Senin, 25 Februari 2013

Masalah-masalah dha’if dalam Matan Ghayah wa al-Taqrib (bag.2 : kitab shalat)


1.        Dalam kitab al-Shalat disebutkan :
والمغرب ووقتها واحد وهوغروب الشمس وبمقدار ما يؤذن ويتوضأ ويستر العورة ويقيم الصلاة ويصلي خمس ركعات
Artinya : Dan Magrib, waktunya adalah satu, yaitu terbenam matahari dan dengan ukuran azan, berwudhu’, menutup aurat, melakukan iqamah dan shalat lima raka’at.[1]

Pernyataan pengarang bahwa waktu Magrib mulai terbenam matahari dan dengan ukuran azan, berwudhu’, menutup aurat, melakukan iqamah dan shalat lima raka’at adalah dha’if, sebagaimana keterangan ulama di bawah ini :
a.       Ibnu Qasim al-Ghazi dalam kitab Fath al-Qarib al-Mujibi dalam mengometari pernyataan pengarang al-Ghayah wa al-Taqrib tersebut, mengatakan :
وهذا هو القول الجديد، والقديم ورجحه النووي أن وقتها يمتد إلى مغيب الشفق الأحمر
Artinya : Ini adalah qaul jadid, sedangkan qaul qadim yang telah ditarjih oleh al-Nawawi, waktunya adalah sampai kepada hilang capak yang merah.[2]

b.      Imam al-Nawawi setelah menyebut qaul qadim dan jadid sebagaimana dijelaskan Ibnu Qasim al-Ghazi di atas, beliau mengatakan :
قلت القديم اظهر والله اعلم
Artinya : Saya mengatakan, qaul qadim lebih zhahir, wallahua’lam.[3]


c.       Al-Bakri al-Damyathi mengatakan :
وهذا هو القول القديم لإمامنا رضي الله عنه، وهو المعتمد. وأما الجديد فينقضي بمضي قدر الوضوء وستر العورة والأذان والإقامة ومضي خمس ركعات
Artinya : Ini (qaul yang menyatakan, waktu Magrib sampai kepada hilang capak yang merah) adalah qaul qadim bagi Imam kita –semoga Allah meridhanya-, qaul ini adalah yang mu’tamad. Adapun qaul jadid, maka berlalu waktunya dengan sebab berlalu ukuran wudhu’, menutup aurat, azan, iqamah dan berlalu lima raka’at shalat.[4]

2.        Dalam kitab al-Shalat, pada masalah rukun-rukun shalat disebutkan salah satu rukun shalat :
ونية الخروج من الصلاة
Artinya : dan niat keluar dari shalat.[5]

Pernyataan pengarang bahwa niat keluar dari shalat termasuk salah satu rukun shalat adalah dha’if sebagaimana keterangan ulama di bawah ini :
a.         Ibnu Qasim al-Ghazi dalam kitab Fath al-Qarib al-Mujibi dalam mengometari pernyataan pengarang al-Ghayah wa al-Taqrib tersebut, mengatakan :
)والسابع عشر ( نية الخروج من الصلاة وهذا وجه مرجوح، وقيل لا يجب ذلك أي نية الخروج وهذا الوجه هو الأصح
Artinya : Yang ketujuh belas (dari rukun shalat) adalah niat keluar dari shalat. Ini merupakan wajh (pendapat) lemah. Ada yang mengatakan tidak wajib yang demikian, yaitu niat keluar dari shalat. Pendapat ini merupakan pendapat yang lebih shahih.[6]

b.        Khatib Syarbaini mengatakan :
والاصح انها لا تجب قياسا على سائر العبادة
Artinya : Menurut pendapat yang lebih shahih, sesungguhnya niat keluar dari shalat tidak wajib, karena diqiyaskan atas ibadah lainnya.[7]

c.         Imam al-Taqiyuddin al-Hishny mengatakan dalam Kifayatul Akhyar :
واصحهما انها لا تجب قياسا على سائر العبادة وليس السلام كتكبيرة الاحرام لان التكبير فعل تليق به النية والسلام ترك
 Artinya : Menurut pendapat yang lebih shahih dari keduanya sesungguhnya niat keluar shalat adalah tidak wajib, karena diqiyaskan atas ibadah lainnya dan salam itu tidaklah sama dengan takbiratul ihram, karena takbiratul ihram merupakan fi’l (perbuatan) yang sesuai dengan niat, sedangkan salam merupakan tark (meninggalkan perbuatan)[8]


3.        Dalam kitab al-Shalat, pada masalah shalat jama’ah disebutkan :
وصلاة الجماعة سنة مؤكدة
Artinya : Shalat jama’ah adalah sunnat dikuatkan.[9]


Pernyataan pengarang bahwa hukum shalat berjama’ah sunnat yang dikuatkan adalah dha’if sebagaimana keterangan ulama di bawah ini :
a.         Ibnu Qasim al-Ghazi dalam kitab Fath al-Qarib al-Mujibi dalam mengometari pernyataan pengarang al-Ghayah wa al-Taqrib tersebut, mengatakan :
وصلاة الجماعة للرجال في الفرائض غير الجمعة سنة مؤكدة عند المصنف والرافعي والأصح عند النووي أنها فرض كفاية
Artinya : Shalat berjama’ah bagi laki-laki pada fardhu selain Jum’at adalah sunnat dikuatkan di sisi pengarang dan al-Rafi’i. Menurut pendapat yang lebih shahih di sisi al-Nawawi shalat berjama’ah itu adalah fardhu kifayah.[10]

b.    Dalam Minhaj al-Thalibin disebutkan :
كتاب صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ هِيَ فِي الْفَرَائِضِ غَيْرَ الْجُمُعَةِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ، وَقِيلَ فَرْضُ كِفَايَةٍ لِلرِّجَالِ، فَتَجِبُ بِحَيْثُ يَظْهَرُ الشِّعَارُ فِي الْقَرْيَةِ، فَإِنْ امْتَنَعُوا كُلُّهُمْ قُوتِلُوا.وَلَا يَتَأَكَّدُ النَّدْبُ لِلنِّسَاءِ تَأَكُّدَهُ لِلرِّجَالِ فِي الْأَصَحِّ. قُلْت: الْأَصَحُّ الْمَنْصُوصُ إنَّهَا فَرْضُ كِفَايَةٍ،
Artinya : Kitab shalat jama’ah, ia pada fardhu selain jum’at adalah sunnat dikuatkan. Ada yang mengatakan fardhu kifayah bagi laki-laki, maka wajib shalat berjama’ah dengan kira-kira nampak syi’ar dalam suatu kampung, jika mereka semua tidak mau, maka mereka dibunuh dan tidak dikuatkan sunat bagi perempuan sebagaimana dikuatkan bagi laki-laki menurut pendapat yang lebih shahih. Saya (al-Nawawi)  mengatakan, menurut pendapat yang lebih shahih yang manshus sesungguhnya shalat berjama’ah adalah fardhu kifayah.[11]

4.        Dalam kitab al-Shalat, pada masalah shalat gerhana disebutkan :
وركوعان يطيل التسبيح فيهما دون السجود
Artinya : dua rukuk yang dipanjangkan tasbih pada keduanya, tidak pada sujud.[12]

Shalat gerhana dilakukan dengan cara dua kali berdiri dan dua kali rukuk dalam setiap satu raka’at. Menurut pengarang, membaca tasbih hanya sunnat dipanjangkan pada dua rukuk saja, tidak sunnat dipanjangkan pada sujud. Pendapat pengarang tidak sunnat dipanjangkan tasbih pada sujud ini adalah dha’if berdasarkan keterangan ulama di bawah ini :
a.    Ibnu Qasim al-Ghazi dalam kitab Fath al-Qarib al-Mujibi dalam mengometari pernyataan pengarang al-Ghayah wa al-Taqrib tersebut, mengatakan :
وفي كل ركعة ركوعان يطيل التسبيح فيهما دون السجود فلا يطوله، وهذا أحد وجهين لكن الصحيح أنه. يطوله نحو الركوع الذي قبله
Artinya : dan pada setiap raka’at ada dua rukuk yang dipanjangkan tasbih pada keduanya, tidak pada sujud, maka tidak dipanjangkannya. Ini salah satu dua wajh (pendapat) tetapi pendapat yang shahih sesungguhnya dipanjangkannya sama seperti rukuk sebelumnya.[13]

b.    Dalam Minhaj al-Thalibin, pada masalah cara melakukan shalat gerhana disebutkan :
وَلَا يُطَوِّلُ السَّجَدَاتِ فِي الْأَصَحِّ قُلْتُ: الصَّحِيحُ تَطْوِيلُهَا وَثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ، وَنَصَّ فِي الْبُوَيْطِيِّ أَنَّهُ يُطَوِّلهَا نَحْوَ الرُّكُوعِ الَّذِي قَبْلَهَا
Artinya : Tidak dipanjangkan sujud-sujudnya menurut pendapat yang lebih shahih. Saya (al-Nawawi) mengatakan, menurut pendapat yang shahih memanjangkannya dan itu ada disebutkan dalam Shahihaini. Telah diterangkan dalam al-Buwaithi sesungguhnya dipanjangkannya sama seperti rukuk sebelumnya.[14]

(Bersambung..........)


[1] Abu Syuja’, al-Ghayah wa al-Taqrib, Maktabah al-Jumhuriyah al-Arabiyah, Mesir, Hal. 8
[2] Ibnu Qasim al-Ghazi, Fath al-Qarib al-Mujib, al-Ma’arif, Bandung, Hal. 12
[3] Imam al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin, dicetak pada hamisy Qalyubi wa Umairah, Dar al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 114
[4] Al-Bakri al-Damyathi,  I’anah al-Thalibin, Thaha Putra, Semarang, Juz. I, Hal. 117
[5] Abu Syuja’, al-Ghayah wa al-Taqrib, Maktabah al-Jumhuriyah al-Arabiyah, Mesir, Hal. 9
[6] Ibnu Qasim al-Ghazi, Fath al-Qarib al-Mujib, al-Ma’arif, Bandung, Hal. 14
[7] Khatib Syarbaini, al-Iqna’ ‘ala Halli Alfazh Abi Syuja’, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. I, Hal. 191-192
[8] Imam al-Taqiyuddin al-Hishny,  Kifayatul Akhyar, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Hal. 165-166
[9] Abu Syuja’, al-Ghayah wa al-Taqrib, Maktabah al-Jumhuriyah al-Arabiyah, Mesir, Hal. 11
[10] Ibnu Qasim al-Ghazi, Fath al-Qarib al-Mujib, al-Ma’arif, Bandung, Hal. 17
[11] Imam al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin, dicetak pada hamisy Qalyubi wa Umairah, Dar al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 220-221
[12] Abu Syuja’, al-Ghayah wa al-Taqrib, Maktabah al-Jumhuriyah al-Arabiyah, Mesir, Hal. 13
[13] Ibnu Qasim al-Ghazi, Fath al-Qarib al-Mujib, al-Ma’arif, Bandung, Hal. 19
[14] Imam al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin, dicetak pada hamisy Qalyubi wa Umairah, Dar al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 311-312

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar