Senin, 03 Oktober 2011

Melihat Zat Allah di dunia

Ibnu Hajar Haitamy dalam al-Fatawa al-Haditsah, menjelaskan bahwa melihat Allah dengan mata kepala di dunia adalah mungkin pada akal dan syara’, tetapi tidak wujud pada kenyataan di dunia ini kecuali pada Nabi Muhammad SAW. Beliau melihat Allah SWT dengan mata kepala pada malam terjadi mi’raj. Sebagian sahabat Nabi mengatakan tidak terjadi juga pada Nabi SAW. Oleh karena itu, barang siapa yang mendakwa dirinya ada melihat Allah dengan mata kepala sendiri di dunia ini, maka dia itu kafir dan halal darahnya.[1] Pernyataan melihat Allah dengan mata kepala di dunia adalah mungkin pada akal dan syara’, tetapi tidak wujud pada kenyataannya di dunia ini kecuali pada Nabi Muhammad SAW juga disampaikan oleh al-Bakri al-Dimyathi[2]

Dalil mungkin pada akal dan syara’ melihat Allah di dunia, antara lain :

1. Firman Allah :

Artinya : Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan kami) pada waktu yang telah kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman. (Q.S. al-A’raf : 143)

Berikut perkataan ulama tafsir mengenai ayat di atas, antara lain :

1. Dalam Tafsir Jalalain dikatakan :

“Meng’ibarat dengan لن تراني bukan dengan لن أرى menunjukkan mungkin melihat Allah Ta’ala”. [3]

2. Ahmad Shawy mengatakan :

“Firman Allah لن تراني, maksudnya kamu tidak akan mampu melihatku di dunia. Ini tidak berarti melihat Allah Ta’ala adalah mustahil pada akal. Kalau melihat Allah Ta’ala mustahil, maka sungguh melihat Allah tidak dita’liq (dikaidkan) kepada yang jaiz (mungkin), yaitu tetap utuh gunung”.[4]

Jalan dalalah yang senada dengan ini juga dikemukakan oleh Ibnu Hajar Haitamy, beliau beralasan pada asalnya, mustahil tidak dita’liq dengan yang mungkin.[5]

3. Di samping jalan dalalah di atas, Ibnu Hajar Haitamy juga menyampaikan jalan dalalah lain, beliau berkata :

Kalau melihat Allah adalah tidak mungkin terjadi, maka permintaan Musa melihat Allah adalah suatu kebodohan apa yang menjadi jaiz dan yang tidak jaiz bagi Allah atau tindakan safih, main-main atau menuntut suatu yang mustahil. Padahal para anbiya bersih dari demikian itu semua dengan ijmak ulama”.[6]

Jalan dalalah sebagaimana disebut di atas, juga diketengahkan oleh al-Bakri al-Dimyathi dalam kitab al-I’anah al-Thalibin[7]

Adapun dalil tidak terjadi melihat Allah Ta’ala di dunia, antara lain :

1. firman Allah :

Atinya : Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu maka kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya".(Q.S. al-baqarah : 55)

2. firman Allah :

Artinya : Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. mereka berkata: "Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata". Maka mereka disambar petir karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu kami ma'afkan (mereka) dari yang demikian. dan telah kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata.(Q.S. an-Nisa’ : 153)

3. firman Allah :

Artinya : Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: "Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?" Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas".(Q.S. al-Furqan : 21)

Pada ketiga ayat di atas, Allah sangat mencela orang-orang yang meminta melihat Allah di dunia ini, bahkan karena itu, Allah telah mengazab para ahlulkitab dengan membuat mereka disambar petir.

4. Dari Abi Umamah, Rasulullah SAW bersabda :

واعلموا أنكم لن تروا ربكم حتى تموتوا

Artinya : Ketahuilah, sesungguhnya kamu tidak akan melihat tuhan kamu sehingga kamu mati.

Ibnu Hajar al-Asqalany telah menyebut hadits ini dalam Kitab beliau, al-Ghaniyah fii Mas-alah al-Ru’yah dan beliau mengatakan bahwa Isnadnya patut untuk berhujjah.[8]



[1] . Ibnu Hajar Haitamy, al-Fatawa al-Haditsah, Darul Fikri, Beirut, Juz. I, Hal. 107-108

[2] Al-Bakri al-Dimyathi, I’anah al-Thalibin, Thaha Putra, Semarang, Juz. I, Hal. 19

[3] .Al-Mahalli dan as-Suyuthi,, Tafsir Jalalain, dicetak dalam Tafsir as-Shawy, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Juz. II, Hal. 96

[4] .Ahmad Shawi, Tafsir Shawy, dicetak dalam Tafsir as-Shawy, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Juz. II, Hal. 96

[5] .Ibnu Hajar Haitamy, al-Fatawa al-Haditsah, Darul Fikri, Beirut, Juz. I, Hal. 108

[6] .Ibnu Hajar Haitamy, al-Fatawa al-Haditsah, Darul Fikri, Beirut, Juz. I, Hal. 108

[7] Al-Bakri al-Dimyathi, I’anah al-Thalibin, Thaha Putra, Semarang, Juz. I, Hal. 19

[8] Ibnu Hajar al-Asqalany, al-Ghaniyah fii Mas-alah al-Ru’yah, Dar al-Shahabah al-Turatsi, Hal. 24

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar