Jumat, 12 September 2014

Mafhum zat dan pengertian wujud antara hal dan ‘ain zat



Assalamu'alaikum
Bagaimanakah pemahaman wujud dalam sifat 20.
Ada yg mengatakan wujud adalah HAL,sesuatu yg tidak dapat di lihat atau di raba,ada juga pendapat wujud adalah a'in zat atau a'in maujud atau wujud benda itu sendiri juga tidak bisa di lihat.
Mohon penjelasannya beserta ilustrasinya
Wassalam

ulama yg yang mengatakan wujud adalah "hal" dalm arti wujud sesuatu yang tidak dpt dikatakan ada (maujud) dan bukan sesuatu yang tidak ada (ma'dum), berarti wujud itu antara maujud dan ma'dum. sesuatu di antara maujud dan ma'dum di sebut "hal".
contoh yang maujud adalah sifat ma'ani seperti ilmu, sama, bashar Allah ta'ala. sifat ma'ani ini disebut maujud karena dapat digambarkan dalam pikiran kita tentang adanya. sehingga kalau Allah membuka hijab, maka sungguh dapat dilihatnya karena ia memang ada (muajud). sifat ma'dum seperti baqa Allah ta'ala dan sifat2 salbiyah lainnya. baqa disebut ma'dum karena makna baqa adalah tidak berkesudahan, jadi baqa menafikan berkesudahan sehingga tepat disebut sifat penafian, jadi bukan sesuatu yang ada (maujud). contoh sifat ma'dum yg lain adalah esa, jadi esa bukanlah sesuatu yang maujud, tetapi esa hanya ingin menjelaskan bahwa allah tidak banyak. tidak banyak itu ma'dum.
contoh hal yang lain adalah sifat ma'nawiyah seperti yang berkuasa. yang berkuasa disebut sebagai hal karena yang berkuasa itu bukan yang maujud dan bukan pula yg ma'dum. yang maujud hanya kuasa dan zat Alllah. sedangkan yang kuasa di antara maujud dan ma'dum. sebagai ilustrasi sdr bisa menggambarkan misalnya "pensil yang panjang" pada pinsil tersebut yang maujud cuma pensil dan panjang, sedangkan "yang panjang" tidak maujud. "yang panjang" tersebut juga tidak bisa disebut ma'dum karena sesungguhnya "yang panjang" masuk dalam konsep pemikiran seseorang, karena itu "yang panjang" di antara maujud dan ma'dum (bukan ada dan bukan pula tidak ada). inilah yang disebut dgn "hal".
kembali kepada masalah wujud. kalau wujud termasuk dalam katagori hal, maka wujud berada antara maujud dan ma'dum, tentu wujud dalam arti ini tidak dapat dilihat dan tidak dapat juga diraba. tetapii kalau wujud bermakna ain zat, maka tentu ain zat dapat dilihat. karena itu zat Allah Ta'ala dapat dilihat di hari akhirat kelak sebagaimana i'tiqad ahlussunnah wal jama'ah. cuma zat Allah Ta'ala tidak dpt di raba dan disentuh karena zat Allah ta'ala bukan benda. adapun ain zat benda tentu dapat dilihat dan di raba sebagaimana rumah, meja dll.

demikian, mudah2an dpt dipahami.
wassalam


kajian di atas adalah kajian ilmu akidah berdasarkan ilmu kalam. karena kajian tersebut membutuhkan pemahaman ilmu kalam yg mendalam, maka bagi orang yang tidak terbiasa dgn kajian ilmu kalam tidak perlu mendalam masalah ini. pendalaman ini kalau tidak didukung perangkat ilmu yang memadao hanya mendatangkan keraguan dalam akidah. kajian ilmu kalam masuk ke kalangan ulama ahlussunnah wal jama'ah hanya untuk menolak syubhat2 mu'tazilah yang berkembang pesat pada zamannya yang sering menggunakan logika 

terima kasih tgk atas penjelasannya
saya masih kurang faham yang dimaksut dengan Ain zat??
ada yang mengatakan ain zat tetap tidak dapat di lihat/di raba.yang bisa di lihat/di raba adalah sifat dari benda itu,contohnya palu yang terlihat adalah gagangnya dari kayu dan ada kepala dari besi serta di gunakan untuk menanamkan paku,begitu pula dengan rumah dan meja yang terlihat dan dapat di raba adalah sifat benda itu sendiri.karna sifat membutuhkan kepada zat
mohon tanggapannya karna saya sedikit bingung dalam memahami ilmu kalam
wassalam

kalau yg di maksud dgn ain zat adalah hakikat sesuatu memang hakikat sesuatu bersifat abstrak (tidak dapat diraba dan dilihat), tetapi hanya dapat masuk dlm akal sebagai sebuah konsep. dengan konsep sesuatu ini kita dpt mengenal afrad-afrad sesuatu. misalnya hakikat insan adalah hewan yg berakal. dengan kita mengetahui hakikat insan, maka kita dpt mengetahui bahwa umar, usman dll (umar, usman adl contoh afrad-afrad insan) adalah seorang insan. jadi hewan berakal yg menjadi hakikat insan tentu hanya ada dlm konsep pikiran kita, dia tidak dpt di raba dan dilihat, sedangkan yg terlihat hanya contoh2 insan seperti umar dan usman (afrad2 insan), sedangkan hewan yg berakal merupakan hakikat insan atau hakikat si umar dan usman. demikian juga dalam contoh palu. yg terlihat dan terraba cuma palu A dan palu B dll, sedangkan hakikat palu (sesuatu yang berbentuk khusus yang dijadikan sebagai penekan paku) tentu hanya ada dalam konsep pikiran seseorang (abstrak)
adapun apabila yg dimaksud dgn ain zat adalah benda tertentu, tentu yang kita raba dan liat adalah benda itu sendiri yang terdiri kayu dan besi tertentu. namun apabila kita raba hanya palu A, tentu palu B tidak kita raba. sedangkan hakikat palu ada pada palu A, B, C dsb. hakikat palu ini abstrak, tidak dapat diraba, hakikat palu hanya ada pada pikiran kita saja. maka tidak dpt di raba dan dilihat.
wassalam mudah2an dpt dipahami

kalau dikatakan yg dpt dilihat dan di raba hanya sifat benda, maka ini jelas salah. karena makna sifat sesuatu yg berdiri pada yg lain seperti hitam, merah , panjang, pendek dll. padahal kenyataannya apabila kita memegang palu A, maka yg terlihat pada kita adalah besi dan kayu yang bersifat panjang (kalau palu itu panjang). jadi pada palu A itu ada kayu dan besi sebagai tmp berdiri sifat panjang (ada sesuatu tmp berdiri sifat dan sifatnya), jadi bukan hanya sifat.

wassalam

4 komentar:

  1. assalamu'alaikum
    kalau Tgk ada kesempatan menjelaskan sedikit tentang defenisi/ta'rif kata SIFAT dalam i'tikad 50
    ada pendapat mengatakan sifat sesuatu yang bisa di lihat dan membutuhkan kepada zat.
    Dalam sifat 20,sifat ma'ni adalah sifat tulen yang mana ada yang berpendapat kalau seandainya di buka hijab kita dengan allah maka yang terlihat cuma sifat ma'ni
    tolong penjelasannya
    wassalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. sifat adalah sesuatu yang membutuhkan yang lain (zat). karena pikiran kita tidak dapat menangkap suatu konsep sifat yang mandiri tanpa melekat pada zat. misalnya putih, tentu kita dapat menggambarkan dalam pikiran kita putih itu berdiri sendiri (mandiri) tanpa melekat pada suatu benda. karena itu putih kita sebut sifat. hal yang sama juga pada sifat2 Allah seperti sama' bashar dan lain2.

      2. sifat itu ada wujudi dan ada Hal, dan ada juga salbi. hanya sifat wujudi seperti sifat ma'ani Allah yang seandainya di buka hijab oleh Allah kpd kita, maka akan terlihat pada kita. terlihat sifat ma'ani ini karena dia bersifat wujudi. sedangkan sifat salbi tidak akan terlihat, karena sifat salbi bermakna meniadakan sesuatu yg kurang pada Allah Ta'ala, jadi ia bukan sesuatu yang wujud dalam pikiran kita. misalnya esa. esa itu bermakna meniadakan berbilang2 Allah Ta'ala. demikian juga sifat ma'nawiyah, karena sifat ma'nawiyah berada antara maujud dan ma'dum, yaitu hal.

      wassalam

      Hapus
  2. assalamu'alaikum Tgk
    terimakasih banyak atas penjelasan Tgk
    Kalau Tgk ada kesempatan sedikit,bagaimanakah gambaran/bayangan/pemahaman tentang hakikat DZAT.
    Yang wajib wujud adalah ALLAH,apakah boleh dikatakan wujud mahluk adalah cerminan atau bayangan dari dzat yang hakiki.
    satu lagi Tgk bagaimanakah pemahaman wujud menurut abnu a'rabi dan apakah yang di maksut dengan wahdhatul wujud.
    penjelasan Tgk sangat berguna bagi saya dalam memahami ilmu tauhid
    wassalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. insya Allah kita coba bahas dlm posting khusus

      wassalam

      Hapus