Kamis, 09 November 2023

Batas Kewajiban Ketauhidan bagi orang awam

 

Pengertian ilmu tauhid.

Tauhid menurut bahasa adalah :

العلم بأن الشيِء واحدا

Mengetahui sesuatu adalah satu

 

Sedangkan menurut syara’ adalah :

علم يقتدر به على اثبات العقائد الدينية مكتسب من أدلتها اليقينية

Ilmu yang dengan sebabnya mempunyai kemampuan menetapkan ‘aqaid agama, ilmu tersebut diusahakan dari dalil-dalil yang yakin. (Hasyiah al-Bajuriy ‘ala Jauharah al-Tauhid : 38)

 

Dalil yaqiniyah ini mencakup dalil ‘aqli dan dalil naqli.

Maudhu’ (objek) ilmu tauhid

1.  Zat Allah Ta’ala dari aspek sifat yang wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah Ta’ala

2.  Zat rasul-rasul Allah dari aspek sifat yang wajib, mustahil dan jaiz bagi mereka

3.  Alam yang bersifat mumkinat atau baharu dari aspek dapat mengantarkan kepada keyakinan ada penciptanya

4.  Al-sam’iyaat (keyakinan yang hanya dapat dipahami dari keterangan nash syara’) dari aspek kewajiban mengi’tiqadnya. (Hasyiah al-Bajuriy ‘ala Jauharah al-Tauhid : 39)

Tsamarah (manfaat) ilmu tauhid

Mengenal Allah Ta’ala dengan dalil yang qath’i dan mendapat kemenangan mendapatkan kebahagiaan yang abadi (Hasyiah al-Bajuriy ‘ala Jauharah al-Tauhid : 39)

Pencetus  ilmu tauhid

Yang membangun pondasi dan pencetus pertama ilmu tauhid adalah Imam al-Asy’ari dan Imam al-Maturidiy serta pengikut keduanya, dalam arti kedua imam ini dan pengikutnya merupakan orang pertama yang membukukan ilmu tauhid serta menolak argumentasi-argumentasi kaum Muktazilah dan kelompok sesat lainnya. Adapun kandungan keyakinan aqidahnya sudah duluan ada bersumber dari Nabi Muhammad SAW serta nabi-nabi sebelumnya. (Hasyiah al-Bajuriy ‘ala Jauharah al-Tauhid : 40)

Sumber rujukan

Sumber rujukan ilmu tauhid adalah dalil akal dan naqal (Hasyiah al-Bajuriy ‘ala Jauharah al-Tauhid : 40)

 Hukumnya

Hukum mempelajari ilmu tauhid adalah fardhu ‘ain atas setiap mukallaf (Hasyiah al-Bajuriy ‘ala Jauharah al-Tauhid : 40)

Batasan minimal fardhu ‘ain mengetahui ilmu tauhid

Secara garis besar kewajiban iman sesuai dengan pengertian iman yang dikemukakan oleh Ibrahim al-Bajuri berikut ini :

تصديق النبي صلعم في كل ما جاء وعلم من الدين بالضرورة

Membenarkan Nabi SAW pada setiap yang datang dan dimaklumi dari agama secara dharuri. (Hasyiah al-Bajuriy ‘ala Jauharah al-Tauhid : 90-91)

 

Kemudian Ibrahim al-Bajuri menjabarkan sebagai berikut :

ويكفي الإجمال فيما يعتبر التكليف به إجمالا كالإيمان بغالب الأنبياء والملائكة، ولا بد من التفصيل فيما يعتبر التكليف به تفصيلا كالإيمان بجمع من الأنبياء والملائكة، فالجمع الذي يجب معرفتهم تفصيلا من الأنبياء خمسة وعشرون

Memadai secara ijmal dalam perkara-perkara yang dii’tibar taklif secara ijmal seperti mengimani umumnya para nabi dan malaikat dan tidak boleh tidak mengimani secara tafshil dalam perkara-perkara yang dii’tibar taklif secara tafshil seperti mengimani sekelompok para nabi dan malaikat. Karena itu, kelompok para nabi yang wajib mengenalnya secara tafshil adalah 25 orang. (Hasyiah al-Bajuriy ‘ala Jauharah al-Tauhid : 91)

 

Mengimani jumlah para nabi 25 orang secara tafshil ini bukan dalam arti wajib menghafal nama 25 nabi., akan tetapi dengan makna tidak mengingkarinya apabila nama-nama tersebut dikemukakan kepadanya.

ومعنى كون الإيمان واجبا بهم تفصيلا إنه لو عرض عليه واحد منهم لم ينكر نبوته ولا رسالته، فمن أنكر نبوة واحد منهم أو رسالته كفر، لكن العامي لا يحكم عليه بالكفر إلا إن أنكر بعد تعليمه، وليس المراد أنه يجب حفظ أسمائهم خلافا لمن زعم ذلك،

Makna mengimani para nabi secara tafshil adalah apabila dikemukakan salah satu nama para nabi tersebut, tidak diingkar kenabian dan kerasulannya. Maka barangsiapa yang mengingkari kenabian atau kerasulannya, hukumnya adalah kafir. Akan tetapi tidak dihukum kafir orang awam kecuali dia mengingkarinya sesudah mentaklimnya. Ini bukan maksudnya, wajib menghafal nama-nama mereka, ini berbeda dengan pendapat yang mendakwa demikian. (Hasyiah al-Bajuriy ‘ala Jauharah al-Tauhid : 91-92)

 

Alhasil, iman adalah :

فالإيمان شرعا هو التصديق بجميع ما جاء به النبي، مما علم من الدين بالضرورة إجمالا في الإجمالي، وتفصيلا في التفصيلي

Iman menurut syara’ adalah membenarkan semua yang didatang oleh Nabi SAW, yaitu yang dimaklumi dari agama secara dharuriy secara ijmal dalam perkara ijmali dan tafshil dalam perkara tafshili. (Hasyiah al-Bajuriy ‘ala Jauharah al-Tauhid : 92)

 

Apabila kita jabarkan lebih lanjut, maka kewajiban dalam hal aqidah dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1.  Mengetahui dan mengi’tiqad sifat yang wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah Ta’ala dengan dalil akal yang ijmali (al-uluhiyaat)

2.  Mengetahui dan mengi’tiqad sifat yang wajib, mustahil dan jaiz bagi rasul-rasul dengan dalil akal yang ijmali.(al-Nubuwaat)

3.  Mengetahui dan mengi’tiqad berita-berita yang sifatnya qath’i dari nash syara’ (al-sam’iyaat) seperti adanya hari kebangkitan, surga dan neraka, mizan, hisab, azab kubur, kolam nabi SAW, titian sirathal mustaqim, melihat tuhan di surga, adanya malaikat baik secara ijmal maupun tafshil, adanya para nabi dan rasul baik secara ijmal maupun tafshili, adanya jin, syaithan, dan lain-lain.

Adapun batas kewajiban mengenal dalil ketauhidan, Imam al-Sanusi menjelaskan sebagai berikut:  

 ولا نزاع بين المتكلمين في عدم وجوب المعرفة بالدليل التفصيلي على الأعيان وإنما هو كفاية

Tidak ada pertentangan di antara ahli kalam tentang tidak wajibnya mengetahui dalil mendetail (dalil tafshiliy) terhadap masing-masing orang. Itu tidak lain hanyalah fardhu kifayah. (‘Umdat Ahl at-Taufîq :13).

 

Mendalami tauhid dengan metode ilmu kalam

Ilmu kalam merupakan argumentasi-argumentasi rasional untuk mempertahankan aqidah Islam dari rongrongan syubhat-syubhat dan kesesatan baik dari internal umat Islam yang menyimpang maupun dari pihak eksternal. Ibnu Khaldun mengatakan :

Ilmu kalam sebagaimana penjelasan Ibnu Khaldun adalah :

هو علم يتضمن الحجاج عن العقائد الإيمانية بالأدلة العقلية والرد على المبتدعة المنحرفين في الاعتقادات عن مذاهب السلف واهل السنة

Ilmu yang membahas tentang argumentasi tentang aqidah keimanan dengan berlandaskan kepada akal serta membantah golongan ahli bid’ah yang menyimpang dari akidah mazhab salaf dan kaum ahlussunah. (Muqaddimah Ibnu Khaldun : 458)

 

Argumentasi-argumentasi teologis dalam ilmu kalam tergolong rumit bagi kebanyakan orang awam. Tidak semua orang mampu mengenal Tuhan dengan cara dialektis (qiyas ‘aqli), seperti misalnya menyusun argumen: “Alam ini berubah, setiap yang berubah pastilah baharu, setiap yang baharu pasti ada penciptanya, pencipta dari segalanya adalah Tuhan”. Demikian juga seperti teori kemustahilan daur dan tasalsul 

ولا يشترط معرفة النظر على طريق المتكلمين من تحرير الادلة وترتيبها ودفع الشبهة الواردة عليها

Tidak disyaratkan mengenal nadhar (dalil) dengan metode para ahli kalam dalam hal mengonsep dan penyusunan dalil serta menolak syubhat yang muncul atasnya.(Hasyiah al-Dusuqi ‘ala Syarh Umm al-Baraahiin : 67)

 

Bahkan memperkenalkan ilmu tauhid kepada awam dalam bentuk kajian dan argumentasi yang rumit, tidak dapat dicerna dengan akal umum manusia seperti ilmu kalam dan kajian tasauf tingkat tinggi menjadi haram, karena dapat menjerumus orang awam kepada kesesatan.

Ibnu Abbas dari Nabi SAW bersabda :

أمرنا أن نكلم الناس على قدر عقولهم

Kami diperintahkan berbicara dengan manusia menurut qadar akal mereka.(H.R. al-Dailamiy)

Hadits ini meskipun dhaif, akan tetapi didukung oleh hadits yang ditakhrij oleh Imam Muslim dalam muqaddimah Shahihnya dari Ibnu Mas’ud, berkata :

ما أنت بمحدث قومًا حديثًا لا تبلغه عقولهم إلا كان لبعضهم فتنة

Tidaklah kamu berbicara dengan suatu kaum suatu pembicaraan yang tidak sampai akal mereka kecuali hal itu menjadi fitnah bagi sebagian mereka.

(al-Ajwabah al-Mardhiah, karangan al-Shakhawiy : I/294)

 

Sesuai dengan ini, tidak heran sebagian ulama mengharamkan belajar kitab Umm al-Barahiin. Al-Sayyid ‘Alawiy bin Ahmad al-Saqaaf mengatakan,

وقد جزم بعضهم حرمة قرأة أم البرأهين عقيدة السنوسي على بعض العوام

Sebagian ulama menegaskan haram membaca Kitab Umm al-Baraahiin, Aqidah al-Sanusi atas sebagian awam.(Sab’ah al-Kutub al-Mufidah; 38)

 

Dalam ilmu tasauf terkenal ungkapan :

فقد قال العارفون ‌إفشاء ‌سر الربوبية كفر

Para ulama ‘arifiin mengatakan, membuka rahasia ketuhanan adalah kufur (Ihya ulumuddin: I/100)

 

Dalam Fath al-Mu’in, Zainuddin al-Malibariy mengatakan,

نعم، يحرم على من لم يعرف حقيقة اصطلاحهم وطريقتهم مطالعة كتبهم فإنها مزلة قدم له، ومن ثم ضل كثيرون اغتروا بظواهرها.

Namun demikian, haram atas orang yang tidak mengenal hakikat istilah dan metode mereka (ahli shufi) muthala’ah kitab-kitab mereka. Karena yang demikian dapat menggelincirkannya. Karena inilah, banyak orang yang tertipu dengan makna dhahirnya.(Hasyiah I’anah al-Thalibin ‘ala Fath al-Mu’in: 134)

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar