Rabu, 17 Juni 2015

Praktek Tarawih Empat Rakaat Sekali Salam



Melaksanakan shalat tarawih empat raka’at sekali salam, hukumnya tidak sah. Ini sesuai dengan fatwa ulama sebagai berikut :
1.    Imam Nawawi mengatakan :
يَدْخُلُ وَقْتُ التَّرَاوِيْحِ بِالْفَرَاغِ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ ذَكَرَهُ الْبَغَوِيُّ وَغَيْرُهُ وَيَبْقَى إِلَى طُلُوْعِ اْلفَجْرِ وَلْيُصَلِّهَا رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ كَمَا هُوَ اْلعَادَةُ فَلَوَْصَلَّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيْمةٍ لَمْ يَصِحَّ ذَكَرَهُ الْقَاضِى حُسَيْنٌ فيِ فَتَاوِيْهِ ِلاَنَّهُ خِلاَفُ الْمَشْرُوْعِ
Masuk waktu shalat Tarawih itu setelah melaksanakan shalat Isya. Imam al-Baghawi dan lainnya telah menyebutkannya itu. Waktu tarawih masih ada sampai terbit fajar dan hendaklah seseorang mengerjakan shalat Tarawih dengan dua rakaat- dua rakaat, sebagaimana kebiasaan. Seandainya ia shalat dengan empat rakaat dengan satu salam, maka shalatnya tidak sah. Hal ini telah dikatakan oleh al-Qâdhi Husain dalam fatwanya, dengan alasan hal demikian menyalahi aturan yang telah disyariatkan.”[1]

2.    Imam al-Ramli mengatakan :                
وَلَوْ صَلَّى أَرْبَعًا بِتَسْلِيمَةٍ لَمْ يَصِحَّ إنْ كَانَ عَامِدًا عَالِمًا وَإِلَّا صَارَتْ نَفْلًا مُطْلَقًا لِأَنَّهُ خِلَافُ الْمَشْرُوعِ بخلاف سنة الظهر والعصر كما افتى به المصنف وفرق بينهما بان التراويح اشبهت ِالفَرائضِ كما مر فَلَا تَغَيُّرَ عَمَّا وَرَدَ
Seandainya seseorang shalat Tarawih dengan empat rakaat satu salam, jika ia sengaja dan mengetahui maka shalatnya tidak sah. Kalau tidak demikian maka shalat itu menjadi shalat sunnah mutlaq, karena menyalahi aturan yang disyariatkan. Ini berbeda dengan shalat sunnah Dhuhur dan ‘Ashar sebagaimana telah difatwa oleh pengarang (al-Nawawi). Dibedakan antara keduanya sebab Tarawih menyerupai shalat fardhu sebagaimana penjelasan terdahulu, karena itu tidak boleh diubah dari keterangan syara’”[2]

3.    Ibn Hajar al-Haytami mengatakan :
وَيَجِبُ  فِيْهَا أَنْ تَكُوْنَ  مَثْنَى  بِأَنْ  يُسَلِّمَ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ , فَلَوْ صَلَّى أَرْبَعًا بِتَسْلِيْمَةٍ لَمْ يَصِحَّ لِشِبْهِهَا بِاْلفَرْضِ فِي طَلَبِ الْجَمَاعَةِ فَلاَ تُغَيَّرُ عَمَّا وَرَدَ بِخِلاَفِ  نَحْوِ سُنَّةِ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ . 
“Wajib dalam pelaksanaan shalat Tarawih dua-dua, disalam dua rakaat-dua rakaat. Bila seseorang mengerjakan empat rakaat dengan satu salam, maka shalatnya tidak sah karena shalat Tarawih menyerupai shalat fardhu dalam menuntut berjamaah, maka jangan dirubah keterangan sesuatu yang telah warid (datang). Lain halnya dengan shalat sunah Zuhur dan Ashar atas qaul mu’tamad.”[3]

Adapun dalil bahwa shalat tarawih disyari’atkan pelaksanaannya dua raka’at–dua raka’at sekali salam adalah hadits Ibnu ‘Umar r.a., bahwasannya Nabi SAW  bersabda :
صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى
Artinya : Shalat malam itu dua raka’at-dua raka’at” (Muttafaqun ‘alaihi)[4]
Sebagian  umat Islam di Indonesia ada yang mengerjakan shalat Tarawih dengan cara empat rakaat sekali salam. Mereka berargumentasi dengan hadits Aisyah r.a. sebagai berikut:
مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا
Artinya : Nabi tidak pernah lebih dari sebelas raka’at baik di Ramadhan maupun bulan-bulan lainnya. Beliau shalat empat rakaat, jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat lagi empat raka’at, jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat tiga raka’at.(H.R. Bukhari [5] dan Muslim[6])

Dhahir hadits ini menunjukkan bahwa Nabi SAW dalam shalat sunat malam melaksanakannya dengan empat-empat raka’at. Namun tentu dhahirnya ini tidak sesuai dengan kandungan hadits yang menjelaskan bahwa shalat malam dua raka’at-dua raka’at sebagaimana hadits muttafaqun ‘alaihi di atas. Oleh karena itu, tidak boleh tidak harus dipahami bahwa maksud Nabi SAW melaksanakan empat raka’at-empat raka’at sebagaimana hadits Aisyah di atas adalah setelah empat raka’at (dengan dua kali salam) Nabi istirahat sebentar, kemudian melanjutkan lagi empat raka’at lagi (dengan dua kali salam juga) dan seterusnya. Jadi bukan dengan empat rakaat sekali salam. Pemahaman ini sesuai dengan penjelasan al-Shan’aniy dalam kitabnya, Subulussalam, yakni :
يُحْتَمَلُ أَنَّهَا مُتَّصِلَاتٌ وَهُوَ الظَّاهِرُ وَيُحْتَمَلُ أَنَّهَا مُنْفَصِلَاتٌ وَهُوَ بَعِيدٌ إلَّا أَنَّهُ يُوَافِقُ حَدِيثَ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى .
“Redaksi ini (beliau shalat empat rakaat) memiliki kemungkinan empat rakaat dilakukan sekaligus dengan sekali salam, ini adalah yang zhahir, dan juga bisa dipahami empat rakaat itu dilakukan secara terpisah (dua rakaat- dua rakaat), tetapi pemahaman terakhir ini jauh hanya saja ini sesuai dengan hadis “Shalat malam itu dilakukan dengan dua rakaat- dua  rakaat”[7]



[1].  Al-Nawawi, Majmu’ Syarh al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, , Juz. III, Hal. 526
[2].  Imam al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, (dicetak bersama Hasyiah Syibranmalasi ‘ala Nihayah al-Muhtaj) Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. II, Hal. 127-128
[3]. Ibnu Hajar al-Haitami, Fathul Jawad, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. I, Hal. 247
[4] . Ibnu Hajar al-Asqalany, Bulughul Maram, Hal. 108-109
[5] Bukhari, Shahih Bukhari, Dar Thauq an-Najh, Juz. II, Hal. 53, No. Hadits : 1147
[6] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. I, Hal. 509, No. Hadits : 738
[7] .Al-Shan’aniy, Subulussalam, Maktabah Nazar Mushtafa al-Baaz, Riyadh, Juz. II, Hal. 538

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar