, 06 April 2013

Menjawab beberapa pertanyaan masalah sifat Allah dan dalalah lafazh


1.    Taufiq6 April 2013 00.54
Salam 'alaikum tgk...
Saya ingin bertanya pada tgk...
Apa perbedaan antara:
a. Sifat ma'ani dan ma'nawiyah
b. Dhiddain dan naqidhain
c. Mafhum muwafaqah dan mukhalafah
d. Apa yg dimaksud dgn 'adam wal malakah?

Terimakasih yg sebesar2nya.
Wassalam.
Jawab
1.    Sifat ma’ani dan ma’nawiyah sama-sama merupakan sifat yang wajib bagi Allah. Sifat ma’ani adalah sifat yang bersifat wujud (artinya kalau Allah membuka hijab, maka sifat itu akan nampak pada kita) yang berdiri pada zat Allah, misalnya qudrah.  Sedangkan sifat ma’nawiyah merupakan suatu keadaan (hal) bagi zat Allah yang lazim karena Allah bersifat dengan sifat ma’ani, misalnya qadirun (Yang berkuasa), sifat qadirun ini merupakan keadaan zat Allah yang berkuasa karena Allah bersifat dengan sifat qudrah (sifat ma’ani). Sifat ma’nawiyah ini tidak bersifat wujud, tetapi ia adalah sifat hal (keadaan).

2.    Dhiddain adalah kontradiksi antara dua yang berwujud seperti kontradiksi antara hitam dan putih, sedangkan naqidhain adalah kontradiksi antara sesuatu dan nafi sesuatu, seperti hitam dan tidak hitam

3.    Al-Adam wal-Mulkah adalah menafikan sesuatu dari sesuatu yang lain dimana sesuatu yang lain itu berpotensi bersifat dengan sesuatu itu, seperti menafikan ilmu dari manusia dimana manusia pada dasarnya berpotensi mempunyai ilmu.

4.    Yang ditunjuki oleh lafazh ada yang disebut dengan manthuq dan ada yang disebut dengan mafhum. Manthuq adalah makna yang ditunjuki oleh zat lafazh itu sendiri, seperti perkataan : “Orang yang alim dimuliakan oleh manusia”. Apabila seseorang memahami dari perkataan tersebut hanya sebatas orang berilmu dimuliakan manusia, maka pemahaman itu dinamakan manthuq. Adapun apabila seseorang memahami makna lain dari diri perkataaan tersebut misalnya, orang yang bodoh tidak dimuliakan oleh manusia, maka ini dinamakan mafhum, karena pemahaman “orang yang bodoh tidak dimuliakan oleh manusia” tidak langsung ditunjuki oleh lafazh  “Orang yang alim dimuliakan oleh manusia”. Jadi mafhum itu adalah yang ditunjuki oleh lafazh, tetapi bukan oleh diri lafazh itu sendiri. Nah! apabila mafhum itu berbeda hukumnya dengan hukum manthuqnya, dinamakanlah ia dengan mafhum mukhalafah, seperti pada misal di atas, dimana hukum manthuq adalah dimuliakan oleh manusia, sedangkan hukum mafhum tidak dimuliakan. Adapun mafhum muwafaqah apabila hukum manthuq sama dengan hukum mafhum, seperti perkataan : “Umar dimuliakan karena ilmunya”. Apabila seseorang memahami dari perkataan tersebut bahwa Abu Bakar juga dimuliakan sebagaimana halnya Umar, karena Abu Bakar juga mempunyai ilmu, maka ini dinamakan sebagai mafhum muwafaqah. Disebut muwafaqah karena sesuai hukum mafhum dengan hukum manthuq, yaitu sama-sama dimuliakan.

43 komentar:

  1. Trimakasih atas jawabannya tgk.,
    sngt bermamfa'at buat saya...
    Jazakumullah kheir..

    BalasHapus
  2. Asslm... Tgk, kiban ta surah kalimat:
    MIN AN TAKUUNA BA'IDATAN MASTUURATAN didalam kitab izhahul mubham hal 3..
    Mohon penjelasan dr tgk!
    Trims.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kami tidak menemukan kata2 tersebut dalam kitab yang ada pada tangan kami,mungkin cetakannya berbeda. kalau boleh coba tgk taufiq jelaskan perkataan tersebut disebutkan dalam pembahasan tentang apa?

      Hapus
    2. nataij dalam bait yang pertama pengertianya umum, termasuk yang jauh lagi tersebunyi dan termasuk yang selain itu.

      Hapus
  3. Salam tgk...
    Tgk, pa tu fasakh nikah? Bgmn caranya? Pa2 aja syaratnya? & pa uga perbedaannya dgn Thalaq, & khulu'...?

    Makasiiih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. secara singkat dapat kami sampaikan, bahwa fasakh adalah gugatan cerai dari pihak isteri. gugatan ini harus dilakukan dipengadilan. pengadilanlah yang memutuskan apakah dapat dilakukan fasakh atau tidak. gugatan fasakh dapat dikabulkan pengadilan dengan alasan suami tidak memberikan nafkah yang layak, atau suami impoten dll, sedangkan talaq hanya dilakukan oleh pihak suami tanpa perlu didepan atau persetujuan pengadilan. sementara khulu' adalah perceraian yang dilakukan dengan imbalan sejumlah harta yang diberikan kepada suami.

      Hapus
  4. Misalkan kalo pada istrinya yg trdapat 'aib tu, pa boleh uga bagi suami tuk fasakh nikah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau dari pihak suami, namanya thalaq, thalaq jatuh kapan saja dilakukan tanpa harus ada aib pada isteri.

      Hapus
  5. Tgk.. Tayammum tu pakek tanah yg berdebu kan..! kalo pakek pasir pinggir pantai ato pasir sungai kek mana tgk...?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya gak boleh, karena pasir tidak disebut sebagai al-turab dalam bahasa Arab.

      Hapus
  6. Assalamualaikum Wr. wb.
    Dalam kitab sifat 20 saya dapati 6 sifat yang ada takluknya.
    Mohon penjelasannya tentang makna dari takluk-takluk yang dimaksud:
    1. qudrah dan iradah takluk taksir pada segala mumkin, mumkin makdum dan mumkin maujud.
    2. samak dan basar takluk inkisyaf pada segala maujud, hudus maujud dan maujud qadiem
    3. ilmu takluk inkisyaf segala wajib, segala mustahil dan segala jaiz
    4. kalam takluk dalalah bagi segala wajib, segala mustahil dan segala jaiz.

    Demikian pertanyaan dari saya. Mohon penejelasan dari Tgk.

    Wassalam

    Ikhwan
    Banda Aceh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jawaban :
      ‘Alaikum salam wr.wb.
      1.Mungkin yang tgk maksudkan adalahتخصيص , bukan تكسير atau تكثير, takhsis artinya menentukan /mengkhususkan. Takhsis ini merupakan ta’alluq sifat iradah, tidak masuk sifat qudrah. Sifat Iradah, ta’alluqnya adalah takhsis dalam artinya Allah Ta’ala menentukan atau mengkhususkan sesuatu dengan sifat iradah-Nya. Sesuatu yang ditentukan Allah itu mencakup segala yang mungkin ada pada akal (mumkin al-maujud) dan sesuatu yang belum ada yang bersifat mungkin ada dan tidak ada (mumkin al-ma’dum). Qudrah Allah Ta’ala, ta’alluqnya dengan al-ijad (menjadikan) dan al-i’dam (meniadakan) berdasarkan iradah Allah, artinya Allah Ta’ala menjadikan sesuatu yang mungkin ada pada akal dan meniadakan sesuatu yang mungkin tidak ada dengan sifat qudrah-Nya sesuai dengan penentuan sifat iradah-Nya.

      2.Sama’ dan bashar, ta’alluqnya adalah inkisyaf (terbuka) pada segala yang maujud, baik yang maujud itu qadim maupun baharu. Artinya Allah Ta’ala mendengar dan melihat segala yang maujud, baik yang maujud itu qadim seperti zat-Nya dan sifat-Nya maupun baharu seperti suara, gerakan manusia dan lain-lain

      3.Ilmu ta’alluqnya inkisyaf (terbuka) segala wajib, segala mustahil dan segala jaiz, artinya Allah Ta’ala mengetahui semua yang wajib seperti zat-Nya, mustahil seperti tidak mungkin banyak tuhan dan jaiz pada akal seperti manusia boleh hidup dan boleh mati.

      4.Kalam ta’alluqnya adalah dalalah (menunjuki) bagi segala wajib, segala mustahil dan segala jaiz, artinya Allah Ta’ala menunjuki segala sesuatu yang wajib, mustahil dan mustahil pada akal dengan kalam-Nya yang qadim


      wassalam

      Hapus
    2. Assalamualaikum Wr.Wb.

      Terimakasih atas jawaban Tgk., sudah agak terang bagi saya.

      Namun untuk jawaban Tgk. yang No 1. pada bagian تعلق تخصيص masih agak kurang jelas bagi saya.
      Dalam kitab sifat 20 tertulis begini (saya coba dengan aksara arab):

      تعلق تأّڽير

      selengkapnya sbb:

      قدره - اراده : تعلق تأڽير
      سکل ممکن
      ممکن معدوم
      ممکن موجود

      Taksir tsb apakah bahasa Jawi atau bahasa Arab?

      Mohon penjelasan dari Tgk.

      Wassalam

      Ikhwan

      Hapus
    3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    4. kalau ta'tsir dengan tulisan arabnya تأّڽير itu berarti memberi bekas (ta'tsir adalah bahasa Arab). Dengan demikian maksudnya adalah Allah memberi bekas dalam menjadikan atau tidak menjadikan sesuatu dengan sifat qudrah-Nya dan dalam menentukan sesuatu dengan sifat iradah-Nya. Memberi bekas artinya sesuatu itu terjadi atau tidak terjadi karena Allah menjadikan sesuatu atau tidak menjadikan sesuatu secara mandiri tanpa bantuan orang lain (dalam hal sifat qudrah)dan sesuatu itu ditentukan karena Allah menentukan sesuatu itu tanpa bantuan orang lain (dalam hal sifat iradah)
      sebagai perbandingan, bahwa perbuatan manusia tidak memberi bekas, karena perbuatan manusia, pada hakikatnya Allah yang menjadikannya, manusia hanya berusaha.
      pengertian mumkin ma'dum dan mumkin maujud di sini adalah qudrah dan iradah Allah memberi bekas pada setiap yang mungkin, baik itu yang tidak ada tetapi ia mungkin ada dan tidak ada pada akal (mumkin ma'dum) maunpun yang ada tetapi ia mungkin ada dan mungkin tiada pada akal (mumkin maujud)

      penulisan bahasa Arab dengan tulisan laten, menjadikan kita salah paham dalam membacanya.
      wassalam

      Hapus
    5. Terimakasih atas jawaban dari Tgk.
      Penjelasan Tgk. sungguh sangat bermanfaat.
      Saya sudah mulai agak paham dan ingat kembali surah dari kitab sifat 20 tersebut.

      Sungguh beruntung bagi saya dipertemukan Allah Swt. dengan Tgk. melalui blog ini. Sehingga pertanyaan2 yang selama ini mengganjal menjadi terang kembali.

      Berikutnya jika Tgk. tidak keberatan saya ingin bertanya ke hal berikutnya dari kitab sifat 20 tsb yakni tentang sifat nafsiah (نفسيه) dan sifat salbiah (سلبية).
      Apa arti ke-dua lafaz kata tersebut dan apa pula maknanya?
      Di kitab 20 memang ada sedikit penjelasan tentang ke-dua kata tsb. tapi tidak dapat memuaskan saya akan maknanya.

      Demikian pertanyaan saya malam ini Tgk.
      Moga2 Tgk. tidak bosan2-nya memberi jawaban.

      Pada kesempatan ini mohon izin untuk saya kopi dan paste ke blog saya sebagai dokumentasi.

      Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan kasih sayangnya kepada Tgk. dan kita semua. Aamin.

      Wassalam dan Terimakasih.

      Hapus
    6. 1. sifat nafsiyah adalah sifat yang dibangsakan kepada diri, yaitu wujud. Wujud itu diri zat Allah Ta'ala. karena itu, dinamakanlah sifat itu dengan sifat yang dibangsakan kepada diri (nafsiyah)

      2, salbiyah bermakna meniadakan, artinya sifat yang dibangsakan kepada yang meniadakan. Misalnya wahdaniyat. wahdaniyat disebut sebagai sifat salbiyah karena wahdaniat, maknanya meniadakan berbilang-bilang zat Allah Ta'ala. Contoh lain baqa zat Allah Ta'ala, itu artinya meniadakan fana zat Allah. salbiyah berlawanan dengan sifat ma'ani. kalau ma'ani sifat yang wujud, sedangkan salbiyah ia tidak wujud seperti sifat ma'ani.

      3. tulisan2 di blog ini boleh saja dicopi untuk dakwah islamiyah, namun tentu dengan menyebut sumbernya.

      4. terima kasih

      Hapus
  7. Salam tgk...
    Tgk, dewi mo nanya, hewan2 pada hari kiamat tu kek mana? Pa masuk surga uga?

    Trus, da orang yg bilang tgk, katanya di hari akhirat tak da lagi yg namanya MATI... Katanya MAUT/MATI tu pd hr akhirat di jadiin seekor kibas to kambing.. Trus disembelih deh.. Sehingga tak da lagi mati karna ia udah mati...
    Pa bener kek gitu tgk?

    Makasiiih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. jawabannya ada pada link berikut :
      http://kitab-kuneng.blogspot.com/2013/04/menjawab-pertanyan-apakah-binatang.html

      maaf terlambat jawabannya, wassalam,

      Hapus
  8. Apa faedah/manfa'at dan hikmah dari membaca kitab dalael khairat?

    BalasHapus
    Balasan
    1. dapat tgk ikuti melalui :
      http://kitab-kuneng.blogspot.com/2013/04/fadhilah-membaca-shalawat-kepada-nabi.html

      wassalam

      Hapus
  9. assalamualaikum...saya bertanya tentang sifat kalam allah,apakah al quran yg di rumah kita adalah kalam allah,saya pernah dengar kalam allah tidak bersuara dan tidak ber huruf,apa hubungannya al quran dgn kalam allah yang hakiki...wassalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. alaikum salam wr wb
      1. pada dasarnya al-qur'an merupakan kalam Allah yang qadim yang merupakan sifat Allah, tidak berhuruf dan tidak bersuara.

      2. adapun al-qur'an yang ada pada tangan kita sekarang yang tertulis pada dua tepi mashaf adalah merupakan terjemahan dari kalam Allah yang qadim yang tidak berhuruf dan bersuara.

      3. jadi kalau dimaknai al-qur'an itu sebagai kalam dan sifat Allah yg berdiri pada zat Allah dan merupakan makna dari al-Qur'an yang tertulis dalam 2 tepi mashaf, maka al-Qur'an itu qadim , tidak berhuruf dan tidak bersuara dan kalau dimaknai al-qur'an sebagai yang tertulis pada dua tepi mashaf, maka al-qur'an itu makhluq, berhuruf dan bersuara.

      4. wassalam

      Hapus
    2. namun secara mutlaq (penyebutan tanpa ada perincian sebagaimana di atas), kita wajib mengatakan bahwa al-Qur'an adalah qadim, karena yg terlintas pada pikiran kita pertama kali saat kita menyebut al-Qur'an adalah kalam Allah dan juga karena adab kita dgn al-qur'an.

      Hapus
  10. terima kasih Tgk atas penjelasannya...
    Saya mau tanya...definisi,makna pemahaman dari QADHA DAN QADAR.

    BalasHapus
    Balasan
    1. insya Allah , ini kita coba bahas dalam posting khusus

      wassalam

      Hapus
    2. sudah dapat dibaca pada :
      http://kitab-kuneng.blogspot.com/2013/08/iman-kepada-qadha-dan-qadar.html

      wassalam

      Hapus
  11. assalamu'alaikum
    Semoga Tgk dalam keadaan sehat wa'afiat.
    Bagaimanakah penjelasan tentang tauhid RUBUBIYAH dan ULUHIYAH serta ASMA WALSHIFAT.
    Wassalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. dapat tgk baca pada link berikut :
      http://www.sarkub.com/2012/membantah-konsep-tauhid-rububiyyah-dan-uluhiyyah-ala-wahhabi/
      dan
      http://pencintarabbulalamin.blogspot.com/2011/05/kesesatan-aqidah-wahaby-rububiyah.html

      wassalam

      Hapus
    2. assalamu'alaikum...Tgk
      sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas semua penjelasan Tgk
      kalau Tgk ada kesempatan mohon penjelasan tentang makna/ta'rif dari kalimat LA ILAHA ILLALLAH.
      Apakah yang di maksut dengan kalimat ISTIGHNA dan IFTIQAR
      wassalam

      Hapus
    3. sudah kami jawab pada :
      http://kitab-kuneng.blogspot.com/2013/12/pengertian-uluhiyah-ketuhanan-dalam.html

      Hapus
  12. assalamu'alaikum Tgk
    tolong penjelasan sedikit di manakah letak kesesatan Tauhid rububiyah dan uluhiyah.menurut saya baca dan saya fahami adalah...
    Tauhid Rububiyah
    Yaitu mengesakan Allah dalam segala perbuatanNya, dengan meyakini dan meng i'tikatkan allah lah yang menciptakan semua mahluk
    Tauhid Uluhiyah
    Artinya, mengesakan Allah melalui segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka bisa mendekatkan diri kepada Allah apabila hal itu disyari’atkan oleh-Nya, seperti berdo’a,bernadzar,minta pertolongan,meminta perlindungan) dan segala apa yang disyari’atkan dan diperintahkan Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Semua ibadah ini dan lainnya harus dilakukan hanya kepada Allah semata dan ikhlas karena-Nya.
    sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas penjelasan Tgk
    wassalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. dapat mengikuti link berikut :
      http://salafytobat.wordpress.com/2012/01/20/pertanyaaan-gugurkan-aqidah-batil-trinitas-wahabi-uluhiyah-rububiyah/

      atau

      http://dalamdakwah.wordpress.com/2009/08/03/salah-pemahaman-salafi-salah-memahami-tauhid-rububiyyah-dan-uluhiyyah/

      Hapus
  13. salam, nanti pasti saya berbicara dengan tuan di sana

    BalasHapus
  14. assalamu'alaikum...

    2.Sama’ dan bashar, ta’alluqnya adalah inkisyaf (terbuka) pada segala yang maujud, baik yang maujud itu qadim maupun baharu. Artinya Allah Ta’ala mendengar dan melihat segala yang maujud, baik yang maujud itu qadim seperti zat-Nya dan sifat-Nya maupun baharu seperti suara, gerakan manusia dan lain-lain

    sebagaimana pernyataan ini diatas,,, kenapa ta'alluq sama' dan bashar Allah tidak inkisyaf pada yang ma'dum juga...

    trimakasih tgk
    wassalam....

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena ma'dum adalah tidak ada, maka tidak ta'alluq kepada nya. karena ia tidak ada, tentu tidak ada yg di bashar dan di sama' oleh Allah. berbeda dgn ilmu dimana dgn ilmu-Nya, Allah mengetahui apa yg ada dan apa yg tidak ada. karena itu ilmu ta'alluq kepada maujud dan ma'dum
      wassalam

      Hapus
    2. trimeung geunaseuh Tgk

      jazakallahu khairan katsira..

      Hapus
  15. Sifat yang wajib pada Allah dibagi 4,,
    Saya ingin bertanya, apakah ke 4 saling berkaitan, artinya jika mengfarq salah satu nya, apakah akan menjadi batal sifat tersebut?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebagaimana di maklumi bahwa pembagian tsb adl sifat nafsiyah, salbiyah, ma'ani dan ma'nawiyah. menurut pemahaman kami ke 4 pembagian sifat tsb tidak bersifat talazum (melazimi) kecuali sifat ma'ani dan ma'nawiyah. kedua sifat ini apabila kita nafikan salah satunya bisa batal yang lain. seperti mendengar , apabila kita nafikannya maka batal tuhan bersifat maha mendengar demikian juga sebaliknya. adapun pembagian lain tidak serta merta seperti itu. meskipun ada juga yg talazum seperti sifat qadim, apabila kita nafikan qadim maka pasti sesuatu itu tidak baqa, karena sesuatu yang datang kemudian pasti ada kesudahannya.
      namun demikian kalau sifat wujud (apabila kita berpendapat wujud itu bukan ain zat, tetapi sifat (hal), maka ini tentu kalau dinafikan wujud, maka sifat2 lain pasti batal semua.
      wassalam

      Hapus
    2. contoh sifat yang tidak talazum adl seperti sifat qadim dan sifat mendengar. kalau dinafikan sifat mendengar tidak lazim ternafi sifat qadim. karena boleh saja pada akal wujud qadim tanpa mendengar. adapun wajib Allah mendengar itu karena kalau Allah tidak mendengar , maka Allah bersifat dgn kekurangan yakni tuli.

      Hapus
  16. sifat ma'ani itu sebagai illat bagi sifat ma'nawiyyah, tapi bukan berarti sifat ma'nawiyyah timbul dengan tanpa penciptaan..... pertanyaannya : boleh tidak kalo yang diciptakan sifat ma'aninya saja tanpa ada sifat ma'nawiyyahnya, cz kalo tidak kok sepertinya penciptaan sifat ma'nawiyyah itu harus kalo ada sifat ma'aninya. mohon syarahnya ustadzi...!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. sifat ma'ani adl qadim sebagaimana mana sifat ma'nawiyah. jadi tidak dpt disebut sifat ma'ani sebagai illat bagi ma'nawiyah.

      2. memang benar kedua sifat tersbut talazum (tidak dapt dipisahkan keduanya pada akal kita), tetapi kedua nya adl qadim. bukan muncul salah satunya karena yg lain.

      3. jadi gak ada rasionya (rancu) kalau disebutkan diciptakan sifat ma'aninya. karena sifat maani tidak diciptakan (qadim)

      wassalam

      Hapus