Sabtu, 30 Juli 2016

Beberapa Amalan Yang Dihukum oleh Imam al-Nawawi Dalam Kitabnya sebagai Bid’ah Tercela (bag 4)

10.        Menyedia makanan di rumah duka untuk mengumpulkan manusia
Imam al-Nawawi mengatakan :
وَأَمَّا إصْلَاحُ أَهْلِ الْمَيِّتِ طَعَامًا وَجَمْعُ النَّاسِ عَلَيْهِ فَلَمْ يُنْقَلْ فيه شئ وَهُوَ بِدْعَةٌ غَيْرُ مُسْتَحَبَّةٍ هَذَا كَلَامُ صَاحِبِ الشَّامِلِ وَيُسْتَدَلُّ لِهَذَا بِحَدِيثِ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ " كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنْ النِّيَاحَةِ " رَوَاهُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَابْنُ مَاجَهْ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ وَلَيْسَ فِي رِوَايَةِ ابْنِ مَاجَهْ بَعْدَ دَفْنِهِ
Adapun perbuatan ahli mayat menyediakan makanan dan mengumpulkan manusia atasnya, maka tidak pernah dinaqal sesuatupun tentangnya. Hal tersebut merupakan bid’ah tidak dianjurkan. Ini merupakan pernyataan pengarang kitab al-Syamil. Pendaliliannya ini dengan hadits Jarir bin Abdullah r.a., beliau berkata : “Kami menganggap berkumpul-kumpul pada rumah ahli mayat dan membuat makanan sesudah mengebumikannyya adalah termasuk ratapan. (H.R. Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Majah dengan isnad shahih, tetapi pada riwayat Ibnu Majah tidak ada perkataan “sesudah mengebumikannya).[1]

Yang senada dengan pernyataan al-Nawawi di atas antara lain teks kitab I’anah al-Thalibin berbunyi :
 “Makruh bagi ahli mayat duduk untuk ta’ziah dan membuat makanan supaya berkumpul manusia dengan sebabnya, karena ada riwayat dari Ahmad dari jarir bin Abdullah al-Bajlii, beliau berkata :kami menganggap bahwa berkumpul kepada ahli mayat dan menghidangkan makanan setelah menguburkannya termasuki meratap” [2]

      Pengarang kitab I’anah al-Thalibin juga mengutip perkataan Ibnu Hajar al-Haitamy dalam Tuhfatul Muhtaj li Syarah al-Minhaj :
 “Kebiasaan ahli mayat menyediakan makanan untuk mengundang manusia berkumpul kepadanya adalah termasuk bid’ah makruhah sama halnya juga memenuhi undangan itu karena hadits shahih dari Jarir r.a. :

كنا نعد الإجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة
  Artinya : Kami menganggap bahwa berkumpul kepada ahli mayat dan menghidangkan makanan setelah menguburkannya termasuki meratap.(H.R. Ibnu Majah [3] dan Ahmad[4])
     Jalan anggapan sebagai ratapan adalah unsur didalamnya sangat menonjol dengan urusan duka cita. Oleh karena itu, makruh berkumpul ahli mayat dengan qashad untuk dita’ziah tetapi seyoqyanya ahli mayat menggunakan waktunya untuk keperluannya, oleh karena itu, siapa yang dapat menjumpainya, maka dia menta’ziahkannya”. [5]

Patut menjadi catatan bahwa kutipan-kutipan di atas sering dijadikan rujukan oleh sebagian kelompok umat Islam yang anti sadaqah makan bersama di rumah duka. Sebenarnya kalau kita mau memahami teks di atas secara jernih dan cerdas, tentu kesimpulan yang dikemukakan oleh golongan anti sadaqah makan bersama di rumah duka tidaklah tepat, karena hadits Jarir r.a yang dijadikan sebagai dalil makruh menyediakan makanan tersebut menjelaskan alasan larangannya adalah karena hal itu termasuk ratapan dan mengungkitkan rasa duka cita. Jadi, kalau menyediakan makanan dengan niat supaya pahalanya sampai kepada mayat, tentu tidak termasuk dalam katagori ini, bahkan ahli rumah tentu akan merasa senang sebab ada harapan anggota keluarganya mendapat keringanan azab di alam kubur. Ibnu Hajar sendiri yang mengutip hadits di atas sebagai dalil larangan menyediakan makanan di rumah kematian menjelaskan kepada kita sebagaimana telah dikutip di atas :
“Jalan anggapan sebagai ratapan adalah unsur didalamnya sangat menonjol dengan urusan duka cita. Oleh karena itu, makruh berkumpul ahli mayat dengan qashad untuk dita’ziah”

Pemahaman bahwa Ibnu Hajar al-Haitamy berpendapat kalau menyediakan makanan dengan niat supaya pahalanya sampai kepada mayat dengan syarat tidak ada ratapan di dalammya tidak termasuk dalam katagori larangan berdasarkan hadits Jarir r.a. di atas, secara tegas dapat dipahami dari teks fatwa Ibnu Hajar dalam kitab beliau, al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyah berbunyi :
 Ditanyai Ibnu Hajar dari ta’ziah yang dilakukan di negeri Yaman yang kadang-kadang dilakukannya oleh yang bukan ahli warisnya, kemudian dia menuntut rujuk kepada ahli warisnya dan kadang-kadang dilakukan oleh ahli waris kemudian dia merujuk kepada ahli waris lainnya. Apa hukumnya ?. Beliau menjawab dengan katanya :  “Menyediakan makanan untuk orang ta’ziah jika mengarah kepada maksiat seperti meratap adalah haram secara mutlak dan jika tidak ada yang demikian itu, maka jika dilakukan oleh yang bukan ahli waris tanpa izin ahli waris maka boleh dilakukannya dan tidak dapat merujuk kepada ahli waris karena yang dia itu melakukannya secara sukarela (tabaru’), demikian pula apabila dilakukan oleh sebagian ahli waris tanpa izin yang lain, maka tidak dapat merujuk sesuatupun kepada lainnya”.[6]

Dengan memperhatikan keterangan Ibnu Hajar al-Haitamy dalam al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyah ini dan ‘illah (alasan hukum) yang dipahami dari hadits Jarir r.a, maka amalan menyuguhkan makanan untuk orang yang melakukan ta’ziah pada rumah kematian termasuk amalan bid’ah makruhah sebagaimana telah disebut oleh al-Nawawi dalam Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Abu Bakar ad-Dimyathi (pengarang kitab I’anah al-Thalibin) dan Ibnu Hajar al-Haitamy dalam Tuhfah al-Muhtaj adalah apabila terdapat unsur-unsur ratapan dalam amalan itu dan menyebabkan kembali duka cita yang berlebihan. Karena itu, Apabila tidak terdapat unsur ratapan dan duka cita yang berlebihan, maka ini termasuk perbuatan yang diredhai Allah. Hal ini karena ia termasuk perbuatan pemberian sadaqah dengan niat menyampaikan pahalanya kepada mayat yang merupakan sunnah dalam agama dengan ijmak ulama.
11.        Menghiasi masjid dan mashaf al-Qur’an
Dalam kitabnya, Tahzib al-Asmaa’ wal-Lughat, Imam al-Nawawi mengatakan :
وللبدع المكروهة امثلة كزخرفة المساجد و تزويق المصاحف
Bid’ah makruhah ada beberapa contoh, antara lain menghiasi masjid dan mashhaf.[7]
       Dalam kitab lain, beliau mengatakan :
يُكْرَهُ زَخْرَفَةُ الْمَسْجِدِ وَنَقْشُهُ وَتَزْيِينُهُ لِلْأَحَادِيثِ الْمَشْهُورَةِ  وَلِئَلَّا تَشْغَلَ قَلْبَ الْمُصَلِّي وَفِي سُنَنِ الْبَيْهَقِيّ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (ابْنُوا الْمَسَاجِدَ وَاِتَّخِذُوهَا جَمًّا) وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ (نَهَانَا أَوْ نُهِينَا أَنْ نصلى فِي مَسْجِدٍ مُشْرِفٍ) قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ الْجَمُّ الَّتِي لَا شُرَفَ لَهَا
Makruh menghiasi, mengukir dan memperindah masjid, karena hadits-hadits yang masyhur dan agar tidak melalaikan hati orang shalat. Dalam Sunan al-Baihaqi dari Anas dari Nabi SAW bersabda : “Bangunlah Masjid dan jadikannya al-jam (sederhana). Dari Ibn Umar ; Rasulullah melarang kami atau kami dilarang shalat dalam masjid yang megah. Abu Ubaid mengatakan : al-jam adalah tidak ada kemegahan.[8]

12.        Memasang lampu-lampu secara berlebihan pada malam-malam tertentu dalam masjid.

Imam al-Nawawi mengatakan :
مِنْ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ مَا يُفْعَلُ فِي كَثِيرٍ مِنْ الْبُلْدَانِ مِنْ إيقَادِ الْقَنَادِيلِ الْكَثِيرَةِ الْعَظِيمَةِ السَّرَفِ فِي لَيَالٍ مَعْرُوفَةٍ مِنْ السَّنَةِ كَلَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ فَيَحْصُلُ بِسَبَبِ ذَلِكَ مَفَاسِدُ كثيرة منها مضاهات الْمَجُوسِ فِي الِاعْتِنَاءِ بِالنَّارِ وَالْإِكْثَارِ مِنْهَا وَمِنْهَا إضَاعَةُ الْمَالِ فِي غَيْرِ وَجْهِهِ وَمِنْهَا مَا يترب عَلَى ذَلِكَ فِي كَثِيرٍ مِنْ الْمَسَاجِدِ مِنْ اجتماع الصِّبْيَانِ وَأَهْلِ الْبَطَالَةِ وَلَعِبِهِمْ وَرَفْعِ أَصْوَاتِهِمْ وَامْتِهَانِهِمْ الْمَسَاجِدَ وَانْتِهَاكِ حُرْمَتِهَا وَحُصُولِ أَوْسَاخٍ فِيهَا وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الْمَفَاسِدِ الَّتِي يَجِبُ صِيَانَةُ الْمَسْجِدِ مِنْ أَفْرَادِهَا
Termasuk bid’ah mungkar apa yang dilakukan pada kebanyakan negeri-negeri yakni menyalakan lampu yang banyak, besar serta berlebihan pada malam tertentu seperti malam nisfu Sya’ban, sehinggga dengan sebab itu memunculkan mafasid yang banyak. Mafasid tersebut antara lain menyerupai kaum Majusi dalam hal mengutamakan api dan memperbanyaknya, membuang harta dengan sia-sia pada bukan tempatnya. Mafasid yang lain adalah terjadinya hal-hal yang buruk pada masjid berupa berkumpulnya anak-anak dan pembuat kebatilan dalam masjid dengan bermain-main, bersuara keras dan  berbuat kasar dalam masjid, menghilangkan kehormatan masjid, mendatangkan kotoran dalam masjid dan lain-lain dari mafasid-mafasid yang semestinya wajib dipelihara masjid dari jenisnya.[9]





[1] Al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz. V, Hal. 290
[2] Abu Bakar ad-Damyathi, I’anah at-Thalibin, Thaha Putra, Semarang, Juz. II, Hal. 145
[3] Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Maktabah Abi al-Ma’athy, Juz. II, Hal. 538, No. Hadits : 1612
[4] Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, Muassasah Qurthubah, Juz. II, Hal. 204, No. Hadits : 6905
[5] Abu Bakar ad-Damyathi, I’anah at-Thalibin, Thaha Putra, Semarang, Juz. II, Hal. 146. Dalam Kitab Tuhfah al-Muhtaj, kutipan ini dalam Juz. III, Hal. 207 (dicetak pada hamisy Hawasyi Syarwani,, Mathba’ah Mushtafa Muhammad, Mesir)
[6] Ibnu Hajar Haitami, al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiah, Darul Fikri, Beirut, Juz. II, Hal. 32
[7] Al-Nawawi, Tahziib al-Asmaa’ wal-Lughat, Dar al-Kutub al-Ilmiah, Juz I Qism II, Hal. 22
[8] Al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz. II, Hal. 208
[9] Al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz. II, Hal. 205

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar