Rabu, 06 September 2017

Berkata kasar kepada suami apakah termasuk nusyuz?

Sebagaimana dimaklumi dalam fiqh, nusyuz adalah menolak melayani suami, baik dalam perkara jima’ maupun jenis bersenang-senang suami isteri lainnya. Namun demikian, mencaci maki dan menyakiti suami dengan perkataan kotor tidaklah termasuk dalam katagori nusyuz yang dapat menghilangkan hak nafkah isteri, meskipun perilaku isteri tersebut digolongkan dalam perbuatan maksiat. Tidak digolongkan mencaci maki dan menyakiti suami dengan perkataan kotor dalam katagori nusyuz disebabkan perilaku tersebut tidak termasuk jenis perilaku menolak  bersenang-senang suami isteri (istimta’). Kesedian isteri melakukan istimta’ inilah yang menjadi imbalan (muqabalah) dari kewajiban nafkah suami kepada isterinya. Al-Hushni al-Husaini ad-Dimasyiqi mengatakan :
ليس من النشوز الشتم وبذائة اللسان لكنها تأثم بإيذائه وتستحق التأديب. وهل يؤدبها الزوج أم يرفع الأمر إلى القاضي؟ وجهان حكاهما الرافعي هنا بلا ترجيح. وجزم به في باب التعزير بأن الزوج يؤدبها، وصححه النواوى هنا من زيادته فقال قلت: الأصح أنه يؤدبها بنفسه لأن في رفعها إلى القاضي مشقة وعارا وتنكيدا للاستمتاع فيما بعد وتوحيشا للقلب
Tidak termasuk nusyuz mencaci dan ucapan yang kotor, akan tetapi seorang istri berdosa karena menyakiti suaminya dan karena itu, dia pantas untuk diberkan adab. Apakah suami sendiri yang memberikan adab kepada istrinya atau ia mengangkat perkara itu kepada qadhi ?. ada dua pendapat yang dikemukakan Imam al-Rafi’i tanpa tarjih. Namun demikian, al-Rafi’i dalam bab ta’zir meyakini pada pendapat yang mengatakan bahwa cukup suami sendiri  memberikan adab istrinya. Pendapat ini telah dinyatakan shahih oleh Imam Nawawi di sini yang merupakan penambahannya, beliau mengatakan, “Aku katakan, pendapat lebih sahih ialah suami sendiri memberikan adab istrinya. Karena angkat perkara ke muka hakim menimbulkan kesulitan, aib, menyusahkan hubungan intim setelah itu dan membuat enggan hati.[1]
           
            Dalam memberikan contoh nusyuz, al-Khatib al-Syarbaini dalam Mughni al-Muhtaj,mengatakan :
وَكَمَنْعِهَا الزَّوْجَ مِنْ الِاسْتِمْتَاعِ وَلَوْ غَيْرَ الْجِمَاعِ لَا مَنْعِهَا لَهُ مِنْهُ تَدَلُّلًا وَلَا الشَّتْمُ لَهُ وَلَا الْإِيذَاءُ لَهُ بِاللِّسَانِ أَوْ غَيْرِهِ بَلْ تَأْثَمُ بِهِ وَتَسْتَحِقُّ التَّأْدِيبَ عَلَيْهِ وَيَتَوَلَّى تَأْدِيبَهَا بِنَفْسِهِ عَلَى ذَلِكَ، وَلَا يَرْفَعُهَا إلَى قَاضٍ لِيُؤَدِّبَهَا؛ لِأَنَّ فِيهِ مَشَقَّةً وَعَارًا وَتَنْكِيدًا لِلِاسْتِمْتَاعِ فِيمَا بَعْدُ وَتَوْحِيشًا لِلْقُلُوبِ
Seperti isteri menolak istimta’ dengan suaminya, meskipun bukan jima’, tidak termasuk nusyuz isteri menolak istimta’ karena berpura-pura (kegenitan), mencaci suami dan menyakiti suami dengan ucapan atau dengan lainnya. Akan tetapi isteri tersebut berdosa sebab perilakunya itu dan pantas diberikan adab kepadanya. Suami mempunyai wewenang memberikan adab kepada isterinya dan tidak perlu mengangkat perkara tersebut kepada qadhi supaya diberikan adab kepada isterinya.  Karena hal itu sukar, aib dan menyusahkan istimta’ setelah itu dan membuat enggan hati.[2]



[1] Abu Bakar Al-Hushni al-Husaini ad-DimasyiqiKifayatul Akhyar fi Ghayah al-Ikhtishar fil Fiqh al-Syafi’i, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Hal. 511-512
[2] Al-Khatib al-Syarbaini, Mughni al-Muhtaj, Darul Ma’rifah, Beirut, Juz. III, Hal. 343

Tidak ada komentar:

Posting Komentar