Kamis, 31 Oktober 2013

Tafsir Q.S. al-Baqarah : 142-144

سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (142) وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ (143) قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ (144)
Artinya : Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus" (142) Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (143) Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (144). (Q.S. al-Baqarah : 142-144)

Tafsirnya :
1.    Cemoohan kaum kafir atas perpindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah merupakan cemoohan dari orang-orang bodoh dan kurang akalnya. Karena itu, tidak boleh dipegang perkataannya.

2.    Semua arah merupakan milik Allah Ta’ala. Karena itu, tidak dapat dicela perpindahan arah kiblat dari satu arah kepada arah lainnya.

3.     Perpindahan arah kiblat merupakan ujian terhadap keimanan manusia, sehingga akan nampak siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang hanya berpura-pura.

4.    Ka’bah merupakan arah kiblat bapak dari para nabi-nabi. Karenanya, Allah menghimpunkan hati manusia atasnya.

5.    Makna “Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu” adalah Allah tidak menyia-nyiakan shalatmu. Hal ini karena sepakat ulama bahwa ayat ini diturunkan pada orang-orang yang sudah meninggal dunia, sedangkan mereka shalat menghadap ke arah Baitul Muqaddis. Diriwayat dari Ibnu Abbas, beliau mengatakan :
“Manakala Nabi SAW diperintah menghadap ka’bah dalam shalatnya, mereka mengatakan, “Ya Rasulullah, bagaimana dengan saudara-saudara kami yang sudah meninggal dunia, sedangkan mereka shalat menghadap Baitul Muqaddis ? Maka Allah Tala’a-pun menurunkan ayat : “Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu”.[1]

6.    Ahlul kitab mengetahui perpindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah merupakan kebenaran, tetapi mereka mengingin menyebarkan fitnah kepada orang-orang beriman.

7.    Hukum-hukumnya :
a.       Sepakat para ulama bahwa Ka’bah merupakan kiblat umat Islam dalam shalatnya dan perintah menghadapnya dalam shalat bermakna perintah wajib. Menghadap kiblat merupakan fardhu shalat dan tidak sah shalat tanpanya kecuali pada shalat khauf dan pada shalat sunat di atas kenderaan. Ini berdasarkan hadits Nabi riwayat Ahmad, Muslim dan Turmidzi :
ان النبي صلعم كان يصلي علي راحلته حيثما توجهت به وفيه نزلت (فاينما تولوا فثم وجه الله)
“Sesungguhnya Nabi SAW shalat di atas kenderaannya kemana kenderaannya menghadap. Pada waktu itu turun ayat  “Kemana kamu menghadap, maka di sana wajhullah” (H.R. Ahmad, Muslim dan Turmidzi)[2]

b.      Terjadi perbedaan pendapat ulama, apakah wajib menghadap ‘ain Ka’bah atau arah Ka’bah. Golongan Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat wajib menghadap ‘ain Ka’bah, sedangkan Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat tidak wajib menghadap ‘ain Ka’bah, tetapi yang wajib adalah arah Ka’bah (jihah). Perbedaan pendapat ini apabila orang yang shalat berada pada lokasi yang tidak dapat menyaksikan Ka’bah dengan mata kepala. Adapun apabila berada pada lokasi yang dapat menyaksikan Ka’bah dengan mata kepala, maka mereka ijmak bahwa menghadap ‘ain Ka’bah merupakan kewajiban.

c.       Dalil golongan Syafi’iyah dan Hanabilah, antara lain :
-          Dhahir bunyi al-Baqarah : 144 di atas. Perintah yang berbunyi : “Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram (Ka’bah).” dhahirnya wajib menghadap wajah orang yang shalat kepada ‘ain Ka’bah.
-          Hadits Usamah bin Zaid, beliau berkata :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا دَخَلَ الْبَيْتَ، دَعَا فِي نَوَاحِيهِ كُلِّهَا، وَلَمْ يُصَلِّ فِيهِ حَتَّى خَرَجَ، فَلَمَّا خَرَجَ رَكَعَ فِي قُبُلِ الْبَيْتِ رَكْعَتَيْنِ، وَقَالَ هَذِهِ الْقِبْلَةُ
“Sesungguhnya Nabi SAW tatkala masuk ke Ka’bah berdoa di sudut-sudutnya, tidak shalat di dalamnya sehingga beliau keluar. Tatkala keluar, beliau shalat dua raka’at menghadap Ka’bah. Kemudian beliau berkata : “Ini adalah kiblat.” (H.R. Muslim)[3]

-          Ijmak ulama wajib menghadap ‘ain Ka’bah apabila berada pada lokasi yang dapat menyaksikan Ka’bah dengan mata kepala,[4] maka demikian juga apabila berada dalam lokasi yang jauh yang tidak dapat menyaksikan Ka’bah dengan mata kepala. Hanya perbedaannya : yang pertama wajib dengan cara yakin, sedangkan yang kedua boleh dengan cara dhan melalui ijtihad.

d.      Dalil golongan Hanafiyah dan Malikiyah, antara lain :
-          Dhahir firman Allah : Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram” . Allah tidak mengatakan “arah Ka’bah”. Maka siapa saja yang menghadap sebagian dari Masjidil Haram sudah melaksanakan kewajibannya, baik yang dihadap itu bertentangan dengan ‘ain Ka’bah atau tidak.
-          Penduduk Quba-Madinah shalat Subuh menghadap Baitul Maqdis (membelakangi Ka’bah), tiba-tiba datang orang mengatakan bahwa kiblat sudah berpindah ke arah Ka’bah. Seketika itu juga mereka dalam shalatnya berbalik menghadap Ka’bah tanpa mencari petunjuk kemana arah ‘ain Ka’bah. Nabi SAW sendiri mendengar berita itu tidak mengingkarinya.[5]

e.       Perbedaan pendapat di atas juga berlaku pada keshahihan shalat di atas Ka’bah. Pendapat yang mengatakan kiblat adalah arah Ka’bah berpendapat boleh shalat atas Ka’bah, karena arah Ka’bah dari bawah bumi sampai ke atas langit adalah kiblat. Sedangkan golongan Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat tidak sah, karena tidak ada ‘ain Ka’bah yang menjadi kiblatnya.[6]




[1] Ali Shabuni, Rawi’ al-Bayan, Maktabah al-Ghazali, Damsyiq, Juz. I, Hal. 121
[2] Ali Shabuni, Rawi’ al-Bayan, Maktabah al-Ghazali, Damsyiq, Juz. I, Hal. 124
[3] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 968, No. Hadits : 395
[4] Ali Shabuni, Rawi’ al-Bayan, Maktabah al-Ghazali, Damsyiq, Juz. I, Hal. 125
[5] Ali Shabuni, Rawi’ al-Bayan, Maktabah al-Ghazali, Damsyiq, Juz. I, Hal. 126
[6] Ali Shabuni, Rawi’ al-Bayan, Maktabah al-Ghazali, Damsyiq, Juz. I, Hal. 128

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar