Selasa, 26 Juli 2016

Beberapa Amalan Yang Dihukum oleh Imam al-Nawawi Dalam Kitabnya sebagai Bid’ah Tercela (bag.2)

3.    Membaca Surat al-An’am pada raka’at terakhir shalat Tarawih pada malam ke tujuh Ramadhan.
Dalam al-Fatawa, Imam al-Nawawi ditanya tentang hukum membaca Surat al-An’am pada raka’at terakhir shalat Tarawih pada malam ketujuh Ramadhan. Beliau menjawab :
هذا الفعل المذكور ليس بسنة، بل هو بدعة مكروهة، ولكراهتها أسباب: منها إِيهام كونها سنةً، ومنها تطويل الأخيرة على الأولى وانما السنة تطويل الأولى ، ومنها التطويل على المأمومين، وإنما السنة التخفيف، ومنها هذه القراءة هَذْرَمتها ومنها المبالغة في تخفيف الركعات قبلها، وغير ذلك من الأسباب، ولم يثبت نزولُ الأنعام دفعةً واحدة، ولا دلالة فيه لو ثبت لهذا الفعل، فينبغي لكل مصلٍّ اجتنابُ هذا الفعل، وينبغي إشاعةُ إنكارِ هذا، فقد ثبتت الأحاديث الصحيحة في النهي عن محْدثاتِ الأمور، وأن كل بدعة ضلالة، ولم يُنقل هذا الفعل عن أحد من السلف وحاشاهم، والله أعلم.
Perbuatan yang disebut  ini tidaklah sunnah, akan tetapi bid’ah makruhah. Makruhnya karena beberapa sebab antara lain ; mewahamkan keadaannya sunnah, memanjangkan raka’at pertama atas kedua  sedangkan yang sunnah memanjang raka’at pertama, berat atas makmum karena panjang sedangkan yang sunnah meringankan, ini bacaan tergesa-gesa, terlalu meringankan raka’at sebelumnya, dan lain-lain. Tidak ada riwayat yang shahih yang menjelaskan turun Surat al-An’am sekaligus, seandaipun ada tidak ada petunjuk yang menunjukkan kepada perbuatan ini. Karena itu, seyogyanya yang melakukan shalat menjauhi perbuatan ini dan menyiarkan pengingkaran ini. Telah shahih hadits yang melarang dari perbuatan bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat. Tidak dikutip perbuatan ini dari seorangpun dari para ulama salaf dan selain mereka. Wallahua’lam.[1]

Al-Suyuthi juga telah menyebut tercelanya amalan ini dalam kitab beliau, al-Amr bil Itba’ wan-Nahyu  ‘an  al-ibtida’. Senada dengan Imam al-Nawawi, al-Suyuthi  menjelaskan hadits yang menjelaskan Surat al-An’am turun sekaligus adalah dha’if dan seandainyapun hadits itu shahih, maka tidak ada petunjuk dianjurkan membaca Surat al-An’am pada raka’at terakhir shalat Tarawih pada malam ke tujuh Ramadhan. Menurut al-Suyuthi, bid’ah amalan ini karena beberapa faktor, antara lain :
a.       Mengkhususkan Surat al-An’am. Ini mewahamkan yang sunnah hanya Surat al-An’am, tidak yang lain.
b.      Mengkhususkan pada shalat Tarawih
c.       Memberatkan kepada makmum karena panjang
d.      Memendekkan raka’at pertama.[2]

4.        Mengelilingi kuburan Nabi, menyapu dengan tangan dan menciumnya.
Dalam al-Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Imam al-Nawawi mengatakan :
لَا يَجُوزُ أَنْ يُطَافَ بِقَبْرِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُكْرَهُ إلْصَاقُ الظُّهْرِ وَالْبَطْنِ بِجِدَارِ الْقَبْرِ قَالَهُ أَبُو عُبَيْدِ اللَّهِ الْحَلِيمِيُّ وَغَيْرُهُ قَالُوا وَيُكْرَهُ مَسْحُهُ بِالْيَدِ وَتَقْبِيلُهُ بَلْ الْأَدَبُ أَنْ يَبْعُدَ مِنْهُ كَمَا يَبْعُدُ مِنْهُ لَوْ حَضَرَهُ فِي حَيَاتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا هُوَ الصَّوَابُ الَّذِي قَالَهُ الْعُلَمَاءُ وَأَطْبَقُوا عَلَيْهِ وَلَا يُغْتَرُّ بِمُخَالَفَةِ كَثِيرِينَ مِنْ الْعَوَامّ وَفِعْلِهِمْ ذَلِكَ. فإِنَّ الِاقْتِدَاءَ وَالْعَمَلَ إنَّمَا يَكُونُ بِالْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ وَأَقْوَالِ الْعُلَمَاءِ وَلَا يُلْتَفَتُ إلَى مُحْدَثَاتِ الْعَوَامّ وَغَيْرِهِمْ وَجَهَالَاتِهِمْ
Tidak boleh mengelilingi kubur Nabi SAW dan makruh melengketkan punggung dan perut atas dinding kubur sebagaimana penjelasan Abu Ubaidillah al-Hulaimi dan lainnya. Mereka mengatakan, makruh menyapu dengan tangan dan menciumnya, bahkan adabnya menjauhi hal itu sebagaimana menjauhi darinya ketika hidup beliau SAW. Inilah yang benar yang telah dikatakan oleh para ulama dan mereka sepakat atasnya. Karena itu, jangan tertipu dengan menyalahi kebanyakan orang awam dan perbuatan mereka. Yang diikuti dan diamalkan hanya yang bersandarkan kepada hadits shahih dan pendapat para ulama dan jangan berpaling kepada bid’ah orang awam dan lainnya serta orang-orang bodoh dari mereka.[3]

Selanjut al-Nawawi mengatakan,
من خطر بباله أن المسح باليد ونحوه أبلغ فى البركة، فهو من جهالته وغفلته، لأن البركة إنما هى فيما وافق الشرع، و كيف يبتغى الفضل في مخالفة الصواب.
 Barangsiapa yang terbetik di benaknya bahwa menyapu kuburan dengan tangan dan perbuatan yang seumpamanya lebih berkah, maka ini disebabkan kebodohan dan kelalaiannya, karena keberkahan itu pada sikap mengikuti syariat. Bagaimana mungkin keutamaan boleh diraih dengan menyelisihi kebenaran?.[4]

Dalam kitabnya, al-Jauhar al-Munaddham fi Ziyarah al-Qabri al-Syarif al-Nabawi al-Makram, Al-Haitami menjelaskan pernyataan al-Nawawi menyebutkan ada kesepakatan ulama terhadap makruh menyapu kuburan Nabi SAW dan menciumnya telah dikritisi oleh Ibn Jama’ah dan lainnya. Hal ini karena menurut Imam Ahmad, perbuatan tersebut termasuk dalam katagori tidak mengapa dan juga dikritisi dengan sebab ada pendapat al-Muhib al-Thabari dan Ibn Abi al-Shaif yang berpendapat boleh (jawaz) mencium kuburan nabi dan menyapunya dan atasnya amalan para ulama shalihin serta pernyataan al-Subki bahwa tidak boleh menyapu kuburan nabi tidak termasuk dalam ijmak ulama. Menjawab kritikan ini, al-Haitami mengatakan, nafi pada kalam Ahmad boleh jadi bermakna nafi haram dan bisa juga bermakna nafi makruh, akan tetapi makna pertama lebih rajih sebagaimana terdapat dalam kitab-kitab fiqh. Karena itu kalam Ahmad  di atas tidak berarti menafikan makruh sebagaimana disebut oleh al-Nawawi. Adapun perkataan al-Thabari, “atasnya (jawaz) amalan para ulama shalihin”, dipahami bahwa makruh termasuk dalam katagori jawaz juga, sehingga tidak betentangan antara keduanya, bahkan dhahir perkataan al-Thabari ini bermakna makruh, karena beliau beristidlal dengan amalam para ulama, yang semestinya beliau menggunakan istilah “istihbab”(dianjurkan), tapi malah berpaling kepada perkataan “jawaz”. Sedangkan perkataan al-Subki “tidak boleh menyapu kuburan nabi tidak termasuk dalam ijmak ulama”  maksudnya pada awalnya, sehingga tidak menafikan terjadi ijmak sesudah berlalu zaman ikhtilaf. [5]

5.    Mengutamakan Wuquf di Jabalrahmah
Imam al-Nawawi mengatakan :
(وَأَمَّا) مَا اشْتَهَرَ عِنْدَ الْعَوَامّ مِنْ الِاعْتِنَاءِ بِالْوُقُوفِ عَلَى جَبَلِ الرَّحْمَةِ الَّذِي هُوَ بِوَسَطِ عَرَفَاتٍ كَمَا سَبَقَ بَيَانُهُ وَتَرْجِيحِهِمْ لَهُ عَلَى غَيْرِهِ مِنْ أَرْضِ عَرَفَاتٍ حَتَّى رُبَّمَا تُوُهِّمَ مِنْ جَهَلَتِهِمْ أَنَّهُ لَا يَصِحُّ الْوُقُوفُ إلَّا فِيهِ فَخَطَأٌ ظَاهِرٌ وَمُخَالِفٌ لِلسُّنَّةِ وَلَمْ يَذْكُرْ أَحَدٌ مِمَّنْ يُعْتَمَدُ فِي صعود هذاالجبل فَضِيلَةً يَخْتَصُّ بِهَا بَلْ لَهُ حُكْمُ سَائِرِ أَرْضِ عَرَفَاتٍ غَيْرِ مَوْقِفِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Adapun apa yang masyhur di kalangan awam lebih mementingkan wuquf di jabalrahmah yang berada di tengah-tengah tanah ‘Arafah sebagaimana penjelasan sebelumnya dan mengutamakannya atas lainnya dari tanah ‘Arafah, sehingga dapat menimbulkan waham dari orang-orang bodoh bahwa tidak sah wuquf kecuali padanya, ini merupakan kesalahan yang nyata dan menyalahi sunnah. Tidak ada pernah seorangpun dari ulama yang menjadi pegangan menyebutkan ada fadhilah khusus mendaki gunung ini, bahkan hukumnya sama saja dengan bagian lain dari tanah ‘Arafah kecuali tanah tempat wuquf Nabi SAW.[6]

Selanjutnya al-Nawawi menjelaskan bahwa Ibn Jarir al-Thabari, al-Mawardi dalam al-Hawi dan al-Bandaniji berpendapat sunnah qashad wuquf di jabalrahmah. Alasan mereka karena jabalrahmah merupakan tempat wuquf para nabi ‘alaihimussalam. Namun beliau menolak pendapat ini, beliau mengatakan pendapat mereka ini tidak ada dasar sama sekali, tidak ada hadits shahih dan juga tidak ada hadits dhaifpun yang mendukungnya, maka yang benar adalah mengutamakan tempat wuquf Nabi SAW.[7]
Ibnu Hajar al-Haitami dalam Tuhfah al-Muhtaj juga mengatakan hal yang sama, bahwa bid’ah mengutamakan Jabalrahmah sebagai tempat wuquf. Al-Syarwani dalam mengomentari pendapat al-Haitami ini mengutip dari kitab al-Mughni, mengatakan tidak ada fadhilah mendaki Jabalrrahmah sebagaimana tersebut dalam al-Majmu’, meskipun Ibn Jarir, al-Marizi dan al-Bandaniji mengatakan itu adalah tempat wuquf para anbiya.[8]

6.    Pergi ke arafah sebelum masuk waktu ibadah wuquf.
Setelah menjelaskan tidak masuk seseorang ke ‘Arafah kecuali dalam waktu wuquf, yakni setelah tergelincir matahari dan setelah shalat Dhuhur dan ‘Asar secara jamak, dalam al-Majmu’ Syarah al-Muhazzab Imam al-Nawawi mengatakan :
(وَأَمَّا) مَا يَفْعَلُهُ مُعْظَمُ النَّاسِ فِي هَذِهِ الْأَزْمَانِ مِنْ دُخُولِهِمْ أَرْضَ عَرَفَاتٍ قَبْلَ وَقْتِ الْوُقُوفِ فَخَطَأٌ وَبِدْعَةٌ وَمُنَابَذَةٌ لِلسُّنَّةِ
Adapun apa yang dilakukan kebanyakan manusia pada zaman ini yakni memasuki tanah ‘Arafah sebelum waktu wuquf adalah kesalahan dan bid’ah serta bertentangan dengan sunnah.[9]

Namun Dalam kitab al-Idhah, al-Nawawi menyebut bid’ah memasuki ‘Arafah bukannya sebelum tergelincir matahari, tetapi memasuki ‘Arafah pada hari kedelapan Zulhijjah. Dalam kitab ini beliau menyebut banyak perbuatan sunnah yang luput karenanya, antaranya shalat di Mina, mabit di Mina, berjalan dari Mina ke Namirah, turun di Namirah, khutbah dan shalat sebelum memasuki ‘Arafah dan lainnya.[10]
Senada dengan perkataan al-Nawawi dalam al-Majmu’, Ibnu Hajar al-Haitami dalam Fathul Jawad menyebutkan bid’ah memasuki ‘Arafah sebelum tergelincir matahari.[11]





[1] Al-Nawawi, al-Fatawa, Hal. 31
[2] Al-Suyuthi, al-Amr bil Itba’ wan-Nahyu  ‘an  al-ibtida’, Dar Ibn al-Qayyim, Pakistan, Hal. 192
[3] Al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz.VIII, Hal. 257
[4] Al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz.VIII, Hal. 257-258
[5] Ibnu Hajar al-Haitami, al-Jauhar al-Munaddham fi Ziyarah al-Qabri al-Syarif al-Nabawi al-Makram, Hal. 157-158
[6] Al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz.VIII, Hal. 135
[7] Al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz.VIII, Hal. 135
[8] Al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj dan Hasyiah Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, Mathba’ah Musthafa Muhammad, Mesir, Juz. IV, Hal. 108
[9] Al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz.VIII, Hal. 114
[10] Al-Nawawi, al-Idhah fi Manasik al-Hajj, (dicetak bersama Hasyiah al-Idhah lil Haitami), Darul Hadits, Beirut, Hal. 307
[11] Ibnu Hajar al-Haitami, Fathul Jawad, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. I, Hal. 513

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar