Sabtu, 02 April 2011

Posisi imam lebih tinggi dari makmum dan sebaliknya

Hukum imam berdiri lebih tinggi dari makmum dan sebaliknya dalam shalat adalah makruh kecuali ada hajad. Zainuddin al-Malibary mengatakan :
“ Makruh lebih tinggi (irtifa’) posisi salah seorang dari imam atau makmum atas lainnya dengan tanpa ada hajad, meskipun keduanya dalam mesjid”. 1

Menurut al-Bakri ad-Damyathi yang dimaksud dengan irtifa’ adalah irtifa’ yang nyata pada pandangan kasat mata, meskipun sedikit, asalkan ‘uruf masih menganggapnya sebagai irtifa’. Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa kedudukan makruh itu apabila keduanya mungkin berada dalam posisi yang sama rata, jika tidak mungkin, yaitu dimana tempat shalat terbuat dengan keadaan ada yang tinggi dan ada yang rendah, maka tidak makruh. Al-Bakri juga menyebut contoh tidak makruh bahkan sunnat kalau ada hajad, antara lain keadaan posisi imam lebih tinggi diharapkan supaya dapat menjadi pengajaran imam kepada makmum tentang sifat-sifat shalat dan contoh yang lain adalah makmum yang berposisi sebagai mubaligh takbir imam”. 2
Dalil makruh posisi imam lebih tinggi dari makmum, antara lain hadits riwayat Himmam :
عن همام أن حذيفة أم الناس بالمدائن على دكان فأخذ أبو مسعود بقميصه فجبذه فلما فرغ من صلاته قال ألم تعلم أنهم كانوا ينهون عن ذلك ؟ قال بلى قد ذكرت حين مددتني . صحيح
Artinya : Dari Himam sesungguhnya Huzaifah mengimami manusia di Kota Mada-in (kota di Baghdad) di atas toko. Abu Mas’ud mengambil baju qamisnya dan menariknya. Manakala selesai dari shalatnya, beliau berkata : “Apakah kamu tidak mengetahui sesungguhnya mereka dilarang dari itu ? Benar !. Engkau telah menyebutnya pada ketika engkau menjulurkan qamishku (H.R.Abu Daud, “hadits shahih”) 3

2. Hadits ‘Ady bin Tsabit al-Anshary, berkata Huzaifah :
ألم تسمع رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول إذا أم الرجل القوم فلا يقم في مكان أرفع من مقامهم
Artinya : Apakah engkau tidak mendengar Rasulullah SAW bersabda : Seorang laki-laki apabila mengimami suatu kaum, maka jangan berdiri pada tempat yang lebih tingi dari tempat mereka.(H.R. Abu Daud, “hadits hasan lighairihi”) 4
Ada sekelompok umat Islam yang mengatakan boleh posisi imam lebih tinggi dari makmum dan sebaliknya dengan mempedomani hadits riwayat Abu Hazim, beliau berkata :
سَأَلُوا سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ مِنْ أَيِّ شَيْءٍ الْمِنْبَرُ فَقَالَ مَا بَقِيَ بِالنَّاسِ أَعْلَمُ مِنِّي هُوَ مِنْ أَثْلِ الْغَابَةِ عَمِلَهُ فُلَانٌ مَوْلَى فُلَانَةَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَامَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ عُمِلَ وَوُضِعَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ كَبَّرَ وَقَامَ النَّاسُ خَلْفَهُ فَقَرَأَ وَرَكَعَ وَرَكَعَ النَّاسُ خَلْفَهُ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ ثُمَّ رَجَعَ الْقَهْقَرَى فَسَجَدَ عَلَى الْأَرْضِ ثُمَّ عَادَ إِلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ رَكَعَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ ثُمَّ رَجَعَ الْقَهْقَرَى حَتَّى سَجَدَ بِالْأَرْضِ فَهَذَا شَأْنُهُ
Artinya : Orang-orang bertanya kepada Sahal bin Sa'd dari apakah mimbar itu?" Ia bertanya: "Tidak ada orang yang lebih mengetahui daripadaku. Mimbar itu dari pohon di hutan yang dibuat oleh Fulan budak Fulanah milik Rasullullah SAW. Rasullullah SAW berdiri diatasnya ketika mimbar itu dibuat dan diletakkan. Lalu beliau menghadap kiblat dan takbir. Orang-orang berdiri dibelakang beliau. Beliau membaca dan ruku'. Maka ruku'lah orang-orang dibelakang beliau. Kemudian beliau mengangkat kepala dan mundur sehingga beliau sujud diatas bumi. Kemudian beliau kembali lagi ke mimbar. Kemudian ruku', kemudian beliau mengangkat kepala kemudian beliau mundur sehingga beliau duduk di tanah. Inilah peri keadaan beliau. (H.R. Bukhari) 5

Ibnu Hajar al-Asqalany dalam mensyarah hadits di atas, mengatakan :
“ Pada hadits di atas dapat dipahami kebolehan berbeda tinggi dan rendahnya tempat imam dan makmum”.

Namun dibawahnya, beliau mengutip perkataan Ibnu Daqiq al-‘Aid dengan tanpa komentar apapun, yaitu :
“Barang siapa yang melakukan pendalilian dengan hadits ini kepada kebolehan berada pada tempat yang tinggi tanpa qashad ta’lim (mengajar), maka tidak dapat diterima” 6

Menurut hemat penulis, pemahaman seperti yang diutarakan oleh Daqiq al-‘Aid ini lebih tepat untuk diamalkan supaya tidak bertentangan hadits riwayat Abu Daud di atas.

DAFTAR PUSTAKA

1.Zainuddin al-Malibary, Fathul Muin, dicetak pada hamisy I’anah at-Thalibin, Thaha Putra, Semarang, Juz. II, Hal. 30
2.Al-Bakri Damyathi, , I’anah at-Thalibin, Fathul Muin, Thaha Putra, Semarang, Juz. II, Hal. 30
3.Abu Daud, Sunan Abu Daud, Darul Fikri, Beirut, Juz. I, Hal. 218, No. Hadits : 597
4.Abu Daud, Sunan Abu Daud, Darul Fikri, Beirut, Juz. I, Hal. 219, No. Hadits : 598
5.Bukhari, Shahih Bukhari, Dar Thauq al-Najh, Juz. I, Hal. 85, No. Hadits : 377
6.Ibnu Hajar al-Asqalany, Fath al-Barry, Darul Fikri, Beirut, Juz. I, Hal. 487

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar