Kamis, 28 Juni 2012

Hukum Shalat Dhuha


Jumhur ulama Salaf dan khalaf berpendapat bahwa shalat dhuha merupakan shalat sunat sebagaimana halnya shalat sunat lainnya. Sebagian kecil dari mereka ada yang mengingkari keberadaan shalat ini dan menganggapnya sebagai amalan bid’ah.[1] Kelompok kedua ini berhujjah dengan dalil-dalil antara lain :
1.    Riwayat Bukhari dalam Shahihnya dari Muarriq, berkata :  
قُلْتُ لاِبْنِ عُمَرَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَتُصَلِّي الضُّحَى قَالَ : لاََ قُلْتُ فَعُمَرُ قَالَ : لاََ قُلْتُ فَأَبُو بَكْرٍ قَالَ : لاََ قُلْتُ فَالنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : لاََ إِخَالُهُ.
Artinya : Aku bertanya kepada Ibnu'Umar r.a.: "Apakah anda melaksanakan shalat Dhuha?" Beliau menjawab: "Tidak!". Aku tanyakan lagi: "Bagaimana dengan 'Umar?" Beliau menjawab: Tidak!"."Bagaimana dengan Abu Bakar?" Beliau menjawab: Tidak!". "Bagaimana dengan Nabi SAW ? " Beliau menjawab: "Juga tidak, menurut dugaanku!".(H.R. Bukhari) [2]

2.    Riwayat dari Mujahid, beliau mengatakan :
دَخَلْتُ أَنَا وَعُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ الْمَسْجِدَ فَإِذَا عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا جَالِسٌ إِلَى حُجْرَةِ عَائِشَةَ ، وَإِذَا نَاسٌ يُصَلُّونَ فِي الْمَسْجِدِ صَلاَةَ الضُّحَى قَالَ فَسَأَلْنَاهُ عَنْ صَلاَتِهِمْ فَقَالَ بِدْعَةٌ
Artinya : Aku dan Urwah bin al-Zubair memasuki masjid, pada ketika itu Abdullah bin Umar r.a. duduk bersandar pada bilik ‘Aisyah, sedangkan manusia sedang shalat dhuha dalam masjid. Mujahid (perawi) mengatakan : “Kami bertanya kepada Ibnu Umar mengenai shalat mereka, Beliau menjawab : “itu bid’ah.” (H.R. Bukhari).[3]

3.    Hadits ‘Aisyah r.a , beliau berkata :
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم سَبَّحَ سُبْحَةَ الضُّحَى وَإِنِّي لأُسَبِّحُهَا.
Artinya : Aku belum pernah melihat Rasulullah SAW melaksanakan shalat sunnat Dhuha. Adapun aku mengerjakannya (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Daud dan al-Nisa’i).[4]

4.    Dalam Mushannaf Ibnu Syaibah disebutkan :
a.       Riwayat dari Ibnu Umar, beliau berkata :
مَا صَلَّيْتُ الضُّحَى مُذْ أَسْلَمْتُ إِلاَّ أَنْ أَطُوفَ بِالْبَيْتِ
Artinya : Aku tidak pernah  shalat dhuha selama masuk Islam kecuali thawaf di baitullah. (H.R. Ibnu Syaibah)[5]

b.         Riwayat dari Ibnu ‘Ulyah dari al-Jurairy dari al-Hakam bin al-A’raj, berkata :
سَأَلْتُ ابْن عُمَرَ ، عَنْ صَلاَةِ الضُّحَى وَهُوَ مُسْتَنِدٌ ظَهْرَهُ إلَى حُجْرَةِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ، فَقَالَ : بِدْعَةٌ وَنِعْمَتِ الْبِدْعَةُ.
Artinya : Aku pernah bertanya kepada Ibnu Umar tentang shalat dhuha, sedangkan punggung beliau bersandar pada bilik Nabi SAW. Beliau menjawab : “itu bid’ah dan sebaik-baik bid’ah”. (H.R. Ibnu Syaibah).[6]

c.       Riwayat dari Abi ‘Ubaidah, berkata :
لَمْ يُخْبِرْنِي أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ أَنَّهُ رَأَى ابْنَ مَسْعُودٍ يُصَلِّي الضُّحَى
Artinya : Tidak ada seorangpun manusia yang memberitahukan kepadaku bahwa dia pernah melihat Ibnu Mas’ud melakukan shalat dhuha. (H.R. Ibnu Syaibah)[7]

d.      Riwayat dari Waki’ dari Hajib bin Umar dari al-Hakam bin al-A’raj, berkata :
سَأَلْتُ ابْنَ عُمَرَ عَنْ صَلاَةِ الضُّحَى ؟ فَقَالَ : بِدْعَةٌ.
Artinya : Aku pernah bertanya kepada Ibnu Umar tentang shalat dhuha, beliau menjawab : “Itu bid’ah”. (H.R. Ibnu Syaibah).[8]

e.       Riwayat dari al-Tamimy, berkata :
سَأَلْتُ ابْنَ عُمَرَ عَنْ صَلاَةِ الضُّحَى فَقَالَ : وَلِلضُّحَى صَلاَة؟.
Artinya : Aku pernah bertanya kepada Ibnu Umar tentang shalat shalat dhuha, beliau menjawab : “Apakah bagi dhuha ada shalat ?”. (H.R. Ibnu Syaibah).[9]

Adapun kelompok pertama berhujjah antara lain :
1.        Hadits riwayat Ibnu Abi Laila, beliau berkata :
مَا أَنْبَأَ أَحَدٌ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم صَلَّى الضُّحَى غَيْرُ أُمِّ هَانِئٍ ذَكَرَتْ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ اغْتَسَلَ فِي بَيْتِهَا فَصَلَّى ثَمَانِ رَكَعَاتٍ فَمَا رَأَيْتُهُ صَلَّى صَلاَةً أَخَفَّ مِنْهَا غَيْرَ أَنَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ.
Artinya : Tidak mengabarkan kepada kami seseorangpun bahwasanya dia melihat Nabi SAW mengerjakan shalat dhuha, selain Ummu Hani'  yang menceritakan bahwa Nabi SAW saat hari penaklukan Makkah, Beliau mandi di rumahnya kemudian shalat delapan raka'at. (Katanya): "Aku belum pernah sekalipun melihat beliau melaksanakan shalat yang lebih ringan dari pada saat itu, namun beliau tetap menyempurnakan ruku' dan sujudnya" (H.R. Bukhari).[10]

2.        Hadits dari Abu Hurairah, beliau berkata :

أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلاَةِ الضُّحَى وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ.
Artinya : Kekasihku (Rasulullah SAW) telah berwasiat kepadaku dengan tiga perkara yang tidak akan pernah aku tinggalkan hingga aku meninggal dunia, yaitu shaum tiga hari pada setiap bulan, shalat Dhuha dan tidur dengan shalat witir terlebih dahulu".  (H.R. Bukhari).[11]

3.        Dari Aisyah, beliau berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى الضُّحَى أَرْبَعًا وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ.
Artinya : Rasulullah SAW melaksanakan shalat dhuha empat raka’at dan beliau melebihinya menurut yang dikehendakinya. (H.R. Muslim).[12]

4.        Dan beberapa hadits shahih lainnya yang telah disebut oleh Imam al-Nawawi dalam Majmu’ Syarah al-Muhazzab.[13]

Ketiga hadits shahih di atas secara terang benderang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah melaksanakan shalat Dhuha. Keterangan Aisyah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah shalat Dhuha empat raka’at lebih, tidaklah bertentangan dengan keterangan yang menjelaskan bahwa beliau tidak pernah melihat Rasulullah SAW melaksanakan shalat Dhuha. Hal ini, karena tidak pernah melihat Rasulullah SAW melaksanakan shalat Dhuha tidak menafikan beliau mengetahui Rasulullah shalat Dhuha dengan diberitahukan oleh orang lain atau diberitahukan sendiri oleh Rasulullah SAW. Aisyah r.a. tidak pernah melihat Rasulullah melaksanakannya disebabkan Rasulullah SAW tidak terlalu sering melaksanakan ibadah ini, karena kekuatiran beliau dengan sebab sering dilakukannya dapat menyebabkan difardhukan ibadah shalat Dhuha ini, sebagaimana halnya kasus shalat Tarawih, sebagaimana tergambar dalam hadits Aisyah di bawah ini, beliau berkata :
إِنْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَيَدَعُ الْعَمَلَ وَهْوَ يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ خَشْيَةَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ النَّاسُ فَيُفْرَضَ عَلَيْهِمْ وَمَا سَبَّحَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم سُبْحَةَ الضُّحَى قَطُّ وَإِنِّي لأُسَبِّحُهَ
Artinya : Jika Rasulullah SAW meninggalkan suatu amal padahal beliau mencintai amal tersebut, hal itu adalah karena beliau khawatir nanti orang-orang akan ikut mengamalkannya sehingga diwajibkan buat mereka. Dan tidaklah beliau melaksanakan shalat Dhuha sama sekali, tetapi aku melaksanakannya. (H.R. Bukhari).[14]

Hal lain yang menyebabkan Aisyah tidak melihat Rasulullah SAW melaksanakan shalat Dhuha adalah karena shalat ini dilakukan pada siang hari, dimana Rasulullah sebagaimana kaum laki-laki lainnya lebih banyak berada diluar rumah, musafir ataupun  dimasjid bersama ummat. Kalaupun beliau dirumah, sudah tentu tidak selamanya berada dirumah Aisyah, karena beliau mempunyai isteri sembilan orang.
Adapun pendapat Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud bahwa ibadah Dhuha termasuk dalam amalan bid’ah, menurut Imam al-Nawawi kemungkinan besar terjadi karena salah satu faktor berikut :
  1. Riwayat-riwayat yang menjelaskan Rasulullah SAW pernah shalat Duha tidak  sampai kepada beliau.
  2. Yang menjadi bid’ah menurut beliau adalah melakukannya secara terus menerus, sedangkan Rasulullah SAW tidak melaksanakannya seperti itu.
  3. Yang menjadi bid’ah adalah melakukannya secara terang-terangan di masjid (sebagaimana tergambar dalam hadits riwayat Bukhari dari Mujahid di atas) karena shalat Dhuha termasuk shalat sunat di rumah masing-masing.[15]



[1] Al-Zabidy, Ittihaf  Sadd ah al-Muttaqin, Juisah Tarikh al-‘Arabi, Beirut, Juz. III, Hal. 366
[2] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 73, No Hadits : 1175
[3] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. III, Hal. 3, No Hadits : 1175
[4] Al-Zabidy, Ittihaf  Sadd ah al-Muttaqin, Juisah Tarikh al-‘Arabi, Beirut, Juz. III, Hal. 366
[5] Ibnu Syaibah, Mushannaf Ibnu Syaibah, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 405, No. Hadits : 7858
[6] Ibnu Syaibah, Mushannaf Ibnu Syaibah, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 405, No. Hadits : 7859
[7] Ibnu Syaibah, Mushannaf Ibnu Syaibah, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 405, No. Hadits : 7860
[8] Ibnu Syaibah, Mushannaf Ibnu Syaibah, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 406, No. Hadits : 7866
[9] Ibnu Syaibah, Mushannaf Ibnu Syaibah, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 406, No. Hadits : 7862
[10] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 57, No Hadits : 1103
[11] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 73, No Hadits : 1178
[12] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 157, No. Hadits : 1698
[13] Lihat Majmu’ Syarah al-Muhazzab, karya al-Nawawi, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz. III, Hal. 530-531
[14] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 62, No Hadits : 1128
[15] Al-Nawawi, Majmu’ Syarah al-Muhazzab, karya al-Nawawi, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz. III, Hal. 531-532

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar