Selasa, 11 November 2014

Allah bukan di Langit (Bag.2) {Bantahan terhadap syubhat-syubhat kaum Mujassimah yang berkeyakinan bahwa Allah bertempat di langit}

Di antara dalil yang sering kali menjadi andalan kaum Mujassimah adalah firman Allah Ta’ala berbunyi :
أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ (16) أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ (17)
Artinya : Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang ada di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang ada di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? (Q.S. al-Mulk : 16-17)

Kaum Mujassimah mengatakan, ayat ini secara tegas menjelaskan kepada kita bahwa Allah itu bertempat di langit. Kenapa kita tidak mau beriman dengat ayat ini ?.

Bantahan
Berdasarkan dalil-dalil yang telah kami kemukakan pada bagian (1) tulisan ini sebelumnya, baik ayat-ayat al-Qur’an, hadist Nabi maupun dalil akal yang bersifat qath’i, maka kita beryakinan bahwa Allah Ta’ala mustahil bertempat di langit maupun pada sesuatu tempat. Karena itu, semua nash-nash syara’ yang dhahirnya menunjukkan bahwa Allah Ta’ala bertempat wajib dipahami dengan makna yang menyucikan Allah dari sifat-sifat baharu tersebut. Karena itu, Qadhi ‘Iyadh mengatakan :
 لا خلاف بين المسلمين قاطبة فقيههم ومحدثهم ومتكلمهم ونظارهم ومقتدهم أن الظواهر الواردة بذكر الله تعالى في السماء كقول الله تعالى ءأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الارض ونحوه ليست على ظاهرها
“Tidak diperselisihkan di antara kaum Muslimin, baik ahli fikih, ahli hadis, para teoloq bahwa dhahir-dhahir nash yang datang menyebut Allah di langit seperti firman Allah: “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang ada di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu?” dan yang semisalnya itu tidak diartikan secara dhahirnya.”[1]

Dalam mengomentari riwayat budak perempuan yang ditanya Rasulullah SAW kepadanya di mana Allah, Imam al-Nawawi berkomentar sebagai berikut :
هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ أحَادِيثِ الصِّفَاتِ وَفِيهَا مَذْهَبَانِ تَقَدَّمَ ذِكْرُهُمَا مَرَّاتٍ فِي كِتَابِ الْإِيمَانِ أَحَدُهُمَا الْإِيمَانُ بِهِ مِنْ غَيْرِ خَوْضٍ فِي مَعْنَاهُ مَعَ اعْتِقَادِ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَتَنْزِيهِهِ عَنْ سِمَاتِ الْمَخْلُوقَاتِ وَالثَّانِي تَأْوِيلُهُ بِمَا يَلِيقُ بِهِ
“Hadis ini termasuk hadis-hadis shifat. Tentangnya ada dua aliran (penafsiran), telah lewat berulang kali keterangan tentangnya dalam Kitabul Iman, Aliran pertama : mengimaninya tanpa membincangkan maknanya dengan keyakinan bahwa Allah Ta’ala tidak ada sesuatu yang menyerupai-Nya, dan menyucikan-Nya dari sifat-sifat makhluk. Aliran kedua : menta’wilkannya dengan memaknainya sesuai manka yang layak bagi-Nya.”[2]

Apabila kaum Mujassimah mengatakan wajib memahami ayat di atas dengan makna dhahirnya, maka dapat kita kemukakan di sini bahwa banyak sekali nash-nash syara’, baik al-Qur’an maupun hadits Nabi dimana makna dhahirnya justru bertentangan dengan makna dhahir ayat di atas. Lalu apakah kita harus memaknainya dengan makna dhahirnya?. Jawabnya tentu tidak sama sekali. Berikut ini nash-nash syara’ yang dhahirnya menunjukkan bahwa Allah Ta’ala tidak hanya bertempat di langit, antara lain :
1.        FirmanAllah berbunyi :
وَهُوَ اللهُ فِي السَمَواتِ وَ الأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَ يَعْلَمُ مَا تَكْسِبُوْنَ.َ
Artinya : Dan Dialah Allah di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengatahui apa yang kaum usahakan. (Q.S. al-An’am : 3)

Seandainya kaum Mujassimah mengatakan wajib mengartikan nash-nash syara’ tentang sifat Allah secara dhahir, maka pastilah ia akan merobohkan akidahnya sendiri, sebab dhahir ayat ini mengandung makna bahwa Allah itu berada di langit dan bumi, bukan hanya di langit saja sebagaimana akidah mereka. Padahal tidak seorangpun dari umat Islam yang mengatakan bahwa Allah bertempat di langit dan di bumi. Maha Suci Allah dari bertempat di langit dan di bumi. Karena itu, para ulama Islam, baik salaf maupun khalaf tidak memahami ayat di atas secara dhahirnya. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan para ulama tafsir sepakat menolak pemahaman kaum Jahmiyah yang mengatakan bahwa Allah Ta’ala berada pada setiap tempat dengan mendasarkan kepada ayat ini. Selanjutnya Ibnu Katsir mengatakan setelah terjadi kesepakatan tersebut, para ulama  tafsir berbeda pendapat dalam mentakwilnya, yang lebih shahih dari tafsir-tafsir itu adalah Yang diseru itu adalah Allah yang disembah, diesakan dan diakui ketuhanannya oleh orang-orang yang ada di langit dan di bumi.[3]

2.        Firman Allah SWT:
وهُوَ مَعَكمْ أَيْنَما كُنتُم.
Artinya : Dan Dia bersama kamu di manapun kamu berada. (Q.S. Al-Hadid : 4)

dan ayat:
وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَتِرَكُمْ أَعْمَالكُمْ
Artinya : Dan Allah bersama  kamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu. (Q.S. Muhammad : 35)

Lafadz Allah adalah nama untuk zat bukan sifat. Jadi apabila dimaknai secara dhahir sebagaimana doktrin kaum Mujassimah, maka ayat ini menunjukkan bahwa Allah berada di bumi bersama manusia. Karenanya, di sini tidak ada jalan lain selain mentakwilkan ayat di atas dan mengatakan bahwa dhahir ayat ini bukan yang dimaksud. Ibnu Katsir mengatakan tafsir Q.S al-Hadid : 4 ini adalah Allah selalu melihat dan menyaksikan segala perbuatan kamu dimana saja kamu berada, baik di darat mapun di laut, malam atau siang, di rumah-rumah atau di gurun.[4] Sedangkan dalam menafsirkan Q.S. Muhammad : 35, Ibnu Ktasir mengatakan pada ayat ini merupakan kabar gembira dengan pertolongan dan kemenangan atas musuh. [5] Jadi maksud kedua ayat di atas bukan dalam arti zat Allah ada bersama mereka, tetapi yang ada beserta mereka itu  hanya ilmu serta bashar Allah dan pertolongan serta anugerah kemenangan.

3.        Allah SWT berfirman :
فَلَوْلَا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ (83) وَأَنْتُمْ حِينَئِذٍ تَنْظُرُونَ (84) وَ نحْنُ أَقْرَبُ إلَيْهِ مِنْكُم و لكن لاَ تُبْصِرُوْنَ. (85)
Artinya : Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat dan Kami lebih dekat kepadanya dari kamu, tetapi kamu tidak melihat (Q.S. al-Wâqi’ah : 85)

Ayat ini menjelaskan tentang seseorang yang sedang menghadapi sakratul maut dan di sekelilingnya ada keluarga atau teman-teman dekatnya yang sedang mengerumuninya, di mana jaraknya sangat dekat dengannya, akan tetapi Allah menegaskan: “Kami lebih dekat kepadanya dari kamu” . Jika ayat ini harus dimaknai secara dhahir tanpa menta’wilkannya, maka akan  bermakna Allah berada di bumi di sisi hamba yang sedang dalam keadaan sakratul maut itu.  Dan itu artinya, Allah Ta’ala tidak berada di langit sebagai yang diyakini kaum Mujassimah. Karena itu, ayat-ayat yang seperti ini yang makna dhahirnya menunjukkan kepada bahwa Allah bertempat, baik bertempat di langit maupun di bumi harus dimaknai dengan makna lain yang sesuai dengan keagungan Allah dan kesucian-Nya. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, makna “Kami” pada ayat ini adalah para malaikat Kami.[6] Ini sama halnya dengan seorang presiden yang mengatakan “Kami telah membangun jalan-jalan di negara kami”, tentu maknanya bukan berarti seorang presiden langsung berada di jalan-jalan memegang peralatan membangun jalan, tetapi maksudnya adalah pembangunan jalan itu atas perintah sang presiden.

4.        Allah SWT berfirman:
وَ لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسانَ وَ نَعْلَمُ ما تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَ نَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَريدِ.
Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Q.S. Qâf : 16)

Apakah dengan ayat ini kita akan mengatakan bahwa Allah berada dalam salah anggota tubuh kita? Jawabnya tentu tidak. Tidak seorangpun seorang yang beriman dan berakal sehat mengatakan seperti itu. Karena itu, ayat ini tidak mungkin dipahami secara dhahir. Para Ahli tafisr menafsirkan firman Allah : “Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” dengan para malaikat lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya atau maksud “Kami” tersebut adalah ilmu Kami supaya tidak lazim ittihat dan hulul.[7]

5.        Ketika Nabi Ibrahim a.s. didhalimi kaumnya, beliau berkata sebagaimana yang diabadikan Allah SWT dalam firman-Nya :
إنِّيْ ذاهِبٌ إلى رَبِّيْ سَيَهْدِينِ.
Artinya : Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap Tuhanku dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. (Q.S. ash-Shâffât : 99)

Nabi Ibrahim as. tidak hidup di langit dan beliau juga tidak hendak pergi ke langit untuk menjumpai Allah, lalu setelah itu beliau kembali lagi ke muka bumi. Apabila ayat seperti ini harus ditafsirkan secara makna dhahirnya sebagaimana dakwaan kaum Mujassimah, maka tentu ayat ini akan bermakna bahwa Nabi Ibrahim a. s. hendak pergi ke langit menghadap tuhannya di sana. Tentu penafsiran seperti ini tidak pernah dikemukakan oleh siapapun dari umat Islam yang sehat akalnya. Para mufassir menerangkan bahwa kata-kata yang diucapkan Nabi Ibrahim a.s. itu adalah pada saat beliau hendak berhijrah.  Beliau akan pergi  menuju tempat yang diperintah Allah untuk berhijrah ke sana. Atau menuju tempat yang beliau dapat beribadah kepada Allah di sana.[8]

6.        Firman Allah Q.S al-Baqarah : 115, berbunyi :

فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ

Artinya : Kemana saja kamu menghadap, maka di sana zat Allah  (Q.S. al-Baqarah : 115)

 

Dhahir  ayat ini menunjukkan bahwa Allah ada di mana kita menghadap. Artinya apabila yang kita hadap itu rumah, maka di rumah itu ada Allah, apabila yang kita hadap ka’bah, maka di ka’bah itu ada Allah, na’udzubillah ‘an zalik. Lalu apakah kita harus memaknai ayat ini dengan makna dhahirnya ?. Jawabnya, tentu tidak sama sekali dan tidak ada umat Islam yang sehat akalnya yang menafsirkan demikian.  Imam al-Razi, ahli tafsir dari kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah menjelaskan dalam tafsir beliau, Mafatih al-Ghaib  bahwa salah satu kemungkinan makna wajhullah  pada ayat ini adalah bermakna  arah yang dihadap pada waktu shalat, yakni qiblat. Diidhafah wahj kepada Allah adalah seperti idhafah bait kepada Allah (baitullah) dan naaqah (unta) kepada Allah (naaqatullah). Idhafah seperti ini, maksudnya adalah idhafaf bil-khlaq wal-ijaad ‘ala sabilil tasyrif (menyandarkan penciptaannya untuk memuliakannya).[9]

7.        Dari Abdullah ibn Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda :
إذا كان أحدكم يصلي فلا يبصق قبل وجهه فإن الله قبل وجهه إذا صلى .
Artinya : Jika seorang dari kamu shalat maka janganlah ia meludah di arah wajahnya, sebab sesungguhnya Allah berada di sisi wajahnya jika ia shalat. (H.R. Bukhari[10] dan Muslim[11])

Dalam riwayat lain dalam kitab Shahih al-Bukhari berbunyi, Rasulullah SAW bersabda  :

إِنَّ رَبَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ القِبْلَةِ، فَلاَ يَبْزُقَنَّ أَحَدُكُمْ قِبَلَ قِبْلَتِهِ، وَلَكِنْ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمَيْهِ
Artinya : Sesungguhnya Tuhan seseorang itu di antaranya dan qiblat, maka janganlah meludahi salah seorang kamu pada arah qiblat, tetapi di kiri atau di bawah dua tumitnya. (H.R. Bukhari)[12]

Apakah dengan dhahir kedua hadits ini, kita akan mengatakan bahwa Allah berada di antara orang yang shalat dan qiblatnya? Tentu  hanya orang gila dan bodoh yang berani mengatakan seperti itu. Karena tidak seorangpun dari orang-orang yang beriman dan berakal sehat yang mengi’tiqad seperti itu. Karena itu, para ulama tidak memaknai kedua hadits tersebut dengan makna dhahirnya. Dalam mengomentari kedua hadits ini, al-Khuthabi mengatakan menghadap seseorang ke arah qiblat mengisyaratkan qashadnya itu adalah tuhannya, maka seolah-olah tuhannya itu ada di antaranya dan qiblatnya, karena yang menjadi qashadnya adalah tuhannya. Tafsir lain mengatakan maksudnya adalah kebesaran tuhan dan pahala-Nya.[13]  Ibnu Hajar al-Asqalani ahli hadis terkenal mengatakan, dalam hadis ini terdapat bantahan atas orang yang menganggap bahwa Allah bersemayam di atas arsy-Nya dengan Zatnya. Argumentasinya seandainya hadits ini boleh ditakwil dengan makna yang layak dengan kesucian Allah, tentu kebolehan takwil itu juga dapat berlaku untuk ayat yang dhahirnya bermakna Allah bersemayam di atas arasy.[14]

8.        Dari Abu Musa al Asy’ari bahwa Rasulullah SAW bersabda:
الذى تدعونه أقرب إلى أحدكم من عنق راحلة أحدكم.
Artinya : Tuhan yang kamu seru itu lebih dekat daripada seorang dari kamu kepada leher kendaraannya. (H.R. Muslim)[15]

Hadits ini tentunya bukan bermakna zat Allah berada di suatu tempat yang lebih dekat kepada penunggang unta dari pada leher unta. Imam al-Nawawi mengatakan, hadits ini bermakna kiyasan (majaz). Tujuan ucapan hadits itu  adalah memastikan Allah mendengar doa hambanya.[16]

9.        Dari Abdullah ibn Abbas dan Abdullah ibn Umar bahwa Rasulullah SAW jika telah mengendarai kendarannya untuk pergi bermusafir beliau berdoa :
اللهم أنت الصاحب في السفر والخليفة في الاهل
Artinya : Ya Allah, Engkaulah teman dalam perjalanan dan khalifah/pengganti yang mengurus keluarga. (H.R. Muslim)[17]

Siapapun jelas mengatakan tidak mungkin maksud hadits ini bahwa Rasullulah SAW berdoa agar Allah menjadi teman dalam perjalanan dengan arti bahwa zat Allah berada di bumi dalam perjalanan bersama beliau dan juga menjadi teman yang berada di sekitar keluar beliau yang di tinggalkan. Akan tetapi maksudnya hanyalah pertolongan dan rahmat Allah selalu menyertai beliau dalam perjalanan serta keluarga beliau yang ditinggalkan.
Sebenarnya banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an maupun hadits Nabi SAW yang dhahirnya bermakna Allah berada bukan hanya di langit, tetapi juga di bumi,  namun para ulama Islam sepakat memahami nash-nash syara’ tersebut tidak dengan makna dhahirnya, tetapi mentakwilnya sesuai dengan kesucian dan keagungan Allah SWT. Seandainya kaum Mujassimah tetap ngotot memaknai ayat-ayat  yang menyatakan secara zahir bahwa Allah berada di langit dan menolak menakwilkannya dengan takwil yang sesuai dengan kemahasucian Allah SWT, maka kita minta mereka bersikap jujur dan obyektif memaknai nash-nash syara’ yang kita sebutkan di atas yang menegaskan bahwa Allah tidak di langit. Bukankah nash-nash syara’ yang kita sebutkan itu secara dhahir menentang ayat-ayat yang mereka jadi dalil bahwa Allah berada dilangit?  Jika mereka metakwikannya dengan takwil  tertentu, maka kita katakan,  “Apa yang membenarkan mereka mentakwilkan nash-nash yang itu dan menolak takwil pada Q.S. al-Mulk :16-17 ini ?”

Tafsir yang Benar Q.S. al-Mulk : 16-17
Setelah kita tetapkan dengan keyakinan yang pasti bahwa Allah tidaklah mungkin berada di suatu tempat, baik di langit maupun di bumi ataupun di suatu yang lain yang bernama tempat, maka para ulama berusaha menafsirkan Q.S. al-Mulk : 16-17 sesuai dengan kemahasucian dan keagungan-Nya. Diantara tafsir ayat di atas adalah bahwa apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang kekuasaan-Nya Maha Agung lagi Dahsyat dan itu tidak menunjukkan bahwa Allah berada dan bertempat di langit. Sebab orang-orang Arab jika hendak mengagungkan sesuatu perkara biasa mensifatinya dengan sesuatu yang tinggi. Karena itu, kira-kira makna ayat itu adalah : “Apakah kamu merasa aman terhadap Zat Yang Maha Agung dan Maha Kuasa yang dapat mengguncangkan bumi dan mengirimkan badai batu yang dapat membinasakan kamu ?”[18]
Syair-syair klasik orang-orang Arab membuktikan bahwa mereka terbiasa jika hendak mengagungkan sesuatu perkara mensifatinya dengan sesuatu yang tinggi, seperti bait syair yang digubah pujanggga kenamaan Arab di masa jahiliyah, ’Antarah ibn Syaddâ al-Absi:
مقامك في جو السماء مكانه * وباعي قصير عن نوال الكواكب
“Kedudukanmu di awang-awang langit tempatnya * sedangkan lenganku pendek tuk menggapai bintang gemintang.”[19]

Akhthal salah seorang penyair terkenal pada zaman Bani Umayyah juga menggubah bait syair berbunyi:
بنو دارم عند السماء وأنتم * قذى الارض أبعد بينما بين ذلك
”Suku Bani Dârim di langit sedangkan kamu* debu bumi, duhai alangkah jauhnya antara keduanya.”[20]

Atau bisa jadi yang dimaksud dengannya adalah para malaikat yang dikirim Allah untuk menurunkan azab-Nya, sebab tempat para malaikat di langit,[21]



[1] Al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurthubah, Juz. V, Hal. 34
[2] Al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurthubah, Juz. V, Hal. 33
[3] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Darul al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. III, Hal. 215
[4] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Darul al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. VIII, Hal. 43
[5] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Darul al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. VII, Hal. 299
[6] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Darul al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. VIII, Hal. 35
[7] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Darul al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. VII, Hal. 371-372
[8] Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, Maktabah Syamilah, Juz. XV, Hal. 97
[9] Imam al-Razi, Mafatih al-Ghaib, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 307-308
[10] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 90, No. hadits : 406
[11] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 388, No Hadits : 547
[12] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 90, No. hadits : 405
[13] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Barri, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 508
[14] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Barri, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 508
[15] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 2077, No Hadits : 2704
[16] Al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurthubah, Juz. XVII, Hal. 43
[17] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 978, No Hadits : 1342
[18] Lihat Tafsir al-Qurthubi, Maktabah Syamilah, Juz. XVIII, Hal. 216
[19] Al-Khatib al-Tabrizy, Syarah Diwan ’Antarah, Dar al-Kitab al-Arabi, Beirut, Hal. 35
[20] Mahdi Muhammad Nashiruddin, Syarah Dewan al-Akhthal, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Hal. 221
[21] Lihat Khatib Syarbaini, Tafsir Siraj al-Munir, Juz. IV, Hal. 344

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar