Sabtu, 02 April 2011

Membaca Innallaha wa malaikatahu yushaalluna ‘alannabi sebelum khutbah Jum’at

Imam Ar-Ramli ditanyai tentang seorang yang maju keluar didepan khatib, berkata ayat; Innallaha wa malaikatahu yushaalluna ‘alannabi, apakah itu asal pada sunnah dan ada diperbuat dihadapan Nabi SAW sebagaimana dilakukan sekarang atau ada diperbuat oleh salah seorang Sahabat Nabi atau Tabi’in semoga ridha Allah untuk mereka, dengan sifat-sifat tersebut ? Imam Ar-Ramli menjawab :
“ Bahwa yang demikian itu tidak asal pada sunnah dan tidak diperbuat dihadapan Nabi SAW bahkan Rasulullah tidak terburu-buru ke mesjid pada hari Jum’at sehingga berkumpul manusia. Maka apabila manusia telah berkumpul, Beliau keluar sendiri tanpa orang yang ribut bersuara keras dihadapannya. Apabila masuk mesjid, beliau memberi salam kemudian apabila naik mimbar, beliau menghadap manusia dengan wajahnya seraya memberi salam, kemudian duduk dan Bilalpun melakukan azan. Apabila sudah selesai dari azan, Beliau berdiri berkhutbah tanpa pemisahan antara azan dan khutbah, tidak dengan atsar dan tidak dengan khabar dan juga tidak dengan lainnya. Demikian juga keadaan para khalifah yang tiga sesudahnya. Oleh karena itu, dapat dimaklumi bahwa sesungguhnya ini adalah bid’ah tetapi bid’ah hasanah. Maka pembacaan ayat yang mulia merupakan pemberitahuan dan menggemarkan mendatangkan shalawat kepada Nabi SAW pada ini hari (jum’at) hari yang mulia yang dituntut memperbanyak shalawat. Membaca khabar sesudah azan dan sebelum khutbah dapat mengingatkan mukallaf untuk menjauhi kalam yang haram atau makruh pada ini waktu berdasarkan ikhtilaf ulama tentang ini. Sesungguh Rasulullah SAW mengatakan khabar ini atas mimbar pada saat khutbahnya”1

Kesimpulan
Membaca Innallaha wa malaikatahu yushaalluna ‘alannabi….dstnya sebelum khutbah Jum’at tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah SAW, namun demikian pembacaan tersebut adalah sebuah tradisi yang bagus dilaksanakan sebagai pemberitahuan dan menggemarkan membaca shalawat kepada Nabi SAW pada hari Jum’at, yaitu hari yang mulia yang dituntut memperbanyak membaca shalawat.

DAFTAR PUSTAKA
1. Imam Ar-Ramli, Fatawa ar-Ramli, dicetak pada hamisy al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiah, Darul Fikri, Beirut, Juz. I, Hal. 276-277

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar