Selasa, 12 September 2017

Fidyah shalat dalam ikhtilaf ulama

Para ulama sepakat bahwa seseorang yang sudah meninggal dunia masih dapat bermanfaat untuknya  amalan orang yang masih hidup seperti doa, sadaqah, haji.  Namun ada beberapa amalan yang diperselisihkan seperti fidyah shalat.  Imam al-Nawawi mengatakan dalam Syarah Muslim :
وَأَمَّا مَا حَكَاهُ أَقْضَى الْقُضَاةِ أَبُو الْحَسَنِ الْمَاوَرْدِيُّ البصرى الفقيه الشَّافِعِيُّ فِي كِتَابِهِ الْحَاوِي عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ الْكَلَامِ مِنْ أَنَّ الْمَيِّتَ لَا يَلْحَقُهُ بَعْدَ مَوْتِهِ ثَوَابٌ فَهُوَ مَذْهَبٌ بَاطِلٌ قَطْعًا وَخَطَأٌ بَيِّنٌ مُخَالِفٌ لِنُصُوصِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَإِجْمَاعِ الْأُمَّةِ فَلَا الْتِفَاتَ إِلَيْهِ وَلَا تَعْرِيجَ عَلَيْهِ
Adapun yang dihikayah oleh Aqzha al-Quzha Abu al-Hasan al-Mawardi al-Bashri al-Faqih al-Syafi’i dalam kitabnya al-Hawi dari sebagian ashhab kalam, bahwa simati tidak dihubungkan pahala apapun setelah kematiannya merupakan mazhab bathil secara pasti dan tersalah serta menyalahi nash-nash al-Kitab, al-Sunnah dan ijmak ummat. Karena itu, tidak boleh memperhatikannya dan memperdulikannya.[1]

Kebolehan memberikan fidyah shalat orang yang sudah meningggal dunia lebih  masyhur dikenal dalam mazhab Hanafi. Bahkan Ibnu ‘Abidin salah seorang ulama mutakhirin Hanafiyah mengatakan memberi fidyah shalat ini hanya ada dalam mazhab Hanafi. Dalam Majmu’ah Rasailnya, beliau mengatakan :
اعلم ان فدية الصلاة مما انفرد بها مذهب ابي حينفة رحمه الله تعالى الذي قاسه مشائخ مذهبه على الصوم واستحسنوه وامروا به
Ketahuilah sesungguhnya fidyah shalat termasuk yang menyendiri mazhab Abu Hanifah rhm, dimana para masyaikh mazhab Abu Hanifah mengqiyasnya kepada puasa dan mereka mengistihsan dan memerintahkannya.[2]

Dengan demikian, sejauh pernyataan Ibnu Abidin ini, maka mazhab Maliki, Hanbali dan Syafi’i (pendapat mu’tamad dalam Mazhab Syafi’i sebagaimana penjelasan setelah ini) tidak mengenal pemberian fidyah shalat.
Dalam literatur mazhab Hanafi lainnya, kebolehan memberikan fidyah shalat ini dapat dilihat antara lain :
1.    Al-Sarkhasi tokoh mazhab Hanafi mengatakan :
وَعَلَى هَذَا إذَا مَاتَ، وَعَلَيْهِ صَلَوَاتٌ يُطْعِمُ عَنْهُ لِكُلِّ صَلَاةٍ نِصْفَ صَاعٍ مِنْ حِنْطَةٍ وَكَانَ مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ يَقُولُ أَوَّلًا: يُطْعِمُ عَنْهُ لِصَلَوَاتِ كُلِّ يَوْمٍ نِصْفَ صَاعٍ عَلَى قِيَاسِ الصَّوْمِ ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ: كُلُّ صَلَاةٍ فَرْضٌ عَلَى حِدَةٍ بِمَنْزِلَةِ صَوْمِ يَوْمٍ، وَهُوَ الصَّحِيحُ
Berdasarkan ini, apabila seeorang mati dan diatasnya ada kewajiban shalat, maka diberikan untuk setiap shalat yang ditinggalkannya setengah sha’ hinthah. Muhammad bin Muqatil mengatakan, pertama : diberikan makanan untuk simati karena semua shalat setiap satu hari setengah sha’ dengan jalan qiyas kepada puasa, kemudian beliau ruju’ dari pendapat tersebut dan mengatakan, setiap shalat fardhu atas hitungan sama dengan puasa satu hari. Ini pedapat shahih. [3]

2.    Ibnu Abidin tokoh mazhab Hanafi mengatakan :
قَالَ فِي الْفَتْحِ وَالصَّلَاةُ كَالصَّوْمِ بِاسْتِحْسَانِ الْمَشَايِخِ. وَجْهُهُ أَنَّ الْمُمَاثَلَةَ قَدْ ثَبَتَتْ شَرْعًا بَيْنَ الصَّوْمِ وَالْإِطْعَامِ وَالْمُمَاثَلَةُ بَيْنَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمِ ثَابِتَةٌ وَمِثْلُ مِثْلِ الشَّيْءِ جَازَ أَنْ يَكُونَ مِثْلًا لِذَلِكَ الشَّيْءِ وَعَلَى تَقْدِيرِ ذَلِكَ يَجِبُ الْإِطْعَامُ وَعَلَى تَقْدِيرِ عَدَمِهَا لَا يَجِبُ فَالِاحْتِيَاطُ فِي الْإِيجَابِ
Pengarang al-Fath mengatakan, shalat seperti puasa dengan jalan istihsan para masyaikh. Jalan istihsannya sesungguhnya kesamaaan antara puasa dan memberikan makanan telah shahih ada pada syara’, sedangkan kesamaan antara shalat dan puasa juga shahih ada pada syara’. Adapun yang sama dengan yang sama dengan sesuatu boleh sama dengan sesuatu tersebut. Berdasarkan ini, maka wajib memberikan makanan dan berdasarkan tidak sama, maka tidak wajib. Namun ihtiyathnya wajib.[4]

Pendapat mu’tamad mazhab Syafi’i
            Menurut pendapat yang mu’tamad dalam mazhab Syafi’i, orang yang sudah meninggal tidak diberikan fidyah. Namun demikian ada ulama dari kalangan Syafi’iyah seperti al-Baghwi dan lainnya yang berpendapat berbeda dengan mazhabnya. Ini dapat dilihat dalam kutipan di bawah ini :
1.    Imam al-Nawawi tokoh mazhab Syafi’i dalam Majmu’ Syarah al-Muhazzab mengatakan :
لَوْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صَلَاةٌ أَوْ اعْتِكَافٌ لَمْ يَفْعَلْهُمَا عَنْهُ وَلِيُّهُ وَلَا يَسْقُطُ عَنْهُ بِالْفِدْيَةِ صَلَاةٌ وَلَا اعْتِكَافٌ هَذَا هُوَ الْمَشْهُورُ فِي الْمَذْهَبِ وَالْمَعْرُوفُ مِنْ نُصُوصِ الشَّافِعِيِّ فِي الام وغيره ونقل الْبُوَيْطِيُّ عَنْ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ قَالَ فِي الِاعْتِكَافِ يعتكف عنه وليه وفى وراية يُطْعِمُ عَنْهُ قَالَ الْبَغَوِيّ وَلَا يَبْعُدُ تَخْرِيجُ هَذَا فِي الصَّلَاةِ فَيُطْعَمُ عَنْ كُلِّ صَلَاةٍ مُدٌّ
Jika seseorang mati dan atasnya ada kewajiban shalat atau i’tikaf, maka tidak dilakukan untuknya oleh walinya dan tidak gugur shalat dan i’tikaf dengan sebab fidyah. Ini yan masyhur dalam mazhab dan ma’ruf dari nash-nash Syafi’i dalam al-Um dan lainnya . Namun al-Buwaithi pernah menaqal dari Syafi’i bahwa beliau mengatakan dalam masalah i’tikaf, mengi’tikaf oleh walinya untuk simati. Dalam satu riwayat,diberikan makanan. Al-Baghwi mengatakan, Tidak jauh untuk ditakhrij (dihubungkan hukumnya) ini kepada shalat, maka diberikan satu mud untuk setiap shalat.[5]

2.    Imam al-Nawawi mengatakan dalam Syarah Muslim :
وَقَالَ الْإِمَامُ أَبُو مُحَمَّدٍ الْبَغَوِيُّ مِنْ أَصْحَابِنَا فِي كِتَابِهِ التَّهْذِيبُ لَا يَبْعُدُ أَنْ يُطْعَمَ عَنْ كُلِّ صَلَاةٍ مُدٌّ مِنْ طَعَامٍ وَكُلُّ هَذِهِ الْمَذَاهِبِ ضَعِيفَةٌ وَدَلِيلُهُمُ الْقِيَاسُ عَلَى الدُّعَاءِ وَالصَّدَقَةِ وَالْحَجِّ فَإِنَّهَا تَصِلُ بِالْإِجْمَاعِ وَدَلِيلُ الشَّافِعِيِّ وَمُوَافِقِيهِ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مات بن آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Imam Abu Muhammad al-Baghwi dari kalangan Syafi’yah mengatakan dalam kitabnya al-Tahzib, tidak jauh bahwa diberikan makanan untuk setiap shalat satu mud makanan. Semua pendapat ini dhaif. Dalil mereka adalah qiyas kepada doa, shadaqah dan haji, karena semuanya itu sampai pahalanya dengan ijmak. Dalilnya Imam Syafi’i dan yang setuju dengannya firman Allah : “Tidak ada bagi manusia kecuali apa yang diusahakannya dan hadits Nabi SAW : “Apabila mati anak Adam, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara, yakni sadaqah jariah, ilmu yan bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakannya.[6]   

3.    Al-Nawawi mengatakan :
(وَلَوْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صَلَاةٌ أَوْ اعْتِكَافٌ لَمْ يَفْعَلْ) ذَلِكَ. (عَنْهُ) وَلِيُّهُ (وَلَا فِدْيَةَ) لَهُ.
Kalau seseorang meninggal dunia, atasnya ada hutang shalat atau i’tiqaf yang ditinggalkannya,maka walinya tidak boleh melakukan shalat sebagai penggantinya dan tidak juga fidyah sebagai pengganti shalat.
Qalyubi dalam mengomentari pernyataan Nawawi di atas, berkata :
وَفِيهَا وَجْهٌ أَنَّهُ يُطْعِمُ عَنْهُ لِكُلِّ صَلَاةٍ مُدٌّ قَالَ بَعْضُ مَشَايِخِنَا وَهَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّخْصِ لِنَفْسِهِ فَيَجُوزُ تَقْلِيدُهُ لِأَنَّهُ مِنْ مُقَابِلِ الْأَصَحِّ
Dalam hal shalat ada satu pendapat (wajh), wali memberikan untuk setiap shalat satu mud makanan. Sebagian masyaikh  kita mengatakan bahwa ini termasuk amalan untuk diri sendiri, maka boleh mengtaqlidnya, karena itu adalah muqabil ashah.[7]

4.    ‘Ali Syibran al-Malasi mengatakan :
وَوَجَّهَ عَلَيْهِ كَثِيرُونَ مِنْ أَصْحَابِنَا أَنَّهُ يُطْعِمُ عَنْ كُلِّ صَلَاةٍ مُدًّا
Dikuatkan atasnya oleh kebanyakan pengikut Syafi’i bahwa diberikan makanan untuk setiap shalat satu mud.[8]

Diantara dalil yang kemukakan ulama-ulama yang berpendapat boleh memberikan fidyah shalat, antara lain :
1.    Hadits Ibnu Abbas :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: لَا يُصَلِّي أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ، وَلَا يَصُومُ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ وَلَكِنْ يُطْعِمُ عَنْهُ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مُدًّا مِنْ حِنْطَةٍ
Dari Ibnu Abbas, mengatakan tidak shalat seseorang untuk orang lain dan tidak berpuasa seseorang untuk orang lain, akan tetapi memberikan makanan untuknya untuk setiap hari satu mud hinthah.(H.R. al-Nisa-i)[9]

2.        Hadits Ibnu Umar berbunyi :
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ، وَلَا يَصُومَنَّ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ وَلَكِنْ إِنْ كُنْتَ فَاعِلًا تَصَدَّقْتَ عَنْهُ أَوْ أَهْدَيْتَ
Dari Ibnu Umar mengatakan, tidak shalat seseorang untuk orang lain dan tidak berpuasa seseorang untuk orang lain, akan tetapi seandainya kamu melakukannya, maka bersedekahlah atau memberikan hadiah.(H.R. Abdurrazaq)[10]

3.    Qiyas kepada doa, shadaqah dan haji, dimana ketiga amalan ini ijmak ulama sampai pahalanya kepada simati.

Diantara dalil yang kemukakan ulama-ulama yang berpendapat tidak boleh memberikan fidyah shalat, antara lain :
1.    Firman Allah Q.S. al-Najm : 39, berbunyi :
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى                    
Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (Q.S. an-Najm : 39)

2.    Hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah, yang berbunyi :
إذا مات الإنسان انقطع عنه عمله إلا من ثلاثة إلا من صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له
Apabila meninggal seorang manusia, maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga perkara, yaitu sadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang mau berdo’a untuknya. (H.R. Muslim)[11]

Catatan :
1.      Tulisan ini bertujuan untuk mendudukkan persoalan fidyah shalat yang sering dilakukan ditengah masyarakat kita, khususnya di Aceh dalam posisi yang benar
2.      Berdasarkan penjelasan di atas, diketahui bahwa masalah fidyah shalat merupakan masalah khilafiyah di antara ulama mazhab. Karena itu, kebiasaan tersebut bukanlah suatu kemungkaran bagi sebagian umat Islam yang tidak menyetujuinya. Sebab masalah ini termasuk ranah ijtihad ulama. Para ulama sepakat yang menjadi perbuatan mungkar adalah yang menyelisih ijmak ulama. Adapun perkara yang diperselisih ulama seperti fidyah shalat ini bukanlah perbuatan mungkar, meskipun  mungkin sebagian kita tidak menyetujuinya.




[1] Al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurthubah, Juz. I, Hal. 133
[2] Ibnu Abidin, Majmu’ ah Rasail Ibnu Abidin, Juz. I, Hal. 223
[3] Al-Sarkhasi, al-Mabsuth, Maktabah Syamilah, Juz. III, Hal. 90
[4]  Ibnu Abidin, Rad al-Mukhtar ala Dar al-Mukhtar, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 245
[5] Al-Nawawi, al-Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz. VI, Hal. 420
[6] Al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurthubah,Juz. I,  Hal. 133-134
[7] An-Nawawi dan Qalyubi, Minhaj at-Thalibin dan Hasyiahnya, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. II, Hal. 67
[8] ‘Ali Syibran al-Malasi, Hasyiah ‘Ali Syibran al-Malasi ‘ala Nihayah al-Muhtaj, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut,  Juz. III, Hal. 193
[9] Al-Nisa-i, Sunan al-Nisa-i, Maktabah Syamilah, Juz. III, Hal. 257, No. 2930
[10] Abdurrazaq, Mushannaf Abdurrazaq, Maktabah Syamilah, Juz. IX, Hal. 61, No. 16346
[11] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. III, Hal. 1255, No. Hadits : 1631 

2 komentar:

  1. Assalamu'alaykum. Bapa, saya ingin bertanya, benarkah jika usai takbiratul ihram lalu kita bergerak (sengaja atau tidak disengaja) bisa membatalkan shalat? Terimakasih. wassalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. hanya apabila bergerak tigga kali berturut turut secara sengaja, maka batal shalat, karena tiga kali secara berturut turut dianggap banyak. akkan tetapi apabila bergerak itu gerakan ringan seperti gerakan anak jari tangan, maka ini di maafkan

      Hapus