Senin, 01 Agustus 2011

TEPUNG TAWAR/PEUSIJEUK Menurut Hukum Islam (Kajian dari sudut teori tafa-ul, tabarruk, tasyabbuh dan bid’ah) (bag. : 2) oleh : Tgk Alizar Usman

II. Tepung tawar/peusijeuk ditinjau dari sudut teori tabarruk

Akar kata “tabarruk” adalah barakah yang secara bahasa mempunyai pengertian lebih dan bertambah.1 Dalam Kamus Arab-Indonesia karangan Mahmud Yunus disebutkan, pengertian barakah adalah berkat, bahagia dan untung.2 Dalam al-Tauqif ’ala Muhimmaat al-Ta’arif, al-Manawy mengatakan, al-barakah adalah ketetapan adanya kebaikan ilahiyah pada sesuatu3. Sedangkan tabarruk adalah mencari berkah, yaitu nilai tambah atau kebahagian.4 Dengan begitu, sewaktu dikatakan “mencari berkah terhadap sesuatu” berarti keinginan mengambil berkah dari sesuatu tadi. Atas dasar itulah maka definisi tabarruk dalam pembahasan ini adalah “Mengharap berkah dari sesuatu yang Allah SWT telah memberikan keistimewaan dan kedudukan khusus kepadanya”.
Diantara firman Allah yang menyebut perkataan barkah adalah Q.S. al-Isra’ : 1, yang berbunyi :
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya : Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.(Q.S. al-Isra’ : 1)

Tabarruk dibolehkan dalam Islam selama mengi’tiqadkan hanya Allah yang memberikan manfa’at dan mudharat, sedangkan tabarruk hanyalah sebagai sebab dhahirnya saja. Keberkahan pada seseorang atau sesuatu benda tentulah sesuatu yang ghaib. Oleh karena itu, tidak diketahuinya kecuali dengan ada keterangan dari syara’, namun secara umum dapat dikatakan bahwa sesuatu yang dimuliakan dan dicintai Allah dan Rasul-Nya mempunyai keberkahan.

Berikut ini beberapa contoh amalan tabarruk, yaitu :
1.Tabarruk dengan kalam Allah, sebagaimana kisah di bawah ini :
Hadits riwayat Abu Said Al-Khudri r.a.:
أن ناسا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم كانوا في سفر فمروا بحي من أحياء العرب فاستضافوهم فلم يضيفوهم فقالوا لهم هل فيكم راق ؟ فإن سيد الحي لديغ أو مصاب فقال رجل منهم نعم فأتاه فرقاه بفاتحة الكتاب فبرأ الرجل فأعطي قطيعا من غنم فأبى أن يقبلها وقال حتى أذكر ذلك للنبي صلى الله عليه و سلم فأتى النبي صلى الله عليه و سلم فذكر ذلك له فقال يا رسول الله والله ما رقيت إلا بفاتحة الكتاب فتبسم وقال وما أدراك أنها رقية ؟ ثم قال خذوا منهم واضربوا لي بسهم معكم
Artinya : Bahwa beberapa orang di antara sahabat Rasulullah SAW sedang berada dalam perjalanan melewati salah satu dari perkampungan Arab. Mereka berharap dapat menjadi tamu penduduk kampung tersebut. Namun ternyata penduduk kampung itu tidak mau menerima mereka. Tetapi ada yang menanyakan: Apakah di antara kalian ada yang dapat menjampi? Karena kepala kampung terkena sengatan atau terluka. Seorang dari para sahabat itu menjawab: Ya, ada. Orang itu lalu mendatangi kepala kampung dan menjampinya dengan surat Al-Fatihah. Ternyata kepala kampung itu sembuh dan diberikanlah kepadanya beberapa ekor kambing. Sahabat itu menolak untuk menerimanya dan berkata: Aku akan menanyakannya dahulu kepada kepada Nabi SAW. Dia pun pulang menemui Nabi SAW dan menuturkan peristiwa tersebut. Dia berkata: Ya Rasulullah! Demi Allah, aku hanya menjampi dengan surat Al-Fatihah. Mendengar penuturan itu: Rasulullah SAW tersenyum dan bersabda: Tahukah engkau bahwa Al-Fatihah itu merupakan jampi? Kemudian beliau melanjutkan: Ambillah imbalan dari mereka dan sisihkan bagianku bersama kalian. (H.R. Muslim)5

Imam Nawawi mengatakan hadits ini menerangkan bahwa al-Fatihah dapat menjadi ruqyah. Oleh karena itu mustahab (dianjurkan) dibaca atas orang yang kena sengatan binatang dan orang sakit”.6

2.Tabarruk dengan tubuh para Nabi atau sesuatu yang bersentuhan dengannya.
Misalnya :
a. Nabi SAW memberkati anak-anak baru lahir dengan melakukan tahnik (menyuapi makanan yang sudah lebih dahulu dikunyah kepada anak-anak). Hadits Muslim menyebutkan :
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يؤتى بالصبيان فيبرك عليهم ويحنكهم

Artinya : Sesungguhnya Rasulullah SAW sering dibawa kepada beliau anak-anak yang baru lahir, maka beliau memberkati dan melakukan tahnik kepada anak-anak itu. (H.R. Muslim) 7

b. Nabi SAW memberkati dengan air yang telah disentuhnya. Imam Bukhari meriwayatkan hadits sebagai berikut :
َقَالَ أَبُو مُوسَى دَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَدَحٍ فِيهِ مَاءٌ فَغَسَلَ يَدَيْهِ وَوَجْهَهُ فِيهِ وَمَجَّ فِيهِ ثُمَّ قَالَ لَهُمَا اشْرَبَا مِنْهُ وَأَفْرِغَا عَلَى وُجُوهِكُمَا وَنُحُورِكُمَا
Artinya : Berkata Abu Musa : “Nabi Muhammad SAW meminta semangkok air, lalu beliau mencuci kedua tangannya dan membasuh wajahnya di dalamnya, dan mengeluarkan air dari mulutnya, kemudian bersabda kepada mereka berdua (dua orang sahabat yang ada di sisi beliau,“Minumlah dari air itu dan semburlah pada wajah dan lehermu”.(H.R. Bukahri)8

c. Tabarruk Nabi Ya’kub a.s. dengan baju qamis anaknya, Nabi Yusuf untuk kesembuhan matanya, sebagaimana diceritakan Allah dalam firman-Nya, Q.S. Yusuf : 93
اذْهَبُوا بِقَمِيصِي هَذَا فَأَلْقُوهُ عَلَى وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا وَأْتُونِي بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِينَ

Artinya : Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku (Q.S. Yusuf : 93)

Mata Nabi Ya’kub sembuh seketika pada saat wajah beliau menyentuh qamis Nabi Yusuf , sebagaimana kisah selanjutnya dalam firman Allah :
فَلَمَّا أَنْ جَاءَ الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَى وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيرًا قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Artinya : Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya'qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkata Ya'qub: "Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui tentang Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya. (Q.S. Yusuf : 96)

d. Mengharap barakah dengan keringat Rasululah SAW, sebagaimana kisah dalam hadits di bawah ini :
عن أنس بن مالك قال كان النبي صلى الله عليه و سلم يدخل بيت أم سليم فينام على فراشها وليست فيه قال فجاء ذات يوم فنام على فراشها فأتيت فقيل لها هذا النبي صلى الله عليه و سلم نام في بيتك على فراشك قال فجاءت وقد عرق واستنقع عرقه على قطعة أديم على الفراش ففتحت عتيدتها فجعلت تنشف ذلك العرق فتعصره في قواريرها ففزع النبي صلى الله عليه و سلم فقال ما تصنعين ؟ يا أم سليم فقالت يا رسول الله نرجو بركته لصبياننا قال أصبت
Artinya : Dari Anas bin Malik, Nabi SAW biasa memasuki rumah Ummu Sulaim dan tidur di atas kasurnya sedangkan Ummu Sulaim sedang pergi. Anas berkata: “Pada suatu hari Rasulullah SAW datang dan tidur di atas kasur Ummu Sulaim, kemudian Ummu Sulaim dipanggil dan dikatakan padanya: Ini adalah Nabi SAW tidur di rumahmu dan di atas kasurmu. Anas berkata : Ummu Sulaim datang dan Nabi sedang berkeringat, lalu keringatnya tersebut dikumpulkan di atas sepotong kulit yang ada di atas tikar. Kemudian Ummu Sulaim membuka talinya dan mulai meyerap keringat tersebut lalu memerasnya ke dalam botol, maka Nabi kaget dan berkata: Apa yang kamu lakukan Ummu Sulaim ? Ummu Sulaim berkata: Wahai Rasulullah kami mengharapkan berkahnya bagi anak-anak kami” Beliau berkata: Engkau benar (H.R. Muslim)9

e. Tabarruk Asmaa binti Abu Bakar dengan jubah (baju) yang pernah digunakan oleh Rasulullah SAW dengan harapan kesembuhan dari penyakit, sebagaimana disebutkan riwayatnya dalam Shahih Muslim, yakni :
فَقَالَتْ هَذِهِ كَانَتْ عِنْدَ عَائِشَةَ حَتَّى قُبِضَتْ فَلَمَّا قُبِضَتْ قَبَضْتُهَا وَكَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يَلْبَسُهَا فَنَحْنُ نَغْسِلُهَا لِلْمَرْضَى يُسْتَشْفَى بِهَا
Artinya : Berkata Asma binti Abu Bakar r.a jubah itu disimpan di tempat 'Aisyah r.a hingga beliau wafat, lalu aku mengambilnya. Nabi SAW biasa mengenakannya dan kami mencucinya untuk mengobati orang sakit.(H.R. Muslim) . 10

3.Tabarruk dengan orang shaleh atau benda yang bersentuhan dengannya.
Misalnya :
a. Tawasul Saiyidina Umar dengan Saiyidina Abbas dalam berdo’a minta hujan. Ibnu Hajar al-Asqalany menjadikannya sebagai dalil kebolehan tabarruk dengan orang pilihan dan orang shaleh. Ibnu Hajar al-Asqalany berkata :
“Dipahami dari kisah Abbas (sebagaimana tersebut dalam hadits riwayat Bukhari di atas) bahwa dianjurkan meminta syafa’at dengan perantaraan ahli kebajikan, orang shaleh dan keluarga Nabi.” 11

Kisah tersebut terdapat dalam hadits berikut :

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا
Artinya : Sesungguhnya Umar bin Khatab r.a. apabila musim kemarau tiba, beliau berdo’a minta hujan dengan perantaraan Abbas bin Abdul Muthallib. Umar berkata : “Ya Allah, sesungguhnya kami bertawasul kepada-Mu dengan Nabi-Mu, maka Engkau memberi hujan kepada kami. Sekarang kami tawasul dengan paman Nabi kami, maka berikanlah hujan untuk kami (H.R. Bukhari)12

b. Tabarruk Nabi SAW dengan benda yang bersentuhan dengan tangan orang muslimin. Thabrany meriwayatkan dari Ibnu Umar, beliau berkata :
قلت يا رسول الله الوضوء من جر جديد مخمر أحب إليك أم من المطاهر ؟ قال لا بل من المطاهر إن دين الله يسر الحنيفية السمحة قال وكان رسول الله صلى الله عليه و سلم يبعث إلى المطاهر فيؤتى بالماء فيشربه يرجو بركة أيدي المسلمين.
Artinya : Aku mengatakan, Ya Rasulullah, Apakah berwudhu’ dengan bejana baru yang tertutup ataukah tempat bersuci ? Rasulullah menjawab : “tidak”, tetapi dengan tempat bersuci saja, karena agama Allah itu mudah, lembut dan toleran. Ibnu Umar berkata : “Rasulullah bangkit menuju tempat bersuci mendatangi air dan beliau meminumnya mengharapkan berkah tangan-tangan kaum muslimin.(Hadits ini diriwayat oleh Thabrany dalam al-Ausath dengan perawinya terpercaya) 13

Orang muslimin di sini, tentunya secara mudah dapat dipahami bahwa mereka adalah orang-orang yang shaleh. Hadits yang menerangkan ada keberkahan pada orang shaleh juga dapat dipahami dari riwayat Ibnu Abbas, beliau berkata :
أن النبي صلى الله عليه وسلم قال البركة مع أكابركم
Artinya : Sesungguhnya Nabi SAW bersabda : “Keberkahan itu ada pada orang yang mempunyai kelebihan diantara kamu”(H.R. Ibnu Hibban) 14

c. Tabarruk Imam Syafi’i dengan baju yang pernah dipakai oleh Ahmad bin Hanbal, sebagaimana kisah riwayat al-Baihaqi yang disebut dalam kitab al-Bidayah wal-Nihayah karya Ibnu Katsir, yakni :
وروى البيهقي عن الربيع قال بعثني الشافعي بكتاب من مصر إلى أحمد بن حنبل، فأتيته وقد انتفل من صلاة الفجر فدفعت إليه الكتاب فقال أقرأته ؟ فقلت : لا ! فأخذه فقرأه فدمعت عيناه، فقلت: يا أبا عبد الله وما فيه ؟ فقال: يذكر أنه رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم في المنام فقال: اكتب إلى أبي عبد الله أحمد بن حنبل وأقرأ عليه مني السلام وقل له: إنك ستمتحن وتدعى إلى القول بخلق القرآن فلا تجبهم، يرفع الله لك علما إلى يوم القيامة. قال الربيع: فقلت حلاوة البشارة، فخلع قميصه الذي يلي جلده فأعطانيه، فلما رجعت إلى الشافعي أخبرته قال: إني لست أفجعك فيه، ولكن بله بالماء وأعطينيه حتى أتبرك به.
Diriwayat oleh al-Baihaqi dari al-Rabi’, beliau berkata : Imam Syafi’i memerintahkanku agar membawakan surat dari Mesir menemui Imam Ahmad ibn Hanbal. Setelah beliau selesai menunaikan shalat sunat fajar, aku menemuinya dan menyerahkan surat tersebut, beliau berkata : “Apakah kamu sudah membacanya ?”. Tidak ! jawabku. Ahmad bin Hanbal mengambil dan membacanya, lalu beliau meneteskan air mata. Aku bertanya : Ya Abu Abdullah, ada apa di dalamnya? Ahmad menjawab Syafi’i menyebut bahwa beliau melihat Nabi dalam mimpi dan berkata kepadanya, Tulislah surat kepada Abu Abdillah Ahmad ibn Hanbal dan sampaikan salamku kepadanya! Dan katakan, Engkau akan diuji dan dipaksa mengatakan bahwa Alquran itu makhluq, maka jangan engka turuti permintaan mereka, Allah akan meninggikan derajatmu sebagai panutan di setiap masa hingga hari kiamat. Al-Rabi berkata, Aku berkata, Ini kabar gembira. Lalu Ahmad melepas baju dalamnya yang menyentuh badannya dan menyerahkannya kepadaku. Setelah sampai kembali kepada Syafi’i, aku beritakanlah semuanya kepada beliau. Syafi’i berkata kepadaku,” Aku tidak ingin menyakitimu perihal itu (merampasnya darimu), tapi basahilah dia dan serahkan kepadaku sisa air cuciannya agar aku mendapat berkah dengannya.(Riwayat al-Baihaqi) 15

5. Tabarruk Bani Israil dengan benda yang bersentuhan dengan kitab suci, yaitu tabut yang menjadi tempat menyimpan kitab Taurat, sebagaimana disebut dalam firman Allah Q.S. al-Baqarah : 248,
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya : Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.(Q.S. al-Baqarah : 248)

Al-Baidhawy berkata :
“Apabila berperang, Musa a.s. membawa tabut, maka jiwa orang Bani Israil menjadi tenteram dan tidak akan lari dari peperangan”. 16

Berdasarkan uraian dan contoh-contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa amalan tabarruk dalam Islam dapat dibenarkan, bahkan dianjurkan selama di dalamnya tidak mengandung unsur-unsur syirik yang dilarang agama. Banyak hadits Nabi SAW yang menjelaskan dianjurnya mencari berkah. Salah satunya adalah sebagaimana tergambar dalam hadits shahih di bawah ini :
فَإِذَا فَرَغَ فَلْيَلْعَقْ أَصَابِعَهُ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى فِى أَىِّ طَعَامِهِ تَكُونُ الْبَرَكَة
Artinya : Apabila seseorang selesai dari makannya, hendaklah menjilat jarinya. Karena seseorang itu tidak mengetahui bagian makanannya yang mana yang ada berkahnya. (H.R. Muslim) 17

Hukum tepung tawar/peusijeuk dari sudut teori tabarruk
Apabila ditinjau dari sudut teori tabarruk, berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.Tabarruk adalah sebuah amalan yang tidak bertentangan akidah Islam, bahkan dianjurkan selama tidak mengandung unsur-unsur syirik berdasarkan keterangan-keterangan di atas
2.Memperhatikan praktek acara tepung tawar/peusijeuk yang terjadi selama ini di tengah-tengah masyarakat Aceh khususnya dan Indonesia pada umumnya, maka dapat dipastikan bahwa acara tepung tawar/peusijeuk tidak termasuk dalam tabarruk, karena benda-benda yang terdapat dalam acara tepung tawar/peusijuek hanyalah sebagai simbol kebaikan yang diharapkan dan ingin dicapai. Jadi bukan karena ingin mengambil keberkahan dengannya, karena tidak ada keterangan syara’ bahwa benda-benda yang terdapat dalam acara tepung tawar/peusijeuk tersebut mempunyai keberkahan sebagaimana terlihat dalam contoh-contoh tabarruk di atas.
6.Namun demikian, apabila acara tepung tawar atau peusijeuk dilakukan oleh ulama atau orang-orang shaleh dengan harapan mendapat berkah dari benda-benda yang disentuh oleh ulama atau orang shaleh tersebut, maka amalan ini dapat dikatagorikan sebagai tabarruk sebagaimana telah dilakukan Rasulullah SAW sendiri dengan sisa air wudhu’ orang yang beriman pada masa hidup beliau dan tabarruk Nabi Ya’kub a.s. dengan baju anaknya, Yusuf a.s. dan juga sebagaimana tabarruk Imam Syafi’i dengan baju yang pernah digunakan oleh Ahmad bin Hanbal sebagaimana telah disebut sebelum ini.



DAFTAR PUSTAKA
1.Imam al-Razi, Mukhtar al-Shihah, Darul Fikri, Beirut, Hal. 60
2.Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, Hidakarya Agung, Jakarta, Hal. 63
3.Al-Manawy, al-Tauqif ’ala Muhimmaat al-Ta’arif, pdf: www.al-mostafa.com, Hal. 36
4.Al-Ust. Shibah al-Bayati, Tabarruk bi al-Shalihin wa al-Akhyar wa al-Musyahid al-Muqaddisah, Maktabah al-‘Ammah, Hal. 12
5.Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihya at-Turatsi al-Araby, Beirut, Juz. IV, Hal. 1727, No. Hadits : 2201
6.An-Nawawi, Syarah Muslim, Dar Ihya at-Turatsi al-Araby, Beirut, Juz. XIV, Hal. 188
7.Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. I, Hal. 237, No. Hadits : 286
8.Bukhari, Shahih Bukhari, Dar Thauq an-Najh, Juz. I, Hal. 49, No. Hadits : 188
9.Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. IV, Hal.1815-1816, No. Hadits : 2331
10.Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. VI, Hal. 139, No. Hadits 5530
11.Ibnu Hajar al-Asqalany, Fathul Barry, Darul Fikri, Beirut, Juz. II, Hal. 497
12.Bukhari, Shahih Bukhari, Dar Thauq an-Najh, Juz. II, Hal. 27, No. Hadits : 1010
13.Al-Haitsamy, Mujma’ al-Zawaid, Darul Fikri, Beirut, Juz. I, Hal. 502, No. Hadits : 1071
14.Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban ma’a Hawasyi al-Arnauth Kamila, Maktabah Syamilah, Juz. XII, Hal. 139
15.Ibnu Katsir, al-Bidayah wal Nihayah, Maktabah Syamilah, Juz. X, Hal. 365
16.Al-Baidhawy, Tafsir al-Baidhawy, Muassasah Sya’ban, Beirut, Juz. I, Hal. 253
17.Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah dahlan, Indonesia, Juz. III, Hal. 1607, No. Hadits : 2033

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar