Kamis, 12 September 2013

Kembali dhamir huwa pada Qul huwallahu ahad


assalamu'alaikum...Tgk
Bagaimanakah pemahaman MARJA' DHAMIR pada surat al ikhlas (Huuwa).qulhuwallah huakhat.wassalama
Jawab :
Alaikum salam wr.wb.
1.        Asbabun nuzul Surat al-Ikhlash :
a.       Dalam Tafsir al-Jalalain disebutkan asbabun nuzul ayat ini menjawab pertanyaan yang ditanyai kepada Rasulullah SAW tentang tuhannya, maka turunlah surat ini (Tafsir al-Jalalain, dicetak bersama Tafsir al-Shawi ‘ala al-Jalalain, Cet. Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. IV, Hal. 364)
b.      Dalam Tafsir al-Shawi menjelaskan bahwa yang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang tuhan beliau adalah orang-orang Quraisy atau sekelompok Yahudi atau Nashrani. Mereka mengatakan : “Sesungguhnya tuhan kami tiga ratus enam puluh orang, tetapi tidak mampu memenuhi kebutuhan kami, maka bagaimana dengan satu orang tuhan ?” atau bentuk pertanyaannya : “Bagaimana sifat tuhanmu, apakah ia dari tembaga, emas, zubarjad? atau bagaimana ?” (Tafsir al-Shawi ‘ala al-Jalalain, Cet. Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. IV, Hal. 364)
c.       Seterusnya, Syekh al-Shawi menyebut satu qaul lagi mengenai asbabun nuzul Surat al-Ikhlash, yakni : “Ibnu Salam manakala mendengar kemunculan Nabi SAW di Makkah, beliau pergi menemui Nabi SAW, beliau bertanya kepada Ibnu Salam : “Apakah engkau Ibnu Salam, seorang ‘alim di Yatstrib ?” “Ya” jawab Ibnu Salam. Nabi SAW berkata : “Bersumpahlah demi Allah yang telah menurunkan Taurat kepada Musa, apakah kamu mendapati namaku dalam Taurat ?”  Waktu itu Ibnu Salam balik bertanya : “Beritahukan nasab tuhanmu ?” Nabi SAW menangguhkan jawaban beliau. Maka turun Jibril a.s. membaca Qul huwallahu ahad hingga akhir surat. Lalu Nabi SAW membacanya. Mendengar Surat al-Ikhlash tersebut, maka Ibnu Salam-pun mengucapkan dua kalimat syahadah. (Tafsir al-Shawi ‘ala al-Jalalain, Cet. Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. IV, Hal. 364-365)
d.      Penjelasan yang menjelaskan bahwa asbabun nuzul Surat al-Ikhlash adalah karena munculnya pertanyaan dari manusia ketika itu kepada Nabi SAW bagaimana sifat tuhan beliau juga telah dijelaskan dalam kitab tafsir al-Khazin.(Tafsir al-Khazin, Cet. Dar al-Kutub al-Arabiyah al-Kubra, Mesir, Juz. IV, Hal. 457-458) dan dalam kitab tafsir Ibnu Katsir (Tafsir Ibnu Katsir, Cet. Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. VIII, Hal. 488-489) dan juga kitab Asbabun Nuzul karya al-Suyuthi, Hal. 313 (Cet. Muassasah al-Kutub al-Tsaqafiyah, Beirut)
e.       Dari keterangan lima kitab mu'tabar di atas, dapat disimpulkan bahwa asbabun nuzul Surat al-Ikhlash adalah munculnya pertanyaan dari manusia kepada Nabi Muhammad SAW mengenai sifat Allah yang menjadi tuhan Nabi SAW, meskipun ada perbedaan nama, tempat dan alur cerita yang melatarbelakanginya sesuai dengan riwayat-riwayat yang berbeda.

2.        Sesuai dengan asbabun nuzul di atas, maka marja’ dhamir huwa yang tepat pada Surat al-Ikhlash tersebut adalah kembali kepada al-mas-ul (yang ditanyakan), sehingga ayat pertama dari Surat al-Ikhlash tersebut, yaitu :
قل هو الله احد
terjemahannya menjadi : “Katakanlah hai Muhammad, Yang ditanyai itu adalah Allah, yakni yang satu”,

dengan lafzah Allah menjadi khabar dari huwa dan ahad menjadi badal dari lafazh Allah atau khabar kedua. Boleh juga dengan menjadikan dhamir huwa sebagai dhamir al-sya’n dimana dhamirnya kembali kepada jumlah khabariyah sesudahnya, yakni : jumlah “Allahu ahad”. I’rabnya adalah lafazh Allah sebagai mubtada dan ahad dijadikan sebagai khabarnya. Faedah mendatangkan dhamir al-Sya’n ini untuk menunjukkan kemuliaan kandungan jumlah khabariyah yang datang sesudahnya. Terjemahannya sesuai dengan i’rab kedua ini adalah :
“Katakanlah hai Muhammad, sesungguhnya Allah itu satu.”
Terjemahan model kedua ini juga sesuai dengan asbabun nuzulnya yang telah kita kemukakan di atas.

 (Lihat Tafsir al-Jalalain dan Hasyiahnya, Tafsir al-Shawi ‘ala al-Jalalain, Cet. Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. IV, Hal. 364-365)

9 komentar:

  1. Terimoeng geunaseh beurayeuk that Tgk....

    BalasHapus
  2. salam tgk...
    tgk, knp pada malam nisfu sya'ban kita melakukan salat tasbih? trus ada yg bilang tgk, kalo salat tasbih tu gak mesti di malam nisfu sya'ban.., boleh kapan saja, mohon penjelasannya...
    makasiih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. shalat tasbih sunat dilakukan kapan saja dan tidak hanya pada nisfu sya'ban, bahkan shalat tasbih tidak disunatkan secara khusus pad nisfu sya'ban.

      2. kalau di aceh sudah menjadi tradisi ada shalat tasbih pada malam nisfu sya'ban adalah karena ibadah apa saja yang dilakukan pada malam nisfu sya'ban banyak sekali keutamaannya. mereka memilih shalat tasbih kemungkinan karena shalat tasbih juga mempunyai keutamaan yang istemewa dibanding ibadah lainnya.

      wassalam

      Hapus
  3. tgk, tafsir jalalain dan shawi beda ya ? saya kirain sama. Mohon penjelasannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tafsir jalalain adalah kitab tafsir karangan jalaluddin al-mahalli dan al-suyuthi. sedangkan tafsir al-shawi berupa penjelasan yg berisi komentar2 atas kitab tafsir al-jalalain, karangan syeikh al-shawi.

      Hapus
    2. Jadi yg biasa digunakan di dayah itu jalalain atau shawi ?

      Hapus
    3. yang diajarkan di dayah biasanya kitab al-jalalain. cuma zaman sekarang di dayah biasanya menggunakan kitab al-jalalain yang dicetak bersama penjelasannya dari syeikh al-Shawi. (kalau al-jalalain yg ada pada tangan kami , kitab al-Shawi di cetak dibawah kitab al-jalalain). sehingga bagi orang yg susah memahami al-jalalain bisa melihat langsung penjelasannya dalam kitab al-Shawi.
      karena kedua kitab tersebut dicetak dalam satu kitab, maka kadang2 orang menyebutnya kitab al-jalalain, kadang2 juga menyebutnya dgn kitab al-Shawi. (hasyiah al-Shawi).

      Hapus
  4. Assalamualaikum warahmatullahiwabarakaatuh...
    Saleum tgk,, dari penjelasan di atas berarti zhamir huwa kembali kepada Muhammad, bukan kepada Allah, apa benar demikian?. Kalau pun benar, kenapa Abuya Syeeh Amran Waly Alkhalidy dibilang sesat masalah zhamir huwa kembali kepada muhammad bukan kepada allah seperti pemehaman kebanyakan ulama fuqaha... Syukran...

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebaiknya sdr membaca lagi dgn seksama tulisan kami di atas, karena kesimpulan sdr tdk sesuai dgn uraian kami di atas

      Hapus