Sabtu, 18 Juni 2011

Jumlah Rakaat Shalat Tarawih

Mayoritas umat Islam berpendapat bahwa bilangan shalat Tarawih adalah dua puluh raka’at. Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Abu Hanifah, Daud al-Dhahiry dan satu riwayat dari Malik berpendapat bilangan Tarawih adalah dua puluh raka’at. Riwayat lain dari Malik adalah tiga puluh enam raka’at.1 Ahmad dalam satu riwayat darinya, juga berpendapat jumlah raka’at Tarawih adalah tiga puluh enam raka’at karena mengikuti perbuatan penduduk Madinah. Namun Al-Ruyani mengabarkan kepada kita bahwa riwayat tersebut, yaitu Malik dan Ahmad berpendapat tiga puluh enam raka’at adalah suatu kesalahan, karena Ibnu Umar telah meriwayat bahwa manusia pada masa sahabat melakukan shalat Tarawih berjama’ah kepada Ubay bin Ka’ab dengan jumlah dua puluh raka’at dan itu merupakan ijmak diantara mereka. Penduduk Makkah juga melakukan hal serupa. Adapun kemudian penduduk Madinah melaksanakan shalat Tarawih dengan jumlah tiga puluh sembilan raka’at, menurut Syafi’i, adalah karena pada waktu itu penduduk Makkah melaksanakan Tarawih dengan jumlah dua puluh raka’at, dimana dalam setiap sekali istirahat (tarwih) mereka melaksanakan thawaf tujuh kali. Guna menyamakan dengan ibadah penduduk Makkah, maka penduduk Madinah menambah empat raka’at dalam setiap kali istirahat shalat Tarawih, sehingga jumlah raka’at shalat mereka adalah 20 + (4 kali istirahat x 4 raka’at =16) = 36 raka’at dan menjadi jumlah totalnya = 39 raka’at dengan menambah tiga raka’at Witir. 2
Disamping dua pendapat di atas, juga ada riwayat dari al-Aswad bin Yazid bahwa beliau ini melakukan shalat Tarawih dengan empat puluh raka’at. 3 Sekelompok umat Islam, ada juga yang berpendapat bahwa bilangan raka’at shalat Tarawih adalah delapan raka’at atau sebelas raka’at dengan Witir. Imam as-Suyuthi, salah seorang tokoh mutaakhirin Mazhab Syafi’i mempunyai pendapat yang berbeda dengan Syafi’i sendiri dan kebanyakan para ulama. Beliau berpendapat bahwa bilangan raka’at shalat Tarawih adalah sebelas raka’at dengan witir. Beliau mengatakan dalam kitabnya, al-Mashabih fii Shalah al-Tarawih :
“Alhasil bahwa dua puluh raka’at tidak itsbat (positif) dari perbuatan Nabi SAW. Apa yang dikutip dari Ibnu Hibban sesuai dengan pendapat kami dengan berpegang kepada hadits riwayat Bukhari dari Aisyah bahwa Rasulullah SAW tidak melebihi pada Ramadhan dan lainnya atas sebelas raka’at. Keterangan ini sesuai dengan keterangan Ibnu Hubban dari sisi Nabi SAW bahwa beliau melakukan Shalat Tarawih delapan raka’at kemudian witir dengan tiga raka’at, maka jumlahnya sebelas raka’at. 4

Pendapat lain mengenai jumlah raka’at shalat Tarawih adalah pendapat yang mengatakan bahwa tidak ada batasan tertentu mengenai jumlah raka’at shalat Tarawih. Shalat Tarawih adalah ibadah sunnat, karena itu boleh melaksanakan shalat Tarawih dengan jumlah raka’at yang diinginkannya. Maka kadang-kadang pada suatu ketika, seseorang menginginkan berdiri dalam shalat dengan waktu yang lama, maka ia shalat dengan delapan raka’at dan pada saat yang lain, menginginkan shalat yang singkat, maka ia shalat dengan dua puluh atau lebih. Diantara yang berpendapat dengan pendapat terakhir ini adalah al-Subky, salah seorang tokoh mazhab Syafi’i sebagaimana disebut dalam kitab beliau, Syarah al-Minhaj. Al-Jury, mendakwakan bahwa pendapat ini merupakan pendapat Syafi’i. Pendapat dua ulama terakhir ini telah dikemukakan oleh al-Suyuthi dalam kitabnya, al-Mashabih fii Shalah al-Tarawih. 5 Perlu menjadi catatan di sini, bahwa dakwaan al-Jury dimana Syafi’i berpendapat tidak ada batasan tertentu mengenai jumlah raka’at shalat Tarawih merupakan sebuah dakwaan yang sangat aneh dan ganjil, karena dakwaan tersebut tidak didapati dalam kitab-kitab mu’tabar di kalangan tokoh-tokoh ulama mazhab Syafi’I, bahkan yang ditemukan hanya riwayat-riwayat yang menyatakan bahwa Syafi’i berpendapat shalat Tarawih berjumlah dua puluh raka’at. Ini dapat diperhatikan dalam kitab antara lain :

1.Kitab al-Hawi al-Kabir karya al-Mawardi, disebutkan :
“Syafi’i r.a. mengatakan, aku melihat mereka melaksanakannya di Madinah dengan tiga puluh sembilan raka’at. Tetapi aku lebih menyukai dengan dua puluh raka’at, karena itu telah diriwayat dari ‘Umar bin Khatab r.a. dan penduduk Makkah juga melaksanakan seperti itu dan melakukan witir tiga raka’at.”6

Pernyataan di atas juga telah dikutip oleh al-Ruyani dalam Bahr al-Mazhab 7 dan Abu Husain al-‘Imrany al-Syafi’i al-Yamany dalam kitab al-Bayan fii Mazhab al-Imam al-Syafi’i.8

2.Diantara ulama yang telah menisbahkan pendapat dua puluh rakaa’at shalat Tarawih tanpa menyebut qaul lain bagi Syafi’i adalah antara lain Ibnu Rusyd dalam Bidayah al-Mujtahid,9 Ibnu Abd al-Bar dalam al-Istizkar 10 dan lain-lain.

3.Imam an-Nawawi, salah seorang ulama Syafi’iyah yang sangat telit dan akurat dalam memilah-milah mana yang menjadi qaul Syafi’i dan mana yang bukan, dalam kitab karangan beliau, al-Majmu’ Syarah al-Muhazzab mengatakan :
“Mazhab kita, raka’at Tarawih adalah dua puluh raka’at dengan sepuluh kali salam selain witir”.11

4. Keterangan yang disampaikan oleh an-Nawawi di atas dapat ditemukan juga dalam kitab-kitab karya ulama Syafi’iyah lainnya seperti Jalaluddin al-Mahalli, Ibnu Hajar al-Haitamy, ar-Ramli, Zakariya al-Anshary dan lain-lain.

Perbedaan pendapat dikalangan ulama Islam mengenai jumlah raka’at shalat Tarawih di atas lebih disebabkan karena tidak terdapat hadits yang marfu’ (hadits yang langsung dari Rasulullah SAW), baik yang bersifat qauli, fi’li maupun taqriri dari Rasulullah SAW. Yang ada, hanya keterangan mengenai shalat Tarawih bahwa Rasulullah SAW pernah keluar dari rumah melakukan shalat dalam masjid dalam beberapa malam, kemudian beliau tidak keluar lagi ke masjid karena kuatir difardhukan shalat tersebut atas ummatnya dengan tanpa disebut jumlah raka’atnya, sebagaimana hadits ‘Aisyah di bawah ini :
أن رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ
Artinya : Sesungguhnya Rasulullah SAW pada suatu malam shalat dalam mesjid dengan diikuti oleh manusia. Kemudian beliau keluar untuk shalat pada malam berikutnya, maka makin banyak manusia shalat bersamanya. Pada malam ketiga atau keempat manusia keluar berkumpul, Rasulullah SAW tidak keluar-keluar kepada mereka. Manakala Subuh bersabda Rasulullah SAW : “Sesungguhnya aku telah melihat apa yang kalian kerjakan dan tidak ada yang mencegahku keluar kepada kalian kecuali kekuatiranku difardhukan shalat itu atasmu. Yang demikian itu dalam bulan Ramadhan. (H.R. Bukhari,12 Muslim13 dan Malik)14

Penjelasan ini sesuai dengan keterangan para ulama sebagaimana tersebut di bawah ini :
1.Ibnu Hajar al-Asqalany dalam mensyarah hadits di atas, mengatakan :
“Saya belum pernah melihat dari jalur-jalur hadits yang mengatakan jumlah bilangan raka’at shalat Nabi SAW pada malam itu”.15

2.Berkata Ibnu Hajar al-Haitamy :
“Perintah mendirikan Ramadhan dan menggemarkannya datang tanpa menyebut bilangan raka’atnya. Shalat Nabi SAW tanpa menyebut bilangan raka’atnya pada beberapa malam. Pada malam keempat Nabi SAW terlambat datang karena kuatir difardhukan atas mereka, kemudian mereka tidak mampu melakukannya”. 16

Namun demikian, Baihaqi ada meriwayat hadits dari Ibnu Abbas, beliau berkata :
كان النبي صلى الله عليه و سلم يصلي في شهر رمضان في غير جماعة بعشرين ركعة
Artinya : Nabi SAW pernah melakukan shalat pada bulan Ramadhan dengan tanpa jama’ah dua puluh raka’at (H.R. Baihaqi).17

Hadits ini menjelaskan bahwa Rasulullah SAW melakukan shalat Tarawih dengan jumlah dua puluh raka’at. Namun hadits ini, nilainya adalah dha’if sebagaimana penjelasan Baihaqi sendiri setelah menyebut hadits ini dalam as-Sunannya. Namun demikian, kedha’ifan hadits ini tidak bermakna, karena telah terjadi ijmak para sahabat atas shalat Tarawih dengan jumlah dua puluh raka’at pada masa Umar bin Khatab. Keterangan ijmak ini telah disebut oleh Syarwani dalam Hasyiah Tuhfah al-Muhtaj 18 dan ar-Ruyani dalam Bahr al-Mazhab,19 juga telah dikemukan dalam Fatawa al-Azhar.20 Ibnu Abd al-Bar mengatakan :
“Pendapat ini shahih dari Abi bin Ka’ab dengan tidak ada khilaf dari Sahabat Nabi SAW.” 21

Keterangan ijmak ini berdasarkan hadits riwayat Baihaqi dari Sa-ib bin Yazid, beliau berkata :
كانوا يقومون على عهد عمر بن الخطاب رضي الله عنه في شهر رمضان بعشرين ركعة
Artinya : Mereka (para sahabat) melaku shalat malam pada masa Umar bin Khatab r.a. pada bulan Ramadhan dengan dua pulu raka’at (H.R.Baihaqi22 dan lainnya)

Jalaluddin al-Mahalli menjelaskan bahwa hadits di atas, diriwayat oleh Baihaqi dan lainnya dengan isnad shahih, sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi dalam Syarah Muhazzab.23 Keterangan hadits riwayat Baihaqi di atas adalah shahih, juga disampaikan oleh al-Bakri al-Dimyathi.24 Baihaqi meriwayat hadits di atas dari Abu Abdullah al-Husain bin Muhammad bin Husain bin Panjawih al-Dainury Bildamighan dari Ahmad bin Muhammad bin Ishaq al-Sunny dari Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz al-Baghwy dari Ali bin al-Ja’d dari Ibnu Abi Za’b dari Yazid bin Khusaifah dari al-Sa-ib bin Yazid. Hadits yang senada dengan ini juga diriwayat oleh Malik dalam kitab al-Muwatha’ dan oleh Baihaqi, tetapi dengan jumlah dua puluh tiga raka’at, yaitu :
كان الناس يقومون في زمان عمر بن الخطاب في رمضان بثلاث وعشرين ركعة
Artinya : Manusia pada zaman Umar bin Khatab mendirikan malam pada bulan Ramadhan dengan jumlah dua puluh tiga raka’at (H.R. Malik25 dan Baihaqi)

Malik dan Baihaqi meriwayatkannya dari Yazid bin Ruman. Sedangkan Yazid bin Ruman ini tidak pernah bertemu dengan Umar bin Khatab. Jadi, termasuk hadits mursal.26 Dengan demikian, sanad hadits ini dha’if. Namun demikian, kedhaifannya tidak menyebab matannya dha’if pula, karena hadits ini bersesuaian dengan hadits shahih riwayat Baihaqi yang mengatakan raka’at Tarawih dua puluh raka’at. Baihaqi mentaufiqkan (mengkompromikan) kedua hadits di atas dengan mengatakan bahwa tiga raka’at, yang lebih dari dua puluh sebagaimana riwayat Malik adalah shalat witir. Dengan demikian kedua riwayat tersebut sepakat menyatakan bahwa shalat Tarawih adalah dua puluh raka’at. 27

Ibnu Abd al-Bar telah menyebut beberapa hadits lain yang menyatakan jumlah raka’at Tarawih adalah dua puluh raka’at, antara lain : 28
1.Hadits riwayat Abd al-Razaq dari Daud bin Qais dan lainnya dari Muhammad bin Yusuf dari Sa-ib bin Yazid, beliau berkata :
أن عمر بن الخطاب جمع الناس في رمضان على أبي بن كعب وتميم الداري على إحدى عشرين ركعة
Artinya : Umar bin Khatab telah mengumpulkan manusia pada bulan Ramadhan kepada Ubay bin Ka’ab dan Tamim ad-Dary dengan dua puluh satu raka’at

2.Hadits riwayat Waki’ dari Malik dari Yahya bin Sa’id, beliau berkata :
أن عمر بن الخطاب نهر رجلا يصلي بهم عشرين ركعة
Artinya : Sesungguhnya Umar bin Khatab pernah menghardik sesorang laki-laki supaya shalat dengan lainnya dua puluh raka’at

3.Hadits riwayat al-Harits bin Abdurrahman bin Abi Zubab dari Sa-ib bin Yazid, beliau berkata :
وكان القيام على عهد عمر بثلاث وعشرين ركعة
Artinya : mendirikan malam pada masa Umar adalah dengan dua puluh tiga raka’at

4. Hadits riwayat Malik dari Yazid bin Ruman, beliau berkata :
كان الناس يقومون في زمان عمر بن الخطاب في رمضان بثلاث وعشرين ركعة
Artinya : Manusia pada zaman Umar bin Khatab mendirikan malam pada bulan Ramadhan dengan jumlah dua puluh tiga raka’at

Adapun riwayat yang menyatakan bahwa Umar bin Khatab memerintah Ubay bin Ka’ab dan Tamim ad-Dary untuk shalat sebelas raka’at hanya diriwayat oleh Malik seorang diri, tidak oleh lainnya. Riwayat tersebut adalah riwayat Malik dari Muhammad bin Yusuf dari Sa-ib bin Yazid, beliau berkata :
أمر عمر بن الخطاب أبي بن كعب وتميما الداري أن يقوما للناس بإحدى عشرة ركعة قال وقد كان القارئ يقرأ بالمئين حتى كنا نعتمد على العصي من طول القيام وما كنا ننصرف إلا في فروع الفجر
Artinya : Umar bin Khatab telah memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim ad-Dary agar shalat dengan manusia dengan sebelas raka’at. Dia (perawi) berkata: "Ada imam yang membaca 200 ayat sampai kami bersandar di atas tongkat karena lamanya berdiri dan kami tidak selesai kecuali pada saat terbitnya fajar (H.R. Malik)29

Baihaqi juga telah meriwayat hadits ini yang sanadnya juga berujung kepada Malik dari Muhammad bin Yusuf dari Sa-ib bin Yazid.30 Ibnu Abd al-Bar mengatakan :
“Aku tidak mengetahui seorangpun yang mengatakan pada hadits ini sebelas raka’at kecuali Malik” 31

Pernyataan Ibnu Abd al-Bar ini juga telah dikutip al-Ruyani, beliau berkata :
“Ibnu Abd al-Bar telah menjadikan riwayat sebelas raka’at sebagai waham belaka. Beliau berkata : “Aku tidak mengetahui seorangpun yang mengatakan sebelas raka’at selain Malik”.32

Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa Malik menyendiri dalam periwatan tersebut dan pula bertentangan dengan riwayat kebanyakan yang menyatakan Umar memerintah shalat Tarawih dua puluh raka’at sebagaimana terlihat di atas. Sehingga tidak heran dikalangan pengikut Mazhab Malik sendiri riwayat ini tidak menjadi pegangan mazhab. Ini dapat diperhatikan dalam pernyataan Syaikh al-Dusuqi, salah seorang tokoh terkenal dalam Mazhab Malik di bawah ini :
“Shalat Tarawih adalah dua puluh tiga raka’at dengan al-syaf’i dan al-witr (maksudnya shalat witir, dengan jumlah raka’atnya genap dan ditambah satu raka’at lagi, sehingga jumlahnya adalah ganjil) sebagaimana yang berlaku pengamalannya. Kemudian dijadikan pada zaman Umar bin Abdul Aziz tiga puluh enam raka’at tanpa al-syaf’i dan al-witir. Tetapi yang menjadi amalan salaf dan khalaf adalah yang pertama”. 33

Keterangan senada juga disampaikan oleh Ibnu al-Abidin dari kalangan Mazhab Hanafi sebagaimana di bawah ini :
“(Perkataan Mushannif dua puluh raka’at) merupakan pendapat jumhur ulama dan merupakan amalan manusia di timur dan barat”.34

Ibnu Qudamah dari Mazhab Hanbali dalam kitab beliau, Syarah al-Kabir, setelah mengutip riwayat yang menyatakan pada zaman Umar dan Ali, shalat Tarawih adalah dua puluh raka’at, beliau mengatakan :
“Ini (jumlah raka’at Tarawih dua puluh) adalah seperti ijmak”35

Berdasarkan uraian di atas, maka yang dapat menjadi pegangan kita hanyalah riwayat yang menyatakan bahwa Umar bin Khatab pernah memerintah shalat Tarawih dua puluh raka’at. Kesimpulan ini sesuai dengan pernyataan Ibnu Abd al-Bar setelah beliau mengutip riwayat-riwayat tersebut di atas, yaitu :
“Ini semua menguatkan bahwa riwayat sebelas raka’at adalah waham dan salah dan sesungguhnya yang sahih adalah dua puluh tiga dan dua puluh satu raka’at” 36

Riwayat-riwayat di bawah ini juga mendukung kesimpulan di atas, yaitu :
1. Riwayat dari Abu Abdurrahman al-Salmy :
دعا القراء في رمضان فأمر منهم رجلا يصلي بالناس عشرين ركعة
Artinya : Ali r.a. memanggil para qari pada bulan Ramadhan, memerintah salah seorang dari mereka shalat dengan manusia dengan dua puluh raka’at.(H.R. Baihaqi) 37

2.Shalat Tarawih dengan dua puluh raka’at telah dilakukan oleh kebanyakan sahabat dan tidak ada sahabat lain yang menyalahinya. Menurut Ibnu Abd al-Bar shalat Tarawih dengan dua puluh raka’at telah dilakukan oleh Ali, Syutair bin Syakal, Ibnu Abi Mulaikah, al-Harits al-Hamdany dan Abi Baghtary dan merupakan pendapat jumhur ulama, ulama Kufah, Syafi’i dan kebanyakan fuqaha. Pendapat ini shahih dari Abi bin Ka’ab tanpa khilaf dari sahabat Nabi SAW. 38

3.‘Itha’, salah seorang Tabi’in berkata :
“Aku mendapati manusia, mereka shalat dengan dua puluh tiga raka’at dengan witir” 39

Dalil-dalil yang dikemukakan oleh golongan yang berpendapat raka’at shalat Tarawih adalah sebelas raka’at, antara lain :
1.Hadits Aisyah :
مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا
Artinya : Nabi tidak pernah lebih dari 11 raka’at baik di Ramadhan maupun bulan-bulan lainnya. Beliau shalat 4 rakaat, jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat lagi 4 raka’at, jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat 3 raka’at.(H.R. Bukhari 40 dan Muslim 41)

Perkataan “wala fii ghairihi” menunjukkan bahwa shalat yang dimaksud pada hadits ini bukanlah shalat Tarawih, karena shalat Tarawih tidak terdapat diluar Ramadhan. Jadi, menjadikan hadits ini sebagai dalil bilangan raka’at shalat Tarawih sungguh merupakan suatu yang tidak tepat sama sekali. Oleh karena itu, Ibnu Hajar al-Haitamy tidak menempatkan hadits di atas sebagai dalil raka’at shalat Tarawih, tetapi beliau menjadikan sebagai dalil jumlah raka’at shalat Witir.42 Apalagi menetapkan jumlah raka’at Tarawih sebelas raka’at berdasarkan hadits di atas bertentangan dengan ijmak sahabat yang terjadi pada masa Umar bin Khatab. Imam al-Ramli juga tidak menempatkan hadits di atas sebagai penentuan raka’at Tarawih, tetapi beliau juga menempatkannya sebagai dalil raka’at Witir. 43

2.Hadits riwayat Jabir, beliau berkata :
صلى بنا رسول الله صلعم في رمضان ثماني ركعات ثم أوتر
Artinya : Kami shalat dengan Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan delapan raka’at kemudian rasulullah SAW melakukan witir (H.R.Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban) 44

Hadits ini menjelaskan bahwa Jabir dan sahabat lainnya bertemu dengan Rasulullah SAW dan hanya sempat melakukan shalat Tarawih secara berjama’ah dengan Rasulullah SAW sebanyak delapan raka’at. Menurut keterangan Syarwani, kemungkinan besar Rasulullah SAW dan para sahabat menyempurnakan sisanya dirumah masing-masing, atau mungkin juga sebelumnya sudah duluan melaksanakan beberapa raka’at.45 Syaikhuna (Ibnu Hajar al-Haitamy) mengatakan :
“Yang masyhur sesungguhnya Rasulullah SAW keluar kepada menemui sahabat sebanyak tiga malam, yaitu malam kedua puluh tiga, kedua puluh lima dan kedua puluh tujuh dan Rasulullah SAW tidak keluar pada malam kedua puluh sembilan. Beliau tidak keluar secara berturut-turut supaya tidak memberatkan mereka. Pada saat itu, Rasulullah shalat dengan mereka delapan raka’at, tetapi kemudian beliau menyempurnakannya menjadi dua puluh raka’at di rumahnya, demikian juga para sahabat, menyempunakannya dirumah mereka dengan dalil terdengar suara mereka seperti suara lebah. Alasan Rasulullah SAW tidak meyempurnakan raka’at Tarawih dua puluh raka’at di dalam masjid adalah karena menaruh kasihan kepada mereka.46

Keterangan senada juga disampaikan oleh Bujairumy dalam Hasyiah Bujairumy ‘ala al-Khatib, yaitu :
“Jika kamu mengatakan : “Bagaimana dapat terjadi ijmak jumlah raka’at Tarawih dua puluh raka’at, padahal yang warid dari perbuatan Nabi SAW adalah delapan raka’at ?” Aku jawab : “Para sahabat menyempurnakannya lagi menjadi dua puluh raka’at di rumah meraka dengan dalil ketika kembali kerumah mereka masing-masing, terdengar suara mereka seperti suara lebah. Rasulullah hanya melakukan shalat delapan raka’at dengan mereka dan tidak melakukan dua puluh raka’at karena untuk meringankan mereka”. 47

Dr Wahbah Zuhaili, seorang ulama Timur Tengah yang berpengaruh di dunia Islam pada zaman moderen sekarang ini berkata :
“Rasulullah SAW shalat dengan para sahabat dengan jumlah delapan raka’at, kemudian mereka menyempurnakan sisanya pada rumah mereka. Karena itu, terdengar suara mereka seperti suara lebah.48

Penjelasan sebagaimana tersebut di atas adalah berdasarkan hadits riwayat Syaikhaini sebagaimana disebutkan oleh Syarqawi dalam kitab beliau, Hasyiah Syarqawi ‘ala Syarah al-Tahrir : yaitu :
انه صلعم خرج من جوف الليل من رمضان وهي ثلاث متفرقة ليلة الثالث والخامس والسابع والعشرين وصلي في المسجد وصلي الناس بصلاته فيها وكان يصلي بهم ثمان ركعات ويكملون باقيها في بيوتهم فكان يسمع لهم أزير كأزير النحل
Artinya : Sesungguhnya Nabi SAW pernah keluar dalam beberapa malam di Bulan Ramadhan, yaitu tiga malam yang terpisah-pisah, malam dua puluh tiga, dua puluh lima dan dua puluh tujuh. Pada beberapa malam tersebut Nabi SAW di mesjid dan manusia shalat berjama’ah dengan beliau dengan jumlah delapan raka’at. Mereka menyempurnakan shalat di rumahnya masing-masing, maka terdengarlah suara seperti suara lebah.(H.R. Syaikhaini) 49

Hadits riwayat Syaikhaini ini juga telah dikutip oleh Abdurrahman al-Jaziry dalam al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-Arba’ah 50 Yang dimaksud dengan Syaikhaini sebagaimana yang maklumi.dalam ilmu hadits adalah Bukhari dan Muslim.

Pemahaman sebagaimana disampaikan oleh para ulama di atas, harus menjadi rujukan kita, mengingat jumlah raka’at shalat Tarawih sudah fositif dua puluh raka’at berdasarkan perbuatan para sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khatab. Seandainya dikatakan bahwa jumlah raka’at shalat Tarawih berdasar perbuatan Rasulullah adalah delapan raka’at, ini sama halnya kita menuduh Umar bin Khatab dan sahabat lainnya pada ketika itu telah melakukan perbuatan yang menyimpang dari sunnah Rasulullah. Tentunya disepakati bahwa tuduhan ini tidak dibenarkan dalam I’tiqad Ahlusunnah wal Jama’ah.
Lagi pula penetapan raka’at shalat Tarawih delapan raka’at adalah bertentangan dengan penamaan shalat tersebut dengan nama Tarawih. Dinamakan shalat tersebut dengan Tarawih, karena para sahabat Nabi SAW melakukan istirahat dengan melakukan ibadah lainnya dalam setiap selesai melaksanakan shalat Tarawih empat raka’at. Tarawih adalah kata jama’ tarwihah yang berarti istirahat. Dengan demikian, Tarawih berarti banyak istirahat. Kalau kita menetapkan jumlah raka’at Tarawih hanya delapan raka’at, maka istrihatnya hanya satu kali. Maka sungguh tidak tepat penamaan shalat tersebut dengan Tarawih, padahal nama tersebut sudah populer mulai dari masa sahabat Nabi SAW. 51

3.Hadits dari Muhammad bin Yusuf dari Sa-ib bin Yazid, beliau berkata :
أمر عمر بن الخطاب أبي بن كعب وتميما الداري أن يقوما للناس بإحدى عشرة ركعة قال وقد كان القارئ يقرأ بالمئين حتى كنا نعتمد على العصي من طول القيام وما كنا ننصرف إلا في فروع الفجر
Artinya : Umar bin Khatab telah memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim ad-Dary agar shalat dengan manusia dengan sebelas raka’at. Dia (perawi) berkata: "Ada imam yang membaca 200 ayat sampai kami bersandar di atas tongkat karena lamanya berdiri dan tidaklah kami selesai kecuali pada terbitnya fajar (H.R. Malik)52

Baihaqi juga telah meriwayat hadits ini yang sanadnya sampai kepada Malik dari Muhammad bin Yusuf dari Sa-ib bin Yazid.53 Sebagaimana telah dikemukakan di atas, hadits ini hanya diriwayat oleh Malik dan bertentangan dengan riwayat kebanyakan. Oleh karena itu, riwayat ini tidak dapat diamalkan. Penjelasannya secara lebih rinci sudah dibahas sebelum ini. Jawaban lain mengenai keberadaan hadits ini dikemukakan oleh Baihaqi. Beliau mentaufiqkan (mengkompromikan) hadits ini dengan hadits riwayat lain yang mengatakan pada masa Umar bin Khatab, raka’at Tarawih adalah dua puluh raka’at dan riwayat lain lagi, yaitu dua puluh tiga raka’at. Beliau berkata :
“Riwayat-riwayat itu dapat dikompromikan, yaitu pada awalnya, mereka melakukan shalat dengan jumlah sebelas raka’at, kemudian melakukan shalat Tarawih dua puluh raka’at dan kemudian lagi melakukan witir tiga raka’at.”54

Maksudnya, pada awalnya Umar memerintah shalat Tarawih sebelas raka’at karena begitulah hasil ijtihad beliau. Kemudian ijtihad beliau tersebut berobah dan berpendapat bahwa jumlah raka’at Tarawih adalah dua puluh raka’at. Jumlah dua puluh raka’at ini kemudian menjadi ijmak. Kompromi sebagaimana disampaikan oleh Baihaqi ini juga pernah disebut oleh Ibnu Abd al-Bar dalam kitab beliau, al-Istizkar, namun beliau cenderung mentarjihkan hadits yang menyatakan Umar memerintah shalat Tarawih dua puluh raka’at.55 Kompromi tersebut didasarkan kepada qaidah :
إعمال الكلام أولى من إهماله
Artinya : mengamalkan suatu kalam lebih diutamakan dibandingkan meninggalkannya.56

Alhasil, berdasarkan keterangan para ahli di atas, hadits perintah Umar melakukan shalat sebelas raka;at tidak dapat dijadi sebagai dalil bahwa bilangan raka’at shalat Tarawih adalah sebelas raka’at.
4.Hadits Aisyah, beliau berkata :
أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يصلي من الليل إحدى عشرة ركعة يوتر منها بواحدة فإذا فرغ اضطجع على شقه الأيمن
Artinya : Sesungguhnya Rasulullah SAW shalat malam sebelas raka’at, mewitirkannya dengan satu raka’at. Maka apabila telah selesai, beliau berbaring atas lumbung kanannya.(H.R. Muslim 57 dan Malik 58 )

Imam Malik meriwayat hadits di atas dalam bab shalat witir Nabi SAW. Sedangkan Muslim menyebutnya dalam bab shalat malam. Yang dimaksud dengan shalat malam, boleh jadi shalat tarawih, boleh jadi shalat malam lainnya. Namun karena shalat Tarawih sudah positif dua puluh raka’at berdasarkan dalil-dalil di atas, maka hadits ini harus dipertempatkan sebagai penjelasan raka’at shalat malam yang bukan shalat tarawih. Dengan demikian, hadits ini tidak dapat menjadi hujjah tentang bilangan raka’at shalat Tarawih.
5. Hadits
كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يصلي بالليل ثلاث عشرة ركعة ثم يصلي إذا سمع النداء بالصبح ركعتين خفيفتين
Artinya : Rasulullah SAW melakukan shalat tiga belas raka’at, kemudian pada ketika mendengar azan subuh, shalat dua raka’at yang ringan(H. R. Malik) 59

Hadits ini juga membicarakan tentang jumlah raka’at shalat Witir, bukan shalat Tarawih. Oleh karena itu, Imam Malik menempatkan hadits ini dalam bab shalat Witir. Imam Bukhari juga meriwayat hadits yang senada dengan dua hadits di atas, dalam bab shalat Witir,60 Jadi bukan membicarakan jumlah raka’at shalat Tarawih. Lagi pula kalau dimaknai hadits ini sebagai dalil raka’at shalat Tarawih, tentu bertentangan dengan dalil dan ijmak yang dijelaskan sebelum ini.

Sekelompok umat Islam, sebagaimana telah disebut pada awal tulisan ini, ada yang berpendapat bahwa tidak ada batasan tertentu mengenai jumlah raka’at shalat Tarawih. Kelompok ini berargumentasi antara lain karena banyaknya riwayat yang menyatakan jumlah raka’at Tarawih yang berbeda-beda. Hal ini, menurut mereka hanyalah karena tidak ada ketentuan tertentu mengenai jumlah raka’atnya, sehingga shalat tarawih ini sama halnya dengan shalat sunnat mutlaq, dimana jumlah raka’atnya tidak dibatasi dengan jumlah tertentu.
Argumentasi dibantah, bahwa shalat Tarawih tidak dapat disamakan dengan shalat sunnat mutlaq, karena shalat Tarawih adalah sunnat muakkad yang lebih dekat kesamaannya dengan shalat fardhu, buktinya shalat Tarawih dituntut berjama’ah sebagaimana halnya shalat fardhu. Sifat ini tentu tidak dimiliki oleh shalat sunnat mutlaq. Lagi pula, pemahaman ini juga bertentangan dengan kesepakatan yang terjadi pada zaman Khalifah Umar r.a. sebagaimana telah dibahas di atas.

DAFTAR PUSTAKA
1.Ibnu Rusyd, Bidayah al-Mujtahid, Usaha keluarga, Semarang, Juz. I, Hal. 152
2.Al-Ruyani, Bahr al-Mazhab, Dar Ihya al-Turatsi, Beirut, Juz. II, Hal. 380
3.As-Suyuthi, al-Mashabih fii Shalah al-Tarawih, Dar al-‘Ammar, Hal. 32
4.As-Suyuthi, al-Mashabih fii Shalah al-Tarawih, Dar al-‘Ammar, Hal. 35-36
5.As-Suyuthi, al-Mashabih fii Shalah al-Tarawih, Dar al-‘Ammar, Hal. 42-43 dan 46-48
6.Al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. II, Hal. 290
7.Al-Ruyani, Bahr al-Mazhab, Dar Ihya al-Turatsi, Beirut, Juz. II, Hal. 379
8.Abu Husain al-‘Imrany al-Syafi’i al-Yamany , al-Bayan fii Mazhab al-Imam al-Syafi’i, Darul Minhaj, Juz. II, Hal. 278
9.Ibnu Rusyd, Bidayah al-Mujtahid, Usaha keluarga, Semarang, Juz. I, Hal. 152
10.Ibnu Abd al-Bar, al-Istizkar, Dar al-Qatibah, Damsyiq-Beirut, Juz. V, Hal. 157
11.An-Nawawi, al-Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz. III, Hal. 527
12.Bukhari, Shahih Bukhari, Dar Thauq an-Najh, Juz. II, Hal. 50, No. hadits 1129
13.Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. I, Hal. 524, No. Hadits : 761
14.Imam Malik, al-Muwatha’, Dar Ihya al-Turatsi al-Araby, Mesir, Juz. I, Hal. 113, No. Hadits : 248
15.Ibnu Hajar al-Asqalany, Fath al-Barry, Darul Fikri, Beirut, Juz. III, Hal. 12
16.Ibnu Hajar al-Haitamy, al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyah, Darul Fikri, Beirut, Juz. I, Hal. 194
17.Baihaqi, Sunan al-Baihaqi, Maktabah Darul Baz, Makkah, Juz. II, Hal. 496, No. Hadits : 4391
18.Syarwani, Hasyiah Syarwani ala Tuhfah al-Muhtaj, di cetak dalam Hasyiah Syarwani wa Ibnu Qasim, Mustafa Muhammad, Mesir, Juz. II, Hal. 240
19.Ar-Ruyani, Bahr al-Mazhab, Dar Ihya al-Turatsi al-Araby, Beirut, Juz. II, Hal. 380
20.Fatawa al-Azhar, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 48
21.Ibnu Abd al-Bar, al-Istizkar, Dar al-Qatibah, Damsyiq-Beirut, Juz. V, Hal. 157
22.Baihaqi, Sunan Baihaqi, Maktabah Darul Baz, Makkah, Juz. II, Hal. 496, No Hadits : 4393
23.Jalaluddin al-Mahalli, Syarah al-Mahalli, dicetak pada hamisy Qalyubi wa Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal 217
24.Al-Bakri al-Dimyathi, I’anah al-Thalibin, Thaha Putra, Semarang, Juz. I, Hal. 265
25.Imam Malik, al-Muwatha’, Dar Ihya al-Turatsi al-Araby, Mesir, Juz. I, Hal. 115, No. Hadits : 252
26.Ibnu Mulaqqan al-Syafi;i, Badr al-Munir, Darul Hijrah, Riyadh, Juz. IV, hal. 351
27.Jalaluddin al-Mahalli, Syarah al-Mahalli, dicetak pada hamisy Qalyubi wa Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal 217
28.Ibnu Abd al-Bar, al-Istizkar, Dar al-Qatibah, Damsyiq-Beirut, Juz. V, Hal. 154-156
29.Imam Malik, al-Muwatha’, Dar Ihya al-Turatsi Al-Araby, Mesir, Juz. I, Hal. 115, No. Hadits : 251
30.Baihaqi, Sunan al-Baihaqi, Maktabah Darul Baz, Makkah, Juz. II, Hal. 496, No. Hadits : 4392
31.Ibnu Abd al-Bar, al-Istizkar, Dar al-Qatibah, Damsyiq-Beirut , Juz. V, Hal. 154
32.Ibnu Mulaqqan al-Syafi;i, Badr al-Munir, Darul Hijrah, Riyadh, Juz. IV, hal. 351
33.Al-Dusuqi, Hasyiah al-Dusuqi ‘ala Syarh al-Kabir, Maktabah Syamilah, Juz. III, Hal. 176-177
34.Ibnu al-Abidin, Hasyiah Radd al-Mukhtar, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 48
35.Ibnu Qudamah, Syarah al-Kabir, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 745
36.Ibnu Abd al-Bar, al-Istizkar, Dar al-Qatibah, Damsyiq-Beirut, Juz. V, Hal. 156
37.Baihaqi, Sunan al-Baihaqi, Maktabah Darul Baz, Makkah, Juz. II, Hal. 496, No. Hadits : 4396
38.Ibnu Abd al-Bar, al-Istizkar, Dar al-Qatibah, Damsyiq-Beirut, Juz. V, Hal. 157
39.Ibnu Abd al-Bar, al-Istizkar, Dar al-Qatibah, Damsyiq-Beirut, Juz. V, Hal. 157
40.Bukhari, Shahih Bukhari, Dar Thauq an-Najh, Juz. II, Hal. 53, No. Hadits : 1147
41.Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. I, Hal. 509, No. Hadits : 738
42.Ibnu Hajar al-Haitamy, Tuhfah al-Muhtaj, di cetak pada hamisy Hasyiah Syarwani wa Ibnu Qasim, Mustafa Muhammad, Mesir, Juz. II, Hal. 225
43.Imam al-Ramli, Ghayah al-Bayan Syarah Zubab, Maktabah Syamilah, Hal. 79
44.Al-Mahalli, Syarah Mahalli, dicetak pada hamisy Qalyubi wa Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal 217
45.Syarwani, Hasyiah Syarwani ala Tuhfah al-Muhtaj, di cetak dalam Hasyiah Syarwani wa Ibnu Qasim, Mustafa Muhammad, Mesir, Juz. II, Hal. 240
46.Syarwani, Hasyiah Syarwani ala Tuhfah al-Muhtaj, di cetak dalam Hasyiah Syarwani wa Ibnu Qasim, Mustafa Muhammad, Mesir, Juz. II, Hal. 240
47.Bujairumy, Hasyiah al-Bujairumy ala al-Khatib, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. II, Hal. 65
48.Dr Wahbah Zuhaili, Fiqh Islami wa Adillatuhu, Darul Fikri, Beirut, Juz. II, Hal. 43
49.Syarqawi, Hasyiah al-Syarqawi ‘ala Syarah al-Tahrir, Juz.I, Hal. 332
50.Abdurrahman al-Jaziry, al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-Arba’ah, Maktabah Hakikat, Turki, Juz. II, Hal. 18
51.Abdurrahman al-Jaziry, Fiqh al-Mazhab al-Arba’ah, Maktabah Hakikat, Istambul, Turki, Juz. II, Hal. 20
52.Imam Malik, al-Muwatha’, Dar Ihya al-Turatsi Al-Araby, Mesir, Juz. I, Hal. 115, No. Hadits : 251
53.Baihaqi, Sunan al-Baihaqi, Maktabah Darul Baz, Makkah, Juz. II, Hal. 496, No. Hadits : 4392
54.Baihaqi, Sunan al-Baihaqi, Maktabah Darul Baz, Makkah, Juz. II, Hal. 496
55.Ibnu Abd al-Bar, al-Istizkar, Dar al-Qatibah, Damsyiq-Beirut, Juz. V, Hal. 154
56.As-Suyuthi, al-Asybah wan-Nadhair, al-Haramain. Singapura, Hal. 89
57.Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. I, Hal. 508, No. Hadits : 736
58.Imam Malik, al-Muwatha’, Dar Ihya al-Turatsi al-Araby, Mesir, Juz. I, Hal. 120, No. Hadits : 262
59.Imam Malik, al-Muwatha’, Dar Ihya al-Turatsi al-Araby, Mesir, Juz. I, Hal. 121, No. Hadits : 264
60.Bukhari, Shahih al-Bukhari, Dar Thauq al-Najh, Juz. II, Hal. 24-25, No. Hadits : 992 dan

22 komentar:

  1. alhamdulilah artikelnya bagus, mohon ijin paste ya semoga bermanfaat, salam kenal

    BalasHapus
  2. terima kasih atas komentarnya. tulisan dalam blog ini memang untuk disebarkan kepada semua kaum muslim,dan lainnya, karena itu, semua usaha untuk menyebarkan tulisan ini dizinkan dan mudah2an Allah membalas semua amal yg kita kerjakan di dunia ini, Amin...!

    BalasHapus
  3. Tgk, bagaimana jawaban tgk, jika mereka berkata bahwa hadits 'Aisyah sekalipun bukan menjadi dalil Tarawih tetapi hadits tersebut menjadi dalil bahwa tidak ada shalat malam Rasulullah yang lebih dari 11 rakaat. Jika kita katakan bahwa Shalat Tarawih adalah 20 raka'at, maka itu sudah pasti lebih dari 11, sedangkan 'Aisyah berkata "tidak ada shalat malam Rasulullah yang lebih dari 11 raka'at.

    BalasHapus
  4. kalau dikatakan seluruh shalat malam Rasulullah SAW tidak melebihi 11 rakaat, itu jelas tidak mungkin, sekarang mari kita hitung jml rakaat shalat rasulullah SAW pada waktu malam, yakni:
    1. shalat magrib : 3 raka'at
    2. sunnat sesudah magrib : 2 rakaat
    3. sunnat sebelum isya : 2 rakaat
    4. shalat isya : 4 rakaat
    5. sunnat sesudah isya : 2 raka'at
    6. tahajjud min. : 2 raka'at
    7. witir min. : 1 atau 3 raka'at
    jumlahnya : 16 atau 18 rakaat.
    lihat ! gimana mungkin dikatakan rasulullah SAW tidak shalat malam melebihi 11 raka'at

    kalau yang dimaksud shalat malam hanya yang sunat2 saja, berarti jml semuanya : 9 raka'at atau 11 raka'at. kalau ini yg dimaksudkan, berarti shalat Rasulullah SAW pada malam Ramadhan adalah 9/11 + 11 (kalau tarawih 11 raka'at)=20/22 raka'at shalat malam. ini juga tidak mungkin, kecuali kita tuduh rasulullah SAW tidak shalat sunnat selain tarawih pada bulan ramadhan. nauzubillah min zalik, karena Rasulullah SAW adalah orang yang sangat sempurna dalam ibadahnya.
    oleh karena itu, para ulama menempatkan hadits Aisyah tersebut berkenaan dengan shalat tahajjud atau shalat witir. shalat tahajjud dan witir ini ada pada ramadhan dan juga ada pada bukan ramadhan. Lihat pembahasan di atas.
    terima kasih

    BalasHapus
  5. Tolong pmbahasan ttg jumlah 20, 36 atu 39 dilngkapi dg dalil yg lengkap dg sanad dan perawinya. dan dimana letak keshahihannya. Imam Syafi'i sendiri mengatakan lebih suka pada yg 11 raka'at.
    walaupun tidak ada hadits yg marfu' tapi riwayat dari Aisyah itu sangat kuat, karena Aisyah yg paling tahu bagaimana ibadah Rasulullah. untuk menghindari kesalahan maka saringlah hadits tersebut dan carilah hadits yg benar-benar shahih.
    ok

    BalasHapus
  6. kalau saudara membaca dgn lengkap tulisan di atas, khusus untuk jumlah raka'at tarawih 20 raka'at, sudah dijelaskan dalil2nya dgn disertai sanadnya dan hadits tersebut shahih adanya menurut pendapat ahli hadits. adapun mengenai jml raka'at 36 atau 39 kami kami tidak menemukan dalil yg marfu' dari Nabi atau hadits mmauquf, karena itu, kami berpendapat rakaat tarawih yg lebih benar adalah 20 raka'at sebagaimana pendapat kebanyakan ulama.
    ohya,kami heran juga dari mana sumber sdr, hingga mengatakan imam syafi'i lebih suka 11 raka'at, coba buktikan !
    untuk saudara ketahui dalam al-Um,karangan imam syafi'i sendiri, terbitan maktabah Syamilah, juz. I, Hal. 167 beliau mengatakan : aku lebih suka 20 raka'at. jadi bukan 11 rakaat seperti saudara katakan tadi.
    hadits Aisyah yg saudara sebutkan itu memang shahih, tetapi itu bukan membicarakan masalah tarawih, karena hadits itu membicarakan shalat yg dilakukan pada Ramadhan dan bukan Ramadhan, sedangkan shalat tarawih tidak ada diluar ramadhan. coba baca kembali mengenai hadits tersebut secara lengkap pada tulisan di atas.sehingga sdr tidak salah dalam mengambil kesimpulan
    mudah2an kita semua mendapat hidayah dari Allah SWT

    BalasHapus
  7. mantaff gan ,, dari guru ane juga jelasin dari 4 madzhab semua nya rata2 di atas 20 rakaat lebih ...

    BalasHapus
  8. terima kasih atas kunjungan dan komentarnya

    wassalam

    BalasHapus
  9. KESIMPULAN MENGENAI TIDAKLAH BENAR DAN CUKUP KUAT YANG MENEMPATKAN 11 RAKAAT, TERNYATA LEBIH BANYAK ATAS DASAR PERSANGKAAN BELAKA, OLEH SIAPAPUN DIA. MAKA HADIS AISYAH ADALAH SATU-SATUNYA HADIS YANG DAPAT DIJADIKAN HUJJAH MENGENAI QIYAMUL LAIL RASUL PADA BULAN RAMADHAN DAN SELAINNYA. KARENA AISYAH SAAT ITU DITANYA MENGENAI QIYQMULLAIL RASUL PADA RAMADHAN

    BalasHapus
    Balasan
    1. untuk Anonim :

      menjadikan hadits Aisyah tersebut sebagai dalil raka'at shalat tarawih justru yg aneh dan prasangka yang lebih keliru, karena shalat tarawih tidak ada pada bulan bukan ramadhan. qiyam al-lail pada bulan ramadhan belum tentu merupakan shalat tarawih, karena nabi senantiasa melakukan shalat sunat malam seperti tahajjid, witir, rawatib dan lain2 pada bulan ramadhan. saudara akan melihat bahwa pendapat 20 rakaat lebih dapat dipertanggungjawabkan dalilnya apabila saudara membaca tulisan di atas dengan seksama dan tanpa prasangka dan tentunya didukung dengan disiplin ilmu ushul fiqh dan lain2

      wassalam

      Hapus
  10. Perbedaan tersebut bersifat variasi, lebih dari 11 rakaat adalah boleh, dan 23 rakaat lebih banyak diikuti oleh jumhur ulama, karena ada asalnya dari para sahabat pada zaman Khulafaur Rasyidin, dan lebih ringan berdirinya dibanding dengan 11 rakaat. Jangan melakukan pembenaran thd suatu keyakinan karena semua itu ada dasarnya masing2.
    Yang lebih penting lagi adalah prakteknya harus khusyu’, tuma’ninah. Kalau bisa lamanya sama dengan tarawihnya ulama salaf, sebagai pengamalan hadits “Sebaik-baik shalat adalah yang panjang bacaanya”.
    Banyak rakaat tapi gedubrak gedubruk gak karuan, itu yg gak bener....apa sholat begitu dapet tuh pahala sholatnya.
    Mending yg 11 rakaat tapi bisa tuma'ninah......
    terlebih lagi bisa yg 23 rakaat juga yg tuma'ninah.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau seorang muslim mengamalkan suatu pendapat, tentu itu karena dia menganggap pendapatnya itu lebih benar, karena tdk mungkin seseorang mengamalkan suatu pendapat yang dianggap tidak benar, meskipun pendapat orang lain harus dihargai sebagai suatu hasil ijtihad.
      saya setuju kalau dikatakan praktek shalat harus khusyu', tetapi khusyu' saja tidak sesuai dengan syara' lebih gak benar (artinya sesuai dgn syara' lebih penting). menuduh shalat 23 rakaat tidak khusyu' sama dengan menuduh sahabat nabi, Imam mujtahid 4 dan ulama2 lainnya tidak khusyu' shalat tarawihnya, soalnya mereka2 ini shalat tarawihnya 23 raka'at. kalau saudara ada melihat sebagian masyarakat muslim ada shalat tarawih gedubrak gedubruk (menurut istilah saudara) bukan berarti semua umat islam tarawih seperti tuduhan saudara itu.

      wassalam

      Hapus
  11. Assalamua'alaikum

    ada seseorang yg mengatakan kepada saya bahwa hadits yg menjelaskan ttg 30 fadhilah shalat tarawih pada setiap malamnya adalah hadits maudhu'. hadits ini disebutkan dalam kitab durratun nashihin..

    1.benarkah pernyataan org tersebut ?

    kitab tsb dikarang oleh Usman bin Hasan bin Ahmad Syakir al-Khaubawi..

    2. dan siapa Usman bin Hasan bin Ahmad Syakir al-Khaubawi itu ??

    Teks hadits

    عن علي بن ابي طالب رضي الله تعالى عنه أنه قال : ” سئل النبي عليه الصلاة والسلام عن فضائل التراويح فى شهر رمضان فقال
    يخرج المؤمن ذنبه فى اول ليلة كيوم ولدته أمه
    وفى الليلة الثانية يغفر له وللأبوية ان كانا مؤمنين
    وفى الليلة الثالثة ينادى ملك من تحت العرش؛ استأنف العمل غفر الله ماتقدم من ذنبك
    وفى الليلة الرابعة له من الاجر مثل قراءة التوراه والانجيل والزابور والفرقان
    وفى الليلة الخامسة أعطاه الله تعالى مثل من صلى في المسجد الحرام ومسجد المدينة والمسجد الاقصى
    وفى الليلة السادسة اعطاه الله تعالى ثواب من طاف بالبيت المعمور ويستغفر له كل حجر ومدر
    وفى الليلة السابعة فكأنما أدرك موسى عليه السلام ونصره على فرعون وهامان
    وفى الليلة الثامنة أعطاه الله تعالى ما أعطى ابراهيم عليه السلام
    وفى الليلة التاسعة فكأنما عبد الله تعالى عبادة النبى عليه الصلاة والسلام
    وفى الليلة العاشرة يرزقة الله تعالى خير الدنيا والآخرة
    وفى الليلة الحادية عشر يخرج من الدنيا كيوم ولد من بطن أمه
    وفى الليلة الثانية عشر جاء يوم القيامة ووجهه كالقمر ليلة البدر
    وفى الليلة الثالثة عشر جاء يوم القيامة آمنا من كل سوء
    وفى الليلة الرابعة عشر جاءت الملائكة يشهدون له أنه قد صلى التراويح فلا يحاسبه الله يوم القيامة
    وفى الليلة الخامسة عشر تصلى عليه الملائكة وحملة العرش والكرسى
    وفى الليلة السادسة عشر كتب الله له براءة النجاة من النار وبراءة الدخول فى الجنة
    وفى الليلة السابعة عشر يعطى مثل ثواب الأنبياء
    وفى الليلة الثامنة عشر نادى الملك ياعبدالله أن رضى عنك وعن والديك
    وفى الليلة التاسعة عشر يرفع الله درجاته فى الفردوس
    وفى الليلة العشرين يعطى ثواب الشهداء والصالحين
    وفى الليلة الحادية والعشرين بنى الله له بيتا فى الجنة من النور
    وفى الليلة الثانية والعشرين جاء يوم القيامة آمنا من كل غم وهم
    وفى الليلة الثالثة والعشرين بنى الله له مدينة فى الجنة
    وفى الليلة الرابعة والعشرين كان له اربعه وعشرون دعوة مستجابة
    وفى الليلة الخامسة والعشرين يرفع الله تعالى عنه عذاب القبر
    وفى الليلة السادسة والعشرين يرفع الله له ثوابه أربعين عاما
    وفى الليلة السابعة والعشرين جاز يوم القيامة على السراط كالبرق الخاطف
    وفى الليلة الثامنة والعشرين يرفع الله له ألف درجة فى الجنة
    وفى الليلة التاسعة والعشرين اعطاه الله ثواب الف حجة مقبولة
    وفى الليلة الثلاثين يقول الله : ياعبدى كل من ثمار الجنة واغتسل من مياه السلسبيل واشرب من الكوثرأنا ربك وأنت عبدى

    atas penjelasan Teungku, saya ucapkan terima kasih
    wassalam.




    BalasHapus
    Balasan
    1. 1.kitab duratun nashihin merupakan kitab dakwah yang banyak mengandung informasi fadhail amal, targhib dan tarhib, sehingga tidak heran dalam kitab tersebut banyak merupakan hadits dha'if. (jumhur ulama membolehkan menggunakan hadits dha'if dalam masalah fadhail amal, targhib dan tarhib)

      2. Pengarang kitab ini adalah Syaikh ‘Utsman bin Hasan bin Ahmad Syakir al-Khubawy, beliau seorang ulama abad XIII H. seorang ulama bermazhab hanafi

      3. khusus mengenai hadits di atas, menurut beberapa sumber dari pakar hadits kontemporer, hadits ini dinilai maudhu'. kami belum menemukan pendapat ulama hadits tempo dulu mengenai kualitas hadits ini. perlu dicatat di dalam duratun nashihin hadits ini hanya disebut hadits ini diriwayat dari saidina Ali tanpa menyebut pentakhrijnya.

      4. mudah2an pembaca yang lebih mengerti tentang kualitas hadits ini dapat membantu memberi informasi yang lebih dari ini

      wassalam

      Hapus
  12. جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا كَثِيْرًا يا شيخي وَجَزَاكَ اللهُ اَحْسَنَ الْجَزَاء

    BalasHapus
  13. Teungku,,,mohon penjelasan tentang tumakninah ketika selesai sujud shalat,,jika bentuk duduk tumakninahnya tidak sempurna (stengah dari duduk tasyahud awal) apakah akan mendapatkan pahala juga? mohon penjelasannya tgku..trimakasih yang tak terhingga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. perlu tgk jelaskan apa yg dimaksud dgn perkataan tgk :"stengah dari duduk tasyahud awal"

      wassalam

      Hapus
  14. ketika kita mau bangun setelah sujud kedua kan ada duduk tumakninah sebentar teungku ketika hendak bangkit utk rakaat kedua,bentuk duduk tumakninahnya kan seperti duduk tashawud awal tapi sebentar, nah kalau kita tidak duduk seperti bentuk duduk tashawud awal, atau cuma duduk istirahat seadanya dgn kedua lutut bertumpu pada sajadah, apakah ini ada berpahala juga? mohon penjelasannya teungku..syukran

    BalasHapus
    Balasan
    1. kita disunnatkan duduk sebentar. menurut hemat kami tidak ketentuan dari syara' jenis dan bentuk duduknya. karena itu, dapat pahala duduk sebentar meski tidak duduk seperti bentuk duduk tashawud awal, atau cuma duduk istirahat seadanya dgn kedua lutut bertumpu pada sajadah,

      wassalam

      Hapus
  15. saya berdo'a, semoga Tgk Alizar Usman selalu diberikan kesehatan dan ketabahan dan kekuatan oleh Allah SWT. hingga bisa tetap berdakwah, karena dakwah beliau sangat valid dan ilmiyah.... Amin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas kunjungan dan doa nya, semoga kita semua dalam hidayah Allah SWT. amin

      Hapus