Minggu, 27 Maret 2011

Berpuasa dalam keadaan berjunub

Berpuasa dalam keadaan berjunub

Orang yang dalam kondisi berjunub, baik karena hubungan suami istri atau karena mimpi, sehingga kesiangan bangun tidur hingga telah masuk waktu shalat subuh, tetap wajib melaksanakan puasa Ramadhan. Meskipun dia masih dalam keadaan junub. Keadaannya itu tidak menghalanginya dari berpuasa. Sebab ibadah puasa itu pada hakikatnya tidak mensyaratkan kesucian seseorang dari hadats besar dan hadats kecil. Berbeda dengan shalat, tawaf dan lainnya yang mensyaratkan pelakunya harus suci dari hadats besar dan kecil. Khatib Syarbaini mengatakan :
“Dan jika suci perempuan yang berhaidh atau yang bernifas pada malam hari dan berniat puasa, seterusnya berpuasa atau berpuasa orang yang berjunub dengan tidak mandi terlebih dahulu, maka sah puasanya".1

Dalil fatwa ini adalah sebagai berikut :
1. Firman Allah Ta’ala :
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ
Artinya : Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu (Q.S. al-Baqarah : 187)

Ayat ini menjelaskan halalnya bersetubuh pada malam Ramadhan, termasuk ujung malam hampir memasuki subuh. Sebagaimana dimaklumi, persetubuhan pada ujung malam hampir memasuki Subuh menempatkan seseorang dengan pasti berada pada waktu subuh dalam keadaan berjunub. Jadi, kalau bersetubuh pada waktu ujung malam hampir memasuki Subuh di bolehkan berdasarkan ayat di atas, maka keadaan seseorang berjunub pada waktu subuh juga dapat di benarkan. Dalam pembahasan dalalah lafazh, ini disebut dalalah isyarah sebagaimana penjelasan Zakariya Anshari dalam Ghayatul Wushul.2
2. Hadits Nabi SAW :
عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ أَشْهَدُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ كَانَ لَيُصْبِحُ جُنُبًا مِنْ جِمَاعٍ غَيْرِ احْتِلَامٍ ثُمَّ يَصُومُهُ
Artinya : Aisyah r.a. berkata : “Aku bersaksi bahwa Rasulullah SAW jika beliau bangun subuh dalam keadaan berjunub karena bersetubuh, bukan karena mimpi, maka kemudian beliau meneruskan puasanya. (H.R. Bukhari)3
3. Hadits Nabi SAW :
قد كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يدركه الفجر في رمضان وهو جنب من غيرحلم فيغتسل ويصوم
Artinya : Rasulullah SAW pernah mendapati fajar pada bulan Ramadhan, sedangkan beliau dalam keadaan berjunub bukan karena mimpi, lalu beliau mandi dan kemudian melaksanakan puasa”.(H. R. Muslim)4

Wanita yang berhaid dan bernifas diqiyaskan kepada orang yang berjunub. Adapun hadits Nabi SAW , yaitu :
من أصبح جنبا فلا صوم له
Artinya : Barangsiapa yang bangun subuh dalam keadaan berjunub, maka tidak ada puasa baginya.(H.R. Ahmad)5

menurut keterangan Khatib Syarbaini diposisikan pada orang pada waktu subuh masih dalam keadaan bersetubuh. Sebagian ulama mengatakan, hadits ini sudah mansukh.6

DAFTAR PUSTAKA
1.Khatib Syarbaini, Mughni al- Muhtaj, Darul Fikri, Beirut, Juz. I, Hal. 436
2.Zakariya Anshary, Ghayatul Wushul, Usaha Keluarga, Semarang, Hal. 37
3.Bukhari, Shahih Bukhari, Dar Thauq an-Najh, Juz. III, Hal. 31, No. Hadits : 1931
4.Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. II, Hal. 780, No. Hadits : 1109
5.Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, Muassasah Qurthubah, Kairo, Juz. VI, Hal. 184, No. Hadits : 25548
6.Khatib Syarbaini, Mughnil Muhtaj, Darul Fikri, Beirut, Juz. I, Hal. 436

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar