Minggu, 13 November 2011

Merubah khamar menjadi cuka

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ - رضي الله عنه - قَالَ: - سُئِلَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - عَنْ اَلْخَمْرِ تُتَّخَذُ خَلًّا? قَالَ: "لَا". - أَخْرَجَهُ مُسْلِم والترمذي وقال حسن صحيح

Artinya : Dari Anas bin Malik r.a., beliau berkata : Rasulullah SAW ditanyai mengenai khamar yang dijadikan cuka, beliau bersabda : “Tidak boleh.” (Dikeluarkan oleh Muslim dan Turmidzi, beliau berkata : hadits hasan shahih)[1]


Dalam mengomentari hadits di atas, Imam Nawawi, dalam Syarah Muslim menjelaskan sebagai berikut :

1. Hadits ini merupakan dalil Mazhab Syafi’i dan jumhur yang tidak membolehkan merubah khamar menjadi cuka dan tidak suci dengan sebabnya. Hal ini apabila merubah tersebut dengan memasukkan sesuatu didalamnya. Khamar yang sudah berubah tersebut tetap dalam keadaan najis dan bernajis juga benda yang dimasukkan dalam khamar tersebut.


2. Adapun apabila berubah khamar menjadi cuka dengan cara dipindah dari tempat panas matahari kepada tempat yang terlindung dari panas matahari atau dari tempat terlindung matahari kepada tempat panas matahari, maka kalangan Syafi’iyah terbelah dalam dua pendapat. Pendapat yang lebih shahih adalah suci.


3. Al-Auza’i, al-Laits dan Abu Hanifah berpendapat apabila berubah khamar menjadi cuka, maka cuka tersebut suci


4. Malik ada tiga riwayat dari beliau mengenai hukumnya, yaitu :

- Haram tetapi suci. Ini merupakan pendapat yang lebih shahih darinya

- Haram dan tidak suci

- Halal dan suci


5. Apabila berubah khamar kepada cuka dengan sendirinya, maka hukumnya suci dengan ijmak ulama.[2]


Kesucian cuka yang berubah dari khamar dengan sendirinya, ‘illatnya adalah karena hilang ‘illat najis khamar, yaitu sifat ketergantungan pada benda itu. Maka dengan demikian, cuka tersebut menjadi suci. ‘Illat ini juga berlaku pada khamar yang berubah menjadi cuka dengan sebab dipindah dari panas matahari kepada tempat yang terlindung dari panas matahari atau sebaliknya. Hal ini berbeda apabila cuka yang berubah dari khamar tersebut sudah dimasukkan lebih dahulu sesuatu benda di dalamnya. Benda tersebut tentunya sudah bernajis lebih dahulu sebelum khamar itu menjadi cuka, karena itu, begitu khamar menjadi cuka, maka cuka tersebut tetap bernajis dengan sebab bersentuhan benda tersebut. Penjelasan seperti ini telah dijelaskan oleh Abu Husain al-Imrany Syafi’i al-Yamany dalam kitab beliau, al-Bayan fil Mazhab Syafi’i.[3]



[1] Ibnu Hajar al-Asqalany, Bulughul Maram, Mathba’ah al-Salafiyah, Mesir, Hal. 27-28

[2] Al-Nawawi, Syarah Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. VI, Hal. 482

[3] Abu Husain al-Imrany Syafi’i al-Yamany, al-Bayan fil Mazhab Syafi’i., Darul Minhaj, Beirut, Juz. I, Hal. 427-428

2 komentar:

  1. Tgk saya ingin bertanya. Kenapa alkohol atau khamar dikategorikan najis. Apa karna faktor keharaman nya, dan kategori najis manakah khamar itu,?
    Hal ini terkait dengan penggunaan alkohol pada minyak wangi dalam melaksanakan shalat. Trima kasih tgk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. khamar adalah najis berdasarkan firman Allah al-maidah : 90. katagori najis mutawasithah (pertengahan). adapun alkohol tdk identik dgn khamar. baca tulisan kami : http://kitab-kuneng.blogspot.com/2012/10/hukum-memakai-parfum-yang-mengandung.html

      wassalam

      Hapus