Jumat, 07 Oktober 2016

Panitia qurban menerima jatah daging qurban ?

Panitia Qurban adalah sekelompok orang-orang tertentu yang pada umumnya
dipersiapkan oleh suatu organisasi seperti ta’mir masjid, mushalla dan lain-lain guna menerima kepercayaan (amanat) dari pihak yang berqurban (mudlahhi) agar melaksanakan penyembelihan hewan qurban dan membagikan dagingnya. Apabila pengertian ini yang digunakan dalam paktek qurban , maka dalam pandangan fiqh panitia adalah wakil dari pihak mudlahhi.
Dalam kitab Fathul Qarib disebutkan devinisi wakalah (mewakilkan) sebagai berikut :
و في الشرع تفويض شخص شيأ له فعله مما يقبل النيابة الى غيره ليفعله حال حياته
Wakalah menurut syara’ adalah penyerahan oleh seseorang sesuatu yang boleh ia kerjakan sendiri dari urusan-urusan yang bisa digantikan kepada pihak lain agar dikerjakannya diwaktu pihak pertama masih hidup.[1]

          Seterusnya dalam Hasyiah al-Jamal ‘ala Syarh al-Manhaj dijelaskan :
 
والوكيل امين  لانه نائب عن الموكل في اليد والتصرف فكانت يده كيده
Wakil adalah pengemban amanah, karena ia sebagai pengganti muwakkil (yang mewakilkan) dalam kekuasaan dan tasharruf, jadi kekuasannya seperti kekuasaan pihak muwakkil.[2]

Dengan demikian, maka posisi wakil dalam qurban adalah pemegang amanah dari muwakkil dimana wewenangnya sama dengan muwakkil. Karena itu, si wakil tidak boleh menerima hak dari daging qurban kecuali sedikit daging yang merupakan hak si muwakkil (kalau qurban sunnat, bukan nazar). Adapun untuk pribadi si wakil, menurut Ibrahim al-Bajuri boleh menerimanya apabila si muwakkil ada menentukan dalam jumlah tertentu yang diperuntukan untuk si wakil. Sebaliknya, apabila tidak ditentukan oleh si muwakkil, maka si wakil tidak boleh mengambilnya.
ولا يجوز له أخذ شيئ الأ ان عين له الموكل قدرا منها

Tidak boleh bagi wakil mengambil sedikitpun kecuali pihak muwakkil sudah menentukan sekadar dari padanya untuk pihak wakil.[3]




[1].Ibnu Qasim al-Ghazi, Fathul Qarib, (dicetak pada hamisy al-Bajuri), al-Haramain, Singapura, Juz. I, Hal. 386
[2] Sulaiman al-Jamal, Hasyiah al-Jamal ‘ala Syarh al-Manhaj, Dar Ihya al-Turatis al-Arabi, Juz. III, Hal. 416
[3] Ibrahim al-Bajury, Hasyiah al-Bajuri ‘ala Fathul Qarib, al-Haramain, Singapura, Juz. I, Hal. 387

5 komentar:

  1. Assalamualaikum ustadz. Saya mau bertanya, bagaimana hukumnya keraguan dari org yg sering ragu? Misalkan beberapa hari yg lalu saya mencuci baju yg bernajis lalu saya bersihkan. Setelah itu saya melakukan aktivitas dan datang banyak keraguan dari segala hal, dari masalah ragu air kencing, ragu darah yg ada di kasur, setelah keraguan tsb saya tepis satu persatu munculah keraguan bahwa saya saat hari2 yg telah lalu sempat mencuci baju najis dan memegang kran mandi, tiba2 saya ragu apakah saya mencuci kran tsb atau tidak. Padahal itu sudah berlalu dan setelah mencuci waktu itu saya tidak ragu2 akan hal tsb, namun anehnya ketika muncul berbagai keraguan dan hilang satu persatu maka selalu muncul keraguan2 dari hal yg baru. Apakah ada keringanan bagi org yg sering ragu2? Lalu bagaimana dg keraguan saya yg lupa apakah kran dicuci atau belum? Karena saya kewalahan harus mencuci ulang baju2 yg sudah saya jemur diakibatkan sebelum menjemur pastinya saya memegang kran tsb untuk menutup air. Saya frustasi ustadz terus dihantui perasaan ragu dan ntah mengapa saya selalu ragu. Mohon ustadz memberi penjelasannya kpd saya. Terima kasih wasalam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. ada qawaid fiqh yg mengatakan : "keyakinan tidak hilang dengan sebab keragu2an.". jadi keyakinan sdr suci tersebut tdak hilang dengan sebab ragu2 karrena sdh ada keyakinan pd awalnya. apalagi yg terjadi pd sdr menurut hemat kami bukan ragu-ragu, bahkan merupakan was-was . karena was-was terjadi tanpa ada dalil sedikitpun, tetapi hanya bisikan hati semata. ingat was-was merupakan tipuan setan utk meembuat manusia menjauhi agamanya dlm beribadah.
      mungkin link ni membantu sdr dlm memahami masalh bersuci ;
      http://kitab-kuneng.blogspot.co.id/2016/06/hukum-fiqh-apabila-bertentangan-antara.html

      Hapus
  2. Assalamualaikum pak saya mau bertanya. Satu tahun lalu rambut saya ada kutunya, kemudian saya basmi menggunakan obat2an dengan tujuan agar kutunya mati. Lalu baru akhir2 ini saya teringat, bagaimana hukumnya dengan bangkai kutu dan telur2nya tsb? Apakah itu najis? Lalu saat ini saya tidak tau apakah bangkai dan telurnya masih ada atau tidak karena setelah dibasmi itu rambut saya tidak ada kutunya (kutu yg hidup maksudnya). Dan saat ini rambut saya ada kutunya lagi, apakah kejadian yg sudah lalu itu biarkan saja berlalu?
    wasalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. bangkai kutu di rambut, termasuk najis yang di maafkan. jadi tidak apa2
      wassalam

      Hapus