Jumat, 24 Agustus 2012

Ghayatul Wushul (Terjemahan dan Penjelasannya), Pengertian Dalil, Hal. 19-20


( وَالدَّلِيْلُ ) لغة المرشد وما به الإرشاد واصطلاحا ( مَا ) أى شئ ( يُمْكِنُ التَّوَصُّلُ ) أى الوصول بكلفة ( بِصَحِيْحِ النَّظَرِ فِيْهِ  إِلَى مَطْلُوْبٍ خَبَرِيٍّ ) بأن يكون النظر فيه من الجهة التى من شأنها ان ينتقل الذهن بها الى ذلك المطلوب المسماة وجه الدلالة بفتح الدال افصح من كسرها والخبرى ما يخبر به ومعنى الوصول اليه بما ذكر علمه أواعتقاده أوظنه فالنظر هنا الفكر لابقيد المؤدى الى علم أوظن كما سيأتى حذرا من التكرار والفكر حركة النفس فى المعقولات بخلافها فى المحسوسات فإنها تخييل لافكر وكأنهم ضمنوا الحركة اعتبار قصدها فيخرج الحدس وما يتوارد على النفس فى المعقولات بلاقصد كما فى النوم والنسيان ويطلق الفكر ايضا على حركة النفس من المطالب الى المبادئ ثم الرجوع منها اليها وشمل التعريف الدليل القطعى كالعالم لوجود الصانع والظنى كالنار لوجود الدخان وأقيموا الصلاة لوجوبها بناء على طريقة الأصوليين والفقهاء من ان مطلوبهم العمل وهو لايتوقف على العلم بخلاف طريقة المتكلمين والحكماء فإن مطلوبهم العلم ولهذا زادوا لفظة فى التعريف فقالوا الى العلم بمطلوب خبرى فبالنظر الصحيح فى الأدلة المذكورة أى بحركة النفس فيما تعقله منها مما من شأنه ان ينتقل به الى تلك المطلوبات كالحدوث فى الأول والإحراق فى الثانى والأمر بالصلاة فى الثالث يصل الى تلك المطلوبات بأن ترتب هكذا العالم حادث وكل حادث له صانع فالعالم له صانع النار شئ محرق وكل محرق له دخان فالنار لها دخان  أقيموا الصلاة امر بها وكل أمر بشئ لوجوبه حقيقة فأقيموا الصلاة لوجوبها حقيقة وقالوا يمكن التوصل دون يتوصل لأن الشئ يكون دليلا وان لم يوجد النظر المتوصل به فالدليل مفرد ويقال له المادة والامكان يكون قبل الفكر فيه اما بعده فلابد من قضيتين صغرى مشتملة على موضوع المطلوب كما رأيت  واما الدليل عند المناطقة فقضيتان فاكثر تكون عنهما قضية أخرى فهو عندهم مركب ويقال له المادة والصورة وخرج بصحيح النظر فاسده فلا يمكن التوصل به الى المطلوب لانتفاء وجه الدلالة عنه وان أدى اليه بواسطة اعتقاد أوظن كما اذا نظر فى العالم والنار من حيث البساطة فانهما ليس من شأنهما ان ينتقل بهما الى وجود الصانع والدخان لكن يؤدى الى وجودهما هذان النظران ممن اعتقد ان العالم بسيط وكل بسيط له صانع وممن ظن ان كل مسخن له دخان كذا قيل وهو ظاهر فى المطلوب الإعتقادى والظنى لاالعلمى لما سيأتى ان العلم لايقبل النقض وظاهر ان الحاصل بذلك يقبله اذا تبين فساد النظر وبالخبرى المطلوب التصورى فيتوصل اليه بالحد بأن يتصور بتصوره كالحيوان الناطق حدا للإنسان وسياتى حد الحد الشامل لذلك ولغيره
(Dan dalil) secara bahasa adalah yang menunjukkan dan sesuatu yang dapat menunjukkan dengan sebabnya dan sedangkan menurut istilah (adalah sesuatu yang mungkin  mengantarkan kepada kesimpulan yang bersifat khabar) yakni mengantarkan dengan sebab usaha sungguh-sungguh (dengan cara nazhar yang shahih padanya) dimana nazhar itu dari suatu sisi yang potensinya dapat memindahkan pikiran kepada kesimpulan dimaksud, dinamakan sisi ini sebagai wajah al-dalalah – dengan fatah daal, lebih fashih dari kasrahnya -. Sedangkan yang bersifat khabar adalah sesuatu yang diberitakan. Makna mengantarkan kepada kesimpulan dengan cara tersebut adalah mengetahui atau mengi’tiqad atau mendhannya. Maka nazhar di sini bermakna berpikir, tanpa dikaidkan dengan yang mendatangkan kepada mengetahui atau dhan sebagaimana yang akan datang, pengertian ini untuk memelihara dari berulang-ulang.(1) Adapun pikir adalah bergerak jiwa mengenai sesuatu yang diakalkan berbeda dengan bergerak jiwa mengenai sesuatu yang kasat mata, maka dinamakan dengan takhyil,(2) bukan pikir. Seakan-akan mereka(3) mensisipkan “bergerak” karena i’tibar qashadnya, maka tidak masuklah al-hads(4) dan dan hal-hal yang datang atas jiwa sesuatu yang diakalkan dengan tanpa qashad, sebagaimana dalam tidur dan lupa. Pikir secara mutlaq juga dimaknai dengan bergerak jiwa dari kesimpulan kepada pokok-pokok pikiran, kemudian kembali lagi darinya kepada kesimpulan.
Devinisi di atas mencakup dalil qath’i seperti alam dalil bagi wujud pencipta dan dalil dhanni seperti api bagi wujud asap dan “Aqiimuu al-shalah” bagi wajib shalat dengan didasarkan kepada metode ahli ushul dan fuqaha dimana tujuan mereka adalah beramal, sedangkan amal itu tidak bergantung kepada ilmu,(5) berbeda dengan metode Mutakallimun dan Hukama’, sesungguhnya tujuan mereka adalah ilmu, karena itu para mutakallimun dan hukama’ menambah satu perkataan pada devinisi, mereka mengatakan, “kepada ilmu/mengetahui kesimpulan yang bersifat khabar”. Maka dengan sebab nazhar yang shahih pada dalil-dali tersebut yakni dengan bergerak jiwa pada dalil-dalil yang dipikirkannya yang berpotensi berpindah jiwa dengan sebabnya kepada kesimpulan dimaksud dapat mengantarkan kepada kepada kesimpulan dimaksud itu, seperti baharu pada contoh pertama, membakarkan pada contoh kedua dan perintah shalat pada contoh ketiga, yakni pengaturannya seperti berikut ini ; “Alam baharu dan setiap yang baharu ada penciptanya, maka alam ada penciptanya”, “Api sesuatu yang membakarkan dan setiap yang membakarkan ada asap, maka api ada asap”, dan “Aqiimuu al-shalah” menunjukkan kepada perintah shalat dan setiap perintah sesuatu adalah wajib sesuatu pada hakikat, maka Aqiimuu al-shalah” adalah wajib shalat pada hakikat.
Mereka(6) mengatakan, “yumkinu al-tawashul”, bukan “yatawashilu” karena sesuatu dapat dikatakan sebagai dalil, meskipun tidak ada nazhar yang mengantarkannya kepada kesimpulan. Maka dalil adalah tunggal,(7) dikatakan juga “al-maddah wal-imkan”(8) yang ada sebelum berpikir pada sesuatu yang menjadi dalil. Adapun sesudah berpikir, maka tidak boleh tidak dari dua qadhiyah, yakni muqaddimah sughraa yang mencakup atas maudhu’ kesimpulan sebagaimana kamu perhatikan.(9) Adapun dalil menurut ahli manthiq adalah dua qadhiyah atau lebih yang muncul dari keduanya qadhiyah yang lain, karena itu, dalil menurut mereka ini adalah tersusun, dikatakan “al-maddah wal-shurah”.(10) Dengan perkataan “nazhar yang shahih”, maka tidak termasuk nazhar yang fasid, karena dengannya tidak mungkin mengantarkan kepada kesimpulan, karena tidak ada wajh al-dalalah, meskipun dapat mengantarkan kepadanya dengan perantaraan i’tiqad atau dhan seperti seseorang melakukan nazhar pada alam dan api dari sisi keduanya merupakan sesuatu yang tunggal, maka ini tidak ada potensi berpindah dengan sebabnya kepada wujud pencipta dan asap, namun keduanya mengantarkan kepada wujud pencipta dan api bagi orang-orang yang mengi’tiqad, “Alam adalah tunggal dan setiap yang tunggal ada penciptanya”  dan bagi orang-orang yang mendhan, “Sesungguhnya setiap yang panas ada asap” sebagaimana dikatakan. Dia ini zhahir pada kesimpulan yang bersifat i’tiqad dan dhan, tidak pada yang bersifat ilmu karena alasan nantinya bahwa ilmu tidak menerima sanggahan, sedangkan zhahir yang hasil dari i’tiqad dan dhan menerimanya apabila nyata fasid nazhar. Dengan perkataan “yang bersifat khabar” tidak termasuk kesimpulan yang bersifat tashawwur,(11) karena kesimpulan yang bersifat tashawwur sampai kepadanya dengan perantaraan devinisi, yakni dipahaminya dengan memahami devinisi seperti  hewan yang berbicara sebagai devinisi insan. Nanti akan ada devinisi dari devinisi yang mencakup contoh tersebut dan lainnya.
Penjelasannya
(1). Karena kalau dimaksudkan nazhar dalam devinisi dalil di sini adalah nazhar dengan makna yang ma’ruf yaitu, berpikir yang mengantarkan kepada ilmu atau dhan, maka akan terjadi pengulangan dalam sebuah devinisi, karena dalam devinisi dalil ini juga disebutkan, “mengantarkan kepada kesimpulan yang bersifat khabar”, sedangkan mengantarkan kepada kesimpulan adakalanya ilmu dan adakalanya dhan.
(2). Contoh takhyil adalah membayangkan kembali sebuah rumah yang bagus yang pernah dilihat dengan mata kepala.
 (3). Ulama ushul.
(4). Al-Hads adalah berpindah dengan cepat dari pokok-pokok pikiran kepada kesimpulan.[1]
(5). Beramal boleh jadi bersandar kepada ilmu (konsep yang muncul dalam pikiran seseorang tanpa ada kemungkinan salah sedikitpun) dan juga dapat berdasarkan dhan (konsep yang muncul dalam pikiran seseorang yang ada kemungkinan salah, namun kebenarannya lebih rajih)
(6). Ulama ushul
(7). Dalam contoh di atas adalah alam, yang menjadi dalil bagi adanya pencipta. Alam itu masih tunggal, belum berbentuk sebuah susunan seperti ; “Alam baharu dan setiap yang baharu ada penciptanya, maka alam ada penciptanya”. Contoh terakhir ini merupakan contoh dalil menurut ahli manthiq.
(8). Maddah sesuatu adalah yang menghasilkan potensi sesuatu dengan sebabnya.[2]
(9). Dan juga muqadimah kubra yang mencakup mahmul kesimpulan. Yang dimaksud dengan maudhu’ kesimpulan (natijah) adalah subjeknya seperti “alam” pada contoh di atas. Adapun mahmul kesimpulan adalah objeknya seperti “adanya pencipta”  Sedangkan “baharu” disebut sebagai al-had al-ausath, sebagaimana dimaklumi dalam kajian ilmu manthiq.
(10). Al-Shurah adalah yang menghasilkan sesuatu secara al-fi’li (kongkrit).[3]
(11). Al-Tashawwur adalah memahami makna dari lafazh tunggal seperti memahami makna al-qaaim yang bermakna, yang berdiri.





[1] Mahmud bin Muhammad al-Razi, Tahrir al-Qawa’id al-Manthiqiyah, Mathba’ah Ahmad bin Sa’ad bin Nabhan wa Auladuhu, Surabaya, Hal. 167
[2] Dr. Shahal Mahfudh, Thariqat al-Hushul ila Ghayah al-Wushul, Hal. 36
[3] Dr. Shahal Mahfudh, Thariqat al-Hushul ila Ghayah al-Wushul, Hal. 36

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar