Minggu, 28 Agustus 2016

Menempatkan kembali Nash-Nash Imam Syafi’i pada pemahaman yang benar (bag.6)

10.        Nash Imam Syafi’i melarang taqlid
Nash-nash Imam Syafi’i dimaksud adalah sebagai berikut :
a.       Al-Muzani mengatakan dalam Muqaddimah kitabnya, Mukhtashar al-Muzani :
لاقربه على من اراده مع اعلاميه نهيه عن تقليده وتقليد غيره
Sesungguhnya telah aku mempermudah ilmu Syafi’i atas orang-orang yang menginginkannya serta ada pemberitahuan dari Syafi’i atas larangan taqlid kepada beliau dan kepada selainnya.[1]

2.    Harmalah berkata, Imam Syafi’i mengatakan :
كلما قلت فكان عن النبي صلى الله عليه وسلم خلاف قولي مما يصح فحديث النبي صلى الله عليه وسلم أولى فلا تقلدوني
Manakala yang aku katakan, sedangkan perkataanku itu menyalahi hadits Nabi SAW yang shahih,  maka hadits Nabi SAW lebih diutamakan. Karena itu, jangan kamu taqlid kepadaku.[2]

3.    Al-Muzani berkata, Imam Syafi’i mengatakan :
اذا وجدتم سنة فاتبعوها ولا تلتفتوا إلى قول أحد
Apabila kamu dapati sunnah, maka ikutilah sunnah dan jangan kamu berpaling kepada perkataan seseorang.[3]


Imam Harmalah salah seorang murid Imam Syafi’i, beliau lahir pada tahun 166 -243 H. Diantara kitab beliau karya beliau adalah al-Mabsuth dan al-Mukhtsahar. Menurut penjelasan dalam kitab Thabaqat al-Syafi’iyah karya Ibnu al-Subki, beliau ini termasuk mujtahid muntasib (ulama yang berijtihad pada furu’ fiqh, namun masih menggunakan ushul imamnya), meski kadang beliau keluar dari mazhab imamnya, baik ushul maupun furu’nya. Hal yang sama juga terjadi pada al-Muzani.[4] Sedangkan al-Muzani sebagaimana dimaklumi juga merupakan murid dari Imam Syafi’i. Beliau lahir pada tahun pada 175-264 H.[5] Al-Harmalah dan al-Muzani ini dikenal sebagai  perawi mazhab jadid Imam Syafi’i.[6] Alhasil kedua ulama yang mendengar langsung perkataan Imam Syafi’i ini adalah seorang mujtahid, meskipun kedua beliau ini bukan sekelas imam mujtahid sekaliber Imam Syafi’i dan lainnya yang merupakan mujtahid mustaqil.
Dengan demikian, kita bisa memaklumi kenapa Imam Syafi’i berkata kepada dua tokoh ini dan yang setingkat dengannya untuk tidak bertaqlid. Karena memang sebagaimana dimaklumi bahwa mujtahid tidak boleh bertaqlid kepada mujtahid. Karena itu, nash-nash Imam Syafi’i di atas tidak boleh kita terapkan untuk orang awam yang tidak mampu berijtihad. Kebolehan bertaqlid orang awam kepada mujtahid adalah berdasarkan firman Allah berbunyi :
فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
Artinya : Maka tanyalah kepada orang yang punya ilmu apabila kamu tidak mengetahuinya. (Q.S. al-Nahl : 43)

            Al-Mawardi ketika menjelaskan hukum taqlid seorang ulama kepada ulama lainnya dengan perincian dan perbedaan pendapat tentangnya, beliau mengatakan, ini merupakan masalah taqlid mujtahid kepada mujtahid dan inilah maksud Imam Syafi’i  melarang taqlid kepada beliau dan taqlid kepada lainnya.[7]
Ketika Imam al-Nawawi mengutip pendapat Abu Ishaq dan Abu Ali As Sinji mengenai posisi mujtahid muntasib, dimana mereka dinisbatkan ke imam mazhab bukan karena taqlid, namun karena menggunakan metodologi imam mazhab dalam berijtihad, maka setelah itu beliau menyatakan bahwa apa yang disebutkan oleh kedua ulama ini sudah sesuai dengan apa yang diperintahkan kepada mereka dalam ijtihad oleh Imam Syafi’i sebagaimana dalam Muhktashar al-Muzani ada larangan Imam Syafi’i untuk taqlid kepadanya dan kepada selainnya.[8] Penjelasan al-Nawawi ini menunjukan bahwa pernyataan Imam al-Syafi’i yang disebut oleh  al-Muzani mengenai larangan untuk taqlid hanya sesuai  dengan mereka yang sampai pada tingkatan mujtahid muntasib, bukan ditujukan kepada orang awam yang tidak mungkin mampu menjadi mujtahid.






[1] Al-Muzani, Mukhtashar al-Muzani, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. I, Hal. 7
[2] Ibnu ‘Asaakir, Tarikh al-Damsyiq, Maktabah Syamilah, Juz. VXI, Hal. 386
[3] Ibnu ‘Asaakir, Tarikh al-Damsyiq, Maktabah Syamilah, Juz. VXI, Hal. 386
[4] Ibnu al-Subki, Thabaqat al-Syafi’iyah al-Kubra, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Juz. II, Hal. 127, 128, 131 dan 102-103
[5] Ibnu al-Subki, Thabaqat al-Syafi’iyah al-Kubra, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Juz. II, Hal. 93-95
[6] Qalyubi, Hasyiah Qalyubi wa ‘Amirah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 14
[7] Al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. I, Hal. 33
[8] Al-Nawawi, al-Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz. I, Hal. 76

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar