Kamis, 21 April 2011

Ghayatul Wushul (terjemahan & penjelasannya), devinisi hukum, hal. 6

( وَالْحُكْمُ خِطَابُ اللَّـهِ ) تعالى أى كلامه النفسى الأزلى المسمى فى الأزل خطابا على الأصح كما سيأتى ( الْمُتَعَلِّقُ ) اما ( بِفِعْـلِ الْمُكَلَّفِ ) أى البالغ العاقل الذى لم يمتنع تكليفه تعلقا معنويا قبل وجوده أو بعد وجوده قبل البعثة وتنجيزيا بعد وجوده بعد البعثة اذ لاحكم قبلها كما سيأتى ذلك ( إِقْتِضَاءً ) أى طلبا للفعل وجوبا أوندبا أوحرمة أوكراهة أوخلاف الأولى ( أَوْ تَخْيِيْرًا ) بين الفعل وتركه أى إباحة فيشمل ذلك الفعل القلبى الاعتقادى وغيره والقولى وغيره والكف والمكلف الواحد كالنبى صلى الله عليه وسلم فى خصا ئصه والأكثر من الواحد ( وَ ) اما ( بِأَعَمَّ ) من فعل المكلف ( وَضْعًا وَهُوَ ) الخطاب ( الْوَارِدُ ) بكون الشئ ( سَبَبًا وَشَرْطًا وَمَانِعًا وَصَحِيْحًا وَفَاسِدًا ) وسيأتى بيانها فيشمل ذلك فعل المكلف كالزنا سببا لوجوب الحد وغير فعله كالزوال سببا لوجوب الظهر واتلاف غير المكلف كالسكران سببا لوجوب الضمان

(Hukum adalah khithab/titah Allah) Ta’ala , yaitu kalam Allah yang bersifat nafsi(1) dan azali,(2) yang dinamakan dengan khithab pada azal berdasar pendapat yang lebih shahih sebagaimana nantinya (yang ta’alluq/berhubungan), adakalanya (dengan perbuatan mukallaf) yaitu yang baligh dan berakal yang tidak terkendala pentaklifannya. Ta’alluq dengan perbuatan mukallaf adalah ta’alluq ma’nawi(3) apabila titah itu datang sebelum wujud mukallaf atau sesudah wujud mukallaf tetapi sebelum diutus seorang rasul dan ta’alluq tanjizi sesudah wujud mukallaf serta sesudah diutus seorang rasul, karena tidak ada hukum sebelum diutus seorang rasul sebagaimana yang akan datang pembahasannya (dalam bentuk tuntutan) yaitu tuntutan melakukan suatu perbuatan, baik dalam bentuk wujub, sunnat, haram, karahah ataupun khilaf aula (atau dalam bentuk pilihan) antara melakukannya atau meninggalkannya, yakni ibahah. Maka perbuatan tersebut mencakup perbuatan hati yang bersifat i’tiqad (4) dan lainnya, (5) perkataan, (6) dan lainnya (7) serta perbuatan meninggalkan (8) Mukallaf itu ada yang satu seperti Nabi SAW dalam hal kekhususannya dan ada lebih banyak dari satu (dan) adakalanya titah Allah Ta’ala (ta’alluq dengan yang lebih umum) dari perbuatan mukallaf (yaitu wadh’i.(9) Wadh’I adalah) titah Allah Ta’ala (yang datang) untuk menyatakan keadaan sesuatu (adalah sebab, syarat, mani’, shahih dan fasid). Dan nanti akan datang pembahasannya. Wadh’i tersebut mencakup perbuatan mukallaf seperti zina yang menjadi sebab bagi kewajiban had (rajam atau cambuk seratus kali) dan mencakup juga bukan perbuatan mukallaf seperti tergelincir matahari yang menjadi sebab bagi kewajiban shalat dhuhur dan seperti menghilangkan harta orang yang dilakukan oleh yang tidak mukallaf seperti pemabuk, menjadi sebab bagi kewajiban membayar.
Penjelasan
(1). Pengertian kalam nafsi adalah madlul (makna yang yang ditunjuki) oleh kalam lafzhi. Jadi, kalau kalam nafsi disebut sebagai hukum, maka kalam lafzhi adalah (daal) yang menunjuki kepada hukum 1
(2). Azali adalah nisbah kepada azal, yaitu tidak ada permulaan. Azal lebih umum dari qadim, karena qadim adalah tidak ada permulaan bagi wujud sesuatu, maka qadim khusus pada wujudi, berbeda dengan azal. Azal mencakup wujudi dan ‘adami. 2
(3). Ta’alluq ma’nawi di sini dengan makna ta’alluq shulhi (patut ada ta’alluq), yakni apabila terkumpul syarat-syarat taklif, maka titah Allah tersebut ta’alluq dengannya. Jadi, sebelum wujud mukallaf atau sudah wujud, tapi Allah belum mengutus seorang rasul kepadanya, maka syarat taklif belum sempurna untuknya. Oleh karena itu, hukum yang ta’alluq kepadanya disebut ta’alluq shulhi. Ta’alluq shulhi adalah qadim, berbeda halnya dengan ta’alluq tanjizi , yakni ta’alluq dengan perbuatan mukallaf setelah wujud perbuatannya, maka ia baharu. 3
(4).Seperti i’tiqad Allah adalah satu.
(5).Seperti niat pada wudhu’
(6).Seperti takbiratul-ihram
(7).Seperti menunai zakat dan haji.
(8).Seperti meninggalkan zina.
(9).Sebagian Ushuliyuun, seperti Tajuddin al-Subky berpendapat khithab wadh’i tidak termasuk hukum. Oleh karena itu, mereka tidak memasukkan khithab wadh’i dalam devinisi hukum. Yang berpendapat khithab wadh’i adalah hukum, selain pengarang kitab ini juga Ibnu al-Hajib 4

DAFTAR PUSTAKA
1.Abdrrahman al-Syarbaini, Taqrir al-Syarbaini, dicetak pada hamisy Hasyiah al-Banany, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 47
2.Al-Banany, Hasyiah al-Banany, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 48
3.Al-Banany, Hasyiah al-Banany, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 48
4.Al-Banany, Hasyiah al-Banany, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 52

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar