Jumat, 25 April 2014

Istilah-istilah dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj, karangan Ibnu Hajar al-Haitamy.(Bag.1)

Menurut keterangan yang dikemukakan oleh Sulaiman al-Kurdy dalam kitab Fawaid al-Madaniah[1] ada beberapa istilah yang perlu diketahui oleh pembaca kitab Tuhfah al-Muhtaj, antara lain :
1.        Apabila al-Haitamy mengatakan :
شيخنا
Maka maksudnya : Zakariya al-Anshari. Demikian juga apabila yang mengatakannya, Khatib Syarbaini. Adapun Jamal al-Ramli menyebut al-Syaikh untuk Zakariya al-Anshari.
2.        Apabila mereka bertiga mengatakan :
الشارح atau  الشارح المحقق
Maka maksudnya : Jalaluddin al-Mahalli. Namun al-Haitamy dalam kitab al-Imdad Syarh al-Irsyad, “al-syaarih” dalam kitab tersebut, maksudnya adalah al-Syams al-Jaujary, pensyarah kitab al-Irsyad.
3.        Apabila mereka mengatakan :
الامام
Maka maksudnya : Imam al-Haramain.
4.        Apabila mereka mengatakan :
القاضي
Maka maksudnya : Qadhi Husain.
5.        Apabila al-Haitamy mengatakan di dalam Tuhfah al-Muhtaj :
شارح
dengan nakirah, maka maksudnya : seorang pensyarah al-Minhaj atau lainnya.
6.        Apabila al-Haitamy mengatakan :
قال بعضهم
Maka maksudnya : sebagian ulama, baik seorang pensyarah atau lainnya.
7.        Apabila al-Haitamy mengatakan :
كما قاله بعضهم atau  اقتضاه كلامهم
Kadang-kadang al-Haitamy menjelaskannya sebagai pendapat mu’tamad dan kadang-kadang menjelaskannya sebagai pendapat dha’if. Untuk kedua katagori ini, maka maksudnya sesuai dengan penjelasan tersebut. Adapun apabila tidak dijelaskannya, maka pendapat tersebut merupakan pendapat mu’tamad.
8.        Apabila al-Haitamy mengatakan :
لكن
Maksudnya sama dengan كما apabila didatangkan sebagaimana halnya كما sebagaimana rincian di atas. Kadang-kadang berhimpun dalam al-Tuhfah كما dan لكن, maka yang menjadi pendapat yang rajih adalah sesudah كما.
9.        Apabila al-Haitamy mengatakan :
على ما اقتضاه كلامهم atau  على ما قاله فلان atau كذا قال فلان
       Maka maksudnya : beliau melepaskan diri dari pendapat tersebut. Namun beliau kadang-kadang mentarjihnya, Cuma ini sedikit. Kebanyakannya, beliau mendhaifkannya. Kadang-kadang beliau tidak mentarjih sesuatupun, jadi untuk mengetahui pendapat mana yang mu’tamad, maka harus menelaah kitab-kitab lain karangan beliau. Kalau juga tidak didapatinya, maka hendaknya mengikuti penjelasan-penjelasan ulama-ulama mutaakhiriin sesudah beliau.

(Bersambung ke Bag.2)


[1] Sulaiman al-Kurdy, Fawaid al-Madaniyah, Penerbit : al-Jaffan wal Jabby, Hal. 375-376

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar