Sabtu, 08 Juni 2013

Hukum kencing dan tahi dari binatang yang dimakan


Kencing dan tahi binatang yang dimakan, hukumnya adalah najis menurut mazhab Syafi’i, Abu Hanifah, Abu Yusuf dan lainnya. ‘Itha’, al-Nakh’i, al-Zuhri, Malik, Sufyan al-Tsuri, Zufar dan Ahmad berpendapat kencing dan tahi binatang yang dimakan adalah suci. Pengarang al-Bayan telah menghikayahkan bahwa pendapat yang mengatakan suci ini juga merupakan sebuah pendapat berasal dari kalangan Syafi’iyah. Al-Rafi’i menghikayahkan pendapat tersebut dari Abu Sa’id al-Isthakhry. Ibnu Khuzaimah dan Al-Ruyani telah memilih (ikhtiyar) pendapat ini. Namun menurut keterangan al-Nawawi, pendapat yang masyhur mazhab Syafi’i adalah memastikan najis kencing dan tahi binatang yang dimakan. [1]

Dalil yang digunakan sebagai dalil bahwa kencing dan tahi binatang yang dimakan, hukumnya adalah najis antara lain :
1.      Firman Allah Ta’ala :
وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ
Artinya : Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.  (Q.S. al-A’raf : 157)

Kencing dan tahi dari binatang yang dimakan termasuk benda yang dianggap menjijikan di sisi orang Arab. Berdasarkan zhahir dari mutlaq firman Allah ini, maka kencing dan tahi dari binatang yang dimakan termasuk najis yang diharamkan atas kaum muslimin.
2.      Hadits riwayat Bukhari berbunyi :
عَبْدَ اللَّهِ يَقُولُ: أَتَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الغَائِطَ فَأَمَرَنِي أَنْ آتِيَهُ بِثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ، فَوَجَدْتُ حَجَرَيْنِ، وَالتَمَسْتُ الثَّالِثَ فَلَمْ أَجِدْهُ، فَأَخَذْتُ رَوْثَةً فَأَتَيْتُهُ بِهَا، فَأَخَذَ الحَجَرَيْنِ وَأَلْقَى الرَّوْثَةَ  وَقَال َ: هَذَا رِكْسٌ
Artinya : Abdullah mengatakan, Nabi SAW mendatangi jamban, kemudian memerintahku membawanya tiga batu, aku hanya mendapati dua batu. Aku mencari batu yang ketiga, tetapi aku tidak mendapatinya, maka aku mengambil tahi dan membawa kepada beliau, ketika itu beliau mengambil dua batu itu dan membuang tahi, beliau mengatakan : “Ini kotoran hewan”.(H.R. Bukhari).[2]

 Nabi SAW membuang tahi yang diberikan oleh Abdullah dan tidak menggunakannya sebagai alat istinjak dan ‘illah beliau tidak menggunakannya karena benda itu adalah kotoran hewan menunjukkan bahwa tahi tersebut dihukum sebagai najis.
Adapun hadits al-Bara’ dan Jabir yang berbunyi :
ما اكل لحمه فلا بئس ببوله
Artinya : Binatang yang dimakan dagingnya, maka tidak mengapa kencingnya (tidak najis)

Al-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini dha’if. Al-Darulquthni telah menyebut hadits ini serta beliau menjelaskan status hadits ini dha’if.[3]




[1] Al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz. II, Hal. 567-568
[2] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 43, No. Hadits : 156
[3] Al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz. II, Hal. 568

5 komentar:

  1. assl... tgk, saya ingin bertanya sedikit tentang surah kitab al bajuri hal.219.juz 1 mengenai khutbah jum'at...
    ومحل اشتراط العربية ان كان في القوم عربي والا كفي كونها بالعجمية..........الخ......

    trims....

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah kami jelaskan pada :
      http://kitab-kuneng.blogspot.com/2013/06/rukun-khutbah-wajib-dalam-bahasa-arab.html

      wassalam

      Hapus
  2. 1 lagi kiban surah kitab almahalli , pd hasyiah qulyubi juz 1 hal.38

    فائدة قال القاضي رحمه الله تعالي لايرفع اليقين بالشاك الا في اربع مسائل*احداها الشاك في خروج وقت الجمعة فيصلون الظهرا*الثانية الشاك في بقاء مدةالمسح فيغسل*.......الخ.....


    trims...

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah kami jelaskan :
      http://kitab-kuneng.blogspot.com/2013/06/blog-post.html

      Hapus
  3. rimeh. tirom. kreung.. dan smcam jih..
    pu jt pjoh tgk.. puna njih nyan...

    BalasHapus