Rabu, 19 Oktober 2011

Bersuci dengan sisa bersuci perempuan dan sebaliknya

1-وَعَنْ رَجُلٍ صَحِبَ اَلنَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ: - نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - "أَنْ تَغْتَسِلَ اَلْمَرْأَةُ بِفَضْلِ اَلرَّجُلِ, أَوْ اَلرَّجُلُ بِفَضْلِ اَلْمَرْأَةِ, وَلْيَغْتَرِفَا جَمِيعًا - أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ. وَالنَّسَائِيُّ, وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ

Artinya : Dari seorang sahabat Nabi SAW ia berkata : Rasulullah SAW melarang wanita untuk mandi dengar air bekas laki-laki atau laki-laki mandi dengan bekas wanita dan hendaknya keduanya menciduk. (Telah dikeluar oleh Abu Daud dan al-Nisa-i. Isnadnya shahih)[1]


2-وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; - أَنَّ اَلنَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يَغْتَسِلُ بِفَضْلِ مَيْمُونَةَ - أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ وَلِأَصْحَابِ "اَلسُّنَنِ": - اِغْتَسَلَ بَعْضُ أَزْوَاجِ اَلنَّبِيِّ - صلى الله عليه وسلم - فِي جَفْنَةٍ, فَجَاءَ لِيَغْتَسِلَ مِنْهَا, فَقَالَتْ لَهُ: إِنِّي كُنْتُ جُنُبًا, فَقَالَ: "إِنَّ اَلْمَاءَ لَا يُجْنِبُ" - وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ خُزَيْمَةَ

Artinya : Dari Ibnu Abbas r.a. bahwa sesungguhnya Nabi SAW pernah mandi dengar air bekas Maimunah r.a. (Telah dikeluar oleh Muslim). Dan riwayat Ashab al-Sunan : Sebagian isteri Nabi SAW mandi dalam sebuah bejana, lalu beliau datang mandi darinya. Isteri beliau berkata : “Sesungguhnya aku berjunub”. Beliau bersabda : “Sesungguhnya air itu tidak menjadikan junub.” (telah dishahihkan oleh Turmidzi dan Ibnu Khuzaimah)[2]


Ahmad bin Hanbal telah menjadi hadits nomor satu di atas sebagai dalil tidak boleh laki-laki dan perempuan bersuci dari bejana yang satu. Sedangkan mazhab Syafi’i, Abu Hanifah, Malik dan jumhur fuqaha berpendapat boleh, baik bersuci dari hadats dan janabah atau dari hadats, haid dan janabah. [3] Dalil yang digunakan oleh jumhur adalah hadits tersebut pada nomor dua di atas. Dalam al-Hawi al-Kabir, al-Mawardi menyebut dalilnya adalah hadits riwayat Nafi’ dari Ibnu Umar, beliau berkata :

كَانَ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَتَوَضَّئُونَ فِي زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ جَمِيعًا

Artinya : Laki-laki dan perempuan pada zaman Rasulullah SAW berwudhu’ dari bejana yang satu


Dan hadits riwayat Mu’azatul ‘Adawiyah dari Aisyah r.a., beliau berkata :

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ : فَرُبَّمَا قُلْتُ لَهُ : أَبْقِ لِي أَبْقِ لِي

Artinya : Aku mandi bersama Rasulullah SAW, kadang-kadang aku katakan kepadanya : “sisakan untukku, sisakan untukku.”



Adapun hadits nomor satu di atas, al-Mawardi menjawab sebagai berikut :

1. Hadits tersebut dipertempat hanya sebagai sebuah anjuran (bukan haram), atau

2. Yang dilarang dalam hadits tersebut adalah menggunakan air sisa dari air yang sudah digunakan (air musta’mal) [4]

Hadits riwayat Nafi’ dari Ibnu Umar di atas telah diriwayatkan oleh Abu Daud dalam sunannya.[5] Sedangkan hadits riwayat Mu’azatul ‘Adawiyah di atas, dalam Musnad Syafi’i berbunyi :

كنت أغتسل أنا ورسول الله صلى الله عليه و سلم من إناء واحد فربما قلت له أبق لي أبق لي

Artinya : Aku mandi bersama Rasulullah SAW dari bejana yang satu, kadang-kadang aku katakan kepadanya : “sisakan untukku, sisakan untukku.”(H.R. Syafi’i)[6]



[1] Ibnu Hajar al-Asqalany, Bulughul Maram, Mathba’ah al-Salafiyah, Mesir, Juz. I, Hal. 24

[2] Ibnu Hajar al-Asqalany, Bulughul Maram, Mathba’ah al-Salafiyah, Mesir, Juz. I, Hal. 24-25

[3] Al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 231

[4] Al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 231-232

[5] Abu Daud, Sunan Abu Daud, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 30, No. Hadits : 79

[6] Syafi’i, Musnad al-Syafi’i, Maktabah Syamilah, Juz. I, hal. 9, No. hadits : 17

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar