Kamis, 21 April 2011

Ghayatul Wushul (terjemahan & penjelasannya), Muqaddimah, Hal. 5 -6

( وَالْفِقْهُ عِلْمٌ بِحُكْمٍ ) أى نسبة تامة فالعلم بها تصديق بتعلقها لا تصورها لانه من مبادئ أصول الفقه ولا تصديق بثبوتها لأنه من علم الكلام ( شَرْعِيٍ ) أى مأخوذ من الشرع المبعوث به النبى الكريم ( عَمَلِيٍّ ) أى متعلق بكيفية عمل قلبى أو غيره كالعلم بوجوب النية فى الوضوء وبندب الوتر ( مُكْتَسَبٌ ) ذلك العلم لمكتسبه ( مِنْ دَلِيْلٍ تَفْصِيْلِيٍّ ) للحكم فالعلم كالجنس. وخرج بالحكم العلم بالذات والصفة والفعل كتصور الإنسان والبياض والقيام وبالشرعى العلم بالحكم العقلى والحسى واللغوى والوضعى كالعلم بأن الواحد نصف الإثنين وان النار محرقة وان النور الضياء وان الفاعل مرفوع وبالعملى العلم بالحكم الشرعى العلمى أى الإعتقادى كالعلم فى أصول الفقه بأن الإجماع حجة والعلم فى أصول الدين بأن الله واحد وبالمكتسب علم الله وجبريل بما ذكر وكذا علم النبى به الحاصل بوحى وعلمنا به بالضرورة بان علم من الدين بالضرورة كإيجاب الصلاة والزكاة والحج وتحريم الزنا والسرقة وبالدليل التفصيلى العلم بذلك للمقلد فإنه من المجتهد بواسطة دليل إجمالى وهو ان هذا الحكم أفتاه به المفتى وكل ما أفتاه به المفتى فهو حكم الله فى حقه فعلمه مثلا بوجوب النية فى الوضوء كذلك ليس من الفقه
(Fiqh adalah pengetahuan mengenai hukum) yaitu nisbah yang sempurna. Pengetahuan nisbah yang sempurna adalah tashdiq hubungan al-nisbah yang sempurna, bukan tashawwur-nya,(1) karena tashawwur al-nisbah yang sempurna termasuk mubadi ushul fiqh dan bukan juga tsubut al-nisbah(2) yang sempurna, karena ia termasuk dalam ilmu kalam (syar’i) yaitu berasal dari syara’ dimana Nabi yang mulia diutus dengan sebabnya (bersifat amalan) yaitu berhubungan dengan dengan tata cara beramal, baik perbuatan hati maupun lainnya, seperti mengetahui kewajiban niat pada wudhu dan disunatkan witir (yang diusahakan) ilmu itu bagi yang mengusahakannya (dari dalil yang detil) bagi hukum. Maka perkataan “ilmu” seperti jenis. Dengan perkataan “dengan hukum” keluarlah pengetahuan mengenai suatu zat, sifat dan perbuatan, misalnya tashawwur manusia, tashawwur putih dan tashawwur berdiri. Dengan perkataan “syar’i” keluarlah pengetahuan mengenai hukum akal, kasat mata, bahasa dan istilah nahu seperti pengetahuan bahwa satu setengan dari dua, api dapat membakarkan, al-nur adalah cahaya dan al-fa’il adalah marfu’. Dengan perkataan “bersifat amalan” keluarlah pengetahuan mengenai hukum syar’i yang bersifat keyakinan, yaitu i’tiqad seperti pengetahuan dalam ushul fiqh bahwa ijmak merupakan hujjah dan pengetahuan dalam ushuluddin bahwa Allah adalah satu. Dengan perkataan “yang diusahakan” keluarlah pengetahuan Allah dan Jibril mengenai yang telah disebutkan, demikian juga pengetahuan Nabi yang didapatinya dari wahyu dan pengetahuan kita dengan mudah mengenai yang telah disebutkan yakni dimaklum dari agama dengan cara mudah, seperti kewajiban shalat, zakat, haji, haram zina dan mencuri. Dengan perkataan “dalil yang detil” keluarlah pengetahuan muqallid mengenai yang telah disebutkan. Pengetahuan ini bersumber dari mujtahid dengan perantaraan dalil secara global, yaitu hukum ini difatwakan oleh mufti dan setiap yang difatwakan oleh mufti merupakan hukum Allah pada hak muqallid. Maka pengetahuan muqallid misalnya mengenai kewajiban niat pada wudhu’ seperti itu tidak termasuk dari fiqh.
Penjelasan
(1). Sebuah kalam tidak terlepas dari tashawwur dan tashdiq. Tashawwur adalah mendapati gambaran sesuatu tanpa ada hukum dengan nafi atau itsbat padanya. Sedangkan tashdiq adalah mendapati nisbah terjadi atau tidak terjadi. Pada contoh Zaid adalah penulis, maka memahami gambaran Zaid, gambaran penulis dan gambaran nisbah (hubungan) antara Zaid dan penulis merupakan tashawwur. Sedangkan mengetahui bahwa Zaid adalah benar-benar penulis atau tidak, maka disebut tashdiq.1 Berdasarkan uraian di atas, maka pengertian tashdiq hubungan nisbah yang sempurna adalah mengetahui bahwa hubungan antara mauuzhu’ dan mahmul benar-benar terjadi atau tidak terjadi. Sebagai contoh dalam fiqh adalah seorang mujtahid mengetahui bahwa niat pada wudhu’ adalah wajib, mengetahui bahwa basmallah dalam al-Fatihah shalat adalah wajib dan lain-lain.
(2). Pengertian tsubut al-nisbah ialah keyakinan yang memastikan hubungan antara mauzhu’ dan mahmul. Oleh karena itu, tsubut al-nisbah hanya terdapat dalam ilmu kalam. Karena ilmu kalam membicarakan sesuatu i’tiqad yang jazim (pasti). Dengan demikian yang dimaksud dengan tashdiq di sini adalah zhan atau dugaan.

DAFTAR PUSTAKA
1.Muhammad bin Ali al-Shabban, Hasyiah al-Shabban ‘ala Syarah al-Sulaam, al-Haramain, Singapura, Hal.45

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar