Senin, 01 Agustus 2011

TEPUNG TAWAR/PEUSIJEUK Menurut Hukum Islam (Kajian dari sudut teori tafa-ul, tabarruk, tasyabbuh dan bid’ah) (bag. :1) oleh : Tgk Alizar Usman

Muqaddimah

Tepung tawar/peusijeuk merupakan sebuah tradisi yang biasa dilakukan di kalangan suku Melayu dan Aceh khususnya. Tradisi ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat. Para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah dari dulu tidak ada yang menentangnya, namun kemudian dengan munculnya aliran pembaruan Islam, muncullah fatwa-fatwa yang menganggap acara tepung tawar/pesijeuk ini sebagai amalan bid’ah yang diharamkan. Kemudian dalam perkembangannya, masalah tepung tawar/pesijeuk menjadi suatu masalah yang kontraversial di tengah-tengah umat Islam. Karena itu, pembahasan secara mendalam dan konverehensif mengenai masalah ini merupakan suatu hal yang sangat diperlukan saat ini untuk menjawab kebingungan ummat mengenai status hukumnya.

Upacara tepung tawar/peusijeuk sebagaimana dikenal masyarakat Melayu seperti Malaysia, Indonesia dan Aceh khususnya menyertai berbagai peristiwa penting dalam masyarakat, seperti kelahiran, perkawinan, pindah rumah, pembukaan lahan baru, jemput semangat bagi orang yang baru luput dari mara bahaya dan sebagainya. Dalam perkawinan, misalnya, tepung tawar/peusijeuk adalah simbol pemberian doa dan restu bagi kesejahteraan kedua pengantin. Dalam upacara ini, penepung tawar/peusijeuk menggunakan seikat dedaunan tertentu untuk memercikkan air terhadap orang yang ditepungtawari. Air tersebut terlebih dahulu diberikan wewangian seperti jeruk purut dan sebagainya, selanjutnya menaburkan beras dan padi ke atas orang yang ditepungtawari. Akhirnya menyuapkan santapan pulut (atau lainnya) ke mulutnya. Terdapat beberapa variasi upacara ini untuk daerah yang berbeda, tetapi tujuannya tetap sama, yaitu mengharapkan suatu kebaikan. Acara tepung tawar/peusijeuk biasanya diisi dengan pembacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dan berdoa kepada Allah SWT.

Dalam adat Aceh, tepung tawar ini biasa disebut dengan peusijeuk, yang merupakan suatu acara adat yang dilakukan pada waktu dan untuk tujuan tertentu, seperti memuliakan tamu, meresmikan sebuah tempat yang baru selesai dikerjakan, mendamaikan sebuah sengketa dan lain-lain.
Menurut Tgk H. Ibrahim Bardan (Abu Panton), prosesi peusijuk biasanya dilengkapi dengan dalong, bu leukat, tumpoe / u mirah, breuh pade, on seunijeuk, on manek manoe, naleung sambo, teupong tabeu, glok/ceurana dan sange. Dalong adalah sejenis talam yang terbuat dari kuningan dan bertujuan untuk mendamaikan pihak-pihak yang bersengketa. Bu leukat adalah nasi ketan yang merupakan simbol perekat pihak-pihak yang bersengketa. Tumpoe / u mirah bertujuan untuk menciptakan keharmonisan pihak-pihak yang bertikai. Breuh pade adalah campuran beras dan padi yang bermakna agar menjauh sikap sombong. On sineujeuk, on manek manoe dan naleung sambo adalah tiga jenis tumbuhan yang diikat menjadi satu sebagai isyarat untuk meperkokohkan persatuan dan tidak terulang perpecahan. Teupong tabeu yaitu tepung yang rasanya tawar, bertujuan mendinginkan sekaligus membersihkan hati. Glok adalah wadah air yang bermakna agar pihak-pihak yang bertikai selalu damai sehingga memperoleh berkah dan lebih leluasa dalam mencari nafkah. Sedangkan sange adalah tudung saji yang mengisyaratkan harapan perlindungan dari Allah SWT. 1
Menurut hemat penulis, ada empat aspek tinjauan untuk menjawab mengenai hukum tepung tawar/peusijeuk, yaitu :
1. tafa-ul,
2. tabarruk
3. tasyabbuh
4. bid’ah

I.Tepung tawar/peusijeuk ditinjau dari sudut teori tafa-ul

A. Pengertian Tafa-ul
Akar kata tafa-ul adalah fa’l. Menurut Kamus Mahmud Yunus, makna fa’l adalah tanda akan baik. Sedangkan tafa-ul adalah menenungi tanda akan baik, optimis. 2 Dalam Qamus Idris Marbawy Fa’l berarti sempena. Sedangkan tafa-ul diartikan mengambil sempena atau lawan tasya-um (menganggap sial) 3. Sempena (bahasa melayu) artinya tanda baik. Penggunaan istilah sempena untuk tafa-ul sering terdengar dalam pembicaraan masyarakat Aceh sehari-hari. Dalam Kamus Mukhtar al-Shihah, fa’l : Seseorang yang sakit mendengar orang lain berkata : “Hai salim (yang selamat) atau seseorang yang membutuhkan sesuatu, mendengar orang lain berkata : “ Hai wajid (mendapatkan sesuatu). 4 Lalu orang sakit atau yang membutuhkan sesuatu itu terbersit dalam hatinya mengharapkan kesembuhan atau mendapatkan harapannya, sebagaimana penjelasan Imam An-Nawawi dalam Syarah Muslim.5

B. Pengertian dan macam-macam tafa-ul dalam Islam
Berdasarkan penulusuran dalam berbagai kitab fiqh, ditemukan beberapa contoh tafa-ul dalam Islam, antara lain :
1.memalingkan rida’ dalam khutbah shalat minta hujan sebagai tafa-ul berobah keadaan. Berikut keterangan para ulama mengenai ini, antara lain :

a.Berkata Ibrahim Bajury :
“Perkataan pengarang : “memalingkan dst” (khatib memalingkan rida’nya pada khutbah shalat istisqa’) artinya adalah hukumnya sunat untuk tafa-ul (berharap baik) berobah keadaaan dari kesusahan kepada kemudahan, karena Rasulullah SAW mencintai tafa-ul yang baik.” 6

b.Al-Bakri al-Damyathi mengatakan :
“Khatib memalingkan rida’nya pada saat ini (pada saat khutbah shalat minta hujan) untuk tafa-ul berobah keadaan, demikian yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW.”7

c.Berkata an-Nawawi :
“Hikmah memaling rida’ pada khutbah shalat minta hujan adalah tafa-ul berobah keadaan kepada keadaan subur dan kelapangan.” 8

Keterangan para ulama ini sesuai dengan hadits Nabi SAW di bawah ini :
1). Sabda Nabi SAW :
عَنْ عَبَّادِ بْنِ تَمِيمٍ عَنْ عَمِّهِ قَالَ رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يوما خرج يستسقي ، قال : فحول إلى الناس ظهره ، واستقبل القبلة يدعو ، ثم حول رداءه
Artinya : Dari ‘Abad ibn Tamim dari pamannya, beliau berkata : “Aku melihat Nabi SAW suatu hari keluar untuk shalat istisqa’”. Kemudian paman Ibn Tamim berkata lagi : “Nabi SAW membelakangkan manusia dan menghadap qiblat sambil berdo’a. Kemudian memalingkan rida’nya.”(H.R. Bukhari) 9

2). Sabda Nabi SAW :
استسقى رسول الله صلى الله عليه وسلم وحول رداءه ليتحول القحط

Artinya : Rasulullah SAW Shalat istisqa’, pada saat itu memalingkan rida’nya supaya dapat berobah musim kemarau (H.R. Darulquthny 10 )

Menurut Ibnu Hajar al-Asqalany hadits ini diriwayat oleh Darulquthni dan al-Hakim dari jalan Ja’far bin Muhammad bin Ali dari bapaknya dari Jabir dengan perawi-perawinya terpercaya. Namun Darulquthny telah mentarjihkan keadaan hadits ini adalah mursal.11

2.menengadahkan tangan dengan belakang tangan menghadap ke atas dalam berdo’a setelah shalat minta hujan sebagai tafa-ul berobah dari keadaan yang nyata kepada yang tersembunyi atau isyarat turun hujan ke bumi sebagaimana keterangan Ibnu Hajar al-Asqalany di bawah ini :
“Adapun sifat dua tangan dalam berdo’a pada shalat istisqa’, manakala Imam Muslim telah meriwayat dari Tsabit dari Anas : “bahwa Rasulullah SAW setelah shalat istisqa’ maka mengisyarat dengan belakang dua telapak tangannya kelangit.” dan Abu Daud dari hadits Anas pula : “bahwa Rasulullah shalat istisqa’ seperti ini dan menengadahkan tangannya serta menjadikan bathin tangan keduanya menghadap bumi sehingga aku melihat putih ketiaknya” , maka berkata an-Nawawi : “Para ulama mengatakan : “Sunnat pada setiap do’a untuk menghilangkan bala mengangkatkan dua tangan dengan menjadikan belakang dua tangan mengahadap kelangit dan apabila berdo’a meminta dan menghasilkan sesuatu menjadikan bathin dua tangannya kelangit. Berkata lainnya : “Hikmah mengisyarah belakang dua tangan pada shalat istisqa’ tidak pada selainnya adalah untuk tafa-ul memalingkan keadaan yang nyata kepada yang tersembunyi sebagaimana dikatakan pada memalingkan rida’ atau itu adalah isyarah kepada sifat yang di minta, yaitu turun mendung (hujan) ke bumi.”12

Berdo’a dengan kaifiyat seperti ini sesuai dengan hadits dari Anas bin Malik :
أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- اسْتَسْقَى فَأَشَارَ بِظَهْرِ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ.
Artinya : Sesungguhnya Rasulullah SAW setelah shalat istisqa’ maka mengisyarat dengan belakang dua telapak tangannya kelangit.(H.R. Muslim) 13

3.tidak memecah tulang daging aqiqah sebagai tafaul terhindar sang anak dari segala penyakit sebagaimana perkataan al-Nawawi berikut :
“Tidak dipecah tulang binatang aqiqah sebagai tafa-ul untuk keselamatan anak dari segala penyakit.” 14

Al-Bakri al-Damyathi mengatakan :
“Disunnatkan tidak memecahkan tulang binatang aqiqah selama memungkinkan, baik oleh yang melakukan aqiqah maupun pemakannya sebagai tafa-ul untuk keselamatan anggota tubuh anak.” 15

Perintah tidak memecah tulang daging aqiqah ini berdasarkan perkataan Aisyah r.a. :
بل السنة أفضل عن الغلام شاتان مكافئتنان و عن الجارية شاة تقطع جدولا و لا يكسر لها عظم
Artinya : Tetapi yang sunnah adalah sebaiknya untuk anak laki-laki dua ekor kambing dan untuk anak perempuan satu ekor kambing. Dipotong anggota badannya tetapi tidak pecahkan tulangnya. (H.R. al-Hakim, beliau mengatakan, hadits ini shahih isnadnya) 16

4.memasak daging aqiqah dengan sesuatu yang manis sebagai tafa-ul baik akhlak sang anak sebagaimana keterangan al-Nawawi dalam Majmu’ Syarah Muhazzab :

“Jumhur ulama mengatakan dimasak daqing aqiqah dengan suatu yang manis untuk tafa-ul manis akhlak anak, berdasarkan hadits dalam al-Shahih, Sesungguhnya Nabi SAW senantiasa mencinta yang manis dan madu” 17

Hadits dimaksud, dalam Bahasa Arab berbunyi :
sesuai dengan hadits :
أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يحب الحلوى والعسل
Artinya : Sesungguhnya Nabi SAW senantiasa mencinta yang manis dan madu. (H.R. Ahmad) 18

Dalam Shahih Bukhari berbunyi :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُحِبُّ الْحَلْوَاءَ وَالْعَسَلَ.
Artinya : Dari Aisyah r.a berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW senantiasa mencinta yang manis dan madu (H.R. Bukhari) 19

5.menyiram kuburan dengan air suci menyucikan dan sejuk sebagai tafa’ul mudah-mudahan dapat menyejukkan orang dalam kuburan sebagaimana keterangan al-Bakri al-Damyathi di bawah ini :
“Dan (disunnatkan) menyiram kubur dengan air agar debu-debu tanah tidak ditiup angin dan karena Nabi SAW melakukan demikian pada kubur anaknya, Ibrahim sebagaimana diriwayatkan oleh Syafi`i. Dan juga pada kubur Sa`ad sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan Nabi SAW telah memerintahkan dengannya pada kubur Utsman bin Madzh`uun sebagaimana diriwayatkan oleh at-Turmidzi. Dan yang mustahab adalah air tersebut suci lagi mensucikan dan sejuk, sebagai tafa`ul mudah-mudahan Allah menyejukkan kubur si mati.20

Perintah menyiram air ini berdasarkan perbuatan Nabi SAW yang melakukan hal itu pada kubur anak beliau Ibrahim sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Syafi`i dan juga pada kubur Sa`ad sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan Nabi SAW juga telah memerintahkan menyiram air pada kubur 'Utsman bin Madzh`uun sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bazar. 21

6. Meniup/menghembus kepada sisakit ketika dijampi dengan "mu’awwizat" (Surat al-Nash dan al-Falaq). Menurut Qadhi ’Iyadh, tindakan meniup/menghembus tersebut bisa jadi sebagai tafa-ul supaya penyakit hilang dari sisakit sebagaimana lepasnya angin dari mulut orang yang melakukan jampi-jampi.22 . Perintah meniup/menghembus tersebut berdasarkan sabda Nabi SAW :
عن عائشة قالت كان رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا مرض أحد من أهله نفث عليه بالمعوذات فلما مرض مرضه الذي مات فيه جعلت أنفث عليه وأمسحه بيد نفسه لأنها كانت أعظم بركة من يدي
Artinya : Dari Aisyah ra., beliau berkata: “Apabila ada salah seorang anggota keluarga beliau yang sakit, beliau meniupkan kepadanya dengan membacakan "mu’awwizat". Ketika beliau menderita sakit yang menyebabkan beliau wafat, aku juga meniupkan kepada beliau dan mengusapkan dengan tangan beliau sendiri. Karena tangan beliau tentu lebih besar berkahnya daripada tanganku” (H.R. Muslim) 23

7. Rasulullah senang mengkanankan suatu perbuatan sebagai tafa-ul mudah-mudahan termasuk dalam kelompok kanan. Ini telah disebut oleh Ibnu Bathal dalam kitabnya, Syarah Shahih Bukhari. 24

8. Rasulullah SAW menyapu dengan tangan kanan beliau pada tempat sakit sebagian keluarga beliau dengan membaca Surat al-Nash dan al-Falaq. Menurut al-Thabari adalah merupakan tafa-ul untuk menghilangkan penyakit tersebut. 25 Keterangan bahwa Rasulullah SAW pernah melakukan tindakan tersebut adalah hadits di bawah ini :
أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُعَوِّذُ بَعْضَ أَهْلِهِ يَمْسَحُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى
Artinya : Sesungguhnya Nabi SAW mejampi sebagian keluarga beliau dengan Surat al-Nash dan al-Falaq seraya menyapu dengan tangan kanan beliau pada tempat sakit. (H.R. Bukhari) 26

9. Tafa-ul dengan nama yang baik sebagaimana dilakukan Rasulullah SAW pada ketika Suhail (bermakna mudah ) datang menemui beliau dengan mengatakan :
“Sungguh semoga mudah urusanmu” 27
Peristiwa ini dapat disimak pada hadits berikut :
لَمَّا جَاءَ سُهَيْلُ بْنُ عَمْرٍو قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لَقَدْ سَهُلَ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ
Artinya : Manakala Suhail bin ‘Amr datang menemui Nabi SAW, Nabi SAW bersabda “Sungguh semoga mudah urusanmu” (H.R. Bukhari) 28

Al-Khuthabi mengatakan, hadits di atas menjadi dalil tafa-ul dengan nama yang baik merupakan perbuatan yang dianjurkan. 29
10. Dan banyak lagi contohnya yang tidak mungkin disebut dalam tulisan singkat ini.

Berikut ini hadits-hadits Nabi SAW yang menjelaskan mengenai tafa-ul yang menjadi pembahasan kita dalam tulisan ini, antara lain :
1. Sabda Nabi SAW :
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ قَالُوا وَمَا الْفَأْلُ قَالَ كَلِمَةٌ طَيِّبَةٌ
Artinya : Tidak ada penularan (tanpa kehendak Allah) dan tidak ada sial dan yang membuatku terkagum adalah al-fa’lu. Para Sahabat bertanya : “Apa itu al-fa’lu?” Rasulullah bersabda : “al-fa’lu yaitu kalimat yang baik.” (H.R. Bukhari)30

2. Sabda Nabi SAW :
لا عدوى ولا طيرة . ويعجبني الفأل . قال قيل : وما الفأل ؟ قال : الكلمة الطيبة
Artinya : Tidak ada penularan (tanpa kehendak Allah) dan tidak ada sial dan yang membuatku terkagum adalah al-fa’lu. Ada yang bertanya : “Apa itu al-fa’lu?” Rasulullah bersabda : “al-fa’lu yaitu kalimat yang baik.” (H.R. Muslim)31

Menurut Imam an-Nawawi dalam mensyarah hadits di atas dan beberapa hadits riwayat muslim yang senada dengan hadits di atas, mengatakan bahwa termasuk dalam contoh tafa-ul adalah tafa-ul orang sakit dengan apa yang didengarnya seperti sisakit mendengar ada orang yang mengatakan : : “Hai salim” (yang selamat) atau orang lagi membutuhkan sesuatu, lalu mendengar ada orang yang berkata : “Hai wajid” (yang mendapati kebutuhannya). Maka terbersit dalam hatinya mengharap kesembuhan atau mendapatkan kebutuhannya.32

3. Sabda Rasulullah SAW :
لا عدوى ولا طيرة وأحب الفأل ، قالوا يا رسول الله : وما الفأل ؟ قال : الكلمة الطيبة هذا حديث حسن صحيح
Artinya : Tidak ada penularan (kecuali atas kehendak Allah) dan tidak ada sial dan aku menyukai fa’l. Mereka bertanya : Hai Rasulullah apa itu fa’l. Rasulullah menjawab : “kalimat yang baik”.hadits ini adalah hasan shahih.(H.R. Turmidzi) 33

Tiga buah hadits di atas menjelaskan tafa-ul dalam bentuk perkataan. Lalu bagaimana dengan tafa-ul dalam bentuk perbuatan ?. Tafa-ul dalam bentuk perbuatan dianjurkan dengan diqiyaskan kepada tafa-ul dalam bentuk perkataan. Kalau tafa-ul dalam bentuk perkataan saja dianjurkan dalam Islam, tentunya tafa-ul dalam bentuk perbuatan lebih patut dan lebih layak disyari’atkan. Karena perkataan yang baik pada tafa-ul dalam bentuk perkataan merupakan simbol harapan kebaikan, maka demikian juga perbuatan yang baik juga dapat menjadi simbol harapan kebaikan orang melakukan tafa-ul. Penjelasan seperti ini telah diisyaratkan oleh al-Muhallab, salah seorang Tabi’in, beliau berkata :
”Memaling rida’ (dalam khutbah shalat istisqa’) merupakan tafa-ul untuk memalingkan keadaan yang ada (kesukaran). Apakah tidak kamu memeperhatikan bahwa Nabi SAW mengagumi tafa-ul yang baik apabila mendengan suatu perkataan ? Maka bagaimana lagi kalau melihat sebuah perbuatan ?. Padanya dalil menggunakan tafa-ul dalam beberapa perkara (maksudnya : ada dalam bentuk perkataan dan ada juga dalam bentuk perbuatan).” 34

Pengqiyasan tersebut di atas didukung pula oleh mutlaqnya maksud hadits Nabi SAW yaitu :
و كان يعجبه الفأل الحسن
Artinya : Rasulullah SAW mengagumi tafa-ul yang baik.(H.R. al-Hakim) 35

Saiyidina Ali dan Ibnu Mas’ud telah menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa Rasullulah SAW malakukan tayaamun (mengkanan-kanankan dalam perbuatannya) pada wudhu’nya adalah atas jalan tafa-ul dengan ashab al-yamin (kelompok orang yang berada dipihak kanan) yaitu ahli syurga. .36 Tayamun ini tentunya merupakan suatu perbuatan, bukan perkataan.
Senada dengan hadits riwayat al-Hakim di atas adalah riwayat yang disebut dalam kitab Musnad Ahmad, yaitu :
كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يحب الفال الحسن ويكره الطيرة

Artinya : Rasulullah SAW mencinta tafa-ul yang baik dan membenci anggapan sial (H.R. Ahmad) 37

Khathib Syarbaini dalam dua kitab beliau, Iqnaq dan Mughni al-Muhtaj telah menjadikan hadits ini sebagai dalil tafa-ul dalam bentuk perbuatan, yaitu memalingkan rida’ dalam khutbah shalat Istisqa’. 38 Berdasarkan penjelasan di atas ini pulalah para ulama sebagaimana tersebut sebelum ini, memfatwakan disyari’atkan tafa-ul dalam bentuk perbuatan sebagaimana disyari’atkannya dalam bentuk perkataan sebagaimana beberapa contoh yang telah disebut di atas.
Berdasarkan makna tafa-ul secara bahasa, dalil-dalil dan contoh-contoh tafa-ul di atas, menurut hemat penulis, maka tafa-ul pada syara’ kurang lebih adalah harapan akan datang kebaikan atau rahmat yang disebabkan oleh perkataan atau perbuatan tertentu. Namun demikian, ada juga ulama yang mengartikan bahwa tafa-ul itu terbagi kepada tafa-ul pada sesuatu yang menggembirakan dan tafa-ul pada sesuatu yang tidak menyenangkan. Kebiasaannya, maknanya adalah pada sesuatu yang tidak menyenangkan. 39Berdasarkan pengertian yang kedua ini, maka tafaul yang dianjurkan adalah tafa-ul pada sesuatu yang menggembirakan.

C. Perbedaan Tafa-ul dengan Tasya-um
Tasya-um sering diterjemahkan sebagai menganggap sial sesuatu. Prof. Mahmud Yunus dalam kamusnya, Kamus Arab-Indonesia memberi makna ; sial, malang, celaka. Tindakan tasya-um dilarang dalam agama, karena melakukan tasya-um berarti berburuk sangka kepada Allah SWT tanpa sebab yang pasti. Tasya-um berbeda dengan tafa-ul, karena tafa-ul merupakan tindakan berbaik sangka kepada Allah SWT. Al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalany, salah seorang ahli hadits terkenal mengatakan :
” Tasya-um merupakan tindakan berburuk sangka kepada Allah SWT tanpa sebab yang pasti. Sedangkan tafa-ul adalah tindakan berbaik sangka kepada Allah SWT. Orang yang beriman diperintahkan untuk berbaik sangka kepada Allah pada setiap keadaan.” 40

Tasya-um ini oleh orang Arab menyebutnya juga sebagai al-thiyarah atau al-tathaiyur. Perkataan al-tathaiyur berasal dari kata al-thiyarah yang asal maknanya adalah burung. Tasya-um disebut dengan al-thiyarah adalah karena orang-orang Arab pada zaman Jahiliyah apabila mau berangkat ke suatu tempat karena suatu kebutuhan, apabila melihat burung terbang di samping kanannya, maka mereka merasa gembira karena kepergiannya itu dianggap ada keberuntungan. Sebaliknya, kalau burung tersebut terbang sebelah samping kirinya, maka dianggap sebagai sial (tasya-um) dan mereka menunda keberangkatannya. 41

Untuk lebih memahami pengertian tasya-um, maka berikut ini beberapa contoh tasya-um yang disebut oleh ulama kita, antara lain :
1.Tidak menziarahi orang sakit pada Hari Sabtu karena menganggap sebagai hari sial dan dapat menyebabkan kematian kepada sisakit 42
2.Tidak melakukan musafir pada bulan shafar karena menganggap bulan shafar merupakan bulan sial, menganggap sial Hari Rabu dan hari-hari lemah pada akhir musim dingin dan tidak melakukan pernikahan pada bulan Syawal karena bulan Syawal dianggap sebagai bulan sial. 43
3.Menganggap sial bilangan (angka). 44
4.Orang Arab pada zaman Jahiliyah apabila mau berangkat ke suatu tempat karena suatu kebutuhan, apabila melihat burung terbang di samping kanannya, maka mereka merasa gembira karena kepergiannya itu dianggap ada keberuntungan. Sebaliknya, kalau burung tersebut terbang sebelah samping kirinya, maka dianggap sebagai sial (tasya-um) dan mereka menunda keberangkatannya sebagaimana disebut di atas.

Berdasarkan pengertian tafa-ul dan tasya-um di atas, dapat dipahami sebagai berikut :
1.Tafa-ul adalah harapan datang sebuah kebaikan. Sedangkan tasya-um adalah anggapan sial sesuatu.
2.Tafa-ul berbaik sangka kepada Allah SWT. Sedangkan tasya-um adalah berburuk sangka kepada Allah SWT
3.Tafa-ul dianjurkan dalam Islam. Sedangkan tasya-um dilarang.
Hukum tepung tawar/peusijeuk ditinjau dari sudut teori tafa-ul

Apabila ditinjau dari sudut teori tafa-ul, berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.Tafa-ul merupakan sebuah amalan yang dibenarkan syari’at, bahkan dianjurkan mengamalnya sesuai dengan uraian-uraian di atas
2.Tujuan dilakukannya tepung tawar/peusijeuk adalah dengan melakukan simbol-simbol kebaikan, diharapkan munculnya kebaikan itu sendiri,
3.Amalan tepung tawar/peusijeuk merupakan perbuatan tafa-ul yang dianjurkan dalam Islam sebagaimana dapat disimak dalam keterangan di atas. Hal ini, tentunya selama di dalamnya hanya sebatas yang telah digambarkan di atas dan tidak mengandung unsur-unsur syirik dan hal-hal lain yang diharamkan oleh syari’at.
4.Disebut acara tepung tawar/peusijeuk sebagai tafa-ul, bukan tasya-um adalah karena maksud acara tepung tawar atau peusijeuk hanyalah dengan harapan sesuatu yang baik, bukan mengannggap sial sesuatu dan benda-benda yang terdapat dalam acara tepung tawar atau peusijuek hanyalah sebagai simbol kebaikan yang diharapkan dan ingin dicapai.
5.Berdasarkan kesimpulan ini, maka pendapat yang mengatakan tepung tawar/peusijeuk merupakan amalan yang tidak dikenal dalam Islam adalah suatu yang sangat keliru dan perlu tinjau ulang.



DAFTAR PUSTAKA
1.Tgk H. Ibrahim Bardan, Resolusi Komplik dalam Islam, Aceh Institute Press, Banda Aceh, 2008, Hal. 154-155
2.Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, Hidakarya, Jakarta, Hal. 306
3.Idris Marbawy, Qamus Idris Marbawy, Bangkul Indah, Surabaya, Juz.I I, Hal. 75
4.Ar-Razy, Mukhtar al-Shihah, Darul Fikri, Beirut, Hal. 447
5.An-Nawawi, Syarah Muslim, Dar Ihya al-Turatsi al-Araby, Beirut, Juz. XIV, Hal. 219
6.Ibrahim Bajury, Hasyiah al-Bajury, al-Haramain, singapura, Juz. I, Hal. 233
7.Al-Bakri al-Damyathi, I’anah al-Thalibin, Thaha Putra, Semarang, Juz. I, Hal. 264
8.An-Nawawi, Minhaj al-Thalibin, dicetak pada hamisy Hasyiah Qalyubi wa Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 317
9.Bukhari, Shahih al-Bukhari, Dar Thauq an-Najh, Juz. II, Hal. 31, No Hadits : 1025
10.Darulquthni, Sunan al-Darulquthni, Darul ma’rifah, Beirut, Juz. II, Hal. 66
11.Ibnu Hajar al-Asqalany, Fathulbarri, Darul Fikri, Beirut, Juz. II, Hal. 499
12.Ibnu Hajar al-Asqalany, Fathulbarri, Darul Fikri, Beirut, Juz. II, Hal. 517 dan 518
13.Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihya al-Turatsi al-Araby, Beirut, Juz. II, Hal. 62, No. Hadits 896
14.An-Nawawi, Minhaj al-Thalibin, dicetak pada hamisy Hasyiah Qalyubi wa Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. IV, Hal. 256
15.Al-Bakri al-Damyathi, I’anah al-Thalibin, Thaha Putra, Semarang, Juz. II, Hal. 336
16.Al-Hakim, al-Mustadrak, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 266, No. Hadits : 7595
17.An-Nawawi, Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Darul Fikri, Beirut, Juz. VIII, Hal. 322
18.Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Maktabah Syamilah, Juz. XXXX, Hal. 366, No Hadits : 24316
19.Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. VII, Hal. 100, No. Hadits : 5431
20.Al-Bakri al-Damyathi, I’anah al-Thalibin, Thaha Putra, Semarang, Juz. II, Hal. 119
21.Zakariya al-Anshari, Asnaa al-Mathalib, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 328
22.Ibnu Hajar al-Asqalany, Fath al-Barry, Maktabah Syamilah, Juz. X, Hal. 197
23.Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihya al-Turatsi al-Arabi, Beirut, Juz. IV, Hal. 1723, No. Hadits : 2192
24.Ibnu Bathal, Syarah Shahih Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 262
25.Ibnu Hajar al-Asqalany, Fath al-Barry, Maktabah Syamilah, Juz. X, Hal. 207
26.Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. VII, Hal. 172, No. Hadits : 5743
27.Al-Khuthabi, Ma’alim al-Sunan, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 330
28.Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. III, Hal. 255
29.Al-Khuthabi, Ma’alim al-Sunan, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 330
30.Bukhari, Shahih Bukhari, Dar Thauq an-Najh, Juz. VII, Hal. 139, No. Hadits : 5776
31.Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. IV, Hal. 1746, No. Hadits : 2224
32.An-Nawawi, Syarah Muslim, Dar Ihya al-Turatsi al-Araby, Beirut, Juz. XIV, Hal. 219
33.Al-Turmidzi, Sunan al-Turmidzi, Thaha Putra, Semarang, Juz. III, Hal. 85, No. Hadits : 1664
34.Ibnu Bathal, Syarah Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. III, Hal. 10
35.Al-Hakim, al-Mustadrak, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 86, No. Hadits : 89
36.Ibnu Bathal, Syarah Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 262
37.Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 322, No. Hadits : 8374
38.Khathib Syarbaini, al-Iqnaq, Maktabah Syamilah, Juz. V, Hal. 305 dan Mughni al-Muhtaj, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 179
39.Al-Nawawi, Syarah Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. VII, Hal. 377
40.Ibnu Hajar al-Asqalany, Fath al-Barry, Maktabah Syamilah, Juz. X, Hal. 215
41.Al-Sanady, Hasyiah al-Sanady ‘ala Sunan Ibnu Majah, Maktabah Syamilah, I, Hal. 77
42.Ibnu Hajar al-Haitamy, Al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyah, Maktabah Syamilah, Juz. II, hal. 31
43.Isma’il Haqqi bin Mustafa al-Istambuly al-Hanafy, Tafsir Ruh al-Bayan, Maktabah Syamilah, Juz. III, Hal. 325
44.Dr Wahbah Zuhaili, Tafsir al-Munir, Maktabah Syamilah, Juz. XXVII, Hal. 162

9 komentar:

  1. Masalah muncul juxtru oleh keterbatasan ilmu masyarakat yg 'am... Mereka menganggap orang jika tidak melaksanakan Tepung tawar justru tidak mengikuti sunnah Nabi.... dan bukan dari golongan Ahlussunnah Waljamaah... Padahal nyan adat... dan Adat Istiadat yg dilakukan selama tidak menyimpang dari ajaran Islam... tidak ber-dosa orang yg melakukannya.... Yg aneh justru dianggap orang akan berdosa jika meninggalkannya.... Tanpa tanpa peusijuek maka tidak akan diberkatai oleh Allah... ini yg sering kita dengar dari masyarakat awam... Sebab mereka taqlid kepada para ulama yg melakukan tepung tawar agar diberkati... padahal itu adalah adat istiadat... Nagk ada hubungan dengan diberkati atau tidak diberkati apalagi diangap bagian dari usaha mendekatkan diri kepada Allah... ini yg masalah... Kalau peusijuek sudah dipahami sebagai sebuah adat dan tidak ada penyimpangan dalam Islam.... LANJUTKAN.....!!!!

    BalasHapus
  2. YTh Tgk Syukri

    kalau ada oknum masyarakat mengatakan bahwa meninggalkan tepung tawar menyebabkan dosa, maka itu kesalahan orang tersebut, tetapi tidak perlu kita menyalahkan acara tepung tawar tersebut. tugas para da'i lah untuk memberikan dakwah yg benar kepada masyarakat.
    kalau saudara mengatakan tepung tawar tidak ada hubungannya dengan diberkati atau tidak diberkati, sebaiknya saudara membaca habis secara lengkap tulisan kami ini, karena dalam bagian 2 tulisan ini dari 4 bagiannya, kami sudah menjelaskan yg kesimpulannya bahwa apabila tepung tawar ini diqashad kan tabbarruk (mengambil berkah) dengan suatu benda yang disentuh oleh orang shaleh (seandainya tepung tawar itu dilakukan oleh ulama/orang shaleh), maka hal itu menjadi sesuatu yang diberkati. dan kalau tepung tawar itu diniatkan sebagai tafa'ul, maka dia menjadi sebuah amalan sunnah, karena tafa'ul merupakan amalan sunnah dalam islam sebagaimana kami jelaskan dalam bagian 1 tulisan ini. jadi keliru kalau dikatakan tepung tawar tidak ada hubungannya dengan di berkati atau tidak sebagaimana pernyataan saudara.
    alhasil, menurut kami, berdasarkan uraian 2 yang telah kami jelaskan dalam 4 bagian tulisan kami diatas, tepung tawar bukanlah hanya semata-mata adat/tradisi semata-mata. tetapi dia ada hubungan dengan sunnah rasulullah SAW.

    terima kasih atas komentarnya, mudah2an geutanyoe banbandum mendapat hidayah dari Po Teu Allah Ta'ala
    wassalam

    BalasHapus
  3. Peusijeuk mengandung do'a yang dikemas dalam bentuk LISAN AL-HAL... Rasulullah SAW pernah berdoa dgn cara seperti ini ketika shalat Istisqa' yakni dgn membalikkan/memalingkan kain rida'nya ketika khutbah shalat istisqa', dgn maksud agar musim kemarau berpaling dan berganti dgn musim penghujan.... saya juga pernah mendengar sebuah ungkapan, yakni :
    لسان الحال افصح من لسان المقال

    Wassalam..

    BalasHapus
  4. SEBUTAN: "Para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah dari dulu tidak ada yang menentangnya, namun kemudian dengan munculnya aliran pembaruan Islam, muncullah fatwa-fatwa yang menganggap acara tepung tawar/pesijeuk ini sebagai amalan bid’ah yang diharamkan. Kemudian dalam perkembangannya, masalah tepung tawar/pesijeuk menjadi suatu masalah yang kontraversial di tengah-tengah umat Islam.", NAKEUH hana relevan. Njan sebenar djih pue njang troh bak peungeutahuan ureung Atjeh djinoe nakeun pengetahuan njang teurlambat troh & teurlambat geumeurunoe.

    Hudep ureung Arab khususnya Mekkah & Madinah seugolom Islam bahkan sangat seudeurna, maka apabila datang Islam pun ureung Arab di Mekkah djareung atawa hana geupubuet bid'ah (innovation in Islam}. Bid'ah dalam Islam lo berlaku di jazirah Arab lainnya yang banyak pengaruh Roman & Persian.

    Pue njang djituleh lek Tgk Alizar Usman itu samasekali hana relevan ngon tadjuk dan kutipan-kutipan yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Malahnya Tgk Alizar Usman banyak menggunakan andaian semata.

    Hana mubatjut pih njang geupubuet lek Rasulullah melibatkan item-item njang geuseubotkan lek Tgk Ibrahim Bardan (Abu Panton). Rasulullah hana geudjak me Martabak Arab atawa Ruti Lahma geudjak sak lam tameh atawa geudjak suleung lam abah ureung meukawen.

    Dan hana meusaboh hadis atawa ajat Al Quran njang geukutep lek Tgk Alizar Usman njang hampir sama dan pernah dilakukan oleh Rasulullah semasa hidupnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kpd tgk anonim (tanpa nama) yth :
      1. kalau tgk abeh neubaca tulisan di atas, maka tgk tahu kalau justru komentar tgk itu tidak relevan dgn tulisan di atas. mungkin tgk terlalu terburu2 karena terlalu panatik dgn pendapat yg tgk pegang selama ini.

      2. dalam tulisan kami diatas, tepung tawar termasuk katagori bid'ah hasanah, karena itu wajar kalau amalan tersebut tidak ada contoh yang detil dari Nabi SAW. namun secara umum perbuatan tersebut termasuk tafa-ul atau tabarruk, karena itu disebutlah ia sebagai bid'ah hasanah.

      3. tgk katakan "Hudep ureung Arab khususnya Mekkah & Madinah seugolom Islam bahkan sangat seudeurna, maka apabila datang Islam pun ureung Arab di Mekkah djareung atawa hana geupubuet bid'ah (innovation in Islam" . kesimpulan ini aneh. bukankah nabi SAW di turunkan di makkah karena bid'ah sudah begitu melekat dengan orang makkah?. bukankah agama orang makkah dulu adalah agama nabi ibrahim dan Isma'il, namun karena mereka banyak melakukan bid'ah dengan menyembah patung2 yang sebelumnya tidak dilakukan oleh nenek moyang mereka seperti ibrahim dan Isma'il, maka Allah menurunkan Muhammad SAW untuk membersihkan bid'ah itu.
      bagaimana tgk? atau mungkin tgk gak ngerti apa itu yang dimaksud dgn bid'ah......?

      4. mudah2an tgk dan kita semua mendapat hidayah dari-Nya. amin....! wassalam

      Hapus
    2. ohya, tulisan tentang tepung tawar ini terdiri dari 4 bagian, sebaiknya tgk baca semuanya, gak cukup dgn membaca bagian pertama saja, lalu ambil kesimpulan sendiri. ok.

      Hapus
  5. Bek gabuek ngen buet yang goh tentee butoi menurut shariat. Bukenkeh na buet yang lubeh utama neyue lee Nabi dalam hadist shaheh semisee sembahyang 2 rakat sunat fajar yang lubeh meharga dari langet dan bumoe serta seluruh asau donyanyoe kok malah dit that yang tem pubuet. Pe agama Allah hanya sebatas ritual-ritual yang Petrie prut manteng. Karen a setiap ritual ujong-ujong buet petroe prut sementara hasejih Hana jelas. Mesjid Dan Menasah maken kureung jamaah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini kayaknya ngomong gak ada isinya , mungkin lagi teler

      Hapus