Minggu, 27 April 2014

Istilah-istilah dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj, karangan Ibnu Hajar al-Haitamy.(Bag.2)

Dalam kitab Sulam al-Muta’allimin,[1] karya Sayyed Ahmad Miiqary Syamilah al-Ahdal dijelaskan beberapa istilah lain dalam al-Tuhfah, al-Nihayah dan al-Mughni yang tidak dijelaskan dalam pembahasan di atas, yaitu :
1.        Apabila mereka mengatakan :
القاضيان
Maka maksudnya adalah al-Rauyani dan al-Mawardi.
2.        Apabila mereka mengatakan :
الشيخان
Maka maksudnya : al-Rafi’i dan al-Nawawi.
3.        Apabila mereka mengatakan :
الشيوخ
Maka maksudnya : al-Rafi’i, al-Nawawi dan al-Subki
4.        Apabila al-Haitamy mengatakan :
على ما شمله كلامهم
Maka beliau terlepas dari pendapat tersebut atau pendapat tersebut ada isykal. Yang sama dengan ini perkataan beliau :
كذا قالوه atau   كذا قاله فلان
5.        Apabila al-Haitamy mengatakan :
وإن صح هذا فكذا
            Maka ini menunjukkan bahwa beliau tidak sependapat dengannya.
6.        Apabila al-Haitamy mengatakan :
على المعتمد
Maka ini merupakan pendapat yang lebih dhahir (al-azhhar) dari aqwal Syafi’i.
7.        Apabila al-Haitamy mengatakan :
على الأوجه
Maka maksudnya pendapat yang lebih shahih (al-ashah) dari pendapat-pendapat (al-Wujuh) pengikut Syafi’i.
8.        Apabila al-Haitamy mengatakan :
والذي يظهر
Maka maksudnya adalah yang dipahami secara terang (wazhih) dari kalam yang bersifat umum dari kalangan pengikut Syafi’i yang dikutip dari dari empunya mazhab dengan kutipan yang bersifat umum pula.
9.        Apabila al-Haitamy mengatakan :
لم نر فيه نقلاً
Maka dimaksud dengannya kutipan yang khusus.
10.    Apabila al-Haitamy mengatakan :
هو محتمل
Maka apabila didhabith dengan fatah mim yang kedua, maka itu merupakan pendapat yang rajih. Adapun apabila didhabith dengan kasrah mim yang kedua, maka itu merupakan pendapat marjuh (lemah). Apabila tidak didhabit dengan sesuatupun, maka diharuskan rujuk kepada kitab-kitab mutaakhirin sesudah beliau. Namun apabila perkataan tersebut jatuh sesudah sebab-sebab tarjih, maka pendapat itu rajih dan apabila perkataan tersebut jatuh sesudah sebab-sebab tazh’if, maka pendapat itu marjuh.
11.    Apabila al-Haitamy mengatakan :
على المختار
Apabila pendapat tersebut dinisbahkan kepada bukan al-Nawawi, maka pendapat tersebut keluar dari empunya mazhab, karena itu, tidak boleh dijadikan pegangan. Adapun apabila dinisbahkan kepada al-Nawawi dalam al-Raudhah, maka bermakna lebih shahih dalam mazhab (al-ashah), bukan dengan makna istilah kecuali ikhtiyar al-Nawawi pada masalah tidak makruh air yang dipanasi terik matahari, maka bermakna dha’if.
12.    Apabila al-Haitamy mengatakan :
وقع لفلان كذا
Maka bermakna dha’if kecuali diiringi dengan tarjih, maka ketika itu merupakan pendapat rajih.
13.    Apabila al-Haitamy mengatakan :
في أصل الروضة
Maka maksudnya perkataan al-Nawawi dalam al-Raudhah yang diringkas dari lafazh kitab al-Aziz.
14.    Apabila al-Haitamy mengatakan :
في زوائد الروضة
Maka maksudnya perkataan al-Nawawi dalam al-Raudhah tambahan dari kitab al-Aziz.


(Bersambung bag. 3)


[1] Sayyed Ahmad Miiqary Syamilah al-Ahdal, Sulam al-Muta’allimin, Hal. 87-92

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar