Sabtu, 05 Maret 2011

Ghayatul Wushul (terjemahan & penjelasannya), Khutbah, hal. 3-4

( وَبَعْدُ ) يؤتى بها للإنتقال من أسلوب الى أسلوب آخر واصلها أما بعد بدليل لزوم الفاء فى حيزها غالبا لتضمن اما معنى الشرط والأصل مهما يكن من شئ بعد البسملة والحمدلة والصلاة والسلام على من ذكر ( فَهَذَا ) المؤلف الحاضر ذهنا ( مُخْتَصَرٌ ) من الإختصار وهو تقليل اللفظ وتكثير المعنى ( فِى الأَصْلَيْنِ ) عبر به دون الأصولين أى اصول الفقه واصول الدين ايثارا للتخفيف والاختصار ( وَمَامَعَهُمَا ) من المقدمات والتقليد واداب الفتيا وخاتمة التصوف ( إِخْتَصَرْتُ فيْهِ جَمْعَ الْجَوَامِعِ لِلْعَلاَّمَةِ ) شيخ الاسلام عبد الوهاب ( الْتَاجِ ) ابن الامام شيخ الاسلام تقى الدين ( السُّبْكِيِّ رَحِمَهُ اللَّـهُ ) وتغمده بغفرانه وكساه حلى رضوانه
(Adapun sesudah itu) Perkataan “ba’d” digunakan untuk berpindah dari satu uslub kepada uslub lain. Asalnya adalah amma ba’d, dengan dalil mesti ada huruf “fa” pada rangkaiannya pada kebiasaan, karena amma mengandung makna syarat. Asalnya adalah Jika ada sesuatu sesudah basmallah, hamdallah, rahmat dan kesejahteraan atas orang-orang yang telah disebutkan, (maka ini) yaitu karangan yang hadir pada pikiran (merupakan mukhtashar) berasal dari perkataan ikhtishar, yaitu sedikit lafazh dan banyak makna. (pada dua pokok) diibaratkan dengannya bukan dengan ushuliyiin, gunanya untuk meringankan dan ringkas. Dua pokok adalah ushul fiqh dan ushuluddin (dan hal-hal yang berkaitan dengan keduanya) berupa muqaddimah, taqlid, adab fatawa dan penutup tasauf (yang aku ringkaskan di dalamnya kitab Jam’u al-Jawami’ karangan ‘Alamah Syaikh al-Islam Abd al-Wahab al-Taj anak dari al-Imam Syaikh al-Islam Taqiyuddin al-Subky r.a.(1) semoga Allah melimpahkan keampunan-Nya dan menghiasinya dengan hiasan ridha-Nya.
Penjelasannya
(1). ‘Alamah Syaikh al-Islam Abd al-Wahab al-Taj al-Subky atau Tajuddin al-Subky (wafat 771 H) adalah sorang ulama besar bermazhab Syafi’i sebagaimana ayahanda beliau, Taqiuddin al-Subky. Diantara karya beliau yang terkenal adalah :
a. Thabaqat al-Syafi’iyah
b. Jam’ul al-Jawami’
c. Taushih al-Tahshih
d. Asyabah wan-Nadha-ir
e. Dan lain-lain 1

( وَأَبْدَلْتُ مِنْهُ ) أى من جمع الجوامع ( غَيْرَ الْمُعْتَمَدِ وَالْوَاضِحِ بِهِمَا ) أى بالمعتمد والواضح ( مَعَ زِيَادَاتٍ حَسَنَةٍ ) ستقف عليها ان شاء الله تعالى ( وَنَبَّهْتُ عَلَىْ خِلاَفِ الْمُعْتَزِلَة ) ولو مع غيرهم ( بِعِنْدَنَا وَ ) على خلاف ( غَيْرِهِمْ ) وحده ( بِالأَصَحِّ غَالِبًا ) فيهما ( وَسَمَّيْتُهُ :" لُبَّ الأُصُـوْلِ " رَاجِيًا ) أى مؤملا ( مِنَ اللهِ ) تعالى ( الْقََبُوْلَ وَأَسْأَلُهُ النَفْعَ بِهِ ) لمؤلفه وقارئه ومستمعه وسائر المؤمنين ( فَإِنَّهُ خَيْرُ مَأْمُوْلٍ ) أى مرجوّ ( وَيَنْحَصِرُ مَقْصُوْدُهُ ) أى لب الأصول ( فِيْ مُقَدِّمَاتٍ ) بكسر الدال كمقدمة الجيش من قدم اللازم بمعنى تقدم وبفتحها على قلة كمقدمة الرحل فى لغة من قدم المتعدى أى فى أمور متقدمة أو مقدمة على المقصود بالذات للإنتفاع بها فيه مع توقفه على بعضها كتعريف الحكم وأقسامه اذ يثبتها الأصولى تارة وينفيها أخرىكماسيجئ ( وَسَبْعَةِ كُتُبٍ ) فى المقصود بالذات خمسة فى مباحث أدلة الفقه الكتاب والسنة والإجماع والقياس والإستدلال والسادس فى التعادل والتراجيح والسابع فى الإجتهاد وما يتبعه من التقليد وأدب الفتيا وما ضم اليه من علم الكلام المفتتح بمسئلة التقليد فى أصول الدين المختتم بما يناسبه من خاتمة التصوف وهذا الحصر من حصر الكل فى أجزائه لا الكلى فى جزئياته.
(dan saya ganti yang tidak mu’tamad dan tidak terang dalam Jam’u al-Jawami’ dengan yang mu’tamad dan yang terang serta tambah-tambahan yang baik) yang akan kamu mengetahuinya insya Allah Ta’ala (dan pada kebiasaannya, saya memberitahukan pendapat yang ada khilaf Mu’tazilah), meskipun termasuk selain mereka (dengan perkataan “indanaa” dan pendapat yang ada khilaf selain mereka, sendirinya dengan perkataan “al-Ashah”. Saya namakannya “Lab al-Ushul” dengan mengharapkan diterima di sisi Allah. (Hanya kepada Allah saya memohon agar karangan ini bermanfa’at) bagi pengarang, pembaca, pendengar dan semua orang beriman. (Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah sebaik-baik harapan. Isi Kitab Lab al-Ushul di-hashar (mencakup) kepada muqaddimah) dengan kasrah “daal” seperti muqaddimah (pasukan depan) tentara, berasal dari akar kata “qadama” yang berfaedah laazim(1) dan dapat juga dengan fatah “daal” menurut bacaan yang ganjil seperti muqaddamah pengembara (kepala rombongan) pada satu lughat, berasal dari akar kata “qaddama” yang muta’addi.(2) Maksudnya adalah pada perkara-perkara yang didepan atau yang didahulukan atas maksud yang utama, karena bermanfaa’at maksud tersebut dengan sebab muqaddimah. Disamping itu, ketergantungan maksud atas sebagian muqaddimah, seperti devinisi hukum dan pembagiannya, karena kadang-kadang disebutkanya oleh ulama Ushul dan kadang-kadang tidak menyebukannya, sebagaimana yang akan datang (dan tujuh kitab), yaitu yang menjadi maksud utama ada lima, yakni pembahasan dalil-dalil fiqh ;al-Kitab, al-Sunnah, ijmak, qiyas dan istidlal. Yang ke-enam tentang ta’adul dan tarjih dan ke-tujuh tentang ijtihad dan yang mengikutinya berupa taqlid, adab fatwa dan hal-hal yang dicampur kepadanya, yaitu ilmu kalam yang dimulai dengan masalah taqlid dalam ushuuddin (pokok-pokok agama) dan disudahi dengan sesuatu yang sesuai dengannya, yaitu khatimah tasauf. Hashar ini merupakan hashar kul pada juzu’-juzu’-nya, bukan kulli pada juz-i-nya.(3)
Penjelasannya
(1). Al-Fi’l al-lazim adalah merupakan sebuah kata kerja yang tidak melampaui kepada objek atau tidak membutuhkan kepadanya
(2). Al-Fi’l al-muta’addi merupakan sebuah kata kerja yang melampaui kepada objek atau membutuhkan kepadanya sebagaimana dimaklumi dalam Ilmu Nahu
(3). Hashar kul pada juzu’-juzu’-nya adalah pengkhususan suatu kumpulan kepada bagian-bagiannya, seperti rumah dikhususkan kepada pondasi, atap, tiang dan dinding. Sedangkan hashar kulli kepada juz-i adalah pengkhususan suatu kepada satuan-satuannya, seperti dikhususkan kata dalam bahasa Arab kepada isim, fi’l dan huruf yang mempunyai makna. Hashar di atas adalah hashar kul kepada juzu,-juzu’-nya, karena muqaddimah, al-Kitab, al-Sunnah, ijmak, qiyas dan istidlal, ta’adul dan tarjih, khatimah tasauf dan lainnya itu merupakan bagian-bagian dari isi Lab al-ushul.

DAFTAR pUSTAKA
1. KH.Sirajuddin Abbas, Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi’i, Pustaka Tarbiyah, Jakarta, Hal. 154

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar