Senin, 12 Januari 2015

Muta’alaq, Ghayah dan Tafri’ dalam Ilmu Arabiyah

abdullah:
Asslamu'alaikum ustaz, tolong jelaskan dan berikan contoh tentang pengertian muta'alaq, 'ayah, dan tafri' dalam kitab nahwu ?

Jawab :
1.      Muta’alaq atau muta’alaq bihi adalah jumlah jar dan majrur atau dharaf yang merupakan ma’mul bagi fi’il atau pada makna fi’il . Misalnya dalam kitab Al-Kafrawi hal. 11 disebutkan :
يعرف بالخفض
Dalam kitab tersebut disebutkan : jumlah jar dan majrur merupakan muta’alaq dengan yu’rafu.
Disebut muta’alaq karena jumlah jar dan majrur adalah tempat yang mana kepadanya dikaidkan/dihubungkan  fi’il atau makna fi’il
2.      Ghayah menurut lughat adalah ujung. Maksud ghayah dalam i’rab bahasa arab sering diartikan sebagai bagian dari maksud sebuah kalam, namun dikuatirkan dipahami oleh pembaca atau pendengar tidak masuk dalam maksud kalam tersebut. Karena itu, perlu disebut bagian itu.  Biasanya jumlah ghayah itu dimulai dengan huruf waw hal (bermakna hal). Misalnya ;
الناس نسيان ولو كان الغزالي
Menambah ”meskipun Al-ghazali” karena dikuatirkan sipembaca memahami Al-ghazali tidak masuk dalam pelupa, karena Al-ghazali merupakan ulama sufi terkenal. Dengan demikian maksud sipenulis adalah semua manusia adalah pelupa, termasuk di dalam nya Al-ghazali.

3.      Tafri’ secara lughat adalah membuat cabang. Istilah tafri’ dalam ilmu bahasa arab adalah pemahaman dari zat kalam sebelumnya. Misalnya :
تجب الصلاة على المسلم فلا تجب على الكافر
Pernyataan tidak wajib shalat atas kafir merupakan pemahaman dari pernyataan wajib shalat hanya atas orang muslim. Maka pernyataan tidak wajib shalat atas kafir merupakan tafri’ dari pernyataan sebelumnya. Huruf ”fa” disebut huruf tafri’.



8 komentar:

  1. thanks ustadz penjelasannya

    BalasHapus
  2. Maaf tgk, saya masih belum mengerti secara baik tentang contoh muta'alaq. Dapatkah di berikan beberapa contoh lain ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. contoh lAin adAlAh : كتبت بالقلم
      artinyA : sAyA menulis dengAn penA. bil qalAm AdAlAh mutA'AlAq dAri "kAtAbtu". disebut bil qAlAm sebAgAi muta'AlAq, kArenA bil qAlAm merupAkAn tempAt dikAidkAn "Aku menulis", sehinggA menulis itu bukAn menggunAkAn AlAt lAin, tetApi hAnyA menggunAkAn penA.
      demikiAn, mudAh2An bisA dipAhAmi

      Hapus
    2. contoh lAin adAlAh : كتبت بالقلم
      artinyA : sAyA menulis dengAn penA. bil qalAm AdAlAh mutA'AlAq dAri "kAtAbtu". disebut bil qAlAm sebAgAi muta'AlAq, kArenA bil qAlAm merupAkAn tempAt dikAidkAn "Aku menulis", sehinggA menulis itu bukAn menggunAkAn AlAt lAin, tetApi hAnyA menggunAkAn penA.
      demikiAn, mudAh2An bisA dipAhAmi

      Hapus
  3. Apakah mutaalaq itu selalu kembali ke kalimat/kalam sebelumnya ? Boleh kah ia dikaitkan dengan kalam sesudah.
    Saya pernah mendengar ada mutaalaq yang dibuang. Itu bagaimana maksudnya tgk ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. mutA'AlAq itu pAdA dAsAr nyA terletAk sesudAh pi'il AtAu isim yAng bermAknA fi'il.. nAmun kAdANg2 AdA jugA diletAk sebelum fi'il, kArenA AdA mkAsud tertentu dAri sipembicArA. dAn jugA AdA mutA'AlAq yg di buAng, kArenA sudAH mAKlum. ilmu yg membAhAs ini sepintAs AdA pembAhAsAnnyA dAlAm ilmu nAhu, lebih detilnyA dAlm ilmu mA'Ani.

      Hapus
  4. Maaf tgk,saya ingin bertanya sedikit
    Bagaimana cara membedakan antara fa fasihah,tafri',dan fa tafsir?
    Maaf menganggu

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut hemat kami, fa tafri' adl : fa yg masuk pada jumlah tafri' sebagaimana pada point ke tiga dlm tulisan di atas. sedangkan fa fashihah adalah fa pada jawab jumlah yg di taqdir. jumlah yg ditaqdir ini muncul karena karena ada mubham. jadi jumlah sesudah fa fashihah merupakan tafsir bagi mubham tsb. karena itu fa tsb di sebut fa fasihah i'tibar merupakan jawab terhadap jumlah yg di taqdirkan, dan disebut fa tafsir i'tibar jumlah sesudahnya merupakan tafsir bagi sebelumnya. alhasil fa fashihah sama dgn fa tafsir.
      contohnya : al-kalamu imma fi'il wa imma ismun au harfum. fal-fi'l huwa...........dst. taqdirnya, jika kamu tanya apakah fi'l itu, maka.....

      Hapus