Sabtu, 19 November 2011

Ghayatul Wushul (terjemahan & penjelasannya), lanjutan masalah Sah, hal.15

( وَبِصِحَّةِ الْعِبَادَةِ ) خبر لقولى ( إِجْزَائُهَا أَيْ كِفَايَتُهَا فِيْ سُقُوْطِ التَّعَـبُّد ) أى الطلب وان لم يسقط القضاء ( فِيْ الأَصَحِّ ) وقيل إجزاؤها سقوط قضائها كصحتها على القول المرجوح فالصحة منشأ الإجزاء على القول الراجح فيهما ومرادفة له على المرجوح فيهما ( وَ ) بصحة ( غَيْرِهَا ) التى هى أخذا مما مر موافقته الشرع ( تَرَتُّبُ أَثَرِهِ ) أى أثر غيرها وهو ما شرع الغير له كحل الإنتفاع فى البيع والتمتع فى النكاح فالصحة منشأ الترتب لا نفس الترتب كما زعمه الآمدى وغيره بمعنى انه حيثما وجدت فهوناشئ عنها لا بمعنى انها حيثما وجدت نشأ عنها حتى يرد البيع قبل انقضاء الخيار فإنه صحيح ولم يترتب عليه أثره وتعبيرى بغيرها أعم من تعبيره بالعقد


(Dengan sebab sah ibadah dapat memadai ibadah itu,- artinya memadainya dalam menggugurkan ta’abbud) yakni tuntutan, meskipun tidak menggugurkan qadha (menurut pendapat yang lebih shahih) - Lafazh وَبِصِحَّةِ الْعِبَادَةِ merupakan khabar (1) untuk perkataanku “إِجْزَائُهَا” -. Ada yang mengatakan, memadai ibadah dapat mengugurkan qadhanya sama halnya dengan sahnya berdasarkan pendapat lemah. Karena itu, sah merupakan tempat terjadinya memadai berdasarkan pendapat yang kuat pada masalah keduanya (2) dan muradif/sinonim bagi memadai berdasarkan pendapat lemah pada masalah keduanya. (Dan dengan sebab) sah (selain ibadah) - Sah selain ibadah adalah bersesuaiannya dengan syara’ berdasarkan pemahaman dari pembahasan yang lalu- (berlaku konsekwensinya), yaitu konsekwensi selain ibadah, yakni sesuatu yang karenanya disyari’atkan selain ibadah, seperti halal mengambil manfaat pada akad jual beli dan bersenang-senang pada akad nikah. Maka itu, sah merupakan tempat terjadi konsekwensi selain ibadah, bukan diri konsekwensi itu sendiri sebagaimana dakwaan al-Amady dan lainnya.(3) Artinya, kapan-kapan didapati sah, maka konsekwensinya akan terjadi darinya, bukan maknanya, kapan-kapan didapati sah, maka konsekwensinya sudah terjadi darinya. Karena itu, dapat di-rad/dikembalikan suatu jual beli sebelum berlalu waktu khiyar dan jual beli tersebut tetap disebut shahih, meskipun tidak berlaku konsekwensinya. ‘Ibaratku dengan perkataan “selain ibadah” lebih umum dibandingkan ‘ibarat Ashal dengan “akad”.(4)

Penjelasannya

(1). Maksudnya, perkataan “وَبِصِحَّةِ الْعِبَادَةِ(dengan sebab sah ibadah) merupakan khabar yang didahulukan dari mubtadanya, yaitu perkataan “إِجْزَائُهَا(memadai ibadah itu)

(2). Yakni masalah ijza’ (memadai) dan masalah sah

(3). Seperti Ibnu al-Saa’aati dalam Nihayah al-Ushul.1

(4). Karena perkataan “selain ibadah” mencakup akad dan mengurai akad seperti thalaq.



1 Muhammad al-Jauhari, Hasyiah Ghayatul Wushul, dicetak dibawah Ghayatul Wushul, Usaha Keluarga, Semarang, Hal. 15

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar